Minggu, 24 November 2019

Salib adalah Kemuliaan


HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM (P)
2 Sam. 5:1-3
Mzm. 122:1-2,4-5
Kol. 1:12-20
Luk. 23:35-48




2 Sam. 5:1-3

5:1 Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu.
5:2 Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel."
5:3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel.



Kol. 1:12-20

1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.
1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.


Luk. 23:35-48

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah."
23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya
23:37 dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!"
23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi".
23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
23:42 Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."
23:43 Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.




Salib adalah Kemuliaan

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan HARI RAYA KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM. Hari Minggu di  mana mengakhiri tahun liturgi, sebelum Minggu depan dibuka dengan Hari Minggu Adven I. Penutupan tahun dan juga kita diajak untuk merenungkan bagaimana Kristus Raja itu adalah Pribadi yang tersalib. Kemuliaan Tuhan sebagai Raja itu adalah dalam salib. Peristiwa dan kayu salib yang membawa kemuliaan.
Keselamatan itu kemuliaan, dan itu ada dalam salib. Ketika orang memandang salib dan memperoleh kebahagiaan, itulah Allah yang hadir dalam derita Anak-Nya. Bagaimana dalam bacaan Injil kita mendengar bahwa ada dua orang, satu merasa tahu diri, merasa berdosa, dan merasa Tuhan Yesus yang tergantu bersama mereka adalah Orang Baik. Satu lagi adalah pendosa yang malah merasa diri baik-baik saja.
Mereka bersikap berbeda, memosisikan diri sebagai si tinggi, sama dengan Yesus, namun abai melihat Yesus yang lebih tinggi dalam hal Kekuasaan. Si pendosa yang satu melihat Yesus sebagai Manusia Baik yang tidak layak mendapatkan hukuman paling kejam dan mengerikan serta memalukan itu. Ia mohon Tuhan Yesus ingat dia, bukan mohon diturunkan dari salib.
Saudara terkasih, kadang kita pun jatuh pada hal yang sama mohon bantuan Tuhan untuk diringankan salib yang harus kita pikul. Padahal kita enggan kerja keras, enggan kerja cerdas, dan mau enaknya saja. Toh ada Tuhan yang akan membantu kita, ada Tuhan yang akan menolong kita.
Atau pilihan kita untuk memohon kekuatan kepada Tuhan agar mampu menanggung beban itu dengan setia hingga pada akhirnya? Ini pilihan kita, dan bagaimana tanggung jawab kita di dalam hidup kita setiap hari.
Saudara terkasih, salib adalah lambang kemuliaan, meskipun sering itu adalah beban yang tidak terperikan. Bagaimana kita hidup sebagai anak bangsa yang mendapatkan perilaku banyak diskriminasi, kesulitan, apakah kita mau meletakannya dan meninggalkan dengan dalih toh Tuhan tahu iman kita, tahu hati kita? Atau tetap sabar menerima itu sebagai rencana Tuhan yang memang harus kita pikul? Salib itu konsekuensi logis bagi iman yang diberikan kepada kita.
Pilihan ada di tangan kita, Tuhan memberikan pilihan dan kemerdekaan untuk kita mau memilih yang mana? Pilihan kita itulah kualitas iman. BD.eLeSHa.


Kehidupan Kekal Tidak Ada Kawin dan Dikawinkan


Sabtu Pekan Biasa XXXIII (H)
1 Mak. 6:1-13
Mzm. 9:2-3,46,16b,19
Luk. 20:27-40




1 Mak. 6:1-13

6:1 Dalam pada itu raja Antiokhus menjelajahi wilayah pegunungan. Didengarnya kabar bahwa Elimais, sebuah kota di negeri Persia, adalah termasyhur karena kekayaan perak dan emas
6:2 dan lagi bahwa kuil di kota itu sangat kaya pula oleh karena di sana ada alat-alat perang emas, lemena serta senjata yang ditinggalkan Aleksander bin Filipus, raja Makedonia, yang mula-mula merajai orang-orang Yunani.
6:3 Maka datanglah ia ke sana dan berusaha merebut kota itu serta menjarahinya. Tetapi ia tidak berhasil oleh karena maksudnya ketahuan oleh penduduk kota itu.
6:4 Mereka memberikan perlawanan kepada raja, sehingga ia lari serta berangkat dari situ dengan sesal hati yang besar hendak kembali ke Babel.
6:5 Kemudian datanglah seseorang ke daerah Persia memberitahu raja bahwa bala tentaranya yang memasuki negeri Yudea sudah dipukul mundur
6:6 dan khususnya bahwa Lisias yang maju perang dengan bala tentara yang kuat telah dipukul mundur oleh orang-orang Yahudi yang bertambah kuat karena senjata, pasukan dan banyak barang rampasan yang diperoleh mereka dengan diambil dari tentara yang telah mereka kalahkan.
6:7 Orang-orang Yahudi juga telah membongkar Kekejian yang telah ditegakkan raja di atas mezbah di Yerusalem. Bait Suci telah dipagari oleh mereka dengan tembok-tembok yang tinggi seperti dahulu dan demikianpun halnya dengan Bet-Zur, salah satu kota raja.
6:8 Mendengar berita itu maka tercenganglah raja dan sangat tergeraklah hatinya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya.
6:9 Berhari-hari raja berbaring di ranjangnya sedang terus-menerus dihinggapi kemurungan besar. Ketika merasa akan meninggal
6:10 dipanggilnya semua sahabatnya lalu dikatakannya kepada mereka: "Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan.
6:11 Maka dalam hati aku berkata: Kepada keimpitan dan kemalangan manakah aku sampai sekarang ini? Aku ini yang murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku!
6:12 Tetapi teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang.
6:13 Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih


Luk. 20:27-40

20:27 Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
20:28 "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
20:29 Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.
20:30 Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,
20:31 dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.
20:32 Akhirnya perempuan itu pun mati.
20:33 Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
20:34 Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
20:35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
20:36 Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
20:37 Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
20:38 Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."
20:39 Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."
20:40 Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus



Kehidupan Kekal Tidak Ada Kawin dan Dikawinkan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan mengenai kebangkitan. Dalam alam hidup Yesus waktu itu, banyak kelompok yang saling  berebut pengaruh. Termasuk   takut jika Yesus menjadi paling berpengaruh. Nah hari ini kita merenungkan bagaimana orang Saduki yang tidak memercayai kebangkitan, hendak menguji Yesus dengan pertanyaan mengenai kebangkitan.
Manusia hidup itu pasti akan mati, dan ke mana muara, apakah begitu saja kembali ke tanah dan membusuk dan menjadi tanah? Iya, untuk badan, jazat, atau tubuh kita. Apakah badan kita akan sia-sia begitu saja? Jelas tidak, itulah makna hakiki kebangkitan. Kebagkitan itu jiwa kita yang akan mengabdi Allah sepenuhnya, dan hanya bahagia dan suka cita yang ada.
Orang Saduki mempersoalkan dengan kawin dan hidup bersama sebagai sebuah keluarga. Bagaimana jika seorang perempuan yang dinikahi tujuh bersaudara, tentu ini perumpamaan ekstrem. Mau menggambarkan bahwa dalam budaya waktu itu, jika perempuan menikah dan tidak dikarunia anak, kemudian suaminya meninggal, adik laki-laki si suami harus menikahi kakak iparnya ini. Ketika ketujuh  bersaudara itu tidak memiliki anak, dan semuanya menikahinya, tentu saja satu perempuan dengan tujuh suami. Apakah di alam kematian masih demikian, jika iya, mana suaminya? Tentu ini ilustrasi yang sangat kecil kemungkinan bisa terjadi.
Jawaban Yesus menjadi penting, bagaimana Allah adalah Allah orang hidup. Dan di sana tidak ada kawin dan dikawinkan lagi. Pemahaman yang sangat sederhana, jika apa yang ada di dunia dibawa ke sana, seperti perselisihan, pertengkaran, jabatan, dan termasuk pasangan, kan repot. Bagaimana bisa memuji, memulaikan Allah, jika mereka asyik bersama pasangannya.
Tugas kita di dunia adalah memuliakan Allah dengan karya kita. Di dalam Kerajaan Surga kita sudah tidak lagi hidup dalam alam yang sama. Di sana hidup bersama Allah seperti para malaikat. Hidup spiritualitas, bukan lagi badani.
Namun ingat jangan kemudian hidup di dunia tidak mau mengenal pasangan karena toh nanti di surga berlaku demikian. ketika di dunia lakukan hal-hal hukum dunia, jangan melanggarnya, pun jangan membawa apa yang akan terjadi di surga itu. Mencampuradukan  hal yang bisa berbahaya, bagaimana konsep duniwi juga dditerapkan di surga, itu tidak pas pula. BD.eLeSHa.


Jumat, 22 November 2019

Tuhan Allah dan Fokus Kita


Pw. S. Sesilia, PrwMrt (M)
1 Mak. 4:36-37,52-59
1 Taw. 29:10,11abc, 11d-12a,12bcd
Luk. 19:45-48




1 Mak. 4:36-37,52-59

4:36 Adapun Yudas serta saudara-saudaranya berkata: "Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali."
4:37 Setelah bala tentara dihimpun seluruhnya maka berangkatlah mereka ke gunung Sion.
4:52 Pagi-pagi benar pada tanggal dua puluh lima bulan kesembilan, yaitu bulan Kislew, dalam tahun seratus empat puluh delapan bangunlah mereka semua
4:53 untuk mempersembahkan korban sesuai dengan hukum Taurat di atas mezbah korban bakaran baru yang telah dibuat mereka.
4:54 Tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti dahulu waktu orang-orang asing mencemarkannya mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi dengan gambus, kecapi dan canang.
4:55 Maka meniaraplah segenap rakyat dan sujud menyembah serta melambungkan lagu pujian ke Sorga, kepada Yang memberikan hasil baik kepada mereka.
4:56 Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah korban bakaran, korban keselamatan dan korban pujian.
4:57 Bagian depan Bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya.
4:58 Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus.
4:59 Yudas serta saudara-saudaranya dan segenap jemaah Israel menetapkan sebagai berikut: Perayaan pentahbisan mezbah itu tiap-tiap tahun harus dilangsungkan dengan sukacita dan kegembiraan delapan hari lamanya tepat pada waktunya, mulai tanggal dua puluh lima bulan Kislew.

Luk. 19:45-48

19:45 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
19:46 kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
19:47 Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
19:48 tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.



Tuhan Allah  dan Fokus Kita

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Santa Sesilia, Perawan Martir pelindung paduan suara. Dalam kisah Sesilia, antara fakta, dan legenda bercampur aduk. Namun bahwa kesaksiannya dipenggal karena menjaga keperawanannya dengan menolak bujukan penguasa itu pasti.
Ia anak dari seorang yang cukup terpandang dan berasal dari kota yang cukup baik di dalam menghasilkan para tokoh Roma kala itu. Ia dinikahkan dengan seorang pemuda yang baik meskipun kafir. Padahal sejak kecil ia memiliki janji pribadi untuk tetap suci.
Kebaikan hatinya dan ketaatannya pada orang tua, malah membimbing suaminya menjadi Kristen juga, dan Valerianus lebih dulu dibunuh karena kesaksian imannya. Kesuciannya jelas tidak diragukan lagi.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita hari ini juga merenungkan bagaimana Yesus itu fokus pada Tuhan Allah Bapa-Nya.Bait Allah di mana seharusnya menjadi tempat untuk memuji dan memuliakan Allah, namun malah menjadi tempat berdagang.
Ingat persembahan yang hendak dijadikan korban-pun tidak lepas dari kepentingan bisnis para “penguasa” Bait Allah. Sangat wajar dan biasa bahkan era abad itu, sudah ada politisasi dan kapitalisasi agama. Penentu kualifikasi hewan korban ada pada otoritas mereka, ahli agama dan imam agung, dan di sana upeti dan sogok juga berbicara.
Kadang, kita pun berdagang dengan Tuhan, ketika berdoa, berderma, atau beribadah berhitung untung rugi, memohn lebih banyak dari pada bersyukur. Jangan salah, ada pula dalam benak dan hati kita, ketika memberikan, berbagi dengan banyak berharap agar mendapatkan pahala atau lipatan atas apa yang kita berikan. Di sinilah kesalahan dan pemahaman yang perlu kita luruskan. Perbuatan baik karena Tuhan sudah berbuat baik terlebih dahulu. Kita menerima dengan gratis tis, mosok masih berhitung memperoleh keuntungan dari sana.
Dalam berkegiatan baik pelayanan dalam dewan atau lingkungan,  sangat mungkin kita jatuh dan terperosok untuk mendapatkan keuntungan, fasilitas, kemudahan, atau hal-hal yang lainnya. Itu tidak salah, karena toh bekerja layak mendapatkan upahnya, namun menjadi tidak patut dan kurang pas, karena di dalam Tuhan, sebaiknya kita bersikap tulus dan iklas. Ini adalah perjuangan.
Ketulusan Sesilia adalah teladan kita, apapun di dalam Tuhan adalah mungkin. Dan proses ke sana yang harus terus menerus kita bangun dan sadari setiap saat. BD.eLeSHa.

Tuhan Melawatimu, Sadar dan Syukurilah!


Pw. SP Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)
1 Mak. 2:15-29
Mzm. 50:1-2,5-6,14-15
Luk. 19:45-48




1 Mak. 2:15-29

2:15 Kemudian para pegawai raja yang bertugas memaksa orang-orang Yahudi murtad datang ke kota Modein untuk menuntut pengorbanan.
2:16 Banyak orang Israel datang kepada mereka. Adapun Matatias serta anak-anaknya berhimpun pula.
2:17 Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias: "Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat saudara.
2:18 Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi penetapan raja, sebagaimana telah dilakukan semua bangsa, bahkan orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tertinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya saudara serta anak-anak saudara termasuk ke dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!"
2:19 Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang: "Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda,
2:20 namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami.
2:21 Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan.
2:22 Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!"
2:23 Matatias belum lagi selesai mengucapkan perkataan tadi maka seorang Yahudi sudah tampil ke muka di depan umum untuk mempersembahkan korban di atas perkorbanan di kota Modein menurut penetapan raja.
2:24 Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya serta meluap-luaplah geramnya yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat perkorbanan itu.
2:25 Petugas raja yang memaksakan korban itu dibunuhnya pula pada saat itu juga. Kemudian perkorbanan itu dirobohkannya.
2:26 Serupalah kerajinannya untuk hukum Taurat itu dengan apa yang telah dilakukan dahulu oleh Pinehas kepada Zimri bin Salom.
2:27 Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein: "Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya ia mengikuti aku!"
2:28 Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.
2:29 Kemudian turunlah ke padang gurun banyak orang yang mencari kebenaran dan keadilan.


Luk. 19:45-48

19:41 Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,
19:42 kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.
19:43 Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan,
19:44 dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.



Tuhan Melawatimu, Sadar dan Syukurilah!

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah. Peranan Maria menjadi penting, ketika berkaitan dengan bacaan hari ini, Allah melawat umat-Nya. Lawatan, kunjungan, dan kedatangan Allah ke dunia, melalui Putera-Nya dan Maria yang mengandung-Nya. Ini menjadi penting, tanpa peran Maria, tata Keselamatan Allah sungguh berbeda.
Kita kadang dan malah sering pula, berseru-seru memanggil dan mengeluh mengapa Tuhan abai akan doa-doa kita. Apakah benar demikian? Tidak. Kitalah yang lalai mendengarkan Tuhan yang sedang berbincang dan melawati kita. Kita asyik dengan pola pikir, dengan pola tindak, dan keinginan, rancangan, serta haraan-harapan kita. Namun melupakan Tuhan juga memiliki rancangan dan kehendak atas kita. Rancangan-Nya yang perlu kita pahami, mengapa?
Tuhan memberikan kepada kita yang terbaik, karena Allah memiliki pandangan, wawasan, dan cakupan jauh lebih luas. Tidak sesempit dan sepenggal-sepenggal seperti yang kita pahami. Di sinilah kadang perbedaan itu membuat kita salah memahami kapan Allah hadir dan mendengarkan kita.
Kita hidup di dalam alam ketidaksadaran. Hidup di dalam angan, bayangan, dan rancangan yang sering berlebihan. Seperti orang menantikan kendaraan umum di jalan raya, ketika terlewat baru sadar. Di sinilah peran kesadaran, ketika Tuhan hadir, kita malah asyik dengan pemikiran dan rancangan kita. Padahal kehendak dan rancangan Tuhan pasti jauh lebih baik dan benar.
Saudara terkasih, selain kesadaran, kita juga perlu namanya syukur. Jika tidak bisa bersyukur, kita tidak akan melihat keterlibatan Tuhan dalam segala aspek hidup kita. Hidup ini adalah medan untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan dan perbuat. Kita ini bukan apa-apa, tanpa Tuhan. Jangan merasa besar, ketika apa yang di hadapan kita pun semua dari Tuhan.
Syukur membuat kita mampu melihat karya Tuhan dan karya sesama sebagai kepanjangan dan alat Tuhan. Kita tidak ada apa-apanya, jika mau menyadari ini. Kesadaran yang akan membawa sikap syukur. Dan acap kali kita jatuh pada sikap abai karena tidak sadar.
Kesadaran dan sikap syukur juga perlu dibina. Tidak akan serta merta bisa begitu saja jika kita tidak pernah mengolah dan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup. BD.eLeSHa.

Rabu, 20 November 2019

Bertanggung Jawab dan Kepercayaan


Rabu Pekan Biasa XXXIII (H)
2 Mak. 7:1,20-31
Mzm. 17:1,5-6,8b,15
Luk. 19:11-28




2 Mak. 7:1,20-31

7:1 Terjadi pula yang berikut ini: Tujuh orang bersaudara serta ibu mereka ditangkap. Lalu dengan siksaan cambuk dan rotan mau dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram.
7:20 Tetapi terutama ibu itu sungguh mengagumkan secara luar biasa. Ia layak dikenang-kenangkan baik-baik. Ia mesti menyaksikan ketujuh anaknya mati dalam tempo satu hari saja. Namun demikian, itu ditanggungnya dengan besar hati oleh sebab harapannya kepada Tuhan.
7:21 Dengan rasa hati yang luhur dihiburnya anaknya masing-masing dalam bahasanya sendiri, penuh dengan semangat yang luhur. Dengan semangat jantan dikuatkannya tabiat kewanitaannya lalu berkatalah ia kepada anak-anaknya:
7:22 "Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandungku. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing!
7:23 Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kamu, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya."
7:24 Adapun raja Antiokhus mengira bahwa ibu itu menghina dia dan ia menganggap bicaranya suatu penistaan. Anak bungsu yang masih hidup itu tidak hanya dibujuk dengan kata-kata, tetapi sang raja juga menjanjikan dengan angkat sumpah bahwa anak bungsu itu akan dijadikannya kaya dan bahagia, asal saja ia mau meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya. Bahkan ia akan dijadikannya sahabat raja dan kepadanya akan dipercayakan pelbagai jabatan negara.
7:25 Oleh karena pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali, maka sang raja memanggil ibunya dan mendesak, supaya ia menasehati anaknya demi keselamatan hidupnya.
7:26 Sesudah ia lama mendesak barulah ibu itu menyanggupi untuk meyakinkan anaknya.
7:27 Kemudian ia membungkuk kepada anaknya lalu dengan mencemoohkan penguasa yang bengis itu berkatalah ia dalam bahasanya sendiri: "Anakku, kasihanilah aku yang sembilan bulan lamanya mengandungmu dan tiga tahun lamanya menyusuimu. Akupun sudah mengasuhmu dan membesarkanmu hingga umur sekarang ini dan terus memeliharamu.
7:28 Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikianpun bangsa manusia dijadikan juga.
7:29 Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya, hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu dan terimalah maut itu, supaya aku mendapat kembali engkau serta kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak."
7:30 Ibu itu belum lagi mengakhiri ucapannya itu, maka berkatalah pemuda itu: "Kamu menunggu siapa? Aku tidak mentaati penetapan raja. Sebaliknya aku taat kepada segala ketetapan Taurat yang sudah diberikan oleh Musa kepada nenek moyang kami.
7:31 Niscaya baginda yang menjadi asal usul segala malapetaka yang menimpa orang-orang Ibrani tidak akan terluput dari tangan Allah.



Luk. 19:11-28

19:11 Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.
19:12 Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
19:13 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
19:14 Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.
19:15 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
19:16 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.
19:17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
19:18 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.
19:19 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.
19:20 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.
19:21 Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.
19:22 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.
19:23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
19:24 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.
19:25 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.
19:26 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.
19:27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku."
19:28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.



Bertanggung Jawab dan Kepercayaan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana kita di dalam mempersiapkan kedatangan Kerajaan Surga itu perlu sikap bertanggung jawab. Kadang kita malah terlena dan tergoda untuk asyik mendapatkanhanya sebuah titik terang, tanda, atau hal-ikhwal yang berkaitan itu. Kapan kira-kira datangnya waktu itu, atau malah memperkirakan si A adalah utusan untuk memberikan simbol dan tanda waktunya.
Dalam hidup sehari-hari kita pun memiliki tanggung jawab dalam arti yang sangat beragam. Anak, ibu, bapak, pastor, pegawai, atau apapun itu. bagaimana mengisi dan menjadikan tanggung jawab itu sebagai medan mempersiapkan datangnya Kerajaan Surga. Kita dapat merenungkan bagaimana perilaku kita di dalam sikap ini. Ada orang  mengabdikan diri, melayani, kegiatan ini dan itu di Gereja. Ini tidak salah ini baik, asal bukan karena pelampiasan, atau malah merugikan keluarga. Kepentingan keluarga terbengkalai. Tuhan tidak menghendaki yang demikian.
Pelayanan yang baik dan benar akan memperoleh dukungan penuh keluarga, tidak akan ada ungkapan, hanya bisa bicara di kegiatan, keluarganya sendiri berantakan atau minimal tidak terurus. Sebaliknya, ada yang mengutamakan keluarga, malah melupakan  tanggung jawabnya untuk melayani Gereja dan Tuhan. Jelas dengan kapasitas dan tanggung jawab yang berbeda.
Kadang anak dididikuntuk rajin dalam studi, namun abai dalam sikap dan tanggung jawabnya sebagai bagian Gereja dan masyarakat. Di rumah tidak tahu cara menggunakan sapu, di masyarakat tidak paham bagaimana menghormati orang tua.  Dan kadang orang tuapun bersikap yang sama. Terlalu ekstrem di dalam menyikapi keadaan.
Saudara terkasih, tanggung  jawab itu persiapan menyongsong kedatangan Kerajaan Surga. Bagaimana memberikan dampak, hasil, buah, dan bukan hanya kebanyakan wacana dan gagasan kosong semata.
Dalam bacaan Injil hari ini kita belajar merenungkan bagaimana tuan yang memberikan kepercayaan kepada masing-masing anak buahnya. Mereka menghasilkan dan memberikan dampak. Dari sanalah kepercayaan yang lebih besar diberikan. Penilaian itu dari buah yang dihasilkan.
Bagaimana yang tidak menghasilkan? Jangan harap mendapatkan kepercayaan lagi apalagi kepercayaan yang lebih besar. Tanggung jawab itu akan memberikan kepercayaan jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. BD.eLeSHa.

Selasa, 19 November 2019

Sudahkah Menemukan Tuhan Hari ini?


Selasa Pekan Biasa XXXIII (H)
2 Mak. 6:18-31
Mzm. 4:2-3,4-5,6-7
Luk. 19:1—10



2 Mak. 6:18-31

6:18 Eleazar adalah seorang ahli Taurat yang utama. Ia sudah lanjut umurnya dan terhormatlah tampan rupanya. Ia dibuka mulutnya dengan kekerasan dan begitu dipaksa makan daging babi.
6:19 Tetapi dengan mengutamakan kematian terhormat dari pada hidup ternista ia menuju tempat pukulan dengan rela hati, setelah daging itu dimuntahkannya kembali.
6:20 Dan demikian mestinya tindakan orang yang berani menolak apa yang bahkan karena cinta kepada hidup sekalipun tidak boleh dikecap.
6:21 Tetapi para pengurus perjamuan korban yang tak halal menyendirikan Eleazar, oleh karena sudah lama mereka kenal baik dengan orang itu. Lalu mereka mengajak dia untuk mengambil daging yang boleh dipakai dan yang dapat disediakannya sendiri. Cukuplah kalau dari daging korban itu ia hanya pura-pura makan apa yang dititahkan raja.
6:22 Dengan berbuat demikian ia dapat meluputkan diri dari kematian dan mendapat perlakuan baik demi persahabatan lama di antara mereka.
6:23 Tetapi Eleazar mengambil keputusan mulia, yang pantas bagi umurnya, bagi kehormatan usianya, bagi ubannya yang jernih dan teramat mulia, pantas bagi cara hidupnya yang jernih sejak masa mudanya dan terlebih pantas bagi perundang-undangan suci yang diberikan oleh Allah sendiri. Dengan tegas dimintanya, supaya segera dikirim ke dunia orang mati saja.
6:24 Katanya: "Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.
6:25 Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura demi hidup yang pendek dan fana ini dan dalam pada itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku.
6:26 Kalaupun sekarang aku lolos dari dendam dari pihak manusia, tetapi tidak dapatlah aku melarikan diri dari tangan Yang Mahakuasa, baik hidup maupun mati.
6:27 Dari sebab itu dengan berpulang sebagai lelaki aku sekarang mau menyatakan diri layak bagi usiaku.
6:28 Dengan demikian akupun meninggalkan suatu teladan luhur bagi kaum muda untuk dengan sukarela yang mulia mati bagi hukum Taurat yang mulia dan suci itu." Setelah berkata demikian, Eleazar segera menuju tempat siksaan.
6:29 Adapun orang-orang yang mengantarnya ke sana merubah kesudian yang belum lama berselang mereka taruh terhadapnya menjadi permusuhan. Itu dikarenakan oleh perkataan yang baru diucapkan Eleazar dan yang mereka pandang sebagai kegilaan belaka.
6:30 Ketika sudah hampir mati karena pukulan-pukulan, maka mengaduhlah Eleazar, katanya: "Bagi Tuhan yang mempunyai pengetahuan yang kudus ternyatalah bahwa aku dapat meluputkan diri dari maut dan bahwa aku sekarang menanggung kesengsaraan hebat dalam tubuhku akibat deraan itu. Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya itu dengan suka hati karena takut akan Tuhan."
6:31 Demikian berpulanglah Eleazar dan meninggalkan kematiannya sebagai teladan keluhuran budi dan sebagai peringatan kebajikan, tidak hanya untuk kaum muda saja, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya.



Luk. 19:1--10

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."




Sudahkah Menemukan Tuhan Hari ini?

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan pencarian Tuhan dan kasih karunia-Nya yang tak terbatas itu. Bagaimana Zakheus yang pendek, pemungut cukai, dan pendosa bagi konteks Yahudi kala itu, malah mendapatkan anugerah, menjadi tempat makan Tuhan Yesus. Ia memanjat pohon untuk mengatasi tubuhnya yang pendek, demi melihat dan bisa menyaksikan Yesus.
Acap dalam hidup kita, kita terpaku dengan kekurangan kita. Kita fokus dengan kelemahan kita, kita tidak berusaha untuk memperkuat dengan melibatkan Tuhan dalam hal ini. Lihat bagaimana perjuangan Zakheus yang pendek itu bisa memenuhi keinginannya menyaksikan Yesus, pribadi yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Usaha yang tidak sia-sia.
Makan siang itu juga menjadi ajang pengajaran para guru era itu. Di sana para guru mengajarkan ilmu pengetahuan, terutama mengenai Taurat Musa, dan Yesus juga mengajarkan ajaran-Nya mengenai keselamatan yang sudah datang. Persoalan yang kemudian timbul adalah, bahwa biasanya yang datang adalah kelompo elit, orang-orang yang terpelajar, kalangan ahli-ahli Taurat dan bukan pendosa seperti pemungut cukai.
Pemungut cukai malah menjadi tuan rumah pengajaran dari Yesus. Aneh dan kontroversial. Itulah keselamatan ala Yesus. IA datang untuk menyelamatkan domba yang sesat. Domba yang juga anak-anak Abraham. Konsep anak Abraham bukan hanya yang saleh semata, namun juga yang berdosa, namun mau mencari dan menemukan Tuhan.
Perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah dan menghasilkan buah yang melimpah. Ia membagikan setengah harta miliknya. Dan sangat mungkin sebagai pemungut cukai ia mengambil lebih, atau memeras. Dan ia berjanji untuk mengembalikan empat kali lipatnya. Perjumpaan yang mengubah, bahkan berbalik arah menuju kepada kebaikan. Bagaimana buah itu melimpah di dalam Tuhan. Si pendosa dan pemungut cukai memberikan hartanya dengan segala bunga yang mungkin pernah ia perbuat yang merugikan pihak lain.
Saudara terkasih, Tuhan itu Mahakasih, bagaimana gerak batin kita untuk berjumpa, menemui, dan mengenal Tuhan lebih baik dari hari ke hari. Sudahkah kita menyiapkan setiap waktu kita menemukan Tuhan? Seluruh dinamika hidup kita itu bisa melihat dan menemukan Tuhan. Kitapun menjadi wajah Tuhan bagi sesama kita, jika melakukan perbuatan kasih. Menemukan Tuhan dengan bersyukur atas seluruh kasih karunia. Alam ciptaan yang demikian indah, sesama kita yang memerlukan uluran tangan, dan kasih kita, bagaimana sikap kita, rela berbagi atau malah berat hati?
Sudahkah menemukan Tuhan hari ini?BD.eLeSHa.