Kamis, 07 Maret 2019

Koyakkanlah Hatimu, Jangan Bajumu!


Rabu Abu  (U)
Yl. 2:12-18
Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17
2 Kor. 5:20-6:2
Mat. 6:1-6,16-18



Yl. 2:12-18

2:12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."
2:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
2:14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.
2:15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
2:16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
2:17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"
2:18 TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya


2 Kor. 5:20-6:2

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
6:1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
6:2 Sebab Allah berfirman:  "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,  dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.


Mat. 6:1-6,16-18

6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
6:5 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
6:16 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.




Koyakkanlah Hatimu, Jangan Bajumu!

Saudara terkasih Rabu Abu adalah awal di mana kita mengadakan retret agung, merenungkan betapa besar kuasa Allah dan kebaikan-Nya yang tidak ada habis-habisnya. Betapa pengorbanan Tuhan di kayu salib. Jalan sengsara, yang setiap waktu pantas kita renungkan. Itu semua adalah wujud cinta Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Personal kasih Tuhan itu.
Pantang dan puasa adalah sarana untuk semakin mengerti, menyadari, dan lebih mengenal siapa Tuhan dan  mau apa dengan hidup kita. Haus dan lapar, kemudian menjauhkan diri dari hal-hal yang disukai, upaya untuk lebih intim dengaan Tuhan. Tuhan yang hadir, Tuhan yang berkenan memperkenalkan diri, dan Tuhan yang menyapa  anak-anak-Nya yang IA kasihi.
Puasa dan pantang bukan sekadar haus, atau lapar, atau  menahan ini dan itu, namun apakah sampai berani berbela rasa pada sesama yang menderita, tersingkir, lemah atau hanya berkutat pada keinginan diri di dalam kebanggaan semata. Ketika bisa berbela rasa pada sesama, dan makin kenal dengan Tuhan, itulah kualitas.
Permenungan selama 40 hari, tentunya bukan hanya sepanjan masa prapaskah saja, teristimewa, memberikan waktu dan kesempatan secara khusus. Hari-hari biasa yang biasa penuh dengan aktivitas duniawi, kini dikurangi dan ada kesempatan untuk Tuhan secara istimewa. Berdoa, beribadat, merenungkan KS, berziarah atau jalan salib, dan itu demi lebih dekat dengan Tuhan, bukan capaian pribadi dengan pernah ke sana atau melakukan ini dan itu. Membawa semua aktivitas di dalam dan bersama Tuhan.
Salah satu bacaan yang paling mengesan, dan selalu ingat dan mengiang adalah, koyakan hatimu, jangan pakaianmu. Di sinilah peran puasa dan pantang itu pada hati, dan bukan yang fisik semata. Bagaimana “mudah dan ringan” hanya tidak ini dan itu, namun bagaimana mengubah hati agar makin berkenan di hadapan Tuhan. Berkenan kepada-Nya itu berkaitan dengan kualitas diri, bukan hanya soal pakaian dan atribut.  Benar bahwa atribut juga perlu namun belum cukup untuk kita, jika tidak membawa perubahan sikap dan hidup kita.
Selama 40 hari ke depan, kita diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan karya-Nya. Bagaimana  kasih-Nya demikian besar, mengorbankan diri demi kita. Jalan Salib yang begitu keras, kejam, dan keji harus IA lalui. BD.eLeSHa.

Selasa, 05 Maret 2019

Konsekuensi Ikut Tuhan


Selasa Pekan Biasa VIII (H)
Sir. 35:1-12
Mzm. 50:5-6,7-8,14,23
Mrk. 10:28-31





Sir. 35:1-12

35:1 Barangsiapa memenuhi hukum Taurat mempersembahkan banyak korban, dan orang yang memperhatikan segala perintah menyampaikan korban keselamatan.
35:2 Orang yang membalas kebaikan mempersembahkan korban sajian dan yang memberikan derma menyampaikan korban syukur.
35:3 Yang direlai oleh Tuhan ialah menjauhi kejahatan, dan menolak kelaliman merupakan korban penghapus dosa.
35:4 Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah.
35:5 Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi.
35:6 Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan.
35:7 Muliakanlah Tuhan dengan kemurahan, dan buah bungaran di tanganmu janganlah kausedikitkan.
35:8 Sertakanlah muka yang riang dengan segala pemberianmu, dan bagian sepersepuluh hendaklah kaukuduskan dengan suka hati.
35:9 Berikanlah kepada Yang Mahatinggi berpadanan dengan apa yang Ia berikan kepadamu, dengan murah hati dan sesuai dengan hasil tanganmu.
35:10 Sebab Dia itu Tuhan pembalas, dan engkau akan dibalas-Nya dengan tujuh lipat.
35:11 Jangan mencoba menyuap Tuhan, sebab tidak diterima-Nya, dan janganlah percaya pada korban kelaliman!
35:12 Sebab Tuhan adalah Hakim, yang tidak memihak.


Mrk. 10:28-31

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."



Konsekuensi Ikut Tuhan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan mengenai konsekuensi atas pilihan-Nya. Pilihan agar kita ikut dengan-Nya. Kemarin pemuda kaya yang bertanya bagainama mendapatkan hidup kekal, kini pernyataan yang sama diajukan murid Yesus, yang diwakili oleh Petrus. Ada nada khawatir, cemas, dan galau juga para murid. Jadi jika jerih, khawatir di dalam  karya kita, itu pun boleh dan sangat bisa.
Jawaban Yesus tentu sangat melegakan, menyenangkan, dan membahagiakan, karena kita boleh mendapatkan kelimpahan dari pada yang kita tinggalkan. Lipatan kali lipat yang bisa kita peroleh dan dapatkan. Meninggalkan, bisa dalam arti harafiah, kita berpindah untuk menjadi misionaris misalnya, atau memasuki biara, namun apakah hanya hidup cara itu saja yang boleh menjadi penghuni surga? Tidak. Ada pula hidup berkeluarga  atau cara hidup yang lain memungkikan hidup kekal. Meninggalkan bisa pula diartikan sebagai tanpa melepaskan dari segala kelekatan diri.
Lepas bebas dari rumah, keluarga, pasangan, anak-anak, bagaimana yang hidup berkelurga? Meninggalkan bukan dalam arti tidak lantas lepas tanggung jawab. Namun hidup di dalam menomorsatukan Tuhan dengan Injil dan kehendak-Nya sebagai yang utama.
Melepaskan sekat-sekat dengan kepemilikan, menilai semua adalah saudara, anak-anak, dan memperlakukan mereka sebagai anak dan saudara sendiri. Di mana-mana memiliki keluarga dan anak, tentu bukan dalam arti kemudian semua adalah istrinya lho.
Ikut dan mengikuti jalan Tuhan bukan pertama-tama berbicara mengenai upah dan apa yang akan diperoleh. Mengikikuti-Nya berarti ikut di dalam jalan kasih-Nya. Melakukan apapun karena kehendak Tuhan terlebih dahulu, baru apa yang kita ingini. Menomorsatukan Tuhan di atas segalanya.
Saudara terkasih, jika kita gamang, khawatir, cemas, dan takut di dalam menjalankan perutusan kita, di tengah dunia yang sering tidak mudah, kita layak kembali mendengarkan atau membaca bacaan hari ini. Petrus sebagai wakil para rasul pun mengalami pengalaman ini. Mereka mempertanyakan bagaimana keberadaan mereka dengan segala apa yang sudah ditinggalkan itu.
Janji Tuhan bukan semata masa depan, hidup di alam keabadian saja, namun kini pun sudah mulai mengalaminya. Kini dan saat ini sudah dialami, jika mau menjadikan Tuhan Allah sebagai andalan. BD.eLeSHa.

Senin, 04 Maret 2019

Semangat Berbagi


Hari Senin Biasa Pekan VIII (H)
Sir. 17:24-29
Mzm. 32:1-2,5,6,7
Mrk. 10:17-27



Sir. 17:24-29

17:24 Namun untuk orang yang menyesalpun Tuhan membuka jalan kembali, dan orang yang kehilangan ketabahan hati dilipur oleh-Nya.
17:25 Berpalinglah kepada Tuhan dan lepaskanlah dosa, berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina.
17:26 Kembalilah kepada Yang Mahatinggi dan berpalinglah dari yang durjana, dan hendaklah sangat benci kepada kekejian.
17:27 Siapa gerangan di dunia orang mati memuji Yang Mahatinggi, sebagai pengganti orang yang hidup dan yang mempersembahkan pujian?
17:28 Dari orang mati lenyaplah pujian seperti dari yang tiada sama sekali, sedangkan barangsiapa yang hidup dan sehat memuji Tuhan.
17:29 Alangkah besarnya belas kasihan Tuhan serta pengampunan-Nya bagi semua yang berpaling kepada-Nya!

Mrk. 10:17-27

10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.




Semangat Berbagi

Saudara terkasih, hari ini kita bersama Bunda Gereja merenungkan bagaimana kita perlu menghayati iman dan agama tidak semata identitas, ritual, dan simbol ini dan itu, namun lebih utama adalah perbuatan atas perintah agama itu sendiri. Sangat penting dan mendesak terutama di dalam hidup berbangsa hari-hari ini. Sering orang bangga dan merasa paling hebat di dalam hidup beragamanya dengan hanya cukup rajin ke gereja, telah berziarah ke mana-mana, atau menjadi pengurus dalam banyak kegiatan dan hidup menggereja.
Ada sebuah ungkapan indah dan menarik, sungguh miris ketika orang mengaku Katolik hanya karena ia masuk gereja, apa pasi menjadi mobil jika di dalam garasi? Ini menjadi pertanyaan permenungan mendalam bagi hidup kita, yang masih bangga dan merasa paling hebat ketika telah mengenakan kalung atau liontin salib atau rosario, rumahnya penuh ikon dan salib beraneka macam. Itu baik dan penting, namun apakah sudah mendengar rintihan tetangga yang memerlukan uluran tangan dalam  banyak segi kehidupan? Atau malah ketika ada saudara yang datang pintu ditutup dan pura-pura tidak mendengar?
Saudara terkasih, Yesus tidak membenci orang kaya atau materi sebagai kekayaan, namun tidak setuju dengan perilaku pemuda kaya tersebut. Pemuda itu sudah melakukan kesalehan sesuai tuntunan Taurat dan sangat baik, namun kesalehan sosial ternyata ia masih kurang. Ia masih owel, enggan untuk berbagi. Tidak ada tuntutan agama yang ia langgar, ia tahu kog sebenarnya, ia bertanya bukan untuk menyobai Yesus seperti ahli Taurat dan kau Farisi, namun mungkin karena ia terusik hati nuraninya yang tidak tenteram.
Dalam hidup sehari-hari, sering terjadi bahwa kita merasa bahwa sudah saleh, sudah melakukan banyak hal, namun memiliki hati yang merasa belum lega, merasa masih ada yang kurang, di sanalah peran untuk bertanya kepada Tuhan, apa yang perlu dilakukan. Berbagi dalam segala jenis dan bentuknya, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi harta milik, berbagi kekuatan, berbagi pengalaman, dan seterusnya. Hal ini pun ternyata sesuai bacaan Injil berat di lakukan. Dunia bersifat mengumpulkan, dan dunia mengajarkan orang untuk memenuhi keakuan terlebih dahulu.
Tuhan mengajak kita untuk berani melepaskan, bukan mengikat, berbagi bukan mengumpulkan, memisahkan dari pada mengumpulkan, membesar-besarkan perbedaaan daripada menjembatani persamaan. Tugas dari Tuhan ini akan berat jika tidak mau dan memiliki hati yang penuh kasih bersama Tuhan. BD.eLeSHa.

Minggu, 03 Maret 2019

Karena yang Diucapkan Mulutnya, Meluap dari Hatinya.


HARI MINGGU PEKAN BIASA VIII (H)
Sir. 17:4-7
Mzm. 92:2-3,13-14,15-16
1 Kor. 15:54-58
Luk. 6:39-45



Sir. 17:4-7

17:4 Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menaruh ketakutan kepada manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas.
17:6 Lidah, mata dan telinga dibentuk-Nya, dan manusia diberi-Nya hati untuk berpikir.
17:7 Tuhan memenuhi manusia dengan pengetahuan yang arif, dan menunjukkan kepadanya apa yang baik dan apa yang jahat.

1 Kor. 15:54-58

15:54 Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.
15:55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
15:56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
15:57 Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.


Luk. 6:39-45

6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
6:43 "Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
6:44 Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
6:45 Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."



Karena yang Diucapkan Mulutnya, Meluap dari Hatinya.

Saudara terkasih, hari ini kita Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman Tuhan mengenai pohon dikenali dari buahnya. Apa yang dilakukan dan dikatakan itu keluar dari hatinya. Konkret apa yang sedang kita alami sebagai anak bangsa ini. Bagaimana  berita bohong dan fitnah yang seolah itu hal biasa. Padahal pada sisi lain, demikian maraknya apa-apa dikaitkan dengan agama.
Perilaku munafik yang mirisnya dijalani oleh  para pemuka agama juga. Seolah pemuka itu orang buta yang menuntun orang buta. Bagaimana pemimpinnya juga penuh dengan kebencian yang ditularkan pada anak buah, hal yang seolah adalah perilaku normal dan baik-baik saja. Iya baik  karena memang sama salahnya. Miris ketika ada yang mencoba memberikan informasi yang lebih tepat, menasihati, dan menegur, malah marah dan menuduh pihak lain sebagai iri, dengki, dan tidak suka akan kemajuan pihak lain. Hal yang demikian marak dan sangat masif dalam komunitas media sosial. Sebenarnya yang mengerikan jika dibiarkan terus menerus.  Hal yang demikian menjadi gejala umum saat ini.
Saudara terkasih, selain itu, kita juga diajak untuk tidak mudah menghakimi, namun memilih untuk lebih banyak instrospeksi. Orang yang menghakimi akan menuding pihak lain sebagai salah, buruk, dan selalu menimbulkan masalah. jika mengambil sikap untuk mengoreksi diri, instrospeksi, kita akan mengendepanpankan pemeriksaan batin. Dengan melakukan refleksi dan nguda rasa, kita tahu kelemahan kita, mengerti bahwa kita penuh dengan kerapuhan yang perlu kita benahi. Kesalahan orang lain menjadi bahan untuk memperbaiki diri dulu, dan kemudian mengajak orang lain berubah.  Mau mengerti bahwa orang lain juga bisa salah, karena diri sendiri juga paham memiliki kesalahan dan kelemahan pula.
Saudara terkasih, sebagai anak-anak Allah, kita diajak untuk menghasilkan buah yang baik. Buah baik karena berasal dari kasih dan cinta Ilahi yang ada di dalam diri kita. Mendesak adalah, bagaimana kita memiliki kebaikan dan hati yang penuh kasih?  Sepanjang kita  menjalin relasi dengan Tuhan dengan tekun dan rendah hati. Mau memohon kekuatan dari Tuhan untuk terus di dalam naungan belas kasih-Nya. Kasih-Nya yang kita salurkan kembali. BD.eLeSHa.

Sabtu, 02 Maret 2019

Antusiasme Anak



Sabtu Pekan Biasa VII (H)
Sir. 17:1-15
Mzm. 103:13-14,15-16,17-18
Mrk. 10:13-16



Sir. 17:1-15

17:1 Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, dan ke sana akan dikembalikan juga.
17:2 Ia menganugerahkan kepadanya sejumlah hari dan jangka, dan memberinya kuasa atas segala sesuatunya di bumi.
17:3 Kepadanya dikenakan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Tuhan sendiri dan menurut gambar Allah dijadikan-Nya.
17:4 Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menaruh ketakutan kepada manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas.
17:6 Lidah, mata dan telinga dibentuk-Nya, dan manusia diberi-Nya hati untuk berpikir.
17:7 Tuhan memenuhi manusia dengan pengetahuan yang arif, dan menunjukkan kepadanya apa yang baik dan apa yang jahat.
17:8 Ia menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia untuk menyatakan kepadanya keagungan pekerjaan Tuhan.
17:10 Maka manusia mesti memuji nama Tuhan yang kudus untuk mewartakan pekerjaan-Nya yang agung.
17:11 Tuhan telah mengaruniai manusia pengetahuan lagi dengan memberi mereka hukum kehidupan menjadi milik pusaka.
17:12 Perjanjian kekal diikat-Nya dengan mereka, dan segala hukum-Nya dipermaklumkan-Nya kepadanya.
17:13 Mata mereka telah melihat kemuliaan Tuhan yang agung, dan suara-Nya yang dahsyat telah didengar telinga mereka.
17:14 Ia berkata kepada mereka: "Jauhilah setiap kelaliman," dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya.
17:15 Langkah laku manusia selalu terbentang di hadapan Tuhan, dan tak tersembunyi bagi mata-Nya


Mrk. 10:13-16

10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka



Antusiasme Anak

Saudara terkasih, hari ini kita bersam Bunda Gereja merenungkan firman Tuhan mengenai sikap seorang anak di hadapan Allah. Yesus  menyatakan jika Kerajaan Allah itu akan diperoleh jika berlaku seperti anak-anak. Apa sajakah yang perlu kita lakukan?
Ketika merenungkan bacaan hari ini, jadi ingat ketika ada bom Surabaya beberapa bulan lalu, ada dua anak kecil yang berlari-lari karena abangnya mau persiapan untuk menjadi misdinar, adiknya mengikuti dengan berlari juga. Namun ada juga dua anak pembawa peledak yang lari pula. Dan mereka berempat meninggal karenanya. Tentu bukan konteks berbicara pembom atau anaknya, namun bagaimana antusias kanak-kanak karena mau menjadi misdinar itu.  Coba  kita renungkan kapan terakhir bersungguh-sungguh dan berlari-lari ke gereja atau ikut merayakan sakramen dengan suka cita, penuh kerinduan, dan antusias?
Kita, sebagai pribadi dewasa sering merasa ke gereja karena kewajiban, tuntutan ini dan itu, benar atau salah, dan tetek bengek yang di luar konteks menjalin relasi, atau karena kasih Allah yang demikian besar.
Merasa liturginya bertele-tele, kotbah rama yang membosankan, dan seterusnya. Padahal kehadiran Allah di dalam doa dan ibadat jauh lebih penting. Namun kita cenderung lebih berpikir secara egoisme kita sendiri. Berdoa pun karena adanya kepentingan, karena hendak memohon ini dan itu. Antusias dan semangat, penuh kerinduan, atau malah semata rutinitas, dan malah masih disambi main gadget?
Kesiapsediaan anak-anak untuk bergantung sepenuhnya pada Allah dan  Penyelenggaraan Ilahi menjadi pembeda, sikap kanak-kanak dan orang dewasa. Kemauan berserah tanpa pamrih, tanpa banyak pertimbangan, ini menjadi penting dan berbeda. Kehendak kuat untuk mengandalkan Tuhan semata. Namun apa yang terjadi? Kita sering mengandalkan diri sendiri, kemampuan, teknologi, dan abai akan kuasa Allah yang demikian besar.
Kemajuan teknologi namun abai etika dan melupakan Tuhan sering menjadi gaya hidup manusia modern. Dan di sinilah kisah dan firman Tuhan mendapatkan kontekstualisasinya. Apakah    kita sebagai anak-anak Allah dan murid Yesus memilih cara yang sama dengan dunia?
Di sinilah bedanya anak Tuhan dan anak dunia.  Mengandalkan Tuhan semata dalam segala suasana.BD.eLeSHa.

Jumat, 01 Maret 2019

Apa yang Dipersatukan Allah, Jangan Diceraikan Manusia


Jumat Pekan Biasa VII (H)
Sir. 6:5-17
Mzm. 119:12,16,18,27,34,35
Mrk. 10:1-12



Sir. 6:5-17

6:5 Tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut.
6:6 Mudah-mudahan orang yang damai denganmu banyak adanya, tetapi hanya satu dari seribu hendaknya menjadi penasehatmu.
6:7 Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya.
6:8 Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan.
6:9 Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau.
6:10 Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu.
6:11 Pada waktu engkau sejahtera ia adalah seperti engkau sendiri dan lancang berbicara dengan seisi rumahmu.
6:12 Tetapi bila engkau mundur maka ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu.
6:13 Jauhkanlah diri dari para musuhmu, tetapi berhati-hatilah terhadap para sahabatmu.
6:14 Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta.
6:15 Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang.
6:16 Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya.
6:17 Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.

Mrk. 10:1-12

10:1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.
10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"
10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."



Apa yang Dipersatukan Allah, Jangan Diceraikan Manusia

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berbicara mengenai perceraian. Hal yang sangat demikian biasa dan seolah wajar dalam dunia yang semakin tua ini. Lahirlah istilah pebinor, pengambil bini orang dan pelakor, pengambil laki orang. Dunia yang makin renta ini tidak hanya laki-laki yang mengambil istri orang, namun juga perempuan menghendaki dan mengambil suami orang.
Kemudahan alat komunikasi, sehingga orang bisa sangat personal, bahkan amat sangat personal di dalam berbincang, berkomunikasi, dan menjalin relasi. Tembok dan dinding tembus oleh yang namanya signal. Beberapa hari lalu, ada seorang suami yang marah karena kata sandi smarphone istrinya dikunci, padahal ia hamil tua. Dibelahlah istrinya demi melampiaskan kemarahan. Hanya karena curiga istrinya ada apa-apa dengan laki-laki lain. Media komunikasi yang digunakan tidak semestinya.
Kedua, media sosial yang tidak dibarengi dengan etika yang memadai, maka malah ada beberapa kota meningkat angka perceraian karena pemakaian media sosial. Media sosial malah menjadi media soksial, di mana bukan berteman, namun malah menjadi sial, dan  terjadilah yang namanya selingkuh dan menjalin relasi eksklusif yang berlebihan.
Ketiga, pemberitaan masif soal peselingkuhan dan selingkuh ini, di mana orang merasa tenar meskipun cemar bukan menjadi masalah dan pertimbangan. Mereka kadang malah bangga dan merasa hebat jika melakukan perselisihan di dalam keluarga mereka. Lagi-lagi karena soal viral dan tenar.
Keempat, penghargaan di dalam berkeluarga dan pandangan terhadap keluarga mulai luntur, dengan alasan bosan, sudah tidak ada kecocokan, tidak lagi saling mencintai, dan sejenisnya menjadikannya bercerai dan berpisah.  Hal ini berkaitan dengan point berikut.
Kelima, persiapan perkawinan yang berdasarkan emosional semata, cinta atau kasih yang bergelora, namun karena emosional semata, tanpa pertimbangan rasional, akhirnya cintanya bisa luntur dan habis. Ini juga berkaitan dengan poin berikut.
Keenam, perlunya pendalaman atau katekese persiapan perkawinan, beberapa cenderung hanya sekadar formalitas, kadang telanjur hamil, sehingga tergesa dan berakhir pada perceraian. Hal ini makin menggejala.
Saudara terkasih, Yesus mengajarkan, bagaimana keluarga itu, pernikahan itu adalah sakramen, dua pribadi menjadi satu di mana tidak boleh diceraikan manusia, karena yang menyatukan adalah Allah. keegoisan manusiawi, sebagaimana kata Yesus menjawab orang Farisi yang mengatakan Musa memperbolehkan perceraian.  BD.eLeSHa.


Kamis, 28 Februari 2019

Berdamai yang Seorang dengan yang Lain


Kamis Pekan Biasa VII (H)
Sir. 5:1-8
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Mrk. 9:41-50




Sir. 5:1-8

5:1 Jangan mengandalkan kekayaanmu, dan jangan berkata: "Ini cukup bagiku."
5:2 Hati dan kekuatanmu jangan kauturut untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsu hatimu.
5:3 Jangan berkata: "Siapa berkuasa atas diriku?" Memang Tuhan akan menghukum engkau dengan keras.
5:4 jangan berkata: "Betul, aku sudah berdosa, tetapi apakah menimpa diriku? Sebab Tuhan panjang hati."
5:5 Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa.
5:6 Jangan berkata: "Memang belas kasihan-Nya besar, dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya." Sebab baik belas kasihan maupun kemurkaan ada pada Tuhan, dan geram-Nya turun atas orang jahat.
5:7 Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Sebab tiba-tiba meletuslah kemurkaan Tuhan, dan pada saat hukuman engkau dihancurkan.
5:8 Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil, sebab tidak berguna sedikitpun pada hari sial.


Mrk. 9:41-50

9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
9:44 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]
9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
9:46 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]
9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.
9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.
9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."




Berdamai yang Seorang dengan yang Lain

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan firman-Nya yang berbicara mengenai hidup untuk berdamai satu sama lain. Nasihat baik,  bijak, dan kontekstual sebagai bagian bangsa dan Gereja Indonesia. Apalagi jika kita ingat sabda Tuhan kemarin yang berbicara mengenai mudahnya memangdang pihak lain sebagai liyan, ada benih-benih untuk mudah terpisahkan.
Terpisah dan terkotak-kotak akan menjadi hidup tidak damai. Hal yang terjadi bukan dalam hidup sehari-hari kita. Di mana kita dengan mudah menuding dan mendakwa pihak lain sebagai musuh. Bagaimana hidup demikian bisa menjadi damai apalagi berkat bagi sesama? Di tengah dunia yang demikian hidup. Itu fakta yang tak terbantahkan.
Tuhan  mengajak anak-anak-Nya, kita ini untuk tetap bertekun sehingga bak garam yang tidak pernah kehilangan asinnya. Bagaimana mengembalikan garam yang telah hambar dan kehilangan asinnya? Sebagai anak-anak Tuhan kita patut untuk selalu menjaga kualitas, asinnya garam, dan aspek manfaat dari hidup kita. Asin jelas adalah kualitas, pembeda, dan manfaat dari garam.
Kualitas kita sebagai anak-anak Allah adalah hidup dengan kasih melimpah. Kasih yang bukan karena takut akan api neraka, siksa neraka, dan seterusnya. Itu bisa bagi iman kanak-kanak, jika iman yang dewasa itu semua bukan menjadi pendorong dan penyebab berbuat baik dan melakukan kebaikan dan kasih kepada sesama. Ancaman dan ketakutan itu bagi anak-anak dan kanak-kanak perlu tumbuh berkembang.
Tuhan itu Mahakasih, bukan penghukum, lihat bagaimana kata pembuka dalam bacaan ini, perbuatan sederhana untuk minum saja sudah membawa berkat berlimpah lho. Artinya kasih Tuhan itu yang utama. Peringatan untuk hati-hati saja gambaran ngeri neraka itu sebenarnya. bukan ketakutan yang hendak diajarkan Tuhan, namun bahwa kita perlu berbuat kasih dengan segala daya dan upaya kita. Jika minum saja sudah memberikan berkat, apalagi jika melakukan yang lebih besar, tentu Tuhan akan memberikan yang jauh lebih lagi.
Konsekuensilogis atas kasih dan kebaikan Tuhan yang telah kita terima, pun juga atas perilaku kita, jika kita masuk ke dunia orang mati, jika kita kehilangan kualitas kita, bak garam kehilangan asinnya. Marilah kita menjaga untuk mampu tetap dengan hati yang penuh kasih karunia. BD.eLeSHa.