Minggu, 15 September 2019

Kerahiman Allah, dan Kasih Karunia, serta Pertobatan


HARI MINGGU BIASA PEKAN XXIV (H)
Kel. 32:7-11,13-14
Mzm. 51:3-4,12-13,17,19
1 Tim. 1:12-17
Luk. 15:1-32 (15:1-10)



Kel. 32:7-11,13-14

32:7 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya.
32:8 Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir."
32:9 Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.
32:10 Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar."
32:11 Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: "Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?
32:13 Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya."
32:14 Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.


1 Tim. 1:12-17

1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku --
1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.
1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin


Luk. 15:1-32 (15:1-10)

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.
15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."



Kerahiman Allah, dan Kasih Karunia, serta Pertobatan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan Kemaharahiman Allah di dalam segala suasana hidup menusia. Pun sebaliknya ada upaya dari pihak manusia untuk menjawab dan merespons kebaikan Allah itu dengan semestinya. Dalam bacaan hari ini, kita diberikan beberapa ilustrasi dan contoh untuk merenungkannya dengan lebih dalam.
Bacaan Hari Minggu ini sangat panjang, maka ada versi singkat dan versi lengkap. Jika berangkat dari versi singkat, kita akan diberikan suguhan dua ilustrasi. Pertama mengenai orang yang kehilangan satu ekor dari 100 ekor dombanya. Siapa yang yakin akan meninggalkan yang seekor itu, karena toh masih ada 99?. Nah demikian juga Allah mencari satu saja anak-anak-Nya yang masih tersesat dan belum masuk dalam kawanan.
Penemuan satu ekor ini jauh lebih menimbulkan sukacita daripada 99 ekor yang tidak perlu dicari.  Pertobatan dan kembalinya satu yang terhilang itu membuat suka cita. Sama juga dengan pertobatan satu anak Allah yang pernah salah jalan.
Kedua, mengenai kehilangan uang. Satu bagian persepuluh saja hilang akan diupayakan kembali dan diketemukan. Pemikirannya bukan toh masih banyak, namun merasa jangan sampai ada yang cecer, hilang, dan tidak jelas keberadaannya. Sama halnya dengan Allah Tuhan kita, tidak rela ada anak-Nya yang telantar dan tidak selamat.
Saudara terkasih, versi panjang menambahkan kisah Bapa Baik Hati dan anak durhaka. Kisah klasik yang sering banget kita renungkan. Di mana si bungsu yang meminta warisan dan menghabiskanya. Kemudian ia menyesal dan pulang. Penerimaan si bapak yang dengan tangan terentang memeluk dan juga mengadakan pesta. Gambaran Bapa Maharahim yang menerima anak-anak-Nya yang menyesal dan bertobat.
Sikap iri juga sangat wajar terjadi di dalam diri kita dan dunia kita. Si sulung yang merasa taat, saleh, dan menurut, namun sayang, ternyata ia merasa tidak ikut sebagai pemilik dari kekayaa bapanya. Gambaran kita yang sering merasa saleh, rajin, dan tekun dalam beribadah, namun abai akan sikap syukur, merasa ada di luar kasih karunia Allah.
Saudara terkasih, kasih karunia Allah itu tidak terbatas oleh sikap kita. Namun bahwa sikap kita, perilaku kita, pilihan kita itu berperan dalam menerimanya. Bagaimana si sulung yang tidak merasakan kasih karunia yang berlimpah. Ia malah iri dan sakit hati atas kemurahan si bapa.
Pertobatan dan perbuatan baik adalah sikap dan tanggapan baik untuk menerima, merespons, menjawab kasih karunia Allah dalam hidup kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri, karena sangat mungkin bahwa kita itu pernah salah pilihan, salah jalan, dan pernah tersesat.
Allah tidak menghendaki kita tersesat, terlepas dari kesatuan kasih karunia-Nya sama sekali. Pun ada kesempatan untuk memperbaiki diri agar bisa kembali ke dalam satu kesatuan dengan-Nya.BD.eLeSHa.

Sabtu, 14 September 2019

Salib dan Kasih Karunia Allah


Pesta Salib Suci (M)
Bil.21:4-9
Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38
Flp. 2:6-11
Yoh. 3:13-17



Bil.21:4-9

21:4 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.
21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak."
21:6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
21:7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.
21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."
21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.


Flp. 2:6-11

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa


Yoh. 3:13-17

3:13 Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia



Salib dan Kasih Karunia Allah

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan keselamatan yang dari Allah. senyaampang dengan itu, Gereja Universal juga mengajak kita merenungkan Salib Suci. Peristiwa penemuan kembali Salib Suci pada tanggal ini. Ungkapan iman mendalam dari  Gereja, bahwa Salib adalah jalan keselamatan.
Bacaan Injil hari ini menyatakan, bahwa Allah berkenan mengutus Putera-Nya bukan untuk menghakimi dunia, namun menyelamatkan. Salib yang adalah kehinaan pada awalnya adalah saranaa Allah memuliakan Sang Putera demi selamatnya anak-anak Allah yang telah tersesat.
Menarik dan bagus untuk kita renungkan, bagaimana Tuhan mengutus Putera-Nya bukan untuk menghakimi dunia, namun membawa kembali kepada-Nya. Hal yang membahagiakan, karena pilihan buruk, sesat, dan kesalahan manusia tidak menjadi penghambat kasih karunia-Nya untuk tetap menyelamatkan manusia. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan, jika Tuhan hadir untuk menghakimi kita? Kita jelas sudah tersesat, membantah, dan bahkan kadang ingkar atas kasih karunia-Nya. Namun kita patut berbangga memiliki Tuhan Allah yang adalah Kasih, Mahakasih di mana IA tetap selalu membawa kita kembali. Seberapa jauhnya kita tersesat masih juga IA bantu dan kembalikan pada jalan yang benar.
Salib sebagai sarana dan jalan keselamatan itu tidak mudah. Karena Tuhan berfirman, barang siapa mengikuti AKU  harus memikul salib. Kadang dan bahkan sering kita malah mengesampingkan salib demi enak kita. Mudah dan ringan dengan memotong salib hidup kita. Masing-masing dari kita di dalam hidup ini mendapatkan salib yang tidak jarang kita abai untuk menyadarinya. Mengeluhkan karena keberadaan hidup kita, itu adalah salib kita yang harus kita tanggung.
Secara umum mungkin kita akan susah berekspresi sebagai pengikut Yesus. Ada pembatasan ini dan itu, baik formal ataupun informal dan itu kadang lebih kejam, jahat, dan keji, namun itu adalah konsekuensi. Sampai mati pun masih hal yang sama akan kita tanggungkan. Misalnya, tidak boleh ada kayu salib sebagai nisan kematian kita.
Pembatasan pun bisa terjadi bukan hanya dalam ekspresi iman dan beragama, namun juga hidup sosial dan karier. Adanya kuota tiap agama dalam kabinet, pegawai negeri, jabatan-jabatan publik, itu adalah salib. Pun pembangunan gedung gereja yang tidaklah mudah.
Saudara terkasih, apakah kita berani  memikul salib, atau malah meninggalkannya, atau memotongnya agar ringan? Itu pilihan kita, namun ingat Tuhan sudah mengaruniakah kasih karunia melalui Putera-Nya yang diutus ke dunia ini. BD.eLeSHa.




Jumat, 13 September 2019

Perilaku Munafik dan Yohanes Krisostomus


Pw. S. Yohanes Krisostomus, Usk,PujG (P)
1 Tim. 1:1-2,12-14
Mzm. 16:1,2a,5,7-8,11
Luk. 6:39-42



1 Tim. 1:1-2,12-14

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
1:2 kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku --
1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.
1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.


Luk. 6:39-42

6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.



Perilaku Munafik dan Yohanes Krisostomus


Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan pengalaman rohani dan panggilan Santo Yohanes Krisostmus. Pada bacaan Injil pun selaras dengan apa yang menjadi perjuangan dan tantangan Santo Yohanes Krisostomus. Apa yang patut kita renungkan adala sebagai berikut:
Pertama, dalam bacaan Injil kita diajak melihat bagaimana perilaku kita di dalam hidup bersama ini. melihat kekurangan orang dengan demikian jelas. Namun sering kali abai melihat kekurangan dan kelemahan  sendiri. Padahal tidak jarang kelemahan kita jauh lebih kuat, besar, dan mengganggu.
Kedua, karena merasa lebih dalam banyak hal, kadang kita bak orang buta menuntun orang buta. Apa yang kita lakukan, bukannya membantu malah mencelakakan, termasuk diri sendiri juga ikut celaka. Munafik dan sok tahu bisa menjadi bencana dalam hidup kita.
Ketiga, kita sering tidak mau belajar dan merasa sudah tahu. Ini menjadi masalah dari kedua poin di atas. Merasa diri tahu ini adalah awal dari maut.
Keempat, pengalaman dan panggilan Yohanes Krisostomus, santo ini anak dari kelas bangsawan. Ia dididik dengan tekun dan sebagai seorang anak pejabat pada eranya. Pada usia remaja dan dewasa awal ia belajar ilmu orasi. Ilmu berkotbah dan berbicara. Termasuk siswa yang berprestasi. Namun panggilan Tuhan mengubahnya menjadi seoraang imam. Belajar menjadi rahib dan akhirnya ditahbisakan sebagai seorang imam.
Kemampuannya berorasi menjadikannya ia imam yang menyenangkan, sekaligus mengesalkan bagi dunia yang terkena dampak kritikannya. Pembesar negeri dan gereja terkena kritikan-kritikannya. Berbeda dengan umat yang sangat menghormati dan menyenangi gaya berkotbahnya.
Suatu saat ia diasingkan karena kritikannya yang membuat panas baik pejabat gereja dan kota di mana ia menjadi imam. Umat yang mengasihinya menuntut untuk Yohanes dikembalikan. Desakan yang hebat itu membuat mereka mengembalikan Yohanes pada posisinya. Kembali banyak yang tersinggung atas ajarannya yang menohon para kaum elit yang munafik, kembali ia diasingkan. Pengasingan yang mahaberat dan menjadikannya meninggal di sana.
Nama Krisostomus berarti mulut emas karena kritikan dan ajaran-ajarannya yang ia nyatakan dan tuliskan banyak memberikan pembaruan baik bagi biarawan atau pun umat. Di mana kondisi memprihatikan sedang terjadi. Keberaniannya menyatakan kebenaran hingga mengorbankan dirinya. Layak menjadi teladan dalam iman. BD.eLeSHa.

Do ut Des, Murah Hatilah Seperti Bapa


Kamis Pekan Biasa XXIII (H)
Kol. 3:12-17
Mzm. 150:1-2,3-45-6
Luk. 6:27-28



Kol. 3:12-17

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.


Luk. 6:27-28

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.



Do ut Des, Murah Hatilah Seperti Bapa

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan mengenai betapa murah hatinya Allah dalam hidup kita. Titik pangkal dan awal iman kita adalah Bapa Yang Murahhati. Di mana Tuhan Allah itu memberikan segalanya dengan cuma-cuma,  kita tidak melakukan upaya apapun.
Berangkat dari kasih karunia inilah kita seyogyanya, bahkan sudah layak dan sepantasnya untuk berbuat demikian. Menerima dengan gratis, cuma-cuma,  kita salurkan kembali dengan semestinya juga demikian adanya. Jika tidak memberikan dengan apa adanya, berarti kita laiknya kantong semar  yang hanya menadahkan dan menampung namun tidak mau membagikannya kembali.
Sikap apa yang seharusnya ada dalam diri kita agar dapat berbuat demikian?
Menyadari bahwa kita ini menerima semuanya dari Tuhan. Kita adalah penerima yang sama sekali tanpa daya upaya. Apa yang kita lakukan coba, hanya sederhana saja, mengedipkan mata, apa kita memikirkannya? Apalagi memerintahnya. Apalagi yang lebih rumit dari itu seperti kerja jantung dan sebagainya.
Apa yang  kita terima itu adalah anugerah. Kita layak membagikannya kembali sebagai sarana dan ungkapan syukur atas apa yang kita miliki. Ingat di dunia ini kita unik, sehingga apa yang kita punyai belum tentu orang lain miliki, sebaliknya apa yang orang lain miliki belum tentu kita mempunyai. Dan sikap saling melengkapi menjadi penting.
Do ut des, sikap di mana memberi agar diberi perlu kita sadari sehingga kita tidak memiliki sikap dasar yang seperti itu. Berpamrih, sering kita tidak sadar berlaku demikian dalam hidup bersama, bahkan berhadapan dengan Tuhan. Berdoa, berziarah, berbagi berkat agar mendapatkan balasan dari Tuhan Allah.
Iklas, sikap tulus iklas sehingga apa yang kita lakukan itu bukan karena hendak dan berharap agar memperoleh balasan atau mendapatkan pujian. Melakukan karena kita sudah terlebih dahulu memiliki dan mendapatkannya dari kemurahan Allah.
Saudara terkasih, sikap batin itu perlu pemurnian terus menerus dan perlu dilatihkan sehingga menjadi tabiat, karakter, sehingga spontan menjadi gaya hidup kita. Tidak ada yang tanpa proses panjang dan terus menerus dilakukan. Bersama dengan Roh Kudus tentu kita akan mampu mendapatkan kualitas sebagaimana Bapa Yang Murah Hati. BD.eLeSHa.


Sikap Batin atas Materi


Rabu Pekan Biasa XXIII (H)
Kol. 3:1-11
Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab
Luk. 6:20-26




Kol. 3:1-11

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.


Luk. 6:20-26

6:20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
6:24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
6:25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."



Sikap Batin atas Materi

Sudara terkasih, hari ini kita diajak Bunda Gereja merenungkan siapa yang berbahagia dan siapa yang menderita. Konteks  bahagia dan menderita dalam hal ini adalah berkaitan dengan iman kepercayaan. Jangan sampai hanya memahami dengan konteks harafiah semata-mata. Karena jika demikian, orang  bisa menjadi salah sangka dan salah memahami apa yang sebenarnya harus dimengerti dan diperjuangkan dalam dunia ini.
Ada dua yang perlu dipahami dengan baik, pertama soal  kemiskinan dan kebahagiaan. Apakah Tuhan menghendaki kita miskin dan bisa berbahagia? Tidak sepenuhnya demikian. Namun bahwa orang yang tidak menomorsatukan uang, materi, dan kebendaan itu bisa berlaku bebas dan merdeka. Kecemasan akan hartanya minim. Mau berbagi dan tidak hanya mengumpulkan apalagi jika sampai berperilaku tamak.
Berkaitan pula dengan sikap permusuhan, atau dibenci karena kepercayaan dan iman kepada Tuhan, itu adalah kebahagiaan kita sebagai anak Tuhan sejatinya. Bukannya malah kita takut dan kalah kemudian mengalah demi jabatan dan harta misalnya. Inilah kesempatan kita memberikan kesaksian. Tuhan bersabda bahwa kita akan diberikan suka cita dan damai sejahtera.
Kedua, mengenai kekayaan. Tuhan bukan membenci dan menyalahkan kekayaan, namun sikap manusiawi kita  terhadap harta. Bagaimana sikap batin kita. Jika memuja harta, materi, dan uang adalah segalanya, itulah yang Tuhan nyatakan dalam bentuk kejengkelan. Orang akan celaka jika mendewakan materi dalam hidupnya. Biasanya orang yang menilai uang segalanya itu juga akan susah dan enggan berbagi.
Orang yang gila pujian, orang yang hanya mengejar kata orang, atau pribadi yang haus  akan pengakuan dan pujian dari orang lain. Fokus mereka adalah penerimaan, sehingga abai akan ketulusan dan kepedulian akan orang lain.
Saudara terkasih, apa yang Tuhan kehendaki ialah bahwa kita berorientasi pada orang lain terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena Tuhan  Allah memberikan contoh, keteladanan, dan Putera-Nya sebagai bukti kepeduliaan pada anak-anak-Nya. Kasih Allah luar biasa, memberikan Putera-Nya sendiri demi selamat kita. Ketulusan kita pun diharapkan bisa berlaku demikian. Mau berbagi, mau peduli, dan bersama-sama untuk memuliakan Allah.

Selasa, 10 September 2019

Berdoa Laiknya Yesus


Selasa Pekan Biasa XXIII (H)
Kol. 2:6-15
Mzm. 145:1-2,8-9,10-11
Luk. 6:12-19



Kol. 2:6-15

2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
2:8 Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,
2:10 dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.
2:11 Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,
2:12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.
2:13 Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,
2:14 dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:
2:15 Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka


Luk. 6:12-19

6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
6:13 Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:
6:14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,
6:15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,
6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
6:17 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
6:19 Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya



Berdoa Laiknya Yesus

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan hal berdoa. Mempersiapkan segala sesuatu dengan berdoa. Dalam bacaan Injil hari ini kita menyaksikan bagaimana Yesus berdoa di tengah kesibukannya. Ia menyempatkan diri, menimba energi dari Bapa-Nya. Berdoa menjadi penting dan pusat hidup Yesus, dan kita pun diharapkan demikian.
Usai berdoa apa yang diperbuat Yesus adalah perbuatan besar, memilih para rasul. Di sana jelas apa yang Tuhan lakukan adalah perbuatan besar. Dampaknya hingga ribuan tahun dan hingga hari ini. Sering orang  lupa atas kekuatan dan kuasa doa. Dalam hidup bersama lihat bagaimana orang bisa hingar bingar merencanakan ini dan itu, namun abai akan doa. Melupakan spiritualitas. Ada pun doa yang dipolitisir, doa yang dijadikan komoditi. Di sinilah apa yang tidak sepantasnya terjadi.
Doa itu komunikasi, ada dialog, ada saling mendengarkan, ada kesempatan Allah berbicara dan memberikan jawaban atas permohonan kita. Kita di dalam doa bukan hanya memohon atau mengeluh kepada Tuhan. Benar bahwa memohon kepada Tuhan, berkeluh juga lebih tepat, namun tidak hanya itu. Sediakan kesempatan Tuhan untuk menunjukkan belas kasih-Nya, memberikan perhatian-Nya.
Jika doa hanya diartikan memohon dan mengeluh, itu belum doa, itu hanya sebagian dari doa. Kita perlu belajar, bahwa di dalam doa kita ada Tuhan yang menantikan kedatangan kita. Lha apa iya, datang kog hanya mengeluh dan meminta saja? Tuhan memang mengatakan datanglah kepada-Ku yang letih lesu.
Saudara terkasih, Yesus memberikan kepada kita sikap keteladanan. Di mana DIA berdoa ketika IA mau mengambil keputusan dan tindakan yang besar. Memilih para murid bukan hal yang kecil. Jadi, jika kita mau memilih jalan hidup, pasangan hidup, atau memutuskan sekolah atau pekerjaan libatkan Tuhan. Kemampuan diri baik, namun itu tidak cukup.
Hasilnya jelas, sebagaimana dalam bacaan Injil. Yesus melakukan tindakan mesianik, Ia menyembuhkan orang sakit dan mengusir orang-orang kesurupan. Ini hanya bisa dilakukan Mesias, konteks budaya waktu itu.
Kasih karunia Allah tidak pernah berhenti, kasih karunia-Nya tidak terbatas, namun ada pula upaya kita untuk berdoa. Memohon juga bersyukur. Berkomunikasi dan menjalin relasi di dalam dan bersama Allah. BD.eLeSHa.