Minggu, 08 September 2019

Prosedural, Peraturan, dan Kita


Sabtu Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:21-23
Mzm. 54:3-4,6,8
Luk. 5:1-5



Kol. 1:21-23

1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Luk. 5:1-5

6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"
6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."




Prosedural, Peraturan, dan Kita

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan betapa hidup kita sering mengedepankan prosedur, hukum, dan legalitas di atas kemanusiaan. Acap kita saksikan orang takut polisi dari pada mengenakan helm demi keamanan sendiri. Atau orang takut dihukum sehingga tidak  lupa menaati hukum dan peraturan.
Benar bahwa taat hukum itu tidak buruk, namun juga tidak cukup baik ketika berhadapan dengan kemanusiaan. Sering kita merasa takut salah, takut melakukan segala sesuatu karena ini boleh dan tidak. Ini jelas bahwa peraturan yang membelenggu, bukan membebaskan.
Peraturan itu dibuat demi manusia. Manusia itu memiliki kebebasan, namun toh kebebasan itu bersinggungan, beririsan juga dengan kebebasan pihak lain. Nah demi menjamin kebebasan saya dan kebebasan Anda itu tidak saling bertabrakan, dan bahkan saling merugikan, maka ada yang namanya peraturan. Taat aturan jelas akan membantu orang hidup tertib dan menjamin kebebasan bersama.
Namun jangan kemudian demi peraturan itu malah membuat orang menderita. Contoh  berkali ulang kita saksikan, bagaimana orang miskin mengambil kayu rencek milik perhutani harus dihukum. Hakim tidak bisa membenarkan tindakan itu dengan membebaskannya, namun sejatinya pihak kepolisian dan kejaksaan yang bisa menghentikan dengan kompensasi. Si pengambil  kayu salah, namun demi hidup, apa boleh buat. Si hakim sesuai peraturan juga harus memvonis. Ada kisah bagus ketika hakim memvonis seorang nenek dan kemudian memaksa pengunjuk sidang, termasuk dirinya untuk urunan, membayar denda si nenek, sambil menangis. Ia mengatasi peraturan demi kemanusiaan.
Dalam bacaan Injil hari ini kita belajar, bahwa orang Farisi yang getol taat aturan malah terjebak dengan tambahan-tambahan mereka sendiri. Motivasi mereka juga menjadi penting, bukan demi kebenaran Taurat, namun demi hasrat memalukan dan merendahkan Yesus dan ajaran baru yang bisa merongrong mereka.
Peraturan itu demi manusia. Prosedur itu demi manusia, bukan sebaliknya. Manusia menjadi budak peraturan dan prosuder, apalagi sampai mengalahkan kemanusiaan demi peraturan. Kasih karunia Tuhan itu kemerdekaan dan kebebasan yang perlu dilindungi dengan peraturan agar semua mendapatkan haknya. BD.eleSHa.

Jumat, 06 September 2019

Hidup Baru


Jumat Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:15-20
Mzm. 100:2,3,4,5
Luk. 5:33-39




Kol. 1:15-20

1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.


Luk. 5:33-39

5:33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."
5:34 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
5:35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
5:36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
5:37 Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.
5:38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
5:39 Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."




Hidup Baru

Saudara terkasih hari ini  Bunda Gereaja mengajak kita merenungkan hidup baru di dalam Tuhan. Bagaimana kita hidup itu ada di depan, bukan pada masa lalu, masa depan yang perlu dipersiapkan dan masa lalu itu menjadi peringatan dan pondasi bagi hidup hari ini dan mendatang. Benar bahwa masa lalu itu penting, namun bukan segalanya. Ada porsinya.
Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita perihal hidup baru itu. Yesus adalah hidup baru, harapan yang kita songsong, namun berhadapan dengan kaum kolot, Farisi dan ahli Taurat, Yesus yang membawa perubahan dan hal yaang bru itu adalah sebuah masalah. mereka meliha itu adalah salah tidak semata masalah. Perlu diperbaiki,  mengapa demikian?
Kita pun sering mengalami itu bukan? Ketika kita sudah sekian lama berpola yang sama, susah untuk mengubah. Contoh sederhana saja, kebiasaan mengetik dengan dua jari alias sebelas jari. Itu salah dan tidak efektif apalagi efisien, namun karena sudah kebiasaan, mengubah itu sangat sulit dan merasa buat apa.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita pun sudah mengalami budaya lama, hidup lama yang inefisien, korup, seenaknya sendiri, subsidi, dan  birokrasi gemuk nan lamban. Apa yang akan terjadi jika akan diperbaiki? Penolakan pastinya. Perubahan atas perilaku sekian lama itu pasti akan membawa dampak dan enggan. Bisa-bisa merusak.
Injil mengajarkan kepada kkita. Bagaimana kantong anggur dan anggur itu berperan menjadi pembelajaran. Media untuk memudahkan para pendengar memahami. Kantong anggur yang sudah tua, lama, dan sudah koyak, tentu tidak akan ditambal dengan kain baru, mengapa? Akan merusak semuanya, baik kain lama atau baru sama-sama koyak. Daya rusaknya lebih besar. Yang lama dengan yang lama.
Saudara terkasih, kita sering juga gagal untuk memperbaiki diri. Kita cenderung untuk mempertahankan dan merasa sudah benar apa yang biasa terjadi. Biasa menjadi kata kunci, padahal tidak mesti demikian. Bisa saja yang biasa itu sudah salah atau ada kekeliruan yang perlu dibenahi. Janganlah melakukan karena biasa, namun cermati dan kritis terhadap yang biasa itu. BD.eLeSHa.

Kamis, 05 September 2019

Bertolaklah ke Tempat yang Dalam, dan Pengenalan akan Allah


Kamis Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:9-14
Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6
Luk. 5:1-11




Kol. 1:9-14

1:9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
1:11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,
1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa



Luk. 5:1-11

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.



Bertolaklah ke Tempat yang Dalam, dan Pengenalan akan Allah

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman Tuhan mengenai panggilan Petrus dan kawan-kawan. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Dan kamu akan menjadi penjala manusia. Perintah yang penuh daya kuasa. Ada tanggapan dan respons positif, kesiapsediaan, itu menjadi penting.
Petrus sebagai nelayan, dia tahu dengan baik, tahu  persis dengan dunianya. Yesus datang dan memerintahkan untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam. Bayangkan saja jik itu bukan Pribadi yang penuh kuasa, memerintah orang frustasi, pulang mencari ikan tidak dapat, dan pas begitu malah disuruh balik. Petrus dengan penuh percaya tetap melakukan perintah itu. Hasilnya adalah jala mereka koyak.
Pengenalan akan Jati Diri Yesus yang sejati karena respons dan tanggapan positif dari Petrus dan kawan-kawan. Coba mereka mengandalkan kemampuan mereka. Mereka toh jauh lebih tahu dengan dinamika nelayan, namun karena Engkau yang menyuruh kami mau, dan koyaklah jala. Mereka jadi tahu dan mengenal siapa yang memerintahkan itu.
Saudara terkasih, perjumpaan dengan Yesus adalah keuntungan. Mereka meningkat karirnya, dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Mereka diangkat menjadi rekan Yesus dalam menjalankan kary keselamatan. Ujian pertama jelas mereka diperintahkan untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam. Seolah perbuatan sia-sia, namun toh mereka lakukan. Ini jelas kualitas Petrus dan kawan-kawan yang mau berbalik arah.
Kuasa Tuhan jelas yang menjadi inspirasi, pedoman, dan pembeda. Kuasa yang dinyatakan Yesus membuat semuanya berbeda, berubah, dan bahkan berbalik arah. Tanggapan manusiawi juga memegang peran, namun jangan abaikan bahwa Tuhanlah yang menjadi prioritas.
Saudara terkasih, sering dalam hidup kita, kita lebih mengandalkan kemampuan, hitung-hitungan kita sendiri. Kemampuan manajerial kita, kemampuan intelektual kita, namun kadang abai akan nurani yang bisa kita yakini itu adalah kehendak Allah bagi hidup kita.
Sisi spiritual, bisikan Roh Kudus, dan sesama yang menasihati kita dengan tulus, bisa kita yakini itu adalah Tuhan yang hadir untuk memberikan pembeda, perubahan, dan pembaruan bagi kita. Mengenal Tuhan bisa pula kita upayakan dengan coa, mati raga, merenungkan Kitb Suci, merayakan sakramen, dan hidup bersama sebagai anak-anak Allah. BD.eLeSHa.


Rabu, 04 September 2019

Kuasa Penyembuhan dan Kualitas Mesias


Rabu Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:1-8
Mzm. 52:10,11
Luk. 4:38-44



Kol. 1:1-8

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,
1:2 kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.
1:3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,
1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,
1:6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.
1:7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.
1:8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.


Luk. 4:38-44

4:38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.
4:39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
4:40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.
4:41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
4:42 Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.
4:43 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."
4:44 Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.



Kuasa Penyembuhan dan Kualitas Mesias

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya yang berbicara atas kuasa penyembuhan yang dimiliki Yesus. Yesus yang menyembuhkan itu memberikan berbagai bahan menarik untuk kita renungkan. Baik tempat, kejadian, dan terutama pribadi Yesus bisa menjadi inspirasi hidup kita. Hidup sebagai pribadi ataupun sebagai insan beriman.
Kita dapat belajar mengenai tempat, di mana tempat terjadinya mukjizat  kali ini adalah rumah mertua Petrus. Di mana rumah itu menjadi lokasi terjadinya kuasa Tuhan, kuasa penyembuhan. Kita dapat belajar,, bagaimana rumah kita menjadi tempat yang menyinarkan, tempat di mana orang bisa datang untuk mendapatkan kelegaan. Mungkin kita merasa repot jika ada yang datang selama ini, atau mengeluhkan mengapa ingat hanya saat butuh saja. Bacaan hari ini memberikan inspirasi, kekuatan, dan daya bagi kita untuk bersyukur dan melihat ada kuasa Tuhan di sana.
Kejadian, di mana Yesus menyembuhkan. Penyembuhan dalam konteks waktu itu adalah salah satu ciri Mesianisme. Penyembuhan oleh Yesus yang menyebar, memberikan dampak baik bahwa ada kuasa yang dirasakan oleh para pendengar dan orang sekitar mertua Petrus.
Pribadi Yesus, jelas ini adalah yang utama dan pertama. Bagaimana Pribadi Yesus terfokus menjalankan perutusan dari Bapa-Nya. Tidak mudah goyah, apalagi ketenaran dan kata orang. IA diminta tinggal, kita sering dan sangat mungkin akan terpengaruh dengan kata-kata baik, mengatasnamakan kebaikan atau kebutuhan. Yesus tidak demikian. Tuhan tetap meninggalkan tempat itu.
Yesus menjalankan perutusan di manapun yang membutuhkan. Benar bahwa IA tinggal orang akan datang, namun itu bukan yang terbaik. Paling baik dan lebih baik IA yang datang ke mana ada yang perlu disembuhkan dan diselamatkan.
Saudara terkasih, kasih karunia dan cinta  Allah itu bagi semua orang. Tidak terpengaruh oleh sikap dan penerimaan manusiawi. Ditolak ataupun diterima, Tuhan tetap mengasihi dan memberikan kasih karunia-Nya. Tuhan Mahakasih, bukan Tuhan pemarah dan pendendam. Jika Tuhan itu pendendam, Ia memilih tinggal pada orang yang menerima dan mengharapkan-Nya tinggal. Dan tidak akan peduli pada yang pernah menolak-Nya bukan?
Sikap demikian menjadi penting, bahwa kita menjalani kehendak dan rencana Tuhan bukan karena hasil dan tanggapan orang. Semuanya demi Tuhan dan sesama. BD.eLeSHa.

Selasa, 03 September 2019

Perkataan Penuh Kuasa


Pw. Gregorius Agung, Paus PujG (P)
1 Tes. 5:1-6,9-11
Mzm. 27:1-4,13-14,
Luk. 4:31-37




1 Tes. 5:1-6,9-11

5:1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu,
5:2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
5:3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.
5:4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri,
5:5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.
5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.
5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.


Luk. 4:31-37

4:31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.
4:32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.
4:33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
4:34 "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."
4:35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.
4:36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar."
4:37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.



Perkataan Penuh Kuasa

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan betapa Kuasa Tuhan Yesus itu demikian dasyat, bahkan roh jahat pun ketakutan dan lari hanya karena perkataan-Nya. Kuasa Allah yang dikaruniakan kepada Yesus untuk mengusir roh jahat.
Kegelapan itu akan sirna jika ada terang yang datang. Bayangkan saja di dalam rumah atau kamar, ketika pulang dari bebergian pada malam hari, siangnya lupa atau belum sempat menyalakan lampu. Pas masuk rumah akan kita dapati  rumah itu kosong dan gelap. Saklar yang kita tekan akan mengusir gelap menjadi terang. Demikian juga dengan Terang Hidup, Yesus datang, kegelapan jadi gelagapan dan meradang. Mereka berteriak, Yesus apa urusan-Mu. Mengapa mereka meradang? Ya jelas mereka akan terusir dan kalah oleh Terang.
Saudara terkasih, Terang itu  pilihan, pun gelap juga bisa kit tolak. Kasih karunia Tuhan adalah Terang, namun ada yang suka cita dengan kegelapan karena mereka melihat dengan tidak utuh. Hanya merasakan bahwa mereka enak, nyaman, tenar, dan banyak pihak yang mendukung di dalam gelap. Sejatinya jelas tidak enak.
Kuasa gelap jengkel ketika ada terang yang datang dan akan membarui keadaan. Pun kita sebagai bangsa kini sedang berkecamuk. Bagaimana upaya perbaikan dalam banyak hal mendapatkan pertentangan oleh pihak-pihak yang selama ini sudah terbiasa kenyang dan mendapatkan keuntungan. Terang itu akan diupayakan tidak bisa menjadi cahaya yang membuka kedok mereka.
Gregorius Agung atau Paus Gregorius adalah paus yang menyatakan diri pertama kalinya sebagai kepala Gereja sedunia. Keprihatinannya terhadap para budak membuatnya memiliki pemahaman, hamba dari para hamba, yang hingga kini masih dipakai oleh para paus.
Paus ini kelahiran 540 dari keluarga kaya dan aristokrat. Usai 33 tahun Gregorius sudah menjadi prefek di kota Roma. Kedudukan sangat tinggi dalam bidang politik. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia mengundurkan diri dan hidup membiara. Ia menjual sebagian besar hartanya untuk mendirikan biara. Gregorius selain hidup membiara, namun ia juga peduli pada kehidupan budak. Sering membebaskan budak yang biasa diperjualbelikan di pasar di Roma saat itu.
Ketika menjadi Paus, kerinduannya untuk bersama yang miskin terus hidup dan makin mendapatkan kesempatan untuk melakukan dengan lebih besar dan lebih banyak lagi. Ia juga sebagai pujangga Gereja dengan tulisan-tulisannya yang berkelas.
Apa yang dilakukan Gregorius sejalan dengan perutusan Yesus. Bagaimana Yesus juga berbela rasa, berempati, dan memberikan perhatian yang sungguh besar pada orang yang kecil, lemah, dan tidak berdaya. Hidup di dalam Yesus berarti semakin serupa dengan diri-Nya. Serupa bukan baju atau rambut-Nya, namun hati dan pilihan pada sesama dan Tuhan Allah Bapa. BD.eLeSHa.

Senin, 02 September 2019

Hargailah Dirimu dan Orang Lain, Karena Tuhan Menghargai Ciptaan-Nya


Senin Biasa Pekan XXII (H)
1 Tes. 4:13-17
Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13
Luk. 4:16-30




1 Tes. 4:13-17

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.


Luk. 4:16-30

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.


Hargailah Dirimu dan Orang Lain, Karena Tuhan Menghargai Ciptaan-Nya

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana kita mudah menilai, menghakimi, dan menyatakan hal yang buruk bagi orang lain.Kita menilai dengan kaca ata kita, kita menghakimi dengan ukuran kita, namun kita susah untuk obyektif saat berbuat demikian. Apapun yang mampu kita nilai dan pahami baik dari kita, demikian pula yang akan kita kenakan pada orang lain.
Jika kita mampu menghargai dan melihat hal positif dalam diri kita, kita pun akan mudah dan spontan menilai orang lain dengan cara yang sama. Sebaliknya, jika kita mudah menilai diri negatif, buruk, kekurangan orang lain, itu juga karena kita menilai diri sebagai yang kecil, buruk, jelek, dan kurang.
Hal yang tidak sepatutnya melihat diri apalagi orang itu dengan kekuarangan atau buruknya. Bagaimana kita melihat pribadi itu apa adanya. Jika baik katakan baik pun sebaliyknya. Demikian juga jika melihat diri sendiri. Allah itu menyiptakan kita sebagai baik adanya. Kasih karunia-Nya  itu luar bias abagi manusia. Manusia tidak ada yang buruk, tidak ada yang bodoh, tidak ada yang jelek. Semua adalah Citra Allah, gambaran Allah di dunia ini.
Apa yang terjadi hari-hari ini, kita sebagai bangsa, kita sebagai anak-anak Indonesia, sedang diuji dengan kedewasaan, bagaimana anak-anak Tuhan bisa bersikap bijak, dewasa, dan matang ketika diperolok. Mereka masih dalam taraf melihat kejelekan pihak lain, karena mereka memang tidak mamu melihat diri yang positif.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil hari ini kita juga belajar, bahwa Yesus yang memiliki kuasa itu awalnya mengetarkan orang yang mendengar pengajaran-Nya. Namun iri, dengki, dan tidak mau kalah, mereka memprovokasi massa yang sejatinya terhipnotis oleh pengajaran Yesus yang penuh kuasa. Mereka melihat negatif, merasa Yesus yang tetangganya itu tidak bisa apa-apa.
Meninggikan diri juga adalah penyakit di mana orang akan juga merendahkan pihak lain. Penyakit yang sama dengan menilai orang lain sebagai rendah. Tinggi hati dan rendah diri sama-sama merusak.
Tuhan Allah menciptakan kita adalah baik adanya, Tuhan menampilkan diri di tengah dunia dengan rupa, wajah, dan gambaran kita, dan itu adalah kasih dan kebaikan. Citra Tuhan itu tergantung kita, jka penggambaran kita buruk, orang juga akan menilai Tuhan kita buruk. Tentunya Tuhan Yang Mahakasih perlu kita tampilkan sebagai kasih dan kebaikan pula. BD.eLeSHa.

Minggu, 01 September 2019

Tahu Diri dan Diskriminasi


HARI MINGGU BIASA PEKAN XXII (H)
Sir.  3:17-18,20,28-29
Mzm. 68:4-5ac,10-11
Ibr. 12:18-19,22-24
Luk. 14:1.7-14



Sir.  3:17-18,20,28-29

3:17 Lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, ya anakku, maka engkau akan lebih disayangi dari pada orang yang ramah-tamah.
3:18 Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan.
3:20 Sebab besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati.
3:28 Kemalangan tidak menyembuhkan orang sombong, sebab tumbuhan keburukan berakar di dalam dirinya.
3:29 Hati yang arif merenungkan amsal, dan telinga pendengar merupakan idaman o


Ibr. 12:18-19,22-24

12:18 Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai,
12:19 kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka,
12:22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah,
12:23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,
12:24 dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.


Luk. 14:1.7-14

14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."




Tahu Diri dan Diskriminasi

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan mengenai kehormatan, tahu diri, dan memantaskan diri. Ada sebuah kisah inspiratif ketika mantan Gubernur California Arnold Schawarzenegger menayangkan pose dirinya tidur di depan patung perunggu dirinya. Ia yang meresmikan patung di depan hotel itu kala masih guburnur. Saat itu manajemen mengatakan silakan datang kapan saja dan akan selalu  ada kamar untuk Anda.
Apa yang terjadi ketika sudah tidak lagi menjadi gubernur ketika ia datang? Kamar penuh. Ia mengambil kantung tidur dan berphoto di depan patung dirinya. Ia juga memberikan narasi kalau kekuasaan itu sudah selesai ya sudah.
Saudara terkasih, hari ini, dalam bacaan Injil hari ini kita belajar untuk tahu diri, dalam konteks waktu itu, Yesus melihat bahwa banyak orang berebut duduk di tempat terhormat dan mereka bisa malu karenanya. Yesus mengajarkan untuk menempati tempat yang “kurang” terhormat saja karena bisa saja tuan rumah mengundang tamu lebih terhormat, mereka dipindah ke tempat yang tidak mereka inginkan, tentu malu.
Jauh lebih terhormat ketika mereka duduk di tempat biasa dan kemudian diminta duduk di tempat yang terhormat. Ini yang Tuhan kehendaki dan ajarkan. Orang bisa menakar diri dan tahu dengan kapasitas diri.
Pada bentuk kedua, Tuhan mengajarkan kepada kita juga untuk mengadakan pesta tanpa memandang kelas, semua adalah terhormat, bukan masalah kedudukan, jabatan, atau darah. Semua yang diundang adalah terhormat. Tidak perlu ada pembedaan.
Saudara terkasih, kedua hal tersebut sejatinya juga sering kita alami, kita lakukan, dan ketemukan. Baik sebagai pribadi yang merasa terhormat, ataupun sebagai pengundang yang membeda-bedakan kelas dan kedudukan. Hal yang perlu diubah sebagai anak-anak Tuhan. Namun apakah itu mudah? Tentu saja tidak demikian.
Sering kita merasa kepantasan diri lebih, sehingga mendudukan diri dengan berlebihan. Atau sebaliknya, merasa kecil sehigga itu gambaran kurang bersyukur. Ini penyakit yang perlu diubah karena kasih karunia Tuhan sudah membuat kita sempurna.
Memisahkan tamu atau relasi karena kedudukan juga hal yang sangat lumrah, dan itu tanpa kesadaran membuat kita merasa biasa, lumrah, dan seolah baik-baik saja. Anak-anak Allah itu sama kedudukannya. Di dunia ini tidak ada yang lebih ataupun kurang. Semua sama ciptaan dan semua adalah anak-anak Allah. BD.eLeSHa.