Rabu, 10 April 2019

Siapa Yesus



Sabtu Pekan IV Prapaskah (U)

Keb. 2:1,12-22
Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12
Yoh. 7:40-53



Keb. 2:1,12-22

2:1 Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: "Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab; seseorang yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal.
2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita.
2:13 Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan.
2:14 Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita.
2:15 Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya.
2:16 Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah.
2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang.
2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya.
2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya.
2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan."
2:21 Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka.
2:22 Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.

Yoh. 7:40-53

7:40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang."
7:41 Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!
7:42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
7:43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.
7:44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya.
7:45 Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
7:46 Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
7:47 Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan?
7:48 Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?
7:49 Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"
7:50 Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:
7:51 "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"
7:52 Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."
7:53 Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,



Siapa Yesus

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita untuk merenungkan siapa Yesus itu. Pengenalan  siapa Yesus dan dampaknya bagi hidup bersama. Banyak pengakuan mengenai Yesus, ada yang mengatakan nabi, Mesias, dan Mesias akan lahir di mana, sedang Yesus berasal dari mana. Hal yang menarik, karena itu berkaitan dengan jati diri Mesias.
Imam kepala dan ahli Taurat merasa tersaingi, karena mereka yang sering terkena dampak atas khotbah, pengajaran, dan kata-kata Yesus. Mereka tahu, mereka paham, dan juga jelas bahwa mereka mengerti Mesias itu seperti apa, apa yang dilakukan, dan ciri-ciri itu Yesus lakukan. Tidak mungkin mereka tidak paham akan hal itu, namun karena mereka dipenuhi oleh kebencian, dihidup iri dan dengki, merasa yang paling hebat, benar, paling pinter, membuat mereka melupakan kebenaran, dan perilaku keutamaan di dalam hidup mereka.
Saudara terkasih, dalam hidup bersama kita, sering juga kita merasakan bahwa iri, dengki, dan tidak terima ketika ada orang lain lebih dari kita. Sikap yang kita ambil biasanya bukannya bersyukur bersama yang sedang mendapatkan berkat dan anugerah. Apa yang kita lakukan cenderung juga irrasional dan mengabaikan kebenaran dan nalar. Mempermalukan diri sendiri hanya karena malu dan merasa kalah dari orang lain. Dasarnya adalah  kepengin dan keinginan lebih.
Nikodemus yang hendak meluruskan pendapat sesamanya malah mendapatkan tuduhan yang sama dengan orang-orang yang percaya lainnya. Khas dalam melindungi iri hati, orang cenderung tidak bisa menerima nasihat, masukan, dan kebenaran.  Yang ada adalah pemahaman sendiri, mengandalkan kuasa, dan menekan kebenaran atas nama kuasa, dan banyak orang yang hendak memaksakan kehendak.
Dalam memahami kebenaran itu penting melibatkan Tuhan dan spiritualitas. Di mana orang melepaskan keinginan daging yang ingin dominan, keinginan menonjolkan diri, dan keinginan untuk lebih dari pada orang lain. Di dalam Tuhan kita mampu untuk bersyukur dan melihat kebaikan bukan malah keburukan pihak lain. Inilah  nilai anak-anak Tuhan, sehingga bisa menjadi berkat bagi dunia. Dunia perlu dihuni oleh banyak pribadi yang penuh syukur. BD.eLeSHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar