Rabu, 06 November 2019

Motivasi dan Komitmen


Rabu Pekan Biasa XXXI (H)
Rm. 13:8-10
Mzm.112:1-2,4-5,9
Luk. 14:25-33




Rm. 13:8-10

13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat


Luk. 14:25-33

14:24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."
14:25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
14:29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,
14:30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
14:31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
14:32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.



Motivasi dan  Komitmen

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai motivasi dan komitmen dalam hidup harian kita. Mengapa kita perlu menjernihkan, memurnikan, dan menjaga motivasi kita dan kemudian mengembangkan semakin kuat komitmen kita? Apa yang Tuhan janjikan dan berikan adalah keselamatan sejati.
Bisa kita bayangkan, jika sakit saja kita mau sembuh, artinya biar masih selamat, biar hidup lebih lama. Mengapa hidup di dunia saja kita mau repoit-repot mempertahankan. Ikut asuransi ini dan itu, membeli makanan sehat, dan obat-obatan serta vitamin. Semua biar sehat dan hidup bukan? Nah apalagi hidup yang abadi. Masak kita diam-diam saja tanpa upaya maksimal?
Jika untuk mempertahankan hidup sementara saja kita maksimal, pun untuk mendapatkan hidup abadi perlu yang maksimal, jauh lebih maksimal lagi. Apa yang kta dapatkan juga lebih besar kog. Oleh karenanya kita perlu menyadari motivasi ini.
Komitmen menjadi titik pangkal berikutnya usai menyadari motivasi besar, komitmen jika Tuhan adalah segalanya, Tuhan menjadi nomor satu, Allah adalah prioritas. Tentu bukan mengenai Tuhan itu pendendam atau pencemburu, namun itu adalah konsekuensi logis atas hidup kita. Kita mendapatkan hal yang luar bisa, tentu perlu luar biasa pula perilaku dan  jawaban kita.
Saudara terkasih, kita menomorsatukan Tuhan dengan mengesampingkan siapapun, termasuk orang tua, keluarga, dan pekerjaan kita. Jangan mengambil kata bencilah dalam konteks kita hari ini dan saat ini, namun konteks waktu itu, bukan kebencian dalam arti permusuhan, namun mengesampingkan, menomorsekiankan, demi menjadikan Tuhan prioritas. Pilihan kita apalagi orang modern ini sering pekerjaan, pencarian materi, dan hari-hari ini viral, sangat mungkin memisahkan dan mengesampingkan Tuhan jauh dari pilihan kita.
Motivasi kita untuk ikut Tuhan karena mendapatkan keselamatan abadi, perlu kesadaran terus menerus dan perlu kita murnikan setiap saat. Jangan sampai kita ikut Tuhan demi mendapatkan kekayaan, pendidikan, atau pekerjaan di dunia ini, atau mendapatkan jodoh dan berhenti begitu saja. Jika sudah sampai keselamatan perlu kita pertahankan dan olah agar semakin berkenan di hadapan Tuhan.
Komitmen itu perwujudan dan ungkapan motivasi, di mana menempatkan Tuhan Allah sebagai yang utama. Prioritas utama dan pertama bagi hidup dan keseluruhan kita. Tuhan adalah segalanya karena kita pun telah mendapatkan segalanya dari Tuhan bukan? BD.eLeSHa.


Selasa, 05 November 2019

Mencintai Ekaristi dan Jawaban atas Tawaran Keselamatan


Selasa Biasa Pekan XXXI (H)
Rm. 12:5-16
Mzm. 69:30-31,33-34,36-37
Luk. 14:15-24




Rm. 12:5-16

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!


Luk. 14:15-24

14:15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
14:16 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
14:17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
14:18 Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.
14:19 Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
14:20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
14:21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
14:22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.
14:23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
14:24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.



Mencintai Ekaristi dan Jawaban atas Tawaran Keselamatan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja hendak merenungkan bagaimana keselamatan dan kebersamaan dengan Allah dalam damai abadi itu kasih karunia Allah, di mana undangan itu tidak mengenal penolakan dan bantahan. Tuhan sudah menyediakan, Tuhan sudah mempersiapkan, dan Tuhan sudah memberikan seluruhnya. Pantas tidak, ketika kita memprioritaskan yang lain?
Ilustrasi sederhana, dan sangat logis sebenarnya, ada undangan, sering juga kog kita berdalih dengan aneka kesibukan dan kerepotan, dan kadang itu mencari-cari bukan sesungguhnya, demikian pun dengan undangan dan tawaran Allah. Sangat mudah kita tilik bagaimana semangat kita dalam mempersiapkan Perayaan Ekaristi, semangat, ogah-ogahan, atau menunda, ah besok juga bisa, nanti saja ketika sudah dekat dan kita berangkat.
Jangan berpikir bahwa kuasa jahat itu menggoda dengan aneka perbuatan yang dengan mudah dan jelas kita tahu itu godaan, seperti malas atau godaan lainnya. Kadang sangat halus dengan aktifitas kebaikan, aksi sosial, namun melenakan dan menjauhkan diri dari Tuhan dalam Ekaristi. Apa salahnya coba aksi sosial atau membantu orang yang kekurangan? Baik juga bukan? Namun ketika kita terlena, kita bisa tersesat dan malah melupakan Tuhan sebagai sumber hidup.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil hari ini, sejatinya Tuhan hendak mengatakan kepada orang Yahudi yang telah  mendapatkan status terpilih. Dengan status itu mereka malah seenaknya sendiri, melakukan ibadah dan doa dengan sesuka hati. Mereka merasa kalau mendapatkan tempat khusus yang tidak akan bisa digantikan orang lain, Tuhan berpikir dan bertindak tidak demikian. Kini semua orang yang mau melaksanakan kehendak Tuhan, mau berusaha mengenal dan melakukan apa yang Tuhan rencanakan. Merekalah yang akan ikut perjamuan surgawi.
Logis bukan jika yang diundang dan menolak itu juga akan Tuhan kesampingkan? Coba bayangkan saja, jika kita ditolak, masih mau memberikan tawaran kita juga? Padahal masih begitu banyak yang mau menggantikannya? Mosok Tuhan tidak adil hanya demi  pribadi dan kelompok yang selalu merasa baik dan benar itu?
Saudara terkasih, benar bahwa kasih karunia itu pemberian Allah secara cuma-cuma, namun ada pula tanggapan yang sebanding dari kita si penerima. Bagaimana mungkin penolak mendapatkan hasil yang sama dengan yang menerima bahkan dengan sukacita lagi? BD. eLeSHa.


Kesederhanaan Boromeus dan Do ut Des



Pw. S. Karolus Borromeus, Usk. (P)
Rm. 11:29-36
Mzm. 69:30-31,34,36-37
Luk. 14:12-14




Rm. 11:29-36

11:29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.
11:30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,
11:31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.
11:32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.
11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!


Luk. 14:12-14

14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."



Kesederhanaan Boromeus dan Do ut Des

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan ketulusan di dalam berbagi. Sering dan sangat mudah kita jatuh untuk berharap mendapatkan balasan. Hal yang sama juga bisa terbawa dalam berdoa dan beribadah. Beribadah bukan demi memuliakan Allah, namun demi kepentingan diri sendiri.
Dalam hidup sehari-haripun sering kita asyik dengan pribadi yang kaya, tenar, dan populer, untuk mendapatkan sesuatu, kesawaban, ikut mendapatkan bagian dari sana. Namun, apakah pernah berempati dengan yang sedang menderita, kesepian, dan dalam keadaan kekurangan? Minimal, ketika datang kegiatan lingkungan di rumah yang kaya banyak yang datang dan sebaliknya.
Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mengharapkan balasan dalam kondisi apapun. Ketulusan untuk mengesampingkan sikap do ut des, saya memberi akan saya juga diberi. Hal yang jamak terjadi. Memberikan kepada orang yang tidak mampu mengembalikan, dalam bacaan Injil mengundang makan orang yang tidak akan pernah mengundang balik karena miskin, dan menderita, bukan karena pelit lho ya.
Mengundang saudara yang kekurangan itu selain menjadikan kita tidak berharap mendapatkan balasan, juga kita akan belajar untuk tulus. Jiwa yang tulus ini membedakan dengan kebiasaan duniawi yang biasanya mengharapkan mendapatkan hal yang sama. Jangan salah, ada pula yang memberikan kolekte atau derma itu demi mendapatkan yang lebih banyak juga. Ini banyak terjadi karena terpengaruh budaya dan kebiasaan. Hal yang perlu diubah, bahwa di dalam Tuhan dan Gereja bukan demikian.
Saudara terkasih, hari ini kita juga merayakan Santo Karolus Boromeus, seorang Kardinal dan Uskup Agung Milan. Pamannya adalah Paus Pius VI. Berasal dari keluarga bangsawan, ia belajar hukum sipil sekaligus hukum kanonik. Kehidupan sekuler sekitarnyalah yang membuat ia mengubah haluan yang sekuler dan akhirnya menjadi imam.
Ia banyak mendirikan seminari dan rumah sakit. Ia juga membantu memperbaiki dan menyempurnakan buku Misa dan buku Brevier, atau buku panduan ibadat harian untuk biarawan-biarawati.
Ekaristi dan Yesus menjadi pusat bagi hidup Karolus, dan ia menyatakan semua mampu ia lalui karena bersama Yesus dengan menyantap Ekaristi sesering mungkin. Mendekati meja perjamuan secara tidak layak juga menjadi nasihat bijaknya. Selain pribadi Ekaristik, ia juga pecinta kaum miskin dan sederhana. BD.eLeSHa.

Minggu, 03 November 2019

Pertobatan Mendasar


HARI MINGGU BIASA PEKAN XXXI (H)
Keb. 11:22-12:2
Mzm. 145:1-2,8-9,10-11
2 Tes. 1:11-2:2
Luk. 19:1-10




Keb. 11:22-12:2

11:22 Sebab seperti sebutir debu dalam neraca, demikian seluruh jagat raya di hadapan-Mu, atau bagaikan setetes embun pagi yang jatuh ke bumi.
11:23 Akan tetapi justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat.
11:24 Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan.
11:25 Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara, kalau tidak Kaupanggil?
11:26 Engkau menyayangkan segala-galanya sebab itu milik-Mu adanya, ya Penguasa penyayang hidup!
11:22 Sebab seperti sebutir debu dalam neraca, demikian seluruh jagat raya di hadapan-Mu, atau bagaikan setetes embun pagi yang jatuh ke bumi.
11:23 Akan tetapi justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat.
11:24 Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan.
11:25 Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara, kalau tidak Kaupanggil?
11:26 Engkau menyayangkan segala-galanya sebab itu milik-Mu adanya, ya Penguasa penyayang hidup!
12:1 Roh-Mu yang baka ada di dalam segala sesuatu.
12:2 Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit, dan Kautegur dengan mengingatkan kepada mereka dalam hal manakah mereka sudah berdosa, supaya percaya kepada Dikau, ya Tuhan, setelah mereka menjauhi kejahatan itu.



2 Tes. 1:11-2:2

1:11 Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu,
1:12 sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
2:1 Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara,
2:2 supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba


Luk. 19:1-10

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."



Pertobatan Mendasar

Saudara terkasih, hari ini bersama Bunda Gereja merayakan dan merenungkan sikap pertobatan yang mendasar. Bagaimana Zakeus menjadi pribadi baru di dalam kehidupannya. Dari pemungut cukai menjadi murid Tuhan. Beberapa hal patut kita renungkan.
Upaya mengenal Yesus lebih dalam, dalam upayanya tahu siapa Yesus, Zakeus yang merasa dan tahu diri dia itu tidak tinggi, memanjat pohon. Ada usaha memanjat pohon sebagai upaya mengatasi kelemahan dan keterbatasan manusiawi. Jelas tahu diri, tahu batas, dan kemudian memperbaiki diri, perubahan sikap mendasar.
Kitapun perlu belajar, menyadari kerapuhan kita, mengakui keterbatasan kita, dan mencari untuk mengenal Allah agar mendapatkan bimbingan Roh Kudus sehingga menjadi pribadi baru yang lebih berkenan pada Allah dan juga sesama.
Sapaan dan panggilan Tuhan, tidak kalah pentingnya adalah adanya sapaan dan panggilan Tuhan. Tuhan tidak pernah melupakan, melepaskan, dan membiarkan anak-anak-Nya terlepas dari kesatuan dengan kasih karunia-Nya. Bagaimana Yesus menyapa dan malah makan di rumah pemungut cukai. Penghargaan yang besar untuk menyambut kembalinya si anak hilang.
Membagikan yang dimiliki, mengembalikan yang pernah dirampas, termasuk konteksnya adalah kebebasan orang lain. Adanya perubahan radikal. Bagaimana si pemungut cukai yang biasa mengutip berlebihan, kini berjanji untuk mengembalikan, bahkan berkali lipat. Usaha memperbaiki diri dengan tindakan nyata. Tidak semata kata menyesal, ampun, dan kata-kata model sejenis, ini tindakan.
Kita sebagai bangsa sering menerima suguhan bagaimana para pelaku kejahatan menggunakan atribut religius, air mata, dan kadang juga kata-kata kesalehan, namun kembali jatuh pada dasar yang sama. Di sinilah kisah Injil itu mendapatkan faktualisasi pentingnya.
Melakukan silih. Pertobatan selain berbalik arah adalah adanya silih, tindakan nyata sebagai bukti bahwa ia sudah berubah. Melakukan tindakan untuk penyesalannya. Hal ini bisa demikian banyak jenisnya. Ada membantu fakir miskin, mendukung aksi sosial dan demikian banyak varian yang dapat kita lakukan, sesuai dengan kemampuan kita.
Konsekuensi pertobatan, doa, derma, dan puasa.  Kita pun dapat melakukan dengan doa sesal dan juga syukr bahwa kita diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Doa yang membuat kita mampu berubah dan berbenah.
Derma, sebagai tindakan nyata perubahan, banyak hal bisa kita lakukan untuk dapat melakukan derma ini. Begitu luas dan banyaknya ladang kita berderma. Jika tidak ada uang, kita bisa bederma dengan kemampuan, tangan, atau pemikiran kita.
Puasa itu untuk didermakan, bukan untuk diet atau ngirit semata. Puasa, bukan untuk urusan diet, namun intensinya adalah uang dari uang makan kita pergunakan untuk melakukan aksi nyata. Bahwa menjadikan lebih kurus dan lebih sehat itu juga tidak salah. Intensi utamanya adalah mengurangi pengeluaran untuk aksi pertobatan. BD.eLeSHa.

Sabtu, 02 November 2019

Hidup Sejati


PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
2 Mak. 12:43-46
Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,67,8
1 Kor. 15:20-23
Yoh. 6:51-58



2 Mak. 12:43-46

12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.


1 Kor. 15:20-23

15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
15:22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
15:23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.


Yoh. 6:51-58

6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."



Hidup Sejati

Saudara terkasih, hari ini kita memperingati PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN, dogma Gereja Katolik memiliki posisi “antara” di mana banyak anggapan dan umum adalah surga dan neraka. Dalam Gereja Katolik memiliki iman akan api penyucian, di mana posisi tidak sekejam neraka namun belum juga layak ada di surga.
Neraka itu keterpisahan total terhadap Kasih Allah Yang Mahakasih itu. Keterpisahan total karena kedosaan yang tidak sempat diakukan sehingga tidak ada pengampunan dari Kerahiman Allah. Atau  kedosaan berat secara sengaja dan berulang tanpa ada sesal apalagi pengakuan. Di sinilah tempat dosa, dan sangat kecil orang beriman “terperosok” ke dalam neraka ini.
Surga, tempat bahagia, bersama Bapa Yang Mahakasih, kesatuan utuh dengan Mahacinta. Bayangkan saja dengan orang yang mencintai saja sudah menyenangkan, ini dengan Yang Mahacinta, sumber atas sumber segala sumber kebaikan. Keadaan dan tempat yang paling menyenangkan dan dalam gambaran duniawi tidak akan ada yang bisa melukiskannya.
Keadaan bahagia dan selamat sejati itu tidak ada dosa sama sekali, jadi tidak perlu bantuan doa siapa-siapa. Untuk apa lagi coba, malah mereka yang mendoakan kita, karena posisi mulianya.
Nah yang ada “posisi” ketiga, di mana masih “memiliki utang, sakit, dan luka-luka” yang perlu disembuhkan, dilunasi, dan diselesaikan. Itulah antara, di mana namanya Api Penyucian. Di mana orang-orang berdosa, masih memiliki tanggungnya menyelesaikannya sehingga layak masuk kerajaan surga.
Di sinilah peran yang masih hidup mendoakan mereka agar bisa “segera” menyelesaikan urusannya. Mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dan inilah yang memberikan gambaran pada kita, jika masih ada ikatan, masih ada relasi yang tidak terputus dengan saudara-saudari kita.
Kematian itu bukan akhir segalanya. Kematian adalah kehidupan kekal  abadi, perubahan dari hidup sementara di dunia ini. kebangkitan Kristus yang membawa keyakinan kita lebih kuat dan tebal, bahwa kematian sudah dikalahkan. Kehidupan abadi dan yang sejati pasti ada. Di sinilah iman kita kepada Yesus menemukan esensi yang senyatanya. Buat apa ikut Yesus jika sama saja mati bukan? Yesus Sang Pemenang yang telah mengalahkan maut dan bangkit dengan mulia. BD.eLeSHa.

Jumat, 01 November 2019

Para Kudus Bukan Orang Sempurna


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)
Why. 7:2-4,9-14
Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
1 Yoh. 3:1-3
Mat. 5:1-12



Why. 7:2-4,9-14

7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut,
7:3 katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!"
7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.
7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,
7:12 sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"
7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?"
7:14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba


1 Yoh. 3:1-3

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.


Mat. 5:1-12

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."



Para Kudus Bukan Orang Sempurna

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Bersama Bunda Gereja kita merenungkan bagaimana peran dan keberadaan Orang  Kudus itu bagi kita dan Gereja. Orang Kudus yang biasa dikenal dengan Santo atau Santa, adalah anggota Gereja yang sudah berbahagia di surga, mereka sudah selesai tugasnya di dunia ini dan kembali berbahagia bersama Bapa di Surga Abadi-Nya.
Orang Kudus telah menyelesaikan tugasnya sepanjang di dunia sebagai kaki tangan dan alat Tuhan Allah dengan sebaik-baiknya. Laku mereka sesuai dengan rencana dan rancangan Tuhan. Mereka bisa melakukan apa yang Tuhan Allah kehendaki dengan sebaik-baiknya. Mereka menjadi saksi kehadiran Allah di dunia.
Apakah mereka sempurna? Tidak. Mereka tetap manusia biasa yang jatuh pula kadang-kadang dalam dosa dan kelemahan manusiawi. Namun mereka mampu bangkit dan mengatasinya. Mereka menjadi pribadi yang tangguh. Ada yang mengorbankan nyawanya demi Gereja dan Tuhan Allah, merekalah martir Tuhan. Curahan darah bagi perkembangan Gereja.
Ada anak-anak Allah anggota Gereja yang berjuang mempertahankan iman dengan membela ajaran-ajaran Gereja dengan melahirkan teolog dan pujangga Gereja dengan rumusan-rumusan mereka yang memberikan pengajaran yang penting bagi Gereja sepanjang zaman. Sama pentingnya dengan yang memberikan kesaksian dengan pencurahan darah mereka.
Demikian banyak saksi-saksi iman, cara mereka memberikan kesaksian juga berbeda-beda. Ada yang menderita dengan penganiayaan. Pribadi lain mengelana dunia untuk mewartakan khabar gembira dan karya keselamatan. Semua adalah kepanjangan tangan dan kaki-kai Tuhan Allah di tengah dunia. Mereka bekerja tanpa pamrih, tidak meningat nama baik, ketenaran pribadi, atau berpikir akan mendapatkan gelar Santo atau Santa. Tidak ada yang demikian.
Gereja sangat hati-hati, cermat, dan tidak tergesa-gesa memberikan gelar Santa atau Santo.  Penelitian yang mendalam atas karya mereka, kehidupan di dalam membina iman, dan juga dampak setelah kematiannya. Mukjizat atas bantuan doa calon Santo dan Santa juga menjadi salah satu syarat. Hal yang tidak mudah karena menyangkut banyak hal.
Saudara terkasih, kita patut bersyukur memiliki teladan, bahkan juga pihak yang membantu kita berdoa sepanjang masa. Kita masih berjuang dan berziarah yang sangat mungkin jatuh perlu dukungan dari yang sudah mendahului. BD.eLeSHa.