Senin, 24 September 2018

Sikap Mendengar


Senin Biasa Pekan XXV (H)
Ams. 3:27-34
Mzm. 15:2-5
Luk. 8:16-18



Ams. 3:27-34

3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.
3:28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu.
3:29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau.
3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.
3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satu pun dari jalannya,
3:32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.
3:33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya.
3:34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.

Luk. 8:16-18

8:16 "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
8:17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."



Sikap Mendengar

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenak sikap pemuridan dalam hal ini adalah mendengar. Mengapa demikian penting untuk menengar? Sebagai pribadi anak dunia, kita sering menjadi banyak mengambil kesempatan untuk berbicara dan berbicara, namun enggan dan berat hati untuk mau mendengar. Sikap yang sangat natural, alamiah, dan itulah manusiawi.
Tuhan menghendaki kita yang berbeda. Sikap pengikut-Nya, untuk menjadi murid-Nya, dan mengasihi-Nya, kita harus mendengar. Mendengar sabda-Nya, mendengar kisah atas kasih-Nya yang tak terbatas dan menjadi pewarta apa yang telah IA lakukan dengan kasih itu.
Perlu juga menjadi peringatan, agar apa yang kita dengar itu adalah kebaikan, kasih Allah, dan firman-Nya, karena dunia ini penuh dengan hal yang bisa kita dengar. Kesempatan dan kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang mau didengar atau tidak juga penting. Menolak hal-hal buruk yang bisa memisahkan dengan kesatuan bersama Tuhan dan sesama, juga bukan kualitas. Kalau itu apa bedanya dengan dunia ini.
Mendengarkan karya kasih Tuhan. Mau mendengar kisah dan keadaan buruk orang lain untuk memberikan dukungan, bukan untuk menertawakan. Itu juga wujud kasih, jika tidak mampu memberikan solusi, minimalmendengarkan keluh kesahnya. Ini sebentuk meringankan beban saudara kita.
Di dalam Tuhan juga kita perlu mendengar, bagaimana kita tidak hanya meminta dalam berdoa itu, namun juga mau mendengar apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita ini. Doa tidak hanya meminta, memohon, dan malah memaksakan kehendak atas ide dan gagasan kita. Tuhan memberikan kehendak atas kita di dalam hidup kita juga di dalam doa kita. Jika kita asyik dengan kata-kata kita, kapan kita mendengar bisikan Tuhan?

Semua tidak ada yang dirahasiakan, jika kita bersikap mau mendengarnya. Tuhan selalu mengatakan dengan terus terang, dan itu penting kita pahami. BD.eLeSHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar