Jumat, 29 Mei 2015

Yesus Mengutuk Pohon Ara

Jumat Biasa (H)
Sir. 44:1,9-13
Mzm. 149:1-2,3,4-5,6-7,8-9
Mrk. 11:11-26


Sir. 44:1,9-13

44:1 Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
44:9 Tetapi juga ada yang tidak diingat lagi, melainkan lenyap seolah-olah tidak pernah ada; mereka menjadi seolah-olah tidak pernah dilahirkan, dan demikianpun nasib anak-anak mereka sesudahnya.
44:10 Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa;
44:11 semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka.
44:12 Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya.
44:13 Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus.

Mrk. 11:11-26

11:11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.
11:12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.
11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.
11:14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya.
11:15 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,
11:16 dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.
11:17 Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"
11:18 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.
11:19 Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.
11:20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.
11:21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."
11:22 Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah!
11:23 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.
11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
11:26 [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.]



Yesus Mengutuk Pohon Ara

Saudara terkasih, kalau membaca sekilas mengenai cerita ini, kita tentu akan bertanya mengapa Yesus yang mengajarkan cinta kasih, begitu marah sehingga mengutuk pohon yang tidak berbuah, padahal tidak sedang musimnya, atau karena lapar sehingga Dia begitu marah-Nya? Pertanyaan wajar kalau kita tidak membaca secara menyeluruh dalam konteks cerita ini. Buah ara sering dipakai oleh bangsa Israel sebagai penghakiman bagi mereka, (Yes. 34:4). Pohon yang tidak berbuah merupakan pohon yang buruk bagi Israel.
Yesus menggunakan simbol ini, bahwa Israel telah menolak-Nya. Hal ini juga ditampakkan dalam aktivitas di Bait Allah. Kali ini pengajaran bukan simbolik sebagaimana awal bacaan hari ini. Dalam Bait Allah Yesus terus terang dengan merujuk pada Perjanjian Lama, bagaimana Bait Allah itu semestinya.
Kembali ke pohon ara, Yesus tidak menanggapi apa yang dikatakan Petrus, namun mengajak Petrus untuk percaya. Kepercayaan dan pengampunan yang akan membawa kekuatan. Kekuatan dari perkataan orang percaya sungguh dasyat.
Saudara terkasih, dalam mengikuti Yesus sering kita harus menggunakan hati nurani yang jernih dan tenang sehingga tidak mudah terkecoh oleh kuasa setan. Tuhan Allah menghendaki kita hidup dengan percaya sehingga benar-benar mengikuti-Nya dengan utuh dan tepat. Bahasa simbol sering membuat orang bertanya, ketika kita di dalam DIA semuanya akan menjadi terang dan tidak menjadi pertanyaan lagi. BD.eLeSHa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar