Jumat, 23 November 2018

Menyuarakan Kebenaran


Jumat Pekan Biasa XXXIII (H)
Why. 10:8-11
Mzm.119:14,24,72,103,111,131
Luk. 19:45-48




Why. 10:8-11

10:8 Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu."
10:9 Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu."
10:10 Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.
10:11 Maka ia berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja."


Luk. 19:45-48

19:45 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
19:46 kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
19:47 Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
19:48 tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.




Menyuarakan Kebenaran

Saudara terkasih, apa yang kita renungkan hari ini sebenarnya sangat konkret kita alami bersama, baik sebagai umat Allah dalam Gereja ataupun sebagai masyarakat anak bangsa. Keadaan mencari keuntungan dengan memanfaatkan keadaan, kedudukan, dan kesempatan, sebagaimana para penjual atau pedagang di Bait Allah sangat biasa kita temui.
Sering kita jatuh pada keadaan pembenaran atas kesalahan di mana salah kaprah, salah yang tidak lagi dianggap salah karena sudah terbiasa, banyak yang melakukan, dan sudah umum terjadi. perdagangan di dalam Bait Allah memang sangat menguntungkan. Para peziarah yang akan mengorbankan tinggal membeli, daripada membawa dari rumah atau kampungnya yang jauh, jelas itu praktis. Namun di sisi lain, para pedagang ini, juga atas restu penguasa Bait Allah kadang memberikan harga yang sangat tidak wajar. Awalnya membantu, namun malah mencekik, di sinilah yang tidak patut.
Dalam hidup bersama sebagai bangsa kita juga sering mengalami hal itu. Sedikit-sedikit membela agama, mnyebut dengan sedikit berbeda dianggap menistakan agama. Mau menjadi pemimpin dengan mengaitkan dengan agamanya, padahal jelas-jelas hidupnya jauh dari nilai agama. Sama dengan apa yang terjadi para pemuka jemaat ddan penguasa Bait Allah, di mana perilaku munafik mereka, kekejian dengan perdagangan yang sering mencekik namun dikamuflasekan sebagai tuntutan agama.
Yesus tetap jernih dalam menyikapi hal itu karena memang Yesus tidak memiliki kepentingan selain mewartakan kehendak Allah. perdagangan itu menguntungkan beberapa pihak dengan jelas merugikan para peziarah. Tuhan yang tidak memiliki kepentingan bisa menyuarakan kebenaran.
Kita pun dituntut mampu menyuarakan kebenaran. Takut dan cemas sering memuat kita lemas. Ketakutan dan kengerian yang bisa diatasi jika bersama Tuhan dan di dalam Tuhan. Tuhan yang berkarya bukan kita yang bekerja. Di dalam DIA segala urusan akan terjadi. kesiapan dan kesanggupan kitalah yang utama. Tuhan yang akan memberikan apa yang kita perlukan, termasuk keberanian dan energi lebih untuk tetap menyuarakan kebenaran itu. BD.eLeSHa.


Kamis, 22 November 2018

Santa Sesilia, Perawan dan Martir


Pw. S. Saesilia, PrwMrt (M)
Why. 5:1-10
Mzm. 149:1-6a,9b
Luk. 19:41-44



Why. 5:1-10

5:1 Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.
5:2 Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: "Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?"
5:3 Tetapi tidak ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya.
5:4 Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.
5:5 Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."
5:6 Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
5:7 Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
5:8 Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.
5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Luk. 19:41-44

19:41 Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,
19:42 kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.
19:43 Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan,
19:44 dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."




Santa Sesilia, Perawan dan Martir

Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku 'Acta' (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapanbelas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.
Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.
Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: "Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku."
Kata Valerianus: "Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu." Jawab Sesilia: "Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu." Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.
Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.
Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi.Imankatolik.co.id



Rabu, 21 November 2018

Pesta Maria Dipersembahkan Kepada Allah



Rabu Pekan Biasa XXXIII (H)
Wyh. 4:1-11
Mzm. 150:1-6
Luk. 19:11-28




Wyh. 4:1-11

4:1 Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.
4:2 Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.
4:3 Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.
4:4 Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.
4:5 Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.
4:6 Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.
4:7 Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.
4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."
4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya,
4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:
4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

Luk. 19:11-28

19:11 Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.
19:12 Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
19:13 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
19:14 Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.
19:15 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
19:16 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.
19:17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
19:18 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.
19:19 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.
19:20 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.
19:21 Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.
19:22 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.
19:23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
19:24 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.
19:25 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.
19:26 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.
19:27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku."
19:28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.



Pesta Maria Dipersembahkan Kepada Allah

Pada hari ini di tahun 543 diberkati gereja baru Santa Perawan Maria dekat kenisah Yerusalem. Maka bersama umat Kristen Timur, kita ingat bagaimana Maria diberkati oleh Tuhan sejak awal hidupnya. Ia menjadi kediaman Roh Kudus yang indah berseri karena hidup suci. Terdorong oleh Roh Kudus Maria mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia melaksanakan kehendak Bapa dengan sempurna, dan menjadi Bunda Yesus Kristus. Maria sungguh bahagia, sebab ia mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah.
Dalam pembaptisan hidup kita juga dipersembahkan kepada Allah. Kita pun diberkati oleh Tuhan dan dilimpahi dengan rahmatNya. Berulangkali kita mendengar Sabda Allah. Apakah kita juga melaksanakannya.Imankatolik.co.id



Selasa, 20 November 2018

Perjumpaan dengan Yesus itu Mengubah dan Menghasilkan Pertobatan



Selasa Pekan Biasa XXXIII (H)
Why. 3:1-6,14-22
Mzm. 15:2-5
Luk. 19:1-10




Why. 3:1-6,14-22

3:1 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!
3:2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.
3:3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.
3:4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.
3:5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.
3:6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
3:14 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
3:15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
3:22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."


Luk. 19:1-10

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."




Perjumpaan dengan Yesus itu Mengubah dan Menghasilkan Pertobatan


Saudara terkasih hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan mengenai perubahan sikap dan pertobatan dari Zakheus, si pemungut cukai. Pemungut cukai dalam konteks zaman Yesus adalah pendosa karena dua hal. Pertama mereka bekerja demi penjajah Romawi. Orang yang bekerja dan bekerja sama dengan penjajah adalah pendosa. Kedua, adalah tidak jarang mereka mengutip lebih banyak dari yang seharusnya demi kepentingan sendiri tentunya.
Kehadiran Yesus ternyata membuatnya berubah, ia berbalik arah dan sikap radikal pun diambil. Zakheus yang pendek itu demi bisa melihat Yesus, memanjat pohon demi bisa melihat Yesus. Sapaan Yesus membuatnya makin berbenah dan berubah. Ia akan mengembalikan uang yang pernah dikutip, bahkan jika ada selisihnya, ia berjanji untuk mengembalikan empat kal lipatnya.
Pertobatan itu berbalik arah, dari hidup dalam kedosaan ia berubah menjadi anak-anak Allah yang penuh kasih. Berbalik arah menjadi kata kunci yang penting, bukan semata menyesal, memohon maaf, dan memohon ampun saja, namun ada perubahan signifikan, bahkan radikal, yaitu berbalik arah. Berbalik arah itu berubah sepenuhnya.
Gerak batin, gerak langkah untuk menjumpai Yesus itu perlu usaha, upaya, dan kerja keras serta kerja cerdas. Tidak ada yang mudah untuk menemukan jalan dan kehendak Tuhan. Upaya Zakheus untuk memanjat pohon adalah usaha karena ia pendek. Pendek di dalam iman, di dalam pengetahun mengenai siapa Yesus itu.
Perubahan adalah langkah selanjutnya, usai mengenai siapa Yesus. Pengenalan akan Yesus yang membawa perubahan. Perubahan yang ekstrem karena berbalik arah, berputar dari pendosa menjadi pecinta Tuhan dan sesama.
Sapaan Tuhan yang penuh kasih mendapatkan momentum, memperoleh jawaban dan timbal balik dengan kesiapsediaan Zakheus berubah. Menyadari kesalahannya, memperbaiki diri dengan segala konsekuensinya.
Saudara terkasih, apa yang disampaikan Yesus dan Zakheus sebagai simbolisasi kita sebagai umat beriman adalah, bahwa kasih Yesus yang tidak pandang bulu itu bisa menggerakan pendosa sekalipun untuk  mengalami pertobatan dan perubahan sikap kita.
Kasih Tuhan perlu respons, perlu jawaban, dan memerlukan tanggapan dari kita, mau atau tidak untuk dibina, dibentuk, dan diperbaiki oleh Tuhan. Ini sikap batin kita yang sepadan untuk terjadinya berkat dari Allah yang telah ditawarkan.
Pengenalan akan Yesus, siapa Yesus, pribadi Yesus adalah iman, dan itu perlu kerja keras, ada upaya yang kadang tidak mudah. Di sinilah yang sering kita dihambat oleh kuasa jahat untuk enggan mengalami kesulitan. Kita sering mencari jalan yang lebih mudah, tidak mau susah, dan lebih memilih yang mudah dan enak, padahal belum tentu itu adalah kasih Allah.
Perubahan itu tidak mudah, dan bahkan sakit. Merasa malu, enggan, dan kalah dengan kata orang, yang kadang melemahkan usaha kita. Bagaimana keberanian dan kemauan itu ada demi menjawab kasih Allah yang telah ditawarkan itu. BD.eLeSHa.

Senin, 19 November 2018

Perjumpaan yang Memerdekakan


Senin Biasa Pekan XXXIII (H)
Why. 1:1-4,2:1-5
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 18:35-43




Why. 1:1-4,2:1-5

1:1 Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa  yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya,  Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.
1:2 Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya.
1:3 Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.
1:4 Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,
2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.


Luk. 18:35-43

18:35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.
18:36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?"
18:37 Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."
18:38 Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
18:39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
18:40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:
18:41 "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"
18:42 Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"
18:43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.




Perjumpaan yang Memerdekakan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan mengenai perjumpaan yang memerdekakan. Bagaimana orang buta tersebut meminta belas kasihan kepada Yesus. Ia pertama-tama bukan mohon kesembuhan agar tidak buta, namun mohon belas kasihan. Sederhana jika hanya mohon kesembuhan, ia meminta belas kasihan.
Konteks masa itu, orang sakit  buta, tuli, kusta, atau cacat  itu adalah kutukan yang tidak boleh menjadi bagian utuh atas masyarakat. Mereka yang sudah menderita itu tambah menderita karena hukuman sosial, di mana mereka makin berat dan sakit karena harus dikucilkan, dipisahkan dari keluarga dan masyarakatnya.
Memohon kepada Tuhan juga tidak boleh setengah-setengah, harus yakin, dan tidak takut atas halangan atau hambatan. Ia dimarahi para murid atau orang yang merasa terganggu atas teriakannya. Namun ia tidak surut hanya karena itu. Perjuangan diperlukan sebagai sebuah upaya.
Yesus melihat usaha si buta tersebut sebagai iman yang dinyatakan. Imannyalah yang menyelamatkan, karena ia percaya, ada tanggapan baik, usaha untuk datang dan memohon pertolongan Tuhan. Ada gerak, langkah, dan usaha untuk sembuh.
Apa  yang si buta terima bukan semata kesembuhan dari kebutaan, namun juga ia dipersatukan dengan masyarakatnya, dan terutama dengan Yesus. Ia kemudian mengikuti Yesus ke mana pun pergi.
Saudara terkasih, apa yang kita perlukan di dalam doa, pertama-tama adalah iman kita kepada Tuhan, kepercayaan dan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita. Hak sepenuhnya ada pada Tuhan di dalam memberikan jawaban.
Selain iman ada juga upaya, usaha, kerja keras untuk mewujudkan yang kita minta. Mana ada meminta, memohon, namun kita tidak berupaya, kita tidak mengusakan, tidak terlibat di dalam mengusahakan apa yang kita inginkan. Ada ketersalingan, ada timbal balik, ada gerak untuk terlibat di dalam rencana Allah.
Perjumpaan dengan Yesus itu karunia terbesar. Yesus yang menyembuhkan orang kusta, membuat orang bisu berbicara, dan orang buta melihat. Itu bukan semata penyembuhan, namun adalah gambaran Mesiasnik. Masa Mesias  hadir dan menyatakan Diri. BD. eLeSHa.

Minggu, 18 November 2018

Akhir Zaman


HARI MINGGU BIASA PEKAN XXXIII (H)
Dan. 12:1-3
Mzm. 16:5,8,9-10,11
Ibr. 10:11-14.18
Mrk. 13:24-32




Dan. 12:1-3

12:1 "Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.
12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.
12:3 Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Ibr. 10:11-14.18

10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.
10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah,
10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.
10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Mrk. 13:24-32

13:24 "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya
13:25 dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
13:26 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
13:27 Dan pada waktu itu pun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
13:28 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
13:29 Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
13:30 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.
13:31 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja."



Akhir Zaman

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan mengenai akhir zaman. Orang bisa sangat asyik menghitung, meramal, mengaitkan tanda-tanda dan kejadian demi kejadian dengan akhir zaman atau kiamat. Apakah itu benar?
Tuhan Yesus mengatakan, bahwa IA sendiri tidak tahu, hanya Bapa yang tahu. Jika demikian, untuk apa coba kita repot-repot berpikir tentang saat yang hanya Bapa yang tahu itu? Apa gunanya bingung dengan apa yang pasti terjadi, hanya tidak tahu kapannya. Apa yang lebih mendesak kita lakukan?
Kita menjalankan perutusan kita dengan sebaik-baiknya. Melakukan apapun yang menjadi kewajiban, tugas, karya, dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Ini jauh lebih penting dan bermanfaat daripada berpikir kapan waktu itu akan datang.
Surga itu sudah milik kita karena berkat dan karunia Allah yang memilih kita, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya, dan konsekuensi itu adalah bersatu dengan-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Tidak mungkin bukan anak-Nya  di tempat lain.
Namun, meskipun sudah pasti memperoleh surga, kita tidak bisa berlaku semena-mena, seenaknya sendiri, dan menyatakan bahwa kan pasti masuk surga. Tidak demikian. kita juga perlu bersikap yang sepadan. Melakukan kehendak Tuhan, menjalankan hukum kasih, untuk mengasihi Tuhan dan sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri. Konsekuensi atas apa yang telah Tuhan lakukan kepada kita. Jawaban yang sepadan tentu perlu juga kita berikan kepada sesama dan Tuhan kembali.
Sering kita berpikir, toh bisa nanti, ketika sudah tua untuk  mendekatkan diri pada Tuhan. Memang tahu bahwa akan sampai tua hidupnya? Belum tentu. Bisa saja pas berpesta dan masih muda kemudian meninggal. Bagaimana ini mau dipertanggungjawabkan. Di sinilah tugas kita, kita menjawab kehendak Tuhan saat ini dan di sini, bukan nanti apalagi besok-besok. Asyik mengaitkan fenomena malah mengabaikan kewajiban, buat apa coba? Salah satu karya roh jahat ya ini, membuat kita terlena pada hal-hal yang buruk, membuat kita sibuk pada yang tidak mendasar, dan kadang tidak perlu. Memangnya menambah apa dengan mengetahui kira-kira kita ada di mana, atau kita akan mengalami akhir zaman itu. Sama sekali tidak berguna jika kita tidak berubah apalagi berbalik arah menuju kepada Bapa.BD.eLeSHa.