Senin, 16 Desember 2019

Pertobatan dan Keyakinan


MINGGU ADVEN III (U)
Yes. 35:1-6,10
Mzm. 146:7,8-91,9bc,-10
Yak. 5:7-10
Mat. 11:2-11




Yes. 35:1-6,10

35:1 Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;
35:2 seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.
35:3 Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah.
35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"
35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.
35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;
35:10 dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh


Yak. 5:7-10

5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.
5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan


Mat. 11:2-11

11:2 Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus,
11:3 lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"
11:4 Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:
11:5 orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
11:6 Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."
11:7 Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari?
11:8 Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja.
11:9 Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.
11:10 Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.
11:11 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya



Pertobatan dan Keyakinan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merayakan Minggu Adven ketiga yang biasa disebut sebagai Gaudete, Suka cita, di mana lilin pink yang menyala, suka cita karena Katya Agung Keselamatan sebentar lagi kita rayakan. Penantian panjang itu berbuah dan ada pada Natal yang penuh suka cita. Bersama itu juga merenungkan pengalaman Yohanes mengenai Yesus.
Beberapa  hal layak kita renungkan, bagaimana Yohanes bersikap terhadap Yesus.
Mendengarkan. Ia mendengar mengenai Yesus. Ia tahu dan ia juga menanti-nantikan Yesus yang ia persiapkan jalan-Nya itu. Ia tahu dengan peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan, di mana Allah menyatakan diri siapa yang Yohanes baptis itu. dan pasti juga ia tahu bahwa tindakan Yesus itu tindakan Mesianik di mana Taurat banyak mengupas itu.
Mempertanyakan, wajar jika ia menjadi galau dan kemudian mempertanyakan kebenaran itu. langusng ia mengutus muridnya untuk bertanya kepada  Yesus, siapa sejatinya Yesus itu. Apakah benar Mesias, atau masih perlu menunggu lagi.
Dan meyakini. Jawaban Yesus sebagai bukti dan keyakinan yang tak terbantahkan, ketika Yesus mengatakan, bagaimana keberadaan orang bisu bisa berbicara, orang buta melihat, orang sakit disembuhkan, dan bahkan orang mati dihidupkan kembali. Ini semua adalah tindakan dan perilaku Mesias saja yang bisa melakukannya.  Tidak ada nabi sekalipun yang sudah-sudah bisa melakukan apa yang dilakukan Yesus. Terutama menghidupkan orang mati dan membuat orang lumpuh berjalan. Sampai era modern ini pun belum bisa menghidupkan orang mati.
Saudara terkasih, keraguan Yohanes Pembaptis sangat mungkin terjadi karena tekanan politis yang ia hadapi. Itu sungguh berat dan luar biasa. Wajar ketika ia tidak tahan dan merasa frustasi.
Apa yang perlu kita lakukan dalam sepekan menjelang Natal ini adalah perubahan batin, gerak rohani ke arah yang lebih baik. Ada gerak batin memperbaiki diri, ada upaya makin mendekat kepada Tuhan. Mempertanyakan kualitas diri, kepantasan menyambut dan menyongsong Karya Agung Keselamatan yang hadir dalam Diri Bayi Yesus di Hari Raya Natal nanti.
Kemeriahan jasmani, perayaan ini dan itu, kemewahan badaniah dan seremoni tidak akan kalah cepatd an semarak, namun bagaimana persiapan batin itu yang harus dikedepankan. BD.eLeSHa.

Yohanes Salib dan Nasihat


Pw. Yohanes dari Salib, Im, PujG (P)
Sir. 48:1-4,9-11
Mzm. 80:1ab,3bm15-16,18-19
Mat. 17:9-13



Sir. 48:1-4,9-11

48:1 Lalu tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar.
48:2 Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya.
48:3 Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali.
48:4 Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau?
48:9 Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi.
48:10 Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub.
48:11 Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula.

Mat. 17:9-13

17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
17:10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?"
17:11 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu
17:12 dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka."
17:13 Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis



Yohanes Salib dan Nasihat

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan mengenai pertobatan dan perubahan yang dibawa oleh Elia dan Yohanes Pembatis. Mereka berdua pembaharu dalam era yang berbeda. Satu yang identik, adalah mereka tidak dikenali oleh publik pendengar mereka. Mengapa demikian?
Sikap batin untuk berubah menjadi baik itu tidak mudah. Pernyataan, seruan, dan bahkan gertakan pun sering tidak mempan. Keras hati karena pengaruh dunia dan kuasa jahat lebih kuat.
Persiapan untuk Natal dalam masa Adven adalah pertobatan. Balik arah dan mendengarkan arahan. Mendengarkan nasihat dan mau berubah itu juga bagian dari kasih karunia. Melembutkan hati dan bukan malah menegarkan tengkuk adalah karya Roh.
Salib  menuntun pada kebangkitan dan penyangkalan diri, buah dari Yohanes Salib yang dipenjara oeh rekan seordonya. Yohanes Salib rekan pembaharu dari Teresia Avila memang mendapatkan siksaan dari rekan seordonya sendiri. Dari sana ia mendapatkan buah-buah roh yang luar biasa. Gagasan yang ia dapatkan ia tuangkan dalam kidung dan buku-buku yang sangat berperan bagi Gereja hingga hari ini.
Sel biara membawanya pada pengalaman dan pergumulan konkret salib Yesus yang harus ia sandang. Dari sana ia mendapatkan pengalaman rohani, ekstase dan semakin mendalami teologi dan ajaran Kristianitas secara hakiki. Pengalaman dan penderitaan yang ia yakini dan jalani bersama dengan Yesus, membuahkan kasih karunia yang tidak terkira, bahkan bagi Gereja juga.
Saudara terkasih,  mendengarkan nasihat juga bagian dari kasih karunia. Kasih Allah yang memberikan nasihat, pembelajaran, dan memperkenalka karya keselamatan, sering tertolak, bukan kita tolak. Ter, berarti tanpa sengaja. Kita kadang secara spontan memilih untuk tidak mendengarkannya. Khabar suka cita tertolak, bukan kita menolaknya.
Kita bisa belajar dari Yohanes Salib, bagaimana saudaranya sendiri memenjarakannya, namun ia malah menemukan Tuhan di dalam selnya. Bayangkan jika ia meratap dan menuding rekan dan saudaranya itu sebagai sarana menuntut balas atau mengeluh, ia tidak berjumpa dengan Yesus Sang Penyelamat.
Menemukan dan bersama Tuhan bisa beraneka cara dan jalan. Dan itu di dalam Roh yang bekerja. Siapkanlah diri untuk menemukan dan berjalan bersama Tuhan. BD.eLeSHa.

Jumat, 13 Desember 2019

Bawalah Terangmu, Berbagi, dan Berbahagia dan Bersedih dengan Tepat


Pw. S. Lucia, Prw Mrt. (M)
Yes. 48:17-19
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Mat. 11:16-19



Yes. 48:17-19

48:17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.
48:18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,
48:19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.


Mat. 11:16-19

11:17 Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.
11:18 Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.
11:19 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.



Bawalah Terangmu, Berbagi, dan Berbahagia dan Bersedih dengan Tepat

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan bagaimana hidup kita di dunia ini dengan penuh manfaat dan berdaya guna. Bagaimana hidup kita yang berarti bagi diri sendiri, sesama, dan juga di dalam Tuhan. Kemarin, ada sebuat meme, di mana berkata, aku tidak melakukan itu karena dilarang agamaku, pinter, kamu jangan melakukan itu juga karena agamaku melarang, lak goblok. Cukup menggelitik dan kontekstual dengan bacaan hari ini.
Aku meniup seruling engkau tidak menarik, aku mengidungkan lagu duka kamu tidak meratap. Sering dalam hidup bersama kita malah senang ada orang yang menderita, mengalami kemalangan, dan kesedihan. Nyokurke, atau malah bersuka ria dan menghakimi. Mirisnya ketika ada orang yang mendapatkan kebahagiaan, kita tidak jarang malah iri, pengin, dan bermuram durja.
Kuasa jahat sudah menguasai diri dan hati manusia, sehingga hidupnya tidak bahagia, kekanak-kanakan, maunya mendapatkan fasilitas, dan ketika tidak memperolehnya meradang dan bersedih. Demikian kuat pengaruh dunia di mana kedamaia rusak karena menjauh dari kuasa Allah yang memberikan kasih karunia tak terbatas namun kita tolak.
Senyampang merenungkan keberadaan kita di tengah dunia, kita juga merayakan Perayaan Santa Lucia. Lucia yang berarti sinar, LUX, cahaya, terang. Dan hidup Lucia menjadi terang, sinar, dan cahaya bagi jemaat beriman. Kesaksiannya untuk tidak menikah, bukan hanya dalam slogan, namun juga di dalam pilihan hidup harian. Ia menderita dan meninggal sebagai martir, mengalahkan diri demi sesuatu yang ia perjuangkan.
Godaan, gangguan, dan pengaruh dunia sangat mungkin besar dan berat. Itu semua ditanggung dengan baik oleh Lucia. Ia tidak goyah dengan hardikan, tawaran, dan bahkan siksaan dari dunia. Hal yang sangat mungkin kita hadapai dengan skala dan model yang tidak sama tentunya.
Lihat saja ketika menjelang Desember, mendekati Natal provokasi soal ucapan Natal dan atriibut Natal demikian masif,  padahal itu bukan soal beragama, itu mengenai ekonomi-bisnis dan juga hidup bersama. Jika sikap kita pun demikian, menanggapi dengan berlebihan, akan jatuh pada kualitas yang sama.
LUX, cahaya, dan terang itu harus menjadi gaya hidup dan tidak kenal tempat dan waktu. Terang tidak mesti harus tenar, namun berdampak. BD.eLeSHa.

Kamis, 12 Desember 2019

Siapa Bertelinga, Hendaklah Ia Mendengar!


Kamis Pekan Adven II (U)
Yes. 41:13-20
Mzm. 145;1,9,10-11,12-13ab
Mat. 11:11-15




Yes. 41:13-20

41:13 Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau."
41:14 Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.
41:15 Sesungguhnya, Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukit pun akan kaubuat seperti sekam.
41:16 Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.
41:17 Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.
41:18 Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering.
41:19 Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya,
41:20 supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.


Mat. 11:11-15

11:11 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
11:12 Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.
11:13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes
11:14 dan -- jika kamu mau menerimanya -- ialah Elia yang akan datang itu.
11:15 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!


Siapa Bertelinga, Hendaklah Ia Mendengar!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan bersama Bunda Gereja mengenai mendengarkan dan peritah Tuhan untuk bisa menggunakan telingan dengan baik dan semestinya. Mendengarkan dalam konteks khusus adalah mengenai pewartaan  dan tawaran kasih keselamatan Allah secara istimewa.
Mendengarkan, berbeda dengan mendengar. Bagaimana kita bisa mendengarkan yang abstrak, mengenai keselamatan, dan hal yang di luar jangkauan kita, ketika kita susah payah juga mendengarkan orang lain. kecenderungan kita adalah didengarkan, dan berat untuk mau mendengarkan. Sikap untuk memperdengarkan diri. Kemegahan, derita, atau capaian, khas manusia yang sudah tergoda kuasa jahat.
Kita memiliki satu mulut dan dua telinga, namun sayang sering jatuh pada banyak memperdengarkan dari pada mendengarkan. Dan itu seolah menjadi gaya hidup sampai kapanpun akan demikian, jika tidak disadari.
Mendengarkan berbeda dengan mendengar, kita jauh lebih sering  mendengar dari pada mendengarkan. Orang modern yang sangat sibuk bisa mendengar banyak hal sekaligus, tontonan di televisi, pembicaraan di banyak grup, masih mengerjakan tugas, plus membaca surat elektronik. Sangat mungkin semua bisa didengar, dilihat, namun apakah bisa mendengarkan, melihat dengan lebih baik, mendalam, dan penuh perhatian? Jelas tidak.
Perhatikan saja keluarga, atau di mana-mana orang asyik dengan smartphone masing-masing, padahal  ada rekan, relasi, dan keluarga di depannya. Abai karena asyik dengan yang jauh. Padahal belum tentu yang jauh itu juga mendengarkan sebagaimana mestinya.
Saudara terkasih, kasus-kasus tersebut hanya hendak menggambarkan bagaimana kita sibuk, asyik, dan terlena dengan banyak hal. Apa yang di depannya saja tidak memperoleh perhatian, tidak bisa mendengarkan apa yang ada, apalagi mendengarkan pewartaan yang masih jauh di awang-awang seperti itu.
Mendengarkan itu perlu juga iman. Bagaimana iman membantu orang untuk percaya dan kemudian mendengarkan khabar suka cita. Pewartaan dari zaman ke zaman yang sering terlewatkan karena manusianya terlalu asyik dengan dunia. Era modern  dengan segala kemudahan, dan tawaran bisa sangat mungkin makin menjauhkan dari hal-hal yang transenden. Dunia sudah ada di genggaman tangan mau apa lagi.
Ajakan sangat kontekstual, hendaklah mendengarkan, mau tahu dan mau percaya bahwa ada kuasa selain dunia. Dan itu jauh lebih berkualitas. Itulah kesejatian. BD.eLeSHa.

Datanglah kepada-Ku Kalian yang Letih Lesu!


Rabu Pekan Adven II (U)
Yes. 40:25-31
Mzm. 103:1-2,3-4,8,10
Mat. 11:28-30



Yes. 40:25-31

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.
40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.
40:27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?"
40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.
40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.



Mat. 11:28-30

11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.


Datanglah kepada-Ku Kalian yang Letih Lesu!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sapaan, panggilan, dan tawaran kasih karunia Allah yang tiada terkira. Bagaimana IA mengundang kita untuk hadir, untuk datang, dan untuk kehadapan-Nya justru  ketika sedang  berbeban berat. Bayangkan, undangannya untuk datang ketika berbeban. Pernah tidak ada saudara, teman, atau keluarga kita yang demikian.
Lha baru datang saja karena kita biasa susah, biasanya datang untuk meminta bantuan, mukanya sudah dipasang masam, untung kalau tidak ditutup pintu dan pura-pura pergi. Coba jika memiliki rezeki nomplok, misalnya mendapatkan hadiah dari sebuah sponsor, jangan kira akan datang rombongan tanpa diundang. Mereka merasa kenal, merasa ikut berjasa, merasa kerabat, dan ujungnya adalah mendapatkan bagian.
Saudara terkasih, atau terkadang kita berpikir, teman, kerabat, atau saudara kita hanya datang dan ingat ketika butuh, perlu, atau hendak minta tolong saja. Hal yang sejatinya tidak berbeda dengan apa yang Tuhan nyatakan bukan? Kita mendapatkan tugas yang sama sebagaimana Tuhan kehendaki. Datang dengan beban itu. Tuhan sudah melakukannya dan kita juga diharapkan demikian.
Apa yang perlu kita khawatirkan, cemaskan, dan perlu kita risaukan coba jika kita memiliki Tuhan Sebaik, Seagung dan Mahakasih demikian. menyediakan diri untuk menjadi tempat yang memberikan kelegaan. Jadi sebenarnya tidak ada yang salah, ketika kita datang kepada Tuhan ketika memang banyak masalah, berbeban berat, dan seolah  tidak lagi ada jalan keluar yang bisa kita lihat. Tuhan sendiri yang mengundang bukan?
Tentu saja sangat tidak patutt, ketika kita sudah dilimpahi dengan begitu banyak kebaikan dan kasih karunia masih trunyak dan abai ketika mendapatkan anugerah. Lupa bersyukur, dan tidak lagi datang ketika keadaan aman-aman saja. Tuhan menyatakan datanglah ketika kamu itu berbeban itu juga ketika kamu baik-baik saja dan bahkan ketika sedang bahagia.
Tuhan paham, tidak banyak orang, pribadi, dan siapapun itu yang mau menampung keluh kesahmu, berbeda ketika itu adalah hadiah darimu.
Saudara terkasih, jangan sampai kita lupa menerima sesama, saudara, kerabat kita yang sedang menderita, pun jangan pula kita lupa ketika bahagia untuk berbagi dengan mereka dan di dalam Tuhan juga tentunya.BD.eLeSHa.


Selasa, 10 Desember 2019

Suka Cita Pertobatan


Selasa Pekan Adven II (U)
Yes. 40:1-10
Mzm. 96:1-2,3.10,11-12,13
Mat. 18:12-14



Yes. 40:1-10

40:1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,
40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.
40:3 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!
40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."
40:6 Ada suara yang berkata: "Berserulah!" Jawabku: "Apakah yang harus kuserukan?" "Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.
40:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.
40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."
40:9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!"
40:10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.
40:11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.


Mat. 18:12-14

18:12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?
18:13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.
18:14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.



Suka Cita Pertobatan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan pertobatan dan suka cita karenanya. Masa adven memang masa di mana kita merenungkan dan memperbaiki diri demi menyongsong kehadiran Tuhan dengan layak dalam Natal nanti. Kelayakan tidak semata badaniah atau fisik, namun yang ada dalam hati, perubahan sikap hidup dan perilaku.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita belajar melihat bagaimana suka cita dari orang yang kehilangan domba. Bayangkan satu di antara 100 domba tidak ada pun dicari, benar tidak? Kita pun akan demikian bukan? Melupakan yang 99 ekor demi yang satu ekor, dan bagaimana jika ketemu? Tentu akan bersuka cita dan bergembira ria.
Jika kita manusia, yang penuh kelemahan dan dosa saja tahu bersyukur, tahu bersuka cita kalau mendapatkan apa yang sempat hilang, apalagi Tuhan Allah Sang Pencipta. Apa iya Tuhan Allah rela anak-anak-Nya, ciptaan-Nya yang secitra dengan-Nya itu ada yang tersesat dan tidak dicari?
Beberapa hal patut kita renungkan;
Pertama, Tuhan Allah menghendaki bahwa kita itu tidak ada yang kececer, semua harus selamat. Tidak boleh ada yang terpisah satupun juga. Jelas ini berbeda dengan apa yang didengung-dengungkan dunia dan agama.
Kedua, keselamatan itu milik semua orang, bahwa ada yang tersesat itu Tuhan berkenan mencari dan menemukannya. Pertobatanlah dalam diri manusia di mana kembali dari jalan yang salah, dan itu adalah mungkin.
Ketiga, suka cita dari yang bertobat lebih besar dari pada orang benar yang tidak perlu bertobat. Artinya, bahwa Tuhan tidak pernah memandang, mengingat-ingat, dan memperhitungkan apa yang pernah terjadi. Yang ada di belakang sudah terjadi, ya sudah.
Keempat, Tuhan berkenan untuk menyelamatkan semua orang yang mau. Dan kesempatan itu tidak hanya satu dua kali, Tuhan selalu membuka kesempatan. Dan pilihan bebas manusia menjadi penting,
Saudara terkasih, jika Tuhan dengan belas kasih-Nya demikian terbuka, demikian bersuka ria memberikan kesempatan, mengapa kita malah sering menutup peluang bagi sesama kita? Jangan sampai malah kita menjadi batu sandungan dengan kesombongan atau sikap saleh berlebihan kita. Marilah kita merenungkan, sudahkah membawa suka cita atau malah menghambat kasih Allah bagi sesama? BD.eLeSHa.

Senin, 09 Desember 2019

Iman yang Menyelamatkan


Senin Adven Pekan II (U)
Yes. 35:1-10
Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14
Luk. 5:17-26



Yes. 35:1-10

35:1 Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;
35:2 seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.
35:3 Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah.
35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"
35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.
35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;
35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.
35:8 Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.
35:9 Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,
35:10 dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.



Luk. 5:17-26

5:17 Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
5:18 Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.
5:19 Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus.
5:20 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni."
5:21 Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
5:22 Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?
5:23 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?
5:24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
5:25 Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.
5:26 Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."



Iman yang Menyelamatkan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan mengenai iman yang menyelatakan. Bagaimana Tuhan Yesus menyatakan itu dengan jelas dan gamblang dalam sebuah kejadian di mana orang-orang yang datang kepada-Nya demi mendapatkan kesembuhan. Mereka sampai membuka atap demi bisa disembuhkan oleh Yesus. Bagaimana perjuangan dan kepercayaan mereka itu yang mendapatkan apresiasi Tuhan.
Keselamatan memang berasal dari Allah, Allah yang menawarkan itu, dan bagaimana sikap kita, menolak atau menerima. Dan ketika menerima berarti ada gerak langkah, ada upaya, ada usaha untuk menjawab atau menanggapi tawaran keselamatan itu. Tawaran yang mendapatkan sambutan positif, dan jangan dikira tidak ada yang menolaknya.
Mengapa Tuhan menaruh respeks dan tanggapan positif atas upaya kerabat dan si sakit? Mereka bisa saja pergi dan tidak jadi mencari kesembuhan pada Yesus. Mereka bisa saja menyerah dan memilih membawa kembali kerabatnya karena sudah sesak dan tidak ada kemungkinan bisa masuk.
Upaya tidak kenal lelah, usaha yang luar biasa besar, dan tidak mengenal menyerah itu yang Tuhan lihat. Tuhan menghargai usaha dan proses yang kadang tidak mudah dijalani. Kata kunci yang ada adalah, iman itu upaya dan gerak langkah yang tidak kenal henti.
Saudara terkasih, sering kita mudah mengeluh, mudah merasa Tuhan tidak mendengarkan upaya kita. Kita hanya tahu dan membaca ada si lumpuh disembuhkan, namun tidak mau tahu atau tidak pernah berpikir bagaimana mereka berupaya membuka atap dan menurunkan saudaranya yang lumpuh itu dari atap ke hadapan Yesus.
Tawaran keselamatan itu sama untuk semua orang, namun bagaimana kita menghadapinya, bagaimana kita menyikapinya, atau menanggapinya. Tawaran dalam pewahyuan perlu tanggapan selaras, jawaban yang sepadan, dan menerima. Penerimaan itu jelas bukan hanya pernyataan atau perkataan semata, namun ada gerak langlah dan hati untuk membuktikannya dalam laku, tindakan, dan sikap dalam hidup setiap hari.
Bertekun di dalam seluruh dinamika hidup penuh syukur, menjalankan rencana Tuhan di dalam seluruh hidupnya dengan rendah hati, setia, dan penuh kasih karunia. Di sinilah iman dan tanggapan itu selaras. BD.eLeSHa.

Minggu, 08 Desember 2019

Yohanes Pembaptis, Pertobatan, dan Buah Tobat


HARI MINGGU ADVEN II (U)
Yes. 11:1-10
Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17
Rm. 15:4-9
Mat. 3:1-12




Yes. 11:1-10

11:1 Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.
11:2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;
11:3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.
11:4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.
11:5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.
11:6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
11:7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
11:8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
11:9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.
11:10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.


Rm. 15:4-9

15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,
15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.
15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.
15:8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita,
15:9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: "Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.


Mat. 3:1-12

3:1 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan:
3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
3:3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."
3:4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
3:5 Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.
3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?
3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
3:9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
3:10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
3:12 Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."



Yohanes Pembaptis, Pertobatan, dan Buah Tobat

Saudara terkasih, hari ini, di Minggu Adven kedua, kita bersama Bunda Gereja merenungkan karya Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan dan menyediakan jalan bagi Tuhan. Karya yang menjadi pengantara dan semata mempersiapkan jalan bagi Yang Lain, dan ia melakukan itu dengan tulus ikhlas. Tanpa pamrih, ia makin mengecilkan diri demi Yesus yang semakin besar.
Satu hal paling pokok yang diserukan Yohanes Pembaptis adalah mengenai pertobatan. Tobat dalam arti berbalik arah semakin menuju Allah bukan malah menjauh. Relasi yang sempat memburuk bersama Allah dipulihkan, ada upaya memperbaiki hubungan yang tidak semestinya di dalam Allah. Tobat itu ada perubahan sikap, di dalam berkomunikasi dengan Tuhan.
Pun terhadap sesama jangan dianggap sepele. Bagaimana bisa mengatakan bertobat, memperbaiki diri, dan menjalin relasi yang lebih baik pada Tuhan. Namun mengabaikan hubungannya dengan sesama. Mana bisa mengaku religius, namun abai akan kemanusiaan. Tidak akan bisa sekaligus benci manusia mengaku mengasihi Allah. Ada yang tidak pas.
Salah satu indikasi buah tobat yang bisa dilihat mata dunia adalah sikap dan perilaku sederhana. Indikasi yang  sangat mudah terlihat, bagaimana sikap pertobatan itu juga membawa perubahan sikap hidup harian. Bagaimana kita dalam hidup sehari-hari menyaksikan dengan mudah lingkungankita. Mengaku beragama, beriman, dan paling saleh, namun tidak malu-malu memamerkan gaya hidup glamor, mewah, dan berkelas, namun uang dari korupsi. Tidak malu dan segan-segan mempermainkan anak buah, uang negara, atau uang milik  bersama sebagai penunjang gaya hidup borjuis. Jangan hanya melihat elit bangsa, kadang elit dan pejabat gerejani pun tidak sedikit yang demikian.
Bagaimana gembala memilah dan memilih karya dan pelayanan pada kaum tertentu. Ini fakta dan sangat mungkin kita alami juga. Dan itulah Adven, itulah seruan kenabian Yohanes Pembaptis yang sangat penting, urgen, dan kontekstual dari masa ke masa.
Saudara terkasih, Yohanes Pembaptis telah memberikan keteladanan, bukan hanya dengan kata-kata, namun juga perilaku hidup sederhana. Sederhana bukan hanya tampilan fisik namun juga olah pikir dan olah batinnya. Yohanes Pembaptis menampilkan kualitas hidup secara mnyeluruh. BD.eLeSHa.