Hari
Kamis Biasa Pekan XI (H)
Sir.
48:1-14
Mzm.
97:1-2,3-4,5-6,7
Mat.
6:7-15
Sir.
48:1-14
48:1 Lalu tampillah nabi Elia
bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar.
48:2 Kelaparan
didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat
semangatnya.
48:3 Atas firman Tuhan langit
dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali.
48:4 Betapa mulialah engkau,
hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama
dengan dikau?
48:5 Orang mati kaubangkitkan
dari alam arwah, dan dari dunia orang mati dengan firman Yang Mahatinggi.
48:6 Raja-raja kauturunkan
sampai jatuh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya.
48:7 Teguran kaudengar di
gunung Sinai, dan di gunung Horeb keputusan untuk balas dendam.
48:8 Engkau mengurapi
raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu.
48:9 Dalam olak angin berapi
engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi.
48:10 Engkau tercantum dalam
ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus,
dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub.
48:11 Berbahagialah orang
yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun
pasti akan hidup pula.
48:12 Elia ditutupi dengan
olak angin, tetapi Elisa dipenuhi dengan rohnya. Selama hidup ia tidak gentar
terhadap seorang penguasa, dan tidak seorangpun menaklukkannya.
48:13 Tidak ada sesuatupun
yang terlalu ajaib baginya, dan bahkan dikuburnyapun jenazahnya masih bernubuat.
48:14 Sepanjang hidupnya ia
membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan.
Mat.
6:7-15
6:7 Lagipula dalam doamu itu
janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.
Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu
seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu
minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah
demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada
hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan
kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa
kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena
Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.
Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu
mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu
tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
Hal
Berdoa dan Doa Bapa Kami
Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk
merenungkan keutamaan religius kelanjutan dari bacaan dan renungan kita
kemarin. Jika kemarin kita merenungkan tiga keutamaan, yaitu derma, doa, dan
puasa, hari ini secara spesifik kita diajak untuk merenungkan mengenai doa dan
doa Bapa Kami.
Doa, bagaimana Yesus menghendaki kita untuk berdoa
tidak bertele-tele. Doa Bapa Kami itu merupakan doa yang tulus dan menyebut
Allah sebagai Bapa. Relasional yang demikian dekat dan akrab.
Sering kita memahami dan meyakini jika apa yang
kita peroleh itu karena doa kita. Berkat
Allah itu karena perbuatan kita, usaha kita dengan berdoa, padahal berkat
Allah, itu karena kasih Allah semata. Doa menjadi sebentuk usaha dan kepasrahan
kita di dalam melakukan kerja sama dengan Tuhan Allah. In berbeda dengan
pemahaman rekan dan saudara kita yang lain yang menyakini dan mengimani bahwa
doa kita dijawab atau dikabulkan Tuhan. Berbeda, berkat Allah tidak tergantung
apa yang hendak Tuhan berikan.
Doa Bapa Kami memberikan gambaran doa secara utuh,
bagaimana dibuka dengan menyapa Tuhan Allah kita. Kita kalau mau berbincang
atau meminta kepada orang tua tentu pakai pengantar dan menyapa dulu bukan? Cara
yang sama kita pakai. Kemudian kita memuji-Nya, ingat ini bukan karena Tuhan
suka akan pujian, bukan namun kita sepantasnya memuji atas kasih dan
kebaikan-Nya bukan? Dilanjutkan dengan ungkapan syukur atas berkat Tuhan. Kemudian
kita mohon ampun atas kedosaan kita, ada syaratnya, bahwa kita perlu pula memaafkan
terlebih dahulu kesalahan orang lain. Hal ini agar kita tidak semena-mena mau
diampuni namun tidak mau mengampuni. Jika demikian, tentu sangat buruk relasi
kita. Terakhir kita memohon apa yang
menjadi kerinduan dan kebutuhan kita.
Ingat, bagaimana itu semua ada di sana. Kecenderungan
kita telah sekian lama berdoa dengan cara memohon saja, isinya hanya memohon,
lupa bersyukur, apalagi menyapa dan memuji Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar