Kamis, 07 Februari 2019

Andalkanlah Tuhan Selaku Penyelenggaraan Ilahi


Kamis Pekan Biasa IV (H
Ib. 12:18-19,21-24
Mzm. 48:2-3a,3b-4,9,10,11
Mrk. 6:7-13



Ib. 12:18-19,21-24

12:18 Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai,
12:19 kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka,
12:21 Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar."
12:22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah,
12:23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,
12:24 dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel


Mrk. 6:7-13

6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan,
6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka




Andalkanlah Tuhan Selaku Penyelenggaraan Ilahi

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan mengenai Penyelenggaraan Ilahi. Di mana Tuhan adalah Penyelenggara atas seluruh hidup dunia dan manusiawi.  Kita perlu mengenal siapa Penyelenggara Ilahi itu dan itu menjadi penting dan bermanfaat bagi relasi kita di dalam Tuhan.
Mengenal Tuhan bisa dalam berbagai cara dan sarana. Ada yang memakai cara mistik dengan manunggaling kawula lan Gusti, dengan lelaku, semedi, atau berziarah, bisa juga dengan melakukan kebersamaan sebagai jemaat beriman di dalam Gereja. Pengenalan yang  dapat membantu relasi makin dekat dan baik, sebagai jawaban atas Pewahyuan dan pengenalan Diri Allah yang telah menjadi manusia.
Saudara terkasih, para murid yang bergaul dengan akrab, intim, dan mendalam bersama Yesus, kali ini diutus untuk mewartakan kasih Tuhan. Tuhan mengutus mereka untuk berkarya berdua-dua. Ini menjadi penting karena dengan berdua-dua bisa memberikan kesaksian yang lebih meyakinkan dan menguatkan, ingat kesaksian dalam peradilan modern pun memerlukan dua saksi. Kuasa yang diberikan adalah mengusir kuasa jahat. Mengapa demikian? Kuasa jahat adalah kuasa yang bisa menjadi karang penghalang bagi karya Yesus di dalam mewartakan khabar gembira.
Para murid ini diutus untuk memperkenalkan Tuhan, sebelum Tuhan  datang dan hadir di sana. Sangat wajar para murid diutus untuk bukak alas. Para murid mempersiapkan sebelum Tuhan hadir. Seperti petani yang menyiapkan ladang sebelum menaburkan benih.
Para murid tidak boleh membawa bekal apapun. Ini menjadi penting, sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh dan menjadikan Tuhan sebagai nomor satu di dalam karya mereka. Di dalam pewartaan, mereka juga memberikan kesaksian dengan mereka sebagai pelaku dan saksi. Inilah pembeda dan perbedaan dengan yang lain-lainnya.
Saudara terkasih, para murid juga diperintahkan, jika memang ditolak mereka tidak perlu menghabiskan energi untuk melawan, menggerutu, atau sejenisnya. Mereka hanya perlu untuk meninggalkannya. Jika diterima perlu disyukuri dan jadikanlah itu medan karya. Dengan demikian, para murid itu tugasnya mewartakan bahwa pendengar harus bertobat. Ini menjadi pusat dan fokusnya. Penyembuhan juga menjadi tugas para murid.
Saudara terkasih, Tuhan menghendaki kita untuk mewartakan khabar gembira apapun konsekuensinya. Tidak menjadikan penolakan sebagai penghalang, pun penerimaan bukan menjadikan kesombongan. Pun di dalam Tuhan mau mengandalkan-NYA sebagai satu-satunya yang menjadi prioritas.BD.eLeSHa.

Rabu, 06 Februari 2019

Bersama Tuhan Selalu Bahagia dan Mampu


Pw. S. Paulus Miki, Im.dkk. Mrt (M)
Ibr. 1:4-7,11-15
Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a
Mrk. 6:1-6




Ibr. 1:4-7,11-15

12:4 Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.
12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
12:13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang


Mrk. 6:1-6

6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6:6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.
6:6b Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.



Bersama Tuhan Selalu Bahagia dan Mampu

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Perayaan Wajib Santo Paulus Miki dkk, imam dan awam martir Jepang. Mereka dihukum mati dan disiksa dengan sanga kejam oleh saudara sebangsanya sendiri karena memilih Yesus untuk iman mereka. Perlakuan keji dan kejam yang dilakukan untuk meruntuhkan iman mereka ternyata tidak mempan. Mereka tetap setia untuk mencurahkan darah bagi iman kepercayaan mereka.
Bacaan Injil hari ini juga mengajak kita untuk merenungkan sabda-Nya yang berbicara mengenai kekecewaan orang dan tetangga Yesus. Mereka merasa tahu dan mengenal keluarga Yesus, jadi mereka malah mempertanyakan kualitas Yesus atas pengenalan mereka. Model yang demikian pun kita alami, merasa kecewa karena Tuhan tidak mengabulkan doa kita yang sudah kita panjatkan lama. Atau kita kecewa karena Tuhan mengambil orang yang paling kita sayangi. Ada pula orang lain yang tidak terima, kecewa karena Tuhan memberikan apa yang tidak diinginkan, malah memberikan pada orang yang tidak kita senangi misalnya.
Kekecewaan pada Tuhan juga  bisa karena dirasakan bahwa Tuhan tidak memberikan pasangan sebagaimana yang diinginkan. Mengingatkan pasangan yang cantik, ganteng, dan mapan, namun Tuhan ternyata malah  memberikan yang biasa-biasanya. Atau siswa menghendaki nilai paling baik, apa daya hanya pas-pasan, padahal sudah belajar mati-matian. Ungkapan kecewa dengan marah, protes pada Tuhan dengan tidak mau lagi berdosa.
Apa yang terjadi pada tetangga Yesus pun demikian, mereka merasa bahwa bukan sebagaimana mereka inginkan. Mengapa Yesus hanya Anak Yusuf si tukang kayu. Mengapa bukan anak atau kerabat mereka saja. Hal yang lumrah dan manusiawi bukan? Namun Tuhan berkehendak bahwa Yesus itu lahir di keluarga Maria dan Yusuf.  Mereka juga merasa Yesus sebagai anak tukang kayu tidak akan mampu demikian. Hasil belajar dari mana, konsep manusiawi, dan melupakan adanya peran Allah di sana.
Saudara terkasih, kita pun sering terlalu mengandalkan pengetahuan kita, logika kita, pengetahuan kita, dan itu membuat kita kecewa. Libatkan Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup kita, dan akan memperoleh keindahan dan kekuatan batin yang luar biasa. Bayangkan bagaimana Santo Paulus Miki dkk, tanpa melibatkan Allah dan kehendak-Nya tidak akan mampu menjalani penderitaan yang amat sangat itu. Kasih karunia dan  Tuhan yang hadir untuk menguatkan mereka. Kita pun akan mampu dalam menghadapi semua di dalam Allah. BD.eLeSHa.

Selasa, 05 Februari 2019

Santa Agatha dan Kuasa Kasih


Pw. S. Agatha, Prw Mrt (M)
Ib. 12:1-4
Mzm. 22:26b—27,28,30,31-32
Mrk 5:21-41



Ib. 12:1-4

12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
12:4 Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.



Mrk 5:21-41

5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,
5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya
5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.
5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
5:31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"
5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.
5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
5:35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
5:37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
5:38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
5:39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
5:40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!




Santa Agatha dan Kuasa Kasih


Saudara terkasih, hari ini kita diajak merayakan dan merenungkan mengenai Santa Agatha. Agatha seorang perawan suci yang memilih mengorbankan nyawanya dari pada imannya. Ia seorang gadis yang cantik, tidak heran gubernur Romawi yang tidak beriman jatuh cinta kepadanya. Namun ia bersikukuh dan tetap menolaknya.
Gubernur marah dan memerintahkan Agatha diserahkan pada rumah pelacuran. Ia disekap selama sebulan, namun ia tetap suci karena selalu berhasil mengatasi tipu daya yang akan membahayakan persembahannya.
Mucikari yang tidak berhasil membawa kembali kepada gubernur. Gubernur kali ini menyiksanya dan memeritahkannya untuk memotong kedua payudara si gadis.  Dari sinilah Agatha menjadi santa pelindung bagi para penderita kanker payudara. Banyak penderita kanker ini yang sembuh atas bantuan doa Santa Agatha.
Saudara terkasih, dalam bacaan Injil kita juga diajak untuk merenungkan mengenai ciri pribadi beriman. Ada dua, pertama seorang yang anaknya meninggal dan memohon bantuan Yesus. Kedua, seorang perempuan yang sakit pendarahan sekian tahun. Semua memberikan gambaran beriman yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Seorang perempuan yang demikian kuat dalam iman dan kepercayaan. Bagaimana ia mengatakan jika aku memegang jubah-Nya saja, maka aku akan sembuh. Lihat, ia bukan menghendaki sapaan, atau usapan, atau perbuatan fisik dari Yesus, atau sebuah kata-kata langsung, verbal dan lisan yang terucap. Hanya dalam menyentuh bagian jubah-Nya saja. Luar  biasa.
Yairus memohon kedatangan Tuhan untuk datang menyelamatkan puterinya yang sakit. Bayangkan ia adalah kepala rumah ibadat, merendahkan diri di hadapan Guru baru yang sedang naik daun. Jauh posisinya, padahal sebelumnya, kelompok mereka melemahkan dan mengejar-kejar Yesus. Namun kini mau demi anaknya yang sakit.
Saudara terkasih, kita dalam hidup sehari-hari juga mengalami kondisi di mana perlu bantuan Yesus, namun apakah kita mampu rendah hati dan terbuka di hadapan Tuhan? Atau malah meninggikan diri sebagaimana khas manusiawi. Kesediaan memohon bantuan kepada Sang Kuasa, dan kerendahan hati untuk merasa tidak mampu dan perlu dukungan dari Tuhan Yesus.
Tuhan berkehendak untuk kita mampu menjaga  kemurnian diri dan berserah kepada Tuhan semata. Tuhan Sang Pemelihara yang akan memberikan apapun yang kita butuhkan, namun apakah pernah kita meminta dan melibatkan Tuhan? BD.eLeSHa.

Senin, 04 Februari 2019

Kuasa Allah yang Meraja


Senin Pekan Biasa IV (H)
Ib. 11:32-40
Mzm. 31:20,21,22,23,24
Mrk. 5:1-20




Ib. 11:32-40

11:32 Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi,
11:33 yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa,
11:34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.
11:35 Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.
11:36 Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan.
11:37 Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.
11:38 Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.
11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.


Mrk. 5:1-20

5:1 Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.
5:2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.
5:3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,
5:4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.
5:5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.
5:6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,
5:7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!"
5:8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"
5:9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak."
5:10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.
5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,
5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"
5:13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.
5:14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.
5:15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.
5:16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.
5:17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.
5:18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.
5:19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
5:20 Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.



Kuasa Allah yang Meraja

Saudara terkasih, oleh Bunda Gereja hari ini kita diajak merenungkan firman-Nya, mengenai Kuasa Allah dan kuasa jahat. Kedua kuasa yang bisa kita biarkan hidup dan merajai dalam hidup dan hati kita. Baik kuasa jahat ataupun baik, bisa kita biarkan mengendalikan kita.
Dalam bancaan Injil hari ini, kita diajak untuk merenungkan betapa kuasa jahat itu bisa demikian kuat. Tidak ada orang yang mampu untuk mengendalikannya. Demikian pun jika kuasa jahat itu menguasai kita, tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikannya.
Kuasa jaha itu sangat mudah datang dan menguasai kita. Kita asyik dengan dunia dan segala tawaran indah dan mewahnya bisa membuat kita terjebak di dalamnya. Kini sedang trend memecahkan spion kendaraan, truk biasanya. Alasannya biar viral, menjadi populer di media massa. Selain terkenal dan banyak pengikut dan penggemar, potensi memperoleh uang memang terbuka lebar. Namun apa iya, demi populer, memperoleh materi namun merugikan orang lain, dan salah-salah juga diri sendiri. Hal ini bisa terjadi karena kita dikuasai oleh kuasa jahat yang menawarkan keindahan karena populer, mendapatkan harta yang melimpah. Hal yang sama terjadi pada para koruptor, yang memuja uang sebagai segalanya. Ketika di bui baru merasakan itu semua adalah kerugian yang terlambat disadari. Kuasa jahat lah yang membelokan ketulusan menjadi keculasan.
Orang dihambat untuk menekuni firman dan mengamalkannya dalam hidup harian. Pengaruhnya kadanag lembut kadang keras. Dan kita yang tidak pernah bergaul dengan Roh Baik, Roh Kudus, dan kuasa Allah, akan dengan mudah dikelabuhi. Keengganan untuk menengarkan, membaca, dan merenungkan firman Tuhan, abai dalam doa, dan asyik dengan kegiatan sehari-hari, atas nama tanggung jawab keluarga, bisa menjadi pintu masuk untuk kuasa jahat menguasai kita. Perilaku, tutur kata, perbuatan, dan buah pikir kita ada dalam kendali kuasa jahat itu.
Saudara terkasih, kita juga diajak untuk merenungkan lebih dalam, bagaimana Legion itu tidak mau musnah, mereka, terhadap Yesus saja masih menawar dan memasuki kawanan babi. Jika tidak hati-hati, kita akan sangat mudah dikuasai kuasa jahat. Kita harus sadar, bertekun, dan ingat di dalam Tuhanlah itu semua bisa tidak datang lagi. Hati yang bersih pun jika tidak diperlihara akan didatangi dan dijadikan hunia si jahat lagi.
Kasih Allah itu menyelamatkan, namun perlu juga habitat baik dan kehendak kita yang selarah dengan rencana dan kehendak-Nya. Kesediaan kita untuk menjadi hati kita tetap bersih dan menjadikan Kuasa Allah sebagai raja. BD.eLeSHa.

Minggu, 03 Februari 2019

Kepenuhan Sabda


MINGGU PEKAN BIASA IV (H)
Yer. 1:4-5,17-19
Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17
1 Kor. 13:4-13
Luk. 4:21-30




Yer. 1:4-5,17-19

1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
1:17 Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
1:18 Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.
1:19 Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."


1 Kor. 13:4-13

13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Luk. 4:21-30

4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi



Kepenuhan Sabda

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan firman Tuhan mengenai hal yang klasik, nabi tidak pernah dihargai di kampung halamannya sendiri. Ungkapan yang sangat familiar, sangat umum, dan biasa terjadi. Susah melihat kebaikan, berkat, atau anugerah bagi orang lain, apalagi yang kita kenal. Ada di mana-mana.
Apa yang Yesus katakan pun masih yang sama, pengalaman era Elisa dan Elia. Di sanalah prang-orang itu begitu marah dan menjadi emosional untuk membunuh Yesus dan itu menjadikan mereka semakin marah kepada Yesus.
Padahal pada awalnya mereka memuja, bahagia, dan terinspirasi atas apa yang Yesus nyatakan dan katakan. Mereka juga tentu telah mendengar apa yang Yesus lakukan di tempat lain. Mereka iri dan pengin Yesus memberikan dan membuat mukjizat yang sama. Bukannya dikabulkan, eh malah dikatakan apa yang ada di dalam hatinya dengan terus terang.
Saudara terkasih, pada awal bacaan Injil hari ini kita tahu dengan baik, bahwa mereka bahagia, bersuka cita, dan merasa tergetar, mengapa bisa dengan mudah berbalik? Kita sebagai manusia memang lebih suka mendengar yang baik-baik, namun apakah bisa bertahan dan mau ketika itu tidak enak, tidak sesuai ekspektasi, dan malah kadang penolakan?
Mendengarkan sabda Tuhan itu biasa, merenungkannya mungkin juga sering dan sangat mungkin, namun ketika mewujudkannya dalam hidup sehari-hari? Sangat mungkin, namun tidak akan mudah. Yesus menyatakan, nas ini pada hari genaplah, atau dengan kata lain nas  ini, telah menjadi  nyata. Perintah dan kehendak Tuhan dalam firman-Nya mugkin biasa kita dengar, kita renungkan, namun apa iya jalankan dan lakukan?
Mana sabda Tuhan yang sudah kita jalankan dan lakukan dengan sepenuh hati, syukur-syukur malah menjadi gaya hidup yang dengan begitu saja berjalan, sebagaimana bernafas dan mengedipkan mata. Janganlah berteriak membela Tuhan, namun melakukan perintah-Nya yang sederhana saja, syukur sudah dilakukan? Apalagi pengampunan, apalagi berbagi. Ini dasar dan menjadi fondasi kualitas beriman. Syukur, sederhana, namun tidak mudah kog. Mengeluh dan menggerutu jelas lebih mudah dan sering kita dengar. Padahal kurangnya apa coba kebaikan dan kasih Tuhan? Toh kita masih saja kurang.
Saudara terkasih, selayaknya kita memohon agar Tuhan memberkati kita, menguatkan kita mampu menjalankan sabda itu dalam hidup sehari-hari. Mendengar dan merenungkan itu baik, namun belum cukup. BD.eLeSHa.

Sabtu, 02 Februari 2019

Doa, Kerendahan Hati, dan Ketaatan


Pesta Yesus Dipersembahkan dalam Bait Allah (P)
Ibr. 2:14-18
Mzm. 24:7.8,9,10
Luk. 2:22-32




Ibr. 2:14-18

2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;
2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.
2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.


Luk. 2:22-32

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.



Doa, Kerendahan Hati, dan Ketaatan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan Yesus Dipersembahkan dalam Bait Allah. Ada beberapa hal  menarik yang patut kita renungkan dan menjadi bahan serta inspirasi dalam hidup beriman kita.
Pertama, budaya Yahudi, di mana Yesus lahir sebagai Putera Maria, diikuti dengan sepenuhnya. Yesus benar-benar Anak budaya Yahudi dengan segala adat istiadat yang melingkupinya. Salah satunya adalah persembahan sebagai anak laki-laki sulung. Yesus adalah anak laki-laki dan sulung.
Kedua, sikap ketaatan Ibu Maria dan Bapak Yusuf juga patut kita jadikan referensi dan panutan di dalam hidup bersama. Bagaimana mereka  yang hidup dalam alam budaya Yahudi ikut terliat di dalamnya sebagai simbol kesalehan.
Ketiga, kesaksian Simeon, ia seorangs saleh yang dianugerahi Allah untuk meninggal usai melihat Mesias. Ia digerakan Roh Kudus datang ke Bait Allah ketika Yesus  diserahkan dalam Bait Allah. Di sinilah kesaksian siapa bayi Yesus itu. Ia kemudian merasa puas dan cukup hidup di dalam dunia ini.
Keempat, mengatakan cukup sebagaimana Simeon. Sering orang diberikan anugerah kemudian meinta lagi. Namun Simeon tidak demikian.
Kelima, aktivitas dalam Bait Allah adalah ibadah, berdoa, berkomunikasi dengan Allah, dan Yesus diajarkan itu sejak dini oleh kedua orang tuanya di dunia ini, apalagi Bapa Surgawi.  Doa dan relasi dengan Bapa-Nya menjadi penting.
Saudara terkasih, kerendahan hati, ketaatan, dan doa menjadi penting dan menu harian dalam hidup kita. Dengan demikian, kita akan mampu hidup dan menggarami dunia ini. Yesus bersama Keluarga Kudus Nazareth membantu kita membangun sikap batin sebagai pendoa yang rendah hati dan taat sampai akhirnya.
Kerendahan hati susah dijalani jika kita tidak pernah berdoa. Berdoa untuk memohon kepada Tuhan agar diberikan kerendahn hati. Hal ini perlu dijalankan dengan penuh ketaatan dan kehendak yang kuat. Kerendahan hati juga membuat kita mampu mengatakan cukup.
Relasi dengan Tuhan harus diupayakan, agar Roh Kudus tetap menjadi nahkoda hidup kita di tengah dunia ini. persembahan Yesus ke Bait Allah adalah simbolisasi ini komplet, antara kerendahan hati, ketaatan, dan komunikasi di dalam dan bersama Allah. BD.eLeSHa.

Jumat, 01 Februari 2019

Berbuah dan Berdaya Guna


Jumat Pekan Biasa III (H)
Ibr. 10:32-39
Mzm. 37:3-4.5-6,23-24,39-40
Mrk. 4:26-34




Ibr. 10:32-39

10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,
10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.
10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.
10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
10:37 "Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.
10:38 Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."
10:39 Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.


Mrk. 4:26-34

4:26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,
4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.
4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
4:30 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?
4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.
4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."
4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,
4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri




Berbuah dan Berdaya Guna

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan firman Tuhan mengenai buah dan daya gunanya. Perumpaan yang dipakai jelas hal yang berkaitan dengan pertanian, ketika konteks pendengar-Nya adalah alam budaya agraris. Berbeda dengan ketika berhadapan dengan nelayan dan pelaku budaya perairan.
Melihat cara Yesus mengajar ini menjadi sebuah inspirasi bagaimana Yesus itu kreatif, kontekstual, buka kaku sesuai dengan apa yang IA kehendaki, namun apa yang mampu dan dipahami para pendengar-Nya. Kondisi pendengar dan murid menjadi yang utama dan penting bagi Yesus.
Saudara terkasih, berbuah itu sebuah keharusan, konsekuensi logis atas hasil kerja bersama kasih karunia dan berkat Allah. Buah itu  penting namun belum cukup jika tidak bermanfaat dan berdaya guna sesama. Dalam kisah Injil dikatakan bahwa biji sesawi yang sangat kecil itu kemudian tumbuh menjadi pohon dan dahannya bisa untuk sarang burung atau burung hinggap untuk beristirahat atau hanya hinggap sejenak.
Berbuah itu penting, menghasilkan di dalam hidup itu juga penting, dan bahkan itu adalah konsekuensi karena sudah diberi hidup oleh Allah. Hidup tentu akan menghasilkan buah yang berlimpah. Siapa tidak berbuah berarti memang tidak hidup dan tidak berusaha dengan semestinya. Buah itu adalah sebuah hasil.
Buah saja masih belum cukup karena harus bermanfaat dan berdaya guna bagi sesama dan lingkungan. Kita di dalam hidup bersama terutama sebagai anak bangsa tentu paham, bahwa banyak negara ini yang kaya raya. Namun sayang kekayaannya berasal dari korupsi, mengambil hak  pihak lain dengan sewenang-wenang, dan menimbun itu semua demi kepuasan diri sendiri. Ini jelas bahwa mereka berbuah, namun belum berdaya guna, karena masih egois dan berorientasi pada diri atau kelompoknya semata. Pun dalam hal penegakan hukum, demikian. Bagaimana orang  tahu dan paham soal hukum, namun bisa memutarbalikan pasal demi pasal demi kepentingan sendiri. Buat apa pengetahuan dan pengalaman jika tidak membantu sesamanya, malah merugikan demikian.
Saudara terkasih, berbuah saja tidak cukup, jika buah itu tidak memperkembangkan sesama dan juga lingkungan. Di sinilah peran yang berbeda sebagai anak-anak Tuhan. BD.eLeSHa.