Kamis, 24 Oktober 2019

Api dan Pertentangan


Kamis Biasa Pekan XXIX (H)
Rm. 6:19-23
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 12:49-53



Rm. 6:19-23

6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.
6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.
6:21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.
6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita


Luk. 12:49-53

12:49 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
12:50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."



Api dan Pertentangan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan yang berbicara mengenai api, roh, semangat, dan iman, dan pada sisi lain soal pertentangan. Bagaimana Tuhan mengatakan datang untuk membawa pertentangan. Jelas ini adalah ungkapan dan tantangan, bagaimana kita mau membangun diri.
Konsekuensi atas salib dan baptisan adalah adanya pertentangan. Api yang dilemparkan sebagai iman, semangat, Roh yang menyala-nyala itu juga membawa konsekuensi yang harus ditanggung. Bagaimana kita hidup itu menjadi penting.
Mengapa ada pertentangan? Karena Tuhan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia. Anugerah dan kasih karunia berupa kebebasan itu dengan cukup beragam. Dan itulah yang menyiptakan perselisihan. Perbedaan dalam membawa dan memikul salib menjadi persoalan. Iri dan dengki lahir, suka cita membuat orang tidak suka, kejahatan bisa membuat orang meradang, pun orang yang mencoba tertib dan taat pun bisa menjadi bahan kejengkelaan.
Baptisan dan panggilan Allah yang memberikan api yang menyala bukan mesti berupa kemudahan lho, sangat mungkin itu adalah kesulitan yang tidak kunjung henti. Dan siapkah kita dengan konsekuensi itu?
Saudara terkasih, jika berbicara mengenai perselisihan dan pertentangan, kita juga akan berbicara sebagai sebuah negara. Bagaimana bangsa ini berdiri atas keberagaman. Dan itu sangat mungkin menjadi daya ledak yang sangat mudah untuk adanya perselisihan dan pertentangan. Di dalam keluarga bisa pecah karena selera acara televisi, malah kini pilihan politik saja memecah belah anak bangsa dalam banyak hal.
Apa yang perlu diingat dan dijadikan tujukan agar tidak mudah pecah dan berselisih? Api, Roh yang Tuhan kirimkan. Tuhan tidak pernah membiarkan manusia itu sendirian, tersesat, dan salah jalan. Tidak mengurangi kebebasan, namun memperlengkapi dengan sarana untuk menyelamatkan anak-anak-Nya. Kasih karunia Tuhan yang selalu hadir, ada, dan memberikan daya hidup.
Pilihan buruk pun Tuhan masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengambil jalan baru kembali kepada kesatuan dengan Tuhan. Keterpisahan itu tidak Tuhan kehendaki, meskipun Tuhan juga tidak melarang setan menggoda manusia. Jika setan dilarang menggoda nanti dikira Tuhan otoriter, kebebasan manusiawi terbatas.
Anugerah Tuhan sungguh besar, mau memilih yang mana? BD.eLeSHa.

Rabu, 23 Oktober 2019

Setiap Orang yang Kepadanya Banyak Diberi,... Dituntut.


Rabu Pekan Biasa XXIX (H)
Rm. 6:12-18
Mzm. 124:2-3,4-6,7-8
Luk. 12:39-48



Rm. 6:12-18

6:12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!
6:16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
6:17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran



Luk. 12:39-48

12:39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
12:40 Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."
12:41 Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?"
12:42 Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?
12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
12:44 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.
12:45 Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,
12:46 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.
12:47 Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.
12:48 Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.



Setiap Orang yang Kepadanya Banyak Diberi,...  Dituntut.

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sabda Tuhan mengenai kesiapan dan konsekuensi atas kasih karunia Allah. dalam bacaan Injil yang cukup banyak bahan permenungan ini, ada beberapa hal yang patut kita renungkan bersama.
Pertama, mengenai siap sedia. Bagi penggemar belanja online, akan mengenal flash sale, di mana barang siapa cepat ia dapat. Betapa kecewanya ketika waktu sudah pas ternyata barangnya sudah kalah cepat dengan pembeli lain. Dan bacaan ini tepat menggambarkan hal itu. Ketika tuan yang dinantikan itu datang, sedang apa kita? Tidur, malas-malasan, atau sedang menjadi penjahat dengan menyiksa anak buah?
Dua, konsekuensi atas kasih karunia. Bagaimana yang diberi banyak juga dituntut banyak. Bagaimana kita sering merasa ada ketidakadilan karena merasa selalu aku, selalu menjadi tumpuan, dan melupakan bahwa Tuhan sudah banyak menganugerahkan untuk bisa berbuat lebih.
Tiga, layak barang siapa diberi lebih akan dituntut lebih bukan? Kan aneh, jika anugerah yang diterima banyak namun maunya memberikan kembali sedikit. Hal yang sering terjadi. Egoisme orang biasanya demikian. Enggan berbagi dan maunya semua untuk diri dan memenuhi hasrat keakuanku saja terlebih dahulu.
Empat, barang siapa memiliki sedikit, anugerahnya itu terbatas, jelas tidak akan dimintai dengan lebih banyak lagi. Hal yang wajar dan logis bukan? Mosok memiliki sedikit dimintai banyak.
Saudara terkasih, sering kita dalam hidup bersama itu salah kaprah. Bagaimana ketika orang terhormat, berpangkat, atau mentereng, apa yang kita lakukan? Ketika mereka berduka atau bersuka ria karena hajatan. Kita akan menyumbang atau melayat lebih banyak. Bandingkan ketika kita memberikan sumbangan pada yang kekurangan. Kita hemat, malah cenderung pelit justru pada orang yang kurang.
Kasih karunia, rahmat, dan anugerah Tuhan itu adil. Keadilan Tuhan itu jelas adil yang paling adil. Yang diberi banyak akan dituntut banyak dan sebaliknya. Tuhan itu tidak pernah salah dan kejam. Lucu ketika Tuhan meminta kepada orang yang tidak IA beri.
Saudara terkasih, kesiapan kita berbuat baik, berbagi, dan memberikan diri juga menjadi penting di dalam menjadi saksi kasih karunia Allah yang tak terbatas. Bagaimana kita bersikap untuk selalu siap dalam keadaan apapun. BD.eLeSHa.

Selasa, 22 Oktober 2019

Berjaga-jaga dan Bersiaplah


Selasa Biasa Pekan XXIX (H)
Rm. 5:12, 15b,17-19,20-21
Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17
Luk. 12:35-38




Rm. 5:12, 15b,17-19,20-21

5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
5:15 Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,
5:21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.


Luk. 12:35-38

12:35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.
12:36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.
12:37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.
12:38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.




Berjaga-jaga dan Bersiaplah

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja bersama kita merenungkan firman Tuhan untuk bersiap-siap, bersiaga, dan tidak malah berleha-leha. Ada sebuah kisah menarik dari tanah leluhur Kekristenan, di mana orang-orang di Jalur Gaza itu selalu membersihkan rumahnya seolah hari ini adalah hari terakhir hidupnya. Mereka mempersiapkan tampilan rumah yang terbaik jika harus menerima tamu pelayat. Mereka tahu bahwa kondisi perang yang tidak berkesudahan itu bisa saja ada “peluru” nyasar.
Konteks sedikit bertolak belakang adalah menunda-nunda demi kesenangan dan kadang kemalasan. Ah nanti saja, lima menit lagi, atau kalau berkaitan dengan ibadah atau spiritual, nanti kalau sudah tua, nanti kalau ekonomi sudah kuat, dan sejenisnya. Ini sering terjadi, dan godaan untuk malas, menunda, dan menyatakan nanti, sebentar lagi itu demikian mudah dan gambang terucap.
Saudara terkasih, jika kita sebagai anak-anak Tuhan masih memlih menunda atau mengatakan sebentar, nanti dulu, bagaimana jika tidak ada lagi nanti atau sebentar. Tidak ada yang tahu kapan waktu kontrak kita itu habis, bisa saat ini, sebentar lagi, atau bertahun-tahun kemudian. Nah jika berkaitan dengan kematian dan keselamatan. Kita harus selalu siap sedia.
Siap sedia kita adalah, jangan berpikir bahwa waktu kita masih panjang. Kesempatan untuk memperbaiki diri masih cukup. Belum tentu. Tuhan bisa setiap saat menjemput kita untuk dibawa kembali. Nah ketika kita hanya hidup menggumbar kesenangan, mencari kenikmatan, mengumulkam kesenangan duniawi dengan memunggungi kehendak Tuhan, di mana siap sedia kita jika demikian?
Dalam bacaan Injil hari ini kita diajak untuk melihat bagaimana pelayan itu selalu siap sedia kapan saja kedatangan tuannya. Tuannya datang di mana sama sekali tidak tahu kapan itu. Apa yang akan terjadi coba jika kita sedang tertidur, atau malah sedang asyik-asyikan berbuat kejahatan?
Saudara terkasih, Tuhan mengajak kita selalu siap sedia ketika waktu Tuhan itu hadir secara personal bagi kita. Dipanggil dengan menjawab siap Tuhan, aku siap kapanpun, dalam kondisi baik di hadapan sesama dan Tuhan.  Semua itu perlu yang namanya kesadaran. Menyadari kasih karunia Tuhan juga perlu sikap sepadan dari kita. BD.eLeSHa.



Senin, 21 Oktober 2019

Harta Milik dan Kekayaan


Senin Pekan Biasa XXIX (H)
Rm. 4:20-25
Luk. 1:69-70,71-72,73-75
Luk. 12:13-21




Rm. 4:20-25

4:20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
4:21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
4:23 Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,
4:24 tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,
4:25 yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

Luk. 12:13-21

12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.



Harta Milik dan Kekayaan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan  bagaimana firman Tuhan yang berbicara mengenai harta milik dan kekayaan. Ada sebagian pihak yang melihat bahwa kekayaan adalah duniawi, sehingga perlu dihindari. Apakah benar Tuhan tidak menyukai dan respek pada kepemilikan?
Kita cek bersama bagaimana Tuhan memberitahukan hal ini melalui bacaan Injil hari ini. Tuhan sejatinya bukan tidak suka atau menghargai kepemilikan, namun sikap orang pada kepemilikan itu yang dipersoalkan. Tuhan menegur orang yang menjadikan harta miliki sebagai pusat dan fokus, sehingga menafikan kemanusian apalagi relasinya dengan Tuhan.
Makna dan arti harta yang berkenan kepada Tuhan, paling tidak adalah ketika kita mampu dan mau berbagi kepada sesama. Sering kita temui bahwa orang akan owel, membagikan harta, bahkan kepada saudara kandung sendiri sekalipun. Jamak kita dengar bukan, bagaimana ribut dan kisruhnya soal harta warisan? Ini karena orang sering melihat harta adalah segalanya.
Harta juga bisa bermakna spiritual, ketika dengan kekayaan itu kita berkarya bagi Tuhan dan sesama. Harta itu dilihat sebagai sarana untuk membantu orang lain. Bisa juga untuk menjadi sarana pengajaran akan Karya Keselamatan Allah dan kasih karunia-Nya yang tidak terbatas itu. Dengan demikian harta itu berdaya guna baik bagi kemanusiaan ataupun mengabarkan khabar suka cita.
Fokus kepada harta bisa juga merusak semangat kerja. Ketika orang hanya melihat nominal dan besaran upah, dan melalaikan tanggung jawab, siap-siap saja menjadi pribadi yang matrealistis. Pun berelasi juga diujur dengan untung rugi. Lebih mengerikan jika berdoa dan menjalin komunikasi dengan Tuhan itu hanya karena hubungan timbal balik. Agar aku mendapat bantuan, materi, dan keuntungan dari doa dan kesalehanku.
Saudara terkasih, jadi Tuhan tidak melihat buruk atas kekayaan. Namun sikap kita terhadap harta yang perlu dimurnikan. Kita toh hanya menjadi saluran rahmat, Tuhan yang memberikan, dan kita sudah selayaknya menyalurkan itu kepada orang yang kekurangan. Dunia ini sebenarnya cukup menghidupi semua orang, karena ketamakan beberapa pihak, sehingga “jatah” pihak lain dikuasi. Jangan sampai kita sebagai anak-anak Allah memonopoli jatah saudara kita. BD.eLeSHa.


Minggu, 20 Oktober 2019

Doa Tak Kenal Jemu dalam Iman dan Usaha


MINGGU PEKAN BIASA XXIX (H)
Kel. 17:8-12
Mzm. 121:1-2,3-4,5-6,7
2Tim 3:14-4:2
Luk. 18:1-12



Kel. 17:8-12

17:8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.
17:9 Musa berkata kepada Yosua: "Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku."
17:10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.
17:11 Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.
17:12 Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.
17:13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang


2Tim 3:14-4:2

3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.


Luk. 18:1-12

18:1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
18:2 Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.
18:3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
18:4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,
18:5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
18:6 Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
18:7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
18:8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"



Doa Tak Kenal Jemu dalam Iman dan Usaha

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana kita berdoa. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk berdoa dalam iman dengan tidak jemu-jemu. Apakah itu cukup demikian saja? Tidak, perlu juga usaha keras dan tekun.
Berdoa di  dalam iman berarti menyerahkan seluruh keputusan pada Tuhan Sang Pemilik, bukan kita yang menjadi penentu. Sering kita di dalam doa bukan memohon, namun memaksa dan mendesak, jika Tuhan tidak mengabulkan kemudian ngambeg. Apakah semua harus dikabulkan seketika, atau menanti sejenak, atau lama? Itu tetap menjadi hal prerogatif Tuhan Allah semata-mata.
Kondisi kita, keadaan kita, atau posisi kita tidak menjadi penentu sama sekali. Ada orang meratap, apa dosaku sehingga mendapatkan kejadian demikian. Seolah manusia  yang biasa balas dendam, Allah Yang adalah Kasih itupun dianggap sama dengan insan. Memberikan balasan kalau kita berdosa. Padahal tidak demikian. IA tidak akan menghianati jati diri-Nya sendiri bukan?
Tidak kenal jemu di dalam berdoa, agar kita selalu hadir, datang, dan menghadap Tuhan, bukan dalam arti Tuhan itu gila hormat, namun sebagai perwujudan kita sebagai ciptaan yang tahu diri, rendah hati, dan pasrah pada Tuhan semata. Mau memohon terus menerus dengan penuh percaya dan iman di dalam Tuhan.
Selain percaya, beriman, dan tidak mengenal jemu di dalam bermohon, kita pun tidak boleh melupakan untuk melakukan usaha dengan tekun dan tidak jemu-jemu juga. Dalam bacaan Injil Tuhan  mengajarkan kepada kita bagaimana usaha tidak kenal lelah itu penting untuk mendapatkan bantuan.
Saudara terkasih, sering kita menjadi putus asa ketika doa kita seolah tidak terkabul dan Tuhan diam saja, kita merasa sia-sia, atau memutuskan, bahwa Tuhan tidak berkenan akan apa yang kita pinta. Padahal bisa saja Tuhan sedang menunggu kita pantas, kita mampu, dan kita bisa memiliki tanggung jawab sepenuhnya. Contoh sederhana saja, coba jika kita sebagai orang tua, anak kita masih SD dan meminta diberlikan ular, meskipun ia suka dan ada kandang, apakah akan kita belikan? Berbeda jika anak kita sudah SMA dan mampu menjaga diri bukan? Sama juga dengan Tuhan, jangan-jangan ketika kita memohon sesuatu malah membuat kita tersesat atau malah menjadi sombong dan arogan dan sewenang-wenang. BD.eLeSHa.

Sabtu, 19 Oktober 2019

Kesaksian itu Keharusan


Sabtu Biasa Pekan XXVIII (H)
Rm. 4:13,16-18
Mzm. 105:6-7,8-9,42-43
Luk. 12:8-12




Rm. 4:13,16-18

4:13 Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
4:16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, --
4:17 seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."


Luk. 12:8-12

12:8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.
12:9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.
12:10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
12:11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.
12:12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."



Kesaksian itu Keharusan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan keberadaan kita di dunia dan peran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Bagaimana kita sering khawatir, galau, cemas, dalam menghadapi dinamika hidup, terutama ketika berkaitan dengan iman dan agama kita. Posisi termasuk paling kecil, banyak perilaku dan kebijakan diskriminatif, suka atau tidak membuat penganut Kekristenan menjadi takut dan gamang.
Perizinan pembangunan gedung gereja yang dipersulit. Ibadah dibubarkan, atau mau menjadi ini dan itu gagal karena agamanya katolik. Orang menjadi takut memperlihatkan jati dirinya. Nama salib dihilangkan dalam surat-surat resmi, demi mendapatkan peluang pekerjaan, kursi, atau promosi jabatan. Apalagi berani menjadi garam dan terang bagi dunia yang gelap gulita dan hambar itu.
Dalam bacaan Injil Tuhan mengatakan dengan jelas bagaimana kita bersikap dan bertindak sebagai anak-anak Tuhan. Berani tidak mengakui keberadaan dan pilihan kita sebagai anak Tuhan? Tuhan dalam konteks yang lain mengatakan, IA yang memilih kita bukan kita memilih DIA. Artinya, Tuhan bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup kita. Bagaimana mungkin IA memilih kita untuk dijerumuskan, untuk disengsarakan, mungkin tidak, ketika Tuhan adalah Mahabaik dan Mahacinta?
Mengakui agamanya saja takut, apalagi imannya kepada Yesus. Membuat tanda salib di tempat umum mana berani ketika nama baptis saja disembunyikan. Apalagi membela ketika ada yang melecehkan dan merendahkan.
Apalogia, pembelaan iman, bukan mau mengajak berdebat atau berkelahi dengan tidak berdasar. Namun meluruskan pemahaman yang salah dan sesat itu juga penting. Tidak usah cemas atau khawatir jika tidak mampu karena berpikir mengenai pendidikan, pengalaman, atau pengetahuan. Ada Roh Kudus yang akan mengatakannya melalui kita.
Tuhan sudah berjanji dan mengatakan akan mengutus Roh Kudus untuk menjadi kekuatan kita, alat kita, dan kita hanya memerlukan keberanian dan kebulatan tekad bahwa ini demi iman kita. Keterbukaan budi, kerendahan hati, dan demi kebenaran serta keadilan itu memberikan jalan bagi Roh Kudus. Namun jangan sampai kita menjadi sombong, merasa paling hebat, dan merasa membela agama dan Tuhan, jika motovasinya demi diri dan kelompok, jelas bukan Roh Kudus dan justru roh jahat yang menguasai kita. BD.eLeSHa.

Jumat, 18 Oktober 2019

Damai Sejahtera Bagi Kamu dan Lukas


Pesta S. Lukas, PenInj (M)
2 Tim. 4:10-17
Mzm. 145:10-11,12-13,17-18
Luk. 10:1-9




2 Tim. 4:10-17

4:10 karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.
4:11 Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.
4:12 Tikhikus telah kukirim ke Efesus.
4:13 Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
4:14 Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya.
4:15 Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita.
4:16 Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku -- kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka --,
4:17 tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa


Luk. 10:1-9

10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.
10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.




Damai Sejahtera Bagi Kamu dan Lukas

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, salah seorang penulis Injil. Dalam bacaan Injil Bunda  Gereja mengajak kita merenungkan bagaimana kita dalam hidup ini berbagi Damai sejahtera. Perutusan Yesus kepada para murid dengan perintah untuk menyatakan damai sejahtera, sebagai permulaan.
Hal yang sangat penting dan mendesak dalam hidup kita hari-hari ini sebagai anak bangsa negara ini. Bagaimana hidup dengan caci maki, kecurugiaan, kekerasan, fitnah, dengki, dan aneka bentuk keburukan yang lain. Miris lagi  tidak jarang mimbar rumah ibadah pun menjadi lahan dan tempat menebarkan kebencian itu. mengerikan.
Damai sejahtera itu harus diupayakan, diciptakan, dan menjadi sebuah  gaya hidup. Jika kita damai, itu akan menular dan menyebar. Jangan menghendaki orang lain yang memulai dan menciptakan, mulailah dari diri kita.
Kita dalam hidup sehari-hari, apalagi dalam dunia serba terhubung ini, mudah diombang-ambingkan. Salah satu tips yang baik, setiap bangun, jangan dulu membukan alat komunikasi dan media sosial. Mengapa? Karena jika membuka media sosial dan apa yang ada di sana bukan yang kita harapkan, keadaan buruk, bukan damai sejahtera di dalam sepanjang hari itu yang ada. Apakah mau merusak hari yang belum dijalani itu, hanya karena khabar yang tidak kita senangi dan harapkan? Sederhana, kekalahan klub sepak bola favorit kita bisa merusak suasana sepanjang hari kog.
Saudara terkasih, Santo Lukas lahir di Antiokia, keluarganya adalah kafir. Antiokia sebagai daerah paling makmur ketiga di Kekaisaran Romawi menjadi lahan untuk  melarikan diri para penganut Kristen perdana karena penganiayaan. Khabar sukacita dan pertobatan salah satunya adalah Lukanos atau Lukas, seorang tabib kenamaan. Ia menemani Paulus menjadi misionaris ke Makedonia, bersama ke Yerusalem, dan jua ke Roma.
Di Yerusalem, Paulus ditangkap dan dibui selama dua tahun. Lukas mengunjunginya secara rutin, kemungkinan besar mulailah ia mengumpulkan bahan-bahan tulisannya. Tulisan Lukas dalam Injil dan bagian pertama Kisah Para Rasul. Melihat bahasa Lukas yang bagus dan halus bisa diperkirakan jika ia seorang yang terdidik.
Keselamatan Lukas sangat mungkin dipengaruhi oleh pandangan Paulus. Ia melihat keselamatan bagi semua orang dan bangsa. Peranan perempuan, dan perhatiannya kepada kaum miskin cukup memberikan warna pengajaran Lukas.BD.eLeSHa.




Kamis, 17 Oktober 2019

Ignatius Antiokhia dan Menantikan Ucapan Yesus


Pw. S. Ignasius Antiokhia, Usk Mrt (M)
Rm. 3:21-30
Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6
Luk. 11:47-54



Rm. 3:21-30

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,
3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.
3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,
3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!
3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!
3:30 Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman


Luk. 11:47-54

11:47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.
11:48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya.
11:49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,
11:50 supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan,
11:51 mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini.
11:52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."
11:53 Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.
11:54 Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.



Ignatius Antiokhia dan Menantikan Ucapan Yesus

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan bagaimana Yesus diintai dan diharapkan salah ucap sehingga mereka bisa mengadili Yesus. Mereka  tersinggung karena Yesus selalu menyatakan kebenaran dan keadilan. Mereka yang terkena dampak akan pernyataan Yesus merasa tersinggung dan marah.
Hari-hari ini kita juga sebagai bangsa dan negara sedang riuh rendah dengan persoalan nyinyir dan hox, di mana bukan semata-mata pernyataan yang berbahaya, namun kali ini adalah screenshot, atau tangkapan layar yang bisa menjadi bahan pelaporan aparat yang mendukung sebuah gerakan ideologis.
Apa yang terjadi sebenarnya identik, hanya saja ketika Yesus diincar karena membela kebenaran, para pelaku media sosial ini berlaku pada sisi sebaliknya. Mereka bukan membela kebenaran dan keadilan, namun mencoba membesarkan paham kelompok dan ideologis mereka yang tidak demikian mereka pahami.
Kita layak berdoa dan memohon, agar tidak tersesat dalam berbicara dan bersikap sehingga jatuh pada pelanggaran hukum. Namun berani membela kebenaran dan keadilan, jika pun bui risikonya. Bisa juga nyawa sebagai taruhan, namun itu berbeda, jika kita menjadi pesakitan karena penuh kebencian.
Saudara terkasih, hari ini kita juga merayakan perayaan Santo Ignatius Antiokhia, di mana ia adalah seorang pembela iman, pujangga Gereja, uskup, yang mengenalkan istilah Gereja Katolik, bagi otoritas atau kewenangan Gereja. Dan hal ini masih dipakai hingga hari ini.
Uskup dari Antiokia ini  banyak  melakukan korespondensi yang dalam isinya mengupas mengenai sakramen, eklesiologi, dan peranan para uskup, sebagai teologi awal. Surat yang ia tuliskan dalam perjalanan menuju Roma sebagai jalan kemartirannya.
Saudara terkasih, ketika Yesus diharapkan tergelincir dengan ucapan-Nya, Ignatius memberikan pengajaran dengan tulisannya. Kebenaran dan keadilan dinyatakan dengan apa adanya, mengenai cara dan modelnya bisa cukup berbeda. Kekuatan tulisan dan ucapan menjadi penting ketika dilakukan dengan motivasi karena kasih dan karunia Allah semata. Yesus tidak takut karena memang IA menyatakan kebenaran di tengah tidakbenaran. Dan Ignasius memberikan penjelasan atas kasih karunia Tuhan itu beberapa waktu kemudian. Ia menyatakan kebenaran Yesus dan bertahan hingga detik ini. BD.eLeSHa.