Sabtu, 09 Maret 2019

Supaya Mereka Bertobat.


Sabtu Sesudah Rabu Abu (U)
Yes. 58:9-14
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Luk. 5:27-32



Yes. 58:9-14

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".
58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya


Luk. 5:27-32

5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"
5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.




Supaya Mereka Bertobat.

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai siapa yang memerlukan tabib, siapa yang membutuhkan penyembuhan dan penyembuh. Orang sering mudah untuk menuding dan menghakimi, namun abai akan esensi. Dalam hal ini, kisah dalam Injil memberikan kepada kita pelajaran yang penting. Beberapa hal yang patut kita renungkan, sebagai berikut.
Pertama, mudah memang menuding sebagaima orang Farisi dan ahli Taurat. Melihat pendosa, perilaku berbeda dari mereka, dan memang melakukan hal buruk, itu adalah pendosa yang tidak boleh untuk bersama-sama dengan Yesus sebagai guru, yang memiliki tempat istimewa.
Kedua, pemungut cukai itu berbahagia, bersuka cita, dan merasa lahir baru karena diuwongke, dimanusiakan, kemanusiaannya kembali. Selama ini ditakuti namun juga dimusuhi dan dibenci. Tidak pernah mendapatkan undangan pesta, apalagi menjadi tempat pesta bagi pemuka agama. Nah ketika Yesus berkenan datang ke rumahnya, tentu ia berbahagia luar biasa.
Ketiga, siapa yang perlu obat? Orang sakit, juga perlu tabib, penyembuh atas perilaku salahnya. Pemungut cukai itu mendapatkan kesembuhan karena Tuhan datang untuk menyapa dan mengajaknya kembali.
Saudara terkasih, sering kita hanya menghakimi, menghukum, dan berkasak-kusuk ketika ada orang lain yang bersalah. Tengok saja bagaimana ketika ada anggota lingkungan yang tersandung skandal, atau kasus, apakah kita datang untuk klarifikasi, atau memberikan dukungan? Paling-paling ikut mengutuk atau menghakimi dengan kaca mata kita. Padahal belum tentu demikian. Termasuk ketika imam, gembala kita yang sedang bermasalah.
Perilaku dan pilihan Yesus yang menyelesaikan masalah pada akarnya, menyembuhkan pada penyebab kesalahan itu, dan hasilnya luar biasa. Dalam falsafah Jawa ada ungakan dipangku mati, orang menjadi sungkan ketika dinasihati dengan halus, bahkan didukung. Apakah kita sudah melakukan demikian, atau malah menertawakan dan ikut menghakimi. Penghakiman hanya memuaskan hasrat kita bergunjing, namun tidak membawa perbaikan dan pembaruan.
Saudara terkasih, kita perlu memohon bantuan Tuhan, pertolongan Tuhan agar mampu memerhatikan sesama dalam kondisi apapun, agar mereka bukan semakin terpuruk dan tersesat. Sering kita terlibat di dalam kesesatan sesama kita dengan perilaku kita. Jangan pula kita tersesat dan menyesatkan diri. BD. eLeSHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar