Rabu, 22 Mei 2019

Bapa dan Aku adalah Satu


Sabtu Biasa Pekan Paskah IV (P)
Kis. 13:44-52
Mzm. 98:1-2,3ab,3cd-4
Yoh. 14:7-14


Kis. 13:44-52

13:44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.
13:45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus.
13:46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
13:47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi."
13:48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
13:49 Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
13:50 Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu.
13:51 Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.
13:52 Dan murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.



Yoh. 14:7-14

14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.




Bapa dan Aku adalah Satu

Saudara terkasih, hari ini kita diajak mereunungkan mengenai pengenalan akan Bapa dan Putera. Pengenalan itu pun pernah membawa kegagalan bagi Filipus, yang hidup bersama Yesus. Kegagalan  yang bagi Yesus mencengangkan. Sampai IA mengatakan, sekian lama kamu bersama AKU, masih bertanya pula dan memita menunjukkan Bapa itu.
Hal yang sangat wajar ketika kita gagal untuk mengenali Bapa dan Putera. Kadang menjadi parah karena pengetahun kita dikacaukan oleh pemahaman saudara-saudari kita dengan pemahaman yang cukup berbeda. Apalagi kalau kita ditanyai dengan pertanyaan intimidatif dan cenderung menghakimi. Kita yang tidak siap, tidak memahami, tidak pula mempelajari dengan baik bisa menjadi takut dan tidak bisa menjelaskan sebagaimana mestinya.
Filipus, murid, rasul, yang hidup bersama dengan Yesus dalam segala hal pun masih gamang, kalau tidak terlalu kasar dikatakan gagal memahami siapa Bapa dan siapa Putera itu. Padahal jelas Putera adalah Allah Putera yang diutus ke tengah dunia. Pengajaran yang terus menerus dikatakan dan dinyatakan.
Jika kita gagal paham, ketika kita salah memahami, itu berarti tidak sendirian. Namun bukan berarti bahwa kita bangga dan tidak  mau mengenal siapa Bapa dan Putera itu lebih dalam dan terus menerus mengenal-Nya. IA yang datang, menyapa, mengenalkan diri kepada kita. Kita tidak akan mampu mengenal-Nya jika tidak karena kasih-Nya, perkenan-Nya untuk memperkenalkan diri kepada kita.
Pilihan-Nya kepada kita adalah anugerah. Pilihan-Nya kepada kita adalah berkat luar biasa. Sederhana pula untuk tahu, kenal, dan mengerti siapa DIA itu? Yesus mengatakan, barang siapa mengenal-Nya orang juga mengenal Bapa.
Percaya kepada-Nya juga percaya kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Siapa yang percaya kepada-Nya adalah yang melakukan apa yang Yesus lakukan. Apa yang Tuhan lakukan? Mengasihi orang tanpa pandang bulu. Ia menyembuhkan orang sakit, melawat orang yang kesepian, menghibur yang bersedih, dan mengasihi tanpa batas.
Memberikan pengampunan kepada yang menyakiti, memberkati yang mengutuk, dan memuliakan Allah dalam seluruh dinamika hidupnya. Memuliakan Allah sebagai ciptaan dengan rendah hati. Itu syarat untuk mengenal Allah, karena IA yang memperkenalkan diri-Nya terlebih dahulu. BD.eLeSHa.


Janganlah Gelisah Hatimu!


Jumat Biasa Pekan Paskah IV (P)
Kis. 13:26-33
Mzm. 2:6-7,8-9,10-11
Yoh. 14:1-6



Kis. 13:26-33

13:26 Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.
13:27 Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat.
13:28 Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh.
13:29 Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur.
13:30 Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.
13:31 Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini.
13:32 Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,
13:33 telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini


Yoh. 14:1-6

14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.



Janganlah Gelisah Hatimu!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sabda Tuhan mengenai peneguhan atas sikap cemas, galau, dan khawatir kita. Kecemasan itu manusiawi, namun apakah kegalauan itu menjadi dominan, dan mengalahkan logika, apalagi iman, itu baru menjadi masalah. Perlu  penyadaran dan kesadaran baru untuk berbenah dan berubah.
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus memberikan peneguhan bagi para murid. Janji luar biasa mendalam dan indah, di mana Tuhan yang menyediakan kamar, menyediakan tempat tinggal untuk kita. Tempat tinggal yang sejati, bukan rumah di dunia yang terbatas ini.
Cemas. Kecemasan itu biasa, bisa karena berbagai hal. Namun apakah itu meruntuhkan nalar kita, apalagi kepercayaan  kita akan Kuasa Ilahi. Dalam hidup sehari-hari sangat mungkin kita takut, cemas, khawatir, dan galau. Apapun bisa menjadi penyebab ketakutan kita. Anak-anak muda bisa saja takut nilai buruk, tidak disukai teman, mengecewakan orang tua, dan banyak lagi.
Gelisah materi, bagi pribadi yang berajak dewasa, kecemasan akan materi bisa sangat mungkin. Tetangganya atau rekan sebayanya sudah bisa membeli dan memiliki ini, kemudian menjadi cemas. Galau dan terpenjara untuk bisa sama dengan tetangga atau rekan itu. Khawatir tidak mampu membahagiakan pasangan dan keluarganya.
Padahal apakah mesti materi menjadi jaminan kebahagiaan? Atau materi yang terbatas mesti menjadi sumber derita? Belum tentu demikian tentunya.
Jabatan profesi, bisa juga menjadi sumber kecemasan. Hilangnya jabatan dan pekerjaan bisa menjadi frustasi, malu, dan putus asa. Itulah sumber kebanggaan dan kebahagiaan. Dan ketika itu hilang, pupus juga semangatnya. Maka apapun dilakukan, termasuk menyuap, menjilat, dan tidak jarang menggadaikan iman.
Saudara terkasih, sudah seharusnya kesempurnaan hidup dan keselamatan yang menjadi fokus dalam hidup kita. Dengan fokus dalam membangun hidup menuju kesempurnaan dan keselamatan, kita menjadi tenang. Cemas dan khawatir tidak cukup mendapatkan energi dan kesempatan untuk berkembang. Di dalam Tuhan semuanya menjadi lebih ringan dan mudah.
Kebangkitan adalah jaminan bahwa kita tidak perlu cemas dalam banyak perkara. Bagaimana mau cemas ketika hidup abadi sudah ada di tangan. Asal kita yakin dan percaya di dalam Tuhan. Kecemasan bisa membuat kita malah jauh dari keselamatan. Kita tidak pasrah dan berserah di dalam DIA. BD.eLeSHa.

Kerendahan Hati


Kamis Biasa Pekan Paskah IV (P)
Kis. 13:13-25
Mzm. 89:2-3,21-22,25,27
Yoh. 13:16-20



Kis. 13:13-25

13:13 Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem.
13:14 Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.
13:15 Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!"
13:16 Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: "Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!
13:17 Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.
13:18 Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun.
13:19 Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka
13:20 selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman nabi Samuel.
13:21 Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya.
13:22 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.
13:23 Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.
13:24 Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.
13:25 Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.

Yoh. 13:16-20

13:16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.
13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.
13:18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
13:19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.
13:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."


Kerendahan Hati

Saudara terkasih hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar mengenai dua hal besar, pertama mengenai utusan dan yang kedua soal penerimaan. Dalam konteks ini keduanya memerlukan adalah rendah hati.  Di mana dalam era modern ini kadang orang diajak untuk berkompetisi, saling merendahkan, saling mendahului, sehingga tinggi hati, arogansi, dan merasas super sering menjadi panglima.
Hidup di dalam dan bersama Tuhan kita diajak untuk tidak memilih dan berjalan dalam hidup cara demikian. Benar bahwa kita perlu berkompetisi, berlomba-lomba untuk mencapai yang terbaik, namun  tetap harus ingat sikap rendah hati. Rendah hati bukan menghambat orang untuk bisa bersaing, berkompetisi, dan berlomba untuk mendapatkan yang terbaik.
Viral sering menjadi tujuan kaum milenial, namun viral pula sering abai akan kemanusiaan, mengingkari kebenaran dan keadilan. Anak-anak Tuhan tidak boleh dan tidak bisa bersikap yang sama. Kita sebagai anak Allah di dalam mencapai viral, tenar, dan populer tetap harus bersikap sebagai murid-murid Tuhan. Tidak boleh mengabaikan kemanusiaan, tidak melupakan peran di dalam dunia untuk menjadi terang dan garam dunia.
Saudara terkasih, dalam Injil dikisahkan, bahwa tidak ada murid melebihi gurunya, tidak ada hamba mengatasi tuannya. Konteks ini mengajak kita untuk sadar diri, untuk tahu batas, untuk bersikap rendah hati. Bedakan dengan rendah diri dan minder yang membuat kita tidak berkembang. Tahu diri, sadar posisi membuat hidup menjadi lebih ringan dan lancar. Beban berkurang karena tidak ada konflik kepentingan. Mau belajar dan berkembang terus. Ini yang Tuhan kehendaki dari kita.
Sikap menerima, bagaimana Tuhan menghendakikita menerima Yesus sebagai Utusan Allah, jaminan keselamatan sudah ada di tangan. Namun ingat, kita sebagai manusia yang rapuh, lebih suka menolak, menyingkirkan dengan segala sikap kita. Tinggi hati membuat kita susah menerima kedatangan Tuhan. Kemampuan kita juga sering menjadi blokade, penghalang, dan penghambat kedatangan Tuhan yang seharusnya kita terima dan percayai.
Saudara terkasih, melibatkan Tuhan membantu kita memiliki kerendahanhati yang sangat berperan dan penting bagi hidup kita. Menyatukan kita dengan Tuhan dan rencana-Nya. BD.eleSHa.

Rabu, 15 Mei 2019

Terang Sejati


Rabu Pekan Paskah IV (P)
Kis. 12:24-23:5
Mzm. 67:2-3,5,6,8
Yoh. 12:44-50



Kis. 12:24-23:5

12:24 Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
12:25 Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.
13:1 Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.
13:2 Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka."
13:3 Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.
13:4 Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus.
13:5 Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka.


Yoh. 12:44-50

12:44 Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;
12:45 dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
12:46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.
12:47 Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
12:48 Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
12:49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.
12:50 Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.



Terang Sejati

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman Tuhan mengenai sikap percaya dan asal percaya. Sikap percaya membawa kita kepada Bapa. Sapaan Allah yang kita jawab dengan percaya membawa kita kepada keselamatan.
Mengapa kita dapat percaya? Karena kita dibawa ke dalam terang. Terang yang membuat kita mampu melihat dengan gamblang tidak ada penghalang apapun. Kebalikan dari terang adalah gelap. Bagaimana hidup dalam gelap adalah ketidakjelasan.
Kita kalau listri mati saja ribut, menghubungi PLN, marah-marah, mencari lilin, dan ribut tidak karu-karuan. Hal ini tentu jelas selaras dengan jiwa hakiki manusia yang suka terang, bukan sebaliknya. Namun apakah demikian ketika dalam berperilaku sehari-hari?
Hidup dalam gelap berarti sering tidak terus terang, memilih untuk kasak-kusuk, perilaku buruk lainnya demi hasrat pilihan duniawi. Demikian marak dan maruk keduniawian memberikan bukti bahwa hidup manusiawi itu cenderung pilihan kegelapan. Barang siapa yang memilih terang, tentu perilaku baik, positif, dan tidak ada yang tertutupi apapun.
Terang dan hidup di dalamnya akan membawa kebahagiaan. Kemauan berbagi, penuh cinta dan kasih tanpa pamrih, hidup dalam suka cita, optimis, dan hidup berpengharapan. Terang memberikan harapan dan kejelasan. Kita mampu demikian karena kita berada dalam Terang Sejati. Tuhan memilih dan menempatkan kita di dalam terang.
Jangan lupa pula, bahwa terang itu tidak akan otomatis membawa kita kepada kebenaran, karena kebebasan manusiawi yang seutuhnya tidak disandera oleh Allah Yang Mahakasih itu. kebebasan manusiawi pun masih dapat menyesatkan kita, membawa kita kepada kegelapan dan tersesat di sana. Ini adalah karena kasih-Nya yang tidak terbatas itu. kebebasan yang termasuk untuk menolak terang dan kasih Allah.
Pilihan bebas itu tentu membawa konsekuensi jika kita jauh dari pada-Nya. Manusia sering jatuh memilih yang mudah, dan yang mudah malah sering menyesatkan. Perlu diingat, bahwa si jahat pun bisa berpura-pura memberikan terang, namun itu sangat menyesatkan, dan perlu tahu mana terang yang sejati. Di dalam Tuhan lah terang sejati itu ada.
Terang dari Allah itu akan menenteramkan. Terang yang membawa kepada kesatua bukan perpecahan. Terang yang menuntun pada damai sejahtera bukan caci maki. Terang yang akan menuntun pada keselamatan bukan kesesatan.BD.eLeSHa.


Rasul Matias


Pesta S. Matias, Ras (M)
Kis. 1:15-17,20-26
Mzm. 113:1-2,3-4,5-6,7-8
Yoh. 15:9-17



Kis. 1:15-17,20-26

1:15 Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata:
1:16 "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.
1:17 Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini."
1:20 "Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.
1:21 Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami,
1:22 yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya."
1:23 Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias.
1:24 Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,
1:25 untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya."
1:26 Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.


Yoh. 15:9-17

15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."



Rasul Matias

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja merayakan Pesta Santo Matias Rasul. Matias adalah rasul sebagai pengganti Yudas yang melakukan sesalnya dengan bunuh diri. Usai kisah salib, para murid mengadakan pertemuan untuk mencari pengganti. Mereka memiliki dua kandidat kuat, yaitu Matias dan Yustus. Mereka berdoa dan membuang undi untuk menentukan satu di antara mereka.
Kitab Suci memang tidak banyak membahas  keberadaan rasul yang satu ini, namun bahwa ia berada dalam kalangan utama murid-murid Yesus dari pembaptisan hingga kebangkitan. Jelas Matias mampu memberikan bukti dan jika mengadakan pewartaan dan memberikan kesaksian, ada bekal dan bukti hidup dan belajar dari Yesus langsung.
Kematiannya  tidak diketahui dengan pasti, namun bahwa makamnya ada di Trier Jerman. Salah satu keutamaannya adalah kesederhanaan.
Dalam bacaan Injil  hari ini, kita juga merenungkan mengenai kasih. Kasih dari Tuhan yag diberikan kepada kita. Kita harus mengasihi karena sudah lebih dulu dikasihi oleh Tuhan Yang adalah Kasih. Kasih Tuhan berasal dari Bapa dan kita ikut ambil bagian dari pada-Nya.
Berbicara kasih, tidak ada kasih yang lebih besar dari pengorbanan bahkan nyawa bagi sahabatnya. Ini sudah dilakukan Yesus bahkan tanpa IA melakukan dosa sama sekali. Namun IA melakukan demi kita yang IA angkat menjadi sahabat-Nya. Sahabat yang IA tebus bahkan dengan nyawa-Nya sendiri. Pengorbanan yang purna, bukan semata mengorbankan ini dan itu, namun nyawa.
Sahabat bukan hamba, mengapa dan apa bedanya? Sahabat tahu apa yang dilakukan sahabatnya, namun jika hamba mana tahu apa yang tuan lakukan. Kelas kita naik demikian tinggi di dalam Tuhan. Tuhan membawa kita pada posisi yang tinggi dan utama.
Saudara terkasih, kita ikut dan bersama Tuhan itu karena pilihan Tuhan, bukan kita yang memilih Tuhan, namun Tuhan yang memilih kita. Patut berbangga dan bahagia karena dipilih Tuhan Mahakasih, Tuhan yang memberikan kasih bukan ketakutan dan kecemasan. Tuhan yang mengorbankan demi selamat kita, bukan Tuhan yang meminta pengorbanan kita untuk-Nya. Ajakan dan anjuran untuk saling mengasihi bukan malah saling menyakiti. Tuhan kita adalah kasih. BD.eLeSHa.

Gembala Yang Baik



HARI MINGGU PASKAH IV (P)
Kis. 13:14.43-52
Mzm. 100:2,3,5
Why.  7:9,14-17
Yoh. 10:27-30



Kis. 13:14.43-52

13:14 Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.
13:43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.
13:44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.
13:45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus.
13:46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
13:47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi."
13:48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
13:49 Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
13:50 Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu.
13:51 Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.
13:52 Dan murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.


Why.  7:9,14-17

7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
7:14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
7:15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.
7:16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.
7:17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.

Yoh. 10:27-30

10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
10:29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
10:30 Aku dan Bapa adalah satu.



Gembala Yang Baik

Saudara terkasih, hari Minggu ini kita merayakan Ekaristi untuk mengenangkan kisah Gembala Yang Baik, dan juga merayakan Minggu Panggilan. Dua hal  yang sesuai antara bacaan Injil dan Minggu Panggilan. Gembala Yang Baik, sebagai gambaran Yesus sendiri. Dalam alam budaya pengembara dan pternak, posisi gembala menjadi sangat penting dan vital.
Gembala dalam tradisi peternak menjadi sangat penting karena ia adalah penjaga, pengasuh, dan yang ebrtanggung jawab atas makanan, keselamatan, dan keamanan, serta keberadaan binatang yang dipercayakan kepada mereka. Nah kita yang hidup dalam budaya modern tentu tidak akan mudah memahami hal itu.
Masih ada hal yang tertinggal itu kerbau. Mau mencuri kerbau akan sulit, meskipun tidak ditali, kandang ala kadarnya, namun sulit karena ia  perlu siapa yang membawanya keluar dari kandangnya. Maling kerbau biasanya bisa karena penggembalanya, atau orang yang mengenakan baju yang biasa menggembalakan kerbau itu. Mengapa susah mencuri kerbau? Karena si kerbau mengenal gembalanya.
Dalam bacaan Injil juga dikisahkan bagaimana domba mengenal Gembalanya, karena Gembala sangat mengenal domba-domba-Nya. Tuhan sebagai Gembala paham satu demi satu domba yang IA gembalakan dan jaga, bahkan kehidupannya itu diperhatikan dengan sangat luar biasa. Mengenal ini menjadi kata kunci, bagaimana Yesus, Tuhan itu Gembala Yang Baik. Semua dalam kendali Tuhan Si Gembala, apapun itu.
Dalam konteks, hidup menggereja saat ini, apakah gembala mengenal domba itu demikian identik dengan apa yang Tuhan Yesus lakukan? Mungkin era misionaris awal dari Barat dulu bisa demikian. Namun kini? Beberapa kisah patut menjadi renungan dalam Minggu Panggilan, rekan saya dulu sampai trauma untuk mengaku dosa. Yang ketakutan bukan hanya satu, namun dua. Alasannya yang sama, dimarahi pastornya ketika mengaku dosa. Bayangkan, bagaimana dombanya malah ketakutan pada gembalanya seperti ini?
Kisahnya yang cukup identik, ada umat merasa sakit hati karena pastornya memberikan nasi dan lauk-pauk dari umat untuk makanan anjing pastoran. Umat itu susah payah mencari rezeki dan disisihkan untuk gembalanya, namun malah diberikan anjing. Lha memangnya gembalanya si anjing? Kadang, cukup sering kekecewaan umat itu sangat besar, sehingga berpengaruh pada relasi gembala dan dombanya. Penolakan yang kadang tepat dari si gembala dengan pertimbangan matang, belum tentu diterima dengan baik oleh si domba. Hal yang patut menjadi permenungan, bukan hanya soal panggilan, namun juga yang sudah dalam jalan panggilan untuk menelaah setiap sikap dan perilakunya dalam menjalankan perutusannya. BD.eLeSHa.


Pernyataan ini Keras


Sabtu Pekan Paskah III (P)
Kis. 9:31-42
Mzm. 116:12,13,14-15,16-17
Yoh. 6:60-69



Kis. 9:31-42

9:31 Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.
9:32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.
9:33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh.
9:34 Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu.
9:35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.
9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.
9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami."
9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.
9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.
9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.
9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

Yoh. 6:60-69

6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.



Pernyataan ini Keras

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan mengenai panggilan Tuhan mengandung konsekuensi yang tidak mudah. Dalam Injil hari ini kita mendengar bahwa Tuhan mengatakan hal yang keras, sehingga banyak pengikut-Nya mundur karena tidak mudah memang mengikuti-Nya. Hal yang tidak mudah dan sulit ikuti  jalan Tuhan.
Pernyataan itu keras, membuat banyak yang mundur, kita pun hari-hari ini, di era modern ini sering mengalami hal yang sama. Mengalami keras-Nya tuntutan Yesus, bayangkan bagaimana kita diajak untuk memikul salib, membawa derita dengan suka cita, megampuni hingga tujuh kali tujuh, bayangkan di tengah hukum balas dendam ada ajakan demikian. Mengasihi sampai habis, bayangkan ketika budaya egoisme kita diajak untuk berkorban dan memberikan diri hingga habis.
Atau dalam konteks yan berbeda, kita sering merasa susah hidup sebagai anak-anak Tuhan, bagaimana ditolak untuk memakamkan saja, atau menikah, atau mencari pekerjaan. Hal-hal yang berat dan bahkan membuat patah arang, mudah  meninggalkan sebagaimana para pengikut Yesus waktu itu. Contoh konkret ada seorang anak yang marah kepada bapak angkatnya yang seorang aktivis Gereja. Pujian kepada si bapak malah membuat anak ini meradang dan jengkel termasuk pada Gereja. Buat apa aktivis, rajin berkegiatan, namun abai pada kasih di dalam keluarga. Coba bisa dilihat bukan, di dalam aktivitas kebaikan saja masih ada celah untuk kekecewaan.
Saudara terkasih, mengikuti Yesus memang tidak mudah. Apakah ini berarti Tuhan mempersulit anak-anak-Nya? Tidak, itu konsekuensi atas anugerah yang luar biasa yang juga perlu diusahakan dengan luar biasa pula. Tuhan tidak memanjakan anak-anak-Nya untuk njagake. Semua perlu proses dan perjuangan.
Kebebasan anak-anak Allah juga menjadi penting. Tuhan bukan sosok yang otoriter, arogan, dan memaksakan kehendak atas nama Sang Pencipta. Lihat termasuk menolak dan mengingkari pun menjadi bagian utuh atas pilihan dan anugerah bagi kita. Kebebasan kita tidak disandera atas naman kasih dan sayang-Nya. Tuhan membebaskan kita sepenuhnya.
Jawaban mendalam dan spontan sebagaimana Petrus itu yang akan membuat  semuanya mudah, ringan, dan tidak lagi keras dan menjadi beban. Berserah pada kehendak dan penyelenggaraan Ilahi semuanya mudah dan mungkin. BD.eLeSHa.