Rabu, 22 April 2020

Iman, Pengharapan, dan Keselamatan


Rabu Pekan Paskah II (P)

Kis. 5:17-26
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9
Yoh. 3: 16-21




Kis. 5:17-26

5:17 Akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati.
5:18 Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara kota.
5:19 Tetapi waktu malam seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya:
5:20 "Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak."
5:21 Mereka mentaati pesan itu, dan menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara.
5:22 Tetapi ketika pejabat-pejabat datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan,
5:23 katanya: "Kami mendapati penjara terkunci dengan sangat rapinya dan semua pengawal ada di tempatnya di muka pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun yang kami temukan di dalamnya."
5:24 Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka cemas dan bertanya apa yang telah terjadi dengan rasul-rasul itu.
5:25 Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak."
5:26 Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka


Yoh. 3: 16-21

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."



Iman, Pengharapan, dan Keselamatan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai harapan dan iman yang menyelamatkan. Bacaan Injil dengan jelas, lugas, dan terang-terangan memberikan gambaran itu. Orang dan  kesukaan akan dunia berhadapan dengan anak-anak terang yang tidak memilih godaan dunia ini. penjelasan yang gamblang bahwa perilaku, bukan mengenai dunianya ini.
Manusia hidup di dalam dunia. Ini adalah fakta. Tidak bisa disangkal, mau membiara, berkeluarga, ataupun pilihan apapun. Tetap  di dunia ini, tidak bisa disangkal. Godaan demikian besar dan banyak. Kekayaan, nama besar, ataupun kekuasaan. Ingat bukan harta, jabatan, atau namanya yang buruk atau Tuhan tidak berkenan, namun sikap kita atas itu semua.
Baru-baru ini terdengar, ada ibu yang meninggal karena kelaparan. Sekitar kita, lingkungan kita, itu ada pula yang menderita. Jika kita memiliki kelebihan, minimal pun masih bisa makan, mengapa tidak berbagi? Masalah adalah pada sikap kita pada harta, pada kekayaan, pada kepemilikan yang enggan untuk mau berbagi.
Jabatan pun demikian, Tuhan tidak mempermasalahkan kedudukan seseorang. Bagaimana mereka mendapatkan kedudukan dengan cara-cara baik, atau tidak. Ketika menjabat demi kesejahteraan, kebaikan, atau malah demi kepentingan sendiri. Tuhan mengritisi ketidakbaikannya, bukan soal kedudukan, jabatan, atau kepemilikannya. Pejabat dan kekuasaan yang dipakai untuk menyejahterakan rakyat.  Berorientasi untuk membangun, jelas akan mendapatkan pujian dari Tuhan.
Nama baik dan nama besar pun senada. Orang yang memiliki nama tidak masalah asal diperoleh dengan prestasi. Mempergunakannya nama besar untuk kebaikan bersama. Di sinilah peran motivasi dan hasil baik demi kebaikan yang lebih besar lagi.
Saudara terkasih, iman itu pengharapan. Bisa ada kebaikan, bukan malah kecemasan, ketakutan, dan pesimisme. Hal yang berasal dari si jahat, bukan dari Terang. Iman itu menenteramkan, membahagiakan, dan memberikan pengharapan. Jika tidak, berarti ada yang tidak pas pada pemahaman dan pengahayatannya.
Iman yang dewasa akan memerdekakan, mendewasakan, dan cirinya adalah memberikan pengharapan. Kemerdekaan diri yang membantu untuk bisa berbuat kebaikan, menebarkan kasih dan damai sejahtera di dalam hidup bersama.BD.eLeSHa.

Selasa, 21 April 2020

Menuju Kesejatian Hidup


Selasa Paskah Pekan II (P)
Kis. 4:32-37
Mzm. 93:1ab,1c-2,5
Yoh. 3:7-15




Kis. 4:32-37

4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul


Yoh. 3:7-15

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
3:13 Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal



Menuju Kesejatian Hidup

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana panggilan Nikodemus menuju kepada kesejatian hidup. kedatangannya kepada Yesus mengubah hidupnya. Ia guru bangsa Yahudi. Konteks waktu itu, guru adalah pusat dari pengetahuan. Mereka memegang peran penting mengenai pengetahuan dan juga agama. Di tangan merekalah masa depan bangsa Israel akan seperti apa.
Nikodemus tahu diri, tahu batas, bahwa ia bukan siapa-siapa, ketika berhadapan dengan Yesus. Ia datang untuk menggali makna hidup yang lebih bermakna. Pernyataan dan pengajaran Yesus untuk terlahir kembali ternyata tidak dipahami dengan mudah dan baik oleh seorang guru sekalipun. Keberadaannya masih tertutup kabut alam kegelapan. Tugas Yesuslah membawa terang, IA Sang Terang Sejati.
Simbolisasi bahwa tidak ada yang mampu memahami kedatangan Yesus, bahwa guru sekalipun. Ketika guru saja tidak bisa melihat itu bagaimana dengan muridnya, sesederhana itu. Guru yang  memperbaiki pengetahuannya, sudut pandangnya, dan imannya tentu jauh lebih berdampak bagi seluruh kota, kawasan, dan bangsa. Peran mereka signifikan di dalam memberikan pengajaran dan perubahan.
Kedudukan Yesus jauh lebih tinggi dari sekadar guru, IA adalah Guru Agung, ketika seorang guru belajar kepada-Nya. Pengajaran-Nya lebih dari pengajaran guru-guru yang ada selama ini. mengapa datang kepada guru atau Guru? Kita datang kepada guru untuk mendapatkan pengajaran. Pelajaran mengenai kesejatian hidup.
Saudara terkasih kita dalam hidup sehari-hari sering galau, cemas, takut, atau gelisah mengenai dunia ini. Hari-hari ini kita cemas dengan pandemi corona. Seluruh energi habis untuk berdebat mengenai virus ini. Habis energi dan waktu hanya untuk cemas, takut, dan berpolemik antara takut atau optimis. Padahal sangat logis, bisa dinalar, dan bisa dipikirkan ada yang bisa kita lakukan dengan bijaksana.
Melakukan hal-hal yang berdasar nalar, ikuti petunjuk yang berwenang dengan patuh, menebarkan sikap optimis dan memiliki dasar, itu bahasa-bahasa Ilahiah. Berbeda dengan sikap cemas, takut, dan malah menjadi provokator adalah bahasa dunia dan kegelapan.
Tuhan mengajak kita menghayati hidup yang sejati. Kesejatian diperoleh dengan sebuah upaya dan perjuangan terus menerus dengan tidak mengenal lelah. Jalan Tuhan yang utama, di dalam DIA-lah semuanya kebenaran. Hal-hal buruk berasal dari dunia dan pengaruh si jahat. BD.eLeSHa.

Senin, 20 April 2020

Menuju kepada Terang


Senin Pekan Paskah II (P)
Kis. 4:23-31
Mzm. 2:1-3,4-6,7-9,
Yoh. 3:1-8



Kis. 4:23-31

4:23 Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
4:24 Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
4:25 Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
4:26 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
4:27 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
4:28 untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
4:29 Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
4:30 Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani


Yoh. 3:1-8

3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."


Menuju kepada Terang

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda-Nya mengenai kelahiran baru. Belajar dari Nikodemus, seorang tokoh Yahudi, terpelajar, dan juga pribadi beriman mendalam dalam tradisi dan agama Yahudi. Ia mau datang kepada Yesus untuk belajar kembali. Ada hal yang sangat indah sebagai simbol, ia datang pada malam hari. Konteks waktu tentu ini gelap, agar tidak banyak orang tahu.
Spiritual hendak memberikan bagaimana kekegelapan datang kepada Terang. Si penghuni kegelapan memerlukan Terang dalam hidupnya. Nikodemus bukan orang biasa. Mau datang, berarti ada yang lebih luar biasa lagi. Kedatangan kepada Yang Maha, karena ia juga tidak sembarangan. Point penting bagi hidup beriman.
Kelahiran kembali. Pembicaraan yang membuat kedua pihak, Terang dan gelap menemukan titik temu. Lagi-lagi hal luar biasa yang diperlihatkan oleh kedua tokoh kita, terutama Yesus. Nikodemus tentu saja bingung, bagaimana ia orang tua bisa lahir kembali. Pandangan masa lalu, orang lama, dan konsep diri sebagai mana lahiriahnya sendiri.
Yesus membawa Nikodemus kepada pribadi baru, kelahiran dalam Roh,  pembaptisan untuk menjadi pribadi baru. Anak-anak Allah yang sudah menerima kasih karunia sebagai pribadi baru. Lahir sebagai pribadi yang berbeda karena martabat Illahiah di dalam hidupnya. Kemarin, Yesus mengembuskan Roh Kudus bagi para murid. Hal yang sama sebagai bahan pembicaraan dan pengajaran bagi Nikodemus.
Saudara terkasih, kita  sebagai anak-anak Allah, anak-anak Gereja mengalami dua kali kelahiran. Terlahir dari ibu kita masing-masing secara biologis, medis, itu berkaitan dengan darah dan silsilah duniawi. Kelahiran badan fisik kita. Kita juga terlahir dari Bunda Gereja, ketika kita masuk sebagai anggota jemaat Allah dalam Gereja, pembaptisan dan adanya nama baru di depan nama kita.
Apakah hanya cukup adanya nama dengan penuangan air hidup kita sudah bermakna? Tentu tidak cukup demikian. Ada hal yang  lebih dalam lagi dari itu semua. Bagaimana kita menjadi utusan-utusan Tuhan Allah yang mampu mengemban amanat. Kita diutus untuk membawa damai sejahtera. Dapat kita cek, apakah sudah mampu demikian, atau malah sebaliknya. Jika hidup kita tidak lebih baik dari yang lama atau orang lain yang tidak mengenal Yesus, ya buat apa? Standart tinggi menjadi anak-anak Allah, bukan biasa-biasa saja. Sedikit-sedikit ngamuk, menyalahkan sana-sini, merasa paling benar, baik, dan suci, lha sama juga masih dalam kegelapan. BD.eLeSHa.

Minggu, 19 April 2020

Kerahiman Illahi dan Membawa Damai Sejahtera


MINGGU PASKAH II (P)
Kis. 2:42-47
Mzm. 118:2-4,13-15,22,24
1 Pet. 1:3-9
Yoh. 20:19-31



Kis. 2:42-47

2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.
.

1 Pet. 1:3-9

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Yoh. 20:19-31

20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya



Kerahiman Illahi dan Membawa Damai Sejahtera

Saudara terkasih hari ini kita merenungan sabda Tuhan mengenai sikap iman. Ada dua hal penting yang perlu kita renungkan lebih dalam. Sikap Tomas dan  iman itu membawa damai sejahtera. Kedua hal yang mendasar dan sangat penting untuk kita pahami, hayati, dan lakukan dalam hidup bersama di tengah-tengah dunia ini.
Iman dan cara percaya Tomas itu satu sisi penting. Ia memerlukan bukti, fakta, dan melihat serta merasakan sendiri. Panca indera menjadi penting bagi Tomas. Apakah ini menandakan lemah iman? Bisa iya, bisa juga tidak. Toh Tomas langsung menyatakan, ya Tuhan dan Allahku, begitu melihat Tuhan Yesus. Dia tidak buruk dalam beriman, namun caranya, sikapnya yang mengandalkan bukti yang ia pahami dengan inderanya saja yang kadang sangat menyulitkan.
Bisa kita bayangkan jika hal demikian terjadi pada orang-orang zaman ini, tidak akan selesai dan sampai kepada Tuhan. Tidak semua hal dapat kita buktikan dengan indera kita. Coba jika lewat jembatan, kita perlu tahu dulu dengan mencobanya, padahal jelas-jelas pembuktian sudah dilakukan orang lain. Kepercayaan  bisa menjadi jembatan untuk mengatasi itu. Belanja online bisa menjadi contoh sikap percaya. Beriman apalagi dengan jarak ruang dan waktu sikap percaya ini menjadi penting.
Damai sejahtera, Yesus menyatakan itu, bahkan sampai dua kali. Ini adalah tugas orang beriman. Bagaimana damai dan sejahtera itu menjadi bagian utuh bagi orang beriman. Keadaan hati yang damai dan sejahtera itu pun bukan monopoli sendiri, harus dibagikan, dan menjadi milik semua makhluk.  Sikap ini juga penting, karena dalam hidup bersama sering sikap egois, fanatis sempit menjadi sebuah kebanggaan. Klaim memiliki dan milik Tuhan dan yang berbeda tidak menjadi milik dan tidak memiliki Tuhan.
Dalam hidup bersama kita juga sering jatuh dalam keyakinan Tuhan itu pemarah, sangat menakutkan, dan bukan memberikan damai. Konsep memang Tuhan Pengasih, namun dalam pengajaran, hidup bersama malah memberikan gambaran Tuhan itu berlawanan dengan apa yang seharusnya.
Saudara terkasih, perutusan kita adalah mewujudkan damai sejahtera di dunia ini dengan sepenuh daya dan upaya. Tantangan bahkan hambatan bisa dari mana saja. Termasuk diri yang gampang jatuh pada godaan. Tuhan Allah memberikan Roh Kudus yang akan menguatkan dan mendampingi terus menerus. BD.eLeSHa.


Sabtu, 18 April 2020

Nurani dan Rasio Penting bagi Iman dan Perutusan


SABTU DALAM OKTAF PASKAH (P)
Kis. 4:13-21
Mzm. 118:1,14-15ab, 16a, 18,19-21
Mrk. 16:9-15




Kis. 4:13-21

4:13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.
4:14 Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya.
4:15 Dan setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka,
4:16 dan berkata: "Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya.
4:17 Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama itu."
4:18 Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus.
4:19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.
4:20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar."
4:21 Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi.


Mrk. 16:9-15

16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
16:10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
16:11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
16:12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
16:13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.
16:14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk



Nurani dan Rasio Penting bagi Iman dan Perutusan

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sabda Tuhan mengenai perutusan dan keterbukaan budi dan hati para murid. Secara psikologis, kita paham. Bagaimana perempuan mengedepankan sisi perasaan. Ranah hati yang lebih dulu mengenali Yesus. Bagaimana Maria Magdalena lebih dulu mengerti siapa Yesus. Lihat Petrus dan para murid laki-laki masih belum bisa paham.
Laki-laki memerlukan data, fakta, dan bukti yang bisa dirasionalkan. Iman memerlukan itu memang agar orang tidak jatuh pada sisi yang membuat kita fanatis buta yang tidak  bermanfaat. Pada sisi lain, orang bisa juga jatuh untuk memandang agama, iman, orang lain sangat rendah. Mencari-cari keunggulan sendiri namun dalam sisi yang bersamaan dengan merendahkan kepercayaan lain.
Sisi rasional membantu orang beriman dengan dewasa, meskipun ranah rasa juga penting, sehingga orang bisa mendengar, mengenal, dan mengerti rancangan dan rencana Tuhan. Keseimbangan antara rasa dan rasio menjadi penting. Keberadaan keduanya membantu pemahaman agama dan beriman yang sangat humanis sekaligus religius. Penting karena ada korelasi pada kemanusiaan dan Ketuhanan.
Salib itu ada horisontal dan sekaligus juga vertikal. Keduanya memerlukan perhatian yang sama. Bagaimana kemanusiaan tidak bisa meninggalkan Ketuhanan. Mengupayakan yang Ilahiah tanpa bisa juga mengabiakan kemanusiaan. Keduanya berjalan seiring sejalan dan sama-sama terlaksana. Hidup di dunia dan dari dunia, bukan malah terbalik-balik. Hidup di dunia menyingkirkan dunia, dan surga juga malah lepas.
Saudara terkasih, Tuhan mempersiapkan para rasul dengan penuh pertimbangan serta mendalam. IA berkali ulang datang dan memperkenalkan diri lagi dan lagi. Para murid sampai benar-benar paham, bukan hanya satu atau dua kali. Berkali-kali, bahkan jauh sebelum kebangkitan pun pengajaran untuk memperkenalkan diri-Nya Tuhan melakukannya dengan sangat sederhana dan mengulang-ulang agar paham.
Perutusan untuk pergi ke seluruh dunia, setelah para murid paham dengan baik. Persiapan matang untuk tugas yang tidak ringan. Mewartakan karya kasih karunia Allah ke seluruh dunia. Bayangkan jika mereka sendiri masih nunak nunuk, tidak paham, salah paham, apalagi paham salah, bisa berabe.
Biarkanlah Allah dan Roh Kudus menuntun melalui nurani dan juga intelektualmu dalam seluruh karya dan perutusanmu apapun itu. Bersama  Tuhan semuanya menjadi sangat mungkin. BD.eLeSHa.

Jumat, 17 April 2020

Dengarlah Tuhan!


JUMAT DALAM OKTAF PASKAH (P)
Kis. 4:1-12
Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27
Yoh. 21:1-14




Kis. 4:1-12

4:1 Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki.
4:2 Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.
4:3 Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam.
4:4 Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.
4:5 Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem
4:6 dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.
4:7 Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?"
4:8 Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,
4:9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan,
4:10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati -- bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.
4:11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan -- yaitu kamu sendiri --, namun ia telah menjadi batu penjuru.
4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."


Yoh. 21:1-14

21:1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
21:5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.



Dengarlah Tuhan!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar dan merenungkan bagaimana perutusan kita perlu sikap mau belajar, berubah, dan berbenah. Saatnya pengenalan Tuhan ternyata masih belum sepenuhnya terjadi. Para murid masih perlu waktu dan pengajaran. Satu dua sudah lebih maju, sebagaimana bacaan hari ini. Toh  masih dominan yang belum paham.
Petrus sebagai pemimpin, paling senior, dan konteks pemuridan Yesus, Petrus adalah penerus tugas dari Yesus. Pemilihan Yesus ternyata tidak serta merta membuatnya lebih dari rekan-rekannya. Sama saja, dan malah rekannya lebih dulu mengenal Yesus. Ada Maria Magdalena seperti bacaan Paskah pagi, atau hari ini Yohanes. Toh tidak mengurangi  tugas mahaberat Petrus.
Tuhan tidak membatalkan pilihan dan panggilan untuk Petrus. Mereka yang galau kembali ke masa lalu. Pekerjaan harian sebagai nelayan. Mereka masih menggunakan teknik lama, di mana mereka sudah tinggalkan sekitar tiga tahun. Kebiasaan yang sudah tidak lagi mereka akrabi. Semalaman tanpa hasil. Mereka telah gagal kembali kepada kebiasaan bahkan profesi mereka.
Kedatangan Tuhan mengubah keadaan. Menebarkan jala pada sisi yang berbeda dan mereka mendapatkan panenan yang melimpah,  tanpa koyak dengan ikan yang melimpah. Gambaran kemauan mendengarkan Tuhan. Melakukan inovasi, dan berubah  untuk menuju kepada kebaikan. Perlu kehendak baik untuk berubah, memperbaiki diri, dan mendengarkan kehendak Tuhan dalam hidup setiap saat.
Saudara terkasih, dalam kehidupan kita, kehendak Tuhan harus memperoleh prioritas. Jangan sampai malah kita hanya mengandalkan diri sendiri dengan rancangan kita. Penting kita memiliki rencana, namun jangan lupa selaraskan dengan jalan dan kehendak Tuhan. Selaras dengan jalan Tuhan itu akan menyenangkan, mudah, dan memiliki suka cita.
Menyelaraskan kehendak Tuhan, berarti kita siap untuk diubah, mau berbenah dan memperbaiki diri, kadang juga bisa berbalik arah. Kita hanya menjalankan perutusan kita di dalam kehendak Tuhan. Itu yang menjadi pedoman dan dasar hidup kita. Tanpa melakukan kehendak Tuhan hidup kita akan berat. Padahal kita kemarin diutus untuk mewartakan harapan dalam suka cita.
Kebahagiaan yang terpancar dalam suka cita adalah lambang kehadiran Tuhan. Hidup dalam sungut-sungut dan  keluh kesah, bisa diartikan, dalam pengaruh si jahat. BD.eLeSHa.

Kamis, 16 April 2020

Kenali dan Jadi Saksi dengan Harapan dan Suka Cita


KAMIS DALAM OKTAF PASKAH (P)
Kis. 3:11-26
Mzm. 8:2,5,6-7,8-9
Luk. 24:35-48



Kis. 3:11-26

3:11 Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo.
3:12 Petrus melihat orang banyak itu lalu berkata: "Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?
3:13 Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan.
3:14 Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.
3:15 Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.
3:16 Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.
3:17 Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.
3:18 Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.
3:19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,
3:20 agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.
3:21 Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.
3:22 Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu.
3:23 Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita.
3:24 Dan semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini.
3:25 Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.
3:26 Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu."


Luk. 24:35-48

24:35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"
24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.



Kenali dan Jadi Saksi dengan Harapan dan Suka Cita

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar dan merenungkan firman-Nya mengenai pengenalan Allah dan tugas perutusan atas kebangkitan. Lagi dan lagi pemahaman para murid terkacaukan. Rasio mereka yang  ketakutan dan cemas membuat mereka tidak mengenali Yesus. Upaya Yesus terus menerus memperkenalkan diri masih saja gagal. Mereka malah menaggap Yesus sebagai hantu. Hantu dan Tuhan memang mirip.
Tuhan hadir mereka masih tidak percaya, tidak mau tahu, dan akhirnya Yesus meminta ikan asin. Pembuktian mentok ketika hantu jelas tidak makan, apalagi ikan asin. Ternyata selera humor Tuhan tinggi juga. Bayangkan jika  pemarah, murid-murid akan dikemplang mungkin. Pembuktian menggunakan bahasa dan kebiasaan manusia.
Pengenalan Tuhan itu bukan hanya satu kali lho. Berkali ulang, demi memenuhi hasrah bebal manusiawi kita. Pun dengan keberadaan kita, jatuh bangun dalam dosa dan kelemahan yang sama. Mengaku beriman namun mudah putus asa. Merasa Tuhan tidak hadir ketika mengalami duka. Padahal ketika suka lupa ada Tuhan. Pernahkah Tuhan marah?
Usai pengenalan diri dengan susah payah dan murid paham siapa yang di depan mereka, Tuhan memberikan tugas perutusan. Mereka diminta untuk  menjadi saksi kebangkitan. Mereka yang tahu dengan mata kepala itu adalah saksi hidup. Tuhan hadir tahap demi tahap. Bahasa manusia, pengetahuan dan kesadaran manusia, bukan dengan cara Allah yang jelas manusia akan kesulitan.
Saudara terkasih, tugas kesaksian itu adalah harapan dan suka cita. Dalam masa pandemi ini banyak narasi pesimis, kecemasan berlebihan yang sering tidak berdasar, politis yang haus kekuasaan. Ekonomi yang digambarkan begitu suram. Relasi manusiawi yang dirusak. Toh sejatinya banyak hal baik, orang menjadi lebih peduli kesehatan. Mau cuci tangan dengan lebih baik, padahal biasanya sangat abai. Mau berolah raga karena terpaksa untuk mengisi waktu. Hal-hal positif yang biasanya jauh dari kebiasaan.
Kesaksian itu  perlu diwujudkan dalam hidup yang penuh suka cita. Bayangkan anak-anak Tuhan namun hanya cemberut, menekuk muka, bagaimana bisa bersaksi mengenai kasih, karunia, dan harapan. Wajah dan bahasa tubuh juga harus selaras dan mempertunjukkan optimisme yang diperlihatkan dengan suka cita. BD.eLeSHa.