Senin, 24 September 2018

Sikap Mendengar


Senin Biasa Pekan XXV (H)
Ams. 3:27-34
Mzm. 15:2-5
Luk. 8:16-18



Ams. 3:27-34

3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.
3:28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu.
3:29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau.
3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.
3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satu pun dari jalannya,
3:32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.
3:33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya.
3:34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.

Luk. 8:16-18

8:16 "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
8:17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."



Sikap Mendengar

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenak sikap pemuridan dalam hal ini adalah mendengar. Mengapa demikian penting untuk menengar? Sebagai pribadi anak dunia, kita sering menjadi banyak mengambil kesempatan untuk berbicara dan berbicara, namun enggan dan berat hati untuk mau mendengar. Sikap yang sangat natural, alamiah, dan itulah manusiawi.
Tuhan menghendaki kita yang berbeda. Sikap pengikut-Nya, untuk menjadi murid-Nya, dan mengasihi-Nya, kita harus mendengar. Mendengar sabda-Nya, mendengar kisah atas kasih-Nya yang tak terbatas dan menjadi pewarta apa yang telah IA lakukan dengan kasih itu.
Perlu juga menjadi peringatan, agar apa yang kita dengar itu adalah kebaikan, kasih Allah, dan firman-Nya, karena dunia ini penuh dengan hal yang bisa kita dengar. Kesempatan dan kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang mau didengar atau tidak juga penting. Menolak hal-hal buruk yang bisa memisahkan dengan kesatuan bersama Tuhan dan sesama, juga bukan kualitas. Kalau itu apa bedanya dengan dunia ini.
Mendengarkan karya kasih Tuhan. Mau mendengar kisah dan keadaan buruk orang lain untuk memberikan dukungan, bukan untuk menertawakan. Itu juga wujud kasih, jika tidak mampu memberikan solusi, minimalmendengarkan keluh kesahnya. Ini sebentuk meringankan beban saudara kita.
Di dalam Tuhan juga kita perlu mendengar, bagaimana kita tidak hanya meminta dalam berdoa itu, namun juga mau mendengar apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita ini. Doa tidak hanya meminta, memohon, dan malah memaksakan kehendak atas ide dan gagasan kita. Tuhan memberikan kehendak atas kita di dalam hidup kita juga di dalam doa kita. Jika kita asyik dengan kata-kata kita, kapan kita mendengar bisikan Tuhan?

Semua tidak ada yang dirahasiakan, jika kita bersikap mau mendengarnya. Tuhan selalu mengatakan dengan terus terang, dan itu penting kita pahami. BD.eLeSHa.

Minggu, 23 September 2018

Pemuridan itu Kasih


MINGGU PEKAN BIASA XXV (H)
Keb. 2:12,17-20
Mzm. 54:3-4,5,6,8
Yak. 3:16-4:3
Mrk. 9:30-37



Keb. 2:12,17-20

2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita.
2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang.
2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya.
2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya.
2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapa

Yak. 3:16-4:3

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Mrk. 9:30-37

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."



Pemuridan itu Kasih

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan salah satu ciri pemuridan. Murid itu harus hidup dalam kasih. Kasih yang akan mengatasi iri hati, dengki, dan terutama haus kuasa. Tidak kaget dan mengherankan kalau hari-hari ini kita hidup dengan penuh perselisihan, perebutan kebenaran, perselisihan karena kursi dan jabatan. Bagaimana tidak, ketika para murid saja gagal mengikuti Yesus, di mana mereka hidup bersama, bergaul akrab dan intim bersama Yesus, pun mereka masih gagal.
Yesus tidak memanggil para murid yang sempurna dan akan menjadi sempurna sepanjang di dunia ini. Yesus hanya menghendaki bahwa kita menjadi seperti anak kecil. Anak-anak yang tidak terkontaminasi keinginan aneh-aneh, ketika berbicara sebagaimana para murid yang berebut menjadi yang terbesar.
Mengapa mereka masih iri dan berebut pengaruh? Karena mereka memang manusia seutuhnya, para murid itu manusia sejati, bukan separo malaikat. Bersama Yesus yang mengubah mereka. Perubahan ini perlu proses dan usai peristiwaa salib yang mengubah mereka.
Hidup bersama Yesus mereka jatuh bangun untuk kenal, mengerti seperti apa ajaran Yesus itu. Hati dan budinya masih tetap sama. Mereka masih hidup di tengah dunia di mana ada sikap iri, pengin tenar, ingin menjadi lebih daripada orang lain. Dan itu bisa  menjadi awal dari bencana. Mengapa? Karena miskin kasih satu sama lain.
Kasih akan membuat orang bersikap penuh syukur. Syukur atas karunia orang lain, merasa diri juga memiliki talenta dan kelebihan yang unik, tidak ada duanya, bukan melihat kelebihan orang yang membuat diri kerdil. Inilah sikap anak-anak yang tulus, tergantung, dan penuh syukur, serta antusias. Tidak ada anak-anak yang hidup dengan skeptis, anak-anak akan selalu antusias dan itu yang Tuhan kehendaki kita bangun. Antusias dalam segala hal dan situasi. Melihat apapun dengan suka cita dan semangat tinggi.
Mengikuti Yesus itu adalah kasih. Kasih yang adalah Tuhan sendiri. BD.eLeSHa.

Sabtu, 22 September 2018

Perutusan Kita adalah untuk Berbuah


Sabtu Biasa Pekan XXIV (H)
1 Kor. 15:35-37
Mzm. 56:10-14
Luk. 8:4-15



1 Kor. 15:35-37

15:35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?"
15:36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.
15:37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.


Luk. 8:4-15

8:4 Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:
8:5 "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.
8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.
8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
8:9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.
8:10 Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.
8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."



Perutusan Kita adalah untuk Berbuah

Saudara terkasih, hari ini kkita diajak untuk merenungkan peran, fungsi, dan perutusan kita di dalam dunia. dalam bacaan Injil yang berupa perumpamaan itu, itu adalah gambaran kita. Bagaimana biji yang jatuh itu adalah hidup kita. Tuhan menghendaki kita untuk dapat berperan, berdayaguna, dan bermanfaat bagi sesama dan dunia.
Sering kita merasa gamang, takut, dan merasa tidak berguna. Padahal tidak demikian, sepanjang kita mau mengikatkan diri pada Tuhan. Tanah yang subuh bagi benih yang ditaburkan Tuhan. Di mana kita tidak takut dalam banyak hal baik, namun boleh menjadi khawatir jika kita sudah tidak berani menyatakan kebenaran. Kita takut di dalam menghadapi kejahatan, dan kita diajak untuk ciut nyali menyaksikan ketidakadilan dan ketidakbenaran.
Dalam konteks hidup bersama sebagai bangsa hal ini sangat konkret, kita mendengarkan sabda Tuhan, merenungkannya, dan sering juga tergerak oleh firman-Nya. Desakan hidup bersama bisa membuat kita jerih, menyembunyikan identitas kita sebagai anak-anak Tuhan dan menyaru sebagai kepercayaan lain, agar kita tidak mengalami kesulitan. Jika demikian kita patut takut dan cemas, karena  kita tidak mampu menyatakan diri sebagai anak-anak Tuhan.
Hidup kita yang diciptakan baik adanya. Tuhan yang mengasihi kita, menciptakan kita sebagai citra-Nya, gambaran Tuhan nampak dalam hidup dan perilaku kita. Dari mana wajah Tuhan itu bisa dibaca, dinilai, dan dikenal dunia? Dari buah hidup kita, perilaku apik, damai sejahtera, pengampunan, dan kasih yang tidak memandang bulu. Berani menyatakan kebenaran sebagai kebenaran, dan melihat kejahatan dengan kecut dan berupaya menjadi terang dan garam di dalam kapasitas masing-masing. Tuhan bukan melihat banyaknya hasil, namun bagaimana upaya kita untuk tetap setia dan berbuah itu.
Mencapai buah itu sangat jelas dan konkret. Menjadi pendamai jika ada perselisihan, menemukan jembatan bagi keterasingan, memberikan akses dan jalan bagi tembok pemisah yang sering kita jumpai dan temui. Peran positif kita dituntut bukan karena kita adalah ciptaan, namun karena kita sudah lebih dulu menerima segala hal baik dari Tuhan.BD.eLeSHa.

Jumat, 21 September 2018

Santo Mateus, Rasul dan Pengarang Injil


Pesta S. Matius, RasPenInj (M)
Ef. 4:1-7,11-13
Mzm. 19:2-3,4-5
Mat. 9:9-13



Ef. 4:1-7,11-13

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:
4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,
4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,
4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.
4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,


Mat. 9:9-13

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."



Santo Mateus, Rasul dan Pengarang Injil


Murid-murid Yesus berasal dari berbagai lapisan masyarakat dengan pekerjaan dan gaya hidup masing-masing: rakyat jelata dan pegawai, miskin dan kaya, nelayan dan pemungut cukai. Hari ini Gereja merayakan pesta Santo Mateus, Rasul dan Pengarang Injil. Ayahnya bernama Alpheus. Ia sendiri pun disebut juga Levi. Mateus dikenal luas sebagai pemungut cukai di kota Kapernaum, daerah Galilea. Di kalangan masyarakat Yahudi, terutama para pemimpinnya, jabatan pemungut cukai dipandang sebagai jabatan kotor. Para pemungut cukai dipandang sebagai pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur dll. Alasannya ialah mereka itu adalah sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Meskipun tuduhan itu tidak seluruhnya benar, namun Mateus jelas digolongkan dalam kelompok yang tak terhormat ini. Apa boleh buat karena itulah pandangan umum masyarakat Yahudi.
Segera terlihat bahwa Mateus masih berharga di mata Tuhan. Yesus memanggil dia: "Ikutilah Aku!" Panggilan ini menunjukkan bahwa bagi Yesus, Mateus masih memiliki titik-titik kebaikan yang dapat diandalkan. Peristiwa panggilan Mateus sempat mencengangkan banyak orang: "Bagaimana mungkin Yesus memanggil dan memilih seorang pendosa menjadi muridNya?" Ketika Mateus mengadakan perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus dan murid-muridNya, banyak pemungut cukai hadir juga. Kaum Farisi dan orang-orang lain yang tidak menyukai Yesus semakin membenci Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama dengan para pendosa?" Pada saat itulah, Yesus mengatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa."
Terhadap panggilan Yesus "Ikutilah Aku!", Mateus segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan seluruh hartanya yang banyak itu, dan dengan rela memulai suatu hidup yang baru bersama Yesus dan murid-murid lainnya. Sikap tegas Mateus menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat Kerajaan Allah: semangat kemiskinan dan pelayanan, terutama cinta dan iman-kepercayaan akan Yesus.
Mateus, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Mateus mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun. Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi. Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65. Dalam Injilnya, Mateus menegaskan bahwa Yesus dari Nazareth itu adalah benar-benar Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan para nabi dalam masa Perjanjian Lama: la membuka Injilnya dengan membeberkan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham sampai Maria yang melahirkan Yesus. Dengan silsilah itu, ia mau menunjukkan dengan tegas kemanusiaan Yesus dan kedudukanNya sebagai Penyelamat (terakhir!) yang dijanjikan Allah. Itulah sebabnya, Injil Mateus dilambangkan dengan 'manusia bersayap'.Setelah menuliskan Injilnya, Mateus pergi ke arah timur: ke Masedonia, Mesir, Etiopia dan Persia. Konon ia mati sebagai martir di Persia karena mewartakan Injil tentang Yesus Kristus.Imankatolik.co.id



Kamis, 20 September 2018

Martir Korea


P.w. St. Andreas Kim Taegon, Im dan Paulus Chong Hasang, dkkMrt Korea (M)
1 Kor. 15:1-11
Mzm. 118:1-2,16a-17,28
Luk. 7:36-50




1 Kor. 15:1-11

15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.


Luk. 7:36-50

7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.
7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."
7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."
7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"
7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."
7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.
7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."
7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."
7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"
7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"


Martir Korea

Santo Andreas Kim Taegon adalah seorang Imam dan Santo Paulus Chong Hasang adalah seorang awam. Kedua martir ini mewakil orang-orang Katolik yang mati karena iman mereka di Korea. Mereka dinyatakan Santo oleh Paus Yohanes Paulus II selama kunjungannya di Korea pada tahun 1984.
Kekristenan dibawa ke Korea oleh orang awam pada abad ke-17. Orang beriman diam-diam berkembang dan bertumbuh, memupuk iman mereka dengan Sabda Allah. Para Imam Misionaris dari Perancis tiba di Korea dan memperkenalkan umat Korea kehidupan suci. Pasang surut pada abad ke-19 Iman kristiani diserang oleh pemerintahan Korea. Sebanyak 103 orang Katolik Korea dibunuh antara 1839 dan 1867. Sepuluh anggota Serikat Misi Asing Paris pun menjadi martir: tiga Uskup dan tujuh Imam. Dengan ini, jumlah total martir adalah 113 orang.
Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulu Chong Hasang mewakili Orang Katolik Korea yang pemberani dengan membayar kasih Kristus dengan nyawa mereka. Santo Andreas Kim Taegon, imam Korea pertama, mati sebagai martir pada 16 September 1846, hanya selang setahun setelah ia ditahbiskan. Ayah Andreas juga mati sebagai martir pada tahun 1821. Santo Paulus Chong Hasang seorang Katekis awam. Ia mati sebagai martir pada 22 September 1846.
Gereja terus bertumbuh pesat di Korea. Karunia iman diteriman dan dipupuk karena pengorbanan para martir membukan jalan. Darah para martir ternyata benar-benar berdaya guna. Dari berbagai sumber


Rabu, 19 September 2018

Kasih itu Bukan Sekadar Konsep, namun Perilaku


Rabu Biasa Pekan XXIV (H)
1 Kor. 12:31-13:13
Mzm. 33:2-5,12,22
Luk. 7:31-35



1 Kor. 12:31-13:13

12:31 Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.
13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.


Luk. 7:31-35

7:31 Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?
7:32 Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.
7:33 Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.
7:34 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.
7:35 Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."



Kasih itu Bukan Sekadar Konsep, namun Perilaku

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan mengenai satunya kata dan perbuatan. Hal ini beraangkat dari perjumpaan Yesus dengan para Farisi dan imam-imam kepala. Bagaimana mereka itu tahu namun tidak melakukan, mereka paham karena mereka juga mengajar, namun memilih hanya menyatakan tanpa berbuat.
Dalam hidup sehari-hari kita tahu, kalau mendapatkan kesulitan itu datang kepada Yesus, atau mau mendapatkan hasil baik ya kerja keras, mau nilai bagus ya belajar dengan baik. Namun apa yang kita lakukan? Apa tidak tahu? Apa yang kita pilih biasanya sebaliknya, kita tahu kog, namun sekadar tahu dan abai akan pengetahuan itu. Tahu juga hari Minggu untuk Misa, toh bangun mepet dan malah bertikai dulu rebutan kamar mandi. Apakah tidak tahu perlunya disiplin? Jelas tahu namun tidak mau melakukan. Apalagi jika berbicara politik, hari-hari ini makin kuat dan tajam soal tahu dan tidak mau tahu itu.
Jika berbicara pada ranah tahu dan pengetahuan jangan ditanya, manusialah ahlinya, namun jika melakukan pengetahuan itu, itulah kualitas dan pembeda. Kita tahu, sejak kecil, bertahun-tahun belajar agama, baik di sekolah ataupun di Gereja dengan lingkungan dan seterusnya, namun toh masih saja memilih yang jahat atau buruk. Kasih masih sebatas konsep, hafalan, dan pengetahuan di dalam otak manusiawi kita. Jika sudah menjadi jiwa, sudah menjadi gaya hidup, dan jalan untuk hidup ini, dunia akan damai. Merasa tenteram karena bisa mengampuni, bukan menuntut balas. Memberikan maaf bukan memaksa pihak lain memahami. Lebih suka marah dan emosional karena tersinggung. Kasih itu bukan soal membela apa-apa padahal yang membungkus kemarahan karena tersinggung.
Saudara terkasih, layak kita mohon pada Tuhan agar memberikan kasih-Nya bukan semata tahu namun juga melakukan. BD.eLeSHa.

Selasa, 18 September 2018

Hati Berbelas Kasih Memberikan Harapan Baru


Selasa Pekan Biasa XXIV(H)
1 Kor. 12:12-14,27-31a
Mzm. 100:2-5
Luk. 7:11-17




1 Kor. 12:12-14,27-31a

12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.
12:28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.
12:29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat,
12:30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?
12:31a Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.


Luk. 7:11-17

7:11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.
7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.
7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"
7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"
7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.
7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."
7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.



Hati Berbelas Kasih Memberikan Harapan Baru

Saudara terkasih, hari ini kita diajak Bunda Gereja untuk merenungkan hati yang berbelas kasih, sebagaimana Yesus lakukan. Yesus melihat iring-iringan kematian. Kematian yang membawa duka mendalam karena si janda itu kehilangan anak laki-lakinya. Ingat konteks waktu itu, anak laki-laki adalah segalanya, dan posisi janda sangat sulit. Kesulitan berganda itu yang membuat Tuhan yang hati-Nya memang penuh kasih tergerak. IA menghidupkan anak yang mati tersebut. Memberikan harapan baru bagi si ibu. Harapan yang sempat padam itu akhirnya tumbuh lagi.
Dalam hidup sehari-hari, kita juga sering melihat seolah harapan itu pupus, harapan itu mati, apa yang kita lakukan, ikut mematikan atau malah memberikan kesempatan kembali menggelora? Hidup di alam yang sedang menua, sering kita saksikan bagaimana orang lebih memilih keuntungan sendiri, mengedepankan keamanan diri sendiri. Dengan dalih memiliki tanggungan dan kesibukan sendiri melupakan orang lain yang datang dengan masalahnya. Membiarkan orang lain dengan kesulitannya, karena merasa dirinya sendiri juga sedang berbeban.
Hati yang  berbelas kasih itu memberikan bantuan, mengulurkan tangan, dan meringankan orang lain. jika tidak mempu memberikan nasihat atau penghiburan, mendengarkan dengan penuh perhatian dan hati yang terbuka  itu jauh lebih membantu dan sangat meringankan.
Kesiapsediaan untuk membuka diri untuk membantu dan meringankan derita, beban, dan persoalan orang lain ini  yang menjadikan kita sebagai anak-anak Kristus yang sejati. Mengalahkan kepentingan diri karena orang lain lebih membutuhkan kerelaan kita. Harapan itu patut dipelihara dan disemangati agar timbuh, bukan malah dipadamkan karena kita mengedepankan kesenangan dan perasaan aman sendiri. Posisi yang berbeda juga bisa saja kita alami bukan? BD.eLeSHa.