Minggu, 24 Maret 2019

Penghakiman, Tobat, dan Kesempatan


HARI MINGGU III PRAPASKAH (U)
Kel. 3:1-8,13-15
Mzm. 103, 1-2, 3-4,6-7,8,11
1 Kor. 10:1-6,10-12
Luk. 13:1-9



Kel. 3:1-8,13-15

3:1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
3:2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
3:3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
3:4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
3:5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."
3:6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
3:7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.
3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.
3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -- apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
3:14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.


1 Kor. 10:1-6,10-12

10:1 Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.
10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.
10:3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama
10:4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.
10:5 Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.
10:6 Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,
10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
10:11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.
10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!


Luk. 13:1-9

13:1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
13:3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
13:5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."
13:6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.
13:7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
13:8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
13:9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"



Penghakiman, Tobat, dan Kesempatan

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya, yang berbicara mengenai kesempatan, pertobatan, dan penilaian yang berlebihan ala manusiawi. Injil hari ini memperlihatkan hal demikian.
Penilaian dan penghakiman, bagaimana orang dengan mudah menilai orang lain lebih berdosa, lebih buruk, dan keadaan yang tidak enak itu sebagai hukuman Tuhan. Mosok sih Tuhan penghukum, Tuhan sebagai pendendam dan penuntut balas. Azab sering terdengar kala ada bencana alam, atau Tuhan sedang murka dan sejenisnya.
Kita pun terjebak dalam hal yang demikian. Melihat keadaan orang lain lebih buruk dari pada kita, merasa bahwa kita lebih baik karena tidak mengalami hal demikian. Ada  hiburan televisi yang mengeplorasi hal demikian dengan masif dan mirisnya ramai penonton. Gambaran Tuhan yang pemarah, padahal Mahakasih.
Pertobatan, bagaimana Allah itu menghendaki pertobatan. Adanya sikap berbalik arah untuk menuju pada kebaikan yang lebih baik lagi. Balik arah dari yang buruk kepada yang baik, kesadaran baru untuk berubah dan bebenah.
Kesempatan, di mana adanya kesempatan untuk bisa memberikan hasil atau buah. Iman yang bermakna adalah iman yang berbuah. Tanpa buah adalah kesia-siaan. Dalam bacaan Injil tadi bagaimana pohon yang tidak berbuah  itu akan ditebang, namun ada kesempatan sekali lagi dengan menambah pupuk dan perawatan. Jika sudah diberikan penanganan lagi dan tidak ada perbaikan, akan dihukum, dipotong, dan dibuang.
Saudara terkasih, apa yang perlu kita lakukan adalah perubahan sikap dari yang tidak menghasilkan buah menjadi pribadi baru yang menghasilkan buah. Dari pribadi yang sebatas biasa saja, tidak mau berperan, dan hanya biasa-biasa saja kemudian menjadi pribadi yang memberikan hasil yang berlimpah sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Kesempatan itu menjadi penting, ketika orang sering mengatakan, kesempatan tidak akan datang dua kali. Kesempatan itu ada dan akan datang lagi, sepanjang mau berusaha dengan keadaan baru. Kesempatan yang sama persis jelas tidak ada, namun akan datang kesempatan yang lain. Di mana itu yang perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Berkaitan dengan sikap merasa paling itu, orang bisa terlena untuk melihat kasih karunia Tuhan yang memberikan kesempatan. Ketika orang merasa paling segalanya, susah melihat berkat Allah yang hadir dan datang untuk menaungi kita. BD.eLeSHa.


Sabtu, 23 Maret 2019

Bapa Baik Hati dan Anak Nakal


Sabtu Pekan II Prapaskah (U)
Mi. 7:14-15,18-20
Mzm.103,1-2,3-4,9-10,11-12
Luk. 15:1-3,11-32




Mi. 7:14-15,18-20

7:14 Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.
7:15 Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!
7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?
7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.
7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala


Luk. 15:1-3,11-32

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."




Bapa Baik Hati dan Anak Nakal

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa kasih Allah itu tak terbatas. Dalam bacaan Injil kita diberikan dua ilustrasi sikap dan sifat bagaimana hidup manusiawi kita itu. Kisah yang sangat kita banget.
Bacaan Injil yang dibuka dengan kisah para pendengar Yesus kali ini adalah pemungut cukai dan para pendosa yang datang juga mendengarkan pengajaran-Nya. Padahal konteks waktu itu para guru agama, spiritual, dan Taurat menerima orang yang dianggap berdosa, apalagi pemungut cukai yang dinilai payah, antekasing dan antekpenjajah, pemeras lagi.
Ahli Taurat dan kaum Farisi yang merasa saleh, suci, dan benar itu menjadi jengkel, jengah, dan bersungut-sungut. Akhirnya Yesus buka suara dalam sebuah kisah perumpamaan.
Anak bungsu, yang digambarkan sebagai anak tamak, boros, suka foya-foya, dan menghambur-hamburkan uang. Bapaknya masih hidup namun sudah meminta hartanya dibagi. Harta yang dibagi itu bukan untuk berbuat kebaikan, namun untuk pesta pora dan bersenang-senang.
Ujungnya jelas hartanya habis, dan ia sadar dan berbalik arah untuk kembali.
Si sulung, anak manis, baik, taat, namun abai akan kasih bapanya yang ada di depannya. Ia tidak ada yang salah sebagai anak, namun malah lepas hal yang mendasar, kasih bapanya. Sangat wajar ketika ia berfokus pada sisi adikya, bukan bapanya yang melimpahi kasih sayang.
Si bapa, gambaran murah hati, pengampun bukan semata pemaaf, hati seluas samudera ketika dua anak dengan dua karakter demikian. Ssatunya alim namun iri hati dan abai akan kasih bapanya, satunya pemboros dan pendosa, mungkin konteks Jawa adalah malima.
Gambaran kebaikan hati Allah yang tidak semata memaafkan atau melupakan, namun mengampuni. Kasih-Nya purna bukan karena perbuatan baik si anak saja, namun karena memang jati diri Allah. Kadang kita berlaku sebagai si sulung, tidak jarang menjadi si bungsu. Dan itu kita jalani terus menerus, dan Allah tidak pernah berhenti mengasihi.
Pertobatan dan balik arah itu penting daripada selalu taat namun tidak merasakan kasih Allah. ingat, namun jangan malah kemudian menyesatkan diri dan berdalih ada pertobatan dan Allah Mahakasih. Tidak demikian, betapa baiknya menjadi anak alim, taat, dan lurus serta ingat kasih Tuhan begitu besar. Kasih-Nya dirasakan tanpa perlu mengalami derita, tanpa ada iri hati, dan itulah upaya terus menerus. BD.eLeSHa.


Jumat, 22 Maret 2019

Keselamatan Universal


Jumat Pekan II Prapaskah (U)
Kej. 37:3-4,12-13, 17-28
Mzm. 105, 16-17,18-19,20-21
Mat. 21:33—43,45-46





Kej. 37:3-4,12-13, 17-28


37:3 Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.
37:4 Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.
37:12 Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem.
37:13 Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "Ya bapa.
37:17 Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan.
37:18 Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya.
37:19 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang!
37:20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!"
37:21 Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!"
37:22 Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" -- maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.
37:23 Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.
37:24 Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.
37:25 Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.
37:26 Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
37:27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.
37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir


Mat. 21:33—43,45-46

21:33 "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.
21:34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
21:35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.
21:36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
21:37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
21:38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.
21:39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
21:40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?"
21:41 Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."
21:42 Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
21:43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
21:45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.
21:46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.



Keselamatan Universal

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita untuk  merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai anugerah keselamatan. Gambaran penggarap ladang aggur dipakai, karena konteks pembicaraan zaman Yesus adalah pertanian. Biasa pemilik modal menyewa lahan dan mengupah orang untuk menggarapnya. Masa panen mereka mengutus orang kepercayaan untuk mengambil bagian atas keuntungan itu.
Hal yang ada di tengah-tengah mereka dimanfaatkan Yesus untuk mengajar. Yesus tahu orang-orang Yahudi membunuh, menyiksa, dan menolak para nabi. Lihat saja sejarah panjang perselisihan mereka dengan para utusan Tuhan itu.  Tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali.
Para utusan itu disiksa para penggarap, Si Pemilik lahan berpikir lain, apalagi Anak-Ku sendiri akan berbeda. Maka diutuslah Yesus. Dan Yesus pun telah menyatakan bahwa Ia sebagai Anak-Nya pun mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda.
Konsekuensi atas itu adalah, mereka tidak lagi dipercaya, dan penggarap-penggarap lain yang setia, taat pada perjanjian, dan memberikan buah atau hasil yang sepadan. Sindiran bagi bangsa Yahudi yang telah dan selalu menolak, menyiksa, dan bahkan membunuh utusan Tuhan.
Saudara terkasih, siapa penggarap ladang anggur adalah kita ini. penggarapa yang dulunya adalah tugas khusus, anugerah istimewa bagi bangsa terpilih Israel. Kini karena sikapnya yang tidak pantas itu, tidak patut itu, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Keselamatan bukan hanya untuk mereka semata.
Mereka, si pembuang batu penjuru itu tidak tahu betapa berharganya Yesus juga para nabi sebelumnya. Mereka membuang dan menyia-nyiakan apa yang seharusnya paling berharga dan mereka nanti-nantikan.
Sering dalam hidup kita, karena kejernihan nurani kita yang buruk, hati kita yang dipenuhi kedengkian, kebencian, dan sejenisnya membuat kita malah meninggalkan karunia Tuhan yang terbesar. Apa yang seharusnya kita pertahankan malah hilang dan lepas.
Saudara terkasih, agar kita tidak membuang kesempatan, kita perlu memiliki nurani yang baik. Sarana untuk itu adalah kita menjalin relasi yang baik, mendalam, dan intim bersama Tuhan. Roh Kudus akan membuat kita peka dan merasakan bahwa itu adalah kasih karunia, kesempatan, dan ada kehadiran Allah di sana.
Jika kita memilih meyakini diri, percaya pada dunia akan tersesat. Apa yang dicari-cari malah dibuang karena tidak tahu bahwa itu yang kita cari. Apakah mau hidup seperti itu? Tidak  demikian tentunya. BD. eLeSHa.


Kamis, 21 Maret 2019

Kemanusiaan Lazarus


Kamis Pekan II Prapaskah (U)
Yer. 17:5-10
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 16:19-31



Yer. 17:5-10

17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.


Luk. 16:19-31

16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."



Kemanusiaan Lazarus

Saudara terkasih, hari ini  Bunda Gereja mengajak kita merenungkan bagaimana kita mendengarkan kesaksian dan menyediakan diri untuk memperhatiakan suara hati. Kisah dalam bacaan Injil mengenai si kaya dan Lazarus yang miskin.
Gambaran orang kaya yang selalu mewah, enak, dan penuh kemudahan. Pakaian bagus, makanan berlimpah, dan abai akan keadaan sekitarnya. Secara eksplisit memang  tidak menyatakan bahwa mereka berlaku kasar, tidak adil, atau kekerasan pada Lazarus dan kawan-kawan.
Pada akhir bacaan baru memperlihatkan bahwa mereka hidup seenaknya sendiri, henonis dan konsumeris nampaknya. Gaya hidup bermewah-mewah dan abai akan derita orang lain. Memang mereka menghabiskan uang mereka sendiri, namun apakah melihat penderitaan orang dengan tetap pura-pura tidak melihat itu sebuah kebaikan? Jelas bukan, meskipun tidak pula masuk kategori kejahatan.
Gambaran umum tampak perilaku tidak baik mereka, di mana ujungnya mereka mendapatkan siksa abadi. Siksaan yang amat pedih, bahkan memohon setetes air saja tidak lagi mungkin.  Dari sanalah ada kesadaran untuk memohon ada bukti dari kebangkitan dari alam kubur.
Namun apakah dengan demikian saja mau tergerak hatinya untuk mau tahu? Apakah tidak mungkin nanti akan mengatakan bahwa itu pura-pura, ah itu orang gila, atau penolakan yang sejenis, hanya untuk mengikuti dan memanjakan hasrat pesta pora dan hidup dengan bersenang-senang.
Lazarus yang berbahagia di surga itu mengalami penderitaan komplet di dunia. Bagaimana ia kelaparan dan mau mengais sisa-sisa saja malah kalah dengan anjing. Kemanusiaan Lazarus yang terenggut bukan semata miskin harta dan materi, namun kepribadiannya pun sudah hilang tidak berbekas.
Lazarus yang manusia kalah dengan anjing si orang kaya. Sikap orang kaya di sinilah menemukan point pentingnya mengapa mereka menderita di kehidupan abadi. Mereka mengabaikan keberadaan Lazarus-Lazarus karena merasa mereka menggunakan uangnya sendiri.
Saudara terkasih, mungkin dalam hidup kita pun berlaku demikian. Mudah mencari pembenar, dalih, atau rasionalisasi atas dosa kita. Mengatakan ini dan itu untuk menolak berbuat baik. Bisa saja itu sama sekali tidak secara langsung merugikan orang lain, namun bisa saja orang lain menderita karena keenganan kita berbagi. Contoh, kita merasa membayar dan tidak mau berbagi bangku di bus, itu tidak salah, namun bahwa ada orang yang menderita dan kita tolak, apa itu pantas?
Dalam hidup bersama terutama bernegara kita sering mengatasnamakan prosedur namun mengabaikan kebenaran dan keadilan. Apa yang dibangun adalah hal yang semu. Pengadilan terakhir kita tidak akan dapat lagi berdalih. Kesaksian para nabi itu penting dan perlu kita perhatikan bagi hidup kita juga. BD.eLeSHa.

Rabu, 20 Maret 2019

Aku Datang untuk Melayani


Rabu Pekan II Prapaskah (U)
Yer. 18:18-20
Mzm. 31:5-6,14,15-16
Mat. 20:17-28



Yer. 18:18-20

18:18 Berkatalah mereka: "Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!"
18:19 Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku!
18:20 Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka


Mat. 20:17-28

20:17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:
20:18 "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.
20:19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.
20:21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."
20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."
20:23 Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."
20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."



Aku Datang untuk Melayani

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan, hal melayani. Tuhan mengajarkan pada murid dan para rasul mengenai pelayanan. Pelayanan sebagai dasar atas karya Yesus di dunia ini.
Pelayanan dan pengorbanan menjadi inti atas karya kasih Tuhan bagi umat manusia dan dunia. Di sanalah peran kita sebagai murid Yesus menemukan maknanya. Di tengah arus dunia yang mengedepankan materi, ketenaran, kekuasaan, dan penemuhan hasrat cinta diri, kita ditantang untuk berani melayani. Melayani itu sebuah pengorbanan lho.
Bagimana melayani yang biasanya adalah tugas pelayan, orang bawahan, dan akan dihindari. Sikap rendah hati sangat diperlukan. Artinya perlu berkorban dan mengalahkan diri sendiri untuk dapat bersikap sebagai hamba, pelayan, untuk melayani.
Pelayanan itu identitas murid Yesus. Melayani satu sama lain. Kecenderungan  manusiawi adalah meminta pelayanan yang terbaik. Bagaimana sikap itu menjadi bagian utuh atas kemanusiaan.  Mendapatkan pelayanan terbaik, mendapatkan fasilitas, kemudahan, dan keuntungan, tidak heran orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Itu semua adalah hasrat untuk mendapatkan keuntungan dan kemudahan.
Saudara terkasih, menjadi pengikut Yesus memang tidak mudah. Murid Yesus adalah soal kualitas. Mengalahkan diri adalah salah satunya. Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, sebagai jawaban atas permintaan ibu dari kedua murid-Nya. Permintaan yang cukup berani, namun itu adalah bahan pengajaran terbaik. Pengajaran terbaik karena itu adalah pengalaman pribadi para murid apa yang dialami, dirasakan, dan kehendak manusiawi para murid. Bayangkan jika para murid dan ibunya tidka bersikap demikian, pengajaran Yesus tidak akan mendapatkan maknanya yang terdalam.
Para murid masih berkisar pada pemahaman duniawi ini, bagaimana kekuasaan itu sangat menguntungkan. Mendapatkan kemudahan, dan  mengurangi kesusahan yang dialami. Apalagi konteksnya adalah warga neger terjajah. Gambaran bebas, enak, dan berkuasa tentu sangat menggoda.
Kedatangan Yesus berbeda dengan gambaran para murid. Di sana, mereka menggambarkan kemegahan. Yesus memberikan pemuridan itu adalah korban dan pelayanan. Yesus datang untuk menyelamatkan para anak-anak Allah yang tersesar di dunia, dan itu dengan menyurahkan darah-Nya dan mengorbankan nyawa-Nya dengan wafat di salib. Jelas jauh dari gambaran para murid apa yang Yesus jalankan. BD.eLeSHa.

Selasa, 19 Maret 2019

Yusuf dan Pribadi Istimewa


HARI RAYA S. YUSUF SUAMI MARIA (P)
2 Sam. 4-5,12-14a,16
Mzm. 88:2-5,27,29
Rm. 4:13,16-18,22
Luk. 2:41-51





2 Sam. 4-5,12-14a,16

7:4 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian:
7:5 "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?
7:12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
7:13 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.
7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.
7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."

Rm. 4:13,16-18,22

4:13 Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
4:16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, --
4:17 seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran


Luk. 2:41-51

2:41 Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.
2:42 Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
2:43 Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
2:44 Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
2:45 Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
2:46 Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
2:47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
2:48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya



Yusuf dan Pribadi Istimewa

Saudara terkasih, hari ini  kita merayakan Hari Raya Yusuf suami Maria. Beberapa hal dapat kita jadikan pedoman, ispirasi, dan juga jika mungkin adalah gaya hidup. Di mana apa yang Yusuf lakukan sebisa mungkin kita lakukan. Beberapa hal yang dapat kita contoh adalah;
Posisi Yusuf tentu sedang kalut, bahasa anak sekarang galau. Bagaimana tidak galau kalau pacarnya itu hamil padahal ia merasa tidak melakukan perilaku terlarang itu. ia terbuka pada nurani. Hatinya yang paling dalam sebagai representasi bisikan Malikat bagi hidupnya.
Kerendahan hati. Bagaimana Yusuf begitu rendah hati,  terbuka pada kehendak Allah semata dalam hidupnya. Pribadi yang sombong dan tinggi  hati tidak akan mampu bersikap demikian. Penting bagi hidup kita jika mau bersikap demikian.
Siap sebagai penunjang utama, namun di balik layar. Hal yang sangat penting dan konkret, di mana era ini, tenar, viral, dan populer adalah segalanya. Melihat peran Maria yang penting, vital, dan besar namun tidak menonjol itu luar biasa. Bagaimana dalam kitab suci sangat minim pembicaraan mengenai dirinya.
Fokusnya adalah Yesus dan Maria. Di sini peran dan pilihan Yusuf menjadi penting. Jika ia menolak, bagaimana keselamatan dan inkarnasi itu bisa terjadi? Peran sentral dan penting dengan risiko  luar biasa berat. Bagaimana ia menyelamatkan Yesus dan Maria hingga ke Mesir.
Kehendak Tuhan dan rancangan Tuhan yang diikutinya, bukan rancangan dan kehendaknya sendiri. Ini adalah kualitas pribadi utama, unggul, dan luar biasa. Pantas saja Allah Bapa memilihnya untuk menjadi bapak bagi Putera-Nya.
Saudara terkasih, kita yang hidup di era berbeda dengan masa Yesus tentu patut merenungkan, mengambil pelajaran berharga atas sikap batin dan kepribadian luar biasa Yusuf itu. Ia mengalahkan diri sendiri dengan sikap terbuka karena imannya lah yang membimbing langkahnya di dalam memilih jalan sunyi sebagai keluarga kudus Nazareth.
Iman Yusuf yang besar hanya mengandalkan Allah semata dalam hidupnya. Pilihan tidak populer itu hanya sanggup dilakukan di dalam iman. Tanpa iman orang bisa menjadi frustasi dan sakit hati. Lihat di sana Yusuf menjalankan perannya dengan suka cita.
Pilihan Bapa tepat di dalam menitipkan Sang Putera pada pribadi istimewa ini. Pribadi istimewa juga harus dalam asuhan yang istimewa juga. BD. eLeSHa.