Selasa, 09 Juni 2020

Hiduplah yang Berdampak


Selasa Pekan Biasa X (H)
1 Raj. 17:7-16
Mzm. 4:2-3,4-5,7-8
Mat. 5:13-16


1 Raj. 17:7-16

17:7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.
17:8 Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:
17:9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."
17:10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum."
17:11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."
17:12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."
17:13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.
17:14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."
17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.


Mat. 5:13-16

5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.



Hiduplah yang Berdampak

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana nasihat Yesus untuk hidup kita di tengah dunia. Garam dan terang, itu adalah persembahan terbesar hidup bagi kehidupan. Terang tidak tebang pilih, garam pun mengorbankan diri, wujud, tidak terlihat, namun memberikan dampak luar biasa. Itulah kualitas iman dan hidup beriman yang berkenan di dalam Tuhan.
Era modern ini, populer, viral, dan tenar seolah menjadi panglima dalam banyak hal. Politik, ekonomi, sosial, dan berbagai segi hidup mengejar ketenaran. Kemudahan itu ada, bahkan sangat menjanjikan. Namun pada sisi lain, jika tidak hati-hati orang jatuh asal tenar dan viral namun dampak buruk yang diperoleh.
Tenar asal cemar sangat mungkin menjadi pilihan. Di sanalah peran iman. Orang boleh membangun citra diri, tenar, populer, dan juga mendapatkan segalanya dengan itu semua. Namun  peran, bantuan, dan dampak apa bagi pihak lain, terutama dunia? Lihat saja  artis, politikus, atau juga orang-orang yang suka panjat sosial demi dikenal. Mereka melakukan hal-hal yang kadang buruk, agar menjadi bahan pembicaraan.
Gaya hidup mencaci maki di media sosial, biar terlihat berbeda, garang, dan pemberani. Menyerang siapa saja. Itulah dunia, tawaran dunia yang bisa diperoleh dengan berbagai cara dan macamnya. Apakah demikian bagi anak-anak Allah? Patut direnungkan kembali lebih dalam.
Saudara terkasih, garam, itu melebur agar berdaya guna. Memberikan dampak itu kadang sama sekali tidak akan terlihat. Apalagi jika mencari bentuk dan wujud dari garam. Sudah tidak ada lagi. Kesiapan ini yang menjadi penting. Tidak terlihat namun terdampak.
Kemarin, ada sebuah opini yang menuliskan, bagaimana agama yang tidak banyak omong, tidak banyak polemik, taat protokol pemerintah, bisa dinilai yang paling banyak memberikan kontribusi positif bagi penanggulangan covid-19, khususnya Indonesia. Syukur bahwa Gereja Katolik, KWI, ataupun masing-masing keuskupun sangat peduli dengan kata pemerintah. Mengikuti tanpa banyak omong. Menutup gereja hingga pekan kemarin, baru ada yang memulai dengan sangat hati-hati. Patut bersyukur, bahwa menjadi garam itu sangat mungkin tidak terlihat.
Iman itu tidak semata banyak kata dan omong, namun bagaimana hidup yang memberikan arti positif bagi sekitar. Pemberian diri bukan malah mengharapkan mendapatkan sesuatu dari iman itu. BD.eLeSHa.



Senin, 08 Juni 2020

Berbahagialah yang Membawa Damai


Senin Biasa Pekan X (H)
1 Raj. 17:1-6
Mzm. 121:2-3,4-5,7-8
Mat. 5:1-12




1 Raj. 17:1-6

17:1 Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan."
17:2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya:
17:3 "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
17:4 Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."
17:5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
17:6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.



Mat. 5:1-12

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."



Berbahagialah yang Membawa Damai

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan firman Tuhan mengenai sabda bahagia. Bagaimana Tuhan menyatakan kita patut untuk membawa diri sebagai agen perubahan. Keadaan yang oleh dunia dinilai sebagai hal yang buruk, pesimis, dan tidak nyaman itu, sebagai kesempatan untuk melihat karya Allah. Badai pasti berlalu dan tidak ada pesta yang tidak pernah usai.
Kita sebagai anak dunia, dan juga anak bangsa sedang menghadapi pandemi. Semua saja tanpa kecuali. Tidak ada yang tidak terdampak atas aksi si kecil itu. Pemberitaan demi pemberitaan berseliweran. Ada yang positif dengan antusias penuh harapan, namun tidak sedikit yang menebarkan kecemasan dan ketakutan. Pesimisme yang mau ditawarkan demi mendapatkan sesuatu, kepentingan diri dan kelompok. Jabatan misalnya.
Sikap saling curiga dan menilai pihak lain sebagai pelaku kegagalan, tidak becus, dan sebagainya. Ada di mana-mana. Mau Indonesia atau negara lain. Tentu berbeda kisah, konteks, dan arah yang mau dituju. Perang fisik mungkin sudah makin jarang, hanya ada di Timur Tengah yang memang tidak pernah ada habis-habisnya. Ini semua juga soal hegemoni, kekuasaan, penindasan, dan pengakuan. Keakuan yang dikedepankan. Soal duka, kesulitan, penderitaan, dan bahkan kemiskinan dan kematian rakyat tidak menjadi pertimbangan. Inilah dunia, manusia, dan godaan untuk selalu menomorsatukan diri dan kelompoknya. Menjadikan pihak lain sebagai tumpuan untuk mencapai sesuatu.
Saudara terkasih, dalam sabda bahagia Tuhan Yesus menyatakan berbagailah yang membawa damai, karena akan disebut anak-anak Allah. Perselisihan, pertikaian, dan permusuhan menjadi gaya hidup dunia ini. Orang ingin  lebih dari yang lain. Penginnya menjadi yang ter ter dan ter. Nah kadang, di dalam membangun diri mencapai ter itu mengorbankan pihak lain. pemaksaan kehendak salah satunya. Bagaimana mau damai jika ada pemaksaan kehendak.
Mengalah demi kebaikan persama. Bukan berarti kalah atau takut, namun memberikan kesempatan kepada pihak lain memuaskan diri. Contoh sederhana, bagaimana jika kita dihujat dan balas menghujat? Ribut bukan? Itu bukan damai dan tentu bukan karya anak-anak Allah.
Doa Santo Fransiskus Asisi bagus untuk mengolah batin kita menjadi seluas samudra. Doakan dengan kesungguhan secara rutin, dan rasakan dampaknya. BD.eLeSHa.

Senin, 01 Juni 2020

Terjadilah padaku Menurut Kehendak-Mu



Pw. SP Maria Bunda Gereja (P)
Kis. 1:12-14
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9
Yoh. 19:25-34




Kis. 1:12-14

1:12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
1:13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Yoh. 19:25-34

19:25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
19:26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!"
19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
19:31 Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -- sebab Sabat itu adalah hari yang besar -- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.


  
Terjadilah padaku Menurut Kehendak-Mu

Saudara terkasih, hari ini kita memulai untuk melanjutkan masa biasa. Bersama Bunda Gereja kita merenungkan mengenai perutusan Bunda Maria yang membawa konsekuensi amat besar bagi dunia ini. Maria sebagai perantara Putera Allah masuk ke dalam dunia ini. Hal yang banyak hal terpengaruh dan menjadi taruhan bahkan.
Ada sebuah kisah inspiratif, bagaimana Gabriel yang diutus untuk nanting, menanyakan kesanggupan Maria menjadi ibu Penebus. Dikisahkan katanya Gabriel kebes, keringat dingin menunggu reaksi Maria. Ia mengatakan kalau si gadis banyak pertanyaan, namun ketika menjawab, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu, Gabriel menjadi plong. Selesai dan tidak ada keraguan lagi mengenai masa depan dunia.
Maria apa juga dengan secepat itu atau seringan itu mengatakan iya? Jelas tidak. Ia sebagai manusia, anak gadis tahu dengan persis konsekuensi yang akan terjadi. Pun bagaimana ia akan mengatakan kepada Yusuf tunangannya. Hal yang luar biasa besar. Sama dengan Gabriel juga menyatakan warta luar biasa gede. Keadaan yang sama tentu saja.
Apa jadinya jika Maria mengatakan, aku tidak sanggup menanggung penolakan, hukuman, dan penganiayaan bagi diri dan keluargaku. Toh keberatan ini sama sekali tidak keluar dari diri Maria. Repot Tuhan Allah untuk memilah dan memilih lagi. Sikap Maria yang mengatakan dan menyatakan diri sebagai hamba sehingga menurut ini menjadi penting.
Saudara terkasih, kesiapsediaan Maria menjalankan perutusan ini sunggu luar biasa. Mengetahui diri sebagai hamba, dan pastinya tahu dan paham, Tuhan Allah itu yang mengutus tentu juga yang menjaga, dan menyiapkan segala sesuatunya. Hal yang kadang kita abai, ketika menjalankan perutusan kita memilikirkan kendala, takut tidak mampu, dan model-model begituan. Abai jika Tuhan ada, hadir, dan tetap mendampingi.
Peran Tuhan Allah itu mutlak, namun kita malah sering lupa seolah kitalah pelaku utama. Kita ini  hanya ikut dalam karya dan perutusan Allah. semata alat dan kepanjangan tangan Allah di dunia ini. Nah ketika  kita mampu menjalani itu, semua akan ringan dan mampu kita jalani.
Maria menjalani peran tidak mudah itu, bahkan menyaksikan Puteranya wafat disalib. Peristiwa paling tidak mengenakan, namun ia  jalani dengan tabah dan setia. Sebuah perjalanan rohani amat berat dan sangat tidak mudah. Kata-kata awali sebagai jawaban atas kesanggupan ikut serta dalam karya Allah menjadi kekuatan Maria.BD.eLeSHa.

Minggu, 31 Mei 2020

Roh Kudus yang Menyatukan, Damai dan Suka Cita Hadir


HARI RAYA PENTAKOSTA (M)
Kis. 2:1-11
Mzm. 104:1ab,24ac-30,31,34
1 Kor. 12:3-7,12-13
Yoh. 20:19-23





Kis. 2:1-11

2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:
2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,
2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,
2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."


1 Kor. 12:3-7,12-13

12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.
12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
12:7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.


Yoh. 20:19-23

20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.



Roh Kudus yang Menyatukan, Damai dan Suka Cita Hadir


Saudara terkasih,  hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan Pentakosta, peristiwa besar yang mengubah para rasul dan juga kita sebagai anak-anak Tuhan, Gereja, dan keberadaan Roh Kudus di tengah-tengah kita. Pencurahan Roh Kudus bagi para rasul. Mengubah keberadaan para rasul yang awalnya ketakutan itu kini berani menyuarakan kebangkitan Tuhan. Ada perubahan drastis.
Beberapa hal layak kita renungkan bersama. Pertama, bagaimana keberadaan para rasul usai peristiwa salib. Mereka ketakutan, cemas, dan bersembunyi. Dalam bacaan ini kita juga mendengar bagaimana mereka bersembunyi dan pintu dikunci. Takut yang sangat dengan banyak peristiwa yang menguncang mereka.
Kedatangan dan pencurahan Troh Kudus yang membuat mereka mampu mewartakan Tuhan dalam aneka bahasa pendengar. Ingat mereka bukan orang terpelajar, namun memiliki kemampuan sehingga para pendengar itu bisa mendengar dalam bahasa mereka masing-masing. Mau menggambarkan bagaimana Roh Kudus itu berkarya, bekerja, dan membakar para murid untuk berani. Memberikan “terjemahan” pada masing-masing pendengar, yang mereka berbeda bahasa dengan para murid.
Orang-orang yang beraneka ragam, berbeda-beda itu disatukan dalam pengajaran para murid. Pemisahan dalam kisah menara Babel kini diubah, orang yang dulu diserakan dengan komunikasi yang terputus, dibedakan sehingga tidak mampu saling memahami, kini disatukan. Kebesaran Roh Kudus yang memampukan mereka semua mendengar dalam bahasa mereka.
Saudara terkasih, beragama, beriman, dan memiliki Roh Kudus dalam jiwa seharusnya kita itu memiliki keberanian. Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan apapun risikonya. Tidak kenal takut sepanjang itu adalah kebenaran dan berani menyuarakan dengan segala risikonya. Beriman bukan bersembunyi balik pintu demi keamanan diri sendiri. Keluar dan menyatakan kebenaran.
Beriman juga adalah bersuka cita, bukan duka cita. Dunia kadang membuat kita bersedih, meratap, dan membuat cemas. Itu adalah dunia yang hendak mengecilkan suka cita kita. Meneror dengan segala cara agar kita tidak mampu memiliki kebahagiaan dan akhirnya suka cita menjadi hilang.
Iman juga membuat kita mampu berdamai. Sikap damai satu sama lain, bersama dengan yang lain, dan terutama pada yang berbeda. Lagi-lagi dunia mengajak sebaliknya. Bertikai seolah adalah kesenangan yang membuat hidup itu keren.
Menyatukan. Bagiamana perbedaan asal-usul itu tidak menjadi penghalang karena keberadaan Roh Kudus. Jembatan yang mengatasi perbedaa, jurang pemisah tersatukan dengan keberadaan Roh Kudus.
Dunia baru, tatanan baru, dan menjadi pribadi baru, Roh Kudus mengubah kita. Biarlah Roh Kudus menguasai, mengubah, dan membawa kita pada kebaruan kita. BD.eLeSHa.

Sabtu, 30 Mei 2020

Panggilan Tuhan itu Personal dan Spesial


Sabtu Pekan Paskah VII (P)
Kis. 28:16-20,30-31
Mzm. 11:4,5,7
Yoh. 21:20-25



Kis. 28:16-20,30-31

28:16 Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya.
28:17 Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: "Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.
28:18 Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat suatu kesalahan pun padaku yang setimpal dengan hukuman mati.
28:19 Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya dan karena itu terpaksalah aku naik banding kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku.
28:30 Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.
28:31 Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.


Yoh. 21:20-25

21:20 Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"
21:21 Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
21:22 Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."
21:23 Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu."
21:24 Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.
21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.




Panggilan Tuhan itu Personal dan Spesial

Saudara terkasih, hari ini, akhir Masa Paskah, kita bersama Bunda Gereja merenungkan panggilan dan perutusan Tuhan Allah itu bersifat personal dan spesial. Sikap kita saja di dalam memahami, menghayati, dan memaknai itu yang berbeda. Beragam pilihan, tugas, dan perutusan Tuhan bagi kita masing-masing di dunia ini. Tidak ada  satupun yang sama dan persis.
Tuhan Allah mengutus ada yang menjadi pegawai, ada yang menjadi karyawan, ada yang menjadi pengusaha, ada pula kuli dan buruh harian. Pun Tuhan pula yang mengutus orang menjadi uskup atau presiden, pastor atau menteri, dan mereka masing-masing memiliki peran yang tidak akan pernah sama persis satu sama lain.
Kita masing-masing dalam keluarga juga memiliki peran, panggilan, dan perutusan yang berbeda-beda. Ada ayah dan ibu dengan tanggung jawab mereka. Anak-anak juga demikian.  Tetangga kita,  bisa saja memiliki pekerjaan yang sama, tetapi tugas perutusan mereka berbeda dalam banyak bidang lainnya. Nah inilah apa yang Tuhan rencanakan bagi hidup kita di dunia ini.
Kadang, kita menjadi risau, cemas, dan gamang dalam hidup karena malah fokus pada diri orang lain. kita melihat, menilai, dan membanding-bandingkan apa yang akan dan telah orang lain  peroleh, bukan apa yang kita dapatkan dan harus kita jalankan. Khas manusia. Rumput tetangga lebih hijau, kadang sampai menjadi iri dan dengki. Minimal membuat kita susah untuk bersyukur dan merasa puas serta cukup.
Saudara terkasih, Petrus hari ini, dalam bacaan Injil ternyata mengalami, merasakan, dan melakukan apa yang dunia lakukan. Ia mempertanyakan akan apa yang bisa terjadi pada Yohanes. Bagus jawaban Yesus, “Ikutlah AKU,” fokus pada Petrus, apa yang terjadi pada dia, Yohanes itu bukan urusanmu.
Tuhan  mengajak kita ikut Tuhan, tanpa ribet dan ribut dengan mau tahu apa yang terjadi pada panggilan, perutusan, dan apa yang akan rekan kita peroleh. Khas, spesial, unik, itu yang perlu kita kembangkan, sehingga kita bersyukur. Jika hanya memperhatikan orang lain saja, kita malah lupa untuk memberikan diri. Syukur menjadi barang yang langka dan susah kita hayati. BD.eLeSHa.

Jumat, 29 Mei 2020

Apakah Engkau Mengasihi-KU?


Jumat Pekan Paskah VII (P)
Kis. 25:13-21
Mzm. 103:1-2,11-12,19-20b
Yoh. 21:15-19




Kis. 25:13-21

25:13 Beberapa hari kemudian datanglah raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus.
25:14 Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada raja itu, katanya: "Di sini ada seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi.
25:15 Ketika aku berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu dan meminta supaya ia dihukum.
25:16 Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu.
25:17 Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan orang itu.
25:18 Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak mengajukan suatu tuduhan pun tentang perbuatan jahat seperti yang telah aku duga.
25:19 Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup.
25:20 Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi di situ.
25:21 Tetapi Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar."


Yoh. 21:15-19

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."


Apakah Engkau Mengasihi-KU?

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan pertanyaan Yesus kepada Petrus. Pertanyaan yang sama, identik, dan bisa pula kita tanyakan pada diri sendiri ketika kita abai akan sikap kasih. Benar pernyataan pada Petrus ini kasih yang ditujukan kepada  Tuhan, namun bisa pula  kita kembangkan pada relasi kita pada sesama, pada alam, dan jelas terutama kepada Allah.
Pertanyaan yang membuat Petrus karena diulang hingga tiga kali. Tuhan semata meyakinkan, bagaimana sikap Petrus itu dihayati. Tuhan juga tahu pada akhirnya seperti apa Petrus itu akan mengasihi-Nya. Menyangkal sama dengan pertanyaan kali ini, hingga tiga kali, dan mati di salib dengan  terbalik karena merasa tidak pantas dihukum sama dengan Tuhan. Sesal yang purna ala Petrus.
Yesus memperlihatkan relasi kuasa, lihat bagaimana biasanya kita, yang muda-mudi biasa menyatakan cinta pada lawan jenisnya, dan ujungnya adalah diterima atau ditolak. Yesus berbeda, IA mempertanyakan bagaimana, apakah Petrus mengasihi-Nya, bukan menyatakan kasih dari-Nya. Kuasa Yesus di depan Petrus. Petrus yang harus memilih bukan malah Yesus yang memilih.  Ungkapan Petrus bahwa ia mengasihi Yesus itu sebuah pengakuan publik, syahadat, dan keyakinan iman yang diungkapkan.
Kita tahu bagaimana Petrus dalam kisah Salib. Ia selalu hadir secara fisik, namun secara kejiwaan, psikologis, dan iman ia malah berbeda. Penyangkalan yang sangat berat. Tiga kali itu tidak main-main. Toh Tuhan tetap berkenan untuk selalu memakainya. Ia bahkan menjadi dasar atas Gereja. Petrus si batu karang di mana Gereja dibangun. Pondasi itu bukan sembarangan.  Tuhan memilih orang biasa, orang lemah, dan bahkan orang yang jauh dari sempurna. Itulah pilihan dan panggilan Tuhan.
Tuhan memanggil kita di dalam kerapuhan kita, Tuhan menjadikan kita apa saja, bukan karena kemampuan kita semata, namun bagaimana kita mau menjadi agen Tuhan. Utusan Tuhan yang setia menjalankan perutusan, bukan malah tebar pesona dan mewartakan diri sendiri.
Saudara terkasih, perutusan kita di tengah dunia untuk mewartakan kasih. Kasih kepada siapa saja. Selama di dalam komunitas kasih, kita mampu menjalani tugas itu dengan suka cita. BD. eLeSHa.

Kamis, 28 Mei 2020

Damai dan Rukunlah Satu Sama Lain


Kamis Pekan Paskah VII (P)
Kis. 22:30-23:6-11
Mzm. 16:1-2a,5,7,8,9-10,11
Yoh. 17:20-26



Kis. 22:30-23:6-11

22:30 Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka.
23:6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."
23:7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu.
23:8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.
23:9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya."
23:10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.
23:11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.


Yoh. 17:20-26

17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;
17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.



Damai dan Rukunlah Satu Sama Lain

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan bagaimana Yesus memberikan wejangan, nasihat, dan pesan pada akhir-akhir hidup-Nya di tengah dunia. Nasihat sederhana, untuk saling rukun dan damau satu sama lain. Sederhana, namun sangat dalam maknanya, dan susah minta ampun. Aneka sebab, motivasi, dan masalah bisa membuat tidak akur.
Tidak usah jauh-jauh, dalam keluarga saja, bagaimana susahnya untuk sekadar rukun, rebutan remote televisi saja anak kembar bisa berkelahi. Itu hal yang sangat sepele, besar sedikit meminta uang kurang, ngambeg, ngamuk. Istri pada suami atau sebaliknya, jadi ajang untuk berselisih lebih gede. Apakah itu kurang kasih? Iya. Sesederhana itu.
Godaan dunia dengan aneka bentuknya memang sangat mudah terjadi. Era internet, orang bersebelahan, bahkan berpelukan saja sangat mungkin sedang menjalin kasih dengan yang lain. tembok sudah tidak lagi berarti. Dulu, orang berselingkuh itu melompati jendela, lha kini semua terkunci pun sangat mungkin dengan adanya video call, yang sangat murah itu.
Tatanan baru terjadi, perubahan demikian drastis, deras, dan masif di sana-sini, tuntutan moral makin tergerus, kemudahan dunia membuat orang abai akan peran Yang Kuasa. Internet seolah menjadi jagoan, buat apa Tuhan yang tidak kelihatan. Jangan salah memahami bahkan orang religius pun bisa jatuh pada kredo demikian. Tentu dalam  konteks tidak langsung.
Orang bisa sangat santun di depan, namun ketika bermain medsos belum tentu tampil dengan aslinya. Nah ini masalah. Otentifikasi yang bisa membuat orang salah  tafsir, salah paham, dan salah terima. Kondisi yang hanya karena kemajuan zaman itu menjadi semakin gede. Mau damai bagaimana ketika merasa tertipu profil, tertipu tayangan. Padahal sejatinya pun tidak hendak menipu. Serba salah.
Saudara terkasih, ketika kita mampu menjadi diri sendiri, konsisten, dan tidak memaksakan kehendak, rukun dan damai itu bisa terlaksana. Minimal mulai dengan diri sendiri, tebarkan kebaikan, dan tidak perlu menuntut orang untuk memberikan yang sama. Mengapa? Kemampuan, pengalaman, dan pemahaman sangat mungkin berbeda. BD.eLeSHa.