Rabu, 26 Desember 2018

Natal dan Kita


HARI RAYA NATAL (P)
Yes. 9:1-6
Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13
Tit. 2:11-14
Luk. 2:1-14


Yes. 9:1-6

9:1 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
9:2 Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.
9:3 Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.
9:4 Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.
9:5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
9:6 Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini

Tit. 2:11-14

2:11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
2:12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini
2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik



Luk. 2:1-14

2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud --
2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
2:14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."




Natal dan Kita

Saudara terkasih, Natal itu memberikan banyak hal inspiratif bagi kita, sekaligus bahwa itu adalah Karya keselamatan Allah sudah menjadi nyata. Penjelasan teologis sudah cukup banyak dan sering kita pelajari dan renungkan. Pada sisi lain, kita perlu melihat dengan lebih mendalam.
Salah satu yang perlu kita renungkan dalam hidup bersama sebagai sebuah bangsa adalah, pro-kontra dan ribet soal ucapan selamat Natal. Hal yang malah bisa mengganggu persiapan menyambut Sang Penebus. Sejatinya tidak ada yang penting karena sama sekali tidak menambah kualitas iman kita. Yang ada hanya mengganggu kualitas iman kita jika tidak kita sadari dengan baik. Perasaan jengkel, marah, dan tidak jarang bisa berharap terlalu banyak pada hal-hal yang tidak mendasar.
Kemampuan kita untuk memahami esensi Natal yang sejati sering hanya sekadar pesta Natal, kemeriahan di dalam lagu-lagu, dan kadang kita sering fokus pada itu, namun lupa kalau ada hal lain yang tidak kalah  lebih penting. Bagaimana kedatangan-Nya itu untuk menyelamatkan bukan merepotkan manusia.
Ada pula keasyikan kita di dalam mempersiapkan dalam segi fisik, menghias gedung gereja, rumah, pohon Natal, dan seterusnya malah membuat kita kecapekan dan bisa kecapekan dan tidak ingat apa yang seharusnya kita lakukan. Bagaimana kita abai akan rekonsiliasi, merenungkan Kitab Suci, berkegiatan di lingkungan untuk menambah kekayaan dan keindahan batin kita.
Saudara terkasih, Natal yang sejati adalah Khabar Suka Cita di mana kita menerima Penyelamat Dunia, bukan karena jasa kita semata. Ada Kekuatan Yang Jauh lebih besar, di mana Allah yang berkenan melawat umat-Nya, di antaranya adalah kita. Kita yang sempat tersesat, di mana kita pernah salah jalan, dan hilang dari kesatuan dengan Tuhan Allah kita. IA berupaya menyatukan dan mengembalikan kesatuan dan relasi yang sempat terkoyak itu. Kesatuan yang direkatkan oleh kehadiran Yesus, Allah yang melawat anak-anak-Nya.
Kasih karunia Allah yang hadir dan melawat umat-Nya, perlu jawaban yang setimpal, dan itu jawaban yang diharapkan Allah adalah “YA” dan itu juga perlu. Mengapa demikian? Jawaban yang sangat diharapkan Tuhan Allah sebagai balasan yang sepadan, tanggapan yang sebanding atas sapaan, lawatan, dan rancangan Tuhan. Ungkapan iman dari pihak manusia sebagai tanggapan, reaksi, dan jawaban setara atas kasih Allah. BD.eLeSHa.


Seri Keteladanan Para Kudus


Senin Khusus Adven (U)
2 Sam. 7:1-5,8-12,16
Mzm. 89:2-3,4-5,27,29
Luk. 1:67-79




2 Sam. 7:1-5,8-12,16

7:1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling,
7:2 berkatalah raja kepada nabi Natan: "Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda."
7:3 Lalu berkatalah Natan kepada raja: "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau."
7:4 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian:
7:5 "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?
7:8 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.
7:9 Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.
7:10 Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu,
7:11 sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu.
7:12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."


Luk. 1:67-79

1:67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
1:68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
1:69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,
1:70 -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus --
1:71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
1:72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,
1:73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
1:74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,
1:75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.




Seri Keteladanan Para Kudus


Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan Tuhan, mengenai keteladanan sikap para kudus, salah satunya Zakaria. Zakaria dikisahkan pernah ragu dan tidak yakin akan karya luar biasa Allah.  konsekuensi atas itu, ia bisu sampai kelahiran sang putera.
Kesetiaan Zakaria patut menjadi sifat yang kita teladani, bagaimana ia tetap setia dan menjalani “hukuman” Tuhan. Kan bisa saja ia protes, marah, dan merasa Tuhan kejam dan tidak adil, karena reputasinya sebagai imam. Apa yang ia pilih dan lakukan ternyata berbeda, tidak demikian adanya. Ia tetap menjalani hukuman itu dengan penuh syukur.
Ia tidak mengingat apa yang Tuhan lakukan atas hukuman itu. Malah ia memuji Allah, dan menyatakan hal yang luar biasa dan baik bagi Tuhan. Tindakan-tindakan besar yang pernah dilakukan Allah. Allah banyak membantu, berjanji dan ditaati-Nya, gambaran yang perlu kita juga lakukan. Bagaimana Allah itu melakukan apa yang memang seharusnya terjadi. berbeda dengan apa yang manusia lakukan. Di mana kita sering melenakan kita akan tanggung jawab kita. Melupakan kewajiban kita demi hal yang remeh temeh.
Saudara terkasih, apa yang dilakukan Zakaria sering kita lakukan, sering kita alami, di mana kita kadang jatuh, terkadang melupakan komitmen, menyerah pada keadaan, dan lebih parah menyanksikan kehendak Tuhan  yang maunya kita adalah seketika, langsung begitu kita memintanya. Belum tentu demikian yang Tuhan rencanakan. Dan di sanalah ada kesadaran darii Zakaria yang perlu kita contoh. Kejatuhan itu bukan menjadi alasan bagi Zakaria terus meratap namun menyadari kesalahannya dan kemudian bersikap sebagaimana orang beriman. BD.eLeSHa.



Senin, 24 Desember 2018

Pilihan Maria dan Perjumpaan


MINGGU ADVEN IV(U)
Mi. 5:2-5
Mzm. 80:2ac, 3b, 15-16,18-19
Ibr. 10:5-10
Luk. 1:39-45




Mi. 5:2-5

5:2 Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.
5:3 Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,
5:4 dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.
5:5 Mereka itu akan mencukur negeri Asyur dengan pedang dan negeri Nimrod dengan pedang terhunus; mereka akan melepaskan kita dari Asyur, apabila ia ini masuk ke negeri kita dan menginjak daerah kita.

Ibr.  10:5-10

10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki -- tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku --.
10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.
10:7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku."
10:8 Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat --.
10:9 Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.
10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.


Luk. 1:39-45

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."




Pilihan Maria dan Perjumpaan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan Firman Tuhan mengenai kualitas Maria. Bagaimana Maria sebagai gadis belia harus menanggung beban sedemikian besar, berani menyatakan IYA atas perbuatan ajaib di dalam karya keselamatan. Tentu ia memiliki beban atas konsekuensi iman itu, tidak terlepas juga beban sosial budaya. Pilihan cerdas ia berbagi dengan saudaranya, yang sama-sama memiliki tanggungan yang sama.
Tentu bahwa kita bukan hendak melihat Maria merasa beratnya, namun bagaimana ia memandang itu semua dengan kerelaan hati sehingga menjadi ringan. Ia tentu berbagi bersama Elisabet. Dan luar biasa yang boleh kita pelajari, menjadi teladan hidup, adalah kualitas di mana Maria yang “membawa” Yesus memberikan suka cita besar. Bagi Elisabet yang sedang “bingung” bayangkan suami tiba-tiba bisu, mengandung di masa ssangat tua, itu bukan hal ringan. Kedatangan Yesus membuatnya bersuka cita, termasuk bayi yang ada di dalam kandungannya pun melonjak kegirangan.
Saudara terkasih, jika hal ini terjadi hari ini, kita akan memviralkannya dulu, urusan belakangan. Maria dan Elisabet melihat rencana Allah itu dalam bingkai iman, mereka memilih saling menguatkan dan menenguhkan satu sama lain. Hidup mereka semakin, hidup, semakin berkualitas, dan makin memberikan warna.
Ungkapan iman karena adanya dua kualitas anak-anak yang akan lahir itu turut mengubah ibu-ibu mereka. Mereka bukan lagi gadis dan ibu biasa karena tugas mereka sungguh berat dan tidak main-main.
Saudara terkasih, kita memiliki pilihan di dalam hidup ini, pilihan ada di tangan kita, mau bersama dengan Tuhan atau memilih memisahkan diri dengan-Nya. Perbedaan yang akan signifikan, bersama dengan Tuhan yang sering harus menyangkal dunia, dan sebaliknya, meninggalkan Tuhan berarti bersama dengan dunia. Di dalam Tuhan kita akan mendapatkan jalan yang sering tidak mudah dalam kaca mata dunia. Maria telah memberikan teladan di dalam memilih itu.
Di dalam Tuhan kadang tidak mudah memang, namun jangan takut karena Tuhan juga yang akan menguatkan langkah laku kita. Ini yang sering kita lupa, ada Tuhan dan ada kasih-Nya yang akan menjadi kekuatan dan kemampuan kita menjadi berbeda. Kadang tidak akan sanggup jika menghitung secara manusiawi, namun toh bisa juga bukan? Itulah kehadiran Tuhan. BD.eLeSHa.


Kerendahhatian Maria


Sabtu Khusus Adven (U)
1 Sam. 1:24-28
1 Sam. 2:1.4-5,6-7
Luk. 1:45-56



1 Sam. 1:24-28

1:24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.
1:25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli;
1:26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.
1:27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.
1:28 Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.



Luk. 1:45-56

1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya



Kerendahhatian Maria

Saudara terkasih, pekan akhir menjelang Natal. Kita diajak untuk merenungkan kualitas orang-orang sekitar Yesus. Keluarga Inti Yesus, yang akan mendidik-Nya secara nyata di dalam dunia. Yesus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia sepenuhnya ini akan hidup di tengah dunia, diasuh manusia utuh di dalam dunia, dan itu memerlukan kualitas yang berbeda.
Maria, perawan berkualitas telah menyatakan kesanggupannya. Perjumpaan dengan Yesus memberinya kualitas lebih, karena Yesus, Maria menjadi semakin memberikan jaminan mutu yang berbeda. Bagaimana mungkin mengasuh Putera Allah jika ianya tidak memiliki hal-hal istimewa.
Bagaimana ia demikian fasih mengutip ungkapan para nabi masa lalu sebagai bagian hidupnya. Ia bukan semata mengutip, mengungkapkan, dan menyatakan itu sebagai sebuah doa yang mendalam karena adanya bagian utuh, pengalaman pribadi, dan perasaan mendalam yang ia katakan di dalam doanya.
Ia yang memang rendah hati tersebut memberikan sebuah inspirasi bahwa di dalam Tuhan itu baik adanya. Tuhan yang melawat umat-Nya itu hendak membawa keselamatan dengan konsekuensi yang jelas harus ditanggung. Manusia perlu kualitas-kualitas tertentu. Bagaimanapun ada sikap tanggung jawab yang harus dimiliki, bukan seenaknya saja mau selamat tanpa mau susah payah mengupayakannya.
Keselamatan itu dari Allah, namun ada gerak, upaya, dan kehendak untuk menuju ke sana agar ada tanggapan yang sepadan. Upaya manusiawi itu harus ada, meskipun bahwa itu bukan usahanya pribadi dan yang utama. Keselamatan itu dari Allah dan manusia menjawab dengan sepatutnya. Ada gerak selaras di antara keduanya. BD.eLeSHa.


Jumat, 21 Desember 2018

Perjumpaan yang Menyelamatkan


Jumat Khusus Adven (U)
Zef. 3:14-18
Mzm. 33:2-3,11-12,20-21
Luk. 1:39-45



Zef. 3:14-18

3:14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
3:16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
3:17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
3:18 seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela



Zef. 3:14-18

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.




Perjumpaan yang Menyelamatkan

Saudara  terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan peristiwa ajaib, luar biasa, dan benar-benar karya Allah yang hadir. Dua perempuan mengandung dengan cara tidak biasa, pertama seorang manula yang sudah lewat usia. Kedua, perempuan, gadis muda belia, belum menikah lagi. Keduanya jelas simbol atas hadirnya Allah dan rencana-Nya di sana.
Kedatangan Maria yang mengunjungi Elisabet adalah sebuah peristiwa lain yang tidak biasa. Maria berkunjung karena khabar suka cita, di mana ia didatangi Roh Kudus. Pun Elisabet juga mengandung dengan cara luar biasa. Toh lebih besar suka citanya daripada kesedihan dan kekhawatirannya.
Perjumpaan yang membawa suka cita secara luar biasa mendalam. Bayi yang di dalam kandungan pun bereaksi dengan yang sama. Suka cita karena kedatangan bayi Yesus.
Maria dan Elisabet saling berbagi khabar bahagia, maka bayi yang di dalam kandunganpun bersuka cita. Mereka memuliakan Allah dan saling melengkapi di dalam memuliakan Allah.
Saudara terkasih, kita pun diajak untuk mau saling mengunjungi, ada sarana dan prasarana yang makin maju dan modern, di mana itu membantu jika yang disampaikan adalah hal-hal positif, membangun, dan merencanakan kebaikan, sering kita jatuh pada hal yang buruk karena asyik dengan hal yang remeh temeh, hal negatif, dan sejenisnya. Adanya sarana dan kemajuan dipakai untuk kejahatan dan keburukan. Padahal seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal yang baik, memudahkan, dan menjembani kesulitan yang mungkin ada.
Perjumpaan itu sangat membantu, apalagi jika berjumpa dengan Tuhan dan kasih karunia-Nya. Bertemu dengan kebaikan yang membantu kita untuk bertumbuh dan berkembang di dalam Tuhan dan sesama. Buat apa coba jika pertemuan dan perjumpaan itu tidak saling memperkembangkan, mengarhkan semakin mengenal diri dan Tuhan?
Kita diajak untuk semakin mengenal diri sendiri dan mengenal Tuhan, sehingga semakin mengasihi. Perlu kita memohon agar semakin banyak perjumpaan di dalam kebaikan daripada sebaliknya. Jika tidak sempat berjumpa, bisa diatasi dengan alat komunikasi, pun itu harus berbagi kebahagiaan dan kebaikan. Kebaikan yang perlu dibagikan, bukan malah disimpan untuk diri sendiri.BD.eLeSHa.

Kamis, 20 Desember 2018

Aku ini Hamba Tuhan Terjadilah padaku Menurut Katamu itu!


Kamis Biasa Khusus Adven (U)
Yes. 7:10-14
Mzm. 24:1-2,3-4,5-6
Luk. 1:26-38


Yes. 7:10-14

7:10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya:
7:11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas."
7:12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN."
7:13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel


Luk. 1:26-38

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.




Aku ini Hamba Tuhan Terjadilah padaku Menurut Katamu itu!

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan mengenai keterbukaan, kesiapsediaan Maria yang terlibat dalam karya penyelamatan Allah. Sikap perawan muda yang penuh iman. Bagaimana ia sanggup menanggung risiko yang demikian besar. Ia tahu bahwa itu artinya adalah kematian dan hukum rajam yang otomatis akan ia terima.
Khabar gembira dan suka cita yang diwartakan malaikat ini simalakama bagi Maria. Jika tidak sanggup berarti suka cita itu tidak akan terjadi, bahkan menjadi kisah duka karena Penyelamat tidak jadi hadir. Maria pun bisa malah menjadi menyesal dan beban hidup yang akan lama baru ia bisa berdamai. Suka cita yang sejati, meskipun Maria menghadapi banyak masalah yang sangat tidak ringan.
Maria yang menerima khabar suka cita Ilahi itu menjadi saluran penerus atas khabar suka cita bagi seluruh makhluk. Jika Maria berpikirkepentingannya semata, semua itu tidak akan sampai kepada kita hari ini. Maria bukan pribadi egois yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri, namun berpikir tentu kebahagiaan semakin banyak orang, termasuk kita hari ini dan selama-lamanya.
Saudara terkasih, kita pun di dalam hidup kita bersama sering dihadapkan pilihan mau mencari aman, selamat, suka cita bagi diri sendiri atau semakin banyak orang? Berpikir untuk kepentingan diri atau umum? Sering kita terjatuh pada pilihan menyenangkan diri sendiri dulu, baru orang lain. enggan menanggung risiko dan keadaan yang tidak enak. Ketika enak banyak yang mau, namun apakah berkorban untuk orang lain mau? Susah bukan?
Itulah yang tidak mudah itu lebih memberikan kesukaan yang luar biasa. Memilih mudah namun tidak ada perjuangan, tentu itu tidak memberikan kebanggaan, suka cita yang purna. Yang ada hanya kesenangan sesaat. Kesulitan, risiko, dan adanya tanggung jawab yang tidak mudah itu memberikan kebahagiaan lebih. Fokus bukan kesenangan diri juga memberikan suka cita yang lebih. Egoisme, keberanian membela kebenaran dan kepentingan umum kadang tidak gampang, dan itulah salib itu. Di sanalah Tuhan ada dan hadir. Suka cita yang sejati itu perlu diupayakan. BD.eLeSHa.

Rabu, 19 Desember 2018

Karya Allah Sering Gagal Kita Selami


Rabu Biasa Khusus Adven (U)
Hak. 13:2-7,24-25
Mzm. 71:3-4,5-6,16-17
Luk. 1:5-25




Hak. 13:2-7,24-25

13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."
13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: "Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.
13:7 Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.
13:24 Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.
13:25 Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.


Luk. 1:5-25

1:5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.
1:6 Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
1:7 Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
1:8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.
1:9 Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.
1:10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.
1:11 Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.
1:12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.
1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.
1:14 Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.
1:15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;
1:16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,
1:17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."
1:18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya."
1:19 Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya."
1:21 Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci.
1:22 Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.
1:23 Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.
1:24 Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:
1:25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."



Karya Allah Sering Gagal Kita Selami

Saudara terkasih, hari ini kit diajak merenungkan mukjizat, karya Allah yang amat luar biasa. Bagaimana Elisabet yang sudah sangat tua bersama sang suami yang jelas sama tuanya, ternyata bisa memiliki anak kandung. Elisabet bisa hamil. Mereka yang berpuluh tahun berdoa memohon anak, eh pada akhirnya didengar Tuhan malah mempertanyakan khabar malaikat itu.
Bisunya Zakaria, tentu sebagai bukti bagaimana ia tidak percaya. Kita bisa belajar dengan kisah Maria, bagaimana Maria yang masih muda bisa mengatakan terjadilah padaku.... Padahal Zakaria itu imam, di mana tentu pemahaman akan keimanan lebih baik. Belum lagi soal usia, di mana Zakaria jelas sudah sangat matang.
Apa yang Zakaria alami, sering juga kita jalani, lakukan, dan rasakan. Bertahun-tahun memohon ini dan itu, namun ketika mendapatkan itu malah lupa bersyukur, tidak jarang juga malah mempertanyakan benar tidak ini dari Tuhan. Mengapa demikian? Bisa karena merasa Tuhan tidak menjawab doa dan keinginan kita, pada saat yang kita perlukan. Merasa Tuhan mengabaikan keinginan kita.
Tuhan memberikan apa yang ingin IA berikan, bukan apa yang kita inginkan. Mengapa? Karena kita ini terbatas, sering malah membuat kita tersesat. Itu yang tidak Tuhan kehendaki. Apa gunanya coba jika Tuhan memberikan keinginan kita, namun malah membuat kita tersesat.
Tuhan memberikan yang  terbaik bagi kita, namun belum tentu seperti yang kita inginkan. Ini membuat kita malah mempertanyakan rahmat yang Tuhan berikan itu. Mengapa ini  bukan itu, mengapa sekarang bukan waktu itu dan seterusnya.
Bisa saja Zakaria itu sudah lelah berharap dan ketika diberitahu istrinya mengandung ia kaget dan malah seolah mempertanyakan kasih karunia Allah itu. Kaget dan jadi kurang percaya. Sangat mungkin orang menjadi putus asa dan merasa tidak lagi ada harapan. Termasuk karya Tuhan.
Saudara terkasih, kita patut memohon kepada Tuhan agar diberikan rahmat  untuk selalu peka melihat karya Allah dan rancangan-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Karya dan kasih karunia-Nya yang belum tentu sama dengan harapan yang kita inginkan. Iman membantu kita mampu menerima pemberian Tuhan meskipun berbeda dengan apa yang kita idam-idamkan. BD.eLeSHa.