Minggu, 04 November 2018

Hukum Kasih yang Utama


HARI MINGGU PEKAN BIASA XXXI (H)
Ul. 6:2-6
Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab
Ibr. 7:23-28
Mrk. 12:28-34



Ul. 6:2-6

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,


Ibr. 7:23-28

7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam.
7:24 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.
7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.
7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.



Mrk. 12:28-34

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."
12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.




Hukum Kasih yang Utama

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan hukum kasih. Di mana Tuhan menyatakan hukum kasih itu mengasihi Tuhan Allah dengan seluruh akal budi, kekuatan, dan keseluruhan hidup kita, tanpa kecuali.
Perlu kita lihat lagi, apa yang telah kita lakukan demi Tuhan? Apakah sudah menomorsatukan, atau malah hanya menomorsekiankan Tuhan? Kita tilik dalam hati kita masing-masing, berapa lama waktu untuk berdoa, dibandingkan dengan waktu untuk bersosial media, atau dalam doa pun masih banyak waktu dan permohonan pusatnya ke dalam diri sendiri.
Berapa banyak orang yang takut dengan iman dan agama atau identitas keagamaan demi jabatan, pekerjaan, dan sejenisnya. Menyembunyikan nama baptis, atau pindah agama demi mendapatkan kenyamanan dan keamanan hidup. Apakah ini sudah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan kita?
Mengasihi Tuhan dengan seluruh diri kita juga bisa kita lakukan, dengan pasrah dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kepada Penyelenggaraan Ilahi, tapi kecenderungan manusiawi adalah mengandalkan diri, teknologi, atau pergi ke mana yang bisa memberikan bantuan.
Hukum yang selanjutnya, mengasihi sesama seperti diri sendiri. Coba tengok di jalanan itu, apa yang terjadi? Adalah mementingkan diri sendiri. Mana duli menjadi kredo di jalanan, mau orang jatuh, mau basah kuyup karena masuk got atau terciprat air, tidak ada yang peduli. Pun ketika ada pembagian jatah dari pemerintah, orag mampu pun mengambil dan ikut mendaftar. Apa iya mereka memang seperti itu keadaannya? Egoisme dan memikirkan diri, apalagi berpikir bagi orang lain.
Sikap mengumpulkan makin parah dibandingkan mau berbagi. Bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri ketika dengan keji mengambil hak orang lain tanpa perasaan. Apapun demi aku, keakuan menjadi nomor satu, belum lagi jika berbicara merawat orang tua.
Saudara terkasih, Tuhan telah mengasihi kita dengan paripurna, jika kita mengasihi Tuhan dan sesama itu bukan sebuah kewajiban, namun sebuah konsekuensi logis atas kasih yang kita terima. Pun mengasihi sesama, karena kita membutuhkan sesama di dalam hidup kita. Tidak ada manusia hidup tanpa memerlukan keberadaan orang lain. BD.eleSHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar