Selasa, 26 Februari 2019

Layanilah Satu Sama Lain


Selasa Pekan Biasa VII (H)
Sir. 2:1-11
Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40
Mrk. 9:30-37




Sir. 2:1-11

2:1 Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan.
2:2 Hendaklah hatimu tabah dan jadi teguh, dan jangan gelisah pada waktu yang malang.
2:3 Berpautlah kepada Tuhan, jangan murtad dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu.
2:4 Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu.
2:5 Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan.
2:6 Percayalah pada Tuhan maka Iapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.
2:7 Kamu yang takut akan Tuhan nantikanlah belas kasihan-Nya, jangan menyimpang, supaya kamu jangan terjatuh.
2:8 Kamu yang takut akan Tuhan percayalah pada-Nya, niscaya kamu tidak akan kehilangan ganjaranmu.
2:9 Kamu yang takut akan Tuhan harapkanlah yang baik, sukacita kekal dan belas kasihan.
2:10 Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu dikecewakan, siapa bertekun dalam ketakutan kepada-Nya dan telah ditinggalkan, atau siapa berseru kepada-Nya lalu tidak dihiraukan oleh-Nya?
2:11 Memang Tuhan adalah penyayang dan pengasih, Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan pada saat kemalangan.


Mrk. 9:30-37

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."



Layanilah Satu Sama Lain

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya yang berbicara mengenai yang terbesar. Sering kita merebutkan yang terbesar, paling, dan ter, ter, lainnya. Salah satu yang mungkin dan paling menjadi sasaran dalam masa kini adalah popularitas dan viral.
Demi viral dan populer, orang bisa abai akan kemanusiaan. Beberapa hari ini sedang heboh dengan adanya orang maaf bunuh diri, bukannya diupayakan untuk ditolong malah ada yang seolah mendorong untuk cepat melakukan, merekam, dan membagikannya dalam media sosial. Seolah tanpa beban, merasa bersalah, merasa terbebani atas kematian orang lain, yang penting viral. Miris ketika kemanusiaan kalah oleh kepentingan tenar dan viral itu.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menasihati para murid, yang merasa paling unggul, merasa yang paling besar, dan merasa paling hebat sepanjang jalan, tanpa sepengetahuan Yesus tentunya. Hal yang biasa, wajar, dan manusiawi. Pilihan dunia, di mana orang memang ingin menonjol, dan paling terkemukan. Yesus memberikan pengajaran dan tuntutan serta tuntunan yang berbeda.
Terbesar dalam Yesus adalah pelayanan. Melayani satu sama lain, padahal dunia melakukan perilaku yang sebaliknya. Semakin besar orang akan semakin minta dilayani. Orang besar itu banyak maunya tanpa mau kerja. Yesus membawa pengajaran yang bertolak belakang. Semua di balik dan menghendaki yang berbeda secara ekstrem dengan perilaku dunia ini.
Penghargaan dan kasih atas anak-anak. Di mana sih ada orang tua, pemuka, dan tokoh besar mau menyapa anak-anak sebagai bagian utuh di dalam komunitas itu. Sikap dan penghargaan Yesus sangat baru. Penghargaan bagi anak sama dengan orang tua. Sikap yang penting menghargaan kemanusiaan yang sama dan setara.
Saudara terkasih, sering kita jatuh pada keinginan diri, kemegahan diri untuk menjadi besar, hebat, dan tenar. Tuhan tidak melarang itu, sepanjang mau menjadi pelayan satu sama lain. Melayani sebagai bukti kerendahan hati yang mendalam. Memeluk anak-anak sebagai manusia dengan penuh cinta juga memberikan gambaran pribadi terbuka dan rendah hati. Siapkah kita melayani dana mengasihi anak-anak dengan tulus? BD.eLeSHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar