Senin, 08 Juli 2019

Pandangan ke Depan


Sabtu Pekan Biasa XIII (H)
Kej. 27:1-5,15-29
Mzm. 135:12,3-4,5-6
Mat. 9:14-17



Kej. 27:1-5,15-29

27:1 Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa."
27:2 Berkatalah Ishak: "Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku.
27:3 Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang;
27:4 olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati."
27:5 Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya,
27:15 Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya.
27:16 Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu.
27:17 Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya.
27:18 Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: "Bapa!" Sahut ayahnya: "Ya, anakku; siapakah engkau?"
27:19 Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku."
27:20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku."
27:21 Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan."
27:22 Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau."
27:23 Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia,
27:24 tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!"
27:25 Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum.
27:26 Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku."
27:27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.
27:28 Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.
27:29 Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.


Mat. 9:14-17

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
9:15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
9:16 Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.
9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.



Pandangan ke Depan

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan pandangan ke depan. Bagaimana orang itu biasa melihat ke belakang, masa lalu, sejarah yang sudah lewat, dan itu dijadikan rujukan terus menerus. Pandangan ke depan, visi untuk melihat yang ada di depan menjadi penting. Dalam bacaan Injil hari ini, murid Yohanes bertanya mengapa murid Yesus tidak berpuasa.
Tradisi pemuridan yang selalu mengikuti tradisi, ajaran turun temurun, dan kebiasaan itu sangat menentukan. Kehadiran Tuhan yang membawa dan membuat perbedaaan itu mengagetkan. Apalagi ketika puasa dilihat sebagai wujud kesalehan sosial. Takaran yang mutlak itu seolah melemahkan posisi Yesus sebagai guru yang tidak mampu membina para murid.  Petanyaan yang cukup sederhana.
Yesus sebagai Sang Pembaharu, sebagai sebuah harapan mengatakan, bagaimana seorang mempelai ada di sana, para sahabat harus berpuasa. Konteks simbol yang dipakai adalah pesta pernikahan. Mana ada pesta pernikahan para sahabat mempelai itu berpuasa. Pesta itu kegembiraan bukan keprihatinan. Dan kedatangan Yesus adalah kegembiraan yang luar biasa.
Selanjutnya Yesus menyatakan sebuah ilutrasi, di mana IA mengambarkan kantung dan anggur. Kantong anggur lama diberi anggur baru tentu akan mengoyakkan kantong lama itu, semuanya menjadi sia-sia. Saling meniadakan. Pun ketika kain lama koyak, tidak akan ditambalkan dengan kain baru karena akan mengoyakan kain lama lebih parah lagi.
Kondisi yang berbeda tidak akan bisa dipaksakan untuk menyatu dengan baik dan segera. Banyak kerugian yang terjadi. Demikian dengan apa yang Yesus lakukan dan jalankan adalah hal yang sangat baru, mengubah tatanan yang ada. Jika mau cepat bisa hancur berantakan bersama. Perlu waktu untuk adaptasi dan penyesuaian di sana-sini. Ini yang membedakan pola pendekatan Yesus. Radikal dalam ajaran namun pelaksanaannya memerlukan kesadaran dan itulah kualitas.
Dalam hidup kita sering ajaran moderat namun caranya yang radikal dan itu menjadi keriuhan yang tidak penting. Tujuan tidak tercapai, musuh malah makin banyak bisa terjadi. Jika demikian untuk apa? Perilaku Yesus ini yang penting untuk menjadi perhatian kita di dalam cara beriman. BD.eLeSHa.

Jumat, 05 Juli 2019

Pertobatan


Jumat Biasa Pekan XIII (H)
Kej. 23:1-4,19:24:1-8,62-67
Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5
Mat. 9:8-13



Kej. 23:1-4,19:24:1-8,62-67

23:1 Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara.
23:2 Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya.
23:3 Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het:
23:4 "Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu."
23:19 Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan
24:1 Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.
24:2 Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: "Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku,
24:3 supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.
24:4 Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku."
24:5 Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: "Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?"
24:6 Tetapi Abraham berkata kepadanya: "Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana.
24:7 TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini -- Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku.
24:8 Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana."
24:62 Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb.
24:63 Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang.
24:64 Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya.
24:65 Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.
24:66 Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya.
24:67 Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.


Mat. 9:8-13

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.




Pertobatan

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan bagaimana pertobatan itu mesti kita jalani. Gereja mengajak kita melakukan pertobatan dan menjadi teladan, contoh, dan pelaku pertobatan yang hakiki. Tobat bukan semata pernyataan di bibir atau mulut saja. Janji berhenti pda ucapan, namun lebih jauh lagi adalah perubahan sikap dan batin.
Tantangan untuk bertobat juga besar. Bagaimana orang Farisi mempertanyakan keberadaan Yesus yang makan bersama dengan para pendosa. Pendosa itu disingkirkan, diasingkan, dan tidak boleh berdekat-dekat dengan warga umumnya. Namun Yesus yang memiliki sikap berbeda, mengedepankan sikap kasih, dan pengampunan berlaku berbeda. IA mengajak makan yang menyentuh pendosa untuk berubah.
Perubahan sikap batin dari si pendosa karena dicintai. Kasih dan pengampunan termasuk perhatian membuat si pendosa merasa diakui keberadaannya dan itu malah melahirkan perubahan dan pertobatan.  Pandangan orang kadang dikacaukan dengan hukuman dan sikap yang sejenis. Membuat orang tersapa, merasa malu dengan kedosaannya dan berbalik arah.
Dalam falsafah Jawa cukup mewakili, bagaimana dilambangkan dalam huruf Jawa yang dipangku  akan mati. Mematikan hurum Jawa itu dengan yang namanya pangkon. Huruf menjadi huruf mati. Orang yang dihargai akan menjadi tenang, merasa dihargai akan tidak lagi meledak-ledak, dan menjadi jinak.  Sama dengan hal ini, bacaan Injil di mana pendosa dihargai, dianggap, dan kemanusiaannya dikembalikan pada posisinya. Pendosa itu tidak melepaskan kemanusiaan. Tetap manusia. Dosanya yang perlu dibenahi.
Saudara terkasih, memanusiakan manusia, termasuk pendosa ini bukan membenarkan kedosaannya, namun memulihkan martabat manusianya. Manusia sebagai manusia. Dan kedosaannya bisa terselesaikan.
Apa yang perlu kita lakukan adalah, kita jangan sampai malah menambahi beban dengan penghakiman kita. Kita tidak malah ikut menjadi hakim atau eksekutor dengan merasa lebih baik dan merasa lebih suci dari mereka.
Kita sebagai murid Tuhan diajak berlaku sebagaimana Tuhan yang penuh kasih. Mengasihi mereka sebagai manusia, bukan mau menafikan kedosaan mereka. Dengan demikian, kita menjadi saluran rahmat dan kebenaran bagi sesama yang sangat mungkin tergerak karena sikap kita. Ini perjuangan yang patut kita lakukan sebagai pribadi murid Tuhan. BD.eLeSHa.


Iman yang Menyelamatkan


Kamis Pekan Biasa XIII (H)
Kej. 22:1-19
Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9
Mat. 9:1-8




Kej. 22:1-19

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."
22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."
22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
22:16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."
22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.


Mat. 9:1-8

9:1 Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.
9:2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
9:3 Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah."
9:4 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
9:5 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
9:7 Dan orang itu pun bangun lalu pulang.
9:8 Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.



Iman yang Menyelamatkan

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan permintaan kesembuhan. Kesembuhan sebagaimana si lumpuh yang dibawa dengan tempat tidurnya oleh tetangga atau kerabatnya. Mereka memohonkan kesembuhan dengan seluruh daya upaya. Mereka tidak mengenal halangan dan rintangan, yang penting bertemu Yesus bagaimanapun caranya.  Upaya yang radikal itu penting.
Kesembuhan yang diberikan Yesus jauh dari pada yang mereka mintakan. Mereka hanya meminta kesembuhan atas kelumpuhan, namun Yesus memberikan pula pengampunan dosa. Lihat, Yesus berbicara pada esensi, pada kesembuhan rohani, bukan semata sembuh fisiknya. Buat apa sembuh kakinya, namun jiwa dan hatinya terbelenggu dosa.
Padahal dengan melakukan tindakan itu Yesus membuka kesempatan untuk menjadi bahan bulan-bulanan. Kesembuhan yang Ia berikan sudah cukup dan itu tidak membuka kesempatan untuk diserang. Yesus tidak takut itu semua. IA mengampuni dosa karena memang diberikan tugas, kuasa, dan wewenang termasuk mengampuni dosa. IA tidak hanya  cukup dengan memenuhi permintaan si sakit, namun juga menambahkan apa yang menjadi wewenang dan kuasa-Nya.
Saudara terkasih Gereja juga memiliki peran yang sama. Memberikan kesembuhan dengan sakrament orang sakit, namun selain itu juga menyediakan sakramen rekonsiliasi. Ada dua kesembuhan yang ditwarkan dan keduanya digunakan Gereja untuk membawa kebahagiaan yang hakiki bagi hidup manusia, baik fisik ataupun jiwa manusiawi secara utuh.
Sering kita menghadapi halangan sedikit saja sudah mundur, merasa gagal, ah tidak ada jalan, dan lebih baik menyerah saja. Lihat bagaimana perjuangan mereka untuk membawa si sakit ke hadapan Yesus. Mereka membuka atap. Perjuangan luar biasa dan dibalas dengan luar biasa pula oleh Tuhan. Jika mereka tidak melakukan aksi yang ekstrem seperti itu, tentu hasilnya tidak akan luar biasa pula. Bagaimana dosanya diampuni, lumpuhnya juga sembuh lagi. Yesus melakukan aksi 2in 1 karena mereka penuh di dalam iman. Upaya luar biasa sebagai gambaran iman yang teguh dari mereka.
Tuhan melihat  hati dan kedalaman diri, bukan semata akan apa yang kita katakan dan nyatakan, namun juga apa yang menjadi motivasi kita, yang ada dalam diri dan nurani kita.BD. eLeSHa.

Belajar Percaya dari Thomas


Pesta S. Thomas, Ras (M)
Ef. 2:19-22
Mzm. 117:1,2
Yoh. 20:24-29



Ef. 2:19-22


2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh



Yoh. 20:24-29

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.




Belajar Percaya dari Thomas

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan pesta Santo Thomas. Peristiwa Thomas dengan Tuhan Yesus usai kebangkitan adalah fenomenal. Apa yang dapat kita pelajari dari sana? Kualitas Thomas, yang berani menyatakan berbeda, namun juga secara sportif dan spontan mengatakan, ya Tuhanku dan Allahku. Spontanitas dalam iman dan hidup kita, tidak dibuat-buat, tidak mencari kemegahan diri.
Dua hal satu paket dengan kesiapannya untuk segera, spontan, dan sesegera mungkin. Ini yang membedakan dengan yang ada. Thomas langsung menjatuhkan diri begitu tahu dan melihat bahwa itu adalah Tuhan. Jauh sebelum itu, ketika ia tidak ada, dengan sengit ia menyatakan tidak akan percaya sebelum mencucukan jarinya sendiri ke dalam luka-luka Tuhan.
Kritik yang disampaikan Yesus adalah berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Hal yang sangat penting bagi kita hari ini. Bagaimana jika kita hari ini juga seperti Thomas itu, maunya melihat, merasakan, dan menyaksikan secara langsung 2000 tahun lebih. Minimal membendakan Tuhan dalam kehidupan kita. Menantang Tuhan untuk membuktikan eksistensinya, meminta Tuhan untuk melakukan hal luar biasa untuk membuat kita percaya. Tidak ada gunanya bagi hidup kita, pun tidak menambah apapun bagi keberadaan Tuhan.
Saudara terkasih, kedudukan iman, pemahaman iman, kualifikasi iman kita berbeda-beda. Ada yang tenang dan percaya, ada yang meledak-ledak demi menyatakan iman, namun ada pula yang tenang namun mudah meminta tanda dan bukti kehadiran Tuhan. Itu lah manusia. Masing-masing memiliki kadar, mempunyai kemampuan, dan kondisi masing-masing. Para murid pun demikian, Petrus yang meledak-ledak dan sering ditegur Tuhan. Thomas yang percaya dengan menggunakan inderanya.
Percaya menjadi penting sebagaimana Tuhan katakan. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Gerak batin dan nurani yang jernih sangat membantu manusia untuk melihat rencana Tuhan di sana. Tidak mesti apa yang kita saksikan, apa yang kita rasakan itu sama dengan apa yang Tuhan kehendaki. Di sanalah peran iman dan keyakinan sehingga kita percaya. Iman dan kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allahku. Titik. Tidak ada lagi syarat atau prasyarat untuk kita percaya. Kita diajak untuk pasrah bongkokan atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Percaya di dalam hidup kita akan Tuhan dan Allah. BD.eLeSHa.

Percayalah!


Selasa Pekan Biasa XIII (H)
Kej. 19:15-29
Mzm. 26:2-3,9-10,11-12
Mat. 8:23-27



Kej. 19:15-29

19:15 Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini."
19:16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.
19:17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap."
19:18 Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku.
19:19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku.
19:20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara."
19:21 Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal ini pun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan.
19:22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar.
19:23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.
19:24 Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;
19:25 dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.
19:26 Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.
19:27 Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu,
19:28 dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.
19:29 Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.

Mat. 8:23-27

8:23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.
8:24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
8:25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."
8:26 Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.
8:27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?




Percayalah!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana kita beriman itu. pengalaman para murid yang ketakutan sehingga membuat mereka hilang percaya. Mereka juga menuding Tuhan tidak peka, malah enak-enakan tidur kasarnya demikian.
Apa yang terjadi dalam bacaan Injil ini adalah gambaran beriman kita setiap saat. Ada dua hal penting yang patut kita renungkan dan lihat secara mendalam. Pertama mengenai takut. Sangat wajar bahwa kita itu takut. Namun ketika bersama dengan Tuhan saja masih takut, ini berarti sudah tidak tepat. Di dalam Tuhan apa yang perlu kita takutkan coba?  Para murid itu kurangnya apa coba, hidup, bergaul, dan bahkan murid sehari-hari bersama Yesus. Mereka takut.
Kurang percaya menjadi kata kunci berikutnya. Tuhan yang dikatakan para murid malah tidur, sangat mungkin sengaja, mau melihat dan menyaksikan kualitas beriman para murid. Dan benar saja, mereka ketakutan dan cemas. Mereka terbukti kurang percaya.
Saudara terkasih, sering kita dihinggapi ketakutan, sehingga menurunkan iman kita, kadang juga merontokan iman kita. Takut dikucilkan masyarakat, takut tidak laris lagi, takut tidak bisa menjadi pejabat, takut tokonya tidak laku. Beraneka ragam ketakutan dan alasannya membuat kita mengorbankan iman dan keyakinan kita.
Ada pula yang takut miskin, takut untuk bekerja keras sehingga mencuri, merampok, korupsi, atau mungkin juga berkolaborasi dengan kuasa jahat. Hal-hal yang konkret kita hadapi setiap saat, setiap waktu, dan itu semua membawa kita lemah dalam iman dan keyakinan. Kita gadaikan Tuhan kita yang sudah demikian baik, demi harta, demi jabatan, demi kursi yang kita inginkan.
Padahal Tuhan sudah memberikan kepada kita kelimpahan, membawa kita kepada keselamatan, dan kemerdekaan yang sejati. Kita tahu bukan hal itu, namun toh kita masih takut dengan yang ada di dunia ini dan mengadaikan itu demi apa yang ada di depan mata.
Iman yang perlu kita pupuk sehingga menjadi landasan kita untuk hidup. Melihat Tuhan dan  rancangan-Nya, bukan hanya memenuhi apa yang kita inginkan, apa yang kita kehendaki semata.  Iman menjadi pembeda.BD.eLeSHa.

Senin, 01 Juli 2019

Spiritualitas Hidup


Senin Biasa Pekan XIII (H)
Kej. 18:16-33
Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,10-11
Mat. 8:18-22





Kej. 18:16-33

18:16 Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka.
18:17 Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
18:18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
18:19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."
18:20 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.
18:21 Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."
18:22 Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.
18:23 Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?
18:24 Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?
18:25 Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"
18:26 TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka."
18:27 Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.
18:28 Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?" Firman-Nya: "Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana."
18:29 Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: "Sekiranya empat puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu."
18:30 Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana."
18:31 Katanya: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu."
18:32 Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu."
18:33 Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.

Mat. 8:18-22

8:18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.
8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
8:20 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.



Spiritualitas Hidup

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita melihat sisi spiritualitas dalam panggilan hidup kita. Memang dalam sisi panggilan sering dikaitkan dengan panggilan khusus, menjadi imam, biarawan-biarawati. Jauh lebih luas nampaknya semua segi hidup pun memperlihatkan keterlibatan Tuhan itu juga penting.
Kehendak, keinginan, dan harapan manusiawi perlu keselarasan dengan kehendak Tuhan. Manusia perlu mengerti apa maunya Tuhan. Hidup kita ini ada dalam keseluruhan rencana Tuhan dalam rancangan besarnya. Bayangkan jika kita memaksakan keinginan kita, nanti akan bertabrakan dengan keinginan orang lain.
Tuhan telah mengatur kita akan seperti apa, karena juga berkaitan dengan berjuta-juta manusia di seluruh bumi ini. Kita ini tidak berdiri atau melangkah sendirian, namun bersama semesta ini. Jika kita menyadari ini, kita akan menjadi pribadi yang jempolan.
Pertama, kita akan sumeleh, ndherek kersaning Gusti. Kita pasrah bongkokan dalam kehendak Tuhan apapun yang terjadi. Tidak ada protes, mengeluh,  apalagi protes dan menggugat Tuhan. Kesadaran untuk bisa demikian erlu proses panjang dan berjenjang serta bertahap.
Kedua, rendah hati. Jika mau tahu bahwa hidup kita di dalam satu rangkaian, gerbong, dan satu jalinan besar, apa yang mau dibanggakan coba, mau disombongkan apanya?
Ketiga, merasa berarti dan penting. Manusia modern sering dihinggapi perasaan minder, tidak berdaya, merasa tidak berguna, karena melihat dunia sekitar itu demikian gegap gempita, ini membuat kita merasa kecil dan mundur, menarik ke belakang, mungkret. Padahal di dalam seluruh rangkaian itu, kita juga terlibat, beda peran semata-mata.
Keempat, kita itu satu saudara di dalam melakukan peziarahan menuju kepada Tuhan. Kesadaran demikian akan membawa pada penghormatan, kasih yang sama besar baik bagi diri dan sesama. Kedamaian akan tercipta, mengurangi persaingan tidak sehat.
Saudara terkasih, itulah tugas kita di tengah dunia ini, membawa damai, surga itu ada di bumi, bukan semata ada setelah dunia kita hari ini. Perjuangan yang  tidak akan mudah karena beragamnya prespektif setiap orang di dalam melihat keberadaan diri dan lingkungannya.
Di dalam dan bersama Tuhan, rancangan Tuhan yang demikian indah itu akan tercipta dan damai sejahtera itu mungkin. BD.eLeSHa.

Senin, 03 Juni 2019

Karolus Lwanga, Martir Uganda


Pw. S. Karolus Lwanga dkk Mrt (M)
Kis. 9:1-8
Mzm. 68:2-3,4-5ac,6-7ab
Yoh. 16:29-33



Kis. 9:1-8

19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.
19:2 Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
19:3 Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes."
19:4 Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus."
19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
19:6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
19:7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang.
19:8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.


Yoh. 16:29-33

16:29 Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.
16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."
16:31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang?
16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.
16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.



Santo Karolus Lwanga, Martir Uganda


Kebenaran dan keluhuran ajaran Yesus dibela mati-matian oleh para pengikut-Nya dimana-mana meskipun hal itu mengakibatkan kematian. Di Afrika, terutama di Uganda, pembelaan iman ini telah mengakibatkan pembunuhan banyak martir.
Penganiyaan dan pembunuhan atas orang-orang Kristen itu disebabkan oleh ajaran Kristen yang dianggap sebagai perintah utama pelaksanaan adat-istiadat kafir di Uganda. Ketika itu, adat-istiadat disana masih tergolong sangat primitif. Perdagangan budak, poligami dan pemerkosaan anak-anak dianggap hal yang biasa. Demikian juga pelestarian adat-istiadat dan animisme masih dianggap sebagai perkara budaya yang harus digalakkan.
Oleh karena itu kedatangan misionaris-misionaris Katolik pada tahun 1879 untuk mewartakan Injil Kristus dianggap sebagai penghalang keberlangsungan praktek adat-istiadat dan kebiasaan buruk diatas. Akibatnya, penguasa setempat melancarkan aksi pembunuhan terhadap para misionaris itu. Banyak juga pemuda-pemuda Uganda yang sudah menjadi Kristen dibunuh. Karoluk Lwanga adalah salah seorang anak yang melayani raja Muanga. Ia menggantikan temannya Yosef Mukasa. Muanga dikenal sebagai raja yang bejat. Ia biasa memuaskan nafsu seksnya pada anak-anak lelaki yang melayaninya. Melihat kebejatan Muanga ini, Karolus Lwanga selalu bersikap hati-hati. Ia juga mengawaskan anak-anak Kristen Uganda yang sudah menjadi Kristen agar tidak tercemar oleh perbuatan bejat Muanga. Raja Muanga sangat benci terhadap ajaran-ajaran Kristen. Hasutan orang-orang Arab semakin menambah kebencian Muanga terhadap keluhuran ajaran iman Kristen sekaligus misionarisnya. Anak-anak Uganda yang sudah menjadi Kristen tidak terlepas dari berbagai ancaman. Namun anak-anak ini semakin kuat imannya dan tidak menghiraukan segala bentuk ancaman itu.
Pada tanggal 25 Maret 1886, raja mendapati para pelayannya sedang mengikuti pelajaran agama dari seorang misionaris. Ia sangat marah dan lalu membunuh anak-anak itu. Keesokan harinya, ia mengumpulkan para ketua suku dan meminta pertimbangan mereka untuk menghukum anak-anak Kristen yang lain. Hal ini sama sekali tidak menggentarkan hati mereka. Mereka rela mati demi imannya.
Anak-anak Kristen yang belum dibunuh, termasuk di dalamnya Karolus Lwanga, ditangkap dan dipenjarakan. Karolus yang tertua segera mempermandikan dan mengajar mereka tentang ajaran-ajaran iman Kristen. Ia menguatkan hati mereka untuk menerima segala akibat yang paling buruk. Iman mereka teguh dan mereka bersedia menjalani hukuman bakar yang ditimpakan atas mereka.
Karolus dibunuh bersama kawan-kawannya demi membela iman Kristen. Mereka yakin bahwa Tuhan akan memberi mereka pahala di surga yang jauh lebih membahagiakan. Oleh Sri Paus Paulus VI, Karolus dinyatakan ‘kudus’ pada tahun 1964
Imankristiani.co.id