Jumat
Biasa (H)
Sir.
44:1,9-13
Mzm.
149:1-2,3,4-5,6-7,8-9
Mrk.
11:11-26
Sir.
44:1,9-13
44:1 Dan sekarang kami hendak
memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
44:9 Tetapi juga ada yang
tidak diingat lagi, melainkan lenyap seolah-olah tidak pernah ada; mereka
menjadi seolah-olah tidak pernah dilahirkan, dan demikianpun nasib anak-anak
mereka sesudahnya.
44:10 Tetapi yang berikut ini
adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa;
44:11 semuanya tetap tinggal
pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka.
44:12 Keturunannya tetap
setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula
keadaannya.
44:13 Keturunan mereka akan
tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus.
Mrk.
11:11-26
11:11 Sesampainya di
Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab
hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas
murid-Nya.
11:12 Keesokan harinya
sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa
lapar.
11:13 Dan dari jauh Ia
melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau
Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak
mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.
11:14 Maka kata-Nya kepada
pohon itu: "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" Dan
murid-murid-Nya pun mendengarnya.
11:15 Lalu tibalah Yesus dan
murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia
mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar
uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,
11:16 dan Ia tidak memperbolehkan
orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.
11:17 Lalu Ia mengajar
mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa
bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"
11:18 Imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk
membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak
takjub akan pengajaran-Nya.
11:19 Menjelang malam mereka
keluar lagi dari kota.
11:20 Pagi-pagi ketika Yesus
dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke
akar-akarnya.
11:21 Maka teringatlah Petrus
akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi,
lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."
11:22 Yesus menjawab mereka:
"Percayalah kepada Allah!
11:23 Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan
tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa
apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.
11:24 Karena itu Aku berkata
kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah
menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
11:25 Dan jika kamu berdiri
untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu
terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni
kesalahan-kesalahanmu."
11:26 [Tetapi jika kamu tidak
mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni
kesalahan-kesalahanmu.]
Yesus
Mengutuk Pohon Ara
Saudara terkasih, kalau membaca sekilas mengenai
cerita ini, kita tentu akan bertanya mengapa Yesus yang mengajarkan cinta
kasih, begitu marah sehingga mengutuk pohon yang tidak berbuah, padahal tidak
sedang musimnya, atau karena lapar sehingga Dia begitu marah-Nya? Pertanyaan wajar
kalau kita tidak membaca secara menyeluruh dalam konteks cerita ini. Buah ara
sering dipakai oleh bangsa Israel sebagai penghakiman bagi mereka, (Yes. 34:4).
Pohon yang tidak berbuah merupakan pohon yang buruk bagi Israel.
Yesus menggunakan simbol ini, bahwa Israel telah
menolak-Nya. Hal ini juga ditampakkan dalam aktivitas di Bait Allah. Kali ini
pengajaran bukan simbolik sebagaimana awal bacaan hari ini. Dalam Bait Allah
Yesus terus terang dengan merujuk pada Perjanjian Lama, bagaimana Bait Allah
itu semestinya.
Kembali ke pohon ara, Yesus tidak menanggapi apa
yang dikatakan Petrus, namun mengajak Petrus untuk percaya. Kepercayaan dan
pengampunan yang akan membawa kekuatan. Kekuatan dari perkataan orang percaya
sungguh dasyat.
Saudara terkasih, dalam mengikuti Yesus sering kita
harus menggunakan hati nurani yang jernih dan tenang sehingga tidak mudah
terkecoh oleh kuasa setan. Tuhan Allah menghendaki kita hidup dengan percaya
sehingga benar-benar mengikuti-Nya dengan utuh dan tepat. Bahasa simbol sering
membuat orang bertanya, ketika kita di dalam DIA semuanya akan menjadi terang
dan tidak menjadi pertanyaan lagi. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar