Senin, 17 Agustus 2015

Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (P)
Sir. 10:1-8
Mzm. 101:1a,2ac,3a,6-7
1 Pet. 2:13-17
Mat. 22:15-21


Sir. 10:1-8

10:1 Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur.
10:2 Seperti penguasa bangsa demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua penduduknya.
10:3 Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.
10:4 Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya.
10:5 Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia, dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya.
10:6 Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.
10:7 Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah.
10:8 Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.


1 Pet. 2:13-17

2:13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
2:14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.
2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Mat. 22:15-21

22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”


Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan
kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

Saudara terkasih, hari ini merupakan hari yang paling membahagiakan kita sebagai bangsa. Hari kemerdekaan merupakan hari yang bersejarah, di mana kita bebas, merdeka, dan tidak lagi menjadi jajahan. Mgr. Soegija, uskup pribumi pertama menggelorakan semangat perjuangan dengan semboyan 100% Indoneisa 100% Katolik. Beliau telah membumikan sabda Yesus hari ini. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.
Seolah-olah hendak memisahkan apa yang duniawi dan ilahi, sepakat kalau hal itu adalah agar negara dikelola dengan azas-azas dunia yang lebih tepat dan apa yang berkaitan dengan Keallahan itu demikian adanya. Perselisihan dan pertikaian tidak pernah kenal henti ketika ada pemaksaan dari salah satu pihak. Gereja merasakan hal ini berabad-abad dan terombang-ambing ketika paus un menjadi tarik ulur kepentingan politik. Berkaitan dengan Keindonesiaan dan kekinian bahwa orang Katolik harus terlibat secara politik dengan berbagai cara dan bidang masing-masing. Ingat menjadi orang politik yang Katolik. Ketika perpolitikan Indonesia penuh dengan suap, korup, egoisme, dan hal-hal remeh temeh demikian, Kekatolikan kita menjadi pelita dan garam di sana. Bagaimana kita bisa menjadi nabi yang berteriak-teriak akan ketidakadilan dan kebenaran di tengah budaya menggunakan segala cara demi diri dan kelompok itu tidak makin menguat.BD.eLeSHa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar