HARI
MINGGU PEKAN BIASA XXXI (H)
Ul. 6:2-6
Mzm.
18:2-3a,3bc-4,47,51ab
Ibr.
7:23-28
Mrk.
12:28-34
Ul. 6:2-6
6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN,
Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan
kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia,
supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang
dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang
berlimpah-limpah susu dan madunya.
6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu
esa!
6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau
perhatikan,
Ibr.
7:23-28
7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena
mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam.
7:24 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak
dapat beralih kepada orang lain.
7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna
semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk
menjadi Pengantara mereka.
7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu
yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan
lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari
harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah
untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk
selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.
7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi
kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada
hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai
selama-lamanya.
Mrk.
12:28-34
12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan
orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat
kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang
paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai
orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua
hukum ini."
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali,
Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali
Dia.
12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap
pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia
seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan
korban sembelihan."
12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan
Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan
seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Hukum
Kasih yang Utama
Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk
merenungkan hukum kasih. Di mana Tuhan menyatakan hukum kasih itu mengasihi
Tuhan Allah dengan seluruh akal budi, kekuatan, dan keseluruhan hidup kita,
tanpa kecuali.
Perlu kita lihat lagi, apa yang telah kita lakukan
demi Tuhan? Apakah sudah menomorsatukan, atau malah hanya menomorsekiankan
Tuhan? Kita tilik dalam hati kita masing-masing, berapa lama waktu untuk
berdoa, dibandingkan dengan waktu untuk bersosial media, atau dalam doa pun
masih banyak waktu dan permohonan pusatnya ke dalam diri sendiri.
Berapa banyak orang yang takut dengan iman dan
agama atau identitas keagamaan demi jabatan, pekerjaan, dan sejenisnya. Menyembunyikan
nama baptis, atau pindah agama demi mendapatkan kenyamanan dan keamanan hidup. Apakah
ini sudah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan kita?
Mengasihi Tuhan dengan seluruh diri kita juga bisa kita
lakukan, dengan pasrah dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kepada
Penyelenggaraan Ilahi, tapi kecenderungan manusiawi adalah mengandalkan diri,
teknologi, atau pergi ke mana yang bisa memberikan bantuan.
Hukum yang selanjutnya, mengasihi sesama seperti
diri sendiri. Coba tengok di jalanan itu, apa yang terjadi? Adalah mementingkan
diri sendiri. Mana duli menjadi kredo di jalanan, mau orang jatuh, mau basah
kuyup karena masuk got atau terciprat air, tidak ada yang peduli. Pun ketika
ada pembagian jatah dari pemerintah, orag mampu pun mengambil dan ikut
mendaftar. Apa iya mereka memang seperti itu keadaannya? Egoisme dan memikirkan
diri, apalagi berpikir bagi orang lain.
Sikap mengumpulkan makin parah dibandingkan mau
berbagi. Bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri ketika dengan keji
mengambil hak orang lain tanpa perasaan. Apapun demi aku, keakuan menjadi nomor
satu, belum lagi jika berbicara merawat orang tua.
Saudara terkasih, Tuhan telah mengasihi kita dengan
paripurna, jika kita mengasihi Tuhan dan sesama itu bukan sebuah kewajiban,
namun sebuah konsekuensi logis atas kasih yang kita terima. Pun mengasihi
sesama, karena kita membutuhkan sesama di dalam hidup kita. Tidak ada manusia
hidup tanpa memerlukan keberadaan orang lain. BD.eleSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar