Rabu, 07 Agustus 2019

Imanmu Menyelamatkanmu!


Rabu Pekan Biasa XVIII (H)
Bil. 13:1-2, 25-14:1,26-29.34-35
Mzm. 106,6-7,13-14,21-22,23
Mat. 15:21-28




Bil. 13:1-2, 25-14:1,26-29.34-35

13:1 TUHAN berfirman kepada Musa:
13:2 "Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka."
13:25 Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu,
13:26 dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu.
13:27 Mereka menceritakan kepadanya: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.
13:28 Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.
13:29 Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan."
13:30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"
13:31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."
13:32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.
13:33 Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."
14:1 Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.
14:26 Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun:
14:27 "Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar.
14:28 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu.
14:29 Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku.

14:34 Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu:
14:35 Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.


Mat. 15:21-28

15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.



Imanmu Menyelamatkanmu!

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan betapa doa dan iman itu menjdi hal yang penting dan juga menentukan. Sering orang mengatakan, kehendak Tuhan tidak bisa diubah, Tuhan tidak sekejam itu. Lihat bagaimana perempuan itu yang gigih memohonkan kesembuhan untuk puterinya. Dan belas kasih Tuhan berbicara.
Beberapa hal yang patut kita cermati dan renungkan adalah;
Pertama, kasih Tuhan itu tidak bisa terlepas dari jati diri Tuhan. Tuhan berkenan menyenangkan seorang umatnya, dalam kisah Injil hari ini menyembuhkan anak perempuan itu. Lihat, Tuhan  mengubah keputusan dan rencana yang ada, karena iman dan doa si ibu yang  tulus dan terus menerus.
Dua, iman dan doa itu penting dan menjadi pembeda. Permohonan yang terus menerus itu benar mengubah keputusan Tuhan. Termasuk kata-kata pedas dan penundaan dari Tuhan berubah drastis karena doa yang tidak kenal putus asa. Ada peran manusiawi juga.
Tiga, kadang Tuhan mengajak kita bercanda, menguji, dan membuat kita tetap mau berharap dan apakah kita mau setia, mudah putus asa, atau malah pergi karena merasa Tuhan tidak mendengarkan?
Doa itu mengenal satu hal, jangan mudah putus asa dan cepat-cepat mengatakan Tuhan tidak mendengarkan dan mengatakan kalau kehendak Tuhan tidak sesuai dengan yang kita mohonkan. Tidak selamanyademikian.
Empat, pujian Tuhan diberikan kepada orang yang tidak malu-malu memohon kepada-Nya. Doa yang terus menerus dan tidak mengenal kata lelah, bosan, jemu, dan setia. Perubahan keputusan itu perlu kita mohonkan.
Lima, Tuhan bisa menguji kita dengan banyak hal. Membelokkan fokus kita, atau malah cukup sarkas seperti kisah hari ini. Bagaimana sikap kita di dalam menghadapi kehendak Tuhan itu.  Inilah kesempatan Tuhan untuk melihat seberapa kita memang mau taat dan setia.
Enam, bergantung dan memohon sepenuhnya kepada Tuhan. Sering kita kehilangan harapan, fokus, dan kesempatan karena kita tidak sabar, merasa mampu, atau memilih meminta bantuan pada yang lain.
Saudara terkasih, tuhan itu peuh kasih, tidak akan mungkin tega dan keji dengan memaksakan kehendak dan rancangan-Nya dengan sewenang-wenang. Kita boleh memohon dan meminta kepada-Nya. BD.eLeSHa.

Kemuliaan Tuhan dan Pandangan Manusia



Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (p)
Dan. 7:9-10,13-14
Mzm. 97:1-2,5-6,9
Luk. 9:28-36




Dan. 7:9-10,13-14

7:9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;
7:10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab.
7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.


Luk. 9:28-36

9:28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa.
9:29 Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.
9:30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia.
9:31 Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.
9:32 Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu.
9:33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.
9:34 Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka.
9:35 Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia."
9:36 Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu.



Kemuliaan Tuhan dan Pandangan Manusia

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sabda-Nya dan pengalaman para murid menyaksikan kemuliaan Tuhan. Penggambaran peristiwa surgawi hanya mampu sebatas analogi, tidak bisa lebih lagi. Peristiwa yang tidak bisa digambarkan dan dilukiskan dengan rupa dunia dan manusiawi. Namun paling tidak bisa dipahami bahwa kejadian itu ditandai dengan hal yang luar biasa.
Pandangan  dan penilaian para murid yang disampaikan Petrus adalah ingin mendirikan tenda untuk Yesus dan nabi-nabi yang terdahulu. Maunya menetapkan, tinggal, dan menjadikan itu sebuah monumen. Gambaran manusiawi, dunia, dan kinginan umum bagi manusia. Ingin merasa memiliki, menetapkan, dan menjadikannya sebagai  kesempatan pribadi yang perlu dipertahankan.
Saudara terkasih, Yesus berbeda, dan fokus Yesus tidak berubah, bahkan tidak sedikitpn tergoda untuk tetap tinggal. Yesus tetap berjalan pada rencana dan rancangan Allah. Di mana, peristiwa  di atas gunung ini hanyalah sebuah bagian utuh namun kecil dari keseluruhan karya-Nya di tengah dunia ini. harapan Petrus dan para rasul bisa menjadi batu sandungan jika tidak siap dan fokus akan karya-Nya.
Apa yang terjadi dengan Petrus dan para murid juga sering kita alami. Kita gagal fokus da malah memilih berhenti karena merasa sudah mendapatkan apa yang kita perlukan, kita inginkan, padahal masih jauh dari apa yang seharusnya. Di dalam Tuhanlah kita tidak akan salah dan terlena, sebagaimana Yesus yang tidak mabuk pujian dan kemuliaan itu.
Saudara terkasih, mengapa kita bisa terlena dan tersesat, termasuk Petrus dan para murid? Karena mereka memandang dengan kaca mata dunia, kacamata dan pandangan mereka sendiri, tanpa melibatkan Tuhan dan kehendak-Nya. Sepanjang kita di dunia ini, kita adalah utusan untuk melakukan apapun yang Tuhan kehendaki.
Apapun yang kita lakukan, kerjakan, menjadi alat bagi kehendak dan rancangan Tuhan. Kita tidak bisa melepaskan itu sebagai bagian utuh karya Allah. kemuliaan Yesus juga kita bawa dan kita tampilkan, jika kita sebagai anak-anak Allah namun perilakunya jauh dari jalan-Nya ya sama juga mempermalukan bukan menampilkan wajah dan kemuliaan Tuhan. BD.eLeSHa.


Senin, 05 Agustus 2019

Berilah Mereka Makan, Peduli vs Abai


Senin Biasa Pekan XVIII (H)
Bil. 11:4-15
Mzm. 81:12-13,14-15,16-17
Mat. 14:13-21




Bil. 11:4-15

11:4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?
11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.
11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."
11:7 Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.
11:8 Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.
11:9 Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.
11:10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa.
11:11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?
11:12 Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?
11:13 Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan.
11:14 Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.
11:15 Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku."

Mat. 14:13-21

14:13 Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.
14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."
14:16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."
14:17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."
14:18 Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."
14:19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
14:20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
14:21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.



Berilah Mereka Makan, Peduli vs Abai

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan ebtapa kasih Tuhan tidak berkesudahan, mengatasi halangan untuk mewujudkan kasih itu. bagaimana  kita, manusia, dan dunia ini biasa melemparkan dan melepaskan tanggung jawab. Para murid itu logis yang menjadi pilihan mereka. Betapa banyak orang yang ada di sana, sedang mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan.
Pilihan para murid melihat kendala, bukan peluang. Yesus yang memang memiliki kuasa jelas berpikir berbeda. Belas kasih-Nya mengatasi keterbatasan para murid. Hambatan  para murid diretas karena kasih-Nya yang tidak berkesudahan itu. Hal yang memang berbeda, jati diri Yesus yang dari surga Allah memang penuh kuasa.
Berilah mereka makan. Ini perintah yang tidak sederhana, di mana kita juga diberi mandat yang sama, jika ada orang, tetangga, lingkungan, apalagi kawasan kita kelaparan. Namun kita malah sakit perut karena kebanyakan makan. Apa yang bisa kita lakukan? Sangat sederhana, menghabiskan makan ketika sedang menyantap makanan di manapun. Sering kita saksikan bagaimana orang baikdalam pesta atau membeli di rumah makan, betapa banyak sisa makanan karena kita enggan menghabiskan. Mengambil atau membeli secukupnya saja, tidak usah berlebihan dan menyisakan itu. Bangsa kita termasuk bangsa yang boros membuang sisa makanan. Berkilo-kilo makan terbuang dan miris ada yang kekurangan.
Saudara terkasih, kita diperintahkan untuk memberikan makan, termasuk perhatian bagi yang kesepian, nasihat bagi yang menderita, dan menemani yang sedang terpuruk. Tugas kita adalah memberikan apa yang orang lain perlukan dan butuhkan. Ingat apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang kita  ingin lakukan.
Belas kasihan ala Yesus menjadi inspirasi, bukan karena keinginan kita, bukan karena kita menghendaki memperoleh balasan, kita akan mendapatkan nama baik, ketenaran, atau balasan, namun bagaimana kita memberikan apa yang dibutuhkan orang lain. Belas kasih itu yang membedakan karena orang atau pihak lain yang menjadi tujuan, bukan kita.
Sering pelayanan kita tidak efektif karena berasal dari kita, belum tentu itu yang dibutuhkan siapa yang kita layani. Dialog dan diskusi serta komunikasi sangat membantu menjembatani salah pengertian dan juga salah sasaran. BD.eleSHa.

Minggu, 04 Agustus 2019

Ketamakan dan Penghormatan Harta Benda


HARI MINGGU PEKAN BIASA XVIII (H)
Pkh. 1:2,2:21-23
Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17
Kol. 3:1-5,9-11
Luk. 12:13-21




Pkh. 1:2,2:21-23

1:2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
2:21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.
2:22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?
2:23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia


Kol. 3:1-5,9-11

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu


Luk. 12:13-21

12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.



Ketamakan dan Penghormatan Harta Benda

Saudara  terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa penghargaan akan materi, harta benda, dan kepemilikan itu penting, namun juga ada batasnya. Tentu bahwa Tuhan bukan menghendaki kita merana di dalam kemiskinan dan kekurangan, bukan itu. Memandang materi, harta benda, dan  kepemilikan itu sebatas sarana, alat, dan kesempatan untuk berbuat bagi dunia dan sekitarnya.
Kekayaan sebagai usaha dan kerja keras itu layak diapresiasi, ingat dalam salah satu sabda-Nya tuhan juga memberikan penghargaan bagaimana pekerja layak mendapatkan upah. Artinya, bukan soal upah dan bayaran yang menjadi persoalan. Namun bagaimana menghargai upah dengan syukur dan memanfaatkan itu demi kebaikan.
Syukur juga menjadi penting, bukan malah memikirkan dan berfokus demi kepentingan diri dan kelompok. Jika kita tarik dalam alam modern ini, mungkin  si kaya dalam bacaan Injil hari ini adalah pejabat, yang di dalam setiap upaya kerjanya berpikir soal proyek, aku dapat apa dari apa yang aku lakukan, bagaimana nanti membuat rumah, mobil, bisnis, dan bahkan pasangan baru lagi. Tidak meski istri muda, karena toh koruptor tidak mesti laki-laki. Mereka menimbun harta benda. Mau merugikan bangsa dan negara, bukan pertimbangan mereka.
Rumah berderet-deret, setiap kota ada,  ke mana-mana berganti mobil kelas mewah lagi, kemewahan dan glamor menjadi kebanggaan. Ada seorang pejabat kalau berjalan, berpakaian dan tas sebagai asesoris dalam bilangan milyar, ternyata diketahui menimbun dengan mengambil uang rakyat. Fokusnya adalah kepentingan diri sendiri.
Saudara terkasih, harta milik itu juga bisa menjadi sarana untuk kita berperan bagi hidup bersama kita. Bagaimana mendonasikan uang yang kita dapat untuk banyak hal yang mungkin orang lain perlukan. Sikap berbagi ini yang masih berat karena kita tidak rela.
Mengapa tidak rela? Karena kita belum memikiliki rasa syukur atas pemberiaan Tuhan  yang demikian banyak. Mengabaikan eran Tuhan atas apa yang kita peroleh. Kita merasa mendapatkan itu semua karena upaya kita sendiri, usaha kita. Melupakan sisi spiritualitas, mengabaikan peran Tuhan yang tidak kalah dominan sejatinya.
Saudara terkasih jika kita melibatkan Tuhan dan sisi spiritualitas di dalam bekerja, tentu kita akan merasa bersyukur dan tidak enggan untuk berbagi. Di sinilah bedanya anak-anak Allah dan anak dunia. BD.eLeSHa.

Kebenaran adalah Segalanya


Sabtu Pekan Biasa XVII (H)
Im. 25:1,8-17
Mzm. 67:2-3,5,7-8
Mat. 14:1-12



Im. 25:1,8-17

25:1 TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai:
25:8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun.
25:9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu.
25:10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.
25:11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya.
25:12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang.
25:13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.
25:14 Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.
25:15 Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen.
25:16 Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu.
25:17 Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu


Mat. 14:1-12

14:1 Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.
14:2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."
14:3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.
14:4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!"
14:5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.
14:6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,
14:7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.
14:8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."
14:9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.
14:10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara
14:11 dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.
14:12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.



Kebenaran adalah Segalanya

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan betapa kekuasaan bisa membutakan orang. Kebenaran digadaikan demi memperoleh kekuasaan duniawi. Ada tiga tokoh besar yang dapat kita jadikan bahan permenungan.
Pertama Herodes yang mengambil istri saudaranya sendiri. Nafsu cinta duniawi dan lawan jenis tidak dapat ia kendalikan. Istri saudara sendiri pun ia ambil. Itu saja tidak cukup. Ia bunuh juga Yohanes yang berani menegurnya atas peristiwa itu.
Janji pada anak tiri di depan koleganya ternyata lebih ia tanggung bahkan dengan membunuh. Reputasi duniawi, nama besar, dan kewibawaan di tengah dunia menjadi lebih utama. Janjinya kepada anak karena di depan kolega lebih  utama dari pada kepatutan hidupnya.
Kedua, Herodias. Yang dendam, membara sehingga ia memperalat anak dan suaminya sendiri. Jangan lupa, bahwa ia juga sama salah dan berbuat tidak patut bersama Herodes. Gila kuasa dan kekuasaan menjadi semaca candu yang perlu ditutupi dan dilakukan dengan segala tipu muslihat.
Ketiga, Yohanes Pembaptis, bagaimana ia sebagai utusan Allah menjalankan perannya dengan baik dan benar. Ia membela kebenaran bahkan hingga nyawanya sendiri pun dipertaruhkan. Tugas seorang nabi adalah meluruskan jika ada yang salah, bukan karena takut terhadap penguasa kemudian menyesuaikan dengan kepentingan penguasa.
Keberanian Yohanes menegur penguasa itu patut menjadi inspirasi dan permenungan kita. Bagaimana sikap kita jika menghadapi hal demikian, minimal di tengah keluarga saja. Diam saja atau menegur dengan segala risikonya? Apalagi di dalam hidup bersama. Terutama di dalamn hidup bernegara. Kenabian tetap relevan hingga hari ini apapun peran dan posisi umat beriman.
Saudara terkasih, menjadi seorang nabi, menjadi seorang pembela iman dan kebenaran itu tidak gampang, bahkan tidak mudah. Risiko besar bisa menjadi konsekuensi atas hal itu. Yohanes Pembaptis pun Yesus mengalami hal yang sama. Mati demi membela kebenaran. Kebenaran bukan karena dibayar, namun benar di depan hukum dan moral.
Kita sering gamang, takut, dan cemas jika nama baik, atau berbahaya karena bisa dipecat, namun apakah itu cukup? Tidak. Kebenaran bahkan hingga nyawa pun dipertaruhkan. BD.eLeSHa.

Jumat, 02 Agustus 2019

Penolakan dan Cara Pandang


Jumat Pekan Biasa XVII (H)
Im. 23:1,4-11,15-16,27,24-37
Mzm. 8:3-4,5-6ab,10-11ab
Mat. 13:54-58



Im. 23:1,4-11,15-16,27,24-37

23:1 TUHAN berfirman kepada Musa:
23:4 Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
23:5 Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
23:6 Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.
23:7 Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
23:8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat."
23:9 TUHAN berfirman kepada Musa:
23:10 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam,
23:11 dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu.
23:15 Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu;
23:16 sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN.
23:34 "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya.
23:35 Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
23:36 Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
23:37 Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, yaitu korban bakaran dan korban sajian, korban sembelihan dan korban-korban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu.



Mat. 13:54-58

13:54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
13:55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
13:56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?"
13:57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya."
13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.



Penolakan dan Cara Pandang

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya yang berbicara mengenai penolakan atas kehendak Tuhan karena pandangan manusiawi. Hal yang jamak kita alami, ketahui, saksikan, atau kita sebagai pelaku atau korban karena pola pikir yang sama. Sangat mungkin kita menilai dengan kaca mata kita, melihat dengan apa yang kita rasakan, analisis, dan pikirkan, namun abai akan kehadiran Allah dengan kehendak-Nya di sana.
Contoh saja, bagaimana kita bisa percaya pada orang yang baru kita jumpai, baru saja kita ketemu dan kemudian memberikan kepada kita banyak kepercayaan, hadiah, dan berbagai hal lainnya. benak kita akan curiga, was-was, ada apa di balik kebaikannya. Keyakinan kita, kepercayaan kita, budaya yang kita anut itu ada udang di balik batu. Ketulusan sering masih jauh dari harapan. Ingat ini dunia, yang membawa kita memang berbeda dengan apa yang Tuhan Allah kehendaki.
Kita memilih apa yang tidak sejalur dengan apa yang Allah maksudkan. Kebaikan saja penuh dengan kecurigaan, curiga itu karya roh jahat yang memang hendak membawa kita menjauh dari kasih Allah. ketika Tuhan Allah menghendaki kita untuk percaya kita meragukan, bahkan menyangkal.
Kita pun diajak untuk menerima apapun dengan rendah hati, namun kita memilih untuk  iri. Kita tahu bahwa orang lain bisa melakukan ini dan itu. Mendapatkan anugerah yang  berbeda untuk dapat melengkapi satu sama lain. Tidak ada talenta atau berkat yang sama. Hal itu untuk menguatkan kita di dalam satu kesatuan utuh sebagai saudara. Ketika ditolak, sangat wajar karena sudut pandang yang berbeda. Penolakan karena iri dan dengki.
Saudara terkasih, Tuhan Yesus pun mengalami penolakan. Perbuatan ajaib di mana-mana tidak ditangkap dengan baik di lingkungan asal-Nya. Pandangan manusiawi mereka lebih lekat, kuat, dan dominan, sehingga mengabaikan kehendak Tuhan yang seharusnya menjadi pedoman di dalam menilai segala sesuatu.
Sudut pandang yang perlu penyesuaian, ciri sudut pandang yang seturut kehendak Allah adalah menyatukan dengan sesama, adanya syukur bukan iri, merasa damai dan tenteram, bukan cemas dan ketakutan. Itulah mukjizat Tuhan Allah setiap saat. BD.eLeSHa.

Kamis, 01 Agustus 2019

Serahkanlah Dirimu!


Pw. S. Alfonsus Maria de Liguori, Usk PujG (P)
Kel. 40:16-21,34-38
Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11
Mat. 13:47-53





Kel. 40:16-21,34-38

40:16 Dan Musa melakukan semuanya itu tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah dilakukannya.
40:17 Dan terjadilah dalam bulan yang pertama tahun yang kedua, pada tanggal satu bulan itu, maka didirikanlah Kemah Suci.
40:18 Musa mendirikan Kemah Suci itu, dipasangnyalah alas-alasnya, ditaruhnya papan-papannya, dipasangnya kayu-kayu lintangnya dan didirikannya tiang-tiangnya.
40:19 Dikembangkannyalah atap kemah yang menudungi Kemah Suci dan diletakkannyalah tudung kemah di atasnya -- seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
40:20 Diambilnyalah loh hukum Allah dan ditaruhnya ke dalam tabut, dikenakannyalah kayu pengusung pada tabut itu dan diletakkannya tutup pendamaian di atas tabut itu.
40:21 Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah -- seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
40:34 Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci,
40:35 sehingga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci.
40:36 Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah.
40:37 Tetapi jika awan itu tidak naik, maka mereka pun tidak berangkat sampai hari awan itu naik.
40:38 Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah.



Mat. 13:47-53

13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
13:48 Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."
13:53 Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ




Serahkanlah Dirimu!

Saudara terkasih, Bunda Gereja hari ini mengajak kita merenungkan pengalaman iman Santo Alfonsus de Liguori. Cukup menarik pengalaman iman dan panggilannya dengan Ignasius dari Loyola kemarin. Pengalaman kekalahan atas kehebatannya yang membawanya kepada jalan Tuhan. Panggilan Tuhan memang misteri dan tidak terduga, bagaimana menjawab “YA” atas panggilan Tuhan itu yang utama.
Alfonsus lahir dari keluarga militer, tidak heran ia didik ala militer, disiplin, keras dengan salah satu didikan adalah dalam seminggu, satu malam ia tidur di lantai, didikan agar tidak manja. Dan ia menjadi prbadi yang benar-benar baik dan sukses dalam sekolah hukum. Usai 16 tahun ia sudah menjadi doktor hukum yang sangat cerdas.
Ia menekuni karir sebagai pengacara yang gilang-gemilang, kasus demi kasus hukum ia menangkan. Dengan demikian mudah ia menjadi tenar dan terkenal atas kecerdasan dan kepiawaiannya. Suatu hari ia gagal karena teledor kecil yang menjadi senjata pihak lawan. Ia benar-benar hancur dan terpuruk.
Dalam keadaan tidak enak makan dan tidur itu, ia memperoleh ketenangan setelah berdoa di depan tabernakel. Ia mendengar serahkanlah dirimu kepada-Ku. Ia memutuskan menjadi hidup membiara. Orang tuanya jelas kecewa. Biarapun awalnya keberatan karena kesehatan. Namun uskup memberikan izin. Dan ia menjadi calon imam yang tekun dan cerdas. Usai ditahbiskan umat sangat senang karena kotbahnya yang menarik dan mendalam. Alfonsus juga disenangi sebagai bapa pengakuan.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengajarkan mengenai Kerajaan Surga. Kerajaan Surga adalah prioritas dan mengalahkan apapun di dunia. semua dibuang demi mendapatkan Kerajaan Surga. Alfonsus mengajarkan kepada kita. Ia meninggalkan keluarga, karir, dan masa depan sebaga pengacara demi mengikuti panggilan Tuhan.
Meninggalkan diri sendiri dengan segala keinginan, kerinduan, dan kehendak pribadi demi mengikuti rancangan, kehendak, dan panggilan Tuhan untuk sepenuhnya dalam jalan Tuhan. Pemurnian terus menerus, mengandalkan Tuhan semata, bukan kemampuan, atau upaya dan capaian pribadi. Di dalam Tuhanlah manusia seutuhnya bisa hidup  dan berkembang. BD.eLeSHa.