Selasa, 20 Februari 2018

Berdoa, Perlu atau Tidak?

Selasan Pekan I Prapaskah (U)
Yes. 55:10-11
Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19
Mat. 6:7-15



Yes. 55:10-11

55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.


Mat. 6:7-15

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.



Berdoa, Perlu atau Tidak?

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai hal berdoa. Berdoa itu perlu tidak jika Tuhan toh tahu seluruhnya, apapun yang kadang kita saja tidak tahu. Satu kata dan jelas, perlu. Mengapa perlu berdoa? Pertama, komunikasi pada Tuhan. Kita ini adalah ciptaan yang selayaknya untuk bersyukur, berterima kasih, dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta, bukan abai. Kedua, ungkapan syukur dan sapaan kepada Tuhan. Lihat betapa baiknya Tuhan bagi kita, apapun IA anugerahkan kepada kita. Bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya, sebentuk kewajiban malah. Ketiga, meskipun Tuhan tahu semuanya, kita memohon itu sebagai upaya, ada usaha, dan menyatakan keberadaan kita yang bergantung kepada-Nya. Jadi doa bukan semata meminta namun juga menyatakan diri keterbatasan dan keberadaan kita. Namun meminta itu hanya menjadi bagian kecil. Apa sih yang perlu kita mintakan? Padahal Tuhan sudah memberikan begitu banyak kepada kita. Apa yang tidak kita minta pun disediakan kog oleh-Nya.
Berdoa itu tidak hanya memohon dan meminta semata, sering kita fokus pada keinginan kita saja, Tuhan menghendaki yang berbeda dan kita pun masih mampu menjalani. Sering kita fokus dan hanya meminta dan memohon, ketika yang kita pohonkan tidak dijawab sesuai dengan apa yang kita pinta, kita ngambeg. Padahal apapun adalah hak sepeuhnya pada Tuhan. Tuhan pun menghendaki kita memiliki hati yang seluas samudra, mau mengampuni, bukan hanya mohon ampun, jika demikian kita egois, Tuhan mengajak dan mengajari kita untuk menjadi pribadi yang dewasa, tidak menang sendiri, dan berlaku adil.
Doa tidak perlu bertele-tele, karena Tuhan sudah tahu apa yang perlu di dalam hidup kita. Jika bertele-tele kita pun cenderung menjadi pribadi tamak, minta ini dan itu, abai mendengarkan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Doa adalah komunikasi, ada dua arah, Tuhan berbicara dan kita mendengarkan bukan hanya kita omong saja sendiri. Ada waktunya untuk mendengarkan, mendengarkan bukan mendengar, tidak hanya memohon terus.

Doa Bapa Kami adalah doa Tuhan yang sangat patut kita kedepankan. Menjadi andalan dalam segala hal. Tuhan selalu hadir di dalam segala, dan Ia melimpahkan banyak hal. Doa sebentuk tanggapan kita atas sapaan Allah. BD.eLeSHa.

Senin, 19 Februari 2018

Kepedulian Tanpa Pamrih

 Senin Biasa Pekan I Prapaskah (U)
Im. 19:1-2,11-18
Mzm. 19:8,9,10,15
Mat. 25:31-46



Im. 19:1-2,11-18

19:1 TUHAN berfirman kepada Musa:
19:2 "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
19:11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.
19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.
19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.
19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.


Mat. 25:31-46

25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."



Kepedulian Tanpa Pamrih

Ada dua buah kisah inspiratif yang berkaitan dengan tema ini, kisah pertama, ada seorang yang mendapatkan mimpi bahwa Tuhan akan hadir ke rumahnya. Ia dengan tekun mempersiapkan semuanya. Semua siap, ia merasa tenang dan menunggu Tuhan, ada ketukan pintu ia kira Tuhan ternyata malah pengemis yang minta makan. Ia beri makanan yang terbaik yang ada di rumahnya. Pengemis itu pulang, ada langkah kaki, ternyata ada anak kecil yang jatuh dan memohon bantuan, ia pun dengan suka rela membersihkan luka anak kecil tersebut. Ia duduk menantikan Tuhan. Ada lagi yang datang, ternyata nenek renta yang tersesat dan minta diantarkan pulang. Pulang ke rumah, sudah malam dan Tuhan mungkin saja hadir pas ia pergi. Kecapekan membantu sesamanya ia tidur, dan Tuhan hadir menyatakan Diri bahwa Tuhan berterima kasih karena penerimaan dan bantuannya.
Kisah kedua, ada pengalaman yang sama mendapatkan inspirasi kalau Tuhan akan datang. Ia rapikan rumahnya, siapkan makanan terbaik, pun penampilannya. Ketukan pertama ia girang ini pasti Tuhan, eh ternyata yang datang adalah gelandangan yang mau minta minum. Merasa gelandangan itu akan menggangu penampilan tempat menerima Tuhan, ia usir, demikian juga tamu kedua dan ketiga. Ia merasa bukan Tuhan yang hadir. Merasa cepak menantikan Tuhan yang tidak datang, ia tertidur dalam keadaan bersungut-sungut, Tuhan hadir dan menyatakan bahwa Tuhan sudah hadir tiga kali, dan tiga kali pula diusir.
Saudara terkasih, bacaan Injil kita hari ini jelas, bahwa Tuhan hadir dalam keseharian, dalam perilaku sehari-hari. Zaman sudah berubah, tidak lagi sebagaimana Musa dengan api menyala, atau dengan membelah laut lagi. Mukjizat selalu hadir dan datang dengan cara yang hati kita yang merasakan. Apa yang dilakukan Tuhan, bahwa kepedulian kita pada sesama menjadi penting. Kita bisa melepaskan kepentingan dan pamrih, coba bayangkan kalau yang datang ada pejabat pasti akan diterima, karena yang datang pengemis, kita akan cenderung mengusir. Kita diajak untuk tidak memiliki pamrih. Mengapa? Tuhan sudah memberikan begitu banyak kebaikan, kita hanya menyalurkannya kembali, mosok masih juga minta apa yang sudah kita berikan, apalagi bukan milik kita.
Kepedulian tidak berkaitan dengan apa yang akan kita peroleh. Memberikan secara tulus dan pari- purna sebagaimana Tuhan memberikan diri-Nya di kayu salib. Jika masih berpamrih, kepedulian kita belum paripurna. Kita berpikir demikian karena lingkungan mengajarkan yang sama. Lihat bagaimana kita diajak untuk jadi anak baik agar mendapatkan cinta orang tua. Hal yang kelihatannya sepele, namun menjadi tabiat yang tidak mudah diselesaikan. BD.eLeSHa.



Sabtu, 17 Februari 2018

Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah Dekat

MINGGU PRAPASKAH I (U)
Kej. 9:8-15
Mzm. 25:4b-5,5ab, 6-6bc, 8-9
1 Pet. 3:18-22
Mrk. 1:12-15



Kej. 9:8-15

9:8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:
9:9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,
9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.
9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
9:12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:
9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.
9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,
9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.


1 Pet. 3:18-22

3:18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,
3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,
3:20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
3:21 Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus,
3:22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.



Mrk. 1:12-15

1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.
1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.
1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,
1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!



Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah Dekat

Saudara terkasih, sangat indah dan tepat, bagaimana orang diminta untuk bertobat karena Kerajaan Allah sudah dekat. Bangsa Palestina di sekitar Gaza dan Tepi Barat itu merasa bahwa setiap hari itu adalah hari terakhir hidup mereka. Apa yang mereka lakukan adalah melakukan apapun yang terbaik. Menyambut tamu, menjaga kebersihan, dan yang jelas menjaga sikap dan perilaku. Jaminan keamanan dan kehidupan yang serba tidak pasti membuat mereka memilih sikap demikian.
Sabda Yesus hari ini sangat pas dan bagus, ketika orang mendekati kematiannya, mendekati Kerajaan Surga yang sudah menjelang, pasti akan berbuat yang terbaik. Apapun akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Namun sering orang merasa hidupnya masih lama, masih panjang, tidak heran banyak yang berpikir mumpung masih muda pesta pra nanti kalau tua baru bertobat dan beribadat, memang bisa demikian?
Yesus yang dibimbing Roh ke padang gurun memberikan pembelajaran kepada kita, pertama mengenai 40 hari. Simbol atas masa persiapan bagi perutusan yang akan diterima bangsa Israel atau seorang nabi. Musa tinggal 40 hari di Gunung Sinai, Israel berjalan 40 tahun  di padang gurun untuk sampai tanah Terjanji. Elia tinggal 40 hari untuk berpuasa. Kedua, Yesus dicobai iblis. Status Anak Allah tidak membebaskan-Nya dari godaan iblis. Situasi yang sama dihadapi oleh manusia. Ketiga, di padang gurun Yesus hidup dengan binatang buas. Tentu orang paham bahwa padang gurun tempat tinggal binatang buas, tidak ada pohon, tidak ada buah. Binatang akan menimbulkan masalah. dan Markus menunjukkan kengerian persiapan karya  Yesus sangat tidak mudah.

Saudara terkasih, untuk mencapai dan menyongsong Kerajaan Allah tentu tidak mudah, namun kita bisa melakukan apapun yang terbaik. Apakah demi pahala atau pertolongan Tuhan? Tidak. Kita sudha mendapatkan berbagai kebaikan dan berkat Allah, itu adalah konsekuensi logis atas kebaikan Tuhan. IA sudah memberikan keseluruhannya dan kita layak untuk menanggapi dengan kebaikan, bukan malah meminta imbalan lagi. BD.eLeSHa.

Makan Bersama Pendosa dan Perjumpaan dengan Yesus

Sabtu Sesudah Rabu Abu (U)
Yes. 58:9b-14
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Luk. 5:27-32



Yes. 58:9b-14

58:9b Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".
58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya.
Luk. 5:27-32


5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"
5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.



Makan Bersama Pendosa dan Perjumpaan dengan Yesus

Saudara terkasih, untuk memahami kisah ini, perlu sejenak untuk mengerti latar belakang bagaimana pemungut cukai termasuk kalangan pendosa. Kala itu, di Israel ada tiga pajak, yaitu pajak Romawi, di mana Lewi ikut sebagai pegawainya, pajak Herodes, dan pajak Bait Allah. Padahal kehidupan sebangsa dan setanah air mereka sangat menderita dan tertekan. Sebagai pemungut pajak Romawi, pun mereka sering juga mengutip lebih besar daripada yang seharusnya dibayarkan. Mereka masuk kalangan yang berkhianat bagi saudara sendiri.
Berkaitan dengan kedosaan inilah, Yesus memanggil mereka. Panggilan yang sama dialami Petrus. Merasa bahwa mereka berdosa. Sikap Lewi adalah langsung menyatakan ya dan mengikuti-Nya. Kesiapsediaan dan meninggalkan segala sesuatunya untuk bergabung dengan Yesus.
Saudara-Saudari terkasih, mengenai makan bersama para pendosa, merupakan momen untuk Yesus menjelaskan perutusan-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan termasuk orang berdosa. Sangat logis, siapa yang membutuhkan pertolongan dan bantuan? Jelas orang berdosa. Merekalah yang Yesus selamatkan, tolong, dan diberi bantuan. Tidak berarti bahwa orang baik diabaikan, ingat orang baik sudah mendapatkan jalan yang baik, tidak perlu ditolong, bukan begitu?
Apa yang diperlukan untuk ikut Yesus adalah meninggalkan segala sesuatu. Segalanya, bukan hanya  kesulitan termasuk juga kesenangan. Tidak mungkin berjalan bersama-Nya namun masih diribeti dengan kesulitan dan kesenangan. Hambatan yang perlu disingkirkan agar tidak menjadi batu sandungan. Menyerahan semua dalam Penyelenggaraan Ilahi.
Perjumpaan dengan Yesus mengubah segala sesuatu. Bagaimana Ia membuat pemungut cukai meninggalkan segalanya demi Yesus. Gerap batin dan sikap berbalik arah untuk DIA saja. Sangat konkret berkaitan dengan bacaan pertama, di mana puasa yang baik dan berkenan adalah kepedulian pada orang lain, bukan pada diri sendiri. Kesiapan untuk berbalik arah dan menuju kepada kebaikan bersama yang lain. Bagaimana kita sebagai bangsa dan negara sedang dihinggapi tbiat baru yang sangat merusak, menuding pihak lain dengan keji dan fitnah. Mengatakan keburukan sebagai kebaikan dan sebaliknya. Inilah apa yang Yesaya kehendaki, berbuah arah, berbalik, sebagaimana Lewi Si Pemungut Cukai. BD.eLeSHa.


Kamis, 15 Februari 2018

Hakikat dan Esensi Puasa

Jumat Sesudah Rabu Abu (U)
                                                                                        Yes. 58:1-9a
Mzm. 58:3-4,5-6a,18-19
Mat. 19:14-15



                                                                                        Yes. 58:1-9a

58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!
58:2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:
58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.
58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab.


Mat. 19:14-15

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
9:15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.



Hakikat dan Esensi Puasa

Saudara terkasih, hari ini kita diajak Bunda Gereja untuk merenungkan puasa. Bagaimanapun puasa adalah tradisi dalam semua agama. Corak ragamnya macam-macam, belum lagi bila mendapatkan tafsiran sendiri. Sebagaimana kita alami bersama sebagai bangsa Indonesia, bagaimana puasa namun dipenuhi dengan kemarahan dengan warung yang buka, pemaksaan iklan makanan dan minuman. Pertanyaan murid Yohanes ini adalah puasa bentuk kesalahen, kalau dalam bucaya kita mungkin Senin Kamis, bukan puasa wajib dalam tradisi konteks itu tentunya.
Bacaan pertama memberikan gambaran lebih jelas mengenai puasa. Apa yang Tuhan kehendaki ialah adanya perubahan menjadi baik. Puasa tidak semata menahan haus dan lapar, apalagi dipamerkan. Bagaimana orang berpuasa namun masih saja bergosip, menonton kekerasan sebagai hiburan, membeli hibura-hiburan yang tidak sehat. Penuh kebencian dan dendam, kemarahan yang tidak jelas, atau karena kelaparan menjadi mudah tersulut emosi? Jika demikian buat apa susah-susah haus dan lapar. Berbagai alasan bisa dikemukan untuk dapat menahan haus dan lapar, namun puasa berorientasi untuk menyadari kerapuhan diri, kedosaan yang sangat mudah kita perbuat. Saat berpuasa, saatnya berbalik arah dan menghidupi budaya dan tradisi baik. Jika melihat kebenaran yang bengkok karena sudah merenungkan puasa, sebisa mungkin meluruskan, sepanjang kapasitas dan kemampuan. Konkret sebagai bangsa yang sedang mengalami kemerosotan moral, pembiasaan warta setengah data, sebagai orang yang sedang berpuasa, menjauhi itu semua, bisa memberikan berita yang lebih berimbang dan benar.

Hakikat puasa bukan semata tidak makan dan minum dalam sebuah kurun waktu, namun bagaimana menghayati kehidupan yang lebih baik dan mendalam bersama Tuhan dan sesama. Cinta kasih menjadi jalinan yang utuh bukan malah memperlebar perbedaan. Sikap terbuka lepas kecurigaan, dan sikap berbagi yang tulus merupakan bukti puasa yang Tuhan kehendaki. Bagaimana puasa kita dalam masa Prapaskah ini? Sesuai dengan kehendak Allah atau masih berkutat pada keinginan kita? BD.eLeSHa.

Konsekuensi Ikut Yesus

Kamis Sesudah Rabu Abu (U)
Ul. 30:15-20
Mzr. 1:1-2,3,4,6
Luk. 9:22-25



Ul. 30:15-20

30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,
30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.
30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,
30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.
30:19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,
30:20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."


Luk. 9:22-25

9:22 Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."
9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
9:24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
9:25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri



Konsekuensi Ikut Yesus

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan mengenai pemberitahuan akan penderitaan Yesus. Penderitaan yang akan IA terima dari tua-tua, imam-imam kepala, dan hli Taurat. Harus, dalam ayat 22 tersebut, khas Lukas yang hendak menggambarkan ketaatan, ketundukan, dan kesetiaan Yesus akan kehendak Bapa. Apa yang terjadi adalah kehendak Bapa.
Usai pernyataan-Nya mengenai kekerasan dan penderitaan serta penolakan yang akan IA alami, Yesus meminta para murid untuk ikut serta di dalam jalan yang Ia tempuh. Nanting, dalam bahasa Jawa, mempertanyakan kesungguhan dan kesanggupan para murid untuk ikut serta DIA. Sebenarnya hal yang cukup umum dalam tradisi Yahudi, para murid ikut gurunya, dalam hal ini, pun para murid ditanting Yesus juga hal yang biasa. Namun yang luar biasa adalah konsekuensi yang tidak mudah. Bagaimana risiko yang akan mereka hadapi itu luar biasa. Berbicara mengenai kehidupan, nyawanya, dan risiko paripurna ini tidak ringan untuk mengatakan “YA”.
Tuntutan untuk memikul salib dan menyangkal diri merupakal konsekuensi logis, bahwa para murid tidak akan mampu berjalan dan mengandalkan diri mereka sendiri (hal ini akan terbukti pada sekitar salib bagaimana perilaku mereka).
Apa yang penting adalah kehidupan, tidak semata hidup untuk hari ini saja, namun hidup di kemudian hari, alias hidup yang sejati. Hal ini lah yang perlu diperjuangkan, diupayakan, dan diusahakan dengan sepunuh daya dan rencana.
Saudara terkasih, hari-hari ini, apalagi jika menyaksikan media, menyimak pemberitaan, bagaimana posisi Kekristenan menjadi tidak mudah, coba saja tengok di media sosial, baik FB, WA, twitter, atau youtube, terutama di Indonesia. Kambing hitam, tuduhan ini dan itu, gampang sekali disematkan kepada pengikut Kristus, padahal tidak berbuat apa-apa. Sebenarnya tidak kaget ketika ada bakti sosial dibubarkan dengan dalih kecurigaan yang sangat kekanak-kanakan. Bahkan dulu ada kebaikan memberikan nasi untuk orang lain dengan jawaban kalau pas makan dibaptis bagaimana. Konkret pengalaman sendiri, hanya memberikan roti untuk anak-anak yang rewel saja dikatakan Kristenisasi. Tetapi kalau pinjam uang tanpa bunga dan ngelantur tidak pernah terucap kristenisasi. Sebenarnyalah ini konsekuensi ikut Yesus. Ikut DIA itu tidak mudah, susah malah, bagaimana tidak, Yesus saja menjadi sasaran tembak, kalau kita yang ikut DIA, aman-aman saja, ya namanya bukan ikut Yesus malah salah dalam memahami keimanan akan Yesus. Sikap kita bagaimana menghdapai demikian, apakah takut atau berani di dalam Tuhan? BD.eLeSHa.


Selasa, 13 Februari 2018

Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Hanya Bajumu

RABU ABU (U)
Yl. 2:12-18
Mzm. 51:3-4,5-6,12-13,14-17
2 Kor. 5:20-6:2
Mat. 6:1-6, 16-18



Yl. 2:12-18

2:12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."
2:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
2:14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.
2:15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
2:16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
2:17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"
2:18 TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya.

2 Kor. 5:20-6:2

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
6:1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
6:2 Sebab Allah berfirman:  "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,  dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

Mat. 6:1-6, 16-18

6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
6:5 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
6:16 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."



Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Hanya Bajumu

Selalu tertarik dengan perintah ini, ribuan kali mungkin mendengar dan merenungkannya, tapi masih saja mengesan. Mendengar pertama mengenai masa puasa akan selalu teringat ini. Konteks perintah ini adalah pada masa lalu, zaman Israel kuno, puasa dan pertobatan itu dengan mengoyakkan pakaian, menaburkan abu di kepala, dan berpuasa. Ini yang menjadi perintah ini, namun tidak cukup dengan perbuatan fisik dengan merobek atau mengoyak pakaian, ada perubahan sikap batin, yaitu mengoyak hati. Menelisik hati, memeriksa batin, apa sih yang telah dilakukan dengan tidak patut dan selama Masa Prapaskah diubah, diperbaiki.
Perintah menarik berikutnya adalah oleh Penginjil Mateus agar tidak memperlihatkan sikap kita dalam berdoa dan juga berpuasa. Kembali hal ini konteks waktu zaman Yesus. Namun ternyata perilaku orang Farisi ini pun ada yang meneruskan. Ketika puasa, semua warung harus tutup, iklan makanan pun inginnya dilarang, biar tidak menggoda. Identik bukan satu memperlihatkan kalau puasa dengan raut mukanya, satunya minta dukungan dengan berbagai cara. Apa yang Yesus kehendaki dari kita adalah perubahan sikap, bukan semata menahan lapar atau haus. Jika hanya itu banyak orang bisa melakukan dengan berbagai alasan. Ada karena keadaan, kelaparan, tidak ada uang, dan memang tidak lagi mampu untuk itu. Ada pula alasan lain, karena kesehatan mereka harus tidak makan, diet misalnya. Atau orang menjelang operasi. Puasa dalamm Gereja Katolik lebih dari itu semua. Ada tidak sikap hati untuk berbalik kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Lebih banyak memberi, lebih banyak perhatian pada orang yang tidak beruntung, dan lebih dekat pada Tuhan dengan berbagai-bagai aktivitas kerohanian dan peka pada kebutuhan sesama.
Salah satu wujud itu adalah dengan APP, aksi puasa pembangunan, di mana aksi ini bukan sekadar  mengumpulkan uang, namun uang dari upaya mengurangi makan dan mengurangi kesenangan yang diwujudkan dalam uang untuk saudara yang membutuhkan. Misalnya, karena biasa makan sehari tiga kali dengan 3X rupiah, karena puasa dan pantang menjadi X rupiah, 2 X inilah yang menjadi aksi dalam APP. Mengurangi kesenangan dalam pantang pun demikian. Ini wujud nyata yang dikehendaki Gereja. Tidak hanya uangnya, namun juga kepedulian dan perhatian. Bagaimana jika menyumbang banyak namun perilaku tamak masih juga menghinggapi, masih judes pada sesama dan orang yang perlu mendapatkan uluran tangan? BD.eLeSHa.




Ragi Orang Farisi dan Herodes

Selasa Pekan Biasa VI (H)
Yak. 1:12-18
Mzm. 94:12-13a,14-15,18-19
Mrk. 8:14-21




Yak. 1:12-18

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
1:16 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!
1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Mrk. 8:14-21

8:14 Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.
8:15 Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes."
8:16 Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti."
8:17 Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?
8:18 Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,
8:19 pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul."
8:20 "Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul."
8:21 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?



Ragi Orang Farisi dan Herodes

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai  ragi orang Farisi dan Herodes, sebagai pengantar akan kedegilan hati dan tidak mengerti. Pertama kali Yesus menyatakan hati-hati akan ragi Herodes dan orang Farisi, padahal para murid sedang memikirkan roti yang mereka miliki hanya satu. Secara manusiawi, mereka tentu langsung mengaitkan hal ini dengan roti, bukan yang lebih mendalam. Ragi dalam hal Herodes dan orang Farisi adalah daya rusak, menebarkan kebencian dan kerusakan yang tidak gampang diatasi jika tidak waspada.
Yesus mengembangkan pengajaran-Nya bahwa mereka degil dengan beberapa hal yang telah Tuhan lakukan bagi banyak orang di depan mata mereka. Yesus tidak habis pikir dengan perilaku para murid yang masih juga tidak mengerti dengan apa yang mereka alami itu.
Keheranan Yesus diubah, bukan bicara lagi menegnai ragi dan roti namun mengenai ketidakmengertian mereka atas karya dan tindakan besar Yesus. Mereka tidak mengerti padahal sudah diajarkan melalui begitu banyak perbuatan dan perkataan Yesus.
Saudara terkasih, berbicara mengenai ragi Farisi dan Herodes ini, kita patut sejenak melihat media sosial dan kehidupan bersama kita. Bagaimana banyak sekali informasi yang hanya setengah data, fakta separo yang dikaitkan dengan kepentingan mereka. Hal ini tentu memiliki daya rusak yang luar biasa. Baik bagi kehidupan bersama sebagai bangsa ataupun Gereja. sebuah informasi dari teman mengatakan, mengapa orang Katolik tidak  mau memilih agama lain, karena orang Katolik diberi mobil dari Roma. Coba jika kita tidak hati-hati dan waspada atas ragi perusak ini, kita bisa iri dengan mobil saudara kita segereja, atau ngamuk kepada pemberi isu tidak jelas itu. Ragi perusak itu kini makin banyak dan makin luar biasa daya rusaknya. Bagaimana sikap kita menghadapinya, dengan degil dan tidak mengerti? Atau cerdas dan waspada? BD.eLeSHa.