Jumat, 24 Januari 2020

Pemuridan, Rendah Hati, dan Lemah Lembut



Pw. S. Fransiskus de Sales UskPujG (P)
1 Sam. 24:3-21
Mzm. 57:2,3-4,6,11
Mrk. 3:13-19



1 Sam. 24:3-21

24:3 Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.
24:4 Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.
24:5 Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.
24:6 Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;
24:7 lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."
24:8 Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.
24:9 Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: "Tuanku raja!" Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah.
24:10 Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?
24:11 Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.
24:12 Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.
24:13 TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau;
24:14 seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.
24:15 Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!
24:16 Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu."
24:17 Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul.
24:18 Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.
24:19 Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.
24:20 Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.
24:21 Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.


Mrk. 3:13-19

3:13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya.
3:14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil
3:15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.
3:16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus,
3:17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh,
3:18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot,
3:19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.



Pemuridan, Rendah Hati, dan Lemah Lembut

Saudara terkasih, hari ini kita bersama  Bunda Gereja merayakan Perayaan Wajib S. Fransiskus de Sales. Seorang Pujangga Gereja yang rendah hati dan lemah lembut sebagai jiwa karya kasihnya. Dalam bacaan Injil kita juga patut merenungkan mengenai pemuridan, yang bercorak, beserta. Menyertai Yesus. Menyertai  berarti bersama dengan Yesus sepenuhnya, selalu dalam dan bersama Yesus.
Selain menyertai, ini dari pihak murid dan tentunya kita, dari pihak Yesus yang patut kita renungan dan jadikan pelajaran adalah, bahwa sebelum memanggil para murid Yesus berdoa. Menyiapkan dengan penuh pertimbangan, dan bahkan di dalam doa.
Para murid bukan orang yang luar biasa, cerdik pandai, sempurna, namun orang-orang biasa, bahkan dalam konteks waktu itu bukan siapa-siapa. Nelayan, jelas bukan orang terpandang, bahkan pemungut cukai. Bagaimana mereka yang biasa saja itu dipanggil Tuhan untuk menyertai Tuhan. Hadir dan bersama dengan Yesus ke manapun Yesus mengabarkan khabar suka cita.
Kesediaan untuk hadir, bersama, dan kemudian dibentuk dan diubah sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak-Nya bukan keinginan sendiri yang menjadi kemudi atas hidup dan panggilan manusiawi kita.
Saudara terkasih, kita bisa belajar pula pemuridan dalam diri Santo Fransiskus dari Sales, bagaimana ia yang berpendidikan gemilang menjadi gembala. Hidupnya terancam bahaya karena di dalam kota yang memiliki pemahaman berbeda. Ia dengan setia membuat pembelaan dan pengajaran mengenai Iman Katolik yang baik dan benar. Pamflet-pamflet ia tempelkan di tempat strategis. Begitu banyak orang kembali kepada pangkuan Bunda Gereja, itu sebabnya ia ditahbiskan uskup.
Pujangga Gereja ini pula yang berpikir penerbitan atau surat khabar adalah sarana kattekese. Evangelisasi melalui media massa. Kini, sangat mungkin internet dan media sosial menjadi sarana pewartaan.
Salah satu keunggulan pendakwah ala Frandes adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati, sebagaimana Yesus dan Gereja ajarkan. Ini menjadi dasar pelayanan yang menggugah pendengarnya untuk kembali dalam naungan Bunda Gereja.
Saudara terkasih, pemuridan selain hadir, juga setia di dalam melihat rencana dan bentukan Tuhan dengan jalan-Nya. Kehendak-Nya yang menjadi petunjuk arah, menjadi pengendali, dan menjadi yang utama. Sering dalam hidup kita salah fokus karena kita tidak hadir dan bersama Tuhan di dalam hidup harian kita. BD.eLeSHa.

Kamis, 23 Januari 2020

Fokus Perutusan untuk Menyembuhkan dan Menyatukan



Kamis Pekan Biasa II (H)
1 Sam. 18:6-9,19:1-7
Mzm. 56:2-3,9-10a,10b,11,12-13
Mrk. 3:7-12



1 Sam. 18:6-9,19:1-7

18:6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;
18:7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa."
18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya."
18:9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud
19:1 Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud,
19:2 sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: "Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana.
19:3 Aku akan keluar dan berdiri di sisi ayahku di padang tempatmu itu. Maka aku akan berbicara dengan ayahku perihalmu; aku akan melihat bagaimana keadaannya, lalu memberitahukannya kepadamu."
19:4 Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya: "Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu!
19:5 Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?"
19:6 Saul mendengarkan perkataan Yonatan dan Saul bersumpah: "Demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh."
19:7 Lalu Yonatan memanggil Daud dan Yonatan memberitahukan kepadanya segala perkataan itu. Yonatan membawa Daud kepada Saul dan ia bekerja padanya seperti dahulu.


Mrk. 3:7-12

3:7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea,
3:8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.
3:9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya.
3:10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya.
3:11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah."
3:12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia



Fokus Perutusan untuk Menyembuhkan dan Menyatukan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda Tuhan dan mendapatkan banyak inspirasi hidup dari apa yang Tuhan lakukan. Perilaku, pilihan, dan fokus sangat mungkin menjadi bahan permenungan kita, di mana hidup pada era yang namanya viral, populer, dan menjadi tenar itu seolah segala-galanya. Fokus pada perutusan menjadi utama bagi Yesus.
Makin tenar, makin banyak orang yang datang mencari kesembuhan. Toh Yesus yang makin terkenal, tenar, populer, dan pastinya pandangan orang-orang adalah sakti. Penyembuh hebat. Semakin banyak orang datang dari berbagai penjuru wilayah. Toh IA tidak terlena dengan itu semua. Perutusan-Nya bukan semata untuk menyembuhkan, atau mengusir setan, namun lebih dari itu, membawa kembali yang tersesat kepada Tuhan Allah Bapa di surga.
Keberadaan-Nya yang dicari-cari bisa membuat terhambat, bisa melenakan, bukan karena gila hormat, namun karena belas kasihan yang tidak pada tempatnya. Sering kita sebagai manusia salah memaknai dan gagal bersikap dengan bijaksana dan jatuh pada pilihan  yang tidak utama. Tergelincir bukan pada kesalahan, namun pada pilihan yang tidak seharusnya. Fokus menjadi penting dan utama, sehingga tidak salah mengambil keputusan.
Saudara terkasih, beragama, beriman, perlu menyadari adanya tugas bagaimana menjadi anak-anak Tuhan. Mebawa orang yang tersesat pada jalan kebenaran. Apa yang dilakukan Yesus adalah menyembuhkan yang sakit, mengembalikan martabat mereka yang sempat hilang karena dosa struktural, atau memulihkan mereka yang tidak berdaya.
Dalam hidup bersama kita, perutusan kita juga sama dengan perutusan Yesus. Menyembuhkan yang sakit, atau malah kita membuat orang sakit hati? Menyatukan bukan memisahkan. Merekatkan bukan malah memecahkan. Pilihan-pilihan itu ada di depan mata, dan bagaimana mengikut kuasa jahat atau kuasa baik. Ke mana pilihan bebas itu dan itu tergantung kita masing-masing.
Perlu kesatuan dengan SI DIA agar mampu memilih yang terbaik, menjadi pemersatu bukan malah pemecah belah, menjadi penyembuh bukan pembuat luka. Siapa yang kita ikuti? Tuhan Mahacinta yang menyembuhkan bukan? Dan arahnya adalah kebaikan. Jika ada yang mengarahkan kepada yang buruk, kita perlu tahu bagaimana pilihan dan kepada siapa mereka mengabdi. Tidak perlu menghakimi, biarkan saja, asal bukan malah ikut dan menjadi pencela juga. BD.eLeSHa.

Rabu, 22 Januari 2020

Berbuat Baik atau Berbuat Jahat, dan Skala Prioritas


Rabu Pekan Biasa II (H)
1 Sam. 17:32-33,37,40-51
Mzm. 144:1,2,9-10
Mrk. 3:1-6




1 Sam. 17:32-33,37,40-51

17:32 Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."
17:33 Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."
17:37 Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."
17:40 Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
17:41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya.
17:42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.
17:43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.
17:44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang."
17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.
17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,
17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."
17:48 Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;
17:49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.
17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.
17:51 Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka.


Mrk. 3:1-6

3:1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.
3:2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.
3:3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!"
3:4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja.
3:5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.
3:6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.



Berbuat Baik atau Berbuat Jahat, dan Skala Prioritas

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana hukum Sabat, kemanusiaan, dan skala prioritas di dalam kehidupan nyata dan faktual dalam hidup sehari-hari. Jangan dikira ketika tidak menghayati hidup, aturan, dan hukum Sabat, kita lepas dari perilaku demikian.
Perilaku legalis, prosedural, dan malah abai akan kemanusiaan sering terjadi. Bagaimana bisa orang demikian tegas demi aturan namun mengabaikan kemanusiaan. Lihat saja berapa kali saja orang ditolak rumah sakit karena prosedur yang tidak semestinya. Atau orang bisa menderita hanya karena tidak tahu aturan yang kadang berubah setiap saat.
Benar bahwa aturan memang ada untuk mengatur hidup tertib bersama, agar semua terjamin hidup dan kebebasannya, namun tentu bukan karena aturan manusia malah terkekang dan lebih jauh menderita.
Ternyata kondisi demikian yang justru dipakai oleh kaum Farisi dan ahli agama untuk menjert Yesus. Yesus yang berbelas kasih, cinta-Nya yang besar tidak kalah oleh Hukum Sabat yang kadang diterapkan secara berlebihan. Hukumnya tidak salah, namun bagaimana para pelaku hukum yang kadang berlebihan dan menjadi lebih kejam.
Saudara terkasih, Yesus memberikan pilihan, yang dilarang itu berbuat jahat atau berbuat baik pada hari Sabat? Dan mereka jelas tidak bisa menjawab karena memang demikian adanya. Pilihan sulit bagi kelompok ini. Mengatakan boleh berbuat baik mereka menyangkal apa yang mereka katakan sendiri. Mengatakan boleh berbuat jahat apalagi. Simalakama yang biasa dilakukan dengan tetap diam.
Kesembuhan orang, kebebasan manusiawi dari keterbatasan, mosok juga tidak boleh dilakukan. Ini jelas sebuah perilaku yang berlebihan, berdalih atas hukum, padahal jelas itu adalah penafsiran yang berlebihan atas larangan Sabat. Mengutamakan ibadah dan mengabdi Tuhan atas yang lain. lha berbuat baik kan juga pengabdian pada Tuhan.
Apa yang esensial, skala prioritas lepas dari para penganut paham prosedural dan  yang biasanya diliputi kebencian. Lihat bagaimana mereka tidak menyuarakan kebenaran dan kemanusiaan, namun mengintai dan mencari-cari kelemahan Tuhan yang bisa untuk menghilangkan Yesus dengan pengaruhnya.
Ketika kepentingan lebih mengemuka, kebenaran, kemanusiaan, yang esensial, dan yang menjadi kepentingan lebih luas bisa tersingkir. Dan hal ini hari-hari ini sedang kita hadapi sebagai anak bangsa. BD.eLeSHa.

Selasa, 21 Januari 2020

Saksi Iman dan Hukum untuk Manusia


Pw. S. Agnes, PrwMrt (M)
1 Sam. 16:1-13
Mzm. 89:20,21-22,27-28
Mrk. 2:23-28



1 Sam. 16:1-13

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."
16:2 Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.
16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu."
16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?"
16:5 Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.
16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."
16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang ini pun tidak dipilih TUHAN."
16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang ini pun tidak dipilih TUHAN."
16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."
16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."
16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."
16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.


Mrk. 2:23-28

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.
2:24 Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
2:25 Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,
2:26 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?”
2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,
2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”



Saksi Iman dan Hukum untuk Manusia

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja memperingati Santa Agnes Perawan. Saksi iman dan dalam bacaan Kitab Suci kita belajar bagaimana bersikap sebagai seorang beriman. Apakah legalis, ataukah sampai kepada memaknai itu bagi hidup  harian kita. Konteks kala Yesus menjawab kritikan orang-orang Farisi, hari-hari ini kita pun mengalami sebagai anak bangsa dan negeri Indonesia.
Orang Farisi itu hidup dengan aturan sangat ketat, aturan Taurat, dan mirisnya kadang dilebih-lebihkan. Jadi apa yang dikatakan dan menjadi kritikan Yesus itu bukan Tauratnya, namun mengenai sikap batin orang Farisi yang kental dengan aroma menjaga  Taurat namun berlebihan. Aturan-aturan mati, kaku, dan menjadi lucu, apalagi ketika mereka malah melanggarnya sendiri, atas nama hukum itu.
Polisi moral, polisi agama, hampir selalu ada dalam semua agama, segala zaman, dan hanya kadar dan polanya berbeda. Esensinya sama. Merasa diri lebih saleh, lebih benar, lebih menghayati dari pada pihak lain. Dalam sejarah Gereja kita juga pernah berlaku demikian.
Orang atau  lembaga cenderung menaati hukum secara buta, dan malah mematikan kemanusiaan. Yesus mengatakan, hukum dibuat untuk manusia, bukan malah manusia yang tereduksi untuk mengabdi pada  hukum. Legalis, prosedural, dan bersembunyi di balik hukum melahirkan  pribadi munafik.
Saudara terkasih, kita patut belajar dari kesaksian dan hidup Santa Agnes. Ia sebagai gadis yang menarik, membuat banyak perjaka yang ingin memperistrinya. Kaulnya untuk tetap perawan membuat banyak pemuda patah hati dan membalaskan dendam dengan melaporkan kepada penguasa setempat. Paksaan untuk berkorban bagi dewa-dewa ia tolak. Belenggu yang mengekangnya terlepas, namun bukan membuka hati penguasa.
Akhirnya ia dipenggal dan menumpahkan darah bagi Gereja. ia dilambangkan dengan gadis yang mendekap Anak Domba, Agnus, dengan sehelai daun palma.  Lambang kemurnian dan keberanian sekaligus.
Kita layak bersaksi dengan hidup kita yang berani dan murni, dengan kasih, bukan mengabdi dengan taat hukum buta. Kemanusiaan menjadi lebih utama dan penting dari sekadar hukum. Apalagi ketika hukum itu hanya menjadi hafalan semata. Jauh lebih penting adalah hidup lebih baik dengan saling mengasihi, bukan karena takutnya hukuman ini dan itu.
Keberanian menghadapi hukuman dan kekuasaan itu ungkin, demi kasih. Dan Santa Agnes membuktikan itu. Darah yang tertumpah demi imannya yang teguh dan bermarbat. BD. eLeSHa.

Senin, 20 Januari 2020

Iman itu Perlu juga Logika


Senin Pekan Biasa II (H)
1 Sam. 15:15-23
Mzm.50:8-9,16bc-17,21,23
Mrk.2:18-22



1 Sam. 15:15-23

15:15 Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."
15:16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."
15:17 Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?
15:18 TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.
15:19 Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"
15:20 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.
15:21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."
15:22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
15:23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."


Mrk.2:18-22

2:18 Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
2:19 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.
2:20 Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
2:21 Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.
2:22 Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."



Iman itu Perlu juga Logika

Saudara terkasih, hari ini kita belajar dan merenungkan bersama Bunda Gereja mengenai penghayatan dan ritual beriman. Bagaimana kita tidak semata ikut-ikutan atau karena banyak oran melakukan demikian, harus juga yang sama. Bacaan Injil kali ini berbicara mengenai perihal puasa. Cukup baik dan pas dalam hidup berbangsa di Indonesia.
Beberapa waktu ini negeri ini dikejutkan dengan berbagai kejadian miris. Usai penggunaan agama dalam politik yang ugal-ugalan, kemudian untuk menipu dalam banyak cara dan cabang usaha. Ada perumahan, ibadah, dan juga perkebunan. Semua dengan labeling agama dan pemuka agama. Eh belum usai dengan baik muncullah kerajaan demi kerajaan dengan segala keanehan dan perilaku lucu bahkan maaf naif.
Seolah agama malah lepas dari yang namanya rasional logis. Padahal dasar dari iman sejatinya, seharusnya, dan sebaiknya adalah logika. Bagaimana logika juga melengkapi sisi spiritualitas, dan misteri iman. Mengapa demikian? Jika agama atau iman sepenuhnya misteri, sangat mudah jatuh pada penipuan, ada kekuasaan untuk membuat pihak lain sebagai obyek dan korban karena kamuflase dan manipulator agama.
Fideistis, orang yang selalu mengaitkan apa-apa pada iman dan agama, akhirnya abai usaha dan malah menjadikan agama sebagai tameng dan kadang juga kambing hitam. Hati-hati, orang bisa jatuh pada sisi sebaliknya, ketika terlalu berlaku logika yang berbicara, jangan salah lahirlah orang yang hanya mengandalkan logika. Yang tidak kelihatan berarti tidak ada. Ekstrem yang lain yang membuat kekacauan dan keadaan sama buruknya.
Yesus ketika menjawab pertanyaan mengapa muridnya tidak berpuasa bukan mengajarkan janji-janji surgawi, namun logika sederhana. ketika kain baru digunakan untuk menambal kain lama, tidak akan bisa baik untuk keduanya. Selain estestis, ekonomis, juga keduanya akan memberikan daya tarik menarik yang malah merusak.
Keberadaan Yesus yang digambarkan sebagai mempelai, membuat murid dan sahabatnya tidak bisa dan tidak patut berpuasa. Bagaimana bisa suka cita harus dihadapi dengan duka cita. Ingat puasa adalah gambaran prihatin, menyerukan kepada Allah dalam kondisi sedih, prihatin.
Para penanya itu bukan orang bodoh, namun mereka hanya mau mempertanyakan bagaimana pertanggungjawaban Yesus atas puasa sebagai tradisi itu tidak dilakukan. Jawaban rasional, logis, dan bukan jawaban janji surgawi. Mereka tidak akan mau tahu dengan jawaban itu, karena mereka pastis sudah tahu lebih baik.
Puasa sebagai sarana mati raga, sebagai sebuah upaya memperbaiki tatanan hidup, mengelola nasfu dan keinginan, tentu bukan hal yang buruk. Berbeda dengan pemahaman si penanya yang hanya karena kata tradisi, kata gurunya, namun pemahaman dna esensinya tidak mereka pahami. BD.eleSHa.

Minggu, 19 Januari 2020

IA-lah Sang Anak Domba Allah


MINGGU BIASA PEKAN II (H)
Yes. 49:3,5-6
Mzm. 40:2,4ab, 7-8a,8b-9,10
1 Kor. 1:1-3
Yoh. 1:29-34



Yes. 49:3,5-6

49:3 Ia berfirman kepadaku: "Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."
49:5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya -- maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku --, firman-Nya:
49:6 "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."


1 Kor. 1:1-3

1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita,
1:2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.


Yoh. 1:29-34

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
1:31 Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."
1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
1:33 Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."


IA-lah Sang Anak Domba Allah

Saudara terkasih, hari ini kita  bersama Bunda Gereja merenungkan kesaksian Yohanes Pembaptis sebagaimana dituangkan oleh Yohanes. Minggu kemarin, kita merenungkan pembaptisan Tuhan dengan penulis Injil yang berbeda. Kini kesaksian Yohanes mengenai pernyataan dan sapaan Yohanes Pembaptis sangat mengena dan mendalam. IA-lah Sang Anak Domba Allah.
Pernyataan dan penunjukan kepada Yesus itu dimaklumkan kepada para muridnya. Konsekuesi manusiawi ia akan kehilangan para murid, demi ia menyatakan jati diri Yesus. Pilihan yang luar biasa dilakukan Yohanes Pembaptis dan memang itu yang dilakukan. YB sebagai pembuka jalan, sebagai pemula dan pengantara sehingga Yesus sebagai Mesias datang dan siap berkarya. IA harus semakin besar dan aku semakin kecil.
Pilihan dan pernyataan mendalam mengenai Anak Domba Allah, ia adalah guru yang mengantar muridnya menemukan Sang Anak Domba Allah. Kesaksian karena pernyataan Allah kepadanya. Yohanes Pembaptis mengenali jati diri Yesus karena ia mendapatkan inspirasi dari Allah langsung. Ia rela kehilangan murid dan nama besar yang memang bukan haknya. Ia mengantar kepada Keselamatan yang Sejati, bukan malah menjadi penghalang.
Saudara terkasih, kita di dalam hidup kita sebagai apapun itu mendapatkan tanggung jawab, tugas perutusan untuk sampai kepada Tuhan Allah Mahacinta. Kita sampai kepada Allah baik pribadi ataupun komunal, bersama dengan yang lain. Dan itu yang sering kita lupakan. Hidup di dalam dunia orang sering berperilaku dunia, yang penting aku, orang lain jangan. Dunia bisnis, persaingan tidak sehat, cenderung menyingkirkan orang lain, demi diri sendiri. Saling singkir dan sikut adalah paradigma dunia, dan kadang berlaku dalam hidup beriman. Keselamatan terkotak-kotak dan keakuan masing-masing.
Dalam konteks lebih khusus, bagaimana kita bersikap dan mengulurkan tangan kepada siapa, apakah masih terpolarisasi Gereja-NonGereja, atau malah pengikut Tuhan atau tidak. Lha miris hanya tidak mau ikut kegiatan lingkungan kemudian tidak ada yang mau melayani. Ini mengantar kepada Allah atau malah menjadi batu sandungan?
Sering kita salah bersikap, salah dalam memilih, salah dalam melakukan tindakan, karena kita abai akan siapa Yesus dan siapa kita. Kadang kita merasa segalanya dan melupakan Yesus dan peran-Nya dalam hidup kita. Yohanes mengisahkan Yohanes Pembaptis dengan begitu elok dan indah. Kesederhanaan dan kerendahan hati, mengantar muridnya dan dunia hingga hari ini kepada Sang Anak Domba Allah.
Keselamatan sudah kita terima, bagaimana kita menanggapi keselamatan itu? Menerima dan mempertahankan, kemudian juga membawa semakin banyak orang ke hadapan Allah untuk mendapatkan keselamatan pula. Kapasitas masing-masing, bukan malah merasa tidak memiliki atau malah berlebihan merasa mempunyai tanggung jawab. Bersama Tuhan dengan rendah hati. BD.eLeSHa.