Kamis, 21 Februari 2019

Engkau Bukan Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah, Melainkan Apa yang Dipikirkan Manusia


Kamis Pekan Biasa VI (H)
Kej. 9:1-13
Mzm.102:16-18,19-21,29,22-23
Mrk. 8:27-33



Kej. 9:1-13

9:1 Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.
9:2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan.
9:3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
9:4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.
9:5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.
9:6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.
9:7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya."
9:8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:
9:9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,
9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.
9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
9:12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:
9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.


Mrk. 8:27-33

8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.




Engkau Bukan Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah,
Melainkan Apa yang Dipikirkan Manusia


Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda Tuhan yang berbicara mengenai rancangan Allah yang bisa dimengerti jika kita mengenal dengan baik siapa Tuhan. Kita perlu mengena Tuhan dengan lebih baik. Pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang meneukan faktanya.
Pengenalan akan Yesus ternyata masih beragam. Dengan pernyataan menggunakan kata, bagaimana kata orang mengenai Yesus? Hal ini  tentu hendak menguji pengenalan termasukk para rasul yang hidup bersama dengan Yesus secara mendalam, intens, dan terus menerus. Ada yang mengatakan sebagai para nabi, ada yang memahami Yesus sebagai Elia.
Pernyataan kemudian langsung kepada para murid. Petrus sebagai tetua di antara mereka mewakili menjawab, bahwa Yesus adalah Mesias Putera Allah. Keren, luar biasa, dan patut mendapatkan apresiasi atas mendalamnya pengenalan Petrus akan pribadi Yesus. Putera Allah dan Mesias, sebuah konsep baru yang agi Yesus cukup sensitif, maka jangan dibicarakan secara sembarangan.
Yesus memikirkan bagaimana  jemaat memliki konsep yang cukup beragama mengenai pribadi Yesus. Pengenalan saja masih belum begitu jauh, bagaimana mereka bisa memahami misteri karya Allah yang  begitu agung dan mendasar itu?  Hal yang masih perlu waktu agar para pendengar tidak malah menjadi kaget, dan kebingungan melanda mereka.
Fakta itu ternyata dibuka oleh Petrus sendiri. Bagaimana Petrus tidak sepenuhnya mengenal Yesus. Mesias dalam gambarannya berbeda dengan Mesianisme ala Yesus. Mesias yang menderita sengsara, hal yang selama ini iman dan pengetahuan agama mereka tidak mengajarkan hal yang demikian. Hal ini masih perlu waktu, pengajaran, dan pendalaman untuk mengerti bagaimana Karya Keselamatan Allah itu terjadi.
Petrus ditegur Yesus karena memikirkan apa yang manusia pikirkan bukan Allah pikirkan. Sering kita juga mengalami bukan? Ketika kita berdoa mohon apa yang kita pikirkan dan nilai terbaik, namun Tuhan memberikan yang lain. kita kecewa, kadang marah juga. Mengapa demikian? Karena kita memikirkan apa yang kita inginkan, padahal Tuhan memiliki rancangan dan rencana lain, yang pastinya jauh lebih baik. Namun kita sudah kecewa duluan. Di sinilah pengenalan siapa Yesus menjadi penting sehingga kita tidak lagi salah menerima kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Pengenalan akan Yesus mampu jika kita menjalin relasi dengan baik di dalam dan bersama Tuhan. Mau berempati pada sesama yang ada di lingkungan kita. Menerima dan merayakan sakramen dan sakramentali. Merenungkan sabda Tuhan turut membantu kita lebih kenal Tuhan. BD.eLeSHa.

Rabu, 20 Februari 2019

Bukalah Mataku Tuhan!


Rabu Pekan Biasa VI (H)
Ke. 8:6-13,20-22
Mzm. 116:12-13,14-15,18-19
Mrk. 8:22-26




Ke. 8:6-13,20-22

8:6 Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu.
8:7 Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.
8:8 Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi.
8:9 Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera.
8:10 Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera;
8:11 menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi.
8:12 Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya.
8:13 Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering
8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.


Mrk. 8:22-26

8:21 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"
8:22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia.
8:23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?"
8:24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon."
8:25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
8:26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!"



Bukalah Mataku Tuhan!

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda Tuhan yang berbicara mengenai belas kasih Tuhan. Belas kasih dan tindakan Mesianik, ketika ada si buta disembuhkan matanya dan bisa melihat.  Membuka mata orang buta, membuka telinga orang tuli, orang bisa berkata-kata, dan menghidupkan orang mati, adalah tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh Mesias.
Yesus menyembuhkan si buta, di luar kampung. Yesus membawa si penderita ke luar dari kerumunan orang banyak. Si sakit diajak oleh Yesus secara pribadi, diundang secara privat, dan disembuhkan di dalam kesendirian. Simbolisasi bahwa kita pun diundang untuk datang kepada-Nya secara pribadi. Benar bahwa Tuhan menghendaki kita terlibat di dalam hidup bersama. Merayakan sakramen secara publik dan bersama dengan anggota Gereja yang lain.
Tuhan menghendaki kita juga menyediakan waktu secara personal dengan DIA. Berdialog di dalam iman yang personal. Merenungan firman-Nya di dalam ketekunan pribadi. Ingat ini bukan berarti mengajak dan mengajarkan kepada kita untuk bersikap egois dan hanya berkutat pada diri sendiri. Tidak demikian. Tuhan mengajak kita juga menjalin relasi secara personal, intim, dan secara privat di dalam Tuhan.
Dalam bacaan Injil, si buta disembuhkan dan masih merasa belum jelas dan sepenuhnya melihat. Di sanalah peran personal itu, sehingga Tuhan tahu dengan baik apa yang dialami anak-anak-Nya. Kesulitan yang dialami oleh umat-Nya.
Saudara terkasih, ini adalah bukti bahwa Tuhan kita itu Mahamurah, Mahabaik, dan Maha Mendengar. Mana ada Mahabaik yang tidaka mau tahu penderitaan umat-Nya. Kekurangan dan kelemahan akan dipenuhi dan diselesaikan oleh Tuhan. Apa yang tidak jelas akan diperjelas dan dinyatakan dengan lebih baik lagi, semua itu dilakukan oleh Tuhan.
Dalam hidup sehari-hari kita perlu menjalin relasi di dalam Tuhan, agar nurani kita menjadi jernih. Mata kita bisa melihat, pun hati kita mampu membedakan mana yang baik dan benar. Mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan mana yang hanya memenuhi hasrat diri kita semata. Biarkanlah Tuhan menyelikan mata kita agar tidak terus menerus buta, apalagi buta hati dan budi. BD.eLeSHa.

Selasa, 19 Februari 2019

Ragi Farisi dan Herodes, serta Kemunafikan Hari ini


Selasa Pekan Biasa  VI (H)
Kej. 6:5-8,7:1-5,10
Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9-10
Mrk. 8:14-21




Kej. 6:5-8,7:1-5,10

6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
6:7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka."
6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.
7:1 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.
7:2 Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya;
7:3 juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.
7:4 Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu."
7:5 Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya.
7:10 Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi.


Mrk. 8:14-21

8:14 Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.
8:15 Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes."
8:16 Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti."
8:17 Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?
8:18 Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,
8:19 pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul."
8:20 "Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul."
8:21 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?




Ragi Farisi dan Herodes, serta Kemunafikan Hari ini

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan ragi dan perilaku menular. Dalam Injil hari ini Yesus memperingatkan para murid untuk hati-hati pada ragi orang Farisi dan Herodes. Ragi di mana barang yang sangat kecil dan sedikit namun bisa mengubah bahan yang jauh lebih besar dan banyak. Prosentase ragi dalam adonan roti itu tidak seberapa namun bisa mengubah sangat signifikan.
Namun para murid malah berbicara mengenai roti. Mereka diingatkan bagaimana Yesus melakukan penggandaan roti bahkan sampai dua kali. Pola pikir yang berbeda ditampilkan Yesus dan para murid. Para murid berbicara mengenai roti karena memang ragi berkaitan dengan roti. Yesus berbicara ragi dalam arti dampak dan daya ubah dari orang Farisi dan Herodes yang menjadi perhatian.
Yesus memberikan pembelajaran yang cukup berharga, di mana mereka diingatkan bahwa mereka tidak perlu khawatir dengan makanan. Bagaimana pernah terjadi penggandaan roti, jadi mereka sudah tidak perlu meributkan atau mencemaskan soal makanan.
Ragi dan daya ubah dari apa yang ditampilkan oleh orang Farisi dan Herodes jauh lebih memprihatinkan bagi  pemikiran Yesus, yang bisa berpengaruh pada para murid dan pendengar Yesus. Dalam konteks ini  tentu adalah daya rusaknya. Apa yang dilakukan orang Farisi dan Herodes itu buruk. Pengaruh buruk yang  tidak Yesus kehendaki menghinggapi para murid dan para pendengar. Dalam arti ragi yang ini. Ragi dalam pengaruh yang buruk, bukan memperkembangkan tentunya.
Dalam konteks kita hari-hari ini, mungkin hoax dan fitnah yang merajalela bisa disamakan dan setara dengan perilaku orang Farisi dan Herodes. Sikap munafik dan jemawa dari mereka itu identik dengan perilaku elit bangsa ini akhir-akhir ini. Selalu meneriakkan agama namun perilakunya jauh dari anjuran dan tuntunan agama. Selalu menyebutkan kesucian namun di balik itu kemunafikan.
Ragi-ragi model itu yang mendapatkan kritikan Yesus. Kemunafikan dan menggunakan segala cara di dalam mempertahankan kekuasaan dan pengaruh. Munafik di dalam menuntut orang lain, namun perilaku mereka jauh dari itu semua.
Apa yang terjadi masa Yesus ternyata hari ini pun kita alami, jangan-jangan juga kita lakukan, baik sadar ataupun tidak sadar. Dengan merenungkan sabda Tuhan hari ini, kita menyadari untuk mampu menjadi pribadi sebagai anak-anak Tuhan yang bisa menebarkan kasih dan suka cita, bukan ketakutan dan kebohongan. Perilaku munafik yang perlu kita jauhi dan lebih memilih kasih karunia yang terpancar dari  hidup kita. BD.eLeSHa.

Senin, 18 Februari 2019

Cinta Tuhan adalah Tanda dari Surga


Senin Pekan Biasa VI (H)
Kej. 4:1-15,25
Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21
Mrk. 8:11-13




Kej. 4:1-15,25

4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.
4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;
4:4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,
4:5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.
4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."
4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.
4:9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"
4:10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.
4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.
4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi."
4:13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.
4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku."
4:15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.
4:25 Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.


Mrk. 8:11-13

8:11 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.
8:12 Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."
8:13 Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang



Cinta Tuhan adalah Tanda dari Surga

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan kasih Tuhan sebagai karunia. Dalam bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana orang Farisi yang menghendaki tanda dari Tuhan dengan segala pengajaran dan perilaku Yesus yang luar biasa itu. mereka masih merasa kurang dari apa yang Tuhan lakukan. Tanda sebagai perwujudan kuasa Tuhan Yesus.
Tanda yang mereka minta, sejatinya telah dilakukan Yesus di mana-mana. Namun orang Farisi tidak mau tahu dan tidak mau menerima jika Yesus memang Sabda Yang Menjadi Manusia. Cinta kasih-Nya adalah tanda yang luar biasa, jika mereka mau membuka hati dan budinya untuk memahami siapa Yesus.
Satu yang diperlukan untuk mereka bisa menerima, mengenal, mengetahui tanda dari Tuhan adalah jika mereka mau terbuka dan menjalin relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan sehingga mengenal Tuhan dengan lebih baik. Memahami Tuhan dan kehendak Tuhan dengan terang akal budi dan iman. Sering kita gamang, gagal, dan tidak paham apa yang menjadi rancangan Tuhan, karena kita asyik dengan rencana, rancangan, angan-angan, dan keinginan kita sendiri.
Saudara terkasih, dalam apapun keadaanya, kita sudah sepatutnya hanya mengandalkan kasih karunia Tuhan saja. Upaya dan usaha yang kita lakukan, harus selaras dan sejalan dengan kehendak-Nya. Namun, kadang, dan bahkan sering kita justru memaksakan kehendak, yang malah bisa membuat kita susah dan menuju kepada kebinasaan. Keras kepala, tidak mau mengenal kehendak dan jalan Tuhan, merasa tahu segalanya, mengantar kita jauh dari Tuhan dan rancangan-Nya yang pasti terbaik bagi hidup kita.
Apa yang menjadi tanda dari Tuhan tidak perlu kita minta. Kedatangan-Nya ke dunia sebagai Manusia, dan nantinya dipuncaki di dalam wafat di salib dan kebangkitan-Nya adalah tanda yang melebihi apapun yang ada di dunia ini. Tanda apakah yang lebih besar dari yang dilakukan Yesus? Atau cinta apakah yang melebihi cinta Yesus di dunia ini? Tidak ada, tidak ada satupun, dan itu semua hanya Tuhan Yesus yang mampu dan telah melakukannya.
Apakah yang bisa kita buat dan lakukan jika demikian? Kita menjalin relasi dengan lebih erat, dekat, dan makin erat bersama dengan Tuhan, sehingga kita makin mengenal dan tahu Siapa Tuhan dan cinta kasih-Nya itu kita wartakan dan juga kita lakukan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. BD.eLeSHa.

Jumat, 15 Februari 2019

Sabda Bahagia


MINGGU PEKAN BIASA VI (H)
Yer. 17:5-8
Mzm. 1:1-2,3,4,6
1 Kor. 15:12,16-20
Luk. 6:17,20-26



Yer. 17:5-8

17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah


1 Kor. 15:12,16-20

15:12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?
15:16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
15:18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.
15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal


Luk. 6:17,20-26

6:17 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
6:20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
6:24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
6:25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.



Sabda Bahagia

Saudara terkasih dalam Minggu Biasa VI ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan Sabda Bahagia dan kecaman atas beberapa perilaku manusiawi kita. Tuhan berlaku dengan penuh keadilan dan kearifan, di mana manusia ada di dalam keseimbangan yang cukup wajar. Tuhan memberikan gambaran bahagia, namun juga keadaan yang di mana Tuhan tidak berkenan.
Betapa orang akan bahagia jika, miskin karena memiliki kerajaan Allah, dan kecaman bagi orang kaya yang akan kekayaannya telah membahagiakan. Apakah ini berarti Tuhan benci atas orang kaya dan memuja orang miskin? Sama sekali tidak. Kekayaan tidak dibenci Tuhan, namun bagaimana bersikap terhadap kekayaan atau materi itu. Di sanalah Tuhan menyampaikan sabda-Nya. Di mana orang kaya bisa sangat khawatir atas kekayaannya, mereka tidak peduli terhadap si miskin. Sikap atas harta itu, apa lagi jika sudah miskin malah sombong dan belagak, jelas Tuhan tidak akan berkenan demikian.
Dukungan kepada orang yang lapar dan menangis, karena dengan keadaan demikian, orang akan berusaha mencari penghiburan dan kekuatan. Apalagi jika mereka datang kepada Tuhan dan memohon bantuan dan kekuatan. Mereka akan kenyang dan tertawa karena mampu menyelesaikan ujian dengan baik. Sikap sebaliknya dinyatakan Tuhan dengan lugas, bahwa orang kenyang namun abai akan lingkungannya, dan orang yang tertawa lupa sekitarnya, termasuk yang menertawakan derita orang lain, mereka akan kelaparan dan menangis. Ada sebuah kepedulian yang Tuhan kehendaki. Ingat konteks sabda Tuhan adalah bangsa terjajah dan yang kenyang dan tertawa itu sering lupa yang sedang lapar dan menangis.
Kita sebagai anak negeri Indonesia, tentu tahu dengan baik, mungkin juga mengalami, susahnya menjadi pengikut Yesus. Ketika menghadapi ini, apa yang kita pilih, tetap bertahan dengan kesulitan itu, atau malah mencari  aman dan memilih indahnya dunia? Ini momen krusial untuk menjadi murid Tuhan yang berkualitas. Kesulitan mendirikan gedung gereja, ingat gedung gereja bukan Gereja, eh sudah ikut arus aman dengan memilih pemimpin jahat. Atau demi mendapatkan pengakuan sebagai  pejabat, artis, atau apapun dengan mengorbankan iman kepada Tuhan. Yesus menyatakan, apa yang akan terjadi.
Saudara terkasih, apa yang perlu kita lakukan adalah menjalin relasi dan komunikasi dengan Tuhan sehingga kita tidak jatuh di dalam pencobaan. Kita juga tidak jatuh di dalam tawaran duniawi yang kadang menyesatkan itu. Di dalam Tuhan kita akan aman. BD.eLeSHa.

Belas Kasih Tuhan


Sabtu Pekan Biasa V (H)
Kej. 3:9-24
Mzm. 90:2,3-4,5-6,12-13
Mrk. 8:1-10



Kej. 3:9-24

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
3:11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."
3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.
3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."
3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."
3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.
3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.


Mrk. 8:1-10

8:1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:
8:2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
8:3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."
8:4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
8:5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."
8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
8:8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.
8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
8:10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.



Belas Kasih Tuhan

Saudara terkasih, hari ini kita hendak merenungkan sabda Tuhan mengenai Belas Kasih Tuhan. Tuhan mudah tergerak hati-Nya di dalam keprihatianan dan kemungkinan terburuk dari pendengar, murid, atau umat-Nya. Dalam hal ini, bacaan hari ini, Yesus merasa tidak tega hati membiarkan pendengar-Nya pulang padahal mereka seharian mendengarkan pengajaran Yesus. Yesus bisa memperkirakan bagaimana mereka di jalan. Mereka bisa pingsan karena kelaparan dan kelelahan karena ada yang berasal dari jauh.
Para murid yang hidup bersama Yesus ternyata belum paham, mereka masih berupaya untuk menghindar dari tanggung jawab moral yang seharusnya mereka tanggung. Mereka belum mampu mengenal apalagi mampu berperilaku ala Yesus.  Belas kasih yang tulus.
Kesediaan untuk mau mengerti, peduli, empati, dan terbuka untuk mau terlibat atas keberadaan orang lain. Hal yang tidak mudah karena kita cenderung egois, mencari kemudahan dari pada bersusah-susah untuk orang lain. Kadang kita bisa tergerak, namun memiliki pamrih, ada kehendak yang demi keuntungan diri sendiri.
Saudara terkasih, Tuhan bekerja dan melayani dengan ketulusan. Pihak lain menjadi prioritas.  Termasuk mengalahkan diri sendiri dan demi kebahagiaan dan keselamatan umat-Nya. Tidak heran IA mau menjadi manusia bahkan wafat disalib.
Empat ribu orang makan kenyang dan masih sisa tujuh bakul. Mereka makan dari hanya tujuh ikan yang ada pada mereka. Lihat bagaimana para murid lupa, ada Tuhan Yesus bersama mereka yang akan bisa melupakan apa saja. Kita pun sering demikian. Merasa Tuhan tidak  perlu kita repotkan dengan hal-hal yang kecil, sederhana, sepele, dan merasa kita mampu sendiri. Tuhan Allah bukan model demikian. Tuhan justru senang direpotkan anak-anak-Nya. Pernahkah kita sebagai orangtua merasa direpotkan anak? Atau pernahkah kita tahu orang tua mengeluh karena kita repotkan?  Itu terjadi karena belas kasih dari orang tua kita. Nah ketika manusia yang terbatas dan penuh kelemahan saja mampu berbuat demikian, apalagi Allah Yang Mahakasih itu.
Melibatkan Tuhan dalam seluruh usaha kita adalah kualitas iman. Berani menyerahkan seluruhnya di dalam kuasa Tuhan. Jangan pernah sekali-kali merasa bahwa kita membebani Tuhan dengan segala urusan kita. Tuhan Mahabesar itu sanggup menanggung semuanya. BD.eLeSHa.

Tuhan Menjadikan Segala-galanya Baik


Jumat Pekan Biasa V (H)
Kej. 3:1-8
Mzm. 32:1-2,5,6,7
Mrk. 7:31-37




Kej. 3:1-8

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.


Mrk. 7:31-37

7:31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
7:32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
7:34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
7:35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
7:36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.




Tuhan Menjadikan Segala-galanya Baik

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan, mengenai karya Mesianik, di mana orang bisu berkata-kata. Orang tuli bisa mendengar. Karya keselamatan dan khabar gembira itu bukan hanya kelak di alam keabadian saja, namun kini, di dunia sudah dimulai. Betapa menderitanya si bisu dan tuli itu? kedatangan Tuhan Yesus membawa kegembiraan dan kebahagiaan bukan?
Yesus datang untuk memberikan kegembiraan, kebebasan, dan suka cita. Apalagi yang menjadikan para pendengar dan murid Yesus berhasil merefleksikan betapa baiknya Tuhan. Ia menjadikan segala-galanya baik. Apa yang Tuhan jadikan itu adalah baik adanya. Hal ini tentu kita ingat ketika Kisah Penciptaan ketika Tuhan Allah menyelesaikan karya-Nya, akan diakhiri, semuanya baik.
Apa yang Tuhan ciptakan itu baik, tidak ada yang tidak baik, dari apa yang Tuhan lakukan, ciptakan, dan anugerahkan kepada manusia. Apa yang tidak baik, apa yang kurang, dan apa yang buruk sejatinya adalah pengaruh manusia. Di mana manusia ikut terlibat yang tidak membuat makin baik, hanya malah menjadi lebih buruk bukan? Tuhan sudah berupaya memberikan dan menciptakan yang terbaik, hanya sayang kesombongan manusia, kehendak manusia yang cenderung merusak.
Bacaan pertama hendak menegaskan hal ini, bagaimana rupa tingkah polah manusia yang membuat keadaan memburuk. Awalnya baik-baik saja, di dalam kebersamaan dengan Allah, penghianatan manusia dalam pengaruh ularlah menjadikan manusia jatuh.
Mengapa manusia jatuh? Karena manusia hendak sama dengan Allah. Di mana ia ingin mengerti. Di sinilah kejatuhan manusia. Dewasa ini pun kadang pengetahuan bisa membuat keadaan memburuk. Lihat bagaimana manusia menjadi ketergantungan media seperti internet, televisi, dan sebagainya karena pengetahuan. Menciptakan senjata pembunuh massal. Obat yang membantu orang untuk membunuh manusia lain atas nama Tuhan kadang. Ini jauh lebih buruk bukan. Merugikan orang lain atas nama Tuhan? Miris dan mengerikan. Semua diinspirasikan Tuhan adalah baik adanya namun orang menjadikan itu buruk karena demi kepentingan sendiri.
Allah menciptakan semua baik adanya. Tuhan menjadikannya baik semuanya, namun manusia yang ingin memenuhi hasrat duniawi dan ketamakan manusiawi. Tuhan tidak pernah membuat hal yang buruk, apapun itu. BD.eLeSHa.