Sabtu Pekan Biasa XX (H)
Yeh. 43:1-7
Mzm. 85:9-14
Mat. 23:1-12
Yeh. 43:1-7
43:1 Lalu dibawanya aku ke pintu gerbang, yaitu pintu gerbang yang
menghadap ke sebelah timur.
43:2 Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan
terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar
karena kemuliaan-Nya.
43:3 Yang kelihatan kepadaku itu adalah seperti yang kelihatan
kepadaku ketika Ia datang untuk memusnahkan kota itu dan seperti yang kelihatan
kepadaku di tepi sungai Kebar, maka aku sembah sujud.
43:4 Sedang kemuliaan TUHAN masuk di dalam Bait Suci melalui pintu
gerbang yang menghadap ke sebelah timur,
43:5 Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam,
sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan TUHAN.
43:6 Lalu aku mendengar Dia berfirman kepadaku dari dalam Bait
Suci itu -- orang yang mengukur Bait Suci itu berdiri di sampingku --
43:7 dan Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, inilah
tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di
tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan
menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan
persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati;
Mat. 23:1-12
23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak
dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi telah menduduki kursi Musa.
23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala
sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti
perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak
melakukannya.
23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu
meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya
dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan
jumbai yang panjang;
23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat
dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
23:7 mereka suka menerima penghormatan di
pasar dan suka dipanggil Rabi.
23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi;
karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun
bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin,
karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu.
23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia
akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Barangsiapa Meninggikan Diri, Ia akan Direndahkan dan Barangsiapa
Merendahkan Diri, Ia akan Ditinggikan
Saudara terkasih hari ini kita diajak
untuk merenungkan bagaimana orang itu dilihat dari perbuatan dna pernyataannya,
bagaimana mereka bisa satu di dalam perkataan dan perbuatan. Dari sana mereka
akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka peroleh. Barang siapa meninggikan
diri akan direndahkan dan sebaliknya, sangat logis dan alamiah bukan?
Yesus mengajak para murid-Nya untuk
mau mendengarkan apa yang diajarkan para guru Yahudi, toh mereka bagus dalam
hal tersebut, namun, jangan ikuti apa yang mereka nyatakan sepanjang tidak
sesuai dengan perilaku mereka. Mereka bisa didengar namun bukan untuk dijadikan
teladan. Mereka melakukan hanya sebatas mulut dan menampilkan pernyataan dan
perkataan semata, namun bukan perilaku yang bisa dirasakan.
Tentu hal ini sangat kontekstual
ketika kita hidup bersama sebagai bangsa Indonesia. Bagaimana agama seolah
menjadi panglima, semua dasarnya agama, namun isinya, esensinya, justru jauh
dari apa yang agama ajarkan. Mengatakan dengan fasih kalimat suci, namun
mencuri dan merugikan pihak lain dengan penuh kepongahan dan kesombongan. Tidak
pernah merasa bersalah dan merasa berbuat jahat. Selalu merasa baik dan benar.
Berlomba-lomba untuk meninggikan diri
dengan persepsi yang dibangun dengan menghilangan bukti kejahatan dan perilaku
buruk. Merusak persepsi orang lain yang merasa bukan kelompoknya. Melihat rivalitas
dalam segala hal seolah itu musuh abadi, padahal tidak demikian. tidak mampu
membedakan pribadi, perbuatan, dan pernyataan. Semua dijadikan satu,
campuraduk, dan kacau jadinya.
Merendahkan diri, bukan berarti rendah
diri, namun bersikap dengan baik bukan menonjolkan diri. Sikap yang selama ini
di dalam hidup berbangsa sedang demikian kencang untuk memegahkan diri dengan
penuh kebohongan dan kemunafikan. Kebanggan semu yang dibangun karena banyak
pemuja dan orang-orang bayaran.
Saudara terkasih, apa yang Yesus
katakan, ajarkan, dan minta bagi hidup kita tentu sangat tepat bagi kita di
masa yang penuh kemunafikan ini. Apa yang terjadi merupakan tantangan bagi
kita, bagaimana kita mau ikut arus, atau berani menyatakan kebenaran dan kadang
menentang arus? Itulah kualitas iman. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar