Selasa, 31 Desember 2019

Iman itu Tahu Batas


Selasa Biasa Khusus Adven  IV (U)
2 Sam. 7: 1-5,8-12, 14-16
Mzm.  89:2,3,4-5,37,29
Luk. 1:67-79



2 Sam. 7: 1-5,8-12, 14-16

7:1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling,
7:2 berkatalah raja kepada nabi Natan: "Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda."
7:3 Lalu berkatalah Natan kepada raja: "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau."
7:4 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian:
7:5 "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?
7:8 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.
7:9 Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.
7:10 Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu,
7:11 sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu.
7:12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.
7:15 Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.
7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.



Luk. 1:67-79

1:67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
1:68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
1:69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,
1:70 -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus --
1:71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
1:72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,
1:73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
1:74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,
1:75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
1:76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
1:77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,
1:78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,
1:79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."



Iman itu Tahu Batas 

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan tugas perutusan Yohanes Pembaptis. Zakaria memuji Tuhan dengan berkenaan atas tugas puteranya. Zakaria tidak menonjolkan diri, tidak mengubah status Yohanes Pembaptis, atau memohon kepada Tuhan menjadikan anaknya sebagai Yang Utama, bukan semata pembuka jalan bagi Yang Utama itu.
Dalam zaman modern ini, sering kita melihat, atau malah mengalami, demi anak orang tua bisa berbuat apa saja, bahkan kejahatan, dan itu menjerumuskan anaknya di masa depan. Menyuap demi anak bisa menjadi ini dan itu, sederhana, membawakan tas untuk pergi dan pulang sekolah. Menyusunkan buku sesuai jadwal sekolah, dan membuatkan pekerjaan rumah. Hal yang sering disalahartikan dengan cinta.
Cinta itu tidak demikian. mendidik anak itu tidak mesti mengambil alih tugas dan tanggung jawabnya. Itu namanya mendidik dengan cara memanjakan. Membantu bukan mengambil alih dan mengambil tugas dan kewajiban anak untuk orang tua.
Kadang orang tua juga tidak sabar untuk mendidik. Contoh meminta anak membantu ini dan itu. Biasanya akan lebih lambat atau juga boros. Misalnya mencuci piring bisa pecah. Nah lebih mudah, hemat, dan praktis dilakukan sendiri.
Pola pendekatan orang tua demikian seolah menjadi gejala umum. Menjadikan anaknya kudu nomor satu dan menggunakan segala cara untuk itu. Ada kisah seorang rekan, anaknya selalu diincar ibu anak lain soal nilainya. Suatu hari nilai si anak ibu yang mengincar itu kalah tinggi. Mengupayakan ujian ulang untuk dapat nilai lebih. Dan itu dilakukan terus menerus. Kini, pada masa yang berbeda, si anak yang difasilitasiorang tuanya tidak menjadi apa-apa. Dan anak  rekan yang “mengalah” ini dapat beasiswa ke luar negeri.
Saudara terkasih, pribadi beriman akan tahu batas. Lihat Zakaria memuji Tuhan bukan mengubah atau merekayasa perubahan untuk puteranya. Apa yang menjadi tugas dan kapasitas Yohanes Pembaptis itulah yang terbaik dari Allah. Ia tetap memuji Allah bukan  malah memohon untuk mengganti tugas dan perutusan anaknya. Ini yang patut kita jadikan teladan dan pengertian yang baik. BD.eLeSHa.

Nama dan Ketaatan


Senin Khusus Adven IV (U)
Mal. 3:1-4,4:5-6
Mzm. 25:4bc-5ab, 8-9,14
Luk. 1:57-66



Mal. 3:1-4,4:5-6

3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.
4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.
4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.


Luk. 1:57-66

1:57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.
1:58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.
1:59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,
1:60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."
1:61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian."
1:62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.
1:63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya.
1:64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.
1:65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.
1:66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia



Nama dan Ketaatan

Saudaraa terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa baiknya Tuhan. Kasih karunia-Nya tidak terpengaruh atas tindakan, perilaku, dan aktivitas kita. Kita banyak belajar dari kisah kelahiran Yohanes Pembaptis. Bagaimana Zakaria yang “dihukum” Tuhan menjadi bisu itu. kesetiaan Zakaria berbuah ia bisa berbicara lagi.
Lambang terbukanya mulutnya adalah nama Yohanes yang ia sematkan pada anak laki-lakinya. Dalam budaya Jawa dikenal adanya kabotan jeneng. Anak yang sakit-sakitan, pertumbuhannya tidak semestinya, sering dikaitkan dengan nama yang terlalu berat, tidak pas, tidak cocok dengan si anak. Dan mengganti nama bisa membuat si anak tumbuh normal. Tentu hal ini jauh dari logika modern dan ranah ilmiah. Itu dalam kondisi kultur budaya.
Jika Shakespear menyatakan apa arti sebuah nama, bisa celaka bagi Zakaria. Coba Elisabet dan kerabaatnya memberi nama selain nama itu, bisa bisu selama-lamanya si Zakaria. Inilah yang namanya taat dan kesetiaan. Memberikan nama sesuai kehendak Tuhan. Itu berkaitan dengan ketaatan dan kepercayaan yang dalam ala Zakaria.
Saudara terkasih, kita sering menghadapi keadaan yang tidak mudah. Hidup serasa pepat, semua jalan tertutup, dan pada kondisi yang lain jalan rekan kita, orang di sekeliling kita, dan kita merasa yang paling menderita. Pernah bukan merasakan demikian? Atau malah sedang mengalami?
Sangat mungkin kita pernah bahkan kadang sering. Apa yang menjadi pilihan kita? Ada beberapa kemungkinan. Pertama. Tetap berjalan dan berharap di dalam Tuhan. Ini pilihan bijak, tetapi sering tidak mudah, dan terjal. Rintangan dan halangan sangat mungkin. Pilihan ini yang dijalani Zakaria.
Kedua, menjauh dari Tuhan dan memilih jalan pintas. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bersama teman atau malah mencari kekuatan dari alam dan kuasa kegelapan. Hal yang sangat mungkin terjadi. Dengan berbagai versi dan  derajatnya sangat mungkin. Siswa memilih mencontek, orang tua memilih menjadi penjahat atau merampok demi mendapatkan uang, atau malah pergi ke dukun.
Saudara terkasih, Tuhan tetap hadir apapun yang kita lakukan. IA tidak pernah meninggalkan kita, apapun perilaku kita, Tuhan tetap mendampingi dengan cara yang sama. BD.eLeSHa.

Minggu, 22 Desember 2019

Beriman itu Percaya, Tidak Banyak Mengeluh


HARI MINGGU ADVEN IV (U)
Yes. 7:10-14
Mzm. 24:
1-2,3-4ab,5-6
Rm. 1:1-7
Mat. 1:18-24




Yes. 7:10-14

7:10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya:
7:11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas."
7:12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN."
7:13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.


Rm. 1:1-7

1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.
1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,
1:3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,
1:4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.
1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.
1:6 Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.
1:7 Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.


Mat. 1:18-24

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya



Beriman itu Percaya, Tidak Banyak Mengeluh

Saudara terkasih hari ini, kita bersama Bunda Gereja merenungkan sikap pribadi yang percaya. Dalam Minggu Adven IV ini, sajian bacaan sungguh menggugah kita. Bagaimana bacaan pertama kita mendapatkan pembelajaran banyaknya permohonan, meminta tanda ini dan itu. Kita sering bersikap demikian. Bagaimana demi mendapatkan cinta orang tua, kita harus taat, patuh, menurut apa yan mereka kehendaki.
Demi mendapatkan pacaran idaman, kita sangat mungkin mengubah, merombak diri demi menyenangkan si calon yang diidam-idamkan. Atau kecemburuan yang katanya tandanya cinta. Kamu harus berkorban, itu baru tandanya sayang, dan seterusnya dan sebagainya. Masih akan panjang lambang, simbol, atau tanda ini dan itu.
Pada bacaan Injil kita mendapatkan inspirasi yang cukup berbeda, ketika Yusuf tanpa ba bi  dan bu langsung menjalankan perintah dari Tuhan Allah melalui malaikat yang datang dalam mimpinya. Yusuf mengambil Maria menjadi istrinya dengan menanggung risiko yang 
tidak kecil. Bayangkan, Yusuf tidak meminta jaminan, tanda, atau apapun dari malaikat demi ia bisa selamat misalnya dari hukuman adat yaitu rajam. Ingat ini budaya yang masih memegang dan menganut hukum rajam bagi pezina.
Pun Yusuf tidak meminta bahwa kehamilan Maria itu dari Allah. Sangat mungkin kalau era modern Yusuf akan meminta test DNA. Toh konteks waktu itu sangat mungkin ada dan bisa. Toh tidak dilakukan. Yusuf menjalankan perutusannya dengan kesungguhan dan kesederhanaan.
Bayangkan saja, jika Yusuf menolak menjadi suami Maria, apa yang akan terjadi pada Maria dan Yesus. Mati mereka. Perawan hamil, dan tunangannya pergi, apa yang terjadi? jelas. Kematian dalam hukum lempar batu alias rajam.
Saudara terkasih, menjelang Natal, lilin adven sudah menyala keempat-empatnya. Kita bersama-sama belajar dan meneladan dari para tokoh besar, hebat, dan penuh kasih karunia. Ketaatan dna kesiapsediaan dari Maria dan Yusuf untuk ikut terlibat dalam  Karya Keselamatan Allah. ikut terlibat dari rencana besar yang bernama penebusan dan karya keselamatan. Keadaan dunia ada dalam pilihan mereka. Syukur bahwa mereka melakukan dengan rendah hati dan tulus ikhlas.BD. eLeSHa.



Sabtu, 21 Desember 2019

Beriman dan Berbahagia


Sabtu Pekan adven III (U)
Kid. 2:8-14
Mzm. 33:2-3,11-12,20-21
Luk. 1:39-45




Kid. 2:8-14

2:8 Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit.
2:9 Kekasihku serupa kijang, atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi.
2:10 Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!
2:11 Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu.
2:12 Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita.
2:13 Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah!
2:14 Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!"


Luk. 1:39-45

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.



Beriman dan Berbahagia

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan, bagaimana kebahagiaan antara dua pribadi luar biasa, Maria dan Elisabet. Mereka berdua mengandung dalam kondisi istimewa dan mukjizat. Bahagia menjadi kata kunci yang penting dalam kehidupan beriman. Pun kata percaya yang bisa juga bermakna iman. Keduanya saling terkait dan menjadi penting.
Pertama mengenai gembira. Eilsabet menyambut Maria dengan bahagia. Ia mengatakan betapa bahagianya, dan bahkan bayi yang dikandungannya pun ikut menyambut. Merasa diri tidak pantas, sehingga mengatakan, siapakah dirinya sehingga ibu Tuhan pun  datang mengunjunginya. Kegembiraan dan tahu diri dan kapasitas. Ia itu bukan siapa-siapa di hadapan Maria sebagai ibu dari Sang Penebus.
Merasa dan tahu diri, ini sikap orang percaya. Imannya yang membuatnya mampu dan tahu kapasitas. Kerendahan hati, jiwa mulia karena terlibat dalam kasrya keselamatan dari Allah. Pribadi istimewa yang akan membawa  pendahulu dari Sang Imanuel.
Kedua, sikap percaya. Jelas ini dimulai dari peran Maria, yang mengatakan, aku hamba Tuhan. Sanggup menjalankan tugas perutusan menjadi ibu dari Sang Penebus. Dengan segala konsekuensinya. Dan ia percaya, kepercayaan kepada kuasa Allah yang ia coba lakukan.
Kepercayaan yang patut menjadi contoh dan teladan bagi kita untuk memiliki sikap percaya kepada kuasa dan kehendak Tuhan. Sikap yang membawa kebahagiaan. Iman, sikap percaya itu membahagikan. Kebahagiaan itu terjadi jika kita memiliki iman.
Saudara terkasih, apakah iman kita, sikap percaya kita, dan keberadaan kita sudah membawa kebagaiaan? Atau apakah kita sudah penuh kebahagiaan dan suka cita di dalam menyambut Sang Bayi pada Natal nanti?
Ada dua konsekuensi, jika kita tidak bersuka cita, ke mana iman kita? Ada yang perlu dibenahi sehingga kita berbahagia dan bersuka cita di dalam beriman dan juga menyambut Natal nanti.
Lebih menakutkan jika kita malah menjadi penyebab orang tidak bersuka cita. Apapun alasannya, apapun dalihnya, sengaja atau tidak, kita bisa menjadi penyebab duka bagi orang lain, bagaimana pertanggungjawaban beriman kita?
Suka cita itu harusnya bertumbuh dan menjadi virus yang membuat dunia juga bersuka cita. Tidak layak kita menjadi penyebab duka bagi pihak lain. BD.eLeSHa.


Jumat, 20 Desember 2019

Aku ini Hamba Tuhan


Jumat Pekan Adven III (U)
Yes. 7:10-14
Mzm. 24:1-2,3-4ab, 5-6
Luk. 1:26-38



Yes. 7:10-14

7:10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya:
7:11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas."
7:12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN."
7:13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel


Luk. 1:26-38

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia



Aku ini Hamba Tuhan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan kisah paling dekat dengan Karya Keselamatan Allah. Ketika Allah memilih Maria dan  terjadi dialog dengan malaikat. Pilihan Maria untuk mengatakan, ya, saya sanggup,  adalah kunci Karya Keselamatan Allah itu mendekati kenyataan. Ada dua hal yang layak kita renungkan dengan lebih mendalam.
Pertama dari pihak Allah, Allah Yang Mahakuasa, tidak arogan, menggunakan kekuasaan, dan semena-mena memaksakan kehendak dan rencana-Nya begitu saja. Allah masih mengutus malaikat-Nya dan mengadakan dialog. Hal yang jauh dari gambaran ketika Allah digambarkan sebagai Penuntut Balas, Kejam, dan Pemarah bukan? Allah Mahacinta dan Lemah Lembut jelas tergambar dari proses ini.
Sapaan dan berkat, menambah bahwa kasih karunia itu lebih dominan dari pada Allah Yang Pemarah, sebagaimana gambaran dunia Perjanjian Lama. Allah Mahakasih dan Mahacinta, hadir dengan kasih dan cinta yang tak terbatas.
Sisi Maria, bagaimana khawatir, cemas, dan galau itu pasti terjadi. kaget, dan tidak mengerti. Gambaran asli manusia, di mana segala keterbatasan itu menjadi tiada, ketika kehendak Allah harus terjadi. Jangan takut menjawab kecemasan manusiawi Maria. Dan itu menjadi kekuatan  hingga nanti pada kaki salib.
Aku ini hamba Tuhan, jawaban luar biasa. Hal ini mengandaikan adanya kerendahan hati luar biasa dari Maria.  Ia tahu diri dan tahu kondisi sebagai hamba Tuhan. Hamba yang akan melakukan apa saja tanpa berpikir dua kali karena sikap patuh dan taat.
Kebebasan Maria tidak juga berkurang, karena ia menyatakan diri sanggup dengan penuh kerendahan hati. Sikap yang luar biasa. Pilihan berat yang dengan kesanggupan luar biasa karena iman dan sikap percaya.
Saudara terkasih, kadang, bahkan sering, kita merasa takut dalam kehidupan sehari-hari. Menjelang Natal diributkan dengan soal boleh tidak mengucapkan selamat, atau di tempat ini tidak boleh merayakan dengan leluasa dan sejenisnya. Itu semua tidak utama, dan kadang menghabiskan energi kita, untuk bisa bersikap percaya dan pasrah pada kehendak Tuhan dan jalan yang Tuhan Allah kehendaki.
Kita jatuh pada kekhawatiran dan kecemasan dunia, dan abai yang hakiki. Bagaimana memperbaiki hati dan sisi spiritual kita menghadapi Natal. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, harus menjadi jiwa dan keyakinan bukan semata kata-kata. BD.eLeSHa.


Kamis, 19 Desember 2019

Segalanya Mungkin di Dalam dan Bersama Tuhan, Jangan Mempertanyakan


Kamis Adven Pekan III (U)
Hak. 13:2-7,24-25
Mzm. 71:3-4a,5-6ab,16-17
Luk. 1:5-25




Hak. 13:2-7,24-25

13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: "Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.
13:7 Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah."
13:24 Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.
13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol

Luk. 1:5-25

1:5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.
1:6 Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
1:7 Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
1:8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.
1:9 Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.
1:10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.
1:11 Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.
1:12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.
1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.
1:14 Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.
1:15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;
1:16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,
1:17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."
1:18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya."
1:19 Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya."
1:21 Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci.
1:22 Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.
1:23 Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.
1:24 Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:
1:25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."


Segalanya Mungkin di Dalam dan Bersama Tuhan, Jangan Mempertanyakan

Saudara terkasih, hari ini kita patut bersyukur, bersama Bunda Gereja merenungkan betapa kasih karunia Tuhan itu luar biasa. Apapun mungkin di dalam Tuhan. Apa yang tidak mungkin dan mustahil bagi manusia adalah hal yang sangat biasa di dalam kuasa Tuhan Allah Mahacinta.
Dalam bacaan Injil kita bersama-sama, menengar, melihat, dan membaca, bagaimana Allah membuka apa yang menjadi kerinduan Elisabet dan Zakaria, mengenai keturunan. Keturunan dalam era itu adalah bukti kasih karunia Allah. Orang mandul adalah orang terhukum, orang yang terkutuk, dan orang yang tidak berkenan di hadapan Allah. sampai sudah menopause, berhenti hadi bagi Elisabet adalah kiamat dalam hidupnya. Namun Tuhan Allah mendengar kerinduan mereka, ratapan mereka siang dan malam, dan di masa senjanya mereka menggendong anak.
Kehadiran Allah yang menyelamatkan muka mereka di hadapan khalayak ramai, ingat  posisi Zakaria adalah imam. Mosok imam tidak terberkati, kan menjadi lucu. Allah memberikan berkat luar biasa. Apa yang patut kita renungkan dan cermati lebih dalam adalah:
Sikap batin. Ini penting bahwa mereka berdua itu bertekun di dalam doa dan pengharapan yang terus menerus. Mereka tidak mengenal kata ada batas. Di dalam Tuhan semua bisa terjadi, dan benar Tuhan menjawab dengan baik pada waktu Tuhan.
Fokus. Merasa tidak terberkati karena tidak memiliki anak, toh Zakaria masih menjadi imam dengan semestinya. Ia tidak protes dan kemudian ngambeg, atau malah menola Tuhan. Ia masih tetap percaya, ini menjadi penting.
Ragu, sangat wajar, ketika Zakaria malah menjadi ragu kala mendengar khabar yang di luar nalar itu. Ia lupa bertahun-tahun siang malam memohon anak, ketika diberi ia malah sangat manusiawi. Ia mengedepankan sisi manusiawinya yang berpikir tidak mungkin.
Saudara terkasih, ini adalah rangkaian di mana karya keselamatan hendak mendekati intinya, kelahiran Yesus. Kejadian luar biasa, mukjizat makin banyak dinyatakan, dan itu ada dalam nubuat para nabi pada era sebelum-sebelumnya.
Kehendak dan karya Allah menguasai logika, nalar, dan kemampuan manusiawi. Namanya saja Maha, semuanya tidak terbatas. Dan itulah ciri orang beriman. Kadang ragu dan mempertanyakan kehendak Tuhan itu manusiawi, namun perlu disadari untuk tidak lagi menjadi sebuah kebiasaan. Yakin dan percaya, dan itu adalah proses. BD.eLeSHa.

Rabu, 18 Desember 2019

Tulus Hati


Rabu Pekan Adven III (U)
Yer. 23:5-8
Mzm. 72:2,12-13,18-19
Mat. 1:18-24



Yer. 23:5-8

23:5 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.
23:6 Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN keadilan kita.
23:7 Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!,
23:8 melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah mencerai-beraikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri."


Mat. 1:18-24

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,



Tulus Hati

Saudara terkasih, hari ini kita bersama  Bunda Gereja belajar dan merenungkan ketulusan hati seorang Yosef atau Bapa Yusuf. Ia mengambil Maria, dalam kegalauan yang sangat wajar. Bagaimana tidak, ketika tunangannya, pulang dari bepergian dan tiba-tiba hamil. Pilihan umum, praktis, dan sangat biasa adalah lari, meninggalkan Maria demikian saja, atau pilihan lain dengan sangat buruk.
Kisah Musa sejatinya juga tidak jauh berbeda, ketika ada aturan pembunuhan bagi bayi laki-laki usia di bawah dua tahun. Musa dihanyutkan di sungai. Pilihan realistis, dan toh hidup juga, di bawah asuhan istana, di mana aturan itu keluar. Ternyata Yusuf mengambil sikap yang berbeda, karena ia tulus hati.
Tulus itu, mengalahkan diri demi tujuan yang lebih besar. Ia paham dan tahu kondisi Maria, namun malaikat datang dan memberitahukan apa yang terjadi itu, dalam konteks pemikiran jauh lebih luas. Tidak berpikir secara sempit, harga diri, nama baik, dan kepentingan pribadi dan sesaat.
Berkaitan dengan itu, adanya keterbukaan diri yang mutlak pada kehendak Allah. Jika tidak, bisa saja Yusuf lari atau menjadi tinggi hati, merasa hebat dan menjadi pilihan Allah. Namun sama sekali tidak ada hal demikian. sepanjang kisah dalam Kitab Suci, Yusuf digambarkan sebagai pribadi yang tulus dan sederhana.
Kejernihan nurani. Tuhan bisa berbicara apa saja kepada manusia dengan cara apa saja. Mimpi ternyata menjadi pilihan untuk mengatakan kehendak Allah pada Yusuf, dan Yusuf mendengarkannya dengan baik. Orang yang tidak memiliki nurani, akan bias dan bisa salah dalam menafsirkan apa artinya  mimpi itu.
Terlibat dalam Karya Keselamatan Allah, pilihan yang luar biasa bagi seorang pribadi sederhana, namun dengan tulus dan rendah hati ia menyanggupi itu. Tentu sangat berat bagi Yusuf, dan wajar ketika memutuskan ia akan pergi, ia masih menjaga nama Maria dan keluarga besarnya.
Saudara terkasih, kita layak bersyukur bahwa dalam masa Adven ini memiliki teladan dalam kerendahan hati sekaligus tulus hati. Pribadi yang layak mendampingi dan membesarkan Yesus sebagai Juru Selamat. Pribadi layak dan utama di dalam menemani dan mendampingi tumbuh kembang Yesus.BD.eLeSHa.