Kamis, 14 Maret 2019

Carilah, Mintalah, dan Ketoklah


Kamis Pekan I Prapaskah (U)
Est. 4:10-12
Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8,
Mat. 7:7-12



Est. 4:10-12

4:10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai:
4:11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja."
4:12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai,
4:13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi.
4:14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."
4:15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai:
4:16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."
4:17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.


Mat. 7:7-12

7:7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi



Carilah, Mintalah, dan Ketoklah

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman Tuhan mengenai usaha. Mencari, meminta, dan mengetok adalah sebuah usaha dan upaya. Gerak langkah menuju kepada Bapa Si Pemberi, Pembuka Pintu, dan  Penunjuk Arah. Paket komplet dan itu adalah fakta.
Mencari, ini adalah upaya, usaha, dan bukan semata njagake, mengandalkan toh Tuhan sudah tahu, Tuhan Mahabaik, Tuhan Mahamurah, dan akan memperoleh apapun yang kita inginkan. Apakah demikian naifnya? Jelas tidak, ada upaya yang mengiringi berkat dan rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Gerak manusiawi yang memang harus demikian.
Meminta, ada unsur kerendahan hati, ada kehendak bebas untuk mengatakan kepada Tuhan apa kerinduan, apa yang kita perlukan, dan inginkan. Tentu sekali lagi, bukan semata bahwa itu hanya meminta saja. Ada juga mencari dan mengusahakan dengan laku sebagai pribadi dan manusia.
Keterlibatan Tuhan selaras dengan aksi dan tindakan manusia. Meminta terus, namun tidak berusaha, bukan itu yang Tuhan kehendaki. Ada keselarasan antara doa dan kerja atau aksi.  Meminta juga memberikan bukti bahwa kita ini terbatas. Kita bergantung pada Si Pemberi, yaitu Allah Bapa Sumber Segala sesuatu.
Kerendahan hati yang memampukan orang untuk meminta. Kesombongan diruntuhkan untuk bersikap bahwa Tuhan  jauh lebih berkuasa dan mampu memberikan kepada kita. Kita ini bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan dan dunia.
Mengetuk itu da upaya untuk membuka jalan, meminta diberikan jalan atau pintu kepada Tuhan, gerak dan langkah untuk menyapa Tuhan, membuka hati bahwa memang tidak berdaya di hadapan Tuhan dan sesama.
Kehendak untuk melibatkan Tuhan dan sesama di dalam hidup manusiawi sehari-hari. Hal yang tidak  selalu mulus untuk dilakukan, Tuhan kadang lebih jauh karena susah karena kesombongan kita, merasa mampu, tidak perlu merepotkan Tuhan. Padahal Tuhan sangat suka kita repotkan.
Ingat, jangan hanya berhenti merepotkan Tuhan namun kita tidak mau berusaha bukan itu. Kita memohon, meminta, mencari, dan mengetuk namun juga berusaha dengan sepenuh hati. Hasil adalah hak sepenuhnya Tuhan. BD. eLeSHa.

Rabu, 13 Maret 2019

Tanda, Tobat, dan Keselamatan


Rabu Pekan I Prapaskah (U)
Yun. 3:1-10
Mzm. 51:3-4,12-13,18-19
Luk. 11:29-32



Yun. 3:1-10

3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:
3:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."
3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.
3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."
3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.
3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.



Luk. 11:29-32

11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.
11:31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!
11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!



Tanda, Tobat, dan Keselamatan

Saudara terkasih, hari ini Bunda  Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai tanda, pertobatan, dan keselamatan. Dalam bacaan Injil, orang-orang yang meminta tanda. Menyitir kisah Perjanjian Lama, Yesus berbicara mengenai tanda nabi Yunus.
Apa yang Tuhan kehendaki itu tidak semata berhenti pada tandanya. Tanda untuk membawa pertobatan. Tobat itu berarti berbalik arah, bukan semata wacana, ide, gagasan, dan aplagi rencana. Menyesal dan mau memperbaiki hidup, itu tidak cukup. Mau itu masih sebatas rencana dan keinginan, dan itu tidak cukup.
Tanda saja tidak cukup, jika tidak membawa perubahan sikap dan lebih  lagi harus sampai perubahan sikap dan berbalik arah. Perubahan dan berbalik arah dari apa yang buruk dan kurang baik menjadi manusia   baru yang hidup lebih baik.
Konsekuensi atas pertobatan adalah keselamatan. Keselamatan atau hidup abadi di dalam Kerajaan Surga. Bersatu dengan Allah Bapa dalam kesatuan cinta. Pulihnya relasi yang sempat terputus oleh dosa manusia pertama. Allah yang selalu menawarkan pemulihan sering menerima penolakan dan sikap tidak peduli dari manusia, yang lebih memilih enaknya dan indahnya dunia.
Saudara terkasih, di dunia ini kita mudah jatuh untuk menikmati dunia dan kadang itu membawa di dalam kesesatan dunia ini. kesesatan dan kadang juga kedosaan. Memisahkan diri dari kesatuan kasih Allah Yang Mahabaik, dan Allah tidak pernah berhenti menyapa kita. Apa yang kita lakukan itu bukan malah hanya mempertanyakan mana kebaikan Tuhan atau apa tandanya Tuhan itu baik, namun memperbaiki diri dan mengadakan pemeriksaan batin untuk membuat hidup lebih baik dan bermakna.
Memaknai diri untuk menjadi lebih baik itu penting, dari  pada sekadar mengulik tanda dan mencari simbol kehadiran Allah. Allah hadir dalam seluruh hidup kita, hadir dalam seluruh aktifitas dan derap lamngkah kita apapun itu. itu semua mengundang kita kembali kepada-Nya, bersatu dengan –Nya, dan membangun   komunitas kasih bersama saudara seiman di tengah dunia ini. Dunia yang sama, bukan dunia yang terpisah dari dunia ini. BD.eLeSHa.

Selasa, 12 Maret 2019

Hal Berdoa dan Bapa Kami


Selasa Pekan II Prapaskah (U)
Yes. 55:10-11
Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19
Mat. 6:7-15



Yes. 55:10-11

55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.


Mat. 6:7-15

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.




Hal Berdoa dan Bapa Kami

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan Firman Tuhan mengenai hal berdoa. Beberapa hal yang perlu kita lihat lagi, adalah mengenai doa, isi dan esensinya. Kedua mengenai contoh doa yang paling baik dan menjadi inspirasi kita bersama.
Pertama mengenai doa, sering kita diberi sajian doa sebagai aktifitas kesalehan yang dipertontonkan di tengah kita sebagai anak negeri. Politisasi agama, termasuk doa digunakan untuk menebarkan  ketakutan dan kebencian. Identik dengan kaum Farisi. Doa digunakan penuh dengan kepentingan. Doa di dalam Tuhan itu agar tidak bertele-tele, bukan masalah panjangnya kata-kata.
Berikutnya, cukup penting juga adalah personal, privat, dan intim dengan hanya Allah semata. Relasi intim, personal, di sana lagi-lagi menemukan kontekstualisasi kala akitvitas berdoa dan ibadah lagi-lagi sebagai anak negeri ini, kita disuguhi hal yang berbeda. Anak-anak Allah yang kita sandang, perlu menjadi pembeda, kita bukan jualan doa di jalan, lapangan, atau media, namun bersama Tuhan di dalam kamar.
Berdoa bukan untuk mendiktekan kehendak kita, keinginan kita, kerinduan kita, karena Tuhan Allah jauh lebih mengerti dan tahu apa yang kita butuhkan. Di sinilah peran penting berdoa, sehingga kta bukan memerintah Tuhan.
Firman Tuhan juga mengajarkan kita untuk berdoa Bapa Kami, dari sana kita belajar doa dengan sepenuhnya. Penuh pujian, kerendahan hati, pengakuan akan kerapuhan dan ketergantungan pada Allah, dan juga permohonan yang mendasar.
Doa itu menyapa dan memuji Allah dengan  baik sebagaimana kata dalam doa Bapa Kami, menyapa Allah sebagai Bapa dan memujinya. Di sinilah  peran dan sikap kita sebagai hamba.
Kedua, bersyukur atas kasi karunianya. Di bagian ini menjadi penting, sehingga kita tahu diri bahwa Allah yang memberikan segala sesuatunya. Kita tahu dan perlu menyadari keberaaan dan peran Allah sehingga kita bersyukur karenanya.
Ketiga, mohon ampun, di sanalah kesadaran kerapuhan dan kelemahan kita, sering merasa tinggi hati dan jatuh dalam pencobaan. Dengan kesadaran ini, kita mohon dikembalikan dalam relasi dengan Tuhan dan sesama yang telah kita rusak. Mengembalikan relasi.
Keempat, baru mengatakan apa yang kita perlukan, butuhkan, dan inginkan. Namun  ingat, bahwa hanya memohon, Tuhan lah yang memiliki kuasa mau memberikan atau malah diberi yang lain dan lebih baik tentunya. Kesadaran ini menjadi penting dan utama. BD.eLeSHa.

Senin, 11 Maret 2019

Domba dan Kambing, Lambang Manusiawi


Senin Pekan I Prapaskah (U)
Im. 19:1-2,11-18
Mzm. 19:8,9,10,15
Mat. 25:31-46




Im. 19:1-2,11-18


19:1 TUHAN berfirman kepada Musa:
19:2 "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
19:11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.
19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.
19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.
19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Mat. 25:31-46

25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."




Domba dan Kambing, Lambang Manusiawi

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja hendak merenungkan mengenai pemisahan atara kambing dan domba. Yesus sebagai Gembala Agung berbicara dalam alam agraris dan budaya penggembala.
Ada dua  kawanan yang dipisahkan, di mana ada kambing dan domba. Tentu ini adalah simbol, lambang, dan tanda atas dua kualifikasi, di mana kambing sebagai simbolisasi orang yang seadanya. Pada sisi lain, ada domba yang merupakan representasi para jemaat yang mendengarkan dan melakukan kehendak Tuhan dengan semestinya.
Apa yang menjadi tanda minimal berkenan kepada Bapa itu sejatinya sangat sederhana. yaitu, pertama, memberikan makanan bagi yang lapar. Siapa saja yang lapar, tidak ada keterangan lain, seagama misalnya, atau saudara sedarahmu, atau sebangsamu. Siapa saja yang lapar, sama juga dengan Tuhan yang memerlukannya.
Kedua, memberikan minuman ketika ada yang kehausan dan kekeringan. Sering orang menjadi aji mumpung. Karena ada potensi untung orang bisa memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini yang Tuhan kecam dan tidak kehendaki.
Ketiga, memberikan tumpangan bagi yang asing, tentu hal ini bisa diperluas dengan kondisi kekinian, bagaimana banyak orang menderita karena tidak ada tempat untuk bernaung. Bagaimana sikap sebagai orang Kristen melihat itu. Memiliki kontrakan dan  kos-kosan dengan tarif mencekik leher, dan kemudian begitu kejam jika menarik uang sewa.
Kempat, melawat orang tahanan dan sakit. Era modern ini kesepian bukan hanya dua kelompok itu. Begitu banyak orang kesepian dan perlu penghiburan. Di sanalah peran anak-anak  Allah bekerja. Bagaimana menghibur, meringankan derita dan kesepian orang-orang tua itu pun tidak kalah bermatabatnya.
Saudara terkasih, kondisi di mana kita berbuat itu bagi saudara kita, siapapun itu, dan di manapun itu, akan kita lakukan juga bagi Tuhan Allah di surga. Tuhan hadir dalam rupa saudarakita yang menderita, tersingkir, dan memerlukan bantuan.
Domba dan kambing sebagai dua kelompok yang berbeda cukup jauh, ada konsekuensi logis atas itu juga, yaitu surga dan neraka. Tuhan memberikan kita anugerah yang sama, kemampuan yang relatif sama, kehendak bebas yang sama pula, mau jadi  kambing atau domba? Mau surga atau api menghanguskan kita? BD.eLeSHa.


Minggu, 10 Maret 2019

Waspadalah pada Iblis!



HARI MINGGU PRAPASKAH I (U)
Ul. 26:4-10
Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15
Rm. 10:8-13
Luk. 4:1-13



Ul. 26:4-10

26:4 Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu.
26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.
26:6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,
26:7 maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.
26:8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.
26:9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
26:10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu



Rm. 10:8-13

10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan.
10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
10:11 Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."
10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.
10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan


Luk. 4:1-13

4:1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
4:2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
4:3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."
4:4 Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja."
4:5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
4:6 Kata Iblis kepada-Nya: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
4:7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu."
4:8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
4:9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah,
4:10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau,
4:11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
4:12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.



Waspadalah pada Iblis!

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan betapa puasa dan godaan itu saling berkaitan erat. Ibadah pun bisa membuat kita masuk ke dalam pencobaan. Ketika Yesus yang Tuhan saja digoda, diganggu, apalagi kita. Setan selalu menunggu waktu yang tepat. Ini menjadi penting kita ingat.
Tiga kali Yesus digoda oleh kuasa jahat untuk gagal fokus. Usai berpuasa, ingat ini waktu yang tepat untuk menggoda dengan makanan. Yesus diganggu untuk memenuhi hasrat mendasar manusia untuk makan.  Iblis mengajak Yesus untuk kalah dengan perut, memenuhi keinginan mendasar, makanan. Meskipun lemas, lapar, dan letih, Yesus tetap masih fokus untuk melakukan kehendak Bapa.
Kedua, tawaran kekuasaan. Kekuasaan, nama besar, nama baik, dalam konteks hari ini mungkin adalah viral, ketenaran. Yesus digoda untuk diberi semua kemegahan itu, dan lihat bagaimana Setan abai, lupa, dan malah atau sengaja bahwa itu milik dan dalam kuasa Yesus dan Bapa-Nya. Unsur sengaja nampaknya lebih kuat.
Hari-hari ni kita sebagai bangsa juga sedang menghadapi perilaku ini, mereka yang jahat namun menuduh dan menuding orang lain sebagai jahat. Artinya dari mana coba kebohongan, kecongkakan, dan kesombongan itu? Iblis bukan?
Godaan berikutnya jauh lebih berbahaya karena Iblis menggunakan kata-kata Kitab Suci. Yesus digoda dengan cara yang halus dan dengan mengggunakan hal yang seolah rohani, untuk menjatuhkan diri dan Tuhan Allah Bapa akan menolong.  Ingat betapa Setan demikian lihai.
Saudara terkasih, apa yang bisa kita pelajari adalah bahwa Sabda Tuhan penuh kuasa untuk menangkal  kuasa jahat. Setiap kali Yesus digoda IA menyitir ayat dan sabda Tuhan, dan mental godaan itu. Ini perlu kita camkan, dan belajar makin akrab dengan sabda Tuhan. Sehingga mudah menghadapi godaan si jahat.
Menunggu waktu yang tepat menjadi pengingat kita berikutnya, bahwa Setan tidak pernah membiarkan kita, ingat Yesus saja tidak pernah dibiarkan apalagi kita. Jangan sampai kita terlena, bahkan dengan kegiatan rohani dan ibadat kita bisa saja disesatkan oleh kuasa jahat demi kepentingan kita. Fokus kita dibelokkan si jahat untuk malah memuja kita atau si setan itu. BD.eLeSHa.

Sabtu, 09 Maret 2019

Supaya Mereka Bertobat.


Sabtu Sesudah Rabu Abu (U)
Yes. 58:9-14
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Luk. 5:27-32



Yes. 58:9-14

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".
58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya


Luk. 5:27-32

5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"
5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.




Supaya Mereka Bertobat.

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai siapa yang memerlukan tabib, siapa yang membutuhkan penyembuhan dan penyembuh. Orang sering mudah untuk menuding dan menghakimi, namun abai akan esensi. Dalam hal ini, kisah dalam Injil memberikan kepada kita pelajaran yang penting. Beberapa hal yang patut kita renungkan, sebagai berikut.
Pertama, mudah memang menuding sebagaima orang Farisi dan ahli Taurat. Melihat pendosa, perilaku berbeda dari mereka, dan memang melakukan hal buruk, itu adalah pendosa yang tidak boleh untuk bersama-sama dengan Yesus sebagai guru, yang memiliki tempat istimewa.
Kedua, pemungut cukai itu berbahagia, bersuka cita, dan merasa lahir baru karena diuwongke, dimanusiakan, kemanusiaannya kembali. Selama ini ditakuti namun juga dimusuhi dan dibenci. Tidak pernah mendapatkan undangan pesta, apalagi menjadi tempat pesta bagi pemuka agama. Nah ketika Yesus berkenan datang ke rumahnya, tentu ia berbahagia luar biasa.
Ketiga, siapa yang perlu obat? Orang sakit, juga perlu tabib, penyembuh atas perilaku salahnya. Pemungut cukai itu mendapatkan kesembuhan karena Tuhan datang untuk menyapa dan mengajaknya kembali.
Saudara terkasih, sering kita hanya menghakimi, menghukum, dan berkasak-kusuk ketika ada orang lain yang bersalah. Tengok saja bagaimana ketika ada anggota lingkungan yang tersandung skandal, atau kasus, apakah kita datang untuk klarifikasi, atau memberikan dukungan? Paling-paling ikut mengutuk atau menghakimi dengan kaca mata kita. Padahal belum tentu demikian. Termasuk ketika imam, gembala kita yang sedang bermasalah.
Perilaku dan pilihan Yesus yang menyelesaikan masalah pada akarnya, menyembuhkan pada penyebab kesalahan itu, dan hasilnya luar biasa. Dalam falsafah Jawa ada ungakan dipangku mati, orang menjadi sungkan ketika dinasihati dengan halus, bahkan didukung. Apakah kita sudah melakukan demikian, atau malah menertawakan dan ikut menghakimi. Penghakiman hanya memuaskan hasrat kita bergunjing, namun tidak membawa perbaikan dan pembaruan.
Saudara terkasih, kita perlu memohon bantuan Tuhan, pertolongan Tuhan agar mampu memerhatikan sesama dalam kondisi apapun, agar mereka bukan semakin terpuruk dan tersesat. Sering kita terlibat di dalam kesesatan sesama kita dengan perilaku kita. Jangan pula kita tersesat dan menyesatkan diri. BD. eLeSHa.

Kamis, 07 Maret 2019

Puasa


Jumat ses Rabu Abu (U)
Yes. 58:1-9
Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19
Mat. 9:14-15




Yes. 58:1-9

58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!
58:2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:
58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.
58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,


Mat. 9:14-15

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
9:15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa




Puasa

Saudara  terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja kita merenungkan firman-Nya mengenai berpuasa. Puasa bagi konteks saat itu, karena diperbandingkan dengan murid Yohanes, adalah kesalehan sosial. Mereka berpuasa demi penghayatan dan tuntutan Taurat Musa. Memperlihatkan keprihatinan dan kondisi yang tidak menyenangkan, keadaan atau kondisi menahan diri, dan bukan keadaan suka cita.
Dalam konteks atau dunia Perjanjian Lama, Puasa juga diartikan sebagai hukuman dari Allah, sedang banyak mengalami celaka,  adanya derita, adanya kesusahan, adanya bahaya yang mengancam, dan itu dibarengi dengan doa. Selain doa juga dengan adanya pengakuan dosa,  berkabung, atau pun merendahkan diri.
Perbandingan dengan pesta perkawinan, adanya keadaan suka cita, bergembira bersama, dan bersenang-senang, berbeda dengan berpuasa. Maka gambaran para murid yang hidup bersama Yesus sebagai mempelai, membuat mereka tidak sepatutnya untuk berpuasa.  Keadaan yang dipertanyakan murid Yohanes  berbeda dengan apa yang dimaksudkan Yesus. Keadaan itu semua tidak ada.
Kondisi berdosa jelas tidak ada karena hidup bersama dengan Sang Penebus. Kondisi kesusahan juga tidak ada, karena keberadaan Yesus yang membuat suka cita, bahkan suka cita abadi telah terwujud. Bahaya mengancam macam apa, ketika Penyelamat itu ada di tengah-tengah mereka. Bahaya juga tidak ada yang melingkupi mereka karena memang semua teratasi karena Yesus. Lihat bagaimana para murid yang panik karena angin ribut pun diredakan dengan kedatangan Yesus. Tidak ada yang membuat kondisi buruk selama ada Yesus.
Saudara terkasih, namun ketika Yesus kembali kepada Bapa-Nya di surga, para murid termasuk kita hari ini harus berpuasa. Berpuasa karena keadaan tidak sebaik, seideal, dan sebagus ketika Yesus berada di antara kita secara fisik. Kecemasan sangat mudah terjadi. Ketika kita jauh daripada-Nya, jangan heran dan kaget kita mudah dalam kondisi berdosa.  Puasa akan membantu kita mengatasi kecemasan kita, karena dengan itu kita mengarah kepada Tuhan. Puasa yang membantu kita lebih akrab dan berpasrah total kepada Tuhan Allah sebagai Penyelenggara Ilahi. Puasa idealnya membawa kita ke sana. BD.eLeSHa.

Panggullah Salibmu!


Kamis ses Rabu Abu (U)
Ul. 30:15-20
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 9:22-25



Ul. 30:15-20

30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,
30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.
30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,
30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.
30:19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,
30:20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.


Luk. 9:22-25

9:22 Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."
9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
9:24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
9:25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri



Panggullah Salibmu!

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan sabda Tuhan mengenai konsekuensi ikut Yesus. Salah satu konsekuensi paling mendasar adalah ketika kita ikut IA adalah memikul salib setiap hari. Memikul salib berarti mau berjalan bersama Yesus dengan segala apa yang akan terjadi. sering orang memilih untuk memotong salibnya, atau memenggal biar ringan, namun apakah itu baik dan bijaksana?
Dalam sebuah film rohani singkat, animasi yang menggambarkan banyak orang berjalan dengan salib masing-masing. Dalam perjalanan ada yang mulai akal-akalan memotong dan merasa itu nyaman, enteng, dan menyenangkan. Namun apa daya, ternyata ada jurang yang harus diseberangi. Salib yang utuh dan berat itu membantu sebagai jembatan, dan yang memotong namun ringan tadi hanya melongo dan menyesal.
Saudara terkasih, sering kita dalam menghadapi masalah merasa Tuhan terlalu berat memberikan cobaan itu, atau Tuhan memberikan berkat tidak sesuai dengan apa yang kita maui. Kita  protes, marah, menggerutu, dan tidak mau tahu dengan kehendak Tuhan, kita memilih mencari pelampiasan, ada yang mabuk-mabukan, ada yang merusak diri, atau mencari bantuan ke sana ke mari. Itulah memotong salib, memenggal apa yang menjadi kewajiban kita. Konsekuensi atas kadang pilihan kita, kadang  juga bukan pilihan namun kehendak Tuhan. Kita harus mau dan mampu menanggung itu sebagai pribadi beriman.
Mengikuti Tuhan, bukan sekedar enaknya saja, contoh ikut di dalam menerima mukjizat-Nya, mendapatkan penggandaan roti, kesembuhan dari sakit dan seterusnya, itu baik dan bagus. Namun apakah juga mampu tetap ikut dan bersama Tuhan ketika mendapatkan jalan atau terkat tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? Ketika sakit mengeluh, atau ketika mendapatkan cemoohan menjadi patah arang. Merasa  bahwa Tuhan tidak adil, lha ke mana ketika enak, apa iya itu usah sendiri, abai bahwa Tuhan ada di sana juga.
Saudara terkasih, kita di dalam mengikuti Tuhan itu atas panggilan-Nya, Dia yang memilih kita, Dia pula yang memberikan jalan hidup kita. Namun kita juga memiliki kebebasan manusiawi, di mana kita bisa memilih jalan kita, dan kita diharapkan untuk setia memanggul Salib kita apapun keadaannya. Baik suka ataupun duka, baik gembira atau sedih, ada Tuhan di sana. BD.eLeSHa.