Senin
Biasa Pekan XXV (H)
Ams.
3:27-34
Mzm.
15:2-5
Luk.
8:16-18
Ams.
3:27-34
3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak
menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.
3:28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan
kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu.
3:29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan
tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau.
3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang,
jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.
3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan
janganlah memilih satu pun dari jalannya,
3:32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi
dengan orang jujur Ia bergaul erat.
3:33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat
kediaman orang benar diberkati-Nya.
3:34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh,
tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.
Luk.
8:16-18
8:16 "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya
dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya
di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat
cahayanya.
8:17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan
dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan
diumumkan.
8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa
yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari
padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."
Sikap
Mendengar
Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk
merenungkan mengenak sikap pemuridan dalam hal ini adalah mendengar. Mengapa demikian
penting untuk menengar? Sebagai pribadi anak dunia, kita sering menjadi banyak
mengambil kesempatan untuk berbicara dan berbicara, namun enggan dan berat hati
untuk mau mendengar. Sikap yang sangat natural, alamiah, dan itulah manusiawi.
Tuhan menghendaki kita yang berbeda. Sikap pengikut-Nya,
untuk menjadi murid-Nya, dan mengasihi-Nya, kita harus mendengar. Mendengar sabda-Nya,
mendengar kisah atas kasih-Nya yang tak terbatas dan menjadi pewarta apa yang
telah IA lakukan dengan kasih itu.
Perlu juga menjadi peringatan, agar apa yang
kita dengar itu adalah kebaikan, kasih Allah, dan firman-Nya, karena dunia ini
penuh dengan hal yang bisa kita dengar. Kesempatan dan kemampuan untuk memilah
dan memilih mana yang mau didengar atau tidak juga penting. Menolak hal-hal
buruk yang bisa memisahkan dengan kesatuan bersama Tuhan dan sesama, juga bukan
kualitas. Kalau itu apa bedanya dengan dunia ini.
Mendengarkan karya kasih Tuhan. Mau mendengar
kisah dan keadaan buruk orang lain untuk memberikan dukungan, bukan untuk
menertawakan. Itu juga wujud kasih, jika tidak mampu memberikan solusi,
minimalmendengarkan keluh kesahnya. Ini sebentuk meringankan beban saudara
kita.
Di dalam Tuhan juga kita perlu mendengar,
bagaimana kita tidak hanya meminta dalam berdoa itu, namun juga mau mendengar
apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita ini. Doa tidak hanya meminta, memohon,
dan malah memaksakan kehendak atas ide dan gagasan kita. Tuhan memberikan
kehendak atas kita di dalam hidup kita juga di dalam doa kita. Jika kita asyik
dengan kata-kata kita, kapan kita mendengar bisikan Tuhan?
Semua tidak ada yang dirahasiakan, jika kita
bersikap mau mendengarnya. Tuhan selalu mengatakan dengan terus terang, dan itu
penting kita pahami. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar