Rabu Biasa
Pekan XV (H)
Yes.
10:5-7,13-16
Mzm. 94:5-10,14-15
Mat.
11:25-27
Yes.
10:5-7,13-16
10:5 Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang
menjadi tongkat amarah-Ku!
10:6 Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku
akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku, untuk melakukan perampasan
dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.
10:7 Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak
demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan
hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa.
10:13 Sebab ia telah berkata: "Dengan kekuatan tanganku aku
telah melakukannya dan dengan kebijaksanaanku, sebab aku berakal budi; aku
telah meniadakan batas-batas antara bangsa, dan telah merampok
persediaan-persediaan mereka, dengan perkasa aku telah menurunkan orang-orang
yang duduk di atas takhta.
10:14 Seperti kepada sarang burung, demikianlah tanganku telah
menjangkau kepada kekayaan bangsa-bangsa, dan seperti orang meraup telur-telur
yang ditinggalkan induknya, demikianlah aku telah meraup seluruh bumi, dan
tidak seekor pun yang menggerakkan sayap, yang mengangakan paruh atau yang
menciap-ciap."
10:15 Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya,
atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah
gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat
orangnya yang bukan kayu!
10:16 Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat
orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan
dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala.
Mat.
11:25-27
11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur
kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan
bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.
11:26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak
seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa
selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
Tuhan dan Kesederhanaan
Saudara terkasih, hari ini kita mendengarkan
dan merenungkan sabda Tuhan yang cukup pendek. Dengan tiga ayat namun sungguh
mendalam dan kontekstual dalam hari-hari yang sedang kita jalani sebagai
bangsa. Keadaan dunia juga sedang booming untuk menjadi yang ter....terkenal,
tercepat, terpopuler, dan seterusnya dan seterusnya.
Orang cenderung ingin didengar daripada mendengar,
orang memiliki kecenderungan untuk mau menjelaskan daripada memahami dan
menghayati dengan hati. Kecenderungan kepala dan rasio yang lebih cepat. Dalam falsafah
Jawa ada namanya kebat klewat, cepat
namun malah kelewat kesempatan itu. Sering ita merasa mengerti, merasa sudah
tahu, dan merasa menguasai segalanya, dan di sanalah tidak ada kesempatan untuk
merenungkannya, tidak ada waktu untuk kembali melihat dan menimbangnya, dan
akhirnya malah hal yang sederhana itu lepas.
Daalam sebuah kisah inspirasi, dikisahkan
orang yang kebanjiran itu berdoa memohon Tuhan datang menolongnya. Ia merasa
Tuhan akan datang karena ia saleh, tekun dalam berdoa, memberikan bantuan dalam
segala keadaan, dan pokoknya saleh dan religius. Bantuan datang berupa perahu,
ia menolak, karena bukan Tuhan. Kedua bantuan dari keluarga dan tim SAR, ia
tolak karena bukan Tuhan. Dan ketika air makin meninggi, helikopter pun
dihantar untuk menjemput orang saleh itu, ia menolak, karena bukan Tuhan yang
datang. Ketika sudah di akhirat, Tuhan menegornya, dan ia baru ingat, ia
menyesal dan sudah lewat.
Saudara terkasih, sering kita dalam hidup
sehari-hari juga melakukan hal demikian dalam segala kondisinya. Merasa lebih dari
sesama, merasa pasti bisa, dan melupakan Tuhan,
tidak melibatkan Tuhan malah melibatkan dukun misalnya.
Kesederhanaan dalam segala hal ikhwalnya pun
dibutuhkan untuk mengenai Allah Bapa, mengenal bukan kata teolog, bukan kata guru
agama, namun bagaimana hati kita merasakan, menghayati, dan mengenal Tuhan
Allah Bapa itu. Ilmu pengetahuan, teologi, Kitab Suci itu untuk membantu bukan
Allah itu sendiri. Pengetahuan kita mengantar kita kepada Bapa. Kesederhanaan yang
akan membuat kita memahami Tuhan yang memang juga sederhana. Tuhan hadir dalam
suasana sederhana, dalam keadaan manusia, bukan lahir dalam keadaan rumit dan
kemewahan. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar