Kamis, 09 Januari 2020

Tuhan dan Hantu, Beda Tipis Makna Bertolak Belakang



Rabu Setelah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:11-18
Mzm. 72:1-2,10,12-13
Mar. 6:45-52




1 Yoh. 4:11-18

4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
4:12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih


Mar. 6:45-52

6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
6:47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil



Tuhan dan Hantu, Beda Tipis Makna Bertolak Belakang

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai kekhawatiran yang membutakan. Kisah mencekam dalam perahu yang terombang-ambingkan angin memang sangat mencekam. Dalam perjalanan naik kapal pertama kali, saya bersama teman yang sudah sangat sering bepergian dengan kapal, karena memang luar pulau dan banyak kepulauan dalam kehidupannya. Dia bertanya apa yang terjadi jika kecelakaan tengah laut, saya jawab sudah selesai dan tidak ada harapan.
Ia tertawa dan mengatakan, jangan pesimis, tidak bisa renangpun masih ada pelampung, yang dipersyaratkan sama banyak atau sejumlah pemumpang. Ayo kita cek keliling kapal, ada di mana pelampung disimpan. Dan tidak ada sama sekali menemukan pelampung tersedia. Ini sudut pandang, realitis dan idealis.
Para murid ternyata memiliki paradigma yang lagi-lagi ini masih masa orientasi nampaknya. Melihat Tuhan mereka sangka hantu. Hanya berbeda penempatan hurufnya, maknanya sangat jauh berbeda. Tuhan dan hantu berbeda susunan hurufnya, namun arti dan esensinya jauh berbeda, panik bisa memisahkan rasionalitas, iman, dan kepercayaan menjadi turun drastis. Mereka yang telah bersama dengan Tuhan itu ternyata masih salah sangka, pengenalan yang belum sepenuhnya berhasil.
Sudut pandang ini berasal dari banyak aspek, sangat mungkin adalah masa lalu, kecemasan, ketakutan, atau keyakinan. Dan ternyata para murid ini karena ketakutan mereka bisa salah mengenali Tuhan. Pengenalan akan pribadi Tuhan itu menjadi penting, bagaimana kita bisa meyakini Juru Selamat jika kita tidak kenal dan apalagi akrab kepada-Nya.
Saudara terkasih, jika kita mengenal Tuhan dengan baik, kita akan melibatkan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Kita datang dalam seluruh dinamikan kehidupan kita. Dalam kesulitan, kita memohon kekuatan untuk menemukan jalan keluar. Saat mendapatkan berkat kita ingat Tuhan dan sesama bahwa itu adalah berkat dan karunia Allah dan patut dirayakan bersama dengan sesama.
Melibatkan Tuhan bukan berarti bahwa kita tidak bebas. Justru kebebasan kita mendapatkan intinya, jika kita bisa melepaskan keangguhan diri dan mengikatkan dan melibatkan Tuhan dalam hidup kita. Atau malah kita salah sangka dan salah mengenali gerak aktif Tuhan dalam hidup kita, karena mengandalkan diri sendiri? BD.eleSHa.


Solider itu Kemauan Berbagi


Selasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:7-10
Mzm. 72:1-2,3-4,7-8
Mar. 4:24-44



1 Yoh. 4:7-10

4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita


Mar. 4:24-44

6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki


Solider itu Kemauan Berbagi

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan betapa baiknya Tuhan dengan solidaritas, kepedulian, dan kemauan untuk membantu. Pada sisi lain, para murid, yang masih dalam masa awal bersama Tuhan, belum paham bagaimana jalan kasih ala Yesus itu. Perbedaan persepsi yang diubah karena perjumpaan dan kebersama dengan Yesus.
Solidaritas itu kemauan untuk berbagi. Dan ini yang terjadi pada para murid. Mereka berdalih dengan keterbatasan dan kekurangan. Ketiadaan keberanian untuk bisa melibatkan Tuhan dalam hidup mereka. Hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Kita sering merasa tidak ada jalan lagi, tidak ada lagi kesempatan untuk bisa berbuat lebih banyak lagi.
Murid bersikap mengambil posisi aman, tidak mengalami kesulitan, dan itu jalan biasa bagi banyak orang. Pemikiran praktis, rasional, dan mudah biasa menjadi yang paling cepat hadir dalam hidup kita.
Saudara terkasih, sikap baru, berbeda, dan sangat peduli diperlihatkan Yesus. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. IA akhirnya membuat mukjizat pergandaan roti. Persediaan yang amat terbatas itu menjadi kelimpahan dan bersisa sangat banyak. Jumlah yang ada tetap ribuan, bekal yang ada sama hanya segelintir. Sikap batin dan iman yang membedakan dan sangat berbeda.
Berbicara keadilan, berbicara kasih, mengatakan iman dan buah keyakinan tanpa berbagi adalah omong kosong. Zaman memang mengumpulkan dan keakuan, dan toh para murid pun sudah memiliki sikap itu. Susah untuk bisa bersikap peduli dan kemudian berbagi dengan sesamanya. Keakuan menjadi sebentuk kebanggaan, bahkan kadang soliter, nyaman di dalam kesendirian, dan merasa tidak perlu orang lain. Apalagi harus berbagi dengan  pihak lain.
Hal yang mendekati sikap demikian adalah, ketika mengedepankan pemisahan, perpedaan yang makin diperlebar, dan merasa bahwa yang berbeda itu musuh. Ini juga sikap orang yang masih lemah di dalam melihat kasih karunia Tuhan itu demikian luar biasa. Solidaritas, kepeduliaan, dan sikap mau berbagi itu adalah kasih karunia Allah yang perlu kita jaga.
Sikap batin itu menentukan bagaimana perilaku kita. Mau ringan tangan untuk membantu atau sangat berat untuk bisa dengan rela mengulurkan tangan meringankan beban hidup bersama. Bagaimana hati kita, selembut Tuhan yang dengan spontan berbelas kasih, atau sama dengan para murid yang enggan menanggung risiko? Libatkan Tuhan di sana. BD. eLeSHa.


Senin, 06 Januari 2020

Pertobatan Sarana Memperbaiki Diri Terus-menerus


Senin Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 3:22-4:6
Mzm. 2:7bc-8,10-12a
Mat. 4:12-17,22-25



1 Yoh. 3:22-4:6

3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita
4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
4:2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,
4:3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.
4:4 Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
4:5 Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.
4:6 Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.


Mat. 4:12-17,22-25

4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain,
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
4:17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
4:22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
4:23 Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
4:24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.
4:25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.



Pertobatan Sarana Memperbaiki Diri Terus-menerus

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja belajar dan merenungkan firman-Nya yang berbicara mengenai pertobatan dan buruk keadaan manusia. Kesembuhan dan relasi yang terputus itu dikembalikan karena kehadiran Yesus Sang Imanuel dan Mesias. Dua garis besar renungan ada pada seruan pertobatan dan keberadaan manusia yang buruk. Kesatuan tema ini memang pas dan bagus sebagai sarana pemulihan kemanusiaan yang sempat terputus.
Dibawalah orang yang buruk keadaannya. Ini menjadi sebuah kalimat kunci bahwa kuasa Yesus luar biasa. Ingat konteks Mesiasinik adalah menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang mati. Kondisi yang buruk dalam paradigma masa itu adalah buah dari dosa. Dan yang mampu membebaskan dosa adalah Allah sendiri. Orang lumpuh, ayan, kerasukan, dan keadaan buruk lainnya, dan mereka sembuh.
Hal yang terjadi ini sebenarnya diawali dengan pernyataan Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat. Panggilan dan seruan untuk memperbaiki diri. Ingat yang menyerukan dan memanggil adalah Tuhan. Kita menjawab dengan datang dalam keadaan yang buruk. Reaksi dan tanggapan positif dari yang merasa terpanggil.
Saudara terkasih, dalam hidup kita hingga detik ini pun, Tuhan Allah masih selalu memanggil kita untuk datang, untuk memperbaiki hidup, untuk bertobat. Mengapa? Karena keadaan kita itu buruk. Keadaan kita itu tidak baik-baik saja. Mungkin dalam era modern ini, kesehatan fisik seperti ayan, lumpuh, kusta, dan penyakit lainnya ada dokter dan tenaga medis lain. Namun tetap kesembuhan itu dari Tuhan. Yang menjadikan baik tetap adalah Tuhan.
Pertobatan, perbaikan dan penyembuhan secara spiritual, mengembalikan relasi yang jelek dan buruk karena kedosaan kita. Ini sapaan dan panggilan dari Allah secara personal. Allah kita Mahabaik, Mahakasih, yang membawa kembali anak-anak-Nya yang hilang.
Kita layak bersyukur dan berbahagia, bahwa Allah kita demikian baik. Memanggil kembali dari jalan kita yang salah dan sesat, dan diajak untuk bersatu dengan-Nya kembali. Allah kita membuat kembali baik keadaan yang buruk, bukan malah menghukum dan merusak dengan keji. Allah Mahakasih memiliki kehendak selalu baik bagi kita apapun keadaan kita.

Minggu, 05 Januari 2020

Jadilah Bintang Terang


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (P)
Yes. 60:1-6
Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13
Ef. 3:2-3,5-6
Mat. 2:1-12




Yes. 60:1-6

60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong.
60:5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.
60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.


Ef. 3:2-3,5-6

3:2 -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,
3:3 yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat.
3:5 yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,
3:6 yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus


Mat. 2:1-12

2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”
2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.”
2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.


Jadilah Bintang Terang

Saudara terkasih, hari ini, dalam Hari Raya Penampakan Tuhan kita bersama Bunda Gereja merenungkan banyak hal. Kita melihat adanya ketaatan para majus untuk datang. Suaatu penghormatan luar biasa atas kelahiran Yesus. Kedua mengenai penuntun yaitu bintang timur. Ketiga keberadaan Herodes yang sangat khas pemuka dan penguasa, dan keempat mengenai rencana Allah yang akan mendapatkan jalan.
Mengenai ketaatan orang majus. Kita belajar bagaimana mereka mendengarka nurani dan pembelajaran intelektual mereka diperlengkapi dengan hati nurani yang jernih. Mereka membca kitab para  nabi dan menerjemahkannya dengan hati yang jernih dan bersama Tuhan. Mereka taat dan berjalan bersama Sang Terang.
Kedua, keberadaan bintang timur, di mana itu adalah petunjuk, pemberi arah, dan terang yang menuntun para majus sampai kepada Yesus. Keberadaan kompas, petunjuk arah, GPS, atau penolong itu sangat penting. Bagaimana peran kita dalam hidup bersama itu, apakah menjadi batu sandungan, atau penunjuk arah yang semestinya untuk sesama kita.
Dalam hidup bersama, sangat mungkin kita itu menjadi penolong, namun bisa juga malah menjadi penyesat. Nah inilah peran Kitab Suci, peran melaksanakan dan merayakan sakramen, dan hidup bersama dengan Tuhan dan sesama kita.
Ketiga, keberadaan Herodes sebagai penguasa. Kehilangan dan bahkan baru takut akan bayangan kehilangan kursi dan kekuasaan sudah membuat keadaan kalut tidak terkendali. Langkah atas itu sudah kita renungkan pekan lalu. Hal yang hingga hari ini masih saja berulang dan terjadi. tragedi yang ada memang tidak selalu sama. Namun dasarnya identik.
Keempat, rancangan manusia yang terlepas dari kesatuan dengan Allah tidak akan tercapai. Lihat bagaimana rencana Herodes meskipun dikemas dengan sangat indah, religius, dan baguspun gagal. Jalan Tuhan yang tetap terjadi. ini seharusnya menjadi pedoman dan pegangan kita dalam hidup sehari-hari.
Saudara terkasih, empat hal tersebut, berkaitan dengan perayaan kita, dua hal khusus jauh lebih penting kita priorotaskan, mengenai bintang terang sebagai pedoman dalam hidup kita, pun sekalian kita bisa menjadi penolong bagi sesama kita sesuai dengan kapasitas dan talenta kita masing-masing. Semua diciptakan unik dan spesial dari sanalah kita berperan dalam dunia kita.
Rancangan dan kehendak Tuhan, apalagi karya keselamatan tidak akan bisa dihentikan. Apapun rancangan, upaya, dan kehendak kita, susah untuk mampu dijalankan kala melepaskan diri bahkan melawan kehendak Allah. BD.eLeSHa.

Sabtu, 04 Januari 2020

Marilah dan Kamu akan Melihatnya


Sabtu Biasa Masa Natal (P)
1 Yoh. 3:7-10
Mzm. 98:1,7-8,9
Yoh. 1:35-42




1 Yoh. 3:7-10

3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.
3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
3:10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya


Yoh. 1:35-42

1:35 Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya.
1:36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"
1:37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.
1:38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"
1:39 Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.
1:40 Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.
1:41 Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."
1:42 Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).



Marilah dan Kamu akan Melihatnya

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai panggilan Tuhan kepada para murid untuk pertama kalinya. Panggilan personal yang memberikan sentuhan batin mendalam, sapaan halus mengundang sanubari dan itu sangat mungkin terbaikan.
Mari datang dan lihatlah, ajakan, undangan, dan panggilan para murid yang sangat personal. Ciri pemuridan ala era Yesus adalah hidup bersama. Bagaimana mereka bergaul dengan erat, dalam hidup sehari-hari, sehingga mereka bukan semata menimba ilmu atau transfer pengetahuan semata, namun juga menggali inspirasi hidup dari kehidupan harian gurunya. Pengajaran peri hidup yang mutlak perlu, bukan semata pengetahuan kognisi dan hanya sebatas ritual. Seluruh aspek hidup guru.
Relasi guru dan murid yang terjalin dengan erat, mendalam, dan juga personal tentunya. Seluruh aspek kehidupan guru bisa dilihat, dicerna, dan dijadikan rujukan para muridnya. Perihidup, tidak semata hapalan dan ritual yang itu-itu saja.
Perjumpaan dengan Yesus berdampak luar biasa. Bagaimana IA yang bukan siapa-siapa, namun karena rekomendasi Yohanes Pembaptis untuk muridnya, yang kemudian mengikuti Yesus, itulah cikal bakal pemuridan Yesus. Mulailah karya keselamatan Yesus mendapatkan bentuk dan kiprah nyatanya. Perjumpaan yang mengubah murid Yohanes menjadi murid Yesus dan melebarkan pada saudara dari murid pertama untuk ikut menjalin lingkaran utama awali.
Datang dan lihatlah, alamilah sendiri, dan tahulah dengan mendalam siapa gurumu, apa yang ia lakukan, dan apa yang ia miliki, apa yang ia ketahuai, dan bagaimana hidupnya sehari-hari. Ini adalah panggilan kita juga, untuk datang, hidup bersama, dan mengenal semakin dalam dari hari ke hari siapa Yesus itu. Bagaimana kita semakin akrab dan mengenal Yesus? Ya merayakan Sakramen, mengenal Kitab Suci dan firman-Nya dengan rutin, dan hidup semakin berkualitas.
Tuhan yang menghendaki kita datang kepada-Nya, artinya Tuhan pula yang akan menyediakan semuanya bagi kita. Adanya kesulitan, halangan, dan penghalang adalah upaya agar kita tidak bisa lebih dekat pada Tuhan. Kita dicobai terus menerus untuk tidak akrab dengan Tuhan. Iri hati, dengki, malas, kebodohan, dan  tamak bisa menjadi sarana si jahat untuk makin jauh dari pada-Nya. BD.eLeSHa.

Jumat, 03 Januari 2020

Rendah Hati Memberikan Buah Berlimpah


Jumat Biasa Masa Natal (P)
1 Yoh. 2:29-3:6
Mzm. 98:1,3cd-4,5-6
Yoh. 1:29-34




1 Yoh. 2:29-3:6

2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.
3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.


Yoh. 1:29-34

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
1:31 Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."
1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
1:33 Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."



Rendah Hati Memberikan Buah Berlimpah

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja masih belajar rendah hati dari pribadi Yohanes Pembaptis. Jika kemarin, kita belajar bagaimana ia tulus, iklas, dan jujur mengenai siapa dirinya, hari ini kita bersama-sama merenungkan bagaimana kerendahan hati itu akan berdampak, tidak mesti terlihat.
Kontekstualisasi sangat konkret dalam hidup bersama kita, baik bernegara ataupun menggereja. Keinginan tampil, maunya menonjol, dan menjadi  pusat perhatian masih sering menjadi gejala yang sangat umum. Hal yang sangat wajar ketika itu berbicara mengenai tenar, populer, dan menjadi pusat perhatian. Era di mana hidup dinilai oleh kecepatan, ketenaran, dan populisme yang memang ciri dunia.
Tawaran dunia seperti itu sangat mungkin terjadi dan menjadi pula di dalam hidup Menggereja. Bagaimana regu koor yang mendominasi Misa, sehingga umat dan imam malah menunggu mereka “konser”, padahal sejatinya mereka mengiringi, bukan menguasai. Pun dalam hal atau bidang lain sangat bisa.
Yohanes Pembaptis memberikan kepada kita gambaran, keteladanan, dan contoh yang baik, bagaimana kita pun bisa berperan tanpa harus tampil. Di belakang layar istilah modern. Bagaimana bekerja, memberikan dampak, dan bisa berbuah juga bisa dari tempat yang tersembunyi.
Kita mungkin sering mendengar menilai pohon dari buahnya. Namun apakah pernah terpikirkan bagaimana  buah itu dihasilkan? Bagaimana tanah yang subur, penuh dengan unsur hara yang diperlukan bagi akar, batang, dan daun, untuk bisa menghasilkan bunga, serta kemudian menjadi buah. Kecenderungan instan, hanya menilai buah, namun melupakan, atau kadang juga tidak tahu ada proses, ada peran demikian banyak yang terlibat di dalamnya. Dan tanah memegang peran penting.
Saudara terkasih, kita kadang gamang untuk bisa rendah hati, ada di balik layar, dan tidak memiliki peran yang tersorot. Padahal belum tentu itu tidak memberikan buah berlimpah. Buahnya akan bisa memperlihatkan bagaimana sikap batin kita. Buah tidak akan jauh dari kualitas tanahnya. Pun hidup kita, jika buahnya buruk, berarti hati kita pun demikian.
Rendah hati itu kadang memang berat untuk dilakukan, namun jangan khawatir, karena yang tidak nampakpun sangat mungkin memberikan buah yang berkualitas. Dampak yang baik karena sikap rendah hati. BD.eLeSHa.


Kamis, 02 Januari 2020

Tahu dan Menerima Kapasitas Diri dengan Syukur


Pw. S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze, UskPujG (P)
1 Yoh. 2:22-28
Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4
Yoh. 1:19-28



1 Yoh. 2:22-28

2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
2:23 Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.
2:24 Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.
2:25 Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.
2:26 Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.
2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
2:28 Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya


Yoh. 1:19-28

1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis



Tahu dan Menerima Kapasitas Diri dengan Syukur

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana Yohanes Pembaptis itu bersikap dalam perutusannya. Ia yang dipilih Allah untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan yang akan datang, melakukan itu dengan sepenuh hati, dengan segala rendah hati ia menjalankan perutusannya tersebut. Ia ditanya oleh para pendengarnya, apakah ia yang dinanti-nantikan dan dinubuatkan para nabi?
Ia dengan tulus dan jujur menyatakan, bukan. Sangat mungkin, jika bukan karena pribadi pilihan ia akan mengaku-aku sebagai Mesias itu. kita bisa melihat dalam era modern ini, bagaimana banyak orang mengaku-aku sebagai ini dan itu. Menambahkan ini dan itu agar bisa menjadi sesuatu. Ini semata klaim, kalau Yohanes itu orang yang tidak jujur dan rendah hati, mengiyakan pertanyaan, jauh lebih kuat dari sekadar klaim.
Beberapa tahun lalu, banyak orang tergila-gila dengan darah biru, ningrat, keturunan keraton. Tidak jarang gelar raden atau sejenisnya diperjualbelikan. Hanya demi gengsi dan merasa berbeda dengan kebanyakan orang.
Tahun berganti dan era feodalisme luntur, kemudian orang beralih dengan embel-embel gelar berderet. Jangan kaget jual beli ijazah dan memakai gelar panjang seolah adalah prestasi. Padahal kalau ditanya sama sekali tidak paham apa gelar atau isi dari kuliahnya. Seolah gelar mewakili kwalitas yang telah dicapai. Gelar diperjualbelikan dengan rupiah, bukan proses dan kerja keras dalam menguasai ilmu pengetahuan.
Kini, gelar dalam sebuah trah keagamaan seolah menjadi jaminan kebenaran dalam hampir seluruh bidang kehidupan. Miris demikian banyak orang percaya hanya karena muka atau paras agak asing, pakaian khas daerah luar sana, sudah menjadi jaminan kebenaran. Tidak hanya soal agama, bahkan politik, kesehatan, dan sosial pun mereka bisa menggerakan aah kebenaran ke mana.
Era media komunikasi, viral menjadi panglima. Orang bisa menggunakan segala cara demi viral. Bagaimana orang mandi sambil mengendarai motor dan keliling kota, atas nama demi viral. Kita bisa membandingkan dengan apa yang Yohanes Pembaptis lakukan. Ia sangat mungkin dapat menjadi viral, tenar, dan menjadi pusat perhatian, dengan mengatakan IYA, saya adalah MESIAS. Tetapi ia tidak mengaku yang bukan halnya. Ia tahu diri.
Kualitfikasi keutamaan kepribadian itu tahu diri, bagaimana orang menerima kapasitas dirinya dengan semestinya. Tidak menglaim apa yang bukan jatahnya, pun menerima dan bersyukur apa yang Tuhan berikan. Ini yang menjadi keprihatinan bersama sebagai sebuah bangsa. Betapa banyak orang menyia-nyiakan kemampaun, namun di sisi lain banyak orang berlebihan dalam menampilkan citra diri yang tidak semestinya. BD.eLeSHa.

Rabu, 01 Januari 2020

Menyimpannya dalam Hati


HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH (P)
Bil. 6:16-22
Mzm. 67:2-3,5,8
Gal. 4:4-7
Luk. 2:16-21




Bil. 6:16-22

6:22 TUHAN berfirman kepada Musa:
6:23 "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
6:24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
6:25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
6:27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."


Gal. 4:4-7

4:4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
4:5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
4:7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.


Luk. 2:16-21

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.



Menyimpannya dalam Hati

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana Maria sebagai Bunda Allah memegang peran penting dalam terlaksananya rencana karya keselamatan Allah. pilihan kepda Perawan Maria oleh Allah tentu bukan sembarangan. Kalau dalam alam budaya Jawa ada bebet, bobot, bibit, tentu bukan berbicara diskriminasi, namun soal kualifikasi yang sangat hebat.
Kita layak belajar dan meneladan Maria. Apa saja keutamaan Maria yang luar biasa itu? Sederhana. ia  sangat sederhana, terutama dalam pola pikir. Kesederhanaannya ini membantunya cepat tanggap dan paham siapa yang hadir itu. malaikat Tuhan yang membawa warta keselamatan.
Siap sedia. Bagaimana ia siap sedia menyandang peran agung yang luar biasa. Ia harus menanggung beban dan sangat luar  biasa berat. Rajam adalah hukuman bagi gadis masa bertunangan hamil. Itu pilihan yang tidak mudah. Nyawanya ia pertaruhkan demi kehendak Allah.
Terbuka. Jawaban, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, jelas jawaban milik pribadi yang terbuka. Membuka diri dan hati atas kehendak Allah atas hidupnya. Ia adalah hamba yang akan menurut pada kehendak Allah bukan rancangannya sendiri.
Mendengarkan. Dalam bacaan hari ini, Maria mendengarkan apa yang para gembala nyatakan. Ia mendengarkan dengan telinga, hati, dan juga iman. Menomorsatukan kehendak Allah di atas hidupnya sendiri. Ia mendengarkan para gembala  yang membahas Anaknya itu dengan iman yang dalam.
Menyimpan dalam hati. Hal yang sangat kontekstual dalam hidup modern yang menggunakan takaran dan ukuran viral. Ini malah menyimpan semua dalam hati. Semuanya ia simpan dalam hatinya sendiri.
Ke depan, Maria sangat sering menyimpan semuanya itu sendirian. Keterbukaannya membantu ia yang sering tidak paham dan gagal mengerti  Yesus  secara  mendasar untuk tetap setia. Ketika Yesus masih kanak-kanak dan diketemukan kembali dalam Bait Allah, ketika ada isu Yesus gila, apalagi melalui jalan salib yang memedihkan. Maria menyimpannya dalam hati.
Saudara terkasih, kita patut bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang demikian baik, memiliki Ibu Maria yang begitu rendah hati. Kita bisa belajar menuju dan menjadi pribadi yang lebih baik seturut keteladanan Maria dan terutama Yesus. Semakin mirip bukan hanya dalam pakaian atau cara beratribut, namun sikap dan sifat yang menjadi saluran rahmat dan kasih karunia.BD.eLeSHa.