Rabu, 24 Juli 2019

Buah Iman


Rabu Pekan Biasa XVI (H)
Kel. 16:1-5,9-15
Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28
Mat. 13:1-9



Kel. 16:1-5,9-15

16:1 Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.
16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;
16:3 dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."
16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.
16:9 Kata Musa kepada Harun: "Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu."
16:10 Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun -- maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan.
16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
16:12 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu."
16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.
16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.
16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.


Mat. 13:1-9

13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"



Buah Iman

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya mengenai buah dari hidup beriman kita. Perumpamaan yang Tuhah sampaikan hari ini dari dunia pertanian, agraris yang dalam konteks pengajaran dulu adalah mata pencarian para pendengar Yesus. Mereka paham bagaimana menabutr itu. Benih itu seperti apa dan bagaimana akan terjadi para pendengar sangat memahami.
Ada tiga jenis keberadaan benih, ada yang jatuh di atas batu dan jalanan, di mana benih itu tidak akan mampu hidup dengan baik. Malah cenderung sejak awal sudah tidak sehat dan akan mati. Masih lumayan jika sempat hidup, ada yang langsung disambar hewan, atau bahkan terinjak orang lalu lalang.
Hal yang berlaku dalam hidup beriman kita, jika kita jatuh dalam  tempat yang tidak  kondusif, tidak subur, siap-siap saja kita akan mati dengan segera. Kita hidup di dalam cengkeraman  mara bahaya dan kita tidak memiliki daya dan upaya untuk berubah.
Ada pula benih yang jatuh di atas tanah namun sangat tipis, memang tumbuh, namun jangan berharap akan bisa bertumbuh dengan baik. Godaan, gangguan, dan terpaan angin kecil saja sudah menumbangkan benih yang baru tumbuh tersebut. Benih itupun mati tanpa berbuah.
Gambaran hidup beriman di mana iman itu tidak memiliki cukup bekal untuk bisa bertahan, apalagi jika berharap hidup. Himpitan dari lingkungan sedikit saja membuat ketakutan dan mati iman. Dalam era modern ini banyak gangguan dan godaan untuk mematikan iman kita.  Harta benda, kedudukan, kekayaan, kekuasaan bisa membuat kita terlena dan mati, tanpa berbuah iman kita. Tawaran dunia lebih menarik dan membawa kita mengorbankan iman kita.
Benih yang baik itu jatuh di tanah yang subur, benih memang mati, namun menjadi tunas dan pohon yang bisa menghasilkan buah melimpah. Tanah yang subur, ada pemeliharaan, ada upaya tumbuh bersama Penabur Agung, dan hasilnya adalah panenan.
Saudara terkasih, kita bisa menjadi benih yang jatuh di mana saja, namun bahwa kita perlu juga mengupayakan untuk selalu tumbuh, berbuah, dan berdaya guna. Itu semua hanya   bisa di dalam kebersamaan dengan Tuhan. Di dalam Tuhanlah kita mampu berbuah. Jauh dari Tuhan, kita mati. Iman itu perlu buah, buah itu bisa dilihat dari hidup kita sehari-hari.BD.eLeSHa.


Selasa, 23 Juli 2019

Kita adalah Saudara Tuhan


Selasa Pekan Biasa XVI (H)
Kel. 14:21-15:1
Kel. 15:8-9,10,12,17
Mat. 12:46-50




Kel. 14:21-15:1

14:21 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.
14:22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.
14:23 Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka -- segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda -- sampai ke tengah-tengah laut.
14:24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.
14:25 Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: "Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab TUHANlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir."
14:26 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda."
14:27 Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.
14:28 Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka.
14:29 Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.
14:30 Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut.
14:31 Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.
15:1 Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN yang berbunyi: "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.



Mat. 12:46-50

12:46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.
12:47 Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau."
12:48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?"
12:49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
12:50 Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.




Kita adalah Saudara Tuhan

Saudara terkasih, hari ini  Bunda Gereja mengajak kita merenungkan siapakah ibu dan saudara kita. Dalam bacaan Injil Yesus mengajarkan  kepada kita bagaimana IA memandang ibu dan sudara itu berbeda dengan pandangann para murid dan para pendengar-Nya. Maria dengan saudara Yesus mencari DIA. Yesus bukan menolak Maria dan saudara-Nya itu sebagai ibu dan kerabat-Nya, bukan itu maksudnya, namun bahwa siapa saja yang melakukan kehendak Tuhan itu adala saudara di dalam Tuhan.
Hal yang biasa, sering kita alami, sering kita yakini dan jadi model kita di dalam melihat atau memandang saudara itu adalah kaitan dengan darah, berkaitan dengan keturunan, kesamaan dalam suku, bahkan kadang dalam kesukaan dan hobi bisa menjadi saudara. Sangat mungkin terjadi, apalagi di masa modern yang betapa mudah menemukan perbedaan ataupun persamaan.
Kadang juga orang yang sebenarnya saudara namun karena adanya kondisi yang membuat malu, sungkan, atau yang lain bisa malah pura-pura tidak kenal. Ada yang karena kemiskinan, atau tersandung kasus hukum. Masih banyak yang ingat jika dulu ada label ekstapol atau eksormas tertentu adalah kiamat, seperti dekat-dekat dengan orang berpenyakit kusta.
Ada pula yang merasa dekat, merasa saudara jika pribadi itu kaya raya, penguasa, atau orang tenar. Dunia memang demikian adanya. Sangat mungkin terjadi, dan juga menjadi gaya hidup di dalam umat beriman. Merasa ikut tenar, ikut aman, atau ikut berjaya mungkin, jadi biasa mengaitkan dengan tokoh-tokoh hebat dan besar. Namun apakah demikian?
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa Ibu Yesus, saudara Yesus adalah yang melakukan kehendak Allah Bapa dalam hidup sehari-hari. Kehendak Allah itu apa? Mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan sepenuh hati. Jelas parameternya, bukan yang kaya, tenar, viral, atau yang berkuasa, namun yang mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati dan seperti diri sendiri. Jelas takarannya, bagaimana mengaku sebagai anak Tuhan, namun keji terhadap sesama, mengabaikan keluarga atas nama  pelayanan. Atau mengaku mengasihi keluarga namun abai akan Tuhan dan Gereja-Nya. BD.eLeSHa.


Tipologi Pemuridan dari Maria Magdalena


Pesta S. Maria Magdalena (P)
2 Kor. 5:14-18
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yoh. 20:1-2, 11-18




2 Kor. 5:14-18

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.
5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
5:16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.
5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.



Yoh. 20:1-2, 11-18

20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."
20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."
20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."
20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya



Tipologi Pemuridan dari Maria Magdalena

Saudara terkasih, hari ini kita memperingati Santa Maria Magdalena, pribadi luar biasa, meskipun tidak masuk bilangan para rasul karena murid dalam konteks waktu itu adalah laki-laki, namun ada peran istimewa dalam Gereja dan bersama Tuhan Yesus. Dalam banyak kisah di dalam Injil Maria Magdalena terlibat dalam kisah Yesus.
Ia adalah perempuan yang dibebaskan Yesus dari kuasa dosa. Usai kebebasannya ia memilih menjadi pelayan Yesus di dalam karya dan pengajaran-Nya bersama para perempuan lain. Bersama Bunda Maria, Bunda Yesus, ia juga berada pada kaki salib dalam peristiwa penyaliban. Cukup komplit keberadaan Maria Magdalena di dalam kisah karya Yesus.
Paling fenomenal jelas kesaksian Maria mengenai kebangkitan. Marialah yang pertama sampai ke kubur Yesus yang kosong. Saksi palig awal atas kubur kosong, sebelum Petrus sebagai kepala para murid, Maria sudah terlebih dahulu mendapatkan kebangkitan Yesus. Saksi kunci dan utama, di antara murid yang lain, termasuk Petrus sekalipun.
Saudara terkasih, mengenai kisah Maria Magdalena, kita dapat belajar beberapa hal,
Pertama, perjumpaan dengan Yesus itu mengubah. Pribadi Maria diubah menjadi pelayan setia, bahkan sampai akhir setia menemani Yesus dalam sakrat maut. Perjuangan dalam jalan salib ia ikuti dengan tekun.
Kedua, siapapun bisa dipakai Tuhan dalam karya-Nya. Tuhan tidak melihat masa lalu, namun melihat masa depan. Tuhan tidak melihat apa yang telah terjadi, namun menantikan kesanggupan kita untuk berubah dan berbenah, sebagaimana Maria Magdalena.
Ketiga, pemuridan itu perlu kesetiaan, kesungguhan, dan kesanggupan bersama dengan Sang Guru. Maria Magdalena menjadi tipologi murid yang baik, karena ia selalu ada di dalam perjalanan baik sisi fisik ataupun spiritualitas Sang Guru.
Keempat, Tuhan tidak akan pernah lupa atas apa yang sudah kita lakukan. Lihat kesetiaan Maria mendapatkan balasan menjadi saksi kebangkitan Tuhan. Tuhan mempercayakan peristiwa agung itu kepadanya.
Saudara terkasih, dalam hidup ini kita sering terpaku pada kekuarangan, kelemahan, dan kesalahan kita di masa lampau. Padahal ada Tuhan, ada masa depan, dan ada kesempatan, serta harapan. Pertanyaannya adalah maukah berubah bahkan hingga berbalik arah? Itu yang membedakan murid dan anak-anak Tuhan atau bukan. Siapkah kita berbenah dan berubah? BD.eLeSHa.

Jalani Peranmu!


HARI RAYA MINGGU BIASA XVI (H)
Kej. 18:1-10
Mzm. 15:2-3ab, 3cd-4ab,5
Kol. 1:24-28
Luk. 10:38-42



Kej. 18:1-10

18:1 Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.
18:2 Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,
18:3 serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.
18:4 Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini;
18:5 biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu."
18:6 Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!"
18:7 Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.
18:8 Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan.
18:9 Lalu kata mereka kepadanya: "Di manakah Sara, isterimu?" Jawabnya: "Di sana, di dalam kemah."
18:10 Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.


Kol. 1:24-28

1:24 Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.
1:25 Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,
1:26 yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.
1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!
1:28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus


Luk. 10:38-42

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."



Jalani Peranmu!

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan betapa kita masing-masing memiliki tugas, peran, tanggung jawab, dan pilihan yang berbeda-beda. Apa yang Tuhan kehendaki adalah tidak perlu saling membandingkan, apalagi sampai menjadikan itu sebagai bahan untuk iri hati. Semua memiliki peran, tanggung jawab, dan fungsi masing-masing.
Setiap pribadi, setiap orang, setiap individu memiliki tugas yang berbeda, itu untuk saling melengkapi, saling mengisi, dan saling bersinergi untuk mencapai maksud dan tujuan yang sama. Tujuan untuk mengagungkan, memuliakan, dan mengabdi kepada Tuhan Allah yang sama. Ada yang menjadi polisi, militer, imam, guru, orang tua, biarawan, dan segala jenis pekerjaan, profesi, dan karya masing-masing. Mereka semua bersama-sama dalam sebuah rencana besar Tuhan, untuk mengabarkan khabar gembira.
Ada yang jadi guru untuk mencerdaskan kehidupan bersama sebagai bangsa dan juga Gereja. ada imam untuk menggembalakan. Ada pula umat untuk digembalakan. Penggembalaan akan timpang jika tidak ada pelayan liturgi, katekis, dan segala hal yang bersama-sama membangun Gereja. Apakah mereka bersaing dan bersikap paling merasa berjasa dan menonjol? Jika ada yang merasa demikian, perlu belajar lagi merenungkan bacaan hari ini.
Sangat wajar, biasa, dan normal jika dalam organisasi, lembaga, hidup bersama ada kompetisi, namun jika dibarengi sikap iri, merasa lebih, dan merasa paling berjasa, itu mulai tidak sehat. Dan penyakit itu jangan dikira tidak ada, tidak menghinggapi, dan  menjadi kontaminan dalam hidup menggereja. Nah inilah peran penting sebagai anak-anak Allah. Bagaimana mengalahkan diri.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita diajak untuk melihat peran Marta dan Maria, dua sosok yang berperan dalam pelayanan dengan cukup berbeda. Marta memilih melayani Tuhan dengan aktivitas dan kebutuhan jasmani. Ia sibuk dan repot dengan segala hal mengenai perjamuan Tuhan sebagai tamu, yang harus dijamu dengan makanan dan minuman. Ia repot memasak, menata meja, dan menyediakan hidangan bagi para tamu.
Maria, mengambil peran sebagai murid yang duduk manis di kaki Tuhan Yesus. Ia mendengarkan pengajaran Tuhan sebagai anak dan murid yang baik. Peran pemuridan dan spiritualitas atau hidup doa yang menjadi pilihan Maria.
Marta merasa repot dan sibuk sendirian, timbul  rasa tidak rela melihat adiknya asyik belajar. Sangat umum terjadi. Jawaban Yesus patut kita renungkan lebih dalam, bagaimana IA mengatakan Maria sudah mengambil bagiannya.
Bagian menjadi murid, pilihan untuk hidup doa, dan panggilan untuk kontemplatif pun sama pentingnya di dalam Tuhan. Perbandingan doa atau kerja, tentu bisa mnjadi perdebatan jika tidak mau tahu mengenai bacaan ini. Padahal jika mau merenungkan peran Maria dan Marta ini tidak perlu berselisih dan tahu bahwa keduanya sama penting. BD.eLeSHa.

Sabtu, 20 Juli 2019

Selalu Ada Kesempatan


Sabtu Pekan Biasa XV (H)
Kel. 12:37-42
Mzm. 136:1,23-24,10-12,13-15
Mat. 12:14-21



Kel. 12:37-42

12:37 Kemudian berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak.
12:38 Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka; lagi sangat banyak ternak kambing domba dan lembu sapi.
12:39 Adonan yang dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi, sebab adonan itu tidak diragi, karena mereka diusir dari Mesir dan tidak dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya.
12:40 Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun.
12:41 Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.
12:42 Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN


Mat. 12:14-21

12:14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.
12:15a Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
12:15b Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
12:16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,
12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
12:21 Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."




Selalu Ada Kesempatan


Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa kasih Allah itu tidak berkesudahan. Selalu ada harapan di dalam Tuhan. Tuhan Allah adalah harapan, peluang, dan kesempatan terus menerus. Ada kepercayaan jika peluang itu tidak hadir dua kali, iya jelas, namun ada peluang lain yang berbeda. Tidak hanya dua kali, namun berkali-kali, bahkan terus menerus.
Allah mengatakan buluh yang terkulai tidak dipatahkan, sumbu yang pudar tidak dipadamkan, Allah selalu memberikan kepercayaan, kesempatan, dan peluang sekecil apapun. Berbeda dengan dunia dan manusia apalagi dalam masa modern ini yang berpikir soal kecepatan, peluang yang harus segera diambil, dan yang lemah akan tergilas. Kesempatan tidak ada bagi yang redup, kecil, lemah, dna seolah tidak punya harapan. Kasih Allah berbeda dengan dunia. Dunia menggilas yang lemah, Allah menguatkan yang lemah.
Tuhan Allah mengasihi manusia, manusia itu harus berkesempatan, jangan seperti kepiting dan kawan-kawan, yang besar dan kuat menindas yang lemah. si kecil itu alat untuk menggapai kebebasan dan hidup. Tuhan Allah tidak menghendaki manusia demikian. Allah selalu hadir untuk menguatkan, mendampingi, dan  menyemangati, sehingga nyala yang sudah redup untuk menggelora lagi.
Saudara terkasih, apa yang sudah terjadi dalam hidup kita selama ini? Apakah ikut memberikan dorongan semangat, memberikan nasihat yang membuat orang tidak putus asa atau malah sebaliknya? Memberikan teror yang mencemaskan, menakut-nakuti, dan menjadi karang penghalang untuk  orang melangkah lebih jauh?
Atau kita menjadi pribadi yang pesimis, melihat semua adalah halangan, apa yang terjadi adalah  tembok besar yang tidak mungkin diseberangi? Sangat mungkin kita jatuh dan melihat semua adalah dunia yang pekat dan pepat, itu sangat mungkin jika kita lupa peran Tuhan Allah yang demikian mengasihi kita.
Saudara terkasih, iman itu adalah harapan, semua adalah kesempatan, sekecil apapun adalah peluang untuk memperoleh kasih karunia. Peluang bisa menjadi hambatan jika kita memakai kaca mata dunia dan manusiawi. Kita perlu belajar menggunakan kacamata Allah di dalam menjalani kehidupan di dunia. Peziarahan hidup kita di dalam dan bersama Tuhan. BD.eleSHa.

Jumat, 19 Juli 2019

Peraturan dan Kemanusiaan


Jumat Pekan Biasa XV (H)
Kel 11:10-12:14
Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18
Mat. 12:1-8



Kel 11:10-12:14

11:10 Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir:
12:2 "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.
12:3 Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.
12:4 Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.
12:5 Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.
12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.
12:7 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.
12:8 Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.
12:9 Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.
12:10 Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.
12:11 Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.
12:12 Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.
12:13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.
12:14 Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.


Mat. 12:1-8

12:1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.
12:2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."
12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?
12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?
12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."



Peraturan dan Kemanusiaan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda Tuhan mengenai peraturan dan keberadaannya. Peraturan dibuat untuk membantu tertib bersama, melindungi kebebasan. Peraturan dibuat untuk orang bukan malah sebaliknya. Bagaimana tercipta orang yang malah mengabdi peraturan dan dikenal dengan legalis. Itu memang tidak salah namun tidak juga benar dan bermanfaat.
Orang bisa sangat gila aturan namun abai pada yang esensial. Salah satu contoh, kita tentu paham, ambulan itu boleh dan bahkan akan diberi prioritas untuk tidak berhenti pada lampu merah. Mengapa? Karena kita bersama tahu dan paham, bahwa ambulan itu membawa orang sakit yang harus segera mendapatkan pertolongan. Peraturan dibuat untuk manusia, bukannya kaku dan keras, bahwa lampu merah semua harus berhenti.
Mengapa kita dengan mudah memahami bahwa ambulan yang membawa pasien harus mendapatkan fasilitas dan memberikan kemudahan? Tahu namun apakah demikian ketika benar-benar di jalan? Belum tentu. Karena konsep kita begitu pinter, namun dalam aplikasi masihs sering gagap dan gagal. Hal yang sama ternyata juga dialami para ahli Taurat dan orang Farisi yang melihat para murid melakukan apa yang dilarang dalam hukum Taurat.
Saudara terkasih, kita sering juga gagal dalam memahami perilaku beriman kita. Kita masih terpaku pada larangan dan kemudian ketakutan dalam banyak hal, termasuk takut salah dalam berliturgi ataupun dalam melakukan aktifitas beriman kita. Aktifitas berliturgi pun kadang kita khawatir, takut, dan cemas. Mengapa demikian, karena kita terpaku pada ketakutan, cemas berbuat salah, dan terlalu fokus dan mengandalkan peraturan yang ada. Jangan-jangan ini dilarang, boleh tidak ya, begini atau begitu.
Saudara terkasih, bahwa peraturan itu ada untuk manusia, bukan untuk menegkang dan membatasi, namun menjaga bahwa manusia dijamin, terjaga, dan terlindungi hak-haknya. Namun peraturan juga tidak kemudian malah menghambat kemanusiaan. Manusia terkalahkan oleh adanya peraturan. Jika demikian keberadaan peraturan itu dimaknai secara salah. Keberadaan peraturan harus membawa manusia menjadi lebih manusiawi, bukan malah manusia menjadi bukan aturan. BD.eLeSHa.

Kamis, 18 Juli 2019

Datanglah Kepada-Ku, Kalian yang Letih Lesu!


Kamis Biasa Pekan XV (H)
Kel. 3:13-20
Mzm. 105:1,5,8-9,24-25,26-27
Mat. 11:28-30



Kel. 3:13-20

3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -- apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
3:14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.
3:16 Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir.
3:17 Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
3:18 Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir, dan kamu harus berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami.
3:19 Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat.
3:20 Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi.

Mat. 11:28-30

11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.



Datanglah Kepada-Ku, Kalian yang Letih Lesu!

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan mengenai undangan, panggilan, dan permintaan Tuhan Yesus untuk datang kepada-Nya. Undangan yang sangat bermanka, bermanfaat, dan sederhana. Siapa yang  diundang? Yang sedang berbeban berat dan letih lesu. Jelas kepada siapa undangan-Nya itu.
Mengapa yang leth lesu dan berbeban berat diundang-Nya? Kecenderungan orang yang sedang memiliki beban, menderita dengan berat yang tidak tertangungkan itu membutuhkan teman. Perlu tempat untuk berbagi beban itu. Tuhan Yesus justru menyediakan diri, mengundang siapa saja untuk dtang kepada-Nya. Tanpa syarat tambahan harus ini dan itu. Tuhan hanya mengundang untuk datang. Kedatangan yang disambut dengan kasih-Nya yang tidak berkesudahan.
Sudara terkasih, datang ke hadapan Tuhan Yesus, tidak diminta apa-apa datang, duduk, diam, kalau perlu menangis, dan mengutarakan apapun yang dirasakan sebagai beban dalam hidupnya. Tuhan tidak meminta harus ini dan itu. Mengapa? Tuhan sudah tahu semuanya. Tuhan hanya mengendaki kita untuk datang, berbagi, dan berserah kepada-Nya. IA tidak meminta yang aneh-aneh, dan satu yang paling mendasar, di dalam DIA semua aman, rapat tersimpan, jangan khawatir akan diviralkan, akan dinyatakan ke mana-mana. Ini jelas membedakan dengan apa yang biasanya terjadi, kita alami jika berbagi kepada sesama kita. Tuhan Yesus adalah jaminan mutu untuk itu.
Kita hanya diajak untuk belajar kepada-Nya. Mengapa? Karena Tuhan Yesus itu lemah lembut dan rendah hati. Kelemahlembutan akan membuat kita merasa ringan karena melihat sgala sesuatu dengan sudut pandang iman, menyerahkan semua dalam kasih karunia Tuhan bukan keinginan kita. Pemberat hidup itu adalah upaya kita memenuhi apa yang kita rindukan, kita inginkan, dan kita kadang paksakan harus mendapat. Mencoba untuk lemah lembut sehingga selaras dengan kehendak Tuhan.
Rendah hati pun membantu kita menghadapi hidup dengan ringan dan lega, tidak kemrungsung dalam bahasa Jawanya. Bersama dengan Tuhan Yesus semua menjadi ringan dan lega. Kelegaan karena bersama Tuhan dengan pribadi yang lemah lembut dan rendah hati.
Bagaimakah kita selama ini, sudahkah lemah lembut dan rendah hati, atau malah sebaliknya? Tinggi hati dan keras hati serta memaksakan kehendak dan keinginan kita? BD.eLeSHa.