Jumat, 13 Maret 2015

Hukum Manakah yang Paling Utama?

Jumat Biasa Pekan III Prapaskah (U)
Hos. 14:2-10
Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17
Mrk. 12:28b-34


Hos. 14:2-10

14:2 Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu.
14:3 Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.
14:4 Asyur tidak dapat menyelamatkan kami; kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim."
14:5 Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.
14:6 Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar.
14:7 Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.
14:8 Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon.
14:9 Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.
14:10 Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ.

Mrk. 12:28b-34

"Hukum manakah yang paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."
12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.



"Hukum manakah yang paling utama?"

Saudara terkasih, budaya Yahudi mengenai antara hukum yang pertama dan kedua, antara yang lebih besar dan lebih kecil. Yesus dalam perikop di atas bukan menunjukkan mana yang lebih besar dan lebih kecil atau yang pokok dan kurang pokok namun memberikan penjelasan mengenai hukum dasar yaitu cinta kasih. Cinta kasih bukan berkaitan dengan perasaan atau afeksi semata, namun bagaimana orang berusaha makin menuruti kehendak Allah dan bersatu dengan-Nya dan mengasihi sesama sebagaimana dirinya sendiri.
Kasih bukan hanya perasaan namun tindak nyata. Sebuah ungkapan yang begitu indah, karena kita sering memahami kasih masih sebatas afaksi, rasa perasaan, belum diperlengkapi dengan perbuatan untuk bergantung sepenuhnya kepada ketetapan Ilahi. Apa artinya mengasihi Allah, ialah menjalankan apa yang menjadi rencana dan kehendak-Nya, bukan keinginan dan kerinduan pribadi. Tekun dalam melaksanakan sabda-sabda-Nya.
Hukum kedua untuk mengasihi sesama, sebagai jawaban Yesus yang tidak ditanyakan oleh ahli Taurat. Jawaban itu ternyata membawa ahli Taurat untuk memberikan kesimpulan atas apa yang telah mereka yakini dan jalani sekian lamanya, yaitu bahwa hukum itu melebihi korban bakaran dan sembelihan yang sering lebih mereka prioritaskan.
Saudara terkasih, apa yang Bunda Gereja ajak kita renungkan pada hari ini ialah, bahwa kita sering melakukan hal-hal yang ternyata jauh dari apa yang seharusnya kita lakukan. Bagaimana kesibukan kita baik itu berkaitan yang jasmani dan tidak jarang yang rohani sekalipun, namun sering abai dengan apa yang seharusnya kita perbuat bagi saudara yang menderita. Melakukan yang remeh justru melalaikan yang pokok. Bagaimanakah masa puasa kita, sudahkah melakukan kehendak-Nya terlebih dahulu? BD.eLeSHa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar