Sabtu
Pekan IV Prapaskah (U)
Keb.
2:1,12-22
Mzm.
7:2-3,9bc-10,11-12
Yoh.
7:40-53
Keb.
2:1,12-22
2:1 Karena angan-angannya
tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: "Pendek dan menyedihkan
hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab; seseorang
yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal.
2:12 Marilah kita menghadang
orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan
kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita
dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita.
2:13 Ia membanggakan
mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan.
2:14 Bagi kita ia merupakan
celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi
kita.
2:15 Sebab hidupnya sungguh
berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya.
2:16 Kita dianggap olehnya
sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah
najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah
bahwa bapanya ialah Allah.
2:17 Coba kita lihat apakah
perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang.
2:18 Jika orang yang benar
itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari
tangan para lawannya.
2:19 Mari, kita mencobainya
dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji
kesabaran hatinya.
2:20 Hendaklah kita
menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti
mendapat pertolongan."
2:21 Demikianlah mereka
berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan
mereka.
2:22 Maka mereka tidak tahu
akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak
menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.
Yoh.
7:40-53
7:40 Beberapa orang di antara
orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini
benar-benar nabi yang akan datang."
7:41 Yang lain berkata:
"Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias
tidak datang dari Galilea!
7:42 Karena Kitab Suci
mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem,
tempat Daud dahulu tinggal."
7:43 Maka timbullah
pertentangan di antara orang banyak karena Dia.
7:44 Beberapa orang di antara
mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani
menyentuh-Nya.
7:45 Maka penjaga-penjaga itu
pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka:
"Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
7:46 Jawab penjaga-penjaga
itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
7:47 Jawab orang-orang Farisi
itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan?
7:48 Adakah seorang di antara
pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang
Farisi?
7:49 Tetapi orang banyak ini
yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"
7:50 Nikodemus, seorang dari
mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:
7:51 "Apakah hukum
Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang
mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"
7:52 Jawab mereka:
"Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan
tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."
7:53 Lalu mereka pulang,
masing-masing ke rumahnya,
Siapa
Yesus
Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak
kita untuk merenungkan siapa Yesus itu. Pengenalan siapa Yesus dan dampaknya bagi hidup bersama. Banyak
pengakuan mengenai Yesus, ada yang mengatakan nabi, Mesias, dan Mesias akan
lahir di mana, sedang Yesus berasal dari mana. Hal yang menarik, karena itu berkaitan
dengan jati diri Mesias.
Imam kepala dan ahli Taurat merasa tersaingi,
karena mereka yang sering terkena dampak atas khotbah, pengajaran, dan
kata-kata Yesus. Mereka tahu, mereka paham, dan juga jelas bahwa mereka
mengerti Mesias itu seperti apa, apa yang dilakukan, dan ciri-ciri itu Yesus
lakukan. Tidak mungkin mereka tidak paham akan hal itu, namun karena mereka
dipenuhi oleh kebencian, dihidup iri dan dengki, merasa yang paling hebat,
benar, paling pinter, membuat mereka melupakan kebenaran, dan perilaku
keutamaan di dalam hidup mereka.
Saudara terkasih, dalam hidup bersama kita, sering
juga kita merasakan bahwa iri, dengki, dan tidak terima ketika ada orang lain
lebih dari kita. Sikap yang kita ambil biasanya bukannya bersyukur bersama yang
sedang mendapatkan berkat dan anugerah. Apa yang kita lakukan cenderung juga
irrasional dan mengabaikan kebenaran dan nalar. Mempermalukan diri sendiri
hanya karena malu dan merasa kalah dari orang lain. Dasarnya adalah kepengin dan keinginan lebih.
Nikodemus yang hendak meluruskan pendapat sesamanya
malah mendapatkan tuduhan yang sama dengan orang-orang yang percaya lainnya. Khas
dalam melindungi iri hati, orang cenderung tidak bisa menerima nasihat,
masukan, dan kebenaran. Yang ada adalah
pemahaman sendiri, mengandalkan kuasa, dan menekan kebenaran atas nama kuasa,
dan banyak orang yang hendak memaksakan kehendak.
Dalam memahami kebenaran itu penting melibatkan
Tuhan dan spiritualitas. Di mana orang melepaskan keinginan daging yang ingin
dominan, keinginan menonjolkan diri, dan keinginan untuk lebih dari pada orang
lain. Di dalam Tuhan kita mampu untuk bersyukur dan melihat kebaikan bukan
malah keburukan pihak lain. Inilah nilai
anak-anak Tuhan, sehingga bisa menjadi berkat bagi dunia. Dunia perlu dihuni
oleh banyak pribadi yang penuh syukur. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar