Selasa
Pekan Biasa VII (H)
Sir.
2:1-11
Mzm.
37:3-4,18-19,27-28,39-40
Mrk.
9:30-37
Sir.
2:1-11
2:1 Anakku, jikalau engkau
bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan.
2:2 Hendaklah hatimu tabah
dan jadi teguh, dan jangan gelisah pada waktu yang malang.
2:3 Berpautlah kepada Tuhan,
jangan murtad dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu.
2:4 Segala-galanya yang
menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan
kehinaanmu.
2:5 Sebab emas diuji di dalam
api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan.
2:6 Percayalah pada Tuhan
maka Iapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.
2:7 Kamu yang takut akan
Tuhan nantikanlah belas kasihan-Nya, jangan menyimpang, supaya kamu jangan
terjatuh.
2:8 Kamu yang takut akan
Tuhan percayalah pada-Nya, niscaya kamu tidak akan kehilangan ganjaranmu.
2:9 Kamu yang takut akan
Tuhan harapkanlah yang baik, sukacita kekal dan belas kasihan.
2:10 Pandanglah segala angkatan
yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu
dikecewakan, siapa bertekun dalam ketakutan kepada-Nya dan telah ditinggalkan,
atau siapa berseru kepada-Nya lalu tidak dihiraukan oleh-Nya?
2:11 Memang Tuhan adalah
penyayang dan pengasih, Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan pada saat
kemalangan.
Mrk.
9:30-37
9:30 Yesus dan
murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau
hal itu diketahui orang;
9:31 sebab Ia sedang mengajar
murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan
ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia
dibunuh Ia akan bangkit."
9:32 Mereka tidak mengerti
perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
9:33 Kemudian tibalah Yesus
dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya
kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah
jalan?"
9:34 Tetapi mereka diam,
sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di
antara mereka.
9:35 Lalu Yesus duduk dan
memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang
ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya
dan pelayan dari semuanya."
9:36 Maka Yesus mengambil
seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia
memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
9:37 "Barangsiapa
menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan
barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus
Aku."
Layanilah
Satu Sama Lain
Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak
kita merenungkan firman-Nya yang berbicara mengenai yang terbesar. Sering kita
merebutkan yang terbesar, paling, dan ter, ter, lainnya. Salah satu yang
mungkin dan paling menjadi sasaran dalam masa kini adalah popularitas dan
viral.
Demi viral dan populer, orang bisa abai akan
kemanusiaan. Beberapa hari ini sedang heboh dengan adanya orang maaf bunuh
diri, bukannya diupayakan untuk ditolong malah ada yang seolah mendorong untuk
cepat melakukan, merekam, dan membagikannya dalam media sosial. Seolah tanpa
beban, merasa bersalah, merasa terbebani atas kematian orang lain, yang penting
viral. Miris ketika kemanusiaan kalah oleh kepentingan tenar dan viral itu.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menasihati para
murid, yang merasa paling unggul, merasa yang paling besar, dan merasa paling
hebat sepanjang jalan, tanpa sepengetahuan Yesus tentunya. Hal yang biasa,
wajar, dan manusiawi. Pilihan dunia, di mana orang memang ingin menonjol, dan
paling terkemukan. Yesus memberikan pengajaran dan tuntutan serta tuntunan yang
berbeda.
Terbesar dalam Yesus adalah pelayanan. Melayani satu
sama lain, padahal dunia melakukan perilaku yang sebaliknya. Semakin besar
orang akan semakin minta dilayani. Orang besar itu banyak maunya tanpa mau kerja.
Yesus membawa pengajaran yang bertolak belakang. Semua di balik dan menghendaki
yang berbeda secara ekstrem dengan perilaku dunia ini.
Penghargaan dan kasih atas anak-anak. Di mana sih
ada orang tua, pemuka, dan tokoh besar mau menyapa anak-anak sebagai bagian
utuh di dalam komunitas itu. Sikap dan penghargaan Yesus sangat baru. Penghargaan
bagi anak sama dengan orang tua. Sikap yang penting menghargaan kemanusiaan
yang sama dan setara.
Saudara terkasih, sering kita jatuh pada keinginan
diri, kemegahan diri untuk menjadi besar, hebat, dan tenar. Tuhan tidak
melarang itu, sepanjang mau menjadi pelayan satu sama lain. Melayani sebagai
bukti kerendahan hati yang mendalam. Memeluk anak-anak sebagai manusia dengan
penuh cinta juga memberikan gambaran pribadi terbuka dan rendah hati. Siapkah kita
melayani dana mengasihi anak-anak dengan tulus? BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar