Selasa, 07 Mei 2019

Akulah Roti Hidup


Selasa Biasa Pekan III Paskah (P)
Kis. 7:51-8:1
Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b, 8a, 17,21ab,
Yoh. 6:30-35



Kis. 7:51-8:1

7:51 Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.
7:52 Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh.
7:53 Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya."
7:54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.
7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
7:56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."
7:57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.
7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.
7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku."
7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.
 8:1a Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh.


Yoh. 6:30-35

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi



Akulah Roti Hidup

Saudara terkasih, hari ini kita diajak bersama Bunda Gereja untuk merenungkan firman-Nya mengenai Roti Hidup. Dalam hidup ini, manusia memerlukan roti atau makanan untuk hidup. Kadang ada  orang yang hidup untuk makanan. Orientasinya hanya makanan, materi, dan demi itu merugikan orang lain pun bukan pertimbangan.
Dalam hari-hari terakhir ini, kita menyaksikan bagaimana maraknya korupsi. Mereka ini para pencari nasi atau roti dan kemewahan gaya hidup mereka. Mereka melakukan itu tanpa merasa bersalah jika merugikan pihak lain. Maling anggaran untuk dana bencana saja seolah sah-sah saja. Atau pembangunan jalan dan jembatan yang bisa membahayakan hidup orang banyak. Mereka ini para pencari kekenyanga perut dan kemewahan badani atau duniawi.
Atau perilaku teroris yang meledakan diri demi surga mereka. Aneh dan lucu ketika mengatakan demi Tuhan namun mereka mengabaikan tanggung jawab dan kewajibannya di dunia ini. Ini pencarian surga atau hidup abadi namun abai yang duniawi. Sama saja sesatnya. Bagaimana bisa memperoleh surga ketika di dunia saja abai dan bahkan menelantarkan keluarganya? Hal yang patut mendapatkan perhatian bersama ini  bukan soal agamanya apa, namun perilaku. Kadang agama menjadi kedok untuk berbuat kejahatan dan perilaku jahat di dunia.
Perilaku mencari hidup enak namun dengan mengaitkan kehidupan surgawi dalam politik praktis juga sedang marak-maraknya. Hal yang jika mau menggunakan nalar dan akal sehat, jelas itu hanya kamuflase, penggunaan, memperalat agama demi kekuasaan sesaat. Perilaku yang sejatinya bukan seturut kehendak Allah, namun kehendak sendiri yang dipaksakan dan diberi label kehendak Allah atau kehendak surga.
Akulah Roti Hidup, datang dan makan Tuhan, artinya melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap akal budi dan mengasihi sesama sebagaimana diri sendiri. Itulah perilaku orang percaya. Percaya kepada Tuhan semata tanpa perilaku juga omong kosong. Ada keseimbangan dan perilaku yang berimbang ketika mengasihi Tuhan dan sesama. Jika mengasihi Tuhan namun melukai sesama atau merugikan sesama, apa itu benar? Atau asyik mengasihi sesama, mengabaikan Tuhan, apa itu juga layak? BD.eLeSHa.


Percayalah, Carilah Makanan yang Tidak akan Membut Lapar Lagi!


Senin Biasa Pekan III Paskah (P)
Kis. 6:8-15
Mzm. 119:23-24,26-27,29-30
Yoh. 6:22-19



Kis. 6:8-15

6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.
6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini -- anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria -- bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus,
6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.
6:11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: "Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah."
6:12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.
6:13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat,
6:14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita."
6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

Yoh. 6:22-19

6:22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.
6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"
6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.



Percayalah, Carilah Makanan yang Tidak akan Membut Lapar Lagi!

Saudara terkasih, kata kunci percaya menjadi bahan permenungan kita hari ini bersama dengan Bunda Gereja. Percaya di mana permintaan Yesus kepada orang-orang yang mencari-Nya dengan susah payah. Proses untuk mengerti dan memahami Yesus dan cara-Nya ternyata berliku dan kadang salah jalan pula. Hal yang sama dialami bahkan oleh yang diajar Yesus secara langsung.
Para ppendengar Yesus bersusah payah mencari Yesus hingga berlayar dengan perahu hanya untuk mencari Yesus. Benar bahwa mereka memang mencari Yesus, namun bukan untuk apa yang seharusnya. Mereka berlayar mencari Yesus karena makanan. Mereka mencari karena roti yang pernah mereka makan. Yesus mengajak mereka untuk percaya, bekerja yang menghasilkan upah yang tidak akan habis.
Sikap percaya dengan bekerja untuk hasil yang kekal abadi. Jika kita ikut Yesus agar dapat makan kenyang, atau agar bisa sekolah bagus dan murah, atau mendapatkan keuntungan finalsial, itu bisa saja pada awalnya. Namun apakah harus demikian terus? Jawabannya adalah tidak. Kita diajak untuk percaya.
Ada dua hal penting yang patut kita renungkan dalam bacaan hari ini. Pertama,  inisiatif dari Tuhan. Di mana Tuhan memberikan mereka makan dan mereka kenyang. Ini adalah umpan, pancingan, dan bagaimana tanggapan mereka atas hal ini.
Pencarian mereka jelas adalah respon dasar, di mana mereka mau mencari makan, dan mereka pernah dikenyangkan. Proses tahap awal yang cukup baik, ada respons, tanggapan. Dan Yesus memberi tanggapan dan inisiatif selanjutnya atas keinginan mereka.
Kedua, apa yang harus kami lakukan? Bekerjalah untuk makanan yang tidak dapat binasa. Ada tanggapan selanjutnya, tidak berhenti pada pencarian yang masih dasar tersebut. Ada gerak perkembangan selanjutnya untuk mau mengerti rencana Allah.
Saudara terkasih, sering dalam hidup kita mencari yang remeh temeh, dan apakah itu mau berkembang lebih jauh atau hanya berhenti dan berkutat pada hal yang sepele itu? Idealnya adalah naik kelas, naik level, dan semakin mendekati apa yang Tuhan kehendaki dan sediakan. Memang tidak salah mencari makan, namun tidak lah cukup hanya berhenti pada itu semata. Berkembang semakin mencari kehendak Allah dan menjalankan apa yang Tuhan rencakan bagi kita. BD.eLeSHa.


Kembalinya Orientasi


HHARI MINGGU PASKAH III (P)
Kis. 5:27-32,40-41
Mzm.30:2,4,5,6,11,12,13b
Why. 5:11-14
Yoh. 21:1-19



Kis. 5:27-32,40-41

5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,
5:28 katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.
5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.
5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.
5:40 Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.
5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus


Why. 5:11-14

5:11 Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa,
5:12 katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"
5:13 Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!"
5:14 Dan keempat makhluk itu berkata: "Amin". Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.

Yoh. 21:1-19

21:1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
21:5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."



Kembalinya Orientasi

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan sikap para murid ketika awal-awal ditinggalkan Yesus. Kehilangan orientasi, kebingungan mau apa lagi, balik kanan dan kembali pada masa lalu sangat mudah dan paling sering banyak diambil orang. Demikian juga para murid, di mana mereka yang awalnya para pencari ikan, penjala ikan, dan nelayan kini juga kembali menjadi nelayan.
Perjumpaan dengan Yesus, mengubah dan membuat mereka berubah. Perubahan yang sangat besar di mana mereka pencari dan penjala ikan menjadi penjala manusia. Kebiasaan, tabiat, bahkan profesi yang luar biasa dan tinggi martabatnya karena membawa orang pada jalan keselamatan, kini turun kembali menjadi penjala ikan.
Reorientasi sering menjadi penting. Melihat kembali apa motivasi kita, apa yang kita cari, dan kembali kepada nurani sebagai representasi kehendak dan kehadiran Tuhan menjadi penting. Di sanalah kita menjadi tahu apa yang Tuhan kehendaki, bukan apa yang kita ingini. Memang sering tidak mudah, karena harus mengubah banyak hal. Perubahan yang tidak hanya sedikit dan kecil-kecilan, namun drastis dan luar biasa.
Kadang di sini kita kehilangan orientasi apalagi jika malah memilih jauh dari Allah dan Tuhan dalam jalan yang kita tempuh. Mendapatkan halangan, ada hambatan sedikit saja kita akan merasa sangat berat dan enggan melanjutkan lagi. Memilih balik dan kembali pada masa lalu.
Lebih berat jika itu adalah kegagalan.  Orang yang gagal akan susah untuk diajak beranjak, ndheprok itu enak. Tanyakan saja pada para napi yang baru pulang dari penjara, mereka yang ditolak masyarakat. Sama juga orang yang pulang dari biara atau seminari, ketika penolakan dan sikap sinis dirasakan, mereka bisa makin jauh dari Tuhan. Dan jika tidak hati-hati, bisa malah menjadi tersesat dan bisa berabe.
Saudara terkasih, orientasi para murid menjadi kembali, semangat timbul lagi, dan mereka memang sempat malu dan takut, namun itu penting untuk membawa perubaha yang signifikan. Tanpa takut dan malu, mungkin para murid tidak akan kembali menjadi penjala ikan.
Titik balik pentingnya adalah kebersamaan dengan Tuhan. Tuhan yang hadir menyapa dan mengajak kembali pada kesejatian diri. Jadi siapa tahu ketika kita gagal atau mengalami hal yang tidak nyaman, itu adalah saatnya Tuhan mengajak kita untuk kembali kepada-Nya. Mengajak kita untuk kembali bersama-Nya dan mengenali kehendak-Nya saja. BD.eLeSHa.

Jangan Takut, Ada AKU!


Sabtu Biasa Pekan Paskah II (P)
Kis. 6:1-7
Mzm. 33:1-2,4-5,18-19
Yoh. 6:16-21




Kis. 6:1-7

6:1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
6:2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.
6:3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
6:4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
6:5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
6:6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
6:7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.


Yoh. 6:16-21

6:16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu
6:17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka,
6:18 sedang laut bergelora karena angin kencang.
6:19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.
6:20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!"
6:21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui



Jangan Takut, Ada AKU!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda  Gereja merenungkan firman-Nya mengenai ketakutan dalam iman. Hal yang normal, wajar, takut, dan galau meskipun kita beriman, beragama sejak bayi bahkan. Kecemasan, kegalauan, dan khawatir itu manusiawi, itu biasa. Namun apakah hal yang biasa itu kemudian menjadi pembenar untuk tidak berkembang dan menjadi pribadi yang ketakutan.
Ketakutan dan kecemasan itu bisa beraneka ragam, bermacam bentuk, dan alasan, serta sebabnya. Ada yang takut kelaparan, takut miskin, khawatir gagal, cemas tidak bisa sukses, atau yang lainnya. masing-masing dari kita tentu memiliki kecemasan dan kekhawatiran masing-masing, kadar yang berbeda-beda, juga alasan yang berlainan. Ada karena masa lalu, ada karena pendidikan orang tua atau tuntutan mereka, dapat pula karena obsesi yang berlebihan.
Dalam bacaan Injil kita melihat bagaimana para rasul, para murid, dan orang terdekat Yesus pun bisa mengalami ketakutan. Para murid takut akan Yesus yang berjalan di atas air. Pemikiran sederhana mereka itu adalah hantu. Tidak ada orang yang bisa berlaku demikian. Hal yang  wajar dan akan kita lakukan atau pikirkan mungkin.
Saudara terkasih, di dalam Yesus, segala kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran itu tidak ada pembenarnya, pamornya hilang, dan tidak lagi patut dirasakan. Ada dua sikap yang bisa meringankan dan bahkan menjauhkan dari rasa negatif itu semua.
Seperti para murid, bersama Yesus, ini Aku, jangan takut, membuat para murid menjadi tenang. Di dalam Tuhan, apa lagi yang kita takutkan, cemaskan, dan khawatirkan bukan? Tidak ada. Hanya di dalam Tuhan semua kecemasan dan ketakutan kita bisa atasi. Bersama DIA Yang Penuh Kasih, mampu menyelesaikan apa yang kita khawatirkan.
Bersama dengan sesama dan yang lain, bisa membantu dan cukup memberikan keringanan kadar ketakutan kita. Sikap berbagi dan menemukan kekuatan dari sesama itu tidak salah, namun bahwa jangan kemudian melalaikan apalagi jika sampai melupakan dari Allah sebagai pusat dan kekuatan utama kita.
Benar bahwa sesama juga kepanjangan tangan  Tuhan, namun jangan kesampingkan peran utama Allah dalam seluruh hidup kita. Termasuk di dalamnya adalah kecemasan dan ketakutan. BD.eLeSHa.

Aku adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup


Pesta S. Filipus da S. Yakobus, Ras (M)
1 Kor. 15:1-8
Mzm. 19:2-3,4-5,
Yoh. 14:6-14



1 Kor. 15:1-8

15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.


Yoh. 14:6-14

14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.



Aku adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Filipus Rasul adalah murid Yohanes Pemandi yang berasal dari Betsaida. Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, Filipus ada di sana. Menurut Yohanes Penginjil, Yesus memanggil Filipus sehai usai Yesus memanggil Petrus dan Andreas.  Usai kebangkitan ia dikisahkan menjadi pewarta di Frigia.
Ia menderita amat berat dan disalibkan ala Petrus dengan kepala di bawah. Ia pribadi yang spontan dan tanpa ragu-ragu. Filipuslah yang mengatakan kepada Natanael bahwa Mesias yang dinanti-natikan dan dinubuatkan para nabi telah ia temukan dalam diri Yesus. Ia juga yang menjawab ketika akan ada penggandaan roti. Pernyataan dan pernyataan kepada Yesus mengenai Bapa juga memperlihatkan betapa Filipus itu pribadi yang suka spontan dalam bersikap. Filipus juga dikisahkan pernah menghidupkan kembali seorang laki-laki yang sudah meninggal.
Yakobus, disebut Yakobus muda untuk membedakan dengan Yakobus Tua, sebagai salah seorang rasul. Yakobus muda adalah anak Alfeus sepupu Yesus. Ibunya Maria termasuk yang melayani Yesus dan mendampingi Bunda Maria hingga di kaki salib. Yakobus muda salah satu murid yang bekerja sebagai petani. Usai Yakobus Tua dibunuh Herodes dan Petrus mengungsi dan para rasul terpencar, Yakobus tetap tinggal di Yerusalem dan kemudian menjadi uskup pertama Yerusalem.
Di antara kalangan warga Yahudi ia dijuluki sebagai “Yang Adil” karena mengetahui segala hukum Yahudi dan ia menaatinya dengan patut terhadap Taurat Musa.
Ia sebagai rasul Yesus juga sangat taat dan menjunjung tinggi nilai-nilai Kristianitas. Ia pula yang membebaskan orang Kristen yang bukan Yahudi dari hukum Taurat terutama sunat. Persahabatannya dengan Paulus memberikan jembatan generasi Kristianitas yang mendasar.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita diajak untuk mengenal Yesus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Jalan kepada Bapa, di mana hal itu dinyatakan untuk menjawab pertanyaan atau pernyataan Filipus. Siapa yang percaya kepada Yesus akan melakukan apa yang Yesus lakukan, karena Ia berasal dari Bapa. Sikap percaya memampukan banyak hal, karena ada karya Bapa dalam diri orang percaya. Janji dan sudah pula  ditepati, bahwa orang percaya mendapatkan begitu besar karunia. BD.eLeSHa.

Kamis, 02 Mei 2019

Percayalah!


Pw. S. Athanasius Agung, Usk. PujG (P)
Kis. 5:27-33
Mzm. 34:2,9,17-18,19-20
Yoh. 3:31-36



Kis. 5:27-33

5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,
5:28 katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.
5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.
5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia."
5:33 Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu


Yoh. 3:31-36

3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.
3:32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu.
3:33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.
3:34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.
3:35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.
3:36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.




Percayalah!

Saudara terkasih, hari ini kita memperingati Santo Athanasius seorang Pujangga Gereja dan pembela iman. Ia yang lahir di Aleksandria kemudian menjadi sekretaris uskup di tanah kelahirannya. Ia dikenal sebagai Bapa ortodoksi, karena perjuangannya menentang ajaran sesat yang berkembang pada masanya.
Ia dikenal pula sebagai pembela terbesar Gereja aras Tritunggal Mahakudus dan Misteri Penjelmaan. Ia banyak menulis tentang hal ini. Athanasius juga ikut dalam Konsili Nicea. Pembela amat gigih terhadap bidaah Arianisme, pada waktu ia menjadi uskup sampai lima kali melarikan diri karena pengepungan yang dilakukan para penganut bidaah.
Perjuangannya berakhir pada 2 Mei 373 ketika ia meninggal.  Namun gema perjuangan dan buah pikirnya masih kita kenang dan hayati hingga kini.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil hari ini kita juga patut merenungkan, bagaimana dan dari mana Yesus berasal dan itu yang membedakan dengan kita. Yesus yang berasal dari Surga diutus Allah untuk menyampaikan khabar gembira dan keselamatan. Kita yang berasal dari dunia, kadang kesulitan mencerna itu karena asal kita yang dari dunia ini. Di sanalah letak perbedaan yang cukup signifikan.
Siapa yang berasal dari dunia dan tidak mau tahu terhadap yang dari atas, akan terus ada dalam kuassa dunia yang bisa membuat tersesat dan salah dalam memahami kedatangan Tuhan. Konsekuensi yang cukup besar dampaknya bagi yang tidak percaya. Ketidakpercayaan karena berasal dari dunia, dan tidak mau percaya apa yang dinyatakan Yang dari surga. Utusan Bapa Surgawi untuk membawa manusia pada keselamatan.
Pilihan kita di dunia ini sering memisahkan dan menjauhkan kita dari Allah. Allah yang membawa kita pada terang, sering kita bantah dan tolak. Seperti anak kecil yang asyik bermain air atau lumpur, tawaran orang tua untuk mengajak kita berhenti malah kita jawab dengan tangisan karena enggan keluar dari sana. Pun sama kita sebagai anak-anak dunia merasa nyaman dan memilih untuk tidak mau bersama Allah yang mengajak kita pada hidup kekal. Inilah kebebasan surgawi yang tidak pernah dipaksakan Tuhan Allah pada kita. BD.eLeSHa.



Rabu, 01 Mei 2019

Kasih yang Menyelamatkan


Rabu Biasa Pekan II Paskah (P)
Kis. 5:17-26
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9
Yoh. 3:16-21



Kis. 5:17-26

5:17 Akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati.
5:18 Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara kota.
5:19 Tetapi waktu malam seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya:
5:20 "Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak."
5:21 Mereka mentaati pesan itu, dan menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara.
5:22 Tetapi ketika pejabat-pejabat datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan,
5:23 katanya: "Kami mendapati penjara terkunci dengan sangat rapinya dan semua pengawal ada di tempatnya di muka pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun yang kami temukan di dalamnya."
5:24 Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka cemas dan bertanya apa yang telah terjadi dengan rasul-rasul itu.
5:25 Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak."
5:26 Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka


Yoh. 3:16-21

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.



Kasih yang Menyelamatkan

Saudara terkasih, hari ini bersama Bunda Gereja kita merayakan dua peristiwa besar. Pertama adalah mengenai dibukannya Bulan Maria. Waktu di mana kita merenungkan Maria, bersama Maria menuju kepada Yesus. Maria adalah sarana kepada Yesus. Yesus menjadi tujuan, dan kadang kita maish salah, sehingga lebih mementingkan Maria.
Aktivitas ziarah, berdoa rosario bersama, atau melakukan novena untuk menhormati Maria. Namun jangan sampai berhenti pada Maria dan tidak menuju kepada Yesus. Semua dilakukan dalam sembah bakti kepada Maria namun dalam kesatuan dengan Yesus. Ada kecenderungan untuk puas diri, merasa cukup pada Maria saja, padahal tidak demikian.
Kedua adalah hari ini perayaan fakultatif Yusuf Pekerja, di mana dunia internasional menggunakannya sebagai Hari Buruh, dan di Indonesia diberi libur untuk merayakannya dengan berbagai cara dan model. Yrusuf Pekerja, simbol bahwa peran ayah sosiologis Yesus itu adalah pekerja.
Saudara terkasih, kita patut bersyukur memilih Allah yang demikian mencintai kita, mengasihi kita, dan memberikan kepada kita kemudahan. Penebusan atas kesalahan kitapun luar biasa. Kasih-Nya yang sangat besar itu bahkan sampai  memberikan Putera-Nya Yang Tunggal untuk kita. Tuhan datang bukan untuk menghakimi manusia namun untuk menyelamatkannya.
Tuhan fokusnya adalah kasih dan keselamatan. Manusia yang menyukai kegelapan dan itu juga berarti mengabaikan Sang Terang, tetap mendapatkan kesempatan untuk bersama-sama berbahagian bersama-Nya di dalam Firdaus.
Saudara terkasih, jelas apa yang dimaui Tuhan, mengajak kita menuju kepada terang, bukan malah sebaliknya. Penyuka kegelapan, menyembunyikan apa yang jelas untuk mendapatkan keuntungan, dan menyembunyikan atau menutup-nutupi barang yang jelas berarti berasal dari si jahat karena jauh dari terang yang akan memperlihatkan perilaku jahat itu.
Berbahagialah kita yang dituntun, dibawa, dan diarahkan kepada Terang, Terang Sejati lagi, sehingga kita tidak akan terantuk, tidak akan lagi salah langkah dan jalan. Tuhan Mahakasih tidak ingin  kita ada yang tersesat dan terjerumus, maka diberi Terang, dan itu adalah Putera-Nya sendiri. Kita sering memilih kesenangan kita sendiri, menyukai apa yang justru Tuhan tidak kehendaki, di mana kita cenderung memilih untuk terlena dan menikmati kegelapan. Jika demikian, kegelapan pula yang akan kita terima di alam keabadian. BD.eLeSHa.

Kelahiran Baru yang Menyelamatkan


Selasa Biasa Pekan Paskah II (P)
Kis. 4:32-37
Mzm. 2:1-3,4-6,7-9
Yoh. 3:7-15




Kis. 4:32-37

4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.


Yoh. 3:7-15

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
3:13 Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal



Kelahiran Baru yang Menyelamatkan

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya yang  berbicara mengenai kelahiran baru yang berkontibusi utama dalam mendapatkan keselamatan. Sama dengan kemarin, bacaan Injil masih sama dengan tokoh utama adalah Nikodemus.
Kembali Yesus berbicara mengenai asal-usulnya. Surga dari mana IA berasal. Namun Yesus juga berbicara dengan bahasa manusia. Kesaksian yang IA nyatakan dan berikan adalah bahasa dan budaya manusia agar bisa dipahami dengan baik oleh manusia.
Nikodemus sebagai seorang ahli di Yahudi saja gagal paham, karena ia tidak bersama dan di dalam Yesus Tuhan. Kebersamaan dengan Tuhan cukup membedakan dan berperan cukup penting dan signifikan. Di sana ada keselamatan dan akibat yang ditimbulkan.
Pada sisi yang berbeda, jika orang abai akan kepercayaan kepada Tuhan, mereka bisa menjadi terisolasi dari Tuhan dan terasing. Bayangkan saja, jika kita terasing, terpencil, dan sendirian tanpa sanak saudara, handai taulan, dan tetangga. Keterasingan yang ada batasnya saja sudah membuat kita galau, cemas, dan khawatir. Apalagi jika terpisah dan terasing dari kasih  Allah.
Saudara terkasih, konsekuensi percaya adalah bersatu dengan kasih Allah. Jika kita  bersama orang yang kita sayangi, cintai, dan sukai, bagaimana perasaannya? Senang, bahagia, damai, dan penuh suka cita bukan? Tawa canda menghiasi, puas dalam banyak suasana, waktu cepat berlalu, dan enggan untuk terhenti bukan? Demikian juga jika kita bersatu di dalam Tuhan dengan kasih-Nya yang tak terbatas itu.
Sebaliknya, jika kita terasing, terpisah, dan terputus dengan orang yang kita sayangi, apapun rasanya gelap, susah untuk ini dan itu. Sama dan bahkan lebih buruk jika kita terpisah dengan kasih sejati yaitu Tuhan. Hidup kita akan hampa, apalagi hidup di dalam keabadian. Di sana kita seolah akan sia-sia, karena terpisah dengan Sang Kasih Sejati itu.
Saudara terkasih, kepercayaan, keyakinan, dan kehendak untuk menyatakan ya pada kasih Tuhan adalah iman. Iman yang membawa kita kepada kesatuan kasih ilahi yang membahagiakan, menenteramkan dan membahagiakan kita secara kekal dan abadi. Pilihan pada kita, mau terpisah atau bersatu. BD.eLeSHa.