Rabu, 15 Januari 2020

Popularitas dan Keselamatan


Rabu Biasa Pekan I (H)
1 Sam. 3:1-10,19-20
Mzm. 40:2,5,7-8a,8b-9,10
Mrk. 1:29-39



1 Sam. 3:1-10,19-20

3:1 Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering.
3:2 Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya.
3:3 Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah.
3:4 Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya, bapa."
3:5 Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil; tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur.
3:6 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali."
3:7 Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya.
3:8 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil anak itu.
3:9 Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: "Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar." Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.
3:10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar."
3:19 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
3:20 Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.



Mrk. 1:29-39

1:29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.
1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.
1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.
1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.
1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.
1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;
1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau."
1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.



Popularitas dan Keselamatan

Saudara terkasih hari ini, kita belajar bersama Bunda Gereja mengenai keselamatan dan popularitas. Beberapa saat lalu, media dihebohkan dengan video orang mandi keramas sambil berkendaraan dan difilmkan. Jelas arahnya adalah viral, tenar, dan populer, yang artinya adalah uang. Media sosial berbagi film memang membuka peluang untuk itu.
Baru saja, ada pula klaim bahwa ada kerajaan, dengan raja dan ratu yang mengatakan memiliki kekuasaan seluas dunia. Pentagon adalah miliknya, bukan AS, untuk meyakinkan calon “rakyat” dan “pejabat” nya mereka mengatakan akan diberi penghargaan dan gaji sangat tinggi usai cair dana dari Bank Dunia. Dugaan penipuan menyeret raja dan ratunya ke pihak berwajib.
Sering kita dibuat tercengang dengan pemberitaan, atau menyaksikan sendiri, demi viral  orang bisa melakukan apa saja. Sensasi yang paling mudah dan meriah. Lihat artis-artis bertikai atau membuat berita itu disengaja, bukan tanpa maksud. Mereka berebut pasangan, mereka membocorkan rahasia sangat private, pun demi tenar. Sensasi bukan karena prestasi.
Saudara terkasih, hari ini kita banyak belajar dari apa yang Tuhan Yesus lakukan. IA menyembuhkan Ibu mertua Petrus yang sakit. Kesembuhan itu menjadi bahan perbincangan dan makin banyak orang datang untuk penyakit mereka. Mereka ingin sembuh. Yesus makin dikenal karena prestasinya, bahkan roh jahat pun mengenal dan mengetahui jati diri Yesus yang sejati.
IA melarang setan-setan berbicara. Yesus tahu bahwa dengan pernyataan setan bisa mengganggu misinya di dalam menghabarkan khabar suka cita. Keinginan manusiawi yang ingin memiliki untuk sendiri bisa membahayakan apa yang menjadi perutusan Yesus. Tentu mereka ingin menguasai, ingin memiliki Yesus hanya untuk mereka. Saatnya belum tiba di mana jati diri Yesus diungkapkan. Bekal pendengar belum cukup.
Yesus menyingkir untuk berdoa. Pelajaran penting, di mana Yesus menimba kekuatan dari Sumber Utama, Bapa-Nya, dan itulah kekuatan Yesus. Orang semakin  banyak datang untuk mendapatkan kesembuhan dan mengusir setan yang merasuki mereka. Mukjizat itu menjadi daya tarik, namun tidak cukup bagi Yesus.
Karya keselamatan yang menjadi misi Yesus dan itu dijalankan dengan tuntas, tidak tergoda dengan popularitas. Kita pun diajak untuk jangan terlena demi nama diri dan mengesampingkan tugas perutusan kita. Doaa menjadi kekuatan bagi kita, lha Yesus saja berdoa, mosok kita tidak?BD.eLeSHa.


Selasa, 14 Januari 2020

Mengajar Penuh Kuasa


Selasa Biasa Pekan I (H)
1 Sam. 1:9-20
Mzm. 1 Sam. 2:1,4-5,6-7
Mrk. 1:21-28



1 Sam. 1:9-20

1:9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN,
1:10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.
1:11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."
1:12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu;
1:13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.
1:14 Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu."
1:15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.
1:16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama."
1:17 Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya."
1:18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.
1:19 Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya.
1:20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN.


Mrk. 1:21-28

1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.
1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
1:23 Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak:
1:24 "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."
1:25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!"
1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."
1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.




Mengajar Penuh Kuasa

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereeka merenungkan, bagaimana Yesus sebagai guru dan pengajar itu berbeda dengan para pengajar yang lain. IA penuh kuasa. Kuasa yang berasal dari Allah, di mana IA menjalankan perutusan Allah sepenuhnya. Kuasa dan wibawa itu pertama-tama karena menjalankan perutusan Allah Bapa-Nya, memang Yesus sendiri memiliki kuasa dan wibawa, namun jauh lebih berdaya guna karena kuasa Allah yang IA nyatakan.
Kita, sebagai anak-anak Allah, juga memiliki kewajiban, tanggung jawab, dan tugas untuk mengajar bagi yang lain. tentu dengan kapasitas dan cakupan yang berbeda-beda. Tidak harus guru, imam, atau pengajar secara formal. Hidup kita adalah pengajaran bagi kita dan sesama. Hidup kita adalah wajah Allah dan itu untuk mempelajaran dan pengajaran bagi hidup bersama.
Tugas kita sebagai pengajar, haruslah memiliki kuasa, bagaimana baptisan memberikan kepada kita kuasa untuk juga mengajarkan apa yang kita miliki kepada orang lain. Baptisan menjadi kunci dan bekal kita mengajar. Itu tugas melekat dalam diri kita, sebagai anak-anak Tuhan.
Mengajar tentu perlu bekal sehingga tidak menjadi omong kosong, sebagaimana Yesus mengajar dengan berbeda dan memiliki wibawa. Kita pun diharapkan mampu demikian. Apa yang  bisa kita lakukan, adalah dengan mendekatkan diri dan menyatukan diri dengan Allah sebagai sumber segala sumber daya. Melalui renungan sabda, sakramen, dan hidup bersama dengan sesama dalam kasih persaudaraan. Hal-hal yang sederhana, hingga yang sulit harus kita kembangkan agar bisa menjadi pengajar kehidupan yang baik.
Tidak perlu muluk-muluk untuk berbicara mengajar ribuan orang, menjadi tenar atau viral, kemudian mendapatkan popularitas. Ingat, kita mewartakan Tuhan Allah, bukan diri kita. Ini yang harus menjadi pegangan dan yang utama. Jika fokusnya adalah Allah, kita akan menyadari segala anugerah ataupun hambatan akan bisa kita selesaikan.
Saudara terkasih, tugas perutusan kita itu mengandung salib, penolakan sangat mungkin terjadi, dan belajar dari  Yesus Sang Guru Agung, pasti kita mampu. Fokus pada mewartkan kasih dan Allah yang utama, semua akan terselesaikan.BD.eLeSHa.


Mengajar Penuh Kuasa


Selasa Biasa Pekan I (H)
1 Sam. 1:9-20
Mzm. 1 Sam. 2:1,4-5,6-7
Mrk. 1:21-28



1 Sam. 1:9-20

1:9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN,
1:10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.
1:11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."
1:12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu;
1:13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.
1:14 Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu."
1:15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.
1:16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama."
1:17 Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya."
1:18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.
1:19 Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya.
1:20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN.


Mrk. 1:21-28

1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.
1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
1:23 Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak:
1:24 "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."
1:25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!"
1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."
1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.




Mengajar Penuh Kuasa

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereeka merenungkan, bagaimana Yesus sebagai guru dan pengajar itu berbeda dengan para pengajar yang lain. IA penuh kuasa. Kuasa yang berasal dari Allah, di mana IA menjalankan perutusan Allah sepenuhnya. Kuasa dan wibawa itu pertama-tama karena menjalankan perutusan Allah Bapa-Nya, memang Yesus sendiri memiliki kuasa dan wibawa, namun jauh lebih berdaya guna karena kuasa Allah yang IA nyatakan.
Kita, sebagai anak-anak Allah, juga memiliki kewajiban, tanggung jawab, dan tugas untuk mengajar bagi yang lain. tentu dengan kapasitas dan cakupan yang berbeda-beda. Tidak harus guru, imam, atau pengajar secara formal. Hidup kita adalah pengajaran bagi kita dan sesama. Hidup kita adalah wajah Allah dan itu untuk mempelajaran dan pengajaran bagi hidup bersama.
Tugas kita sebagai pengajar, haruslah memiliki kuasa, bagaimana baptisan memberikan kepada kita kuasa untuk juga mengajarkan apa yang kita miliki kepada orang lain. Baptisan menjadi kunci dan bekal kita mengajar. Itu tugas melekat dalam diri kita, sebagai anak-anak Tuhan.
Mengajar tentu perlu bekal sehingga tidak menjadi omong kosong, sebagaimana Yesus mengajar dengan berbeda dan memiliki wibawa. Kita pun diharapkan mampu demikian. Apa yang  bisa kita lakukan, adalah dengan mendekatkan diri dan menyatukan diri dengan Allah sebagai sumber segala sumber daya. Melalui renungan sabda, sakramen, dan hidup bersama dengan sesama dalam kasih persaudaraan. Hal-hal yang sederhana, hingga yang sulit harus kita kembangkan agar bisa menjadi pengajar kehidupan yang baik.
Tidak perlu muluk-muluk untuk berbicara mengajar ribuan orang, menjadi tenar atau viral, kemudian mendapatkan popularitas. Ingat, kita mewartakan Tuhan Allah, bukan diri kita. Ini yang harus menjadi pegangan dan yang utama. Jika fokusnya adalah Allah, kita akan menyadari segala anugerah ataupun hambatan akan bisa kita selesaikan.
Saudara terkasih, tugas perutusan kita itu mengandung salib, penolakan sangat mungkin terjadi, dan belajar dari  Yesus Sang Guru Agung, pasti kita mampu. Fokus pada mewartkan kasih dan Allah yang utama, semua akan terselesaikan.BD.eLeSHa.


Senin, 13 Januari 2020

Ikutlah AKU!!!


Senin Biasa Pekan I (H)
1 Sam. 1:1-8
Mzm. 116:12-13,14-17,18-19
Mrk. 1:14-20




1 Sam. 1:1-8

1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
1:2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
1:3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1:4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.
1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1:8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"


Mrk. 1:14-20

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,
1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
1:17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
1:18 Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.
1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia



Ikutlah AKU!!!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan firman Tuhan bersama Bunda Gereja mengenai panggilan dan pemuridan. Ada yang menarik dan itu penting, bagaimana Yesus sebagai Guru dan memanggil murid-Nya, bukan murid yang datang melamar. Kekuasaan penuh ada Si Pemanggil, dan yang dipanggil langsung juga menunjukan wibawa yang sangat besar.
Sisi para murid awali ini, respons, tanggapan, dan reaksi mereka spontan meninggalkan seluruh apa yang mereka miliki. Mereka segera meninggalkan apa yang sedang dan mereka kerjakan. Nelayan meninggalkan perahu, jala, dan juga danau dan ikut Sang Guru yang memanggil.
Pemuridan juga tinggal dan menyatu dengan Sang Guru sendiri. Mereka sepenuhnya hidup dalam naungan dan bersama Si Guru 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Total menjadi murid itu, tidak setengah-setengah. Apa yang dipelajari para murid itu bukan hanya soal agama dengan teori dan apa yang mereka perlu tahu, namun juga dengan perihidup dan perilaku setiap hari dari gurunya.
Saudara terkasih, kita sebagai anak-anak Tuhan yang berjarak ribuan tahun, masih memiliki panggilan yang sama. Panggilan untuk ikut Tuhan Yesus di dalam kesatuan utuh dengan-Nya. Panggilan-Nya nyaris tak terdengar, karena kita asyik, sibuk, dan terus menerus tenggelam dalam alam hidup dunia yang selalu riuh rendah. Kesibukan dunia melenakan dan menjadikan panggilan-Nya yang halus mengundang itu terlewatkan.
Melewatkan panggilan dan sapaan Tuhan itu aneka macam sebab, ketakutan karena dunia, kecemasan akan materi, atau karena kesibukan dengan ini dan itu. Tuhan yang hadir, tersenyum, dan mengajak untuk datang dan menyatu itu tidak lagi terdengar dan terlihat. Berlalu begitu saja. Sayang bukan kehendak Tuhan terabaikan.
Bersatu dengan Tuhan untuk menjadi murid pun berarti meninggalkan seluruhnya demi Tuhan, kecemasan, prestasi, ketakutan, dan harapan pribadi harus ditanggalkan. Mengapa? Totalitas dan mengikuti visi dan perutusan Tuhan, bukan lagi apa yang kita rancang dan inginkan. Menjadi murid juga siap untuk diutus, apapun perutusan Tuhan harus kita jalani dan ikuti, apakah ini menelikung kebebasan kita? Tidak, justru kita bebas karena mau ikut kehendak Tuhan. Kasih karunia-Nya yang membuat kita mampu. BD.eLeSHa.


Minggu, 12 Januari 2020

Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku Berkenan.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (P)
Yes. 42:1-4,6-7
Mzm. 29:1-2,3ac-4,9b-10
Kis. 10:34-38
Mat. 3:13-17




Yes. 42:1-4,6-7

42:1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.


Kis. 10:34-38

10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah
tidak membedakan orang.
10:35 Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran
berkenan kepada-Nya.
10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
10:37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,
10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia



Mat. 3:13-17

3:13 Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
3:14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya.
3:16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
3:17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”.



Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku Berkenan.

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan peristiwa pembaptisan Tuhan. Ini sejarah faktual yang terjadi. Pembaptisan Yohanes Pembaptis adalah ciri pertobatan. Mempertobatkan orang yang berdosa untuk menjadi pribadi beriman. Mengapa Yesus dibaptis, padahal Yesus sebagai Putera Allah tidak berdosa? Layak kita merenungkan lebih dalam beberapa hal sebagai berikut;
Pernyataan dan pertanyaan Yohanes kepada Yesus, bagaimana seharusnya Yesus yang membaptis Yohanes bukan sebaliknya, Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Ada kerendahan hati, dan juga menjaga tradisi. Mereka adalah lakon sejarah yang sudah dinubuatkan sejak ribuan tahun oleh  nabi-nabi. Sejarah terpenuhi dengan rendah hati dan keterbukaan rencana Allah oleh para pelakunya.
Jauh lebih penting dari penggenapan sejarah dan nubuat para nabi adalah betapa Yesus dan Yohanes melakukan kehendak Allah sebagai bagian utama hidup keduanya. Mereka tidak berjalan dan melakukan apapun karena keinginan sendiri. Semua dalam rangka kehendak Allah. Perutusan mereka adalah karena kehendak Allah semata.
Pembaptisan Tuhan, ketika IA dibaptis setelah semua orang, memberikan penjelasan, bagaimana IA solider atas keberadaan manusia yang jatuh ke dalam kuasa dosa. Artinya, bukan Yesus yang berdosa, namun manusia yang berdosa. Untuk mengetahui hal yang terbaik adalah masuk dalam pengalaman manusiawi. Menerima diri dibaptis, adalah upaya Tuhan untuk menyelami hidup manusia seutuhnya.
Suara dari langit dan merpati. Gambaran  pemakluman siapa Yesus. Jati diri Yesus sebagai Anak Allah dinyatakan secara publik di depan Yohanes Pembaptis dan para murid. Selama ini Yohanes yang menyuarakan itu dan kini peneguhan oleh Allah sendiri.
Merpati, sebagai simbol kehadiran Allah itu lembut, halus, menggeser Allah yang keras, api sebagaimana Musa, atau angin dan sejenisnya yang digambarkan keras dan kuat. Hal baru telah datang dan itu dinyatakan secara luas.
Saudara terkasih, dalam hidup kita, sering kita terjebak oleh paradigma, terjebak oleh label, gambaran, simpulan, dan tafsiran sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, serta rekaman-rekaman masa lalu kita. Di dalam Tuhan itu semua diperbarui. Apa yang kita lakukan, respons, tanggapan, dan aksi-reaksi kita adalah kasih dan karena kehendak Allah. Di sanalah peran bimbingan Roh Kudus menjadi penting. Pribadi baru di dalam Tuhan yang mampu hidup dengan kasih yang lembut, rendah hati, dan berbela rasa.
Bela rasa itu perwujudan dari pembaptisan dan iman yang ada dalam diri kita masing-masing. Hidup sehari-hari yang berdasar pada iman dan pembatisan, merayakan Sakramen, menghidupi itu dalam hidup dengan suka cita dan damai sejahtera bersama saudara di tengah dunia.BD.eLeSHa.

Sabtu, 11 Januari 2020

Biarlah IA Makin Besar dan Aku Makin Kecil


Sabtu Sesudah Penampakan Tuhan (P)

1 Yoh. 5:14-21
Mzm. 149:1-2,3-4,5,61,9b
Yoh. 3:22-30




1 Yoh. 5:14-21

5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.
5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.
5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.
5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.
5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.


Yoh. 3:22-30

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.
3:23 Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,
3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.
3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.
3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."
3:27 Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.
3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil



Biarlah IA Makin Besar dan Aku Makin Kecil

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar mengenai sikap rendah hati, dan mempersiapkan jalan bagi pihak lain dengan suka cita. Yohanes Pembaptis contoh pribadi yang luar biasa. Bagaimana ia dengan segala kerendahan hati mampu melihat siapa sebenarnya ia dan yang ia persiapkan jalan-Nya itu.
Biarlah IA makin besar, jelas memperlihatkan kualitas Yohanes Pembaptis yang mengetahui kapasitasnya. Kita bisa membayangkan bagaimana model manusia era modern ini. mengaitkan banyak hal demi keuntungan sendiri. KKN itu penyakit yang menggunakan relasi yang terkadang abai kemampuan. Yohanes ini memiliki kemampuan, kapasitas, dan juga kesempatan. Namun ia melepaskan itu semua.
Aku makin kecil. Menarik diri untuk memberikan kesempatan. Sering kita malah ajang merebut kesempatan demi eksistensi kita sendiri. Yohanes Pembaptis memberikan contoh kepada kita, bagaimana ia tahu diri dengan baik siapa dirinya. Ia bukan rendah diri atau minder, namun memberikan gambaran kualitas diri unggul.
Sikap yang diperlihatkan Yohanes Pembaptis ini untuk meredam egoisme para murid. Wajar ketika seorang murid mengagung-agungkan guru dan perguruannya, dan kemudian merasa jengah dengan perilaku murid dari perguruan lain. merasa tersaingi dan terlangkahi dengan apa yang dilakukan murid-murid Yesus. Persaingan yang sangat manusiawi, namun Yohanes bisa menjadikan itu bahan pembelajaran yang luar biasa.
Memberikan kesempatan, bukan malah mengambilalih yang bukan haknya merupakan pembelajaran luar biasa dari Yohanes Pembaptis. Ia tidak terlena dengan apa yang ia miliki, karena memang itu bukan kapasitasnya. Yohanes paham siapa dan apa yang harus ia lakukan.
Saudara terkasih, kita sering terjebak dalam kesenangan diri dan kelompok. Merasa diri lebih hebat, lebih berkualitas, lebih benar. Sikap demikian tentu akan membawa konsekuensi bahwa pihak lain lebih buruk, kemungkinan salah lebih besar, dan merendahkan. Hal yang memang duniawi banget, dan itu  sangat mungkin terjadi pula dalam hidup spiritualitas.
Bagaimana dalam hidup kita, kadang lepas kendali karena merasa lebih dan itu bencana. Kita diciptakan dengan perutusan masing-masing dan itu istimewa.BD.eleSHa.


Jumat, 10 Januari 2020

Harapan, Doa, dan, Permohonan dengan Rendah Hati


Jumat Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 5:5-13
Mzm. 147:12,13,14-15,19-20
Luk. 5:12-16



1 Yoh. 5:5-13

5:5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.
5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.
5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal


Luk. 5:12-16

5:12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
5:13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
5:14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."
5:15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.
5:16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa



Harapan, Doa, dan, Permohonan dengan Rendah Hati

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan yang mengajarkan bagaimana kita di dalam berdoa. Ada beberapa hal yang cukup menarik dan mendalam untuk kita renungkan. Doa sebagai sebuah permohonan, meskipun banyak aspek doa yang lain yang tidak boleh kita abaikan. Namun dalam bacaan Injil kali ini, kita mempelajari dari kisah orang kusta.
Permohonan si kusta itu langsung, jika kita hari ini tentu saja dalam bentu doa. Jika kita berdoa, kita dapat belajar dari si kusta, ia tersungkur dan merendahkan diri serta memohon dengan rendah hati pula, jika ENGKAU mau, ia tidak memaksa, ia tahu diri, dan ia paham bahwa ia meminta kepada SI Empunya, bukan sembarangan.
Kerendahan hati, bukan malah memalak atau memaksa baik dengan kasar ataupun halus. Jangan dikira kita di dalam berelasi dengan Tuhan merasa baik dan benar. Sering tanpa sadar ada pula yang sadar, bukan memohon, namun memaksa Tuhan. Paksaan dengan halus atau kasar. Kita bisa belajar dari lingkungan kita, apalagi dalam berpolitik Tuhan demikian murahnya diecer dengan segala permohonan dan pemaksaan kehendak atas dasar pemikiran sendiri.
Pemaksaan halus adalah pamrih, Tuhan aku sudah berbuat ini, Engkau sewajarnya membantuku, bukan kehendak dan kuasa Tuhan Allah yang menjadi pertimbangan, namun keakuanku dan bahwa aku sudah memiliki jasa. Padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan Allah Sang Pemberi.
Saudara terkasih, kita di dalam berelasi dengan Tuhan dan sesama tidak perlu mengeluarkan jurus memalak dan memaksa kog. Tuhan sudah mencatat dan mengingat semuanya dengan baik. Bahkan ketika kita lupa Tuhan jauh lebih ingat dan akan membalaskannya. Kita berbeda dengan Tuhan yang tidak terbatas itu, namun sering kita menggunakan paradigma, pola pikir, dan kehendak kita di dalam menilai dan cara pandang terhadap Tuhan.
Jika ENGKAU mau, memberikan pembelajaran bahwa kita tahu diri, tahu batas, dan rendah hati di dalam berdoa, berharap, dan mengandalkan Tuhan. Kasih karunia-Nya luar biasa, patut kita sambut dengan sepantasnya pula. BD.eLeSHa.

Kamis, 09 Januari 2020

Perutusan dan Visi-Misi


Kamis Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:19-5:4
Mzm. 72:1-2,14
Luk. 4:14-22




1 Yoh. 4:19-5:4

4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya
5:1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya.
5:2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.
5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.


Luk. 4:14-22

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?



Perutusan  dan Visi-Misi

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana Yesus itu menjalankan perutusan-Nya di dunia. Dalam dunia modern dikenal dengan istilah visi dan misi. Di mana semua hal awalnya adalah pembahasan visi dan misi. Bagaimana visi dan misi yang menarik, realistis, dan mampu meyakinkan banyak orang itu sangat menjual.
Apa yang menjadi visi Yesus adalah membawa kembali anaak-anak Allah yang sempat tersesat karena kedosaan dan pilihan salah di dalam dunia. Kasih karunia Allah adalah  memulihkan apa-apa yang sejatinya baik. Rusak, terputus, dan terpisah itu tidak dikehendaki Allah.
Misi yang dijalankan adalah menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, membuat orang lumpuh berjalan, dan mengusir setan-setan. Apa yang dilakukan Yesus ini hal yang sangat baru. Nabi-nabi sebelum Yesus tidak ada yang bisa melakukannya. Mengapa demikian? Karena ini adalah  kuasa yang hanya Mesias yang mampu melakukan. Kekuasaan penuh dari Allah Yang Mahakuasa. Tiada duanya, dan kita patut bersyukur dipilih untuk menjadi anak-anaknya.
Saudara terkasih, kita pun memiliki perutusan masing-masing. Kita memiliki tugas dalam hidup kita sehari-hari. Setiap pribadi mempunyai tugas yang berbeda, itu agar bisa saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain. Tuhan menciptakan kita dengan keunikan dan keistimewaan masing-masing. Oleh karena itu ada perbedaan dan tidak ada satupun yang sama persis.
Perbedaan itu bukan untuk saling meniadakan, namun justru saling melengkapi untuk menjadi sempurna adanya. Perutusan kita ikut dalam perutusan Tuhan. Kesatuan di dalam perutusan Yesus yang menjalankan perutusan dari Bapa-Nya. Tugas perutusan kita tidak berbeda dengan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Namun jangan kemudian menjadi tinggi hati dan malah mengklaim sama dengan Tuhan. Jelas tidak demikian. Berbeda dan jelas sangat lain.
Memberikan penghiburan, jika Yesus dengan membangkitkan orang mati, sehingga keluarganya bisa berbahagia dan terhibur, kita pun  bisa melakukan dengan kapasitas yang berbeda. Membangkitkan semangat saudara dan rekan kita yang terpuruk itu juga penghiburan.
Membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Melawan kebodohan dan memberikan literasi atas pembusukan persepsi adalah perutusan di dalam era modern ini. Itu sama juga apa yang Tuhan Yesus lakukan ribuan tahun yang lalu. Berbeda masa dan bentunya, dasarnya adalah sama. BD.eLeSHa.