Sabtu, 07 Desember 2019

Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa


HR SP MARIA DIKANDUNG TAK BERNODA (P)
Kej. 3:9-15,20
Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4
Ef. 1:3-6,11-12
Luk. 1:26-38



Kej. 3:9-15,20

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
3:11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."
3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.
3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."
3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Ef. 1:3-6,11-12

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
1:11 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya --
1:12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.


Luk. 1:26-38

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.



Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa

Semua manusia lahir di dalam belenggu dosa asal yang diwariskan Adam dan Hawa. Oleh karena itu, semua manusia dinyatakan 'berdosa' sejak lahir. Oleh karena warisan dosa asal itu melekat erat pada kemanusiaan kita, kita tampaknya lebih cenderung dan mudah untuk berdosa dan melakukan kejahatan daripada melakukan kebajikan-kebajikan. Kita kelihatan lamban sekali melakukan kebajikan-kebajikan. Kita lebih cenderung menjauhi Tuhan daripada mendekatiNya untuk menikmati kebaikan dan cintaNya.
"Pada hari ini terbitlah setangkal tunas dari akar Jesse; pada hari ini pun Maria dikandung tanpa cela dosa," demikian bunyi antifon Magnifikat. Gereja merayakan 'perkandungan Maria tanpa noda dosa' untuk mengingatkan kepada seluruh umat betapa luhurnya martabat Maria sebagai Bunda Penebus. Maria adalah satu-satunya manusia yang dikecualikan Allah dari warisan Adam itu. Sesungguhnya dara murni ini adalah manusia biasa sama seperti kita; ia juga keturunan Adam. Sebagaimana kita, ia pun hidup di dalam dunia yang penuh dosa ini. Namun ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun juga. Ia sudah sejak kekal ditentukan Allah untuk menjadi Bunda PuteraNya, Sang Penebus dunia. Ia ditentukan untuk melahirkan Yesus, Anak Allah, dan karena itu sejak awal hidupnya, ia dipersiapkan untuk mengemban tugas luhur ini.
Melalui dialah, Tuhan menyalurkan rahmat penyelamatanNya kepada manusia. Tuhanlah sumber rahmat, sedang Maria hanyalah 'saluran'nya. Sebagai saluran rahmat Allah bagi manusia, maka sudah selayaknya Maria itu penuh rahmat dan suci tak bercela. Demikian ia ditebus dengan cara yang paling sempurna: diperkandungkan tanpa noda dosa, suci dan tak bercela di hadapan Allah.
Dalam rahim Maria, Perawan yang murni, Allah menemukan singgasana yang pantas bagi PuteraNya. Melalui Maria kutuk dosa diganti dengan berkat bagi manusia. Oleh karena itu, pada hari raya ini patutlah kita berdoa: "Ya Maria, dengan senang hati kami merenungkan rahasia kepilihanmu menjadi Bunda Penebus. Engkau telah dibebaskan Allah dari kutuk dosa yang telah menimpa umat manusia. Jiwamu diperkaya dengan rahmat Allah dan memancarkan semarak kemuliaan Allah. Ya Maria yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu."


Jumat, 06 Desember 2019

Buta dan Karya Kasih



Jumat Adven I (U)
Yes. 29:17-24
Mzm. 27:1,4,13-14
Mat. 7:29-31




Yes. 29:17-24

29:17 Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan?
29:18 Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat.
29:19 Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!
29:20 Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan,
29:21 yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, dan yang memasang jerat terhadap orang yang menegor mereka di pintu gerbang, dan yang mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak.
29:22 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah kaum keturunan Yakub, Dia yang telah membebaskan Abraham: "Mulai sekarang Yakub tidak lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat.
29:23 Sebab pada waktu mereka, keturunan Yakub itu, melihat apa yang dibuat tangan-Ku di tengah-tengahnya, mereka akan menguduskan nama-Ku; mereka akan menguduskan Yang Kudus, Allah Yakub, dan mereka akan gentar kepada Allah Israel;
29:24 orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran."


Mat. 7:29-31

9:27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."
9:28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya."
9:29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu."
9:30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini."
9:31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.



Buta dan Karya Kasih

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan mengenai si buta yang memohon kesembuhan kepada Yesus dan apa yang Tuhan perintahkan. Ada dua hal besar yang patut  kita renungkan dari sana. Dan bagaimana kita menghidupi itu dalam hidup kita setiap hari.
Dalam bacaan Injil hari ini dibuka dengan keberadaan orang buta yang memohon kesembuhan. Konteks buta ini, sangat mungkin juga kita alami. Tidak hanya buta mata dalam arti fisik, namun sangat mungkin adalah “buta”. Bagaimana kita dalam hidup ini dibutakan dalam banyak hal dan versi. Buta harta sehingga kita abai akan kemanusiaan. Bagaimana orang bisa korupsi padahal uang dana sosial dalam gereja ataupun masyarakat?
Atau kebutaan kita akan kesenangan duniawi, malah melupakan keluarga, tanggung jawab, dan sebagainya. Kita sebagai anak bisa juga buta, ketika melupakan tugas belajar demi bermain games atau demi membeli rokok padahal uang sekolah.
Demikian panjang daftar kebutaan kita dalam kadar dan jenisnya. Sangat mungkin itu semua menjadi penghalang kita di dalam berbuat kasih dan menjadi saluran rahmat Tuhan. Belum lagi jika hati dan budi kita yang buta atau malah membutakan diri.
Permenungan kedua adalah soal perbuatan baik itu pasti akan tersebar, akan menjadi warta suka cita. Demikian juga prestasi, catatan baik, dan buah kasih akan mendapatkan tempat yang selayaknya dan sepatutnya. Tidak akan tersembunyi bagaimanapun ditahan-tahan.
Saudara terkasih, ketika kita buta, sangat mungkin kita menjadi penghambat baik diri atau orang lain. Kehidupan kita yang terselaput kabut, karena kita tidak melibatkan Tuhan untuk menyembuhkan kita. Kita tidak akan mampu berbuat lebih jika kita tidak mau memohon kepada Tuhan. Sangat mungkin kita pun berteriak agar Tuhan menolong kita, menyembuhkan kita, dan membuat kita terbuka.
Dalam hidup ini, tidak jarang kita membutakan diri sejatinya tidak buta, atau berpura-pura buta, ketika kita enggan menjadi sarana dan saluran rahmat Tuhan dalam hidup bersama kita. Saluran rahmat kasih karunia Tuhan yang tidak layak jika kita tahan dan berhenti pada diri kita sendiri. Ketamakan juga sebentuk kebutaan kita akan kebaikan Tuhan. BD.eLeSHa.

Kamis, 05 Desember 2019

Iman, Harus Berbuah Bukan Sekadar Lamis



Kamis Adven I (U)
Yes. 26:1-6
Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27
Mat. 7:21,24-27




Yes. 26:1-6

26:1 Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng.
26:2 Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia!
26:3 Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.
26:4 Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.
26:5 Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu.
26:6 Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya."


Mat. 7:21,24-27

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.



Iman, Harus Berbuah Bukan Sekadar Lamis

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai perilaku beriman. Beriman tidak sekadar lamis, hanya mengucapkan kata suci atau mantra semata, namun tanpa perbuatan. Adanya satu kata dan perbuatan, sehingga buah karya iman itu ada dan bisa dipetik.
Kadang orang atau bahkan kita jatuh pada rasionalisasi diri dengan mengatakan, Tuhan melihat ke dalam hati, padahal itu adalah bersembunyi atas keengganan berbuat baik dan memperlihatkan buah dari iman. Tidak akan ada sejatinya berkoar-koar, mengaku, menglaim sebagai paling saleh, paling taat, dan seketika menghujat Allah atau ciptaan-Nya. Ingat, manusia adalah citra Allah, gambaran Allah, ketika kita memusuhi sesama dengan tanpa dasar, sama juga menyiderai relasi kita dengan Allah.
Acap kali pun kita melakukan ritual, seremonial, atau liturgi yang sangat fasih, khusuk, dan persiapan demikian panjang. Namun masih memendam kebencian, mudah tergoda untuk menghakimi, dan menuding sesama kita dengan keji. Menyebut Tuhan Tuhan, namun sekaligus juga menyerukan kejahatan atau kebejatan.
Tidak akan ada serentak terang sekaligus gelap. Yang ada adalah terang akan mengusir kegelapan. Coba saja masuk ke ruangan tanpa lampu sambil menyalakan atau menekan saklar, kegelapan langsung sirna. Namun jika hanya berteriak nyalakan lampu Tuhan, tanpa mau menekan tombol, ya tetap saja kamar itu gelap.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita mendengarkan bagaimana Tuhan mengumpamakan bagaimana iman yang tidak mendasar itu sama juga dengan membangun rumah di atas pasir. Seolah-olah kuat dan kokoh, namun tidak akan bertahan lama dengan adanya dorongan angin atau arus air. Sama dengan apa yang kita lakukan, jika sebatas lamis, tidak akan bisa bertahan lama dan memiliki kekuatan.
Buah iman itu akan bisa dirasakan oleh lingkungan kita, orang bisa dengan leluasa datang dan mempercayakan hidupnya. Orang bisa menjadi yakin bahwa kita akan mendapatkan penenguhan, kekuatan, dan harapan menjadi lebih baik ketika berbagi dan mendapatkan bantuan dari kita.
Kita berbuah dalam iman ketika kita menebarkan kasih karunia Tuhan. Kita menerima dari Allah secara cuma-cuma, dan menyalurkaannya kepada saudara kita dengan cara yang sama. Buah iman  itu satu dalam perbuatan dan tindakan. Tidak saling meniadakan dan tidak saling memperebutkan mana terlebih dahulu. BD.eLeSHa.

Rabu, 04 Desember 2019

Belas Kasih Allah Tak Terbatas


Rabu Adven I (U)
Yes. 25:6-10
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6
Mat. 15:29-37




Yes. 25:6-10

25:6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.
25:7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa.
25:8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.
25:9 Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!"
25:10 Sebab tangan TUHAN akan melindungi gunung ini, tetapi Moab akan diinjak-injak di tempatnya sendiri, sebagai jerami diinjak-injak dalam lobang kotoran.


Mat. 15:29-37

15:29 Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ.
15:30 Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
15:31 Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.
15:32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan."
15:33 Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?"
15:34 Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."
15:35 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.
15:36 Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.
15:37 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.



Belas Kasih Allah Tak Terbatas

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan belas kasih Allah itu luar biasa. Allah Yang Berbelas Kasih-lah Allah Tuhan kita. Bagaimana Ia tidak rela, tidak tega, dan tidak mau pendengar-Nya, murid-Nya pingsan dan jatuh di jalan karena kelaparan. Melihat jauh ke depan akan apa yang mungkin terjadi.
Belas kasih Allah bukan karena kepentingan Allah, bukan pula karena kerinduan manusiawi, permohonan yang terus menerus. Semua karena Allah yang tergerak melihat anak-anak-Nya butuh uluran kasih-Nya. Manusia yang menderita, itu sejatinya Allah sudah tahu, Allah paham dengan apa yang diperlukan anak-anak-Nya.
Kasih Allah akan mengalir dengan lebih cepat dan mudah, ketika kita hadir, menghadap, dan bersama-sama denga Tuhan. Lihat para murid, para pendengar ini hadir, bersatu, dan mendengarkan Tuhan Yesus ketika mengajar.
Namun demikian, toh para rasul gagal melihat itu semua. Mereka malah memikirkan kendala, kekurangan, dan keterbatasan. Kita pun demikian, dalam hidup sehari-hari sering merasa tidak berdaya, merasa akan gagal karena menjadikan kendala sebagai yang pertama. Mundur dulu karena berpikir halangan, rintangan, dan kendala. Realistis benar, namun bukan pesimis.
Saudara terkasih, satu yang pasti, libatkan Tuhan ketika kita menemukan halangan, hambatan, dan bahkan kesulitan apapun yang tidak akan mampu kita lewati . Yakini dan bahkan imani bahwa ada Tuhan Allah yang akan menyelesaikan. Tuhan Allah yang akan mengurai kesulitan itu dengan jalan-Nya bukan rancangan kita.
Melibatkan Tuhan dengan pasrah bongkokan, menyerahkan seluruh apa yang sudah kita usahakan dengan maksimal kepada Tuhan. Ini bukan kita tidak mau berusaha, namun itu adalah ranah dan kuasa Tuhan. Tuhan bersuka cita, Tuhan berkenan, dan Tuhan dengan sangat rela mengulurkan Tangan ketika kita memang sudah mengupayakan dengan seluruh daya kita, dan Tuhan yang akan melengkapinya.
Para murid itu adalah gambaran kita yang mengedepankan rasionalitas kita, bagaimana tujuh (7) roti dan ikan kecil-kecil bisa menjadi bahan makanan yang mengenyangkan, dan ternyata masih bersisa. Karena kuasa dan belas kasih Tuhan itu tak terbatas.
Saudara terkasih, beranikah kita menyerahkan diri sepenuhnya pada kasih karunia dan belas kasih Allah? BD.eLeSHa.

Selasa, 03 Desember 2019

Xaverius dan Pergilah ke Seluruh Dunia, Beritakanlah Injil!


Pesta S. Fransiskus Xaverius, Im (P)
2 Kor. 9:16-19,22-23
Mzm. 117:1,2
Mrk. 16:15-20



2 Kor. 9:16-19,22-23

9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.


Mrk. 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.



Xaverius dan Pergilah ke Seluruh Dunia, Beritakanlah Injil!

Saudara terkasih, hari ini bersama Bunda Gereja merenungkan mengenai perutusan kita sebagai anak-anak Tuhan. Perintah untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Khabar Suka Cita. Perintah yang jelas, lugas, dan pasti. Santo Fransiskus Xaverius menjadi contoh terbaik dalam hal ini. Bagaimana ia melanglang buana, bahkan hingga bangsa ini mengenal Yesus juga salah satunya adalah peran Bapa Misi ini.
Salah satu hal yang patut dilihat adalah, bahwa peran Tuhan Allah yang lebih besar, dan kita ini menjadi alat-alat-Nya semata. Fransiskus berangkat ke mana-mana dengan segala keterbatasan. Baik budaya, bahasa, ataupun sarana dan prasarana untuk abad itu. Bisa dibayangkan berbulan-bulan di tengah lautan, jika tidak memiliki badan dan fisik yang tangguh bisa tewas di tengah perjalanan.
Bahasa tentu menjadi kendala yang sangat besar, namun ternyata tidak demikian. Fransiskus Xaverius bisa mengatasi itu semua karena ia menyadari peran dan adanya Roh Kudus yang akan membuat apa yang  hendak ia ajarkan itu menjadi mudah.
Saudara terkasih, kendala bahasa pun di era modern ini menjadi masalah yang tidak mudah, apalagi di tengah bangsa Indonesia yang tengah mabuk agama. Bagaimana tudingan kristenisasi, kecurigaan bahkan hanya pendirian gedung gereja, tentu hal ini membawa konsekuensi di dalam menebarkan bahasa kasih dan khabar suka cita. Kebaikan saja dicurigai dan bisa menjadi masalah.
Sama dengan kesulitan Fransiskus Xaverius pada masa itu. Kini kemudahan alat transportasi bahkan komunikasi, namun keberadaan manusia yang semakin fanatis, itu tidak kalah peliknya. Nyawa juga menjadi taruhannya. Artinya salib di dalam mewartakan kasih karunia Allah itu tetap saja sama. Belum lagi sikap apatis, cemas, takut, dan minder yang menjadi gaya hidup anak-anak Tuhan juga tidak kalah pentingnya.
Kini tugas tu bukan hanya ada yang belum kenal kasih karunia Tuhan semata, namun juga bagi anak-anak Tuhan yang masih sebatas ada dalam identitas. Namun takut menyatakan diri sebagai orang Katolik karena takut sebagai warga dengan kelompok yang sangat kecil.
Tugas Fransiskus dan perutusan Tuhan masih sangat kontekstual. Memang dalam beberapa hal berbeda, namun bahwa memperkenalkan kasih Tuhan masih perlu. BD.eLeSHa.


Senin, 02 Desember 2019

Percaya dan Kuasa Sabda


Senin Adven I (U)
Yes. 4:2-6
Mzm. 122:1-2,3-4,8-9
Mat. 8:5-11



Yes. 4:2-6

4:2 Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput.
4:3 Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup,
4:4 apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang membakar.
4:5 Maka TUHAN akan menjadikan di atas seluruh wilayah gunung Sion dan di atas setiap pertemuan yang diadakan di situ segumpal awan pada waktu siang dan segumpal asap serta sinar api yang menyala-nyala pada waktu malam, sebab di atas semuanya itu akan ada kemuliaan TUHAN sebagai tudung
4:6 dan sebagai pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan sebagai perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan.


Mat. 8:5-11

8:5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
8:6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
8:7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.
8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga



Percaya dan Kuasa Sabda

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa kuasa sabda dengan sikap batin percaya dari umat beriman itu berbuah luar biasa. "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Ungkapan dan sikap percaya yang diadopsi Gereja hingga hari ini, dengan selalu mengatakan, Ya Tuhan, saya tak pantas Tuhan datang kepada saya, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.
Kalimat sangat sederhana namun sangat dalam makna dan perwujudannya. Itu adalah sikap renah hati, keterbukaan diri mendalam akan kasih, kuasa, dan kemampuan Tuhan. Hanya bersabda, bukan kedatangan apalagi menjamah kita, dan kita langsung sembuh. Bayangkan dokter saja dibayar mahal belum tentu sembuh, berkali ulang, datang bayar lagi. Lha ini hanya bersabda, dan kita sembuh.
Ada sikap percaya yang harus ada dalam diri kita. Sikap radikal untuk menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah dan jalan-Nya. Ini adalah titik awal untuk memperoleh kasih karunia Allah secara purna.
Benar bahwa kasih-Nya tidak terbatas sikap kita, namun bahwa kita yang memiliki sikap percaya akan membuat kita makin mampu menerima lebih banyak berkat Allah dalam diri kita. Sikap yang membuka akan kasih karunia itu mengayakan kita, bukan malah melemahkan, karena kita terbuka pada Yang Ilahi.
Kerendahan hati sangat mutlak ada, ketika kita berbicara mengenai penyerahan total seperti ini. membiarkan Allah, tanpa upaya apapun dari kita untuk menolaknya. Kita tidak lagi merasa memiliki kemampuan, apalagi menyombongkannya dengan tinggi hati  kalau mampu. Rendah hati yang sangat ekstrem. Bagaimana seorang perwira bisa bersikap demikian. Kafir lagi.
Saudara terkasih, tidak jarang, kita terlalu asyik dengan pencarian diri, malah melupakan Tuhan dengan segala kehendak-Nya. Tuhan kita nomor sekiankan atas naman Tuhan Mahatahu, Tuhan Pemurah dan bukan pemarah yang akan memberikan kebebasan kepada kita.
Padahal Tuhan Yang Pemurah itu lebih suka kita hadir dan pasrah bongkokan kepada-Nya. Ini adalah pasrah yang total, dan itu tidak mudah. Proses ke sana dari waktu ke waktu. BD.eLeSHa.



Berjaga-jaga


MINGGU ADVEN I (U)
Yes. 2:1-5
Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9
Rm. 13:11-14
Mat. 24:37-44




Yes. 2:1-5

2:1 Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
2:2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
2:3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."
2:4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
2:5 Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!



Rm. 13:11-14

13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.
13:12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!
13:13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
13:14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.


Mat. 24:37-44

24:37 "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
24:38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
24:39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
24:40 Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
24:41 kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
24:42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
24:44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."



Berjaga-jaga

Saudara terkasih, hari ini kita hendak merenungkan sabda Tuhan mengenai hal berjaga-jaga. Dalam konteks yang sama juga merenungkan Pekan Adven I di dalam menyongsong kehadiran Tuhan dalam Natal nanti dan juga di dalam kedatangan-Nya yang kedua. Satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
Dalam bacaan Injil kita diajarkan dan diajak untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan, dalam konteks manusiawi ya kematian. Tidak ada yang tahu itu kapan, dan padahal pasti akan mati bukan? Hanya saja tidak ada yang tahu, bahkan prediksi dokter dengan penyakit mematikan sekalipun tidak bisa memberikan kepastian kapannya itu. Saat Tuhan adalah misteri, itu untuk apa? Agar kita selalu waspada, siap sedia, dan tidak menyia-nyiakan waktu dengan perilaku buruk, jahat, dan mengikuti gaya hidup si jahat. Perilaku baik itu bukan sebagai kewajiban apalagi takut akan Allah, namun sebentuk konsekuensi logis atas apa yang sudah Tuhan Allah karuniakan kepada kita. Hal yang logis bukan jika kita menerima kebaikan mosok melakukan kejahatan, jelas tidak patut.
Jika saatnya Tuhan itu kita ketahui terlebih dahulu, apalagi ada pertobatan, bayangkan, jika tahu usia 60 angka kepastian meninggal, yakin pasti orang akan hidup ngawur-ngawuran hingga usai 59 lebih dan menjelang 60 baru mendekat kepada Tuhan. Lha hidup di dalam Tuhan kog seperti flash sale.
Tuhan bukan untuk berdagang, relasi dengan sesama dan Tuhan itu perlu ajeg, konsisten, dan setia. Tidak ada yang mendua, apalagi meniga dan seterusnya.
Adven di mana masa untuk menantikan kehadiran Tuhan, waktu untuk memperbaiki diri, persiapan batin, hati, spiritual, dan sikap hati di dalam menyongsong Tuhan yang hadir. Kepantasan kita bukan hanya seremoni, upacara, atau menghiasa rumah, gereja dengan mewah, megah, namun bagaimana hidup kita lebih peduli pada sesama. Memperbaiki relasi dengan Tuhan dan lingkungan kita lebih baik lagi.
Menyosong Sang Penyelamat dengan jiwa, hati, dan pribadi baru, bukan semata baju baru atau asesoris yang baru dan mewah. Tidak jarang kita terlalu asyik dengan merencanakan panitia Natal, koor, dan aneka jenis perayaan, namun malah abai akan sikap batin. Kesederhanaan Yesus di dalam kandang di Bethlehem, malah dijawab dengan gegap gempita duniawi semata.
Sudahkah aku makin dekat pada Tuhan dan sesama? BD.eLeSHa.