Rabu, 25 Juli 2018

Santo Yakobus Tua, Rasul


Pesta S. Yakobus, Ras. (M)
2 Kor.4:7-15
Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6
Mat. 20:20-28



2 Kor.4:7-15

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.
4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.
4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.
4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.


Mat. 20:20-28

20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.
20:21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."
20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."
20:23 Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."
20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."



Santo Yakobus Tua, Rasul

Yakobus adalah anak Zebedues, kakak Yohanes Rasul. Ia disebut Yakobus Tua sekedar untuk membedakan dia dari Yakobus Muda, yang juga seorang Rasul Yesus. Sebutan itu disesuaikan dengan kondisi tubuhnya yang tinggi dan besar serta umurnya yang lebih tua daripada Yakobus Muda. Yesus memanggil dia bersama adiknya Yohanes sebagai muridNya tatkala mereka sedang memperbaiki pukatnya di tepi pantai Genezareth. Jelaslah bahwa mereka adalah nelayan.
Bersama dengan Petrus dan Yohanes, Yakobus Tua termasuk kelompok Rasul inti yang dipilih Yesus. Mereka bertiga turut menyaksikan peristiwa pemuliaan Yesus di gunung Tabor dan peristiwa sakratul maut Yesus di taman Zaitun. Yakobus Tua adalah seorang Rasul yang kokoh iman-kepercayaannya dan sangat setia kepada Yesus. Dialah yang menyuruh Yesus menjatuhkan api dari langit untuk memusnahkan orang-orang Samaria yang tidak mau menerima Yesus dan murid-muridNya. Mungkin karena kedudukan mereka dalam kelompok keduabelasan sebagai Rasul Inti dan karena semangat imannya, Yesus menamakan kedua Rasul bersaudara itu (Yakobus Tua dan Yohanes) "Putera-putera Halilintar’
Ibunya meminta kepada Yesus agar diberi kedudukan terhormat dalam Kerajaan Kristus. Terhadap permintaan ini, Yesus dengan tenang meminta mereka memikirkan apakah mereka sanggup meminum piala penderitaanNya. Ketika mereka mengatakan 'sanggup meminumnya', Yesus mengatakan bahwa mereka akan meminum piala penderitaan itu, namun hal duduk di dalam Kerajaan Allah hanyalah diberikan kepada orang yang berkenan kepada Allah Bapa.
Ramalan Yesus akan kematian Yakobus segera terpenuhi. Yakobuslah Rasul yang pertama minum piala kemartiran. Atas perintah Herodes Agripa I, ia dijatuhi hukuman pancung pada tahun 43/44. Menurut tradisi yang berkembang Yakobus mengunjungi Spanyol sebelum kematiannya. Relikiunya sangat dihormati di Santiago de Compostela, Spanyol. Tempat ini sekarang menjadi suatu tempat ziarah termasyur.Imankatolik.co.id


Selasa, 24 Juli 2018

Saudara Yesus


Selasa Pekan Biasa XVI (H)
Mi. 7:14-16,18-20
Mzm. 85:2-4,5-6,7-8
Mat. 12:46-50




Mi. 7:14-16,18-20

7:14 Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.
7:15 Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!
7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?
7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.
7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!


Mat. 12:46-50

12:46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.
12:47 Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau."
12:48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?"
12:49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
12:50 Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."



Saudara Yesus

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai siapa saudara Yesus itu. Secara umum, termasuk pendengar Yesus mengatakan saudara Yesus adalah Bunda Maria dan kerabatnya yang lain. Sangat wajar. Saudara itu ya yang berkaitan dengan darah, kekerabatan, dan sering diperluas dengan kesamaan dalam hal khusus lainnya. Misalnya kesukuan. Akhir-akhir ini agama dan politik sering memisahkan dan membedakan keluarga atau bukan.
Yesus ternyata memiliki paradigma baru, kriteria siapa saudara itu bukan semata yang berkaitan darah, atau kesamaan label lainnya. satu kesamaan, keterhubungan sebagai saudara Yesus adalah adanya  kemauan  untuk menjalankan kehendak Yesus yang berarti juga melakukan dan menjalankan kehendak Bapa. Adanya kesamaan darah atau persamaan yang lain itu belum cukup sebagai pengikut Yesus, jika tidak melakukan kehendak Bapa.
Apa yang menjadi kehendak Yesus dan kehendak Bapa? Jelas mengikuti apa yang Tuhan kehendaki sebagaimana dinyatakan di dalam Sabda-Nya. Pedomannya jelas, sepanjang Tuhan menyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi, itu adalah saudara Yesus. Betapa beruntungnya kita, betapa berbahagianya kita, dan betapa perlu bersyukur kita karena menjadi saudara Yesus. Saudara Sang Penyelamat. Coba kita bayangkan, kita memiliki keterkaitan dengan presiden misalnya, berjumpa saja, apalagi memiliki kaitan sekecil apapun saja sudah senang bukan main, ini ada kaitan dan saudara Yesus. Bagaimana kita tidak bersuka cita coba.
Tuhan yang hadir, Tuhan yang mengangkat kita, dan Tuhan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi saudara-Nya. DIA yang memilih kita, menjadikan kita saudara-Nya. Satu saja syaratnya, yaitu kita melakukan kehendak-Nya. Apa yang Tuhan dan Bapa kehendaki? Lihat kepada Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Di sanalah Tuhan memberikan petunjuk untuk menjadi tuntutan kita bertindak. Jika orang modern membutuhkan GPS, Maps, atau sejenisnya, kita disedikan KS dan Tradisi. Ketika kita melakukan apa yang dinyatakan di sana, kita sudah menjadi saudara Tuhan. Inisiatif dari Tuhan, kita bukan sok-sokan kenal dan mengaku-aku. Kita tidak mempunyai kemampuan itu.
Kita layak bersyukur dan bersuka cita karenanya. Tuhan mengangkat kita menjadi saudara. BD.eLeSHa.

Senin, 23 Juli 2018

Tanda Yesus dan Pengajaran-Nya


Senin Biasa Pekan XVI (H)
Mi. 6:1-4,6-8
Mzm. 50:5-6,8-9,16bc-17,21-23
Mat. 12:38-42



Mi. 6:1-4,6-8

6:1 Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!
6:2 Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
6:3 "Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!
6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
6:6 "Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?"
6:8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Mat. 12:38-42

12:38 Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu."
12:39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
12:41 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!
12:42 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!"



Tanda Yesus dan Pengajaran-Nya

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagaimana kedatangan, penjaran, dan karya Yesus berhadapan dengan Farisi.  Bagaimana orang Farisi meminta tanda dari Yesus, tanda sebagai bukti sahih atas keberadaan-Nya sebagai Guru. Mereka, kaum Farisi memang memiliki hak, preveligi untuk mengajar. Nah mereka meminta itu dari Yesus.
Yesus memang tidak mendapatkan mandat untuk mengajar dari budaya, penguasa, atau adat setempat, IA mendapatkan wewenang itu dari Allah, di sanalah faktor pembeda itu. Sejatinya, apa yang diajarkan Yesus, bukan semata-mata kata saja, namun dibarengi dengan perilaku, tindakan, dan perbuatan yang secara logis sejajar, tidak ada yang berkebalikan atau munafik. Apa yang IA katakan juga IA lakukan, ini adalah tanda, lambang, dan simbol, di mana para guru Yahudi tidak melakukan itu.
Mengapa mereka tidak bisa percaya dan tidak bisa melihat karya dan pengajaran Yesus sebagai Guru yang berwenang menyampaikan khabar Suka Cita? Mereka iri, mereka merasa tersisihkan, dan mereka merasa ditelanjangi. Jika mereka mau sedikit saja rendah hati dan mau menelisik diri sendiri, mau mengadakan evaluasi diri, bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, berarti mereka sebenarnya ada kesamaan, ada faktor melengkapi, ada faktor menyempurnakan. Mereka tidak mau, karena mereka tidak rela, mereka merasa sudah lebih pintar dan benar. Mereka merasa mendapatkan pesaing bukan pendukung di dalam kebenaran.
Saudara terkasih, bagaimana kita memandang saudara kita, sebagai pesaing atau rekan seperjalanan menuju Allah? Jika kita melihat segala sesuatu sebagai ancaman, pesaing yang membahayakan, apa bedanya dengan guru-guru Farisi? Tuhan hadir untuk mengabarkan khabar suka cita untuk membawa hati yang terbuka, melihat karya kasih yang akan bersama-sama berziarah menuju kepada Bapa. Kesatuan, kebersamaan, dan adanya kebersamaan, bukan memisahkan dan menyatakan pihak lain sebagai pesaing yang membahayakan.BD.eLeSHa.



Minggu, 22 Juli 2018

Kasih-Nya Tak Terbatas


HARI MINGGU BIASA XVI (H)
Yer. 23:1-6
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6
Ef. 2:13-18
Mrk. 6:30-34



Yer. 23:1-6

23:1 "Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" -- demikianlah firman TUHAN.
23:2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.
23:3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku mencerai-beraikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.
23:4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun, demikianlah firman TUHAN.
23:5 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.
23:6 Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN keadilan kita.


Yer. 23:1-6

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",
2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Mrk. 6:30-34

6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.
6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.



Kasih-Nya Tak Terbatas

Saudara terkasih, apa yang dilakukan Yesus ini luar biasa. Bagaiamana IA yang merasa kelelahan, capek, letih, bukan karena aktifitas pribadi, namun melakukan banyak hal bagi pihak lain. mereka, Yesus dan para rasul ini keletihan, mereka  menyingkir ke tempat yang sunyi. Letih itu hal yang alamiah, wajar, dan manusiai. Yesus dan para rasul sangat letih dan itu wajar. Pembedanya adalah sikap Yesus ketika melihat kondisi orang yang ikut mereka.
Mereka tetap mmengikuti Yesus dan seperti domba kehilangan gembala. Mereka bingung, kacau, dan putus harapan. Yesus berbelas kasih dan akhirnya mengajar lagi. Artinya, mereka tidak jadi sendirian dan makan.
Saudara terkasih, gembala yang baik itu yang peduli. Peduli itu tahu apa yang diperlukan, dibutuhkan, dan dikehendaki dombanya, bukan sebaliknya. Sering kita dipaksa untuk mendengarkan gembala, dipaksa untuk mengerti gembala kita, sedangkan kita sangat membutuhkan mereka. Mereka yang punya hak untuk mengadakan Ekaristi, sakrament dan sakramentali, bagaimana sikap mereka selama ini? Seperti Yesus? Atau malah sebaliknya memenuhi hasrat pribadinya, demi badminton. Atau siara langsung sepak bola? Hal yang sangat mungkin terjadi, karena lupa tugas dan tanggung jawabnya, demi kesenangan pribadi. Di sisi lain, sering juga memang umat memaksakan kehendak, menghendaki ini dan itu, tanpa mau tahu keadaan dan kondisi gembala. Di sinilah peran  kegembalaan.
Kasih-Nya yang tanpa batas dan penuh dengan pengertian itu menjadi model, menjadi pedoman, dan menjadi bentuk, menjadi motif di dalam  tugas perutusan kita masing-masing. Bagaimana bernai mengatakan tidak, atau ya itu orientasinya pada pihak lain, bukan karena kepentingan kita. Apakah kita sanggup? BD.eLeSHa.

Sabtu, 21 Juli 2018

Buluh yang Patah Tidak akan Diputuskan...


Sabtu Pekan Biasa XV (H)
Mi. 2:1-5
Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14
Mat.12:14-21




Mi. 2:1-5

2:1 Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya;
2:2 yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya!
2:3 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini, dan kamu tidak dapat menghindarkan lehermu dari padanya; kamu tidak dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang mencelakakan.
2:4 Pada hari itu orang akan melontarkan sindiran tentang kamu dan akan memperdengarkan suatu ratapan dan akan berkata: "Kita telah dihancurluluhkan! Bagian warisan bangsaku telah diukur dengan tali, dan tidak ada orang yang mengembalikannya, ladang-ladang kita dibagikan kepada orang-orang yang menawan kita."
2:5 Sebab itu tidak akan ada bagimu orang yang melontarkan tali dengan undian di dalam jemaah TUHAN.


Mat.12:14-21

12:14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.
12:15a Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
12:15b Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
12:16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,
12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
12:21 Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."



Buluh yang Patah Tidak akan Diputuskan...

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai bagaimana sikap Yesus sebagai hamba Allah. pertama Ia tidak berbantah, tidak akan berteriak, dan mengajar di jalan-jalan. Ia juga tidak akan memutuskan buluh yang patah, sumbu yang berkedip tidak akan dipadamkan.
Ada kesempatan bagi pengikut Yesus. Padahal kita di dunia ini sering tidak memberikan kesempatan jika melihat keadaan yang tidak menguntungkan. Yesus mengajarkan untuk memberikan kesempatan. Kesembuhan dan penyembuhan itu kesempatan. Pertobatan itu kesempatan. Orang frustasi bukan untuk dijauhi namun dibantu untuk menemukan kekuatan. Sumbu yang puda bukan untuk dipadamkan, diberi semangat untuk berkembang kembali. Tentu hal yang berbeda dengan dunia.
Sikap Yesus juga jelas, Ia tidak mau ribut, membantah, atau menyatakan apa yang bisa membuat perselisihan. Sangat sering pilihan Yesus adalah menyingkir. Lagi-lagi berbeda dengan dunia dan sekililing kita yang sering mengajak ribut, ramai, dan membesar-besarkan masalah yang tidak mendasar sekalipun.
Tidak akan mendengarkan Ia berteriak, lihat bagaimana pola pengajaran dan Mesianisme Yesus yang tidak berteriak-teriak, apalagi di jalan. Sangat penting bagi kita, ketika hidup di alam yang mengedepankan teriakan, lebih  memilih suara keras di jalanan, soal benar dan salah bukan menjadi landasan.
Yesus mengajarkan kepada kita untuk menyembuhkan tanpa pamrih, Ia bahkan didiam saja ketika hendak dibunuh. Ia menyingkir, bukan frontal melawan, padahal bisa, namun bukan itu yang Allah kehendaki. Kekerasan bukan pilihan Allah dan Yesus tentunya.
Ia juga memberikan tanpa perlu untuk mendapatkan ketenaran. Sangat konkret ketika alam hidup kita yang penting viral, tenar, dan populer, dan sering tidak penting dan bahkan jahat sekalipun.  Mau berkorban dengan rendah  hati dan bukan untuk dijadikan bahan bermegah diri. Bahkan IA melarang untuk mengatakannya. Kesempatan secara duniawi itu ada dan IA tidak mau.
Memberikan kesempatan. Sangat penting dan mendasar, bagaimana kasih Tuhan itu memberikan semangat, nyala, dan adanya perbaikan. Mudah memang memadamkan sumbu yang pudar daripada menjadi kanya nyala besar. Tuhan menghendaki upaya sebaliknya dari harapan dunia. Harapan positif dan baik. BD.eLeSHa.




Jumat, 20 Juli 2018

Hukum Sabat Membawa pada Tuhan


Jumat Pekan Biasa XV (H)
Yes. 38:1-6,21-22
Yes. 38:10,11,12abcd,16
Mat. 12:1-8



Yes. 38:1-6,21-22

38:1 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."
38:2 Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.
38:3 Ia berkata: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.
38:4 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya:
38:5 "Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi,
38:6 dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini.
38:21 Kemudian berkatalah Yesaya: "Baiklah diambil sebuah kue ara dan ditaruh pada barah itu, supaya sembuh!"
38:22 Sebelum itu Hizkia telah berkata: "Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN?"

Mat. 12:1-8

12:1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.
12:2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."
12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?
12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?
12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."



Hukum Sabat

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan hari Sabat. Bagaimana orang Farisi memaknai hukum Sabat, Yesus menyikapi Sabat, dan Sabat yang semestinya. Pertama, mereka berselisih paham soal para murid yang dianggap oleh kaum Farisi sebagai melannggar hukum Sabat. Padahal dalam daftar hukum Sabat sendiri tidak ada yang demikian. Memetik tanpa alat, atau menggunakan tangan untuk mengambil gandum bukan termasuk dalam memanen. Nah di sinilah perbedaan persepsi yang sangat berat konsekuensinya.
Jika melanggar hukum Sabat, mereka memang patut dihukum, namun senyatanya toh ini masih menjadi pro dan kontra. Mereka tidak bisa menghukum pada perilaku yang belum tentu dan jelas demikian. jika kelompok Farisi menyatakan ini sebagai pelanggaran, mereka bisa dinilai lebih berat dan keras daripada hukum yang sendiri.
Apa yang disampaikan Yesus bukan fokus apakah murid-Nya melanggar hukum sabat itu, namun bagaimana Daud para imam yang memakan roti yang hanya untuk imam dinilai tidak melanggar hukum. Ada yurisprudensi di masa lalu, di mana para pendengar, termasuk kaum Farisi sangat paham kisah tersebut dan menghormati Daud, mereka tidak akan bisa apa-apa.
Saudara terkasih, kita memang sering berat atas hukum, demi menaati hukum, namun mengalahkan kemanusiaan. Bagaimana para murid itu memetik gandum itu untuk makan, makan berarti mempertahankan hidup mereka. Hukum itu baik dan penting, namun bukan segalanya. Ada yang lebih untung, dalam hal ini kemanusiaan. Kedua, mereka juga memetik gandum untuk makan agar tetap bisa bersama dengan Yesus. Bagaimana upaya kita agar tetap bersama Yesus. Menyerah karena keadaan atau tetap mengupayakan agar tetap bersama-Nya? BD.eLeSHa.

Kamis, 19 Juli 2018

Datanglah kepada-Ku!


Kamis Biasa PekanXV (H)
Yes. 26:7-9,12,16-19
Mzm. 102,13,14ab,15,16-18,19-21
Mat. 11:28-30




Yes. 26:7-9,12,16-19


26:7 Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.
26:8 Ya TUHAN, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau.
26:9 Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.
26:12 Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.
26:16 Ya TUHAN, dalam kesesakan mereka mencari Engkau; ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa.
26:17 Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN:
26:18 Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia.
26:19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.

Mat. 11:28-30

11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."



Datanglah kepada-Ku!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sabda Tuhan yang demikian singkat. Singkat namun penuh berkat dan luar biasa meneguhkan, bagaimana tidak, ketika kita diundang untuk datang kepada-Nya. Datang bukan dalam keadaan senang, bahagia, suka cita, namun ketika letih lesu dan  berbeban berat. Coba bayangkan ketika kita datang kepada orang lain dengan beban apa yang akan terjadi? jelas tidak perlu dijawab karena akan dengan mudah jawabannya.
Tuhan memanggil dan mengundang justru dalam keadaan yang kita susah, sulit, berbeban berat. Jika berbeban kita itu inginnya berbagi, inginnya menyandarkan diri, dan beban itu bisa dilepaskan. Dan Tuhan berkenan mengundang untuk meringankan beban kita.
Sabda yang singkat ini luar biasa, mengubah, memberikan daya ubah jika kita mau datang, melekat, mengikatkan diri, dekat kepada-Nya. Datang itu mendekat, tidak ada jarak, dan ada kemauan kita di dalam menjawab dan menerima tawaran yang demikian indah. Sering kita bingung, merasa hidup ini berat, sangat tertekan, mengapa kita lupa undangan dan tawaran indah ini? Karena kita terlalu asyik dengan dunia ini dan melenakan tawaran indah dan penuh makna ini.
Sering kita membaca, mendengar, dan lewat begitu saja mungkin, atau otak kita merasa paham dan tahu, kalau letih datang kepada Tuhan. Karena tahu, namun tidak memahami, tidak mau tahu dengan hati, dan ketika letih malah lari kepada kemarahan, lari pada kedosaan, lari pada alkohol, menghindar  pada hiburan tidak sehat.
Saudara terkasih, Allah kita Allah yang hadir, Allah yang tahu keadaan anak-anak-Nya dan IA tidak sgan mengundang kita apapun keadaan-Nya, kondisi kita, dan keberadaan kita. Jika dalam keadaan tertekan saja IA mengundang apalagi jika kita sedang senang, dan kita memang kadang lupa jika seneng. Tuhan selalu hadir untuk meringankan kita. BD.eLeSHa.