Senin, 14 Januari 2019

Tuhan Memanggilmu, Kerajaan Allah Sudah Dekat


Senin Pekan Biasa I (H)
Ibr. 1:1-6
Mzm. 97:1,2b,6,7,9
Mrk. 1:14-20




Ibr. 1:1-6

1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
1:4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.
1:5 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?" dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?"
1:6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."




Mrk. 1:14-20

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,
1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
1:17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
1:18 Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.
1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia




Tuhan Memanggilmu, Kerajaan Allah Sudah Dekat

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan mengenai panggilan Tuhan. Tuhan memanggil kita inisiatif dari-Nya, namun perlu juga tanggapan, respons, jawaban dari pihak kita, manusia. Inisiatif memang dari Tuhan, kita juga terlibat penuh dengan tanggapan kita.
Manusia dipanggil sepenuhnya, di mana dalam bacaan Injil diperlihatkan bagaimana panggilan Tuhan kepada para murid ketika mereka bekerja. Kerja adalah lambang, simbol, gambaran kemanusiaan yang utuh. Sering kita temui, ketika orang memperkenalkan diri, disambung dengan pekerjaan, si A guru, si B pilot, atau si C yang bekerja sebagai pastor misalnya. Ini memberikan gambaran bahwa pekerjaan itu utama dan melekat erat dalam diri manusia.
Kondisi yang nyaman, menyita perhatian, dan konsentrasi bekerja  bisa membuat kita abai dan tidak memiliki waktu dan memberikan perhatian pada Tuhan dan panggilan-Nya. Di sinilah pentingnya mendengarkan kehendak Tuhan termasuk panggilan dan sapaan Tuhan.
Para murid awal ini menyatakan sikap dengan kata dan perbuatan, di mana mereka langsung meninggalkan pekerjaan dengan segala kesibukan mereka. Kesiapan ini menjadi penting, apalagi era modern ini yang banyak penghambat, halangan, dan rintangan untuk menjawab “YA”. Aku masih sibuk dengan kesenangan ini, aku mau menyelesaikan tanggung jawabku, aku masih mempersiapkan dulu, biar nantinya mampu memberikan yang terbaik, sehingga malah melupakan yang utama, sapaan Tuhan. Panggilan-Nya terkalahkan atas nama persiapan, atau karena mau sempurna.
Tuhan bukan memanggil kita di dalam kesempurnaan, namun kemauan keras untuk dibentuk, dibimbing, dan dijadikan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kelemahan, kelebihan, apapun yang ada dalam diri kita secara utuh. Panggilan itu bukan soal sempurna, namun utuh kemanusiaan kita.
Kita hendak diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat, dan apa yang perlu kita persiapkan, sehingga kita mempersiapkan diri. Salah satu adalah kesiapsediaan kita di dalam memahami kehendak dan panggilan Tuhan. Dan di sanalah kita ikut kehendak Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya.
Tuhan menghendaki kita bukan untuk sempurna namun mau dan total di dalam menjalankan kehendak Tuhan itu. Di sanalah peran dan panggilan kita. BD.eLeSHa.

Minggu, 13 Januari 2019

Status Anak Allah


MINGGU PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (P)
Yes. 40:1-5,9-11
Mzm. 104,1-2,3-4,24-25,27-28,29-30
Tit. 2:11-14,3:4-7
Luk. 3:15-16,21-22



Yes. 40:1-5,9-11

40:1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,
40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.
40:3 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!
40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."
40:9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!"
40:10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.
40:11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.


Tit. 2:11-14,3:4-7

2:11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
2:12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini
2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.
3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,
3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.


Luk. 3:15-16,21-22

3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
3:21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit
3:22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."




Status Anak Allah

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan mengenai pembaptisan Tuhan dan konsekuensi baptis bagi hidup kita. Pembaptisan Tuhan bersama dengan orang-orang yang melambangkan penghapusan dosa dalam alam Yahudi. Jika demikian apakah Yesus berdosa?
Sering hal ini menjadi pertanyaan untuk menyudutkan Gereja dan umat yang ketakutan jika mendapatkan pertanyaan akan kisah ini. Tuhan itu hadir sepenuhnya sebagai anak dunia, sebagai manusian seutuhnya, bukan hanya setengah-setengah di mana pura-pura manusia. Tidak, termasuk untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Pembaptisan ini bentuk solider seutuhnya atas kedosaan manusia, tanpa IA berdosa.
Status Anak Allah, sebagaimana dinyatakan Allah Bapa, usai pembaptisan hendak memberikan kepada kita gambaran utuh Yesus sebagai Anak Allah dan juga Anak Manusia, anak dari Maria dan Yusuf. Sepenuhnya Allah dan juga manusia, bukan hanya separo-paro.
Pembaptisan Yesus juga memberikan gambaran kasih sejati Allah agar manusia tidak tersesat kekal di dalam kedosaan. Kedatangan Yesus untuk membawa kembali anak-anak dunia yang sempat tersesat dan putus dari kasih sejati Allah.
Konsekensi baptis bagi kita adalah, kita hidup sebagai anak Allah, yang ikut juga di dalam derita, kematian, dan tentu yang utama, adalah kebangkitan Yesus. Semua proses keselamatan itu harus kita ikuti semua, tidak hanya kemuliaan kebangkitan saja, tanpa mau menderitanya. Paket komplet yang tidak boleh ada yang kita tinggalkan.
Saudara-Saudari terkasih kita yang sudah masuk dalam kalangan anak-anak Allah, memiliki tugas yang sama dengan Yesus. Membawa khabar suka cita, menebarkan kasih, dan memberikan sikap baik dan positif untuk dunia. Di mana dunia yang penuh dengan keadaan negatif, pesimistis, kecurigaan dan kecemasan, tipu sana tipu sini, menebarkan kecemasan. Di sinilah peran kita sebagai anak Allah di tengah dunia. Karya kitalah yang bisa mewarnai dunia, dari tengah dunia, di dalam keadaan yang sama dengan dunia, namun jangan sampai kalah oleh dunia.
Peran yang krusial di antara dunia, tanpa perlu menjadi bagian dunia, dan justru bisa mewarnai dunia dengan nilai-nilai surgawi. Pembaptisan kita bukan menjadikan perutusan kita mudah, namun mampu menjalani dengan penuh kerendahan hati. Kasih Allah yang telah kita terima, kita teruskan dan jadikan kasih yang terima itu juga dunia rasakan. Berbeda dengan dunia yang mengumpulkan, kita mampu untuk berbagi. Ini lah perbedaan dengan  dunia. BD. eLeSHa.

Sabtu, 12 Januari 2019

Kerendahan Hati dan Persaingan


Sabtu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 5:14-21
Mzm. 149:1-2,3-4,5,6a,9b
Yoh. 3:22-30




1 Yoh. 5:14-21

5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.
5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.
5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.
5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.
5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.



Yoh. 3:22-30

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.
3:23 Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,
3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.
3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.
3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."
3:27 Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.
3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil




Kerendahan Hati dan Persaingan


Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagaimana kerendahan hati seorang Yohanes Pembaptis. Apalagi jika dikaitkan dengan era modern yang sering lebih mengedepankan persaingan dan menjadikan rivalitas dalam konteks menang-kalah. Siapa cepat dapat, hukum rimba, yang kuat menang, dan sejenisnya, pemikiran pokok adalah persaingan. Mana ada kemauan melayani dan memberikan diri bagi yang lain.
Yohanes Pembaptis memberikan keteladanan, di mana ia memang bertugas untuk membuka jalan, menyiapkan ladang bagi Si Pemilik lahan. Yesus lah yang perlu mendapatkan semuanya. Dan posisi yang tidak ringan dijalani oleh Yohanes Pembaptis. Bayangkan jika itu terjadi hari ini. Apa yang akan terjadi coba? Memberikan apa yang seharusnya bisa menjadi miliknya. Posisi Yohanes Pembaptis bahkan juga  sama dengan apa yang Yesus miliki. Mempunyai murid, membaptis, dan tentunya juga mengajar.
Pernyataan-pernyataannya pun memperlihatkan bagaimana Yohanes Pembaptis itu lebih menonjolkan Yesus. Ia menyadari posisinya sebagai pembuka jalan, bukan Si Pemilik. Ia mendahului Yesus yang akan memulai karya-Nya. Yohanes sebagai sahabat Mempelai Laki-Laki, yang bersuka cita karena sahabatnya itu. Fokusnya pada Yesus.
Saudara terkasih, Yohanes mengatakan bahwa ia harus makin kecil dan Yesus makin besar. Ini adalah kerelaan selain kerendahan hati Yohanes di hadapan Yesus. Karya Allah yang memperlihatkan dua pribadi utama. Yohanes yang membuka lahan dan Pemilik Lahan merupakan Utusan Allah sendiri, Putera-Nya Yang Tunggal.
Kerendahan hati dan kesiapan untuk berbagai merupakan kualitas yang membedakan sebagaimana Yohanes lakukan. Dan itu pun selayaknya kita mohonkan untuk mempu kita ikuti. Budaya modern adalah mengumpulkan.
Kerendahan hati merupakan kualitas pribadi yang utama. Sahabat Yesus pun ternyata rendah hati, dan itu adalah teladan kita. Selayaknya jika kita memohon agar Roh Kudus memberikan hati kita sikap rendah hati agar memancarkan kualitas Tuhan dalam hidup kita. Hidup sehari-hari kita selayaknya rendah hati dan memberikan gambaran surgawi dan hidup Yesus. Bagaimana kita sebagai citra Allah, memberikan gambaran utuh di dalam hidup  sehari-hari kita, rendah hati, kemauan berbagi, dan saling mengasihi. BD.eLeSHa.


Jumat, 11 Januari 2019

Jika Tuan Mau....


Jumat Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 5:5-13
Mzm. 147:12-13,14-15,19-20
Luk. 5:12-16






1 Yoh. 5:5-13

5:5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.
5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.
5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.


Luk. 5:12-16

5:12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
5:13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
5:14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."
5:15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.
5:16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.





Jika Tuan Mau....

Saudara terkasih, hari kita patut bersyukur dan bersuka cita diajak untuk merenungkan firman Tuhan, mengenai kuasa luar biasa Yesus bagi dunia. Dalam  bacaan hari ini, Yesus diminta untuk menyembuhkan seseorang yang menderita kusta. Ada yang sangat menarik adalah sikap penderita kusta, di mana ia menyatakan, mengatakan, Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku...
Saudara terkasih, dalam hal ini, inisiatif, siapa yang aktif untuk memperoleh bantuan adalah sii penderita. Gambaran kita yang memerlukan bantuan dan uluran tangan Tuhan. Memperlihatkan bahwa Tuhan bisa berkarya dengan  berbagai cara dan kita pun bisa memohon dan meminta. Tuhan tidak terbatas bahwa itu hanya kehendak Tuhan dan kita hanya menunggu dengan pasif.
Perilaku dan pilihan Yesus juga masih ikut dalam tradisi budaya setempat. Bagaimana si penderita kusta diperintahkan untuk memperlihatkan diri pada imam dan mempersembahkan  syarat dan tanda pentahiran. Apa yang dilakukan Yesus ini memberikan lagi gambaran bahwa agama dan budaya itu bisa sinergi. Tuhan tidak hendak merusak budaya dan tatanan yang ada, sepanjang masih sejalan dengan ketetapan Tuhan. Artinya, bahwa hidup Gereja dan negara ataupun tradisi pun masih bisa seiring sejalan. Ada kebenaran keyakian Mgr. Soegijo di mana 100% Katolik dan sekaligus 100% Indonesia. Selaras antara berbangsa dan bernegara, serta beragama.
Antara inistiatif Tuhan atau manusia tetap bisa berjalan tanpa ada yang saling meniadakan. Namun jangan diabaikan apa yang dikatakan si Kusta, jika Tuan mau....artinya adalah keputusan akhir adalah kehendak Tuhan. Kita hanya bisa memohon dan berharap, tetap Tuhan yang akan memberikan apa yang terbaik bagi kita.
Tuhan mampu membuat hal yang luar biasa, termasuk menyembuhkan kusta, di mana penyakit itu dalam konteks waktu itu adalah, kutukan yang harus disingkirkan dari masyarakat. Kesembuhan atau  tahirnya si sakit adalah juga pemulihan kemanusiaannya, selain ia sembuh dari sakit. Kembalinya kemanusiaan, status manusiawi yang terputus itu kembali dan pulih. Inilah kualitas Yesus yang bisa memulihkan kemanusiaan dan kondisi kita yang terputus dari kesatuan dengan Kasih Sejati Allah.BD.eLeSHa.

Kamis, 10 Januari 2019

Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang


Kamis Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:19-5:4
Mzm. 72:1-2,14,15bc-17
Luk. 4:14-22




1 Yoh. 4:19-5:4

4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
5:1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya.
5:2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.
5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita



Luk. 4:14-22

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?




Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan bagiaman Tahun rahmat Tuhan itu telah datang. Tahun rahmad Tuhan atau keselamatan yang hakiki atau sejati  telah datang. Ciri-ciri yang mengikuti kedatangan masa itu adalah, khabar baik bagi orang miskin, penglihatan bagi yang buta, dan membebaskan orang tertindas.
Kita kini, sering mendengar adanya pemberitaan, terutama yang politis mengenai kemiskinan. Orang miskin mendapat khabar gembira yang tidak secara mendalam, apalagi mengentaskan mereka dari kemiskinan. Yang ada mereka dijadikan sebagai sarana untuk politis, demi pemilu. Perbedaan yang sangat jauh dengan apa yang Tuhan rencanakan dan menjadi perutusan Tuhan.
Penglihatan bagi yang buta jelas memberikan pengharapan baru dan memberikan kehidupan baru. Bentuk kasih dan solidaritas Tuhan yang Mahabaik.
Solidaritas itu perwujudan kasih yang tidak membedakan apapun, latar belakang apapun, dan untuk siapapun. Apa yang Tuhan lakukan, berarti juga menjadi tugas kita. Kita diharapkan mengasihi sesama dengan tulus hati, terutama bagi yang tersingkir, dan kurang beruntung. Sering orang lebih memilih dekat dengan yang sedang beruntung dan memperoleh berkat.
Kehadiran Tuhan memberikan harapan baru, di mana semua orang berhak untuk memperoleh hak yang sama. Kita tahu, bahwa sering di tengah masyarakat, di antara kita, memilah dan memilih yang kaya, sempurna, dan memiliki kekuasaan.
Tuhan mengajak kita berbagi berkat bagi yang membutuhkan uluran tangan dari kita yang mendapatkan kasih karunia dengan berlimpah. Rahmat itu bukan untuk disimpan sendiri. Kesiapan berbagi ini juga karena kasih karunia dari Allah. BD.eLeSHa.

Rabu, 09 Januari 2019

Tuhan atau Hantu


Rabu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:11-18
Mzm. 72:1-2,10-11,12-13
Mrk. 6:45-52




1 Yoh. 4:11-18

5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.
5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.
5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.
5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.
5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.


Mrk. 6:45-52

6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
6:47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.




Tuhan atau Hantu

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagiamana kita hidup di dalam persepsi, gambaran-gambaran, dan pola pikir kita, sehingga berpengaruh dalam menilai, memandang, dan akhirnya mengenal obyek di depan kita. Apa yang di dalam benak kita, apa yang kita pikirkan, apa yang kita renungkan, dan menjadi fokus kita, itu yang menjadikan kesimpulan kita.
Tuhan atau hantu itu ada karena pemikiran kita, fokus kita, lihat bagaimana para murid mengenali Yesus sebagai hantu. Sebenarnya hal yang aneh, lucu, dan tidak masuk akal, di mana mereka bergaul dengan Yesus setiap waktu, mereka hidup bersama dengan Tuhan, namun gagal mengenali Yesus yang berjalan di atas air itu. Perbuatan para murid yang belum sepenuhnya mengenal siapa Tuhan, sehingga mereka mengira itu adalah hantu. Iman mereka masih tersaput oleh kabut keraguan dan ketakutan, sehingga Tuhan yang hadir pun salah mereka pahami.
Saudara terkasih, hal itu sangat mungkin juga kia alami. Sapaan Tuhan, uluran Tangan Tuhan dalam hidup kita sangat mungkin salah kita kenali, pahami, dan terima karena di dalam hati kita, pikirna kita, dan benak kita salah di dalam memahami Tuhan. Apalagi mengenali kehendak Tuhan, sedangkan terhadap sesama kita pun tidak jarang salah mengartikan mereka, perilaku mereka, kebaikan mereka.  Hal yang tidak mudah sepanjang kita terlalu jauh dari kebersamaan dengan Tuhan. Bersama Tuhan dalam arti spiritual, dalam kehidupan rohani, iman, bukan semata menebut-nyebut Tuhan dan merasa mengenal Tuhan.
Dalam hidup bersama sering kita menemui orang yang suka berpikir negatif, curigaan, dan menilai hidup itu gelap, melihat kehidupan itu suram, dan seolah tidak ada harapan. Mengapa demikian? Hal ini karena memang persepsi kita, apa yang ada di dalam benak kita, apa yang menjadi fokus kitalah yang kemudian menjadi cara pandang kita.
Iman dan kebersamaan di dalam Tuhan membuat cara pandang, pengenalan kita, dan kesimpulan hidup kita itu baik, positif, dan penuh dengan harapan. Iman dan kasih Tuhan yang memampukan kita memiliki pandangan yang baik.
Saudara terkasih, relasi kita dengan Tuhan itu memegang peran penting, selayaknya dan sepantasnya kita memohon agar mampu untuk bersama di dalam Tuhan. Membangun relasi sehingga bisa mengenal dan tahu dengan lebih baik Tuhan. Tidak salah paham apalagi pahamnya menjadi salah. BD.eLeSHa.

Selasa, 08 Januari 2019

Kasih itu Perhatian dan Solidaritas


Selasa Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 4:7-10
Mzm. 72:1-2,3-4,7-8
Mrk. 6:34-44




1 Yoh. 4:7-10

4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.


Mrk. 6:34-44

6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.



Kasih itu Perhatian dan Solidaritas

Saudara terkasih, hari kita diajak untuk melhat bagaimana kasih itu adalah perilaku, tidak semata ucapan, wacana, atau gagasan semata. Hari ini kita diberikan pelajaran berharga dari Yesus, bagaimana para murid diajak untuk peduli. Peduli itu ungkapan kasih. Mudah mengartikan kasih, memberikan definisi ini dan itu, namun bagaimana kasih itu diwujudnyatakan.
Salah satu perwujudan kasih itu adalah solidaritas, keberanian menanggung  apa yang orang lain tidak bisa berbuat lagi. Kemauan membantu dan meringankan beban pihak lain. sikap para murid sebagai gambaran sikap kita, lukisan apa yang biasanya kita lakukan atau pikirkan. Pilihan pragmatis, mengambil mudahnya, dan membiarkan oran lain menderita.
Yesus mengajarkan solidaritas, mau berempati, terlibat di dalam kesulitan orang lain. Para murid diminta masuk pada derita, kesulitan, dan keperluan para pendengar yang tidak berdaya itu. Mau apa mereka jika tidak ada uluran tangan Yesus? Susah membayangkan mereka yang kelelahan karena seharian mereka sudah memperhatikan pengajaran Yesus. Solidaritas itu ada kemauan untuk terlibat, mau berbagi, dan  rela untuk membuka diri.
Kehendak untuk memperhatikan kebutuhan orang atau pihak lain, sekarang ini menjadi sebuah hal yang langka. Perilaku yang makin jarang dan seolah langka apalagi era modern ini. Kesempatan untuk memperhatikan pihak lain, apalagi kehendak untuk mendekatkan diri di dalam keprihatinan pihak lain itu perlu diperjuangkan.
Keinginan untuk memberikan diri, kesediaan untuk berkenan berbagi kalah oleh kehendak untuk mengumpulkan. Keinginan untuk menjadi unggul, dan itu sering menghambat ketika mau berbagi dan memberikan diri. Dunia dengan ciri demikian, sering menjadi pilihan kita. Lebih mudah, lebih juga murah kadang, dan itu sering menggoda.
Kita sebagai murid dan anak Allah diminta untuk berbuat kasih, sebagaimana Allah adalah kasih. Salah satu wujud nyata, konkretisasi kasih adalah perhatian dan solidaritas. Perilaku dan pribadi sulit jauh lebih banyak di antara kita, dari pada pribadi yang mau bersolider. Solidaritas itu perlu keterbukaan. Kasihlah yang memampukan kita untuk itu. Kasih itu perhatian dan solidaritas.BD.eLeSHa.