Kamis, 16 Juni 2016

Hal Berdoa dan Doa Bapa Kami

Hari Kamis Biasa Pekan XI (H)
Sir. 48:1-14
Mzm. 97:1-2,3-4,5-6,7
Mat. 6:7-15



Sir. 48:1-14

48:1 Lalu tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar.
48:2 Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya.
48:3 Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali.
48:4 Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau?
48:5 Orang mati kaubangkitkan dari alam arwah, dan dari dunia orang mati dengan firman Yang Mahatinggi.
48:6 Raja-raja kauturunkan sampai jatuh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya.
48:7 Teguran kaudengar di gunung Sinai, dan di gunung Horeb keputusan untuk balas dendam.
48:8 Engkau mengurapi raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu.
48:9 Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi.
48:10 Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub.
48:11 Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula.
48:12 Elia ditutupi dengan olak angin, tetapi Elisa dipenuhi dengan rohnya. Selama hidup ia tidak gentar terhadap seorang penguasa, dan tidak seorangpun menaklukkannya.
48:13 Tidak ada sesuatupun yang terlalu ajaib baginya, dan bahkan dikuburnyapun jenazahnya masih bernubuat.
48:14 Sepanjang hidupnya ia membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan.


Mat. 6:7-15

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."


Hal Berdoa dan Doa Bapa Kami

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan keutamaan religius kelanjutan dari bacaan dan renungan kita kemarin. Jika kemarin kita merenungkan tiga keutamaan, yaitu derma, doa, dan puasa, hari ini secara spesifik kita diajak untuk merenungkan mengenai doa dan doa Bapa Kami.
Doa, bagaimana Yesus menghendaki kita untuk berdoa tidak bertele-tele. Doa Bapa Kami itu merupakan doa yang tulus dan menyebut Allah sebagai Bapa. Relasional yang demikian dekat dan akrab.
Sering kita memahami dan meyakini jika apa yang kita peroleh itu karena doa kita.  Berkat Allah itu karena perbuatan kita, usaha kita dengan berdoa, padahal berkat Allah, itu karena kasih Allah semata. Doa menjadi sebentuk usaha dan kepasrahan kita di dalam melakukan kerja sama dengan Tuhan Allah. In berbeda dengan pemahaman rekan dan saudara kita yang lain yang menyakini dan mengimani bahwa doa kita dijawab atau dikabulkan Tuhan. Berbeda, berkat Allah tidak tergantung apa yang hendak Tuhan berikan.
Doa Bapa Kami memberikan gambaran doa secara utuh, bagaimana dibuka dengan menyapa Tuhan Allah kita. Kita kalau mau berbincang atau meminta kepada orang tua tentu pakai pengantar dan menyapa dulu bukan? Cara yang sama kita pakai. Kemudian kita memuji-Nya, ingat ini bukan karena Tuhan suka akan pujian, bukan namun kita sepantasnya memuji atas kasih dan kebaikan-Nya bukan? Dilanjutkan dengan ungkapan syukur atas berkat Tuhan. Kemudian kita mohon ampun atas kedosaan kita, ada syaratnya, bahwa kita perlu pula memaafkan terlebih dahulu kesalahan orang lain. Hal ini agar kita tidak semena-mena mau diampuni namun tidak mau mengampuni. Jika demikian, tentu sangat buruk relasi kita. Terakhir kita memohon  apa yang menjadi kerinduan dan kebutuhan kita.

Ingat, bagaimana itu semua ada di sana. Kecenderungan kita telah sekian lama berdoa dengan cara memohon saja, isinya hanya memohon, lupa bersyukur, apalagi menyapa dan memuji Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar