Jumat, 21 Februari 2020

Alter Kristus, Menyangkal Diri, Melepaskan dan Memanggul Salib


Jumat Pekan  Biasa VI (H)
Yak. 2:14-24
Mzm. 112:1-2,3-4,5-6
Mrk. 8:34-9:1




Yak. 2:14-24

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."
2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman


Mrk. 8:34-9:1

8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."
9:1 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa."



Alter Kristus, Menyangkal Diri, Melepaskan dan  Memanggul Salib

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai mengikuti-Nya. Alter Kristus menjadi sebuah penggambaran yang lebih sederhana. Di mana  kita diajak untuk menjadi seperti Kriistus di dalam hidup harian kita. Di tengah dunia yang ternyata kadang harus berseberangan dengan apa yang Tuhan kehendaki.
Harapan pertama. Menyangkal diri, bagaimana kita yang biasa hidup di tengah dunia dengan keyakinan viral, popularitas, dan kadang berpamrih itu diajak untuk melepaskan itu semua. Dunia yang diwarnai dengan perlombaan untuk bisa menjadi terbaik, oleh Tuhan diajak untuk menjadi pribadi yang tidak perlu menonjol. Ketika banyak pihak berlomba menjadi yang terdepan, berani tidak untuk menjadi pribadi di balik layar.
Dunia menjadikan orang untuk mengumpulkan dan menimbun. Tuhan mengajari kita untuk berbagi. Tidak ada gunanya memiliki segala sesuatu namun kehilangan nyawa dan keselamatan. Konteks yang dinyatakan adalah, bahwa kita diajak untuk memikirkan kebutuhan orang lain pula. Tidak hanya mengumpulkan dan kadang di dalam prosesnya malah merugikan pihak lain.
Berbagi itu sebagai bentuk pertanggungjawaban karena sudah mendapatkan kebaikan Tuhan terlebih dahulu. Kesempatan untuk memperlengkapi kekurangan orang lain. memberi juga terbuka untuk menerima. Tahu diri.
Memanggul salib. Menanggung segala kesulitan di dalam suka cita dan rendah hati melihat sebagai rencana Tuhan. Kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Apa yang perlu dilakukan adalah memanggul salib, kesulitan itu dengan kesadaran, itu ada kehendak Tuhan di sana. Tidak perlu mengeluh, menyatakan kekecewaaan dan keresahan dengan berlebihan.
Memangggul salib juga menunjukkan keberanian bersengsara bersama Tuhan yang juga menderita sengsara. Memanggul salib dengan setia. Keberanian malu dan menderita di hadapan dunia. Salib bukan  semata liontin yang indah dan mahal itu. Atau nisan di makam. Salib adalah piihan hidup yang tidak mudah, namun harus dijalani dengan kesetiaan.
Saudara terkasih, menjadi pribadi yang sekaligus alter Kristus jelas tidak mudah. Perjuangan terus menerus untuk tetap sadar bahwa ini adalah konsekuensi pilihan atas iman kepada Yesus. Hal-hhal yang tidak mudah, berat, dan sangat  berbeda dengan dunia perlu untuk dijalani dengan rendah hati, setia, dan penuh suka cita. BD.eLeSHa.

Kamis, 20 Februari 2020

Siapakah Yesus bagimu?


Kamis Pekan Biasa VI (H)
Yak. 2:1-9
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7
Mrk. 8:27-33



Yak. 2:1-9

2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?
2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?
2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?
2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik.
2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.


Mrk. 8:27-33

8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.


Siapakah Yesus bagimu?

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai siapa diri Yesus itu menurut para murid. Sangat mungkin juga kita terapkan pertanyaan itu untuk kita. Siapakah Yesus itu menurutku pribadi. Pertanyaan secara personal, privat, dan kita masing-masing. Dalam bacaan Injil kita menemukan banyak jawaban.
Ada yang mengenal sebagai Elia, sebagai nabi yang lalu, atau yang lainnya. Pengenalan ini berkaitan dengan beberapa hal,
Masa lalu dan pengalaman, bagaimana masa lalu seseorang dapat membentuk pola dan pengenalan seseorang. Orang yang dididik dengan kekerasan cenderung akan melakukan kekekaran pula jika menghadapi masalah.
Demikian pun dengan pengenalan akan Allah. Sebagian orang mengenal Tuhan sebagai pemarah, penuntut balas, dan pendendam. Itu karena pengalaman dan masa lalu mereka terbentuk dalam emosi demikian. Suka mendapatkan tuntutan, didikan dendam, dan sejenisnya.
Pengetahuan dan didikan. Bagaimana pengetahuan mengenai Allah yang mereka pelajari. Pendidikan pengetahuan akan Tuhan yang seperti apa yang mereka ajarkan dan terima. Bagaimana  bisa orang mengenal Tuhan Mahakasih kalau pengajaran mereka menekankan Tuhan yang pendendam dan pemarah.
Relasi personal dengan Tuhan. Ini ranah rasa, ranah jiwa, bagian hati yang mengenal Tuhan sebagaimana pengenalan diri. Ini menyangkut relasi yang mendalam antara diri dengan Penciptanya. Relasi yang dibangun dengan baik dan mendalam akan memberikan pengenalan dengan baik pula. Berbeda dengan yang tidak menjalin relasi dan komunikasi.
Pengenalan ini juga berkembang. Mulai dari pengenalan karena pengetahuan, kata orang, guru, katekis, imam, atau siapapun dari luar. Perkembangan membaik, ketika pribadi itu bisa mengatakan mengenal, mengakui Tuhan itu karena penemuan diri sendiri. Tidak ikut kata orang, bisa mempertahankan apa yang ia nyatakan itu.  Bagaimana pengenalan itu juga berkembang, bukan semata sama saja.
Sauadara  terkasih, Petrus sebagai typologi, gambaran, dan wakil dari  para murid bisa sampai mengenal Tuhan sebagai Mesias Putera Allah. Sampaikah kita ke sana? Mengenal Yesus sebagai Juru Selamat utusan Allah karena kasih-Nya yang besar? Atau sepanjang pelajaran kita semata?
Kita layak belajar dan terus menggali pengalaman spiritual, sehingga mampu mengenal Yesus sebagai Mesias Putera Allah. Roh Kudus akan membantu kita, menolong kita, dan memampukan kita mengenal siapa Yesus dengan tepat.  Bd.eLeSHa.

Rabu, 19 Februari 2020

Semua Ada Proses dan Caranya


Rabu Pekan Biasa VI (H)
Yak. 1:19-27
Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5
Mrk. 8:22-26



Yak. 1:19-27

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.


Mrk. 8:22-26

8:22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia.
8:23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?"
8:24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon."
8:25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
8:26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!



Semua Ada Proses dan Caranya

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai karya Tuhan itu melalui proses dan istimewa orang per orang. Dalam  bacaan Injil digambarkan bagaimana Tuhan menyembuhkan si buta dengan dua kali tindakan. Pertama kali si buta masih kabur penglihatannya, dan disembuhkan secara total kemudian. Ada dialog untuk itu.
Dalam kisah dan kejadian lain Yesus sering hanya berkata semata, dan sembuh. Ada pula yang secara jarak jauh, sembuh, bahkan hidup lagi. Ada pula yang harus meminta bantu, ada pula yang ditolak dengan cukup kasar. Toh semuanya tetap saja sembuh. Ada proses. Dan proses itu berbeda satu sama lain.
Proses itu tidak bisa dihilangkan. Tuhan pernah menyembuhkan hanya dengan kata-kata,lain waktu dengan meludah dan membuat semacam ramuan. Waktu yang berbeda menyentuh, dan ada pula seorang perempuan hanya menyentuh ujung jubah-Nya. Yesus tidak melakukan apapun. Proses itu toh tetap ada, lisan ataupun dengan tindakan.
Dialog, permohonan, dan juga ujian sangat mungkin terjadi. Hal-hal yang  logis, sederhana, dan pastinya demikian pun dalam hidup harian kita. Bagaimana Tuhan mengajak kita untuk berdoa, memohon, dan menyatakan keinginan kita. Hal yang sangat wajar, kita diajak untuk menyatakan keinginan kita. Kadang lama baru terujud, ada pula yang tidak pernah terwujud. Terkadang kita tidak meminta malah datang sendiri.
Sikap batin, kita perlu sadar dan mengerti bagaimana di hadapan Tuhan. Apakah malah mengatur Tuhan bukannya berserah diri. Dengan pongah atau rendah hati tahu batas sebagai ciptaan di depan Pencipta? Hal demikian yang sering menjadi masalah dan tanpa kita sadari. Apalagi dalam era modern yang sering mengedepankan kecepatan. Tuhan pun diajak berpacu.
Tidak jarang kita juga terjebak dengan model meremehkan, kan Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Benar bahwa Tuhan Allah tahu segalanya, jauh lebih paham malah. Kita manusia kan anak-anak Allah, layak dan pantas ketika kita juga berbincang, mengadakan wawanhati, mengeluh dan juga menyatakan apapun keadaan kita. Bukankah Tuhan juga bersabda dan mengundang untuk datang dan menyatakan apapun keadaan kita. Tuhan bahkan menjanjikan, kelegaan, dan sekaligus penghiburan. BD.eLeSHa.

Selasa, 18 Februari 2020

Ragi Kebaikan atau Keburukan?


Selasa Pekan Biasa VI (H)
Yak. 1:12-18
Mzm. 94;12-13a,14-15,18-19
Mrk. 8:14-21




Yak. 1:12-18

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
1:16 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!
1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.


Mrk. 8:14-21

8:14 Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.
8:15 Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes."
8:16 Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti."
8:17 Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?
8:18 Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,
8:19 pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul."
8:20 "Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul."
8:21 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"



Ragi Kebaikan atau Keburukan?

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja bersama merenungkan firman Tuhan mengenai ragi baik dan ragi buruk.  Ragi baik tentu yang membawa dampak positif dalam hidup bersama. Menjadi garam dan terang sebagaimana kita renungkan beberapa hari lalu. Namun ada pula ragi, hal yang memberikan dampak, namuk secara buruk. Ada dua yang Tuhan nyatakan yaitu ragi orang Farisi dan ragi Herodes.
Kita lihat kedua jenis ragi yang negatif tersebut. Pertama, ragi Farisi. Sifat orang Farisi itu legalis, sangat taat aturan Taurat  versi mereka. Hal ini kadang membuat ribet karena mereka sendiri tidak melakukan. Namun menuntut orang lain menjadi pelaku yang sangat taat. Sikap beda antara pernyataan dan perilaku. Ragi munafik. Di mana apa yang dituntutkan beda dengan yang dijalankan. Miris.
Ragi kedua, ragi haus kekuasaan ala Herodes. Herodes, hanya memikirkan kekuasaan. Mau  caranya bagaimana tidak peduli. Bersama dengan para penjilat, atau pelaku kejahatan lain tidak menjadi persoalan. Asal kekuasaan itu tetap padanya. Kekuasaan menjadi fokus bagi Herodes. Semua yang ada untuk mengamankan kekuasaannya.
Saudara terkasih, mungkin kita pun merasakan hal yang sama. Bagaimana dalam hidup bersama kita, menghadapi hal yang demikian. Ragi buruk di mana-mana. Sikap tidak sabaran dan menuntut orang lain mengerti khas Farisi sedang kita alami. Bagaimana orang teriak-teriak mengapa KWI diam soal pembangunan gereja. Kan masalah seperti ini tidak serta merta perlu dengan teriakan. Mengapa malah mengabaikan peran doa? Ini ragi yang buruk lebih berdaya guna.
Pun ragi kekuasaan ala Herodes. Bagaimana hal itu begitu banyak. Baik dalam dunia klerus atau awam, contoh dalam dewan paroki. Bagaimana mereka bekerja dan mempertahankan itu. Di mana-mana model demikian ada. Kekuasaan itu seolah milik dan perlu dipertahankan dengan sekuat tenaga. Tidak jarang dengan cara-cara yang tidak baik pula.
Saudara terkasih, dua hal itu penting untuk kita jadikan perhatian. Mengapa? Hidup kita tidak diperbudak oleh ragi si jahat. Biarkan Tuhan hadir dan memberikan kekuatan kepada kita bisa menjadi ragi yang baik. Bisa memberikan dampak positif dalam hidup bersama. BD.eLeSHa.


Senin, 17 Februari 2020

Jangan Hanya Berhenti pada Tanda Sampailah kepada Tuhan!



Senin Biasa Pekan VI (H)
Yak. 1:1-11
Mzm. 119:67,68,71,7275,76
Mrk. 8:11-13



Yak. 1:1-11

1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.
1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.


Mrk. 8:11-13

8:11 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.
8:12 Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."
8:13 Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang



Jangan Hanya Berhenti pada Tanda Sampailah kepada Tuhan!

Saudara terkasih, hari ini, kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai tanda. Bagaimana orang-orang meminta tanda dari Yesus. Sebenarnya bukan barang sulit bagi Yesus jika mau memberikan tanda yang mereka minta. Toh orang bisa disembuhkan, orang buta disembuhkan, dan juga memberikan makan bagi ribuan orang telah terjadi.
Persoalan sederhana, jika hanya membuat dan memberikan tanda. Namun jauh lebih dari itu adalah, bahwa Tuhan mengajak kita, termasuk para peminta tanda, untuk bisa melihat segala sesuatunya dengan hati nurani. Kepekaan budi, bukan semata meminta dan meminta saja. Mereka tahu dan paham sebenarnya, namun tidak mau tahu. Perbuatan besar apapun akan mereka tolak, karena mereka tidak suka.
Ada sikap iri dan tidak terima di sana. Juga Tuhan menghendaki para pendengarnya bukan semata tanda, namun bagaimana mereka juga bersyukur, memahami apa yang telah Tuhan perbuat sebelum-sebelumnya. Jangan naif dan menuntut tanpa mau melihat yang lainnya.
Saudara terkasih, kita sebagai sebuah bangsa juga sedang dihinggapi dengan kebanggaan akan tanda. Bagaimana simbol, label, dan tanda-tanda kadang mengalahkan esensi yang seharusnya dilakukan. Bagaimana mengenakan liontin salib, asesoris rosario dan salib dalam mobil, namun perilakunya jauh dari apa yang disematkan dan dikenakannya.
Beberapa waktu lalu, dalam waktu yang relatif bersamaan ada keluhan dari rekan media sosial. Bagaimana ada status, postingan, dan juga nasihat-nasihat suci ditebarkan oleh seorang rohaniwan, namun pada sisi lain, secara privat mereka juga melakukan yang sangat terlarang. Mirisnya ini ditanyakan oleh orang yang bukan beragama Katolik. Tanda yang dibagikan indah, bagus, saleh, dan suci, namun ternyata belum sepenuhnya dijalani dan dilakukan.
Kehendak Tuhan, rencananya bukan seperti itu. Bahwa mereka  sangat mungkin hanya berhenti di dalam mendapatkan tanda, bukan kepada pengenalan siapa Yesus itu. Apakah kita bangga dengan tanda dan asesoris semata? Atau sampai kepada Tuhan? BD.eLeSHa.

Minggu, 16 Februari 2020

Hiduplah di Dalam Tuhan, Katakan Ya jika Ya dan Tidak jika Memang Tidak


HARI MINGGU BIASA VI (H)
Sir. 15:15-20
Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34
1 Kor. 2:6-10
Mat. 5:17-37




Sir. 15:15-20

15:15 Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih.
15:16 Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu.
15:17 Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya.
15:18 Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan, Ia adalah kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya.
15:19 Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal.
15:20 Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.


1 Kor. 2:6-10

2:6 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.
2:7 Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.
2:8 Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.
2:9 Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah


Mat. 5:17-37

5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.



Hiduplah di Dalam Tuhan,
Katakan Ya jika Ya dan Tidak jika Memang Tidak

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan firman Tuhan bersama dengan  Bunda Gereja mengenai Hukum  Taurat. Bacaan yang cukup panjang, namun sangat tepat ketika kita berbicara juga di dalam hidup berbangsa. Dulu era Orba sangat ketat bahkan seolah indoktrinasi mengenai Pancasila. Hal yang baik sebagai pemersatu atas sekian banyak perbedaan.
Pancasila sebagai pemersatu tidak ada yang salah. Masalah ada pada Soeharto yang menggunakan Pancasila sebagai sebuah alat atau sarana untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Dengan menggunakan Pancasila sebagai cara untuk membungkam banyak hal. Cukup efektif ketika hantu komunis juga menyertai pelabelan yang demikian mengerikan. Pilihan politik yang penah ada. Dan itu nyata.
Hukum Taurat pun tidak ada yang salah. Apanya yang salah ketika orang dibina, dibimbing, dan diarahkan menuju kepada kebaikan.  Mosok yang membawa kepada kebaikan kog buruk, jelas tidak mungkin. Memang bahwa ahli Taurat dan kaum Farisi sering menggunakan Taurat  sebagai tameng di dalam memuluskan acara atau agenda mereka. Mereka menafsirkan Taurat secara berlebihan. Ini yang menjadi masalah.
Persoalan ada pada  pengguna hukum Taurat, bukan pada Tauratnya. Pun Pancasila tidak salah, yang keliru adalah yang menggunakan Pancasila sebagai alat politiknya. Agamapun demikian, kini sedang ramai masalah ini. Lagi-lagi bukan agamanya yang salah apalagi buruk, namun para pelaku atau orang beragamanya yang seenaknya memanfaatkan.
Salah satu kritik yang dilakukan Yesus adalah perilaku di dalam bersumpah. Orang melakukan apapun bersumpah, dan kadang untuk menyembunyikan kejahatannya. Pun hari-hari ini kita sebagai anak bangsa sedang demikian. Sumpah tidak lagi berharga. Perilaku munafik di mana-mana dan kadang mereka menguasai banyak lahan yang strategis. Tuhan mengajak kita mengatakan ya jika memang ya dan tidak jika memang tidak.
Saudara terkasih, Tuhan Yesus tidak mempersoalkan mengenai Tauratnya dengan segala hukumnya. Namun bagaimana perilaku para pengguna Taurat yang seenaknya dengan hidup mereka. Salah satunya adalah perilaku munafik dan mudahnya berjanji. Yang perlu dibenahi adalah perilaku orangnya, bukan malah hukumnya. Perilaku munafiknya yang diubah, bukan malah sumpahnya yang dihilangkan.
Bedakan apanya yang salah dan apanya yang perlu diperbaiki. Sama juga dengan adanya tikus malah membakar lumbung. Dan kita baik warga Gereja atau negara sering menghadapi masalah demikian. Dan penting di dalam jernih melihat persoalan untuk kemudian mencarikan jalan keluar. BD.eLeSHa.

Sabtu, 15 Februari 2020

Penyelenggaraan Illahi, Mukjizat Setiap Waktu


Sabtu Biasa Pekan V (H)

1 Raj. 12:26-32
Mzm. 106:6-71,19-20,21-22
Mrk. 8:1-10




1 Raj. 12:26-32

12:26 Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: "Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud.
12:27 Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda."
12:28 Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: "Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir."
12:29 Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan.
12:30 Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.
12:31 Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.
12:32 Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu. Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah diangkatnya.


Mrk. 8:1-10

8:1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:
8:2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
8:3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."
8:4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
8:5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."
8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
8:8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.
8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
8:10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.


Penyelenggaraan Illahi, Mukjizat Setiap Waktu

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar mengenai Penyelenggaraan Ilahi dan Mukjizat Tuhan. Mukjizat yang sering dianggap perbuatan besar luar biasa dari Allah, kadang kita diberi-Nya namun tidak mengetahui. Mengapa? Gambaran mukjizat itu hal yang di  luar nalar, hebat, luar biasa. Contoh, lepas dari maut, kalau dipikir-pikir tidak mungkin. Atau putus harapan tiba-tiba ada jalan.
Benar memang demikianlah mukjizat, apa yang tidak mungkin bisa manusia lakukan terjadi. Apakah sadar bahwa kita dilimpahi mukjizat dengan tidak terbatas setiap waktunya? Coba merenung sejenak dan berikan waktu, kapan kita ingat bahwa memerintah hidung untuk menarik nafas dan menghembuskan carbon monoksida dari dalam paru-paru? Sederhana pula bagaimana kita mengunyah dan kemudian menelan. Semua spontan demikian saja.
Sering orang berbicara itu mekanisme tubuh. Biologis dan bisa diterangkan secara ilmiah dan akademik. Benar demikian. Namun pernahkah tahu Sang Sutradara Agung di balik itu semua? Kita sebagai manusia, memegang barang saja sering salah dan jatuh bukan? Lah ini demikian kompleksnya, toh tidak ada yang salah. Jika salah satu bagan dan bagian saja kita perlu ke rumah sakit.
Itu baru satu bagian kecil dari hidup manusia. Bagaimana alam sedemikian besar, kompleks, dan sebagian besar tidak kita kenal, namun bisa berjalan dalam keadaan yang sinergis. Bayangkan saja jika matahari merasa capek dan ngaso sedetik saja apa akibatnya? Atau laut merasa pegal dan ngolet, dampaknya bagaimana? Tuhan mengatur itu semua dengan demikian sempurna.
Sikap kita, kemanusiaan kita, sebagaimana murid tunjukkan, mereka fokus pada keterbatasan sendiri. Padahal ada Yesus. Kitapun demikian, bagaimana kita sering memikirkan bagaimana mungkin, padahal ada Tuhan Sang Pemilik segala. Kita sangat mungkin bisa berdoa, memohon, dan menyatakan kuasa Tuhan besar. Namun untuk meyakini, mengimani, dan percaya bahwa semua mungkin di dalam Tuhan, kadang tidak gampang.
Saudara terkasih, dalam bacaan hari ini kita belajar bagaimana Yesus yang berbelas kasih. IA memberikan daya, kekuatan, dan kasih yang bertolak belakang dengan pemikiran kita dan juga para murid. Para murid bertanya bagaimana menyediakan makan untuk sekian banyak orang. Yesus membuat itu semua mungkin.
Mintalah maka kamu akan mendapat dan carilah maka akan menemukan. Usaha dan doa dari kita, ddan pasrahkan saja Tuhan yang akan memberikannya kepadamu. Penyelenggaraan Illahi dari Sutradara Agung adalah mukjizat setiap saat. BD.eLeeSHa.