Kamis, 06 Februari 2020

Paulus Miki dan Mengandalkan Tuhan Semata


Pw. Paulus Miki, Im dkk, Mrt (M)
1 Raj. 2:1-4,10-12
1 Taw. 29:10,11ab,11d-12a,112bcd
Mrk. 6:7-13




1 Raj. 2:1-4,10-12

2:1 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya:
2:2 "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.
2:3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,
2:4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.
2:10 Kemudian Daud mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud.
2:11 Dan Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun.
2:12 Salomo duduk di atas takhta Daud, ayahnya, dan kerajaannya sangat kokoh.

Mrk. 6:7-13

6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan,
6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.



Paulus Miki dan Mengandalkan Tuhan Semata

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana perutusan kita. Perutusan yang harus mengandalkan Tuhan semata di dalam menjalaninya. Kita di dalam kehidupan sehari-hari itu tidak lepas dari perutusan di dalam Tuhan. Setiap nafas hidup kita di dalam menjalankan kehendak dan perutusan dari Tuhan. Apa yang kita lakukan bukan apa yang kita kehendaki, namun apa yang Tuhan rancangkan.
Kita diutus itu mungkin seolah hapal di luar kepala, pengajaran berulang-ulang, plus setiap dalam kegiatan Gerejani hal ini juga menjadi penekanan. Salah satu yang perlu kita sadari adalah kesiapsediaan untuk menjalankan tanpa penolakan, apalagi memikirkan bekal dan apa yang kita miliki dan akan kita jadikan bekal. Paling sering adalah jawaban penolakan, bukan tidak mau namun merasa tidak mampu dan tidak layak, tidak cukup bekal dan seterusnya.
Dalam bacaan kali ini justru Yesus melarang para murid membawa bekal. Mengapa? Jika demikian sangat mungkin kita menjadi abai akan kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Jauh lebih  mengandalkan sisi manusiawi  sendiri. Hal yang sangat wajar ketika kita belum bertumbuh dalam iman.
Termasuk mengalahkan diri sendiri untuk mampu mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Hal yang sangat tidak mudah dan menjadi perjuangan, mungkin seumur hidup. Padahal sederhana malah.  Namun mengapa menjadi demikian susah? Karena rasio kita yang dominan.
Saudara terkasih, hari ini Gereja juga merayakan Para Martir Jepang. Imam dan awam Jesuit yang menjadi korban dan kemartiran di tanah Jepang. Siksaan ngeri dan Paulus sebagai imam meneguhkan para katekis dan awam yang disesah itu. Apakah hukuman dari kekaisaran ini mampu merampas iman mereka? Dan mereka tetap setia, bahkan dengan dibunuh dengan cara di salib. Mereka tetap setia dan wafat ketika lambung mereka ditombak. Jalan kemartiran yang identik dengan apa yang Tuhan Yesus terima.
Apa yang dilakukan Paulus Miki dan kawan-kawan tampaknya adalah jalan perutusan yang mendasar, mereka menjalankan kehendak Tuhan bahkan dengan mengorbankan nyawa mereka. Salib kita mungkin berbeda-beda, namun bagaimana kita menjalani dan memanggulnya itu dengan penuh kesetiaan atau malah nglokro, dan kemudian memangkas salib itu biar ringan?BD. eLeSHa.

Rabu, 05 Februari 2020

Penghargaan atas Kualitas


Pw. S. Agatha, PrwMrt (M)
2 Sam. 24:2,9-17
Mzm. 32:1-2,5,6,7
Mrk 6:1-6




2 Sam. 24:2,9-17

24:2 Lalu berkatalah raja kepada Yoab dan para panglima tentara yang bersama-sama dengan dia: "Jelajahilah segenap suku Israel dari Dan sampai Bersyeba; adakanlah pendaftaran di antara rakyat, supaya aku tahu jumlah mereka."
24:9 Lalu Yoab memberitahukan kepada raja hasil pendaftaran rakyat. Orang Israel ada delapan ratus ribu orang perangnya yang dapat memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu.
24:10 Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh."
24:11 Setelah Daud bangun dari pada waktu pagi, datanglah firman TUHAN kepada nabi Gad, pelihat Daud, demikian:
24:12 "Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman TUHAN: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu."
24:13 Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: "Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku."
24:14 Lalu berkatalah Daud kepada Gad: "Sangat susah hatiku, biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia."
24:15 Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel dari pagi hari sampai waktu yang ditetapkan, maka matilah dari antara bangsa itu, dari Dan sampai Bersyeba, tujuh puluh ribu orang.
24:16 Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah TUHAN karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: "Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu." Pada waktu itu malaikat TUHAN itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus.
24:17 Dan berkatalah Daud kepada TUHAN, ketika dilihatnya malaikat yang tengah memusnahkan bangsa itu, demikian: "Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku."

Mrk 6:1-6

6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6:6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.



Penghargaan atas Kualitas

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan penghargaan kita akan sesuatu idealnya adalah yang mendasar. Bagaimana orang bisa sangat mengagung-agungkan yang berwarna luar negeri. Dulu kebarat-baratan, kini kearab-araban seolah lebih dari apa yang ada di dalam bumi Nusantara ini. Ketika berbicara atau mengadakan sambutan menyelipkan istilah asing, Inggris, Arab, atau Latin, serasa sudah sangat hebat.
Pun dengan pemandangan atau photo-photo wisata, aroma asing menjadi kebanggaan. Eh yang lokal pun membuat minatur tempat-tempat wisata asing. Penamaan perumahan kalau tidak keinggris-inggrisan juga kearab-araban. Nama anak-anak sekarang pun dominan yang demikian. Asing seolah  menjadi jaminan mutu lebih baik.
Mengapa demikian? Karena tabiat kita yang gumunan, mudah kagum pada hal-hal yang sering malah tidak mendasar. Padahal belum tentu yang dikagumi itu juga bermakna, berisi, dan memiliki kebaikan sebagaiamana tampilannya.
Dalam bacaan Injil hari ini kita belajar, bagaimana Yesus diremehkan karena mereka tahu asal-usul Yesus. Penghargaan atas pengenalan, bukan karena kualitas. Hal yang demikian Yesus kehendaki untuk ditinggalkan. Model demikian juga akan mudah menghargai, dan gumun, atas kata, tampilan, dan pernyataan orang yang tidak mereka kenal.
Apa yang Tuhan Yesus telah lakukan seolah tidak tampak, karena mereka sudah merasa kenal dan menolak perbuatan besar Yesus. Mereka iri dan tidak  mau tahu apa yang Tuhan Yesus lakukan. kemampuan luar biasa Yesus dianggap angin lalu saja.
Agata seorang anak bangsawan. Ia bersikukuh untuk tetap perawan dan menyerahkan kesuciannya untuk Tuhan. Pemaksaan oleh seorang petinggi negeri yang hendak memperistrinya gagal yang berujung pada penyiksaan hingga wafatnya. Ia diyakini menjadi pelindung dari api dan bencana alam karena gunung.
Saudara terkasih, apa yang ada dalam bacaan Injil dan apa yang kita rayakan sebagai Gereja hari ini mengajarkan, bagaimana kita hendaknya gumun, kagum pada kekuatan dan kekuasaan Tuhan . kita dipanggil untuk mampu bersaksi dan memberikan diri bagi Tuhan karena kita sendiri telah ditangkap oleh kasih karunia Tuhan.
Tuhan yang mengagumkan dan Tuhan yang membuat kita terpesona dan tidak mampu untuk lepas dari-Nya. Kita sampai kepada Tuhan, bukan hanya tampilan, baju, atau asesoris seperti salib, juba, apalagi kalau hanya rambut dan kumis serta jenggotnya. BD.eLeSHa.

Selasa, 04 Februari 2020

Iman yang Kuat dan Kasih Karunia


Selasa Pekan Biasa IV (H)
2 Sam. 18:9-10,14b, 24-25, 30-19:3
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Mrk. 5:21-43




2 Sam. 18:9-10,14b, 24-25, 30-19:3

18:9 Kebetulan Absalom bertemu dengan orang-orang Daud. Adapun Absalom menunggangi bagal. Ketika bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar, tersangkutlah kepalanya pada pohon tarbantin itu, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi, sedang bagal yang dikendarainya berlari terus.
18:10 Seseorang melihatnya, lalu memberitahu Yoab, katanya: "Aku melihat Absalom tergantung pada pohon tarbantin."
18:14 Tetapi Yoab berkata: "Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan kau seperti ini." Lalu diambilnyalah tiga lembing dalam tangannya dan ditikamkannya ke dada Absalom,
18:24 Adapun Daud duduk di antara kedua pintu gerbang sedang penjaga naik ke sotoh pintu gerbang itu, di atas tembok. Ketika ia melayangkan pandangnya, dilihatnyalah orang datang berlari, seorang diri saja.
18:25 Berserulah penjaga memberitahu raja, lalu raja berkata: "Jika ia seorang diri, maka kabar yang baiklah disampaikannya.
18:30 Kemudian berkatalah raja: "Pergilah ke samping, berdirilah di sini." Ia pergi ke samping dan tinggal berdiri.
18:31 Maka datanglah orang Etiopia itu. Kata orang Etiopia itu: "Tuanku raja mendapat kabar yang baik, sebab TUHAN telah memberi keadilan kepadamu pada hari ini dengan melepaskan tuanku dari tangan semua orang yang bangkit menentang tuanku."
18:32 Tetapi bertanyalah raja kepada orang Etiopia itu: "Selamatkah Absalom, orang muda itu?" Jawab orang Etiopia itu: "Biarlah seperti orang muda itu musuh tuanku raja dan semua orang yang bangkit menentang tuanku untuk berbuat jahat."
18:33 Maka terkejutlah raja dan dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan: "Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!"
19:1 Lalu diberitahukanlah kepada Yoab: "Ketahuilah, raja menangis dan berkabung karena Absalom."
19:2 Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara itu mendengar orang berkata: "Raja bersusah hati karena anaknya."
19:3 Sebab itu tentara itu masuk kota dengan diam-diam pada hari itu, seperti tentara yang kena malu kembali dengan diam-diam karena melarikan diri dari pertempuran.


Mrk. 5:21-43

5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,
5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya
5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.
5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
5:31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"
5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.
5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
5:35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
5:37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
5:38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
5:39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
5:40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
5:42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.
5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.



Iman yang Kuat dan Kasih Karunia

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana sikap iman yang kuat itu penting. Ilustrasi dalam bacaan Injil ada dua yang mendukung gagasan itu. Sikap iman kedua pelaku itu memang teruji kuat dan hebat. Benar bahwa kasih karunia Allah yang utama, namun sikap batin dan pilihan untuk menanggapi kasih karunia itu juga penting.
Iman itu tidak mudah, apalagi iman yang kuat. Menghadapi kata orang. Lihat apa yang dinyatakan dan dikatakan orang-orang itu bisa menjadi pelemah dan mundur bagi orang yang jiwanya kecil dan kerdil. Menonton dalam bahasa Jawa itu ndelok, kendel alok, berani atau banyak komentar. Dan tidak jarang itu memperlemah. Miris sebenarnya kita, di dalam hidup bersama itu banyak komentar yang tidak sepenuhnya berdaya guna. Cenderung banyak negatifnya.
Contoh dalam hidup berbangsa. Berkaitan dengan warga negara yang ada di Wuhan, ketika negara lain sudah menjemput, banyak desakan untuk pemerintah bersikap dan juga menjemput. Ketika pesawat yang berangkat A, mengapa bukan B. Saat sudah datang dan ada penanganan khusus, beramai-ramai menolak. Lho apa sih maunya? Ini sikap batin asal bicara yang tidak berdaya guna sebenarnya. Riuh rendah yang minim manfaat, hanya pokok bicara.
Sangat indah dalam bacaan renungan, ada yang mengatakan, jika tidak mampu jadi pohon rindang yang meneduhkan, jadilah rumput yang memberikan kenyamanan kaki melangkah. Ketika tidak bisa menjadi penerang bagi kawasan luas, jadilah pelita bagi diri sendiri. Artinya, jika memang tidak memberikan kontribusi baik lebih baik berdiam diri dan menahan diri.
Sikap batin yang diperlihatkan oleh perempuan yang menderita sakit dan pemimpin rumah ibadat, mereka memilih yakin dan percaya, bukan karena hambatan apalagi kata orang. Halangan itu perlu diatasi, bukan semata dikomentari dan dikatakan. Inilah iman.
Perjumpaan dengan Yesus itu memang penting. Bagaimana Yesus memiliki kuasa yang demikian besar. Perjumpaan apalagi bersatu dengan Yesus adalah sumber hidup kita. Kita menjadi mampu dan bisa karena Yesus. Iman kita sebagai sarana dan jawaban yang selayaknya atas sapaan dan kehadiran Tuhan. BD.eLeSHa.

Senin, 03 Februari 2020

Bersama Tuhan atau Dunia?


Senin Biasa Pekan IV (H)
2 Sam. 15:13-14, 30
Mzm. 3:2-3,4-5,6-7
Mrk. 5:1-20




2 Sam. 15:13-14, 30

15:13 Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: "Hati orang Israel telah condong kepada Absalom."
15:14 Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: "Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!"
15:30 Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis.

Mrk. 5:1-20

5:1 Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.
5:2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.
5:3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,
5:4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.
5:5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.
5:6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,
5:7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!"
5:8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"
5:9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak."
5:10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.
5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,
5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"
5:13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.
5:14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.
5:15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.
5:16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.
5:17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.
5:18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.
5:19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
5:20 Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.



Bersama Tuhan atau Dunia?

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana hidup kita itu penuh dengan pilihan. Hendak memilih bersama Allah atau menjauhi Allah dengan memilih dunia dan kuasanya. Pilihan bebas yang Allah anugerahkan itu tidak pernah berkurang atau dicabut dalam keseluruhan hidup manusia.  Lihat saja bagaimana maraknya orang melakukan kejahatan demi kebanggaan atau karena ketamakan.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita belajar bagaimana kuasa jahat merasuki orang yang tidak mampu dikendalikan oleh tetangga dan juga keluarganya. Rantai pun diputuskannya, apalagi jika hanya tangan kosong. Si penderita yang dirasuki ini hidup di pekuburan. Simbol atas kematian orang di tengah kehidupannya. Ia bukan lagi manusia.
Usai bertemu Yesus, ia berlutut dan memohon agar jangan dibinasakan. Tuhan memberikan kesempatan. Tuhan sekaligus juga menghidupan orang yang kesurupan itu. kasih karunia Allah itu mengubahnya menjadi pribadi baru. Ia hendak mengikuti Yesus, namun diminta untuk menjadi pewarta Tuhan dengan jalan memberikan kesaksian.
Dan benar kesaksiannya yang telah dibebaskan benar-benar bermanfaat. Saksi atas mukjizat Tuhan. Ia sendiri adalah bukti dan saksi itu. ia telah ditangkap atas kasih Allah yang tak terbatas. Pilihan untuk ikut Tuhan dan menjadi saksi-Nya karena ia hidup kembali karena kesempatan yang Tuhan berikan.
Saudara terkasih, kadang kita malah mencari dan menemukan kekuatan yang bukan dari Tuhan. Kita mencari-cari kekuatan dari dunia ini. Pencarian kita malah kadang bertolak belakang dengan kehendak dan jalan Tuhan. Kita mendapatkan kekuatan dari dunia. pilihan untuk mengabdi pada dunia karena merasa berutang budi pada dunia dan segala isinya.
Ini semua karena kita tidak sampai pada Tuhan. Kita hanya mampu menangkap apa yang kita pahami sementara.  Bagaimana kasih Tuhan itu malah kita abaikan karena kita tidak mengenalnya. Atau pengenalan yang tidak tepat atas siapa sejatinya Tuhan.
Kita kadang melepaskan Tuhan demi jalan yang IA janjikan, jadi kita keliru memahami siapa dan apa kehendak Tuhan. Kita asyik dengan pemikiran kita. Kita terkelabui atas pengajaran tidak sempurna oleh karena fokus pada yang kelihatan dan tampak dalam tawaran dunia.BD.eLeSHa.


Kekudusan dan Keselamatan


PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH (P)
Mal. 3:1-4
Mzm. 24:7,8,910
Ibr. 2:14-18
Luk. 2:22-40



Mal. 3:1-4

3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.


Ibr. 2:14-18

2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;
2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.
2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.


Luk. 2:22-40

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya


Kekudusan dan Keselamatan

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Pesta Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah. persembahan anak laki-laki adalah bukti bahwa Yesus adalah anak Israel. Anak dari Yusuf dan Maria. Persembahan anak pada Kenisah atau Bait Allah adalah pengudusan anak sulung dan Yesus adalah Anak sulung dari keluarga-Nya.
Kitapun dikuduskan ketika kita menerima baptisan. Pembaptisan membawa konsekuensi luar biasa karena kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Anak Allah yang  mendapatkan kasih karunia luar biasa. Bagaimana tidak, anak manusia yang lemah, penuh dosa, dan tiada harapan menjadi anak Allah yang berpengharapan. Kasih karunia-Nya yang menguatkan, memberikan harapan akan masa depan. Masa depan yang menghidupkan, bukan membinasakan.
Status baru yang menggembirakan, penuh suka cita dan harapan, dan juga memberikan jaminan keselamatan abadi. Kasih Allah tidak bisa terbatas karena manusia yang lemah. Justru  kelemahan manusia itu diangkat dan dikuatkan oleh Allah. Allah Yang Berbela Rasa, Allah Yang Solider, dan Allah Yang  Melawat umat-Nya. Itu semua adalah mungkin, karena Allah adalah Mahabesar. Bagaimana bisa jika  Mahabesar namun terbatas. Mahacinta namun malah pembalas dan pendendam? Allah yang digambarkan dunia Perjanjian Lama itu sudah berarkhir, sudah berganti dengan Allah Yang Dekat, Allah adalah Bapa, sehingga kita bisa mendekati dengan sepenuhnya. Allah Yang Berbelas Kasih, tidak mungkin mengingkari diri-Nya sendiri dengan berperilaku kasar, penuntut balas, kejam, dan abai akan anak-anak-Nya.
Bayangkan saja jika bapak saja sering tidak tega akan memukul anak-Nya, apa iya Tuhan Sang Pencipta membinasakan anak-anak-Nya sendiri, yang IA ciptakan dan beri kehidupan. Pemahaman yang sangat tidak masuk akal, kecuali hanya untuk menjaga kewibawaan Allah dengan cara yang tidak semestinya.
Menghormati Allah bukan dengan menempatkan-Nya pada posisi sangat tinggi yang tidak terjangkau. Allah yang dekat, hangat, dan penuh kasih pun masih bisa tetap berwibawa dan mendapatkan tempat istimewa. Allah Yang Lemah Lembut dan penuh kasih pun tetap dalam penghormatan yang tinggi dari manusia.
Saudara terkasih, pengudusan kita adalah sarana Allah untuk menyelamatkan anak-anak manusia dari kubangan dosa dan dunia. Tanpa kasih Allah manusia tidak berdaya. Dan janji keselamatan itu sudah terpenuhi. BD.eLeSHa.


Sabtu, 01 Februari 2020

Percaya dan Takut


Sabtu Biasa Pekan III (H)
2 Sam. 12:1-7a,10-17
Mzm. 51:12-13,14-15,16-17
Mrk. 4:35-41



2 Sam. 12:1-7a,10-17

12:1 TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
12:2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
12:3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
12:4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."
12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
12:6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."
12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu!
12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.
12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."
12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."
12:15 Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.
12:16 Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.
12:17 Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.


Mrk. 4:35-41

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."
4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
4:39 Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"




Percaya dan Takut

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar dan merenungkan sikap percaya dan ketakutan. Bagaimana Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, di dalam Bacaan Injil jelas dinyatakan pengalaman para murid.
Jadi ingat, ketika memberikan pelatihan kepemimpinan untuk suatu sekolah, dalam permainan untuk pengembangan diri, ada namanya, trust fall, menjatuhkan diri ke belakang dengan diterima oleg rekan-rekan satu regu. Ada satu anak yang tidak mau, dan seluruh kelompok besar, itu mereka datang mendukung untuk tidak takut, mereka semua pasti kuat untuk menerima dia. Sama sekali tidak cukup meyakinkan bagi si anak yang takut karena tidak percaya itu.
Kepercayaan itu tidak akan mampu dipaksakan. Lihat siapa yang tidak mengenal reputasi Yesus, toh murid-Nya di samping-Nya lagi saja bisa jatuh pada posisi tidak percaya. Ketakutan dan cemas karena hilangnya sikap percaya. Dalam kisah di atas si anak susah menerima dengan akalnya teman-temannya akan menerima dia, padahal satu rekannyapun tidak ada yang yang jatuh.
Pengalaman yang identik, seorang teman bisa menjadi tidak bisa tidur semalam karena hujan deras. Banjir awal tahun membuat kepercayaannya hilang, bahwa jaminan tidak banjir tidak ada lagi. Jelas alasannya karena jaminan itu tidak ada. Kepercayaan akan pemeiliharaan dari pemerintah telah hilang.
Saudara terkasih, dalam konteks pemuridan menjadi penting mengenai sikap percaya. Bagaimana para murid bisa mewartakan khabar suka cita jika dirinya saja penuh ketakutan, kecemasan, dan kegaualan. Melihat badai sudah takut, padahal Yesus tidur nyenyak, bagaimana pertanggungjawaban sebagai janji Guru jika murid-Nya saja tenggelam, kan demikian sebenarnya. toh mereka takut dan malah sempat marah.
Salah satu dasar fakta iman adalah sikap percaya. Bagaimana kita percaya akan segala sesuatu yang terkadang kita sendiri tidak semuanya bisa kita pahami dan pikirkan dengan logika. Lihat saja, bagaimana kita tidak bisa melepaskan diri dari sikap percaya ketika berbicara Allah, Kisah Penciptaan, atau mukjizat. Semua itu percaya, tidak semua hal bisa dilogika atau semua adalah nalar. Dalam hal-hal tertentu kita bisa dan harus memang untuk beriman itu logis, namun ada sisi misteri dan itulah sikap percaya menjadi penting. BD.eLeSHa.