Senin, 07 Januari 2019

Bertobatlah Kerajaan Sorga Sudah Dekat!


Senin Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
1 Yoh. 3:22-4:6
Mzm. 2:7-8,10-11
Mat. 4:12-17,23-25




1 Yoh. 3:22-4:6

3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
4:2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,
4:3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.
4:4 Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
4:5 Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.
4:6 Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.


Mat. 4:12-17,23-25

4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
4:17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
4:23 Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
4:24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.
4:25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.




Bertobatlah Kerajaan Sorga Sudah Dekat!

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan Sabda Tuhan mengenai perintah bertobat. Pertobatan itu balik arah, mengubah hidup, perilaku dari yang buruk menuju yang baik, meninggalkan yang tidakpatut dan memperbaiki sehingga hidup menjadi lebih baik dan bermanfaat. Bertobat bukan semata-mata mengatakan tobat dan menyesal semata, namun ada aksi, perilaku, perbuatan, dan sikap yang menjadi baik dan lebih bermanfaat.
Yesus memulai karya-Nya, perbuatan besar dan ajaib, perbuatan Mesianik, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, dan memperbaiki keadaan buruk di tengah masyarakat. Di mana IA mengajar, menyembuhkan si sakit, dan mengusir roh jahat ada di mana bangsa yang masih hidup di dalam kegelapan. Terang itu nyata. Terang akan mengusir kegelapan dan memberikan suka cita.
Saudara terkasih, kita bisa membayangkan saja, bagaimana jika kita masuk ke dalam ruangan yang gelap. Kita membewa lentera, lilin, atau lampu, bagaimana ruangan itu? Ruangan itu menjadi terang dan kegelapan sekaligus terusir. Tidak ada tempat gelap ketika terang itu mengisinya. Terang melenyapkan kegelapan yang ada di sana.
Baptis membuat kita menjadi anak-anak terang. Terang Yang Sejati itu mengusir kegelapan yang membelenggu hidup manusiawi kita. Kegelapan yang menaungi jiwa kita telah diusir oleh Terang Yang Sejati. Kegelapan itu sudah terusir, dan kita perlu menjaga hati kita tetap terang dan jangan sampai kegelapan itu datang kembali.
Martabat anak-anak Allah itu tidak membuat kita lepas dari gangguan, godaan, kelemahan, dan kejatuhan manusiawi. Dunia jelas kadang membuat kita gagal dan jatuh, dan itulah pentingnya pewartaan Tuhan untuk bertobat. Benar bahwa kita adalah anak-anak Allah, namun dunia tidak akan membiarkan kita tenang-tenang saja, bisa berlaku seenaknya, dan bisa saja jatuh dan tersesat. Itulah manfaat tobat.
Tobat memberikan kembali status anak Allah yang semat ternoda, karena pilihan manusiawi untuk jatuh dan ikut kelemahan manusiawi. Kita patut berbangga meiliki Tuhan Yang Mahabaik dan Maharahim, sehingga memberikan kesempatan untuk kembali. Ingat Tuhan membebaskan kita sepenuhnya, bukan hanya seolah-olah bebas. Syukur luar biasa bahwa kita bebas namun juga memiliki kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Kejatuhan bukan kesempatan untuk Tuhan menghukum manusia. Bagaimana manusia bisa lepas dari hukuman jika tidak ada Yesus. Mengerikan hidup kita tanpa DIA.BD.eLeSHa.


Minggu, 06 Januari 2019

Model Iman atas Pewahyuan Allah


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (P)
Yes. 60:1-6
Mzm. 72:1-2,7-8,10-11.12-13
Ef. 3:2-3,5-6
Mat. 2:1-12
Hari Anak Misioner Sedunia



Yes. 60:1-6

60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong.
60:5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.
60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.



Ef. 3:2-3,5-6

3:2 -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,
3:3 yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat.
3:5 yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,
3:6 yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.


Mat. 2:1-12

2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia."
2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.




Model Iman atas Pewahyuan Allah


Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagaimana pilihan kita itu adalah dalam model, tipologi, dan gambaran sebagaimana dalam bacaan Injil. Ada tiga kelompok di mana sikap mereka adalah gambaran kita, di dalam menyikapi kasih Allah dan kasih karunia dalam Bayi Yesus. Pertama, para majus, di mana mereka berupaya keras untuk membaca tanda astrologi dan mencari itu ke luar daerah.
Pihak-pihak yang suka cita, berbahagia untuk menemukan Tuhan, apapun keadaannya. Mendekatkan diri kepada Tuhan, mengenal Tuhan dan kehendak-Nya. Bersuka cita dan bersuka ria atas kasih karunia dan kedatangan Tuhan. Kita yang suka cita karena cinta kasih Tuhan dan sesama. Mau berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan.
Ada pula yang cemas seperti Herodes, khawatir akan kedudukannya, merasa terancam kalau kekuasaannya diambil alih. Fokus pada kekuasaan dan dirinya. Hal yang juga banyak dirasakan di antara kita. Adanya ancaman dan kehadiran orang lain itu sebagai ancaman, membahayakan kedudukan apapun itu. Kondisi yang sangat wajar karena orientasi hidup adalah kekuasaan, kedudukan, dan itu yang disukai dunia.
Perilaku munafik juga ada dalam sikap Herodes, di mana ia mengaku akan menyembah, padahal sejatinya ia akan melenyapkan bayi Yesus. Sikap yang sering juga kita alami demi kekuasaan, demi nama diri, salah satunya agar bisa diterima menjadi pejabat, atau menjadi aparat, atau kepala daerah, memilih untuk meninggalkan Tuhan. Dalih bahwa yang penting iman dalam hati, soal agama hanya KTP.
Pihak ketiga adalah orang yang merasa tidak mau tahu, acuh tak acuh, dan seenaknya sendiri, padahal mereka ini tahu. Mereka tidak mau tahu, sedikit banyak juga karena kepentingan dan kedudukan mereka bisa terganggu. Imam dan ahli Taurat itu tahu apa yang dinyatakan Kitab Suci, namun apa yang mereka pelajari itu ternyata bukan diamalkan, mereka tahu namun tidak melakukan. Mereka tidak mau melakukan karena justru bisa membuat kedudukan mereka.
Dalam hidup bersama kita, ternyata banyak yang masih mengerti, mengahafal, dan belajar banyak mengenai agama, namun perilakunya jauh dari nilai agama. Bagaimana sikap imam dan ahli Taurat pun identik. Demi jabatan mempertaruhkan kebenaran agama dan kadang juga Kitab Suci.
Saudara terkasih, ada tiga model di dalam bersikap terhadap sapaan Allah, sama juga dengan pewahyuan Allah, bagaimana iman, tanggapan, dan reaksi kita di dalam menjawab sapaan penuh berkat itu? Mau seperti orang majus, Herodes, atau imam kepala dan ahli Taurat?BD.eLeSHa.

Sabtu, 05 Januari 2019

Perjumpaan dengan Yesus yang Mengubah dan Meneguhkan


Sabtu Biasa Masa Natal (P)
1 Yoh. 3:11-21
Mzm. 100:1-2, 3,4,5
Yoh. 1:43-51



1 Yoh. 3:11-21

3:11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;
3:12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.
3:13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.
3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.
3:15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.
3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,

Yoh. 1:43-51

1:43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"
1:44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.
1:45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."
1:46 Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"
1:47 Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"
1:48 Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
1:49 Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"
1:50 Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu."
1:51 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."




Perjumpaan dengan Yesus yang Mengubah dan Meneguhkan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk  merenungkan bagaimana kualitas Yesus yang memberikan perubahan signifikan, bahkan membalikan keadaan. Perjumpaan yang diawali dengan pengenalan akan yang personal, membuat Natanael beruah total.
Panggilan dan undangan bagi Filipus yang kemudian menyalurkan dan menularkan suka citanya kepada Natanael. Keraguan, kebimbangan, dan sikap apatis wajar ditunjukkan oleh Natanael, di mana ia adalah seorang terpelajar yang tahu dengan baik isi Kitab Suci. Ia tidak yakin bahwa ada yang baik dari Nazaret.
Undangan yang diterima Filipus, ikutlah Aku, itu diterapkan juga bagi Natanael, namun oleh Filipus. Suka cita dan kuasa yang membuat Natanael beranjak dan akhirnya ia pun percaya. Ungkapan iman yang paling dalam saat ada perjumpaan dengan Yesus. Engkau adalah Anak Allah. ini adalah inti iman. Bagaimana mungkin orang Yahudi, kalangan ahli agama juga mengaku demikian. kuasa Yesus yang mengubah Natanael menjadi pribadi yang baru.
Saudara terkasih, sering orang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Dalam konteks kebersamaan dengan Yesus hal ini juga berlaku. Mari  dan lihatlah sebagai ungkapan mengikuti, mari ikutlah Aku. Ada inisiatif dari Tuhan untuk mengundang. Dan ada jawaban dari manusia untuk menanggapi. Inilah iman dan wahyu. Di mana Iman adalah tanggapan kita atas wahyu sebagai sapaan, inisiatif, dan kehendak Allah untuk membuka hati manusia.  Kita tidak akan cukup mampu mendekati Tuhan dan kuasa-Nya yang demikian besar. Tuhan yang hadir dengan bahasa manusia, Tuhan datang menyapa manusia dengan menjadi manusia. Manusia mana mampu menyelami Ketuhanan jika bukan Tuhan yang mengawalinya. Inisiatif Tuhan ini harus menjadi pegangan, sehingga kita tidak menjadi sombong dan tinggi hati.
Kita patut memohon bahwa Tuhan memanggil kita untuk datang kepada-Nya sehingga makin dekat dan mengenal Tuhan. Tuhan pasti mengenal kita, namun apakah kita mengenal dengan baik Tuhan? Syukur lah bahwa kita memiliki Tuhan yang demikian baik, mau mengenalkan diri, menyapa, dan bahkan mengundang kita datang kepada-Nya.BD.eLeSHa.

Jumat, 04 Januari 2019

Perjumpaan Iman yang Mengubah dan Penuh Sukacita


Jumat Biasa Masa Natal (P)
1 Yoh. 3:7-10
Mzm. 98:1,7-8,9
Yoh. 1:35-42




1 Yoh. 3:7-10

3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.
3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
3:10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

Yoh. 1:35-42

1:35 Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya.
1:36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"
1:37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.
1:38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"
1:39 Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.
1:40 Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.
1:41 Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."
1:42 Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."




Perjumpaan Iman yang Mengubah dan Penuh Sukacita

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagaimana perjumpaan dengan Yesus itu memberikan banyak makna dan implikasi. Di mana beberapa pribadi yang diubah menjadi pribadi baru dan menular. Sukacita yang tidak bisa dipendam sendiri, namun dibagikan dan memperoleh kepenuhan di mana berbagi.
Suka cita. Apa yang Andreas lakukan, sebagai pribadi yang awal mula mendapatkan kepenuhan suka cita karena menemukan yang dicari. Ia kemudian membawa khabar dan suasana yang ia alami bagi saudaranya.  Ia siap membagikan, bukan menyimpannya untuk diri sendiri. Hal yang cukup kontekstual di mana kini, sering orang itu hanya memikirkan diri dan kelompoknya saja. Semua hanya difokuskan untuk diri sendiri. Mana mau berbagi, menyimpan itu lebih banyak.
Orang tidak bisa bersuka cita di dalam perjumpaan, malah seolah menjadi beban. Pola pikir matrealistis sering merusak suka cita dan persaudaraan. Tuhan membawa pembeda. Suka cita dan kasih karunia untuk dibagikan.
Perjumpaan dalam iman membawa perubahan, termasuk perubahan nama. Perubaha nama ini banyak dalam budaya adalah sebagai simbolisasi hidup baru. Dulu di seminari, atau kaul akan diminta mengubah nama, atau Abram menjadi Abraham, juga dalam alam budaya Jawa, ketika menikah, ada yang memilih nama baru. Simbol atau lambang hidup dan relasi baru, konteks yang identik, meskipun tentu dalam arti yang berbeda. Petrus dan Abraham adalah relasi bersama Tuhan Allah. Toh mendekati juga relasi.
Saudara terkasih, kita patut berdoa untuk memohon agar diubah oleh Tuhan agar makin berkualitas, lebih dekat pada Allah dan sesama. Perubahan yang makin positif sepanjang itu membawa pada kebaikan, iman lah yang berperan di sini. Perjumaan dengan Tuhan dan sesama yang penuh makna. Bagaimana kita berjumpa Tuhan adalah dengan merenungkan firman-Nya. Merenungkan ajaran-ajaran-Nya melalui pendalaman iman bersama saudara seiman. Kemauan beragai bersama dengan sesama tanpa pamrih, adanya perjumpaan dengan yang menderita, kesepian, dan terasing. Bagaimana  kita mau bersikap adalah kualitas kita. Mendekat kepada  Tuhan biar diubah atau malah menjauh dan semakin jauh dari kualitas Tuhan? BD.eLeSHa.














Kamis, 03 Januari 2019

Tuhan Mengenalkan Diri


Kamis Biasa Masa Natal (P)
1 Yoh. 2:29-3:6
Mzm. 98:1,3c-4,5-6
Yoh. 1:29-34



1 Yoh. 2:29-3:6

2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.
3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.



Yoh. 1:29-34

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
1:31 Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."
1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
1:33 Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."



Tuhan Mengenalkan Diri

Saudara terkasih, beberapa tahun lalu, saya menang dalam sebuah ajang award dalam media warga. Pemenangnya hampir separo itu Katolik dan Kristen, hanya hampir separo saja sudah ada yang komentar mengapa banyak pemenangnya nonM. Lucunya ada yang menjawab di kalangan mereka sendiri kalau para penganut yang lain itu tidak pernah menjelek-jelekan pihak lain. Hal yang  cukup  menarik, di mana itu adalah apa yang dinyatakan dalam bacaan pertama dan bacaan Injil.
Bacaan pertama menyatakan jika kita ini tidak dikenal karena  kita memperolah kasih karunia menjadi anak-anak Allah. status yang membedakan kita dengan dunia, sehingga dunia tidak mengenal kita. Jadi sangat biasa ketika kita dituduh dengan berbagai-bagai macam jenis tuduhan palsu, hinaan yang kadang membuat jerih, dan fitnah yang susah kita jawab. Kita memang bukan dari dunia ini, jadi mereka tidak mengenal kita juga tidak mengenal DIA.
Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Yohanes Pemandi memperkenalkan Yesus, siapa yang ia maksudkan dalam  bacaan kemarin, di mana Yohanes mengatakan membuka tali kasutnya tidak pantas. Posisi luar biasa Yesus di hadapan Yohanes, apalagi kita di hadapan Yesus. Yohanes pun awalnya tidak mengenal siapa Yesus, dan ketika Allah menyatakan siapakah Yesus, Yohanes paham dan itu dinyatakan bagi Israel.
Saudara terkasih, kita tidak akan mampu menyelami siapa Allah, jadi bagaimana orang bisa mengaku menerima perintah Tuhan? Atau ada yang berani membela Tuhan lagi. Ini justru mereka tidak mengenal Tuhan. Jika ada yang demikian, kita patut kasihan, perlu belajar mengenal Tuhan, dan itu perlu Roh Kudus yang hingga kini membawa kita mengenal Siapakah DIA itu? Upaya kita tidak akan cukup, namun inspirasi dan peran Tuhan melalui Roh Kuduslah yang memberikan inspirasi bagi kita untuk mengenal Tuhan.
Inisiatif adalah dari Tuhan. Lihat pengalaman Yohanes Pemandi, di mana ia tidak tahu Yesus, namun malaikat menyatakan pernyataan Tuhan Allah dan Yohanes menjadi tahu jati diri Tuhan Yesus. Saudara terkasih, kita patut merenungkan jati diri Tuhan dengan cara membaca Kitab Suci, membaca kisah-kisah santo dan santa, dan juga merenungkan hidup kita sendiri. Roh Kudus itu berbicara secara samar. Menyatakan diri dengan lirih untuk itu kita perlu keheningan dan ketenangan batin. BD.eLeSHa.

Rabu, 02 Januari 2019

Membuka Tali Kasut-Nya pun Aku Tidak Layak


Pw. S. Basilius dan S Gregorius dr Nazianze,  UskPujG (P)
1 Yoh. 2:22-28
Mzm. 98:1,2-3b,3c-4
Yoh. 1:19-28



1 Yoh. 2:22-28

2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
2:23 Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.
2:24 Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.
2:25 Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.
2:26 Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.
2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
2:28 Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya



Yoh. 1:19-28

1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.




Membuka Tali Kasut-Nya pun Aku Tidak Layak

Saudara terkasih, hari ini kita memperingati Santo Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, dua orang pujangga Gereja. Pujangga Gereja yang sangat penting memberikan pencerahan dan kekuataan bagi iman dan Gereja hingga hari ini.
Dalam bacaan Injil, kita bisa belajar bagaimana iman Yohanes Pembaptis. Di mana ia sadar posisi, tahu diri, dan tidak gila hormat, apalagi klaim. Ini pelajaran pertama.
Kedua, ia juga memberitakan yang benar, bukan setengah benar, apalagi mengaku-aku karena toh tinggal ia mengiyakan semua bisa diatur, namun bukan itu apa yang Yohanes lakukan. Ia mewartakan yang sebenarnya siapa ia dan siapa yang dinantikan itu.
Ketiga, ia mengajarkan kebenaran dan mempersiapkan jalan bagi Yang Lain dengan kesungguhan dan kerendahan hati. Ini sesuatu yang konkret dan kontekstual bagi hidup bersama kita.
Saudara terkasih, berkaitan dengan Yohanes Pembaptis yang mengaku dengan terus terang siapa dirinya. Apa tugasnya dan mengapa ia diutus. Kita bayangkan jika terjadi zaman ini, jelas-jelas Kitab Suci mengatakan nabi terakhir itu siapa, toh masih saja ada yang mengaku utusan Tuhan dengan berbagai argumen yang ujung-ujungnya adalah ketenaran dan uang. Posisi yang bisa disalahgunakan, namun Yohanes tidak demikian. Kerendahan hati yang sangat menginspirasi dan patut menjadi teladan jika mendapatkan kesempatan dan peluang yang sama. Tidak aji mumpung.
Kedua, posisi yang ia jalani dengan rendah hati, ia bisa mengaku-aku, namun tidak, ia tetap menyatakan bahwa masih ada yang ditunggu, dan itu jauh lebih besar. Ia menyatakan kebenaran dan siapa yang dinantikan itu sebenarnya. Toh bisa untuk membangun perguruan dan pendengar ia mengaku sebagaimana yang ditanyakan para pendengarnya. Itu tidak dilakukan karena memang bukan ia yang dimaksud. Pewartaan Yesus yang akan datang. Yohanes tidak iri dan mempersiapkan itu dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ini adalah tugas hamba, tugas budak, dan tugas paling remeh, dan Yohanes mengaku bahwa tugas paling rendah itu pun tidak layak. Ini hendak menggambarkan siapa Yesus dan dirinya. Ia tahu dengan baik posisinya dan kuasa Yesus itu.
Kita dapat merenungkan dan melihat dalam hidup bersama kita. Bagaimana orang bisa saling merendahkan untuk mendapatkan keuntungan. Meninggikan diri untuk bisa memperoleh keistimewaan dan banyak kemudahan. Sekelilimg kita mengajarkan banyak hal, namun tidak demikian dengan apa yang dilakukan Yohanes.
Satunya perkataan dan perbuatan itu menjadi utama dan penting. Bagaimana para kudus, dan juga Yohanes Pembaptis telah mampu melakukan. Dan kita pun bisa jika mau berusaha dan melibatan Tuhan dalam setiap langkah kita. BD.eLeSHa.

Selasa, 01 Januari 2019

Maria Menyimpan Semua dalam Hati


HARI RAYA MARIA BUNDA ALLAH (P)
Bil. 6:22-27
Mzm. 67:2-3,5-6,8
Gal. 4:4-7
Luk. 2:16-21




Bil. 6:22-27

6:22 TUHAN berfirman kepada Musa:
6:23 "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
6:24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
6:25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
6:27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."



Gal. 4:4-7

4:4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
4:5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
4:7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Luk. 2:16-21

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.




Maria Menyimpan Semua dalam Hati

Saudara terkasih, hari ini kita merayakan Tahun Baru sebagai anak dunia, sebagai anak Allah kita merayakan Maria Bunda Allah. Jadi ingat ketika orang yang tidak mengimani Yesus namun mampu menghakimi dogma ini, syukurnya adalah kedewasaan orang beriman yang tidak membabi buta untuk membela keberadaan Allah yang memang tidak perlu dibela. Mengapa bisa demikian? Karena kasih karunia Allah yang memenuhi hati orang beriman, bukan kebencian.
Kualitas Maria itu sangat penting kita renungkan dan kemudian dijadikan inspirasi untuk bersikap yang sama. Bagaimana Bunda Maria menyimpan apa yang ia rasakan. Ingat ia berbagi pada Elisabeth saja ketika mendapat khabar suka cita. Kini ketika mendengarkan kesaksian mengenai Sang Putera, ia menyimpan semuanya dalam hati. Menyimpan karena memang Maria belum sepenuhnya paham dengan apa yang ia terima, informasi yang masih samar-samar ia mengerti, berbeda dengan ketika ia menerima khabar suka cita. Ia tahu dengan baik.
Apa yang belum sepenuhnya dimengerti, apalagi pahami, tidak perlu diwartakan, Maria menjawab apa yang orang lain tudingkan soal kelahira Yesus, mereka tidak tahu apa-apa, namun merasa jauh lebih tahu dan kemudian mewartakan seolah-olah paling tahu. Ini pembelajaran untuk kita agar mampu menahan diri.
Kasih karunia Allah yang menaungi kita, sehingga menjadi pribadi yang tidak mudah tersulut emosi, menjadi pribadi yang mampu mencerna dulu apapun yang diterima dengan kepala yang dingin, hati yang tenang, sehingga apa yang diterima bisa dipahami dengan semestinya kecepatan yang berpotensi salah, sesat, dan malah menjadi kacau. Hal yang sangat kontekstual untuk waktu-waktu ini, di mana orang cenderung asal cepat, kebat kliwat, apa yang seharusnya malah tidak tersampaikan.
Maria adalah tipolohgi ibu, perempuan, yang merawat, memelihara, dan mendidik dengan kasih sayang, sehingga melahirkan pribadi tangguh namun penuh kasih. Tangguh suka kekerasan itu banyak, namun berani menanggung derita tanpa membalas itu luar biasa.  Hatinya lebih dikedepankan, berani menanggung risiko dan mencari keterangan dan kebenaran dengan semestinya. Hal yang patut kita jadikan rujukan di dalam berbuat. Apa yang sudah dilakukan Maria adalah kebaikan, dan patut menjadi teladan bagi hidup kita. BD.eLeSHa.