Kamis, 09 Januari 2020

Solider itu Kemauan Berbagi


Selasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:7-10
Mzm. 72:1-2,3-4,7-8
Mar. 4:24-44



1 Yoh. 4:7-10

4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita


Mar. 4:24-44

6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki


Solider itu Kemauan Berbagi

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan betapa baiknya Tuhan dengan solidaritas, kepedulian, dan kemauan untuk membantu. Pada sisi lain, para murid, yang masih dalam masa awal bersama Tuhan, belum paham bagaimana jalan kasih ala Yesus itu. Perbedaan persepsi yang diubah karena perjumpaan dan kebersama dengan Yesus.
Solidaritas itu kemauan untuk berbagi. Dan ini yang terjadi pada para murid. Mereka berdalih dengan keterbatasan dan kekurangan. Ketiadaan keberanian untuk bisa melibatkan Tuhan dalam hidup mereka. Hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Kita sering merasa tidak ada jalan lagi, tidak ada lagi kesempatan untuk bisa berbuat lebih banyak lagi.
Murid bersikap mengambil posisi aman, tidak mengalami kesulitan, dan itu jalan biasa bagi banyak orang. Pemikiran praktis, rasional, dan mudah biasa menjadi yang paling cepat hadir dalam hidup kita.
Saudara terkasih, sikap baru, berbeda, dan sangat peduli diperlihatkan Yesus. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. IA akhirnya membuat mukjizat pergandaan roti. Persediaan yang amat terbatas itu menjadi kelimpahan dan bersisa sangat banyak. Jumlah yang ada tetap ribuan, bekal yang ada sama hanya segelintir. Sikap batin dan iman yang membedakan dan sangat berbeda.
Berbicara keadilan, berbicara kasih, mengatakan iman dan buah keyakinan tanpa berbagi adalah omong kosong. Zaman memang mengumpulkan dan keakuan, dan toh para murid pun sudah memiliki sikap itu. Susah untuk bisa bersikap peduli dan kemudian berbagi dengan sesamanya. Keakuan menjadi sebentuk kebanggaan, bahkan kadang soliter, nyaman di dalam kesendirian, dan merasa tidak perlu orang lain. Apalagi harus berbagi dengan  pihak lain.
Hal yang mendekati sikap demikian adalah, ketika mengedepankan pemisahan, perpedaan yang makin diperlebar, dan merasa bahwa yang berbeda itu musuh. Ini juga sikap orang yang masih lemah di dalam melihat kasih karunia Tuhan itu demikian luar biasa. Solidaritas, kepeduliaan, dan sikap mau berbagi itu adalah kasih karunia Allah yang perlu kita jaga.
Sikap batin itu menentukan bagaimana perilaku kita. Mau ringan tangan untuk membantu atau sangat berat untuk bisa dengan rela mengulurkan tangan meringankan beban hidup bersama. Bagaimana hati kita, selembut Tuhan yang dengan spontan berbelas kasih, atau sama dengan para murid yang enggan menanggung risiko? Libatkan Tuhan di sana. BD. eLeSHa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar