Senin, 07 Oktober 2019

Sesama dan Belas Kasihan


Pw. SP Maria Ratu Rosario (P)
Yun. 1:1-2:1-2
Yun.2:3,4,5,8
Luk. 10:25-37




Yun. 1:1-2:1-2

1:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."
1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."
1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
1:4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.
1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.
1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa."
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.
1:8 Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?"
1:9 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan."
1:10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" -- sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.
1:11 Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora."
1:12 Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."
1:13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.
1:14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki."
1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.
1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.
2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,
2:2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.


Luk. 10:25-37

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"



Sesama dan Belas Kasihan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merayakan SP Maria Ratu Rosario. Dalam bacaan Injil Tuhan mengajak kita merenungkan belas kasihan dan sesama kita. Bagaimana orang itu melihat sesama. Sering sesama kita itu digambarkan dalam kesamaan kulit, agama, pendidikan, atau banyak hal lainnya yang berciri lahiriah semata.
Tidak heran dulu di Afrika Selatan ada yang namanya apartheid, di mana kulit hitam sebagai pemilik dan penduduk asli dipisahkan dengan kulit putih sebagai pendatang dan penjajah. Amerika Serikat yang sering mengaku pusat segala sesuatu itu pun baru saja membiasakan semua membaur. Dulu ada bis dan kafe khusus. Sehingga orang kulit berwarna tidak boleh dengan kulit putih.
Bangsa kita sedang diupayakan untuk menyamakan, yang sesama itu adalah kelompok tertentu. Di luar itu adalah liyan. Ini bukan semata soal agama, namun soal jalan pemahaman agama. Miris karena seagamapun dicap berbeda jika tidak sama pemikiran dengan kelompok itu.
Dalam bacaan Injil Tuhan mengajarkan bahwa sesama itu adalah orang yang mau mengulurkan tangan jika sesamanya menderita.  Sesama itu bukan imam, bukan pula orang yang kaya. Sesama itu justru orang asing, orang yang dicap tidak berbudaya. Jadi tidak ada pembeda mau imam, orang berbudaya atau pejabat baik kaya atau miskin, ketika mereka abai akan kemanusiaan.
Kemanusiaan itu mengalahkan segala sesuatu ketika memang berkenan untuk melakukannya. Orang diajak untuk  menjembatani perbedaan dan menemukan persamaan bukan malah sebaliknya. Perbedaan itu kodrati dan itulah yang menjadi tugas kita menemukan persamaannya. Sesama di dalam kemanusiaan.
Saudara terkasih, tentu kita sangat akrab dan sering melakukan devosi yang paling mengumat ini. rosario, penghormatan kepada Bunda Maria. Awalnya adalah tugas bruder yang buta huruf dan tidak bisa mendaraskan Mazmur dalam ibadat harian, ditugaskan mengulang-ulang doa salam Maria sejumlah 150  sebagaimana jumlah Mazmur.
Dengan berbagai  pertimbangan disederhanakan menjadi tiga peristiwa dengan masing-masing peristiwa 50 doa Salam Maria. Dalam zaman modern tambah lagis atu peristiwa. Tidak lagi berdasar dari jumlah Mazmur, namun peristiwa-peristiwa Yesus dan Maria. BD.eLeSHa.


Minggu, 06 Oktober 2019

Iman, Kerendahan Hati, dan Pelayanan


HARI RAYA MINGGU BIASA PEKAN XXVII (H)
Ha. 1:2-3,2:2-4
Mzm. 95:1-2,6-7,8-9,
2 Tim. 1:6-8,13-14
Luk. 17:5-10



Ha. 1:2-3,2:2-4

1:2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
1:3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.
2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.


2 Tim. 1:6-8,13-14

1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita
2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya


Luk. 17:5-10

17:5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
17:6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."
17:7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."



Iman, Kerendahan Hati, dan Pelayanan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan yang berbicara mengenai iman, kerendahan hati, dan pelayanan. Ketiganya adalah ketersalingan dan saling mengait. Satu sama lain menjadi prasyarat. Buah dari kesemuanya itu adalah jelas, nyata, dan konkret. Iman akan membuahkan kerendahan hati, jika pribadi rendah hati akan melayani dengan sepenuh jiwa, dan tanpa pamrih.
Iman, sebagai jawaban atas kasih karunia, atas tawaran karya keselamatan Allah, atas pewahyuan Allah, dan manusia merespons, menanggapi, dan menjawab itu. Tanggapan bernada positif, menerima, dan bukan menolak, apalagi menyangkal. Allah yang mewahyukan diri, menyapa manusia, memperkenalkan diri, mau membawa keselamatan, manusia bisa menolak karena kebebasan yang dianugerahkan Allah, bagi manusia bisa berlaku dua, menerima atau menolak. Nah iman adalah menerima dengan sadar pewahyuan itu.
Iman yang baik, mendalam, dan berdaya guna akan membawa orang untuk rendah hati. Rendah hati adalah buah dari keberimanan seseorang. Aneh, janggal, lucu, dan sangat tidak pas, jika orang mengaku beriman, namun perilakunya arogan, sombong, selalu merasa benar, dan menghakimi orang atau pihak lain hanya dengan sedikit saja data. Rendah hati juga berciri kesediaan untuk berbuat baik, mengulurkan tangan, dan terbuka pada masukan, serta  kritik yang membangun.
Rendah hati pun perlu yang namanya ketulusan. Tulus dalam segala hal, dalam pelayanan dan perbuatan baik. Prinsip ketiga, pelayanan buah dari rendah hati. Di mana orang atau pribadi melayani dengan segenap jiwa dan raga, namun menafikan pamrih. Jangan salah, ada budaya, ada kebiasaan, ada tabiat berbuat baik agar mendapatkan balasan. Seolah itu adalah logis, sering orang mengedepankan prinsip tebar tuai, seolah ini biasa saja, normal, wajar, sehingga biasa menjadi keyakinan termasuk orang beriman. Tuhan tidak menghendaki sikap demikian. kehendak Tuhan adalah kita memberi, berbuat baik, dan pelayanan dengan tulus. Ketulusan itu tidak berharap akan mendapatkan balasan, balik, apalagi memperoleh lebih banyak.
Prinsip do ut des, memberi agar diberi, itu adalah pamrih. Tuhan mengatakan biar Tuhan Allah di surga yang membalaskannya. Pelayanan adalah sudah konsekuensi logis atas iman dan pewahyuan yang kita terima. Kita tidak lagi layak berharap mendapatkan imbalan.
Saudara terkasih, tidak jarang kita memiliki semangat mengebu-gebu untuk melayani, berbuat baik, melakukan ini dan itu, namun masih terselip demi mendapatkan sesuatu. Rajin devosi, berdoa, atau misa agar lulus ujian, agar mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, agar mendapatkan pekerjaan yang baik. Itu semua baik, namun alangkah lebih baik, jika tidak ada embel-embel itu. Tuhan tahu kog, Tuhan paham apa yang menjadi kebutuhan kita. Pemurnian itu terus menerus dan tidak akan usai dalam hidup kita. Kita perlu iman. BD.eleSHa.

Sabtu, 05 Oktober 2019

Bersuka Cita Penuh Karena Kerajaan Surga di Tangan



Sabtu Biasa Pekan XXVI (H)
Bar. 4:5-12,27-29
Mzm. 69:33-35,36-37
Luk. 10:17-24




Bar. 4:5-12,27-29

4:5 Kuatkanlah hatimu, hai bangsaku, yang membawa nama Israel!
4:6 Kamu telah dijual kepada bangsa-bangsa lain, tetapi tidak untuk dibinasakan. Karena telah memurkakan Allah maka kamu diserahkan kepada para lawan.
4:7 Sebab Pembuatmu telah kamu marahkan, dengan mempersembahkan korban kepada setan, bukannya kepada Allah.
4:8 Pengasuhmu telah kamu lupakan, yakni Allah kekal, dan hati Yerusalem, dayahmupun telah kamu dukakan.
4:9 Melihat kemurkaan Allah mendatangi diri kamu maka Yerusalem berkata: "Dengarlah, hai sekalian tetangga Sion! Allah telah mengirim kepadaku kesedihan besar."
4:10 Sebab anak-anakku yang laki-laki dan perempuan kulihat tertawan, sebagaimana yang telah dikirimkan Yang Kekal kepada mereka.
4:11 Mereka telah kuasuh dengan sukacita, tetapi sekarang kulihat pergi dengan tangisan dan sedih hati.
4:12 Janganlah seorangpun bersukaria oleh karena diriku, seorang janda yang telah ditinggalkan banyak anak. Karena dosa anak-anakku aku menjadi kesepian, sebab mereka telah berpaling dari hukum Taurat Allah
4:27 Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Allah; Dia yang mengirim bencana itu akan teringat kepadamu pula.
4:28 Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin.
4:29 Memang Dia yang telah mengirim segala bencana itu kepada kamu akan mengirim pula sukacita abadi bersama dengan penyelamatanmu.


Luk. 10:17-24

10:17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."
10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
10:19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
10:20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."
10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.
10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Bersuka Cita Penuh Karena Kerajaan Surga di Tangan

Saudara terkasih hari ini kita bersama Bunda  merenungkan sabda Tuhan mengenai suka cita dan perutusan. Sore kemarin iseng-iseng membuat status dalam media sosial, bertanya boleh tidak sih berdoa itu mengungkapkan kekecewaan pada Tuhan. Tanggapan beragam, ada yang merespons serius dengan baik dan normatif, ada yang mengira sedang kecewa atau patah hati, dan seterusnya. Hal yang wajar.
Sering kita menjadi bangga, riang gembira, dan kecewa jika apa yang kita kehendaki tercapai dan sebaliknya. Capaian di dunia, ketenaran, viral, atau kepopuleran kadang dengan hal yang tidak masuk akal sekalipun dilakukan, atas nama tenar dan populer. Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya demikian. Ada pula yang bermanfaat dan bahkan menghasilkan hal-hal baik serta positif.
Menjadi salah dan keliru ketika capaian kita itu dengan cara merugikan pihak lain, melakukan fitnah, dan mengabaikan kebenaran dan keadilan. Hal yang sering abai menjadi perhatian, termasuk pegiat rohani dan aktifis gereja. Menjadi aktifis, mengikuti aneka kegiatan di gereja bukan demi melayani umat dan Tuhan, namun agar mendapatkan sesuatu. Pelayanannya tidak salah, namun masih terselip kekeliruan yang tidak selayaknya jika diterus-teruskan.
Salah satu indikasi kemanusiaan, duniawi yang menang, adalah jika kita kecewa, merasa tidak dihargai, menilai direndahkan ketika mendapatkan apa yang tidak kita harapkan. Tiada pujian misalnya, atau balasan yang tidak setimpal.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita belajar, bagaimana para murid bersuka cita karena berhasil mengalahkan setan. Benar, boleh, dan layak untuk bersuka cita karena pelayanan mereka berhasil. Namun Tuhan mengajak lebih jauh dari itu semua. Keberhasilan duniawi itu belum cukup, jauh lebih penting dan mendasar adalah mereka itu mendapatkan tempat khusus dalam surga bersama Bapa. Rasa dan ungkapan syukur mereka tidak salah.
Tuhan mengajak mereka lebih merohanikan karya para murid. Murid boleh bersuka cita dapat mengalahkan setan. Namun tidak berhenti pada itu semua. Ada kasih karunia, ada keterlibatan Tuhan Allah, ada peran penguat yang membuat mereka mampu. Konsekuensi anugerah yang lebih besar, jauh lebih penting untuk mereka lihat dan sadari. Tuhan pun mengajak kita tidak puas diri dengan capaian duniawi ini, namun lebih dalam lagi, bagaimana keberadaan kita kelak dalam keabadian. BD.eLeSHa.

Jumat, 04 Oktober 2019

Iman, Mendengarkan, Percaya, dan Melakukan


Pw. S. Fransiskus Asisi (P)
Bar. 1:15-22
Mzm. 79:1-2,3-5,8-9
Luk. 10:13-16




Bar. 1:15-22

1:15a Katakanlah sebagai berikut:
1:15b Keadilan ada pada Tuhan, Allah kita, sedangkan malu muka pada kami, sebagaimana halnya hari ini, yaitu: pada orang-orang Yehuda dan penduduk Yerusalem,
1:16 pada sekalian raja kami, para pemimpin, para imam dan nabi serta pada nenek moyang kami.
1:17 Memang kami telah berdosa kepada Tuhan.
1:18 Kami tidak taat kepada-Nya dan tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, untuk mengikuti segala ketetapan Tuhan yang telah ditaruh-Nya di hadapan kami.
1:19 Semenjak hari Tuhan membawa nenek moyang kami keluar dari negeri Mesir hingga dengan hari ini kami tidak taat kepada Tuhan, Allah kami. Sebaliknya Tuhan telah kami alpakan karena tidak mendengarkan suara-Nya.
1:20 Dari sebab itu maka melekatlah kepada kami semua bencana dan laknat yang telah diperintahkan Tuhan kepada Musa, hamba-Nya, waktu nenek moyang kami dibawa-Nya keluar dari negeri Mesir untuk dianugerahkan-Nya kepada kami suatu tanah yang berlimpah susu dan madunya, sebagaimana halnya hari ini.
1:21 Tetapi kami tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, sesuai dengan firman para nabi yang telah Tuhan utus kepada kami.
1:22 Bahkan kami telah pergi berbakti kepada allah lain, masing-masing menurut angan-angan hati jahatnya, dan kami melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan, Allah kami.


Luk. 10:13-16

10:13 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
10:14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
10:15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!
10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.



Iman, Mendengarkan, Percaya, dan Melakukan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merayakan Santo Fransiskus Asisi, dan dalam bacaan Injil kita merenungkan firman Tuhan mengenai iman kepercayaan dan mendengarkan Sabda dan pengajaran Tuhan.
Kali ini kita mendapatkan bagian Tuhan Yesus yang lain, kejengkelan, kemarahan, dan kata-kata keras. Cenderung memperlihatkan betapa kecewanya Tuhan menghadapi kedegilan hati mereka. Satu yang patut kita syukuri adalah, kita, Gereja Katolik tidak berfokus pada pengajaran yang ala seperti ini. Kata-kata keras, pernyataan kekecewaan lugas, dan juga dampak seolah kutukan. Hal  model demikian meskipun ada bukan yang dominan dan menjadi ketakutan atau menakut-nakuti umat atau pihak lain.
Fakta dan itu kenyataan dan hal yang masih dihadapi Gereja hingga hari ini, namun kasih karunia Allah dan berkat melimpah yang menjadi pedoman hidup beriman kita. Sikap percaya yang akan menjauhkan kemungkinan kita mendapatkan hukuman.
Saudara terkasih, salah satu pengikut setia dan penganut kata-kata Yesus yang lembut, penuh kuasa, adalah Fransiskus Asisi. Fransesko adalah putera seorang pedagang kain dan ibu yang berasal dari bangsawan Perancis.
Didikan mewah dan manja dari bapaknya menjadikannya pribadi yang gemar pesta dan bermewah-mewah. Suatu hari bersama-sama temannya ia menjadi tentara dan berperang melawan daerah tetangganya.
Ia menjadi tawanan, setahun dalam tahanan ia menderita sakit, bahkan usai dibebaskan. Keadaan itu yang mengubahnya. Fransiskus tidak lagi tertarik kemewahan dan pesta pora. Malah berubah dengan banyak waktunya untuk kegiatan di gereja, mengunjungi orang sakit, menyantuni orang miskin. Perubahan yang mengagetkan banyak orang.
Salah satu karya fenomenalnya adalah mengenai kehendak Tuhan memperbaiki gedung gereja. Dari sana ia menjual kain-kain dagangan bapaknya. Dan bapaknya yang marah membuat ia makin radikal dengan melepaskan baju yang ia pahami sebagai milik sang bapak. Kemiskinan absolut sebagaimana kehendak Bapa di dalam mengikuti jalan-Nya, dilakukan oleh Fransiskus dengan apa adanya, dan kesungguhan, dalam arti yang sesungguhnya.
Saudara terkasih, cara hidup sederhana, bahkan miskin, dan menggunakan bahasa puitis dan indah itu membuat Fransiskus mendapatkan banyak pengikut. Ia mendirikan Ordo Fransiskus dan menjadi besar. Kesederhanaannya dalam rupa ia menjadi diakon, bukan seorang imam. Pengaruhnya sangat besar dengan cara mendengarkan dan menjalankan kehendak Tuhan. BD.eLeSHa.

Kamis, 03 Oktober 2019

Panggilan, Perutusan, dan Salib


Kamis Pekan Biasa XXVI (H)
Neh. 8:1-4a,5-6,7b-12
Mzm. 19:8-9,10,11
Luk. 10:1-12



Neh. 8:1-4a,5-6,7b-12

8:1 Ketika tiba bulan yang ketujuh, sedang orang Israel telah menetap di kota-kotanya,
8:2 maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.
8:3 Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti.
8:4 Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti.
8:5 Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.
8:6 Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.
8:7 Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.
8:8 Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.
8:9 Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
8:10 Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!", karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.
8:11 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"
8:12 Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati


Luk. 10:1-12

10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.
10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:
10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.
10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."



Panggilan, Perutusan, dan Salib

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda Tuhan mengenai panggilan, perutusan, dan salib. Panggilan umum, panggilan bagi semua orang, panggilan dan juga perutusan untuk seluruh anak-anak Allah atas rahmat baptisan. Tanggung jawab yang kadang kita abaikan, karena merasa bukan tanggung jawabnya, toh ada pastor dan para katekis serta lainnya.
Dalam bacaan Injil Tuhan bersabda, bahwa IA mengutus para murid seperti domba ke tengah  kawanan serigala. Apakah artinya? Jelas dengan gamblang terbaca, keadaan sangat susah, tidak mudah, dan nyawa sebagai taruhan. Domba masuk dalam kawanan serigala, bisa bertahan saja sudah bagus. Apakah dengan demikian, kita diutus untuk mati konyol dan tidak ada harapan? Tidak. Sangat tidak demikian kehendak Tuhan. Tuhan  mengutus ke tengah mara bahaya, sekaligus membekali kita dengan kasih karunia-Nya yang takk terbatas.
Penolakan, pengusiran, dan aneka kesulitan lain akan dengan amat sangat, itu mungkin terjadi. Keadaan  tidak pasti, ancaman, ataupun teror sangat mungkin menjadi bagian utuh atas hidup perutusan Tuhan.
Jangan membawa bekal, kita diajak semata-mata mengandalkan belas kasih Tuhan dan kasih karunia-Nya yang tak terbatas itu. Melepaskan diri dari  segala apapun yang tidak menjadi bagian tugas perutusan kita.
Kadang, kita malah lebih berat menjalankan misi kita sendiri, mau tenar, hendak pamer, atau malah  berbisnis dengan apa yang Tuhan perintahkan. Hal-hal ini yang perlu kita lepaskan, perlu kita jernihkan, murnikan, dan singkirkan dari perutusan kita.
Satu rangkaian utuh, bahwa kita dipanggil, diutus, dan itu dengan salib. Salib sebagai penolong, sekaligus sebagai konsekuensi logis atas panggilan kita. Salib sebagai penolong adalah, dari saliblah kita menimba kekuatan. Salib kita belajar rendah hati, berdaya juang, dan rela berkorban.
Sisi lain, salib adalah konsekuensi di mana derita, kesulitan, dan penolakan, bahkan kehinaan yang tidak bisa dipisahkan. Godaan untuk meninggalkan, menyingkirkan, dan mengurangi konsekuensi salib ini  sering hinggap. Kesulitan untuk mencari kerja karena nama baptis, atau dalam konteks luas mendirikan gedung gereja, kemudian bekerja sama dengan penguasa jahat, itu sangat mungkin terjadi, jika kita lupa, abai, dan terlena bahwa konsekuensi salib itu ketidakmudahan.BD.eLESHa.

Rabu, 02 Oktober 2019

Malaikat Pelindung Pribadi


Pw. Para Malaikat Pelindung (P)
Kel. 23:20-23
Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11
Mat. 18:1-5,10




Kel. 23:20-23

23:20 "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.
23:21 Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.
23:22 Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu.
23:23 Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka.


Mat. 18:1-5,10

18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
18:10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.




Malaikat Pelindung Pribadi

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan firman Tuhan mengenai Malaikat Pelindung. Salah satu keyakinan Gereja Katolik adalah setiap orang memiliki Malaikat Pelindung. Berbahagialah kita sebagai anak-anak Allah dalam Gereja Katolik karena memiliki Roh Kudus dan Malaikat Pelindung yang melindungi kita.
Sering bukan dalam kehidupan sehari-hari kita itu merasakan tidak bisa memikirkan apapun sebagai jalan keluar atau solusi atas masalah kita. Semua jalan dan kemungkinan seolah sudah tertutup rapat. Putus asa yang datang, namun tiba-tiba datang rekan, sahabat, atau kerabat kita mengulurkan tangan. Itulah karya Allah melalui Malaikat Pelindung dengan menggerakan rekan atau saudara kita. Atau dalam contoh lain, ketika kita sudah tidak  bisa apa-apa, tiba-tiba kita diajak membuka Kitab Suci  dan mendapatkan inspirasi. Nurani digerakan Roh Kudus dan Malaikat Pelindung kita.
Atau ada yang pernah membaca, atau menyaksikan, atau bahkan mengalami sendiri. Secara nalar tidak selamat karena sakit mengerikannya kecelakaan, toh tetap sehat tidak kurang suatu apapun. Sering kita menilai itu sebagai kebetulan atau keajaiban. Tidak ada kebetulan, itu adalah karya Malaikat Pelindung kita. Malaikat yang menjaga kita setiap waktu.
Kita selain tidak boleh mengandalkan yang namanya kebetulan, meyakinipun tidak patut, selain itu juga perlu menghormati setiap insan, kemanusiaan pihak lain, siapapun mereka. Mengapa? Karena mereka itu juga memiliki Malaikat Pelindung. Penghormatan akan keberadaan saudara kita.
Kita juga perlu menghormati Malaikat Pelindung dengan sikap dan suka memilih melakukan hal-hal yang baik. Malaikat Pelindung tidak mengekang kita, kita yang diberi kebebasan tentu haru bijak agar tidak salah mengambil tindakan jahat atau salah. Itu juga wujud menghormati kasih karunia Allah melalui Pelindung kita.
Dalam banyak segi dan hidup, sering kita takut, cemas, khawatir, dan galau, banyak sebab dan alasan untuk itu. Jangan lupa, ada Malaikat Pelindung yang tahu apa yang kita perlukan. IA yang akan menyampaikan kepada Allah Bapa  di surga. Pun, jangan kita menjadi berlebihan, karena Malaikat Pelindung itu tidak nampak. Ia Penjaga kita itu tahu segalanya atas hidup kita, baik ataupun buruk. Dan itu pilihan bebas yang perlu kita  pertanggungjawabkan. BD.eLeSHa.

Selasa, 01 Oktober 2019

Sikap dan Sifat Kanak-kanak


Pesta S. Theresia dr Kanak-kanak Yesus, Prw, PujG, PldMisi (P)
Yes. 66:10-14
Mzm. 131:1,2,3
Mat. 18:1-5



Yes. 66:10-14

66:10 Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya!
66:11 supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas.
66:12 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.
66:13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem.
66:14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.


Mat. 18:1-5

18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”



Sikap dan Sifat Kanak-kanak

Saudara terkasih, hari ini  Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman Allah mengenai kualitas anak-anak. Peringatan Pesta Teresa dari Kanak-Kanak Yesus mengajak kita memiliki kualitas dan sikap kanak-kanak. Kesediaan anak untuk bergantung sepenuhnya kepada otoritas dewasa. Keberadaan anak yang sepenuhnya percaya, yakin, dan bertaut pada pihak orang tua atau yang dewasa.
Anak-anak itu bergantung pada pihak dewasa. Mengapa? Karena tahu, naluri, dan kemampuannya yang memang terbatas. Hal yang sama perlu kita miliki di dalam mengabdi pada Tuhan. Kita ini bukan apa-apa tanpa keberadaan Tuhan. Bergantung dan rendah hati, tahu diri terbatas, dan itu jelas ada pada anak-anak yang patut kita lakukan sampai kapanpun.
Percaya, ini juga lagi-lagi adalah sifat dan sikap anak. Coba minta anak melakukan apa saja, jarang membantah, menolak, atau menunda. Mereka percaya bahwa apa yang diminta oleh pihak lain, otoritas yang lebih dewasa itu pasti baik, benar, dan tidak menyesatkan. Miris ketika hari-hari ini kita menyaksikan anak-anak sekolah menengah dibayari untuk demo. Penyesat ini khas pihak dewasa. Anak-anak pasti percaya.
Sikap percaya kepada kehendak, jalan, rencana Tuhan Allah itu adalah penting. Sikap dasar pribadi beriman. Bagaimana ini menjadi ciri pribadi beriman. Mengandalkan Tuhan akan membimbing dan menuntun, itu perlu sikap percaya.
Yakin. Tidak akan ada anak-anak itu ragu. Mereka masih polos, pertimbangan belum banyak dan luas. Nah di sanalah pribadi kita sebagai orang beriman seharusnya demikian. Kita yakin bahwa Tuhan yang akan menyelesaikan apa yang kita tidak tahu dan tidak mampu.
Pribadi yang yakin menunjukkan perilaku dan sikap iman mendalam. Keberanian untuk yakin akan Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup.
Saudara terkasih, pengalama Santa Theresia juga patut kita jadikan renungan dan pelajaran. Bagaimana ia mau dibina Tuhan dan sanggup melaksanakan apapun yang Tuhan kehendaki atas hidupnya. Sikap kanak-kanak yang disematkan dalam namanya memang pantas dan pas.
Kita memiliki pola, teladan, dan model untuk menjadi pribadi beriman, pribadi percaya, dan pribadi yang layak menjadi anak-anak Allah. Kasih karunia Allah yang menuntun kita kepada jalan kebenaran itu. BD.eLeSHa.