Rabu, 24 Juli 2019

Buah Iman


Rabu Pekan Biasa XVI (H)
Kel. 16:1-5,9-15
Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28
Mat. 13:1-9



Kel. 16:1-5,9-15

16:1 Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.
16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;
16:3 dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."
16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.
16:9 Kata Musa kepada Harun: "Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu."
16:10 Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun -- maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan.
16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
16:12 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu."
16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.
16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.
16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.


Mat. 13:1-9

13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"



Buah Iman

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya mengenai buah dari hidup beriman kita. Perumpamaan yang Tuhah sampaikan hari ini dari dunia pertanian, agraris yang dalam konteks pengajaran dulu adalah mata pencarian para pendengar Yesus. Mereka paham bagaimana menabutr itu. Benih itu seperti apa dan bagaimana akan terjadi para pendengar sangat memahami.
Ada tiga jenis keberadaan benih, ada yang jatuh di atas batu dan jalanan, di mana benih itu tidak akan mampu hidup dengan baik. Malah cenderung sejak awal sudah tidak sehat dan akan mati. Masih lumayan jika sempat hidup, ada yang langsung disambar hewan, atau bahkan terinjak orang lalu lalang.
Hal yang berlaku dalam hidup beriman kita, jika kita jatuh dalam  tempat yang tidak  kondusif, tidak subur, siap-siap saja kita akan mati dengan segera. Kita hidup di dalam cengkeraman  mara bahaya dan kita tidak memiliki daya dan upaya untuk berubah.
Ada pula benih yang jatuh di atas tanah namun sangat tipis, memang tumbuh, namun jangan berharap akan bisa bertumbuh dengan baik. Godaan, gangguan, dan terpaan angin kecil saja sudah menumbangkan benih yang baru tumbuh tersebut. Benih itupun mati tanpa berbuah.
Gambaran hidup beriman di mana iman itu tidak memiliki cukup bekal untuk bisa bertahan, apalagi jika berharap hidup. Himpitan dari lingkungan sedikit saja membuat ketakutan dan mati iman. Dalam era modern ini banyak gangguan dan godaan untuk mematikan iman kita.  Harta benda, kedudukan, kekayaan, kekuasaan bisa membuat kita terlena dan mati, tanpa berbuah iman kita. Tawaran dunia lebih menarik dan membawa kita mengorbankan iman kita.
Benih yang baik itu jatuh di tanah yang subur, benih memang mati, namun menjadi tunas dan pohon yang bisa menghasilkan buah melimpah. Tanah yang subur, ada pemeliharaan, ada upaya tumbuh bersama Penabur Agung, dan hasilnya adalah panenan.
Saudara terkasih, kita bisa menjadi benih yang jatuh di mana saja, namun bahwa kita perlu juga mengupayakan untuk selalu tumbuh, berbuah, dan berdaya guna. Itu semua hanya   bisa di dalam kebersamaan dengan Tuhan. Di dalam Tuhanlah kita mampu berbuah. Jauh dari Tuhan, kita mati. Iman itu perlu buah, buah itu bisa dilihat dari hidup kita sehari-hari.BD.eLeSHa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar