HARI
MINGGU BIASA PEKAN XIII (H)
2
Raj. 4:8-11,14-16
Mzm.
89:2-3,16-17,18-19
Rm.
6:3-4,8-11
Mat.
10:37-42
2
Raj. 4:8-11,14-16
4:8 Pada suatu hari Elisa
pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia
makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk
makan.
4:9 Berkatalah perempuan itu
kepada suaminya: "Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu
datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.
4:10 Baiklah kita membuat
sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di
sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil,
maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana."
4:11 Pada suatu hari
datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.
4:14 Kemudian berkatalah
Elisa: "Apakah yang dapat kuperbuat baginya?" Jawab Gehazi: "Ah,
ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua."
4:15 Lalu berkatalah Elisa:
"Panggillah dia!" Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu
di pintu.
4:16 Berkatalah Elisa:
"Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong
seorang anak laki-laki." Tetapi jawab perempuan itu: "Janganlah
tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!
Rm.
6:3-4,8-11
6:3 Atau tidak tahukah kamu,
bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam
kematian-Nya?
6:4 Dengan demikian kita
telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya,
sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan
Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru
6:8 Jadi jika kita telah mati
dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
6:9 Karena kita tahu, bahwa
Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak
berkuasa lagi atas Dia.
6:10 Sebab kematian-Nya
adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan
kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
6:11 Demikianlah hendaknya
kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah
dalam Kristus Yesus.
Mat.
10:37-42
10:37
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak
bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari
pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan
barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
10:40
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia
menyambut Dia yang mengutus Aku.
10:41
Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi,
dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima
upah orang benar.
10:42 Dan
barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang
kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan
kehilangan upahnya dari padanya."
Barangsiapa Mengasihi Bapa atau Ibunya Lebih dari pada-Ku
Saudara terkasih, apa yang Gereja ajak pada pekan ini sangat
kontekstual dalam kehidupan kita. Bagaimana hidup kita sudah jauh dari skala
prioritas yang sepantasnya. Kita bisa merenungkan, berapa waktu yang kita
habiskan untuk hiburan yang sering tidak perlu, seperti televisi, film,
tontonan yang isinya kekerasan, pelecehan, dan sejenisnya. Belum lagi aktivitas
kita dengan media sosial yang sering malah menimbulkan masalah yang tidak
kecil. Benar bahwa hiburan, media sosial
itu perlu dan juga membantu, namun jika sudah berlebihan, tentu sangat tidak
baik, apalagi meninggalkan yang utama, kebersamaan dengan sesama, lebih parah
abai akan Tuhan.
Kita saksikan saja betapa banyak muka-muka tertunduk bukan karena
salah, namun karena menatap layar gadget masing-masing. Beberapa Gereja kota
sudah kalah marak antara Sabda Tuhan dengan media sosial. Perarakan menuju
sambut Tubuh Tuhan pun, lebih repot mengamankan gadgetnya, lebih parah masih
membaca status medsos. Kita bisa
membayangkan bagaimana bentuk kepedulian kepada sesama kita, apalagi yang
menderita.
Saudara terkasih, Tuhan mengajak kita untuk bisa memberikan
prioritas kepada yang sepantasnya. Apa yang pantas, jelas yang nomor satu ialah
Tuhan. Bagaimana menyambut Tuhan namun masih asyik dengan diri sendiri dan
dunia maya yang namanya internet dan dunia mya. Apakah bisa juga mengharapkan
kesiapan mereka untuk yang membutuhkan mereka? Tentu hal yang susah dimengerti,
pribadi yang asyik demikian memiliki kepedulian yang secukupnya bagi sesama. Siapa
yang layak bagi-Nya? Ialah yang menempatkan Tuhan sebagai yang nomor satu dalam
segala hal. Tuhan adalah segalanya. BD.eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar