Kamis, 13 Februari 2020

Berdoa dan Berusaha dengan Rendah Hati



Kamis Biasa Pekan VI (H)
1 Raj. 11:4-13
Mzm. 166:3-4,35-36,37,40
Mrk. 7:24-30



1 Raj. 11:4-13

11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.
11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon,
11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.
11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon.
11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.
11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,
11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN.
11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu.
11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya.
11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.


Mrk. 7:24-30

7:24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.
7:25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.
7:26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
7:27 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
7:28 Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
7:29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
7:30 Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.



Berdoa dan Berusaha dengan Rendah Hati

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar dari firman Tuhan mengenai kasih karunia, kerendahan hati, dan doa, serta usaha yang tiada henti.  Bagaimana Yesus memberikan kesembuhan kepada perempuan Siro-Fenesia. Ia yang masuk dalam kalangan kafir dalam konteks Yahudi, berani meminta kesembuhan dari Yesus.
Yesus menjawab dengan sebuah kalimat sarkasme, di mana perempuan itu seolah dipersamakan dengan anjing. Dan tanggapan si ibu itu ternyata jauh lebih hebat lagi ketika menyatakan pendapatnya adalah kerendahan hati. Yesus tergerak dan memberikan kesembuhan bagi anak si ibu. Kasih-Nya tak terbatas. Itu yang perlu menjadi pegangan dan keyakinan kita. Percaya sepenuhnya pada kuasa Allah.
Rendah hati sangat penting bagi hidup yang mendalam dan di dalam iman. Contoh dalam kisah bacaan hari ini, si ibu ditolak, sangat mungkin juga diterjemahkan sama dengan anjing, namun ia tidak marah. Ia fokus pada tujuannya, yaitu memohon kesembuhan. Ia mengalahkan dirinya dan dengan rendah hati memohon.
Pantang menyerah, usaha terus, dan tidak henti-hentinya berusaha dan memohon. Si ibu tentu tidak kenal lelah karena memikirkan anaknya. Sikap yang diterima dari Yesus itu belum apa-apanya dari pada letih lelah dan berharap yang terbaik bagi si anak. Kadang kita baru sebentar berusaha sudah menyerah. Ditolak beberapa kali putus asa. Merasa Tuhan tidak mendengar doa kita.
Doa dan usaha tentu saja harus seimbang. Jangan malah  mlekotho Tuhan atas nama iman dan kemalasan pribadi. Toh Tuhan bisa menyelesaikan, tidak usah usaha. Atau sikap sebaliknya, tidak usah berdoa, kan Tuhan Mahatahu. Ini sama-sama melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Usaha dan doa harus selaras.
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan memberikan bukti dan contoh nyata dalam diri si ibu yang memohon dan juga berusaha. Ada kalanya doa itu langsung berbuah, namun sangat mungkin bahwa Tuhan melakukan ujian kepada kita. Tuhan hendak melihat seberapa tahan uji kita di dalam berusaha dan berdoa juga.
Saudara terkasih, Tuhan mengajak kita untuk tetap rendah hati, berusaha, dan tidak melupakan doa meskipun kasih karunia itu adalah pemberian Allah semata. Allah Yang Mahakasih, tidak memerlukan permintaan kita, namun bahwa kita perlu tahu diri juga untuk berserah diri, rendah hati, dan berkomunikasi dengan Allah. BD.eleSHa.

Rabu, 12 Februari 2020

Hati-hati yang Keluar dari Hatimu!




Rabu Biasa Pekan V (H)
1 Raj. 10:1-10
Mzm. 37:5-6,30-31,39-40
Mrk. 7:14-23



1 Raj. 10:1-10

10:1 Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki.
10:2 Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo, dikatakannyalah segala yang ada dalam hatinya kepadanya.
10:3 Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.
10:4 Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya,
10:5 makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.
10:6 Dan ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu,
10:7 tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.
10:8 Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!
10:9 Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran."
10:10 Lalu diberikannyalah kepada raja seratus dua puluh talenta emas, dan sangat banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah datang lagi begitu banyak rempah-rempah seperti yang diberikan ratu negeri Syeba kepada raja Salomo itu.

Mrk. 7:14-23

7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
7:15 Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
7:16 [Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!]
7:17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.
7:18 Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,
7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
7:20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."



Hati-hati yang Keluar dari Hatimu!

Saudara terkasih, hari ini kita belajar bersama Bunda Gereja untuk merenungkan apa itu yang haram dan halal. Patut dan tidak patut. Berbicara mengenai makanan yang halal atau patut sejatinya kita juga perlu mengingat bagaimana Allah Tuhan kita menciptakan seluruhnya adalah baik adanya. Lihat Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian. Di sana Allah mengatakan semua baik adanya.
Mengapa ada yang dilarang dan kemudian seolah menjadi ketetapan? Supaya manusia tidak tamak dan rakus sehingga merusak alam ini. manusia yang masuk dalam seluruh rantai makanan bisa membinasakan alam ini. Semua dimakan dari hewan hingga tumbuhan. Batasan yang layak diperhatikan juga.
Perlu kita perhatikan adalah sejatinya kenajisan, atau hal yang membuat najis itu adalah apa yang keluar dari tubuh. Bagaimana air liur, ludah, air seni, atau kotoran. Itu yang berupa barang atau fisik. Jauh lebih mengerikan dan menakutkan justru apa yang keluar dari hati. Apa yang keluar dari pikiran. Hari-hari ini sedang ramai karena ada sebuah kampus yang memajang pengurus sebuah UKM dengan membuat tampilan mahasiswi dalam mode blur. Wajah para gadis ini diburamkan dengan alasan bisa menjadikan godaan.
Apakah sesederhana itu dengan melihat gambar gadis langsung tergoda dan berbuat kejahatan? Lihat saja setiap saat melihat begitu banyak perempuan dengan aneka pakaiannya? Apakah tidak kalah menggodanya? Ini lagi-lagi adalah pemikiran dan perasaan yang berasal dari dalam. Pikiran dan hatinya yang memang lemah, mudah tergoda, dan kemudian mengggerakan aksi.
Melihat tetangga atau rekannya sukses kemudian iri hati, apakah ini juga salah rekan atau tetangga? Lagi-lagi itu keluar dari hati yang tidak mampu bersyukur. Keluar dari diri bukan, tidak yang masuk. Aksi, tindakan, dan perilaku itu adalah akibat dari hati yang tidak baik.
Apa yang dari luar masuk ke dalam tubuh adalah baik adanya. Semua ciptaan itu baik, dan yang masuk ke dalam tubuh jelas baik. Apalagi hanya masuk ke dalam lambung atau perut, bukan hati. Jagalah hati agar tetap bisa jernih, baik di dalam hidup bersama sehingga mengurangi iri hati, dendam, dan seluruh kejahatan yang bermuara dari hati. BD.eLeSHa.

Selasa, 11 Februari 2020

Manusia dan Kemanusiaan Lebih Utama, Hati-hati Sikap Munafik!


Selasa Biasa Pekan V (H)

1 Raj. 8:22-23,27-10
Mzm. 84:3,4,5,10,11
Mrk. 7:1-13




1 Raj. 8:22-23,27-10

8:22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit,
8:23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;
8:27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.
8:28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!
8:29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.
8:30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni



Mrk. 7:1-13

7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.
7:11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --,
7:12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.
7:13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."




Manusia dan Kemanusiaan Lebih Utama, Hati-hati Sikap Munafik!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman-Nya dan beberapa hal yang berkaitan dengan hidup bersama. Gereja juga memperingatan Hari Orang Sakit Sedunia. Dalam khotbah peringatan ini, Bapa Paus mengatakan, jangan mengutamakan sakit di atas orangnya. Dalam beberapa waktu terakhir, kita saksikan bagaimana orang malah seolah menari di atas derita di Wuhan.
Ada  yang menaikan harga masker, hingga puluhan kali lipat. Atau berkisah mengenai berita yang dipakai untuk kepentingan politik, ada pula yang menolak hanya untuk melakukan karantina. Ingat, belum tentu sakit. Dan mereka adalah saudara sebangsa. Lebih ironis lagi, ada seorang pejabat publik yang meminta kompensasi kepada pemerintah pusat. Kemanusiaan diabaikan atas nama sakit dan penyakit.
Dalam bacaan Injil Tuhan mengritik perilaku pendengarnya yang lebih mengutamakan ritual, adat istiadat, dan melupakan kehendak dan anjuran Tuhan. Yang dipakai adalah pengabdian kepada orang tua yang dikalahkan oleh pelaksanaan adat korban. Dan mereka bangga atas nama adat istiadat, korban dan menafikan orang tua, dan itu adalah perintah Tuhan.
Kritik yang Tuhan nyatakan adalah, bagaimana perilaku mereka itu lain di bibir dan yang dilakukan. Mereka fasih mengatakan ini dilarang dan itu terlarang. Ini tidak boleh itu juga jangan. Namun  untuk mengulurkan tangan kebaikan mereka sangat berat. Bung Karno sebagai presiden dan salah satu pendiri bangsa ini mengatakan, satunya kata dan perbuatan. Ternyata para pendengar Yesus yang mau mengritisi ini beda antara perbuatan dan yang diucapkan.
Dalam konteks yang lebih khusus, sangat mungkin kita adalah aktivis Gereja, namun menelantarkan keluarga. Hanya bisa mengatakan ini dan itu namun tidak bisa menerapkannya di dalam keluarga. Ini adalah ironis dan sangat mungkin terjadi di antara kita sendiri.
Saudara terkasih, mengapa bisa demikian? Ini adalah karena kita terlepas dari kasih karunia Allah. Kita hanya mengandalkan kekuatan kita. Rasio, pemikiran, dan intelektual kita semata yang bekerja, tanpa melibatkan Tuhan dan kasih-Nya yang lembut dan adil. Satukan apa yang kita lakukan di dalam perutusan Tuhan, sehingga kita akan bisa selaras dan sejalan antara yang dinyatakan dan dilakukan. Ini penting agar orang bisa melakukan dengan sepenuh jiwa dan raga. Perilaku munafik bisa terkalahkan.
Kemanusiaan dan manusia jauh lebih utama dan penting dari pada sakit dan penyakit. Apalagi hanya sekadar uang. Utamakan dan belajar mampu mengamalkan bukan semata menghapalkannya. BD.eLeSHa.

Senin, 10 Februari 2020

Skolastika dan Sembuhkanlah!


Pw. S. Skolastika, Prw (P)

1 Raj. 8:1-7,9-13
Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9
Mrk. 6:53-56



1 Raj. 8:1-7,9-13

8:1 Pada waktu itu raja Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin puak orang Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota Daud, yaitu Sion.
8:2 Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel.
8:3 Setelah semua tua-tua Israel datang, maka imam-imam mengangkat tabut itu.
8:4 Mereka mengangkut tabut TUHAN dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi.
8:5 Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.
8:6 Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub;
8:7 sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas.
8:9 Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan TUHAN dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir.
8:10 Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN,
8:11 sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.
8:12 Pada waktu itu berkatalah Salomo: "TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman.
8:13 Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya."


Mrk. 6:53-56

6:53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
6:54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
6:55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
6:56 Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.



Skolastika dan Sembuhkanlah!

Saudara terkasih, hari ini kita belajar dan merenungkan firman Allah bersama  Bunda Gereja mengenai penyembuhan. Salah satu tugas perutusan dan karya Mesianik adalah penyembuhan. Penyembuhan menjadi salah satu teman sentral dalam karya Yesus. Yesus Sang Penyembuh menjadi pembicaraan hangat dan dinanti-nantikan.
Tentu bahwa dalam masa modern ini, penyakit atau penyembuh adalah tugas peramedis, dokter, dan ahli kesehatan lainnya. Namun ada ranah lain yang bisa menjadi medan karya bagi orang beriman. Sakit orang modern kadang dan bahkan sering bukan karena sakit secara medis, namun sakit secara mental. Dan itu tidak harus dokter, psikolog, atau psikiater. Peran kita sebagai saudara dan sebagai sesama anak-anak Allah bisa sangat membantu.
Kesepian, era modern, masa di mana orang berlomba siapa cepat ia dapat, siapa kuat akan menang, dan orientasi adalah viral dan pokoknya tenar, bisa membuat orang terjerumus dalam kesepian, kegagalan, dan mungkin juga depresi. Menjadi teman bagi mereka yang membutuhkan juga menyembuhkan.
Makin modern, makin banyak orang kesepian, dan terluka karena berbagai peristiwa. Kehadiran kita bisa menjadi sarana untuk memberikan hiburan dan sangat mungkin kesembuhan. Di sanalah peran penting iman kita. Aplikasi, bukan semata ritual dan hafalan ini dan itu.
Jangan sampai kehadiran kita malah menimbulkan luka. Membuat orang menjadi sakit, baik sakit fisik apalagi sakit hati. Jangan salah ketika kita berupaya yang rohani yang tidak berimbang, bisa-bisa kita menyakiti dan membawa orang semakin jauh dari Tuhan. Memisahkan saudara kita dengan Yang Ilahi jauh lebih menakutkan dari pada sekadar luka atau sakit fisik.
Saudara terkasih, hari ini kita juga merayakan perayaan Santa Skolastika.  Skolastika adalah adik dari Benediktus selaku abbas dan pendiri Ordo Benediktin. Relasi mereka sangat erat dan saling menguatkan di dalam hidup membiara. Skolastika sebagai biarawati sering mengunjungi abangnya selaku pembimbing rohani. Dan sebaliknya Benediktus sering pula mengunjungi biara adiknya untuk memberikan bimbingan bagi Skolastika dengan para susternya. Skolastika meninggal di hadapan kakaknya yang ia minta mengisahkan kisah para kudus. BD. eLeSHa.

Minggu, 09 Februari 2020

Dampak dalam Hidup, Tampak ataupun Tidak


HARI MINGGU BIASA PEKAN V (H)
Yes. 58:7-10
Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9
1 Kor. 2:1-5
Mat. 2:13-16



Yes. 58:7-10

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.


1 Kor. 2:1-5

2:1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
2:3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
2:4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,
2:5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.


Mat. 2:13-16

5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.



Dampak dalam Hidup, Tampak ataupun Tidak

Saudara terkasih, dalam hari Minggu ini, kita bersama Bunda Gereja merenungkan peran kita di dalam masyarakat dan Gereja. Menjadi terang dan garam. Berarti memberikan dampak dalam kehidupan ini. Dampak yang  penting dan kelihatan sebagaimana terang atau penerang, lampu, tidak mungkin disembunyikan.
Dampak atau pengaruh yang sangat berbeda tampil dalam garam, di mana tidak tampak sama sekali barang, perbuatannya, atau perilakunya, namun memiliki daya ubah yang luar biasa. Bayangkan masakan, atau sayur tanpa garam, seperti apa rasanya. Memberikan pembeda, bahkan menjadikan masakan berasa yang menggugah selera.
Kedua pengaruh itu memang berbeda. Jika terang itu tampak, jelas, kelihatan, dan tempatnya di posisi yang sangat jelas.  Peran ini pun penting dan kadang memang harus demikian. Contoh,  memberikan nasihat, motivasi, dukungan, atau pendampingan bagi yang sedang menderita, terpuruk, kan harus jelas. Siapa orangnya, bagaimana harus bersikap.
Membawa orang kembali pada jalan yang semestinya, adalah tugas dari peran terang dalam hidup bersama kita. Kita telah mendapatkan Terang Sejati, kegelapan tidak lagi menguasai. Nah tuga kita juga menjadi terang bagi sesama. Kita tidak layak untuk mendominasi terang untuk diri sendiri.
Tempat terang juga sangat strategis, bahkan semua orang bisa melihat, dan itu tidak ada yang salah. Memang tugas dan peran yang berbeda, dan harus demikian adanya. Toh tidak semua pribadi mampu demikian. Namun jika demikian tidak harus takut dan merasa bersalah seolah pemer. Tidak. Itu adalah keharusan malah.
Garam, bagaimana memberikan bantuan, memberikan dampak, dan mengubah tanpa adanya penampakan yang jelas. Garam itu harus luruh di dalam adonan, sayur, atau masakan. Sama sekali tidak akan ada bekas butiran putih, namun adanya rasa asin gurih yang hanya bisa dicecap, bukan lagi dilihat. Bagaimana kehadiran kita itu tidak yang utama dilihat, namun memberikan kontribusi baik. Ingat dampak dan kontribusi  baik, bukan malah menjadi pemengaruh dalam hal yang buruk.
Saudara terkasih, tugas kita bisa menjadi terang, atau garam. Namun tidak menutup kemungkinan juga keduanya. Dan itu adalah kasih karunia dari Allah untuk hidup kita yang berdaya guna. Bermanfaat bagi hidup orang lain dan juga dunia melalui lingkungan kita. Dampak itu bukan hanya untuk diri, namun bagi hidup bersama.BD.eLeSHa.

Sabtu, 08 Februari 2020

Kesepian di Tengah Keramaian, Ambilah Tempat Sepi!


Sabtu Pekan Biasa IV (H)
1 Raj. 3:4-13
Mzm. 119:9,10,11,12,13,14
Mrk. 6:30-34



1 Raj. 3:4-13

3:4 Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.
3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."
3:6 Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.
3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.
3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.
3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"
3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.
3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,
3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.
3:13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja.

Mrk. 6:30-34

6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.
6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.



Kesepian di Tengah Keramaian, Ambilah Tempat Sepi!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar bagaimana menjadi pribadi beriman itu perlu mempersiapkan diri dengan serius. Doa dan membangun sikap batin dalam relasi bersama Allah itu menjadi penting dan mendasar. Dalam bacaan Injil kita oleh Yesus diajak ke tempat yang sepi. Di mana kesempatan untuk menyepi dan beristirahat dan jangan lupa, menimba kekuatan rohani dan spiritual.
Era modern ini cenderung bergegas, bergerak cepat, kadang tergesa-gesa, ini semua dalam alur yang siapa cepat dapat. Sangat mungkin benar, namun tidak jarang juga mengalami yang namanya cepat lelah, kehabisan energi, merasa letih tanpa alasan. Jamak kita temui wajah, letih, lesu, cemberut, dan betapa mudahnya emosi tersulut.
Jalanan adalah etalase kepribadian kita bersama. Lihat bagaimana orang bergegas, mau menang dan cepat sendiri, namun abai akan keselamatan, persiapan, dan banyak hal lainnya. Alasan sibuk, bangun terlambat, dan ugal-ugalan di jalan. Sejatinya mereka mengejar kecepatan tanpa persiapan. Abai akan persiapan batin di dalam mempersiapkan kesibukan itu.
Boleh dan benar memang susah melihat di zaman modern ini untuk santai, namun ingat yang serius pun perlu diimbangi dengan suasana hening, tenang, dan sepi. Ingat sepi, bukan kesepian. Kesepian di tengah hiruk pikuk, di mall itu justru banyak orang kesepian di antara keramaian. Ironis bukan? Iya, karena mereka mengandalkan otak, gerak tubuh dan badan, dan mengabaikan hati yang tenang dan damai.
Ada masukan dari seorang guru, mencoba doa Bapa Kami dalam waktu 3.5 menit. Dan upaya yang tidak mudah satu menit saja sudah perjuangan. Ini adalah salah satu sarana untuk menjadikan pribadi yang lebih tenang, pelan-pelan, dan tidak tergesa-gesa di dalam hidup. benar terasa perbedaannya ketika kita mau memperlambat diri, terutama dalam beraksi dan memberikan tanggapan.
Atas nama kebutuhan ekonomi, kecepatan dalam bertindak, kadang kita abai akan sisi spritual. Bersama Tuhan dalam kasih karunia-Nya adalah ketenangan, keheningan, dan menjalin relasi dan komunikasi bersama Tuhan di tempat yang tersembunyi.
Berbahagialah kita di dalam Gereja memiliki kharisma hidup dalam pertapaan. Itu salah satu wujud konkrit menyingkir ke tempat yang sunyi. Mengistirahatkan hiruk pikuknya pikiran dan raga di tengah dunia yang semakin cepat berputar dan menuntut kecepatan laju gerak kita. Sisi spritual menjadi penyeimbang yang penting.BD.eLeSHa.

Jumat, 07 Februari 2020

Kebenaran dan Pilihan


Jumat Pekan Biasa IV
 Sir. 47:2-11
Mzm. 188:31,47,50,51
Mrk. 6:14-29




Sir. 47:2-11

47:2 Seperti lemak dipungut dari korban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-orang Israel.
47:3 Singa-singa dipermainkan olehnya seolah-olah kambing jantan belaka, dan beruang-beruang seakan-akan hanya anak domba saja.
47:4 Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa serta mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kebanggaan Goliat?
47:5 Sebab berserulah ia kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, sehingga Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya.
47:6 Maka dari itu ia dimuliakan karena "laksaan", dan dipuji-puji oleh karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota yang mulia dipersembahkan kepadanya.
47:7 Sebab ia membasmi segala musuh di kelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini.
47:8 Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata yang luhur menghormati Yang Kudus, Yang Mahatinggi. Ia bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengasihi Penciptanya.
47:9 Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dan memperindah lagu-lagunya dengan bunyinya.
47:10 Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalun-talun di tempat kudus-Nya.
47:11 Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Iapun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel.

Mrk. 6:14-29

6:14 Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia."
6:15 Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu."
6:16 Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi."
6:17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.
6:18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
6:19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,
6:20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.
6:21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.
6:22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",
6:23 lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"
6:24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
6:25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"
6:26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.
6:27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
6:28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
6:29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.



Kebenaran dan Pilihan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja berlajar bersikap. Membela kebenaran atau karena takut janji meskipun itu menentang kebajikan dan kebenaran. Sumpah memang baik, namun ketika konsekuensi atas sumpah itu adalah kejahatan atau hal yang buruk? Ini yang harus menjadi pertimbangan. Jangan mudah mengatakan sumpah, janji, dan ikrar ketika tidak mampu melakukan hal yang semestinya.
Dalam kisah Injil hari ini, kita belajar bagaimana Herodes terjebak dalam janjinya kepada puteri Herodias. Dendam Herodias dilampiaskan melalui tangan Herodes dengan perantaraan puterinya. Herodes yang awalnya menyukai Yohanes Pembaptis menjadi terpaksa untuk  memenggal kepalanya karena permintaan anak Herodias yang telah ia berikan janji.
Janji yang jelas juga dipengaruhi dengan pemikiran yang tidak jernih karena mabuk. Ucapan yang menyenangkan Herodias yang bisa membalas teguran Yohanes karena pernikahannya dengan Herodes. Malu dan sakit hati itu akhirnya terlampiaskan karena ada momen yang tepat. Janji di hadapan anak buah dna pembesar, tentu akan memalukan bagi Herodes jika ia ingkar akan janjinya, yang bahkan sampai mau memberikan setengah kerajaan.
Saudara terkasih, dalam hidup sehari-hari kita akan diberikan pilihan untuk menentukan sikap. Ada yang sama sekali tidak berdampak besar. Misalnya mau bangun pagi, ngepas dengan acara, atau malas-malasan karena memang bebas. Dampaknya tidak banyak. Namun ada pula pilihan itu yang memberikan dampak sangat besar. Contohnya memilih pasangan hidup, menentukan mau menjadi apa, memilih pekerjaan, atau pilihan lain yang memberikan pengaruh bagi hidup. Ada pula yang hanya memberikan dampak sementara, misalnya memilih untuk mengenakan pakaian apa, itu juga pilihan, dan dampaknya tidak cukup besar dan bisa diulangi dengan mudah.
Memilih presiden atau pemimpin negara juga sangat berdampak dan sangat panjang, dan kemudian panjang konsekuensi yang harus ditanggung bersama. Nah ketika memilih hal-hal yang besar, berdampak begitu luas, serta memberikan kontribusi bagi sebuah komunitas, masyarakat, dan bahkan bangsa, pertimbangan masak perlu diambil. Salah satu yang penting adalah membela kebenaran atau nama baik sendiri.
Yohanes Pembaptis menjadi korban Herodes yang takut nama baiknya. Padahal ia tahu Yohanes orang baik, hatinya bergetar mendengar pengajarannya, toh kebenaran itu ia kesampingkan demi ego dan nama diri. BD.eLeSHa.